ArticlePDF Available

STUDY ON THORIUM POTENTIAL IN GRANITE ROCK ON THE BANGKA ISLAND

Authors:

Figures

Content may be subject to copyright.
JPEN Volume
16 Nomor
2Hlm.
73 - 155 Jakarta
Desember 2014 ISSN
1410-9816
PUSAT KAJIAN SISTEM ENERGI NUKLIR
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL
ISSN 1410-9816
Akreditasi LIPI No. 545/AU2/P2MI-LIPI/06/2013
JURNAL PENGEMBANGAN ENERGI NUKLIR
Volume 16, Nomor 2, Desember 2014
J
JU
UR
RN
NA
AL
L
P
PE
EN
NG
GE
EM
MB
BA
AN
NG
GA
AN
NE
EN
NE
ER
RG
GI
IN
NU
UK
KL
LI
IR
R
Vol. 16 No. 2 Desember 2014 : 73 - 155
JURNAL PENGEMBANGAN ENERGI NUKLIR
Volume 16, Nomor 2, Desember 2014
ISSN 1410-9816
Majalah ini terbit pertama kali tahun 1999 dengan frekuensi terbit dua kali setahun pada
bulan Juni dan Desember
Pengarah :
Prof. Dr. Djarot Sulistio Wisnubroto
Penanggung Jawab :
Ir. Yarianto Sugeng Budi Susilo, M.Si
Pemimpin Redaksi/Redaksi Pelaksana :
Ir. Sriyana, MT.
Dewan Redaksi :
Prof. Dr. June Mellawati, M.Si Bidang Keahlian: Kimia & Lingkungan
Dr. Ir. Sudi Ariyanto, M.Eng Bidang Keahlian: Teknik Nuklir
Mochamad Nasrullah, SE, M.Si Bidang Keahlian: Ekonomi Energi & Lingkungan
Yuliastuti, M.Si Bidang Keahlian: Fisika
Mitra Bestari :
Dr. Ir. Retno Gumilang Dewi Bidang Keahlian: Teknik Kimia
Dr. Eko Budi Lelono (Lemigas) Bidang Keahlian: Stratigrafi/Geologi
Dr. Hill Gendoet Hartono (STTNAS) Bidang Keahlian: Kegunungapian
Dr. Muhammad Subekti, M.Eng Bidang Keahlian: Teknologi Reaktor
Tata Letak :
Arief Tris Yuliyanto, MT
Sekretariat :
Muhammad Ilham, S.ST
Penerbit/Redaksi :
Pusat Kajian Sistem Energi Nuklir (PKSEN)
Badan Tenaga Nuklir Nasional
Jl. Kuningan Barat, Mampang Prapatan, Jakarta 12710
Telepon/Fax : 021-5204243, E-mail : jpen@batan.go.id
AKREDITASI B
PUSAT KAJIAN SISTEM ENERGI NUKLIR
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL
ISSN 1410-9816
Volume 16, Nomor 2, Desember 2014
J
JU
UR
RN
NA
AL
LP
PE
EN
NG
GE
EM
MB
BA
AN
NG
GA
AN
NE
EN
NE
ER
RG
GI
IN
NU
UK
KL
LI
IR
R
KATA PENGANTAR
Makalah yang disajikan pada Jurnal Pengembangan Energi Nuklir merupakan hasil
pengkajian, penelitian dan pengembangan dalam bidang teknologi nukir, perencanaan energi,
ekonomi dan pendanaan PLTN, analisis lokalisasi PLTN, tapak PLTN, analisis dampak
lingkungan PLTN, perizinan PLTN, sosialisasi PLTN, dan topik-topik lain yang berhubungan
dengan energi nuklir.
Pada terbitan Volume 16, Nomor 2, Desember 2014 ini, disajikan tujuh makalah dengan
judul Analisis Sensitivitas Ketebalan Reflektor Grafit Teras RGTT200K Menggunakan
Perhitungan Monte Carlo, Aplikasi Kogenerasi Nuklir untuk Dekomposisi Air pada Konversi
CO2 Menjadi Pupuk Urea, Studi Komparasi Model Perhitungan Biaya Pembangkitan Listrik
Teraras PLTN, Kajian Implementasi Flexblue di Indonesia, Perbandingan Harga Energi dari
Sumber Energi Baru Terbarukan dan Fosil, Penentuan Tapak Potensial PLTN dengan Metode
SIG di Wilayah Pesisir Propinsi Kalimantan Barat dan Studi Potensi Thorium pada Batuan
Granit di Pulau Bangka.
Redaksi berharap semoga artikel-artikel pada terbitan Volume 16, Nomor 2, Desember 2014
ini dapat bermanfaat bagi pembaca atau siapapun yang membutuhkan informasi tersebut.
Kritik dan saran yang konstruktif demi perbaikan pada penerbitan berikutnya sangat kami
hargai.
Dewan Redaksi
i
Daftar Isi
KATA PENGANTAR i
ANALISIS SENSITIVITAS KETEBALAN REFLEKTOR
GRAFIT TERAS RGTT200K MENGGUNAKAN
PERHITUNGAN MONTE CARLO
Suwoto, Zuhair
73 – 83
APLIKASI KOGENERASI NUKLIR UNTUK DEKOMPOSISI
AIR PADA KONVERSI CO2 MENJADI PUPUK UREA
Djati H. Salimy
85 – 94
STUDI KOMPARASI MODEL PERHITUNGAN BIAYA
PEMBANGKITAN LISTRIK TERARAS PLTN
Nuryanti, Mochamad Nasrullah, Suparman
95 – 105
KAJIAN IMPLEMENTASI FLEXBLUE DI INDONESIA
Sahala Maruli Lumbanraja
107 – 117
PERBANDINGAN HARGA ENERGI DARI SUMBER
ENERGI BARU TERBARUKAN DAN FOSIL
Edwaren Liun, Sunardi
119 – 130
PENENTUAN TAPAK POTENSIAL PLTN DENGAN
METODE SIG DI WILAYAH PESISIR PROPINSI
KALIMANTAN BARAT
Heni Susiati
131 – 142
STUDI POTENSI THORIUM PADA BATUAN GRANIT DI
PULAU BANGKA
Ngadenin, Heri Syaeful, Kurnia Setiawan Widana, I Gde Sukadana,
Fd. Dian Indrastomo
143 – 155
PKSEN tidak bertanggung-jawab atas segala kerugian yang diakibatkan penggunaan
semua informasi, peralatan, metode, maupun proses yang diungkapkan dalam publikasi ini.
Jurnal ini telah diakreditasi melalui Surat Keputusan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
tertanggal 21 Juni 2013 No. 625/E/2013.
ISSN 1410-9816
JURNAL PENGEMBANGAN ENERGI NUKLIR
Volume 16, Nomor 2, Desember 2014
Jurnal Pengembangan Energi Nuklir Volume 16, Nomor 2, Desember 2014
STUDI POTENSI THORIUM PADA BATUAN GRANIT DI
PULAU BANGKA
Ngadenin, Heri Syaeful, Kurnia Setiawan Widana, I Gde Sukadana, Fd. Dian Indrastomo
Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir (PTBGN) – BATAN
Jl. Lebak Bulus Raya No. 9 Pasar Jumat, Jakarta
Telp.: 021-7691775, Fax.: 021-7691977, e-mail: ngadenin@batan.go.id
ABSTRAK
STUDI POTENSI THORIUM PADA BATUAN GRANIT DI PULAU BANGKA. Di Indonesia
umumnya thorium dijumpai dalam batuan granit. Salahsatunya di pulau Bangka, terdapat cukup
banyak singkapan batuan granit, seperti granit Menumbing, granit Pelangas, granit Jebus, granit
Pemali, granit Mangol, granit Bebuluh dan granit Gadung. Penyebaran granit-granit tersebut cukup
luas sehingga dianggap sebagai granit potensial thorium. Tujuan penelitian untuk mengetahui potensi
thorium pada batuan granit yang terdapat di pulau Bangka. Metode yang digunakan adalah
pengambilan sampel mineral berat dari batuan granit lapuk, selanjutnya dilakukan pengukuran dan
analisis thorium di laboratorium menggunakan X-Ray Fluorescence. Batuan granit dianggap potensial
thorium apabila mempunyai kadar thorium minimal tiga kali kadar thorium dalam granit normal (15
ppm) dan batuan granit telah mengalami pelapukan tingkat lanjut sehingga mudah untuk ditambang.
Hasil studi menunjukkan bahwa kadar thorium pada granit Gadung 76 ppm, granit Bebuluh 23,33
ppm, granit Mangol 42 ppm, granit Pemali 35,40 ppm, granit Jebus 85,96 ppm, granit Pelangas 66,73
ppm dan granit Menumbing 67,03 ppm. Secara umum, kondisi fisik batuan granit di lapangan
menunjukkan telah mengalami pelapukan tingkat lanjut. Batuan granit yang potensial thorium adalah
granit Jebus, Menumbing, Pelangas dari Bangka Barat dan granit Gadung dari Bangka Selatan.
Berdasarkan data Pulau Bangka layak dipertimbangkan dalam pengembangan eksplorasi thorium.
Kata kunci: potensi, thorium, granit, Bangka
ABSTRACT
STUDY ON THORIUM POTENTIAL IN GRANITE ROCK ON THE BANGKA ISLAND. In
Indonesia generally thorium was found in granite rocks. On the island of Bangka there are quite a lot of
granite out crops such as Menumbing granite, Pelangas granite, Jebus granite, Pemali granite, Mangol
granite, Bebuluh granite and Gadung granite. The distribution of the granites is extensive enough to be
considered as a granite potential thorium. The aim of study is to determine the potential of thorium in
granitic rocks located on the Bangka Island. The method used is a heavy mineral sampling of weathered
granite rocks, then performed the measurement and analysis of thorium in the laboratory using X-Ray
Fluorescence. Granitic rocks are considered potential thorium if thorium content has at least three times
the normal levels of thorium in granite (15 ppm) and it has experienced highly weathered so easy to be
mined. Results of the study showed levels of thorium in Gadung granite is 76ppm, Bebuluh granite is
23.33ppm, Mangol granite is 42ppm, Pemali granite is 35.40ppm, Jebus granite is 85.96ppm, Pelangas
granite is 66.73 ppm and Menumbing granite is 67.03ppm. The observation of the physical condition in
the field show that in general all granites have undergone strongly weathered. It was concluded that the
potential of thorium granitic rocks are Jebus granite, Menumbing granite, Pelangas granite contained
in the West Bangka regency and Gadung granite in South Bangka regency. Based on the data, Bangka
Island possible of consideration in the development of thorium exploration.
Keywords: potential, thorium, granite, Bangka
143
Studi Potensi Thorium pada Batuan Granit di Pulau Bangka : 143-155
(Ngadenin, dkk)
1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Permasalahan
Thorium merupakan bahan baku untuk pembuatan bahan bakar nuklir masa depan
sebagai pengganti uranium sehingga merupakan bahan yang bernilai sangat strategis[1]. Di
Indonesia umumya thorium dijumpai dalam mineral monasit, sedangkan monasit dijumpai
dalam batuan granit. Di Pulau Bangka terdapat cukup banyak singkapan batuan granit, yaitu
granit Menumbing, Pelangas, Jebus yang terdapat di Kabupaten Bangka Barat, granit
Pemali terdapat di Kabupaten Bangka, Mangol di Pangkal Pinang, granit Bebuluh di
Kabupaten Bangka Tengah, dan granit Gadung di Kabupaten Bangka Selatan[2,3,4].
Penyebaran granit-granit tersebut cukup luas dan tingkat pelapukan pada
granit-granit tersebut berjalan sangat intensif sehingga pulau Bangka pada saat ini
membentuk suatu morfologi yang hamper datar atau peneplain[5,6}. Dengan dua kondisi
seperti tersebut di atas yaitu pelamparan granit cukup luas dan telah mengalami pelapukan
tingkat lanjut maka diharapkan granit-granit di pulau Bangka menjadi granit potensial
thorium.
Lingkup dari penelitian ini adalah membahas potensi thorium pada batuan granit di
pulau Bangka berdasarkan kadar thorium dan kondisi fisik batuan granit hasil pengamatan
yang dilakukan di lapangan. Batuan granit dianggap potensial thorium apabila kadar
thorium dalam batuan granit sekurangnya berkadar tiga kali kadar thorium dalam granit
normal, yaitu 15 ppm dan batuan granit tersebut dalam kondisi fisik yang telah mengalami
pelapukan tingkat lanjut sehingga mudah untuk menambangnya[7,8]. Dalam tulisan ini belum
dibahas aspek keekonomiannya.
1.2. Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi thorium pada batuan granit di
pulau Bangka yang selanjutnya data akan digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam
pengembangan eksplorasi thorium di pulau Bangka.
1.3. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian terletak di pulau Bangka, secara administratip termasuk dalam
kabupaten Bangka Selatan, Bangka Tengah, kotamadya Pangkal Pinang, Kabupaten Bangka
dan Kabupaten Bangka Barat (Gambar 1).
Gambar 1. Lokasi Daerah Penelitian.
144
Jurnal Pengembangan Energi Nuklir Volume 16, Nomor 2, Desember 2014
2. METODOLOGI
2.1. Bahan dan Peralatan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
-Peta geologi dan peta dasar peta topografi Bangka Utara dan Bangka Selatan skala 1 :
250.000 untuk kegiatan sampling di lapangan,
-Sampel mineral berat yang diambil dari batuan granit dan beberapa bahan kimia,
seperti thorin, topo, CC 14, TTA untuk pemisahan mineral berat dari batuan granit.
Peralatan kerja yang digunakan meliputi:
-Global Positioning System (GPS), kompas geologi, palu geologi, kaca pembesar, kamera
dan alat pendulang mineral berat,
-Instrumentasi untuk menganalisis Th adalah perangkat X-Ray Fluorescece (XRF).
2.2. Tata Kerja
Tata kerja pada penelitian ini meliputi :
-Mula-mula dilakukan pengamatan singkapan dan pengambilan sampel batuan pada
lokasi yang mewakili di sepanjang lintasan yang telah ditentukan menggunakan peta
geologi skala 1 : 250.000,
-Pengambilan sampel mineral berat dari batuan granit dengan cara channel sampling,
yaitu pada batuan granit yang telah mengalami pelapukan tingkat lanjut,
-Selanjutnya sampel hasil channel sampling didulang untuk mendapatkan mineral berat,
-Mineral berat dikemas dalam plastik dan diberi kode nomer lokasi pengambilan untuk
selanjutnya dibawa ke laboratorium guna pemurnian dengan cara dimasukan ke
cairan bahan kimia tetrabromoetan sehingga diperoleh mineral berat murni (mineral
yang mempunyai berat jenis > 2,7). Sampel yang mengendap dalam cairan
tetrabromoetan merupakan sampel mineral berat murni, sedangkan yang
mengambang dibuang karena merupakan mineral pengotor,
-Selanjutnya sampel mineral berat murni dikeringkan, digerus hingga kehalusan 200
mesh, dibuat tablet, diukur dan analisis kadar thoriumnya menggunakan XRF.
Gambar 2. Metode Pengambilan Sampel Mineral Berat secara Channel Sampling.
145
Studi Potensi Thorium pada Batuan Granit di Pulau Bangka : 143-155
(Ngadenin, dkk)
3. GEOLOGI PULAU BANGKA
3.1. Geomorfologi
Secara fisiografi pulau Bangka termasuk ke dalam Sunda Land dan merupakan bagian
terangkat dari peneplain Sunda. Morfologi pulau Bangka merupakan dataran bergelombang
denudasional hingga perbukitan dengan ketinggian berkisar 0 hingga 699 m di atas
permukaan laut. Di beberapa tempat terdapat bukit-bukit yang tersusun dari batuan
plutonik yang masih segar merupakan batuan sisa dari hasil pelapukan dan erosi. Bukit bukit
tersebut anatara lain adalah bukit Maras (699 m), terletak antara kota Pangkal Pinang dan
Bangka Barat, bukit Tebas (654 m) di bagian tenggara pulau Bangka, bukit Permis (510 m) di
Bangka Selatan, bukit Menumbing (455 m) di Bangka Barat, Gunung Mangol (398 m) di kota
Pangkal Pinang.
Sungai utama adalah sungai Menduk dan Jering Mancong yang mengalir ke Selat
Bangka sedangkan sungai Baturusa dan Kuarau mengalir ke laut Natuna. Secara umum
aliran sungai berpola dendritik dengan panjang 60-70 km. Akibatnya, tingkat debit mereka
sangat bervariasi, yang terbesar selama musim hujan, tetapi umumnya berdebit rendah
karena profil lereng relatif datar.
Pulau Bangka merupakan daerah dengan stadia erosi tingkat lanjut, hal ini dicirikan
dengan keadaan yang umumnya relatif datar dan adanya bukit-bukit sisa erosi (monadrock).
Bukit-bukit sisa erosi tersebut tersusun atas batuan beku granit yang umumnya menempati
bagian tepi pulau.
3.2. Stratigrafi
Batuan penyusun pulau Bangka terdiri dari Komplek Pemali, Diabas Penyabung,
Formasi Tanjung Genting, Terobosan Granit, Formasi Ranggam dan Endapan Aluvial
(Gambar 3).
a. Komplek Pemali
Merupakan batuan tertua yang terdiri dari filit dan sekis dengan sisipan kuarsit dan
lensa batugamping. Filit berwarna abu-abu kehitaman, foliasi, lepidoblastik, komposisi
mineral terdiri dari kuarsa, feldspar, biotit, serisit. Sekis berwarna abu-abu kehitaman –
kecoklatan, foliasi, nematoblastik, tersusun oleh mineral mika, kursa dan feldspar. Kelompok
batuan ini berumur Permo-Karbon.
b. Diabas Penyabung
Tersusun oleh diabas berwarna abu-abu kehijauan, tekstur diabasik, komposisi
mineral terdiri dari plagioklas (labradorit), augit, olivine, magnetit dan ilmenit. Batuan ini
berumur Trias Awal.
c. Formasi Tanjung Genting
Formasi ini tersusun oleh perselingan batupasir malih, batupasir, batupasir
lempungan dan batulempung dengan lensa batugamping dan oksida besi. Batupasir malih
berwarna abu-abu kekuningan - kehitaman, non foliasi, kristaloblastik, ukuran butir pasir
halus- sedang dengan komposisi mineral terdiri dari kuarsa dan feldspar. Batupasir,
berwarna abu-abu kekuningan, ukuran butir pasir sedang, bentuk butir membundar,
komposisi mineral terdiri dari kuarsa dan feldspar. Batu pasir lempungan, berwarna abu-abu
kecoklatan-kemerahan, ukuran butir lempung – pasir halus, membundar, komposisi mineral
terdiri dari kuarsa, feldspar dan mineral lempung. Batu lempung berwarna abu-abu
kehijauan, ukuran butir lempung, tersusun oleh mineral lempung. Formasi ini berumur
Trias.
146
Jurnal Pengembangan Energi Nuklir Volume 16, Nomor 2, Desember 2014
d. Terobosan Granit
Batuan terobosan granit terdiri dari granit Menumbing, granit Pelangas, granit Jebus,
granit Pemali, granit Mangol, granit Bebuluh dan granit Gadung. Batuan ini berumur Yura –
Trias. Secara umum granit segar berwarna abu-abu berbintik hitam, lapuk berwarna abu-abu
kekuningan hingga kecoklatan, tekstur holokristalin idiomorfik granular, fanerik sedang-
pegmatitik, komposisi mineral terdiri dari kuarsa, ortoklas, plagioklas, biotit, muskovit,
ilmenit, rutil, monasit dan zirkon.
e. Formasi Ranggam
Formasi ini tersusun oleh perselingan batupasir, batulempung, batulempung tufan
dengan sisipan tipis batulanau, berumur Pliosen. Batupasir, berwarna abu-abu kekuningan,
ukuran butir pasir kasar, bentuk butir membundar, komposisi mineral terdiri dari kuarsa
dan feldspar. Batulempung berwarna abu-abu kehijauan, ukuran butir lempung, tersusun
oleh mineral lempung. Batulempung tufan, berwarna abu abu kecoklatan-kemerahan,
ukuran butir lempung, dengan komposisi mineral terdiri dari mineral lempung dan material
gelas. Batulanau, berwarna abu abu kekuningan – kecoklatan, ukuran butir lanau, komposisi
mineral terdiri atas kuarsa dan feldspar. Formasi ini berumur Miosen Akhir.
f. Aluvial
Tersusun oleh material berukuran bongkah, kerakal, kerikil, pasir, lempung serta
gambut yang berumur Holosen.
3.3. Struktur Geologi Regional
Pola struktur utama yang berkembang di pulau Bangka adalah struktur yang berarah
relatif Utara - Selatan yaitu sesar Tempilang, Mangol dan Permisan serta struktur yang
berarah Barat - Timur yaitu sesar Kelapa dan Klabat.
Gambar 3. Peta Geologi Pulau Bangka dan lokasi Pengambilan Sampel Mineral Berat[2,3,4].
147
Studi Potensi Thorium pada Batuan Granit di Pulau Bangka : 143-155
(Ngadenin, dkk)
4. PEMERIAN BATUAN GRANIT
Hasil pengamatan megaskopis batuan di lapangan menunjukkan adanya granit
Gadung (Kabupaten Bangka Selatan), Bebuluh (Bangka Tengah), Mangol (Pangkal Pinang),
Pemali (Bangka) dan granit Menumbing, Pelangas dan Jebus (Bangka Barat). Sedangkan hasil
analisis petrografi di laboratorium terhadap sampel batuan granit-granit tersebut adalah
sebagai berikut :
a. Granit Gadung
Secara umum singkapan granit dalam kondisi sangat lapuk dengan ketebalan soil hasil
pelapukan mencapai 20 meter, dibeberapa tempat terdapat singkapan segar. Granit, segar
berwarna abu-abu kehitaman, lapuk coklat kemerahan, tekstur holokristalin panidiomorfik
granular, fanerik halus - sedang, komposisi mineral kuarsa, ortoklas, plagioklas, hornblenda,
biotit, monasit, ilmenit, zirkon.
Gambar 4a. Singkapan Granit Segar di
daerah sekitar Desa Gadung.
Gambar 4b. Singkapan Granit Lapuk di
daerah sekitar Desa Gadung.
b. Granit Bebuluh
Secara umum singkapan granit ditemukan dalam kondisi sangat lapuk dengan
ketebalan tanah (soil) hasil pelapukan mencapai 15 meter, di beberapa tempat tersingkap
granit dalam kondisi segar. Granit, segar berwarna abu-abu berbintik hitam, lapuk coklat
kemerahan, holokristalin idiomorfik granular, fanerik sedang - kasar, komposisi mineral
tersusun oleh kuarsa, ortoklas, plagioklas, biotit, hornblenda dan mineral opak.
Gambar 5a. Singkapan Granit Segar. Gambar 5b. Singkapan Granit Lapuk.
148
Jurnal Pengembangan Energi Nuklir Volume 16, Nomor 2, Desember 2014
c. Granit Mangol
Secara umum granit dalam kondisi sangat lapuk dengan ketebalan soil hasil
pelapukan mencapai 10 meter , di beberapa tempat tersingkap granit dalam kondisi segar.
Granit, segar berwarna abu-abu berbintik hitam, lapuk berwarna abu abu kecoklatan hingga
coklat kemerahan, holokristalin panidiomorfik granular, fanerik sedang- sangat kasar,
komposisi mineral tersusun oleh kuarsa, ortoklas, plagioklas, biotit, hornblenda, zirkon dan
mineral opak.
Gambar 6a. Singkapan Granit Segar. Gambar 6b. Singkapan Granit lapuk.
d. Granit Pemali
Kenampakan fisik di lapangan granit umumnya telah mengalami pelapukan tingkat
lanjut dengan ketebalan tanah hasil pelapukan mencapai 20 meter seperti yang terdapat di
tambang timah Pemali, di beberapa tempat tersingkap granit dalam kondisi segar seperti di
pantai Parai, pantai Tanjung Pesona, bukit Betung, pantai Penyusup dan pantai Penyamun.
Granit, segar berwarna abu-abu berbintik hitam, lapuk abu abu kecoklatan hingga coklat
kemerahan, holokristalin, fanerik sedang- pegmatitik, komposisi mineral tersusun oleh
kuarsa, ortoklas, plagioklas, biotit, ilmenit, zirkon dan hornblenda.
Gambar 7a. Singkapan Granit Segar di
pantai Parai.
Gambar 7b. Granit Pemali sangat lapuk di
daerah Pemali.
e. Granit Jebus
Kenampakan fisik di lapangan granit umumnya telah mengalami pelapukan tingkat
lanjut seperti yang terdapat di tambang timah di Parit Tiga, di beberapa tempat tersingkap
granit dalam kondisi segar seperti di Cubu Laut dan tambang batu granit di Parit Tiga.
Granit, segar berwarna abu-abu berbintik hitam, lapuk berwarna abu-abu kecoklatan, tekstur
holokristalin panidiomorfik granular, fanerik kasar – pegmatitik, ukuran mineral 5 mm – 40
m, komposisi mineral terdiri dari kuarsa, ortoklas, plagioklas, biotit, muskovit, ilmenit,
149
Studi Potensi Thorium pada Batuan Granit di Pulau Bangka : 143-155
(Ngadenin, dkk)
monasit dan zirkon.
Gambar 8.a. Singkapan Granit segar di
daerah Cubu Laut.
Gambar 8b. Granit Jebus sangat lapuk di
daerah Parit tiga.
f. Granit Pelangas
Kenampakan fisik di lapangan granit umumnya telah mengalami pelapukan tingkat
lanjut di beberapa tempat tersingkap granit dalam kondisi segar. Granit, segar berwarna
abu-abu berbintik hitam, lapuk berwarna abu abu kekuningan, tekstur holokristalin
panidiomorfik granular, fanerik sedang - kasar , ukuran mineral 1 mm – 25 mm, komposisi
mineral terdiri dari kuarsa, ortoklas, plagioklas, biotit, muskovit.
Gambar 9a. Singkapan Granit Segar di
daerah sekitar desa Pelangas.
Gambar 9b. Singkapan Granit Lapuk di
daerah sekitar desa Pelangas.
g. Granit Menumbing
Kenampakan fisik di lapangan granit umumnya telah mengalami pelapukan tingkat
lanjut dengan ketebalan tanah hasil pelapukan mencapai 20 m di beberapa tempat
tersingkap granit dalam kondisi segar seperti yang terdapat di bukit Menumbing. Granit,
segar berwarna abu-abu berbintik hitam, lapuk berwarna coklat kemerahan, tekstur
holokristalin panidiomorfik granular, fanerik sedang - kasar , ukuran mineral 1mm – 25mm,
komposisi mineral terdiri dari kuarsa, ortoklas, plagioklas, biotit, muskovit, monasit, zirkon
dan ilmenit.
150
Jurnal Pengembangan Energi Nuklir Volume 16, Nomor 2, Desember 2014
Gambar 10a. Singkapan Granit
Menumbing Dalam Kondisi Segar di
sekitar bukit Menumbing.
Gambar 10b. Singkapan Granit
Menumbing Dalam Kondisi Sangat Lapuk
di Desa Menjelang.
5. KADAR THORIUM PADA BATUAN GRANIT
5.1 Kadar Thorium pada Batuan Granit dari Kabupaten Bangka Selatan
Hasil analisis laboratorium dari 20 sampel mineral berat yang diambil dari granit
Gadung mendapatkan hasil kadar thorium berkisar antara 21,25 hingga 118,5 ppm dan kadar
rata-rata 49,85 ppm (Tabel 1).
Tabel 1. Hasil Analisis Kadar Thorium Sampel Mineral Berat dari Granit Gadung
Kode Th (ppm) Kode Th (ppm) Kode Th (ppm) Kode Th (ppm)
1 27,5 6 20,5 11 62,0 16 40,5
2 43,5 7 37,5 12 62,0 17 41,0
3 27,5 8 80,5 13 60,5 18 71,0
4 27,5 9 37,75 14 50,0 19 70,5
5 39,0 10 58,5 15 21,25 20 118,5
Kadar Rata-rata 49,85
5.2 Kadar Thorium pada Batuan Granit dari Kabupaten Bangka Tengah
Hasil analisis laboratorium dari 20 sampel mineral berat granit Bebuluhh
mendapatkan kadar thorium berkisar antara 10,20 hingga 23,33 ppm dan kadar rata-rata
15,30 ppm (Tabel 2).
Tabel 2. Hasil Analisis Kadar Thorium Sampel Mineral Berat dari Granit Bebuluh
Kode Th (ppm) Kode Th (ppm) Kode Th (ppm) Kode Th (ppm)
1 10,20 6 17,71 11 14,87 16 21,20
2 11,09 7 12,03 12 20,70 17 16,80
3 10,58 8 23,33 13 15,40 18 14,40
4 14,16 9 10,33 14 18,50 19 15,50
5 13,17 10 11,61 15 17,80 20 16,70
Kadar Rata-rata 15,30
151
Studi Potensi Thorium pada Batuan Granit di Pulau Bangka : 143-155
(Ngadenin, dkk)
5.3 Kadar Thorium pada Batuan Granit dari Kotamadya Pangkal Pinang
Hasil analisis laboratorium dari 20 sampel mineral berat granit Mangol memperoleh
kadar thorium berkisar antara 23,50 hingga 78,5 ppm dan kadar rata-rata 42 ppm (Tabel 3).
Tabel 3. Hasil Analisis Kadar Thorium Sampel Mineral Berat dari Granit Mangol
Kode Th (ppm) Kode Th (ppm) Kode Th (ppm) Kode Th (ppm)
1 26,5 6 40,2 11 36,5 16 30,5
2 73,5 7 38,8 12 38,9 17 60,2
3 23,5 8 26,8 13 46,4 18 35,5
4 78,5 9 50,4 14 38,6 19 32,8
5 33,5 10 42,4 15 42,3 20 44,2
Kadar Rata-rata 42,0
5.4 Kadar Thorium pada Batuan Granit dari Kabupaten Bangka
Hasil analisis laboratorium dari 25 sampel mineral berat yang diambil dari granit
Klabat memperoleh kadar thorium berkisar antara 17 hingga 76,7 ppm dan kadar rata-rata
31,62 ppm (Tabel 4).
Tabel 4. Hasil Analisis Kadar Thorium Sampel Mineral Berat dari Granit Pemali
Kode Th (ppm) Kode Th (ppm) Kode Th (ppm) Kode Th (ppm)
1 22,0 8 20,6 15 25,9 22 23,8
2 20,7 9 24,1 16 18,7 23 32,9
3 17,1 10 20,2 17 32,2 24 73,9
4 19,4 11 56,4 18 38,3 25 35,5
5 22,5 12 35,4 19 28,3
6 17,0 13 24,0 20 28,3
7 27,7 14 48,8 21 76,7
Kadar Rata-rata 31,62
5.5 Kadar Thorium pada Batuan Granit dari Kabupaten Bangka Barat
Hasil analisis laboratorium dari 25 sampel mineral berat granit Jebus diperoleh kadar
thorium berkisar antara 22,6 - 142,2 ppm dan kadar rata-rata 82,95 ppm (Tabel 5).
Tabel 5. Hasil Analisis Kadar Thorium Sampel Mineral Berat dari Granit Jebus
Kode Th (ppm) Kode Th (ppm) Kode Th (ppm) Kode Th (ppm)
182,2 8 97,8 15 104,8 22 64,8
2 92,2 9 118 16 71,4 23 61,8
3 88,0 10 95,8 17 74,4 24 46,2
4 90,6 11 96,8 18 64,0 25 50,4
5 96,4 12 94,8 19 45,6
6 142,2 13 95,6 20 45,0
7 102,6 14 129,6 21 22,6
Kadar Rata-rata 82,95
152
Jurnal Pengembangan Energi Nuklir Volume 16, Nomor 2, Desember 2014
5.6 Kadar Thorium pada Batuan Granit dari Kabupaten Bangka Barat
Hasil analisis laboratorium dari 20 sampel mineral berat granit Pelangas memperoleh
kadar thorium berkisar antara 22,4 - 171,4 ppm dan kadar rata-rata 66,73 ppm (Tabel 6).
Tabel 6. Hasil Analisis Kadar Thorium Sampel Mineral Berat dari Granit Pelangas
Kode Th (ppm) Kode Th (ppm) Kode Th (ppm) Kode Th (ppm)
1 62,6 6 61,6 11 64,0 16 28,0
2 64,0 7 28,0 12 84,4 17 39,2
3 84,4 8 39,2 13 171,4 18 22,4
4 171,4 9 22,4 14 67,0 19 66,70
5 67,0 10 62,6 15 61,6 20 66,76
Kadar Rata-rata 66,73
5.7 Kadar Thorium pada Batuan Granit dari Kabupaten Bangka Barat
Hasil analisis laboratorium dari 25 sampel mineral berat granit Menumbing
memperoleh kadar thorium berkisar antara 42,4 hingga 74,60 ppm dan kadar rata-rata 57,81
PPM (Tabel 7).
Tabel 7. Hasil Analisis Kadar Thorium Sampel Mineral Berat dari Granit Menumbing
Kode Th (ppm) Kode Th (ppm) Kode Th (ppm) Kode Th (ppm)
1 55,50 8 74,00 15 56,40 22 49,70
2 48,00 9 74,60 16 42,40 23 58,90
3 72,00 10 65,10 17 52,90 24 70,20
4 61,00 11 61,70 18 47,10 25 66,00
5 40,00 12 71,90 19 52,50
6 48,00 13 54,40 20 50,40
7 63,20 14 53,60 21 55,70
Kadar Rata-rata 57,81
6. PEMBAHASAN
Penentuan potensi thorium pada batuan granit pada penelitian ini didasarkan pada
dua parameter, yaitu kadar thorium dalam batuan granit dan kondisi fisik batuan granit di
lapangan. Granit dianggap potensial thorium apabila mempunyai kadar thorium
sekurangnya tiga kali kadar thorium dalam granit normal (15 ppm), dan kondisi fisik granit
di lapangan telah mengalami pelapukan tingkat lanjut. Hal ini memudahkan cara
menambangnya, yaitu cukup dengan cara tambang semprot menggunakan air.
Hasil analisis laboratorium menunjukkan bahwa kadar thorium pada batuan granit
Gadung (Bangka Selatan) 76 ppm, granit Bebuluh (Bangka Tengah) 23,33 ppm, granit Mangol
(Pangkal Pinang) 42 ppm dan granit Pemali (Bangka) 35,40 ppm, granit Jebus 85,96 ppm,
granit Pelangas 66,73 ppm dan granit Menumbing 67,03 ppm (dari Bangka Barat). Hasil
pengamatan kondisi fisik seluruh batuan granit di lapangan menunjukkan bahwa secara
umum granit telah mengalami pelapukan tingkat lanjut yang dicirikan oleh tanah hasil
pelapukan granit yang berwarna abu-abu kecoklatan hingga coklat kemerahan sangat tebal
(mencapai 20 meter), seperti yang dijumpai di daerah desa Menjelang Bangka Barat. Apabila
ditinjau secara regional tingkat pelapukan di pulau Bangka dianggap sangat lanjut yang
dicirikan oleh morfologi pulau Bangka yang telah berbentuk morfologi hampir datar hingga
bergelombang rendah atau disebut peneplain yang terbentuk karena proses pelapukan, erosi
dan denudasi selama beberapa juta tahun yang lalu[5].
153
Studi Potensi Thorium pada Batuan Granit di Pulau Bangka : 143-155
(Ngadenin, dkk)
Pada penelitian ini granit yang dianggap potensial thorium adalah granit yang
mempunyai kadar thorium rata-rata 45 ppm, yaitu tiga kali kadar thorium dalam granit
normal. Oleh karena hasil pengamatan langsung di lapangan parameter kondisi fisik granit
di lapangan relatif sama (semua granit telah mengalami pelapukan tingkat lanjut), sehingga
granit yang dapat dianggap sebagai granit potensial thorium adalah granit Gadung yang
terdapat di Kabupaten Bangka Selatan, granit Jebus, granit Pelangas dan granit Menumbing
di Kabupaten Bangka Barat. Hasil penelitian lain yang mendasarkan pada pengamatan
megaskopis, petrografis dan geokimia menunjukkan bahwa sampel granit Menumbing dari
Bangka Barat merupakan granit sumber thorium[9].
Berdasarkan karakteristik mineralogi, yaitu dijumpainya mineral monasit pada granit
Gadung, Jebus, Pelangas dan granit Menumbing, maka granit-granit tersebut dapat
dianggap mempunyai kecenderungan sebagai granit tipe S atau tipe sedimenter, yaitu granit
yang terbentuk dari hasil partial melting batuan metasedimen yang umumnya merupakan
granit potensial thorium[10,11,12].
7. KESIMPULAN
Berdasarkan kadar thorium dan kondisi fisik granit hasil pengamatan di lapangan,
dapat disimpulkan bahwa batuan granit yang potensial sebagai sumber thorium adalah
granit Jebus, granit Pelangas dan granit Menumbing yang terdapat di Bangka Barat, serta
granit Gadung dari Bangka Selatan. Granit Jebus berkadar Th rata-rata 85,96 ppm, granit
Pelangas 66,73 ppm, granit Menumbing 67,03 ppm, dan granit Gadung 76 ppm. Kondisi
batuan granit-granit tersebut secara umum telah mengalami pelapukan tingkat lanjut.
Berdasarkan hasil tersebut Pulau Bangka layak dipertimbangkan dalam pengembangan
eksplorasi Th.
UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada Dr. June Mellawati yang telah banyak
membantu hingga selesainya penyusunan makalah ini. Terimakasih juga kami ucapkan
kepada Ibu Ilsa Rosiana dan Bapak Umar Syraif yang telah membantu menganalisis sampel
mineral berat di laboratorium.
DAFTAR PUSTAKA
[1]. IAN HORE LACY, “Nuclear Energy in the 21st Century”, Word Nuclear Association,
London, 2001,
[2]. MANGGA A. S. dan DJAMAL B., “Peta Geologi Lembar Bangka Utara, Sumatera”,
Skala 1 : 250,000”, P3G, Bandung, 1994.
[3]. U, MARGONO, R. J. B. SUPANJONO, E. PARTOYO, “Peta Geologi Regional Lembar
Bangka Selatan, Sumatera”, Skala 1 : 250,000”, P3G Bandung, 1995
[4]. KO, U KO. “Preliminary Synthesis of The Geology of Bangka Island, Indonesia”,
Geological Society of Malaysia Bulletin, 20, p 81-96, 1986,
[5]. VAN BEMMELEN R.W., “The Geology of Indonesia I”. Springer, 2nd Edition, 1987
[6]. G, J, ALEVAI, E, H, BANI, J. J. NOSSIN and W. J. SLUITER,A Contribution to the
Geology of Part of the Indonesian Tinbelt: the Sea Areas Between Singkep and Bangka
Islands and Around the Karimata Islands”. Geol, Soc, Malaysia, Bulletin, pp. 257-271,
1973.
[7]. BOYLE, R. W., “Geochemical prospecting for Thorium and Uranium Deposits”,
Elsevier Scientific Publishing Company, Amsterdam, 498 p.1982.
154
Jurnal Pengembangan Energi Nuklir Volume 16, Nomor 2, Desember 2014
[8]. GABELMAN, J. W., “Migration of Uranium and Thorium - Exploration Significance”,
The American Association of Petroleum Geologists, Tulsa, Oklahoma, U,S,A, 168 p,
1977.
[9]. KURNIAWAN DWI SAKSAMA, “Geologi dan Potensi Granit Menumbing Sebagai
Sumber Uranium dan Thorium”, Buletin Eksplorium PPGN BATAN, Jakarta, 2013.
[10]. SHUNSO ISHIHARA, “Granite Series, Type and Concentration of HREE in the Malay
Peninsula Region”, Proceedings of the International Symposia on Geoscience
Resources and Environments of Asian Terranes (GREAT 2008), 4th IGCP 516, and 5th
APSEG, November 24-26, , Bangkok, Thailand, 2008.
[11]. B.W. CHAPPELL, A.J.R. WHITE, “Two Contrasting Granite Types”, Australian
Journal of Earth Sciences, 2001.
[12]. W.S. PITCHER, “The Nature, Ascent and Emplacement of Granitic Magmas”, J. Geol.
Soc. Lond. Vol. 36, p 627-662, 1979.
155
HALAMAN INI SENGAJA DIKOSONGKAN
Indeks Judul
INDEKS JUDUL
Volume 16, Nomor 2, Desember 2014
A
ANALISIS SENSITIVITAS KETEBALAN REFLEKTOR GRAFIT TERAS RGTT200K
MENGGUNAKAN PERHITUNGAN MONTE CARLO
(Suwoto, Zuhair) x 73
APLIKASI KOGENERASI NUKLIR UNTUK DEKOMPOSISI AIR PADA KONVERSI CO2
MENJADI PUPUK UREA
(Djati H. Salimy) x 85
K
KAJIAN IMPLEMENTASI FLEXBLUE DI INDONESIA
(Sahala Maruli Lumbanraja) x 107
P
PENENTUAN TAPAK POTENSIAL PLTN DENGAN METODE SIG DI WILAYAH PESISIR
PROPINSI KALIMANTAN BARAT
(Heni Susiati) x 131
PERBANDINGAN HARGA ENERGI DARI SUMBER ENERGI BARU TERBARUKAN DAN
FOSIL
(Edwaren Liun, Sunardi) x 119
S
STUDI KOMPARASI MODEL PERHITUNGAN BIAYA PEMBANGKITAN LISTRIK
TERARAS PLTN
(Nuryanti, Mochamad Nasrullah, Suparman) x 95
STUDI POTENSI THORIUM PADA BATUAN GRANIT DI PULAU BANGKA
(Ngadenin, Heri Syaeful, Kurnia Setiawan Widana, I Gde Sukadana, Fd. Dian
Indrastomo) x 143
Indeks Pengarang
INDEKS PENGARANG
Volume 16, Nomor 2, Desember 2014
D
Djati H. Salimy x 85
E
Edwaren Liun x 119
F
Fd. Dian Indrastomo x 143
H
Heni Susiati x 131
Heri Syaeful x 143
I
I Gde Sukadana x 143
K
Kurnia Setiawan Widana x 143
M
Mochamad Nasrullah x 95
N
Ngadenin x 143
Nuryanti x 95
S
Sahala Maruli Lumbanraja x 107
Sunardi x 119
Suparman x 95
Suwoto x 73
Indeks Pengarang
Z
Zuhair x 73
PETUNJUK PENULISAN MAKALAH
JURNAL PENGEMBANGAN ENERGI NUKLIR (JPEN)
Naskah yang akan dimuat dalam JPEN dapat berupa hasil pengkajian, penelitian dan pengembangan energi nuklir
dengan ruang lingkup: teknologi nuklir, ekonomi energi, industri nuklir, aspek tapak PLTN, lingkungan, atau informasi
lain yang mendukung program pengembangan energi nuklir.
Tata cara penulisan makalah JPEN adalah sebagai berikut :
1. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris menggunakan MS Word jenis huruf Palatino Linotype,
font 10, kolom tunggal, spasi tunggal, kertas HVS A4, margin kiri 3,5 cm, margin kanan-atas-bawah masing-masing
3 cm, dengan jumlah halaman berkisar (8 ± 2) halaman.
2. Judul makalah ditulis secara simetris menggunakan huruf KAPITAL, jenis huruf Palatino Linotype, font 14, cetak
tebal. Nama penulis, alamat institusi, nomor telepon dan email ditulis 2 spasi di bawah judul dengan jenis huruf
Palatino Linotype, font 10.
3. Abstrak ditulis dalam 2 bahasa (Indonesia dan Inggris) dilengkapi judul makalah, dengan jenis huruf Palatino
Linotype, font 10, dengan kata kunci/keyword sebanyak 3-5 kata. Gabungan Judul Makalah+Nama Penulis+Abstrak
tidak melebihi 1 halaman. Abstrak dalam bahasa Inggris dicetak miring.
4. Pendahuluan sekurang-kurangnya mencakup latar belakang, ruang lingkup, dan tujuan. Pendahuluan dibuat dalam
satu bab, tidak perlu dibagi dalam sub-bab.
5. Makalah dapat berupa hasil Pengkajian atau hasil Penelitian yang mengikuti format sebagai berikut:
1. PENDAHULUAN
2. POKOK BAHASAN (”Pokok Bahasan” bukan merupakan judul bab. Judul Bab dalam pokok bahasan ini
disesuaikan dengan materi yang dikaji, dapat berupa DASAR TEORI)
2.1.
2.2.
dst
3. METODOLOGI
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
5. KESIMPULAN (dapat memasukkan saran)
UCAPAN TERIMAKASIH (optional)
DAFTAR PUSTAKA
6. Penulisan bab dalam naskah diberi penomoran arab (1,2,3...) dan ditulis dengan huruf KAPITAL, font 12, cetak tebal,
sedangkan sub-bab ditulis dengan huruf biasa, font 10, cetak tebal. Baris pertama tiap paragraf menjorok kedalam 1
cm.
7. Gambar, tabel dan kalimat yang mengacu pada acuan pustaka tertentu harus mencantumkan nomor acuan
menggunakan tanda kurung siku dicetak superscript.
Contoh : Gambar 1. Skema Pembangkit Desalinasi KHNP[1].
Tabel 1. Data Teknis dan Ekonomis Pembangkit APWR-1000[2]
Modernisasi ruang kendali PLTN bertujuan untuk[3]:
-memaksimalkan tingkat kapasitas/daya keluaran pembangkit,
-memperoleh dan mempertahankan keandalan tinggi,
-memperoleh dan mempertahankan ketersediaan tinggi.
8. Gambar, tabel dan judulnya (caption) ditulis simetris dengan font 10, cetak tebal. Judul gambar diletakkan di
bawah gambar dan judul tabel diletakkan di atas tabel, tanpa jarak spasi.
9. Penulisan daftar pustaka diurutkan sesuai pustaka mana yang diacu lebih dahulu. Daftar pustaka yang
dicantumkan harus benar-benar terkait dengan makalah yang ditulis. Jika dokumen tidak diketahui nama
pengarang atau penerbitnya, hendaknya diberi tanda underscore 7 kali (_______), bukan ANONIM atau
ANONIMOUS. Contoh:
[1]. ALIMAH, S. dan BUDIARTO, “Teknologi Pembuatan Cermet DUO2-Steel Untuk Wadah Limbah Bahan Bakar
Bekas PWR”, Jurnal Pengembangan Energi Nuklir, Volume 7 No. 2 Hal. 50-60, Jakarta, 2005.
[2]. BASTORI, I., “Manajemen Strategik General Electric”, Media Kita, Edisi 3 Hal. 24-27, Jakarta, 2006.
[3]. PLN LITBANG dan PPEN-BATAN, “Laporan Akhir: Studi Ekonomi, Pendanaan dan Struktur Owner dalam
Rangka Rencana Persiapan Pembangunan PLTN Pertama di Indonesia”, PLN, Jakarta, 2006.
[4]. BIROL, F., “Nuclear Power: How Competitive Down The Line?”, IAEA Bulletin Volume 48 No.2,
www.iaea.org, Vienna, 2007. Diakses tanggal 25 Oktober 2008.
CONTOH LAYOUT PENULISAN
(WAJIB DIIKUTI PENULIS)
29,7 cm
21 cm
Header 1,27 cm
Footer 1,27 cm
Left/Inside 3,5 cm
Bottom 3 cm
Right/Outside 3 cm
JURNAL PENGEMBANGAN ENERGI NUKLIR
(palatino linotype, uppercase, bold, 14 pt, 1 line spacing, align center)
Fulan bin Fulan (palatino linotype, capitalize each word, bold, 10 pt, 1 line spacing, align
center)
Pusat Kajian Sistem Energi Nuklir, Badan Tenaga Nuklir Nasional (palatino linotype,
capitalize each word, 10 pt, 1 line spacing, align center)
Jl. Kuningan Barat Mampang Prapatan Jakarta (palatino linotype, capitalize each word, 10
pt, 1 line spacing, align center)
Telp: 021 5204243 Email: jpen@batan.go.id ((palatino linotype, 10 pt, 1 line spacing, align
center)
ABSTRAK (palatino linotype, uppercase, bold, no italic, 12 pt, 1 line spacing, align left)
Isi abstrak (palatino linotype, sentence case, bold dan uppercase hanya untuk kalimat pertama, italic,
10 pt,1 line spacing, justify)
Kata kunci: berisi 3-6 kata kunci (palatino linotype, sentence case, bold hanya untuk kalimat “kata
kunci”, italic, 10 pt, 1 line spacing, justify)
ABSTRACT (palatino linotype, uppercase, bold, no italic, 12 pt, 1 line spacing, align
left)
Isi abstrak (palatino linotype, sentence case, bold dan uppercase hanya untuk kalimat pertama, italic,
10 pt, 1 line spacing, justify)
Keyword: berisi 3-6 kata kunci (palatino linotype, sentence case, bold hanya untuk kalimat
“keyword”, italic, 10 pt, 1 line spacing, justify)
Secara umum semua kalimat naskah ditulis menggunakan Microsoft Word dengan format
penulisan sebagai berikut:
A. Penulisan bab
- menggunakan penomoran arab (1, 2, 3…)
- palatino linotype
- uppercase
- bold
- 12 pt
- 1 line spacing
B. Penulisan sub-bab
- menggunakan penomoran arab yang diawali penomoran bab (1.1, 1.2,…)
- palatino linotype
- capitalize each word
- bold
- 10 pt
- 1 line spacing
C. Penulisan isi
- Awal paragraf ditulis menjorok ke dalam 1 cm.
- palatino linotype
- sentence case
- justify
- 10 pt
- 1 line spacing
Top 3 cm
ResearchGate has not been able to resolve any citations for this publication.
Book
There is a rapidly-increasing world demand for energy, and especially for electricity. Much of the electric demand is for continuous, reliable supply on a large scale, which generally only fossil fuels and nuclear power can meet. Over the last 55 years nuclear energy has become a major source of the world’s electricity. It now provides over 13% of the world’s total. It has the potential to contribute much more, especially if greenhouse concerns lead to a change in the relative economic advantage of nuclear electricity. In physical terms, the prime attribute of nuclear power is its energy density. In a nuclear reactor there is a concentration of energy produced that is orders of magnitude greater than with any other commercial technology. The uranium and nuclear power debate today is about options for producing electricity. None of those options are without some risk or side effects.
Article
The concept of I‐ and S‐type granites was introduced in 1974 to account for the observation that, apart from the most felsic rocks, the granites in the Lachlan Fold Belt have properties that generally fall into two distinct groups. This has been interpreted to result from derivation by partial melting of two kinds of source rocks, namely sedimentary and older igneous rocks. The original publication on these two granite types is reprinted and reviewed in the light of 25 years of continuing study into these granites.
Article
The address is a wide-ranging commentary on the physical aspects of granitic magma and deals especially with the mode of emplacement. Recommendations on the nomenclature of plutons and batholiths involve both a description of the actual shape and their modelling by experimental and salt-diapir analogues. The nature of granitic crystal-mushes, wet or dry, is discussed in the light of the special properties of pseudoplastics, particularly the influence of the physical state of the sinking of crystals and xenoliths, on magma mobility in zoned plutons, and on the final rock structure. The longevity of plutonic events and their episodic character are commented on in relation to the subduction process. The generation of granitic magmas, their upwelling and the structural control of their intrusion whether forceful or permissive, are discussed. The structural form of batholiths in depth is described in terms of a batholith denudation series particularly in the circum-Pacific context. Finally, two main orogenic environments of granites are constrasted in terms of the Hercynotype and Andinotype, and composition and structure are interrelated in a proposed general model for the emplacement of batholiths.-Author
Book
This presentation deals with the problems and progress of radioelement geology and exploration. The ways in which uranium in the earth's crust might concentrate into economic deposits are discussed, and what industry can expect from any given exploration effort for uranium and thorium is considered. The idea is advanced that, in most past exploration, too much geologic thought has been channeled to one or two known types of uranium deposits. There are 16 chapters in this publication, entitled: Introduction; Fundamental Sources of Uranium and Thorium; Goechemistry of Uranium and Thorium; Mechanisms of Uranium and Thorium Transfer to the Crust; Diatreme Feeding of Uranium; Migration of Mantle-Derived Uranium and Thorium within the Crust; Shallow uranium Mobilization Processes; Fixation of Uranium; Cycles of Uranium and Thorium; Oceanic Migration History of Uranium and Thorium, Orogenic Continental-Margin History; Taphrogenic Continental-Margin History; Craton History; Geochemical Distinction of Uranium Mineralization Processes; Underemphasized Processes of uranium Mineralization; and Conclusions. An extensive bibliography is appended, followed by a computerized KWIC-type index. (BLM)
Peta Geologi Regional Lembar Bangka Selatan, Sumatera
  • R J B Supanjono
  • E Partoyo
U, MARGONO, R. J. B. SUPANJONO, E. PARTOYO, "Peta Geologi Regional Lembar Bangka Selatan, Sumatera", Skala 1 : 250,000", P3G Bandung, 1995
Geochemical prospecting for Thorium and Uranium Deposits
  • R W Boyle
BOYLE, R. W., "Geochemical prospecting for Thorium and Uranium Deposits", Elsevier Scientific Publishing Company, Amsterdam, 498 p.1982.