BookPDF Available

Abstract

Proses pengembangan dimulai dengan analisis kebutuhan sehingga menjamin Pembelajaran Daring yang dibangun menjawab kebutuhan stakeholdernya. Tahap kedua adalah analisis rangkakerja sehingga menjamin kelayakan projek pengembangan dari segi jadwal, biaya dan sumber daya manusianya. Pada tahap ketiga adalah konsepsi/desain sehingga menjamin produk yang dihasilkan bermutu, tepat guna dan berdaya guna. Kemudian pada tahap keempat dilakukan pengembangan/produksi yang menjamin pemanfaatan teknologi dan standar yang tepat. Selanjutnya, diikuti dengan tahapan kelima implementasi, tahap keenam adalah proses pembelajaran dan yang ketujuh adalah proses evaluasi dan optimasi. Ketujuh proses ini dijalankan dalam satu siklus yang berulang dimana proses evaluasi dan optimasi hendaknya dilakukan pada setiap tahapan. Dapatkan Versi Cetak di sini: https://intip.in/iEOh
ESENSI PENGEMBANGAN
PEMBELAJARAN DARING
Panduan Berstandar Pengembangan Pembelajaran
Daring untuk Pendidikan dan Pelatihan
ISO 19796
ii
UU No 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta
Fungsi dan Sifat hak Cipta Pasal 2
1. Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi pencipta atau pemegang Hak
Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya, yang
timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa
mengurangi pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
Hak Terkait Pasal 49
1. Pelaku memiliki hak eksklusif untuk memberikan izin atau melarang
pihak lain yang tanpa persetujuannya membuat, memperbanyak, atau
menyiarkan rekaman suara dan/ atau gambar pertunjukannya.
Sanksi Pelanggaran Pasal 72
1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan
sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1) atau pasal 49 ayat (2)
dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu)
bulan dan/ atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah),
atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/ atau denda paling
banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan,
atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran
Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dipidana dengan
pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/ atau denda paling
banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)
iii
ESENSI PENGEMBANGAN
PEMBELAJARAN DARING
Panduan Berstandar Pengembangan
Pembelajaran Daring untuk Pendidikan dan
Pelatihan
Yusuf Bilfaqih
M. Nur Qomarudin
iv
Katalog Dalam Terbitan (KDT)
BILFAQIH, Yusuf
Esensi Pengembangan Pembelajaran Daring/oleh Yusuf Bilfaqih dan
M. Nur Qomarudin.--Ed.1, Cet. 1--Yogyakarta: Deepublish, Agustus 2015.
xvi, 131 hlm.; Uk:17.5x25 cm
ISBN 978-Nomor ISBN
1. Pembelajaran I. Judul
371.36
Desain cover : Herlambang Rahmadhani
Penata letak : Dyah Wuri Handayani
Jl.Rajawali, G. Elang 6, No 3, Drono, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman
Jl.Kaliurang Km.9,3 Yogyakarta 55581
Telp/ Faks: (0274) 4533427
Website: www.deepublish.co.id
www.penerbitdeepublish.com
E-mail: deepublish@ymail.com
PENERBIT DEEPUBLISH
(Grup Penerbitan CV BUDI UTAMA)
Anggota IKAPI (076/ DIY/ 2012)
Copyright © 2015 by Deepublish Publisher
All Right Reserved
Isi diluar tanggung jawab percetakan
Hak cipta dilindungi undang-undang
Dilarang keras menerjemahkan, memfotokopi, atau
memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini
tanpa izin tertulis dari Penerbit.
Esensi Pengembangan Pembelajaran Daring
v
PRAKATA
ada dekade terakhir ini,
Massive Open Online Course
(MOOC) atau kuliah online terbuka dan masif menjadi tren di
berbagai kalangan di masyarakat, bahkan ibu/ bapak rumah
tangga yang masih giat belajar sepanjang hayatnya. MOOC ini pada
umumnya menyediakan kuliah dan kursus yang dapat diikuti secara
gratis. Materinya beragam mulai dari ilmu komputer, sejarah,
matematika, keuangan, hingga pengetahuan tentang musik,
pengetahuan tentang agama, dan fantasi. Belajar menjadi mudah
dan mengasyikkan, bisa kapan saja dan di mana saja.
Penyelenggara kuliah online (kuliah daring) tersebut umumnya
adalah universitas terkenal.
University of Michigan
,
Massachusetts
Institute of Technology
(MIT),
University of Princeton
, Harvard,
Stanford, dan perguruan tinggi top lainnya.
Terdapat beberapa situs favorit yang menawarkan MOOC,
antara lain Coursera (coursera.org) dan Udacity (udacity.com). Pada
tahun 2012, MIT dan
Harvard University
meluncurkan edX. Kita
patut bersyukur dan bangga, pada tahun 2014, Direktorat Jenderal
Pendidikan Tinggi di Indonesia cepat tanggap untuk mengikuti arus
perkembangan ini dengan menjalankan program Pembelajaran
Daring Indonesia Terbuka dan Terpadu (PDITT). Pada tahap awal,
PDITT dijalankan oleh enam perguruan tinggi ternama di Indonesia
dan diharapkan dapat melibatkan partisipasi perguruan tinggi
lainnya pada tahap selanjutnya.
Buku ini memuat panduan pengembangan Pembelajaran
Daring yang berbasis standar. Panduan ini sangat berguna bagi
pengembang untuk membangun Pembelajaran Daring yang bermutu.
Untuk itu diharapkan semakin banyak guru, dosen, perguruan tinggi,
sekolah dan lembaga-lembaga pelatihan yang berpartisipasi
mengembangkan dan menyelenggarakan Pembelajaran Daring.
Pembelajaran Daring yang bermutu akan mudah diakses dan
disebarluaskan menjangkau
audiens
yang luas sehingga dapat turut
mengemban misi untuk mewujudkan visi Pendidikan Nasional.
Surabaya, 10 Agustus 2015
P
Esensi Pengembangan Pembelajaran Daring
vi
Esensi Pengembangan Pembelajaran Daring
vii
DAFTAR ISI
PRAKATA ...................................................................................... v
DAFTAR ISI .................................................................................... vii
DAFTAR GAMBAR ......................................................................... xi
DAFTAR TABEL ............................................................................. xv
1. Pendahuluan ........................................................................... 1
1.1. Mengapa Pembelajaran Daring? ........................................ 1
1.2. Alasan Dibutuhkannya Pembelajaran Daring .................... 3
1.3. Apa Manfaat Pembelajaran Daring? ................................. 4
1.3.1. Tujuan .................................................................. 4
1.3.2. Manfaat ................................................................ 4
1.3.3. Karakteristik .......................................................... 4
1.4. Dasar Hukum ................................................................... 5
1.5. Apa Saja yang Perlu Diperhatikan? ................................... 6
1.5.1. Prinsip Desain Pembelajaran Daring ...................... 6
1.5.2. Pertanyaan yang Harus Dijawab bagi
Pengembang Pembelajaran Daring ........................ 7
1.6. Bagaimana Pembelajaran Daring Dikembangkan? ............. 9
1.6.1. Teknologi dan Standar yang Digunakan ................ 9
1.6.2. Metodologi Pengembangan ................................. 10
2. Langkah-langkah Pengembangan ............................................ 13
2.1. Analisis Kebutuhan .......................................................... 13
2.2. Analisis Rangka Kerja ...................................................... 14
2.3. Konsepsi/Desain .............................................................. 14
2.4. Pengembangan/Produksi ................................................. 15
2.5. Implementasi .................................................................. 16
2.6. Proses Pembelajaran ........................................................ 16
Esensi Pengembangan Pembelajaran Daring
viii
2.7. Evaluasi dan Optimasi .................................................... 17
3. Analisis Kebutuhan ................................................................ 19
3.1. Deskripsi Umum Pembelajaran Daring ............................ 19
3.2. Kebutuhan dalam Penyelenggaraan Pembelajaran
Daring ............................................................................ 19
3.3. Rencana Pengembangan Pembelajaran Daring
Indonesia Terbuka & Terpadu ......................................... 21
4. Analisis Rangka Kerja ............................................................ 23
4.1. Sumber Daya .................................................................. 23
4.2. Organisasi Tim Pembelajaran Daring ............................... 23
4.3. Pemetaan Peran dalam Pengembangan
Pembelajaran Daring ...................................................... 24
4.4. Kelompok Target Pembelajaran Daring ........................... 25
4.5. Jadwal Pengembangan Pembelajaran Daring .................. 25
4.6. Anggaran Biaya Pembelajaran Daring ............................. 25
5. Konsepsi/Desain .................................................................... 27
5.1. Konsep Kompetensi/Capaian Pembelajaran .................... 27
5.2. Konsep Materi ................................................................ 28
5.3. Konsep Agregasi ............................................................. 29
5.4. Konsep Sekuen dan Navigasi........................................... 34
5.5. Konsep Didaktik ............................................................. 37
5.5.1. Model Instruksional Berdasar Bentuk
Pengetahuan ....................................................... 38
5.5.1.1. Declarative Knowledge (knowing
what) .................................................... 38
5.5.1.2. Procedural Knowledge (knowing
how) ..................................................... 38
5.5.1.3. Situated Knowledge (knowing
when and how) ..................................... 39
5.5.2. Model Instruksional Berdasar Arsitektur
Pembelajaran ..................................................... 40
Esensi Pengembangan Pembelajaran Daring
ix
5.5.3. Model Pembelajaran Berpusat kepada
Mahasiswa ........................................................... 41
5.6. Konsep Media ................................................................ 43
5.7. Konsep Komunikasi/Diskusi ............................................ 46
5.8. Konsep Tugas ................................................................. 46
5.9. Konsep Evaluasi ............................................................. 47
5.10. Konsep Metadata ............................................................ 51
5.11. Konsep Aktivitas ............................................................ 52
5.12. Konsep Pemeliharaan ..................................................... 53
6. Pengembangan/Produksi ....................................................... 55
7. Implementasi ......................................................................... 61
7.1. Partisipan Mata Kuliah ................................................... 62
7.2. Sumber Belajar Mata Kuliah ........................................... 62
7.3. Aktivitas Pembelajaran Daring ........................................ 63
8. Proses Pembelajaran ............................................................. 65
8.1. Proses Pembelajaran Daring ........................................... 65
8.1.1. Pendekatan Sistem .............................................. 65
8.1.2. Arsitektur Sistem ................................................. 67
8.2. Pengguna Pembelajaran Daring ...................................... 68
8.3. Fungsional Pembelajaran Daring .................................... 69
8.3.1. Manajemen Pembelajaran .................................. 69
8.3.2. Manajemen Konten Berorientasi Objek
Pembelajaran ...................................................... 70
8.3.3. Manajemen Sekuen dan Navigasi Objek
Pembelajaran ...................................................... 73
8.3.4. Manajemen Ulangan dan Ujian .......................... 74
8.3.5. Manajemen Pengguna ........................................ 76
8.3.6. Manajemen Deliveri ........................................... 77
8.3.7. Manajemen
Review
dan
Feedback
...................... 78
8.4. Layanan Pembelajaran Daring ........................................ 80
Esensi Pengembangan Pembelajaran Daring
x
8.4.1. Fitur Layanan Umum.......................................... 80
8.4.2. Fitur
Social Support
............................................. 81
8.4.3. Fitur Layanan Khusus ........................................... 82
8.4.3.1. Perencanaan Pembelajaran .................... 82
8.4.3.2. Pelaksanaan Pembelajaran ..................... 83
8.4.3.3. Penilaian Hasil dan Proses
Pembelajaran ......................................... 84
8.4.3.4. Pengawasan Proses Pembelajaran .......... 85
9. Evaluasi & Optimasi .............................................................. 89
10. Penutup ............................................................................... 91
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................... 93
LAMPIRAN .................................................................................... 95
Esensi Pengembangan Pembelajaran Daring
xi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1
Reference Framework for Description of
Quality
(ISO 19796: Part 1) ...................................... 11
Gambar 2 Proses Utama Pengembangan Pembelajaran
Daring ...................................................................... 13
Gambar 3-1 Mekanisme Pelaksanaan Pembelajaran Daring .......... 19
Gambar 3-2 Kebutuhan dalam Penyelenggaraan
Pembelajaran Daring ............................................... 20
Gambar 3-3 Tahapan dalam Pengembangan Modul
Pembelajaran Daring ................................................ 21
Gambar 3-4 Rencana Jangka Panjang Pembelajaran
Daring (sumber http://
kuliahdaring.dikti.go.id/ ) ......................................... 21
Gambar 4 Pemetaan Peran Pengembangan
Pembelajaran Daring ............................................... 24
Gambar 5-1 Konsep Capaian Pembelajaran pada Sistem
Pembelajaran Daring ............................................... 27
Gambar 5-2 Peta Capaian Pembelajaran Mata Kuliah ................. 28
Gambar 5-3 Contoh Organisasi Materi ....................................... 29
Gambar 5-4 Struktur Objek Pembelajaran Mata Kuliah ................ 31
Gambar 5-5 Anatomi Objek Pembelajaran ................................... 31
Gambar 5-6 Keterkaitan dengan Mata Kuliah Lain ...................... 33
Gambar 5-7 Merangkai Mata Kuliah Baru ................................... 33
Gambar 5-8 Struktur Objek Pembelajaran ................................... 34
Gambar 5-9 Model 1 Sekuen dan Navigasi OP Mata
Kuliah Sistem Linear ................................................ 35
Esensi Pengembangan Pembelajaran Daring
xii
Gambar 5-10 Model 2 Sekuen dan Navigasi OP Mata
Kuliah Sistem Linear ................................................. 35
Gambar 5-11 Model 3 Sekuen dan Navigasi OP Mata
Kuliah Sistem Linear ................................................. 36
Gambar 5-12 Struktur Objek Pembelajaran Berdasar
Arsitektur Pembelajaran ........................................... 41
Gambar 5-13 Model Pembelajaran
Project based Learning
............ 42
Gambar 5-14 Contoh Konsep Tugas .............................................. 47
Gambar 5-15 Siklus Pembelajaran yang Memadukan
Partisipan, Sumber Belajar dan Aktivitas
Pembelajaran ........................................................... 53
Gambar 6-1 Tahapan Pengembangan Mata Kuliah
Pembelajaran Daring................................................ 55
Gambar 6-2 Produksi Ulang Modul Pembelajaran Daring ............ 56
Gambar 7-1 Komponen Pembelajaran Daring ............................. 61
Gambar 7-2 Memadukan Partisipan, Sumber Belajar, dan
Aktivitas pada Mata Kuliah ...................................... 62
Gambar 7-3 Mata Kuliah/ Pelajaran Daring berbasis
Rencana Pembelajaran Semester .............................. 63
Gambar 8-1 Model 3P Pembelajaran Daring ............................... 66
Gambar 8-2 Pembelajaran Daring untuk Mendukung
Standar Proses Pembelajaran .................................... 66
Gambar 8-3 Arsitektur Pembelajaran Daring ................................ 67
Gambar 8-4 Sistem Manajemen Konten Berorientasi
Objek Pembelajaran ................................................ 72
Gambar 8-5 Repositori Objek Pembelajaran yang Sharable
& Reusable di Setiap Level ....................................... 73
Gambar 8-6 Ilustrasi
Share
dan
Reuse
Pertanyaan ........................ 75
Gambar 8-7 Ilustrasi Penyusunan Ulangan dan Ujian ................... 75
Esensi Pengembangan Pembelajaran Daring
xiii
Gambar 8-8 Ilustrasi Penyusunan Latihan, Ulangan, dan
Ujian dari Bank Soal ................................................ 76
Gambar 8-9 Konvergensi Media ................................................. 77
Gambar 8-10 Ilustrasi Pemberian Komentar dan Rating
untuk Materi Pembelajaran ..................................... 79
Gambar 8-11 Ilustrasi Informasi Rating Materi
Pembelajaran .......................................................... 80
Gambar 8-12 Contoh format pemantauan pembelajaran .............. 88
Esensi Pengembangan Pembelajaran Daring
xiv
Esensi Pengembangan Pembelajaran Daring
xv
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Taksonomi Objek Pembelajaran .................................. 30
Tabel 2 Kategori Materi Pembelajaran ...................................... 38
Tabel 3 Struktur Objek Pembelajaran untuk
Declarative
Knowledge
.................................................................. 38
Tabel 4 Struktur Objek Pembelajaran untuk
Procedural
Knowledge
.................................................................. 39
Tabel 5 Struktur Objek Pembelajaran untuk
Situated
Knowledge
.................................................................. 39
Tabel 6 Arsitektur Pembelajaran ............................................... 40
Tabel 7 Pemilihan Media Visual Berdasar Bentuk
Pengetahuan ................................................................ 43
Tabel 8 Pemilihan Media Berdasar Muatan/Isi
Pembelajaran ............................................................... 44
Tabel 9 Pemilihan Media Berdasarkan Sifat Tugas ..................... 45
Tabel 10 Pemilihan Media Berdasar Sifat Respons ....................... 46
Tabel 11 Contoh Rencana Evaluasi ............................................. 48
Tabel 12 Konsep Penilaian Aktivitas Diskusi Menggunakan
Rubrik ......................................................................... 49
Tabel 13 Konsep Asesmen .......................................................... 50
Tabel 14 Pemetaan Peran Pengembangan Mata Kuliah
Pembelajaran Daring .................................................... 56
Tabel 15 Kelengkapan Objek Pembelajaran Mata Kuliah ............ 57
Esensi Pengembangan Pembelajaran Daring
xvi
Esensi Pengembangan Pembelajaran Daring
1
1. Pendahuluan
embelajaran Daring merupakan program penyelenggaraan kelas
pembelajaran dalam jaringan untuk menjangkau kelompok target
yang masif dan luas. Melalui jaringan, pembelajaran dapat
diselenggarakan secara masif dengan peserta yang tidak terbatas.
Pembelajaran Daring dapat saja diselenggarakan dan diikuti secara gratis
maupun berbayar. Pada bagian ini dibahas latar belakang, permasalahan,
tujuan pengembangan Pembelajaran Daring, ruang lingkup dan dasar
hukumnya.
1.1. Mengapa Pembelajaran Daring?
Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi saat ini membawa
berbagai perubahan dalam kehidupan manusia. Peranan Teknologi
Informasi dan Komunikasi (TIK) semakin dirasakan di berbagai sektor,
termasuk di bidang pendidikan.
Pada tahun 2009, seorang pemuda bernama Salman Khan
meninggalkan pekerjaannya sebagai manajer keuangan. Hidupnya ia
serahkan ke dunia pendidikan, yang dia sebut Khan Academy (http://
khanacademy.org/ ). Khan menghabiskan waktunya di sebuah bekas toilet
mini yang ia sulap menjadi studio rekaman sekaligus perpustakaan.
Ruangan tersebut berukuran 1,5 x 2 meter, di ruang sesak inilah Khan
menghabiskan waktunya bersama dua komputer, software screen capture
senilai $20, dan sebuah pen tablet senilai $80, Khan membuat video
pembelajaran. Hebatnya, semua itu dikerjakannya sendiri, mulai dari
menyusun materi, membuat video, hingga menjadi guru sekaligus. Dia
bisa mengajar apa saja, dari kalkulus, trigonometri, kimia, fisika, biologi,
sampai tentang perang Napoleon, dan pelajaran ekonomi.
Bill Gates dan anak laki-lakinya yang berumur 11 tahun, Rory,
terpana oleh video-video pembelajaran Khan, dari video aljabar sampai
biologi. Yang membuat kagum Gates adalah sosok Khan yang
meninggalkan dunia gemerlap sebagai manajer investasi beralih menjadi
guru yang mendidik jutaan orang lewat video Internet. Bill Gates pun
P
Esensi Pengembangan Pembelajaran Daring
2
memujinya sebagai “Orang yang mengerjakan banyak hal dengan sumber
daya yang amat terbatas.” Sejauh ini, di ruang sesak bekas toilet itu, Khan
telah menciptakan 1.630 tutorial dan ditonton oleh 70 ribu orang per
hari. Angka itu nyaris dua kali lipat jumlah mahasiswa Harvard plus
Universitas Sanford.
Tidak jauh berbeda dengan Khan Academy, pada lima tahun
terakhir ini, Massive Open Online Course (MOOC) atau kuliah online
terbuka dan masif menjadi tren di berbagai kalangan yang masih giat
belajar sepanjang hayatnya. MOOC ini pada umumnya menyediakan
kuliah dan kursus yang dapat diikuti secara gratis. Penyelenggara kuliah
online (kuliah daring) tersebut umumnya adalah universitas terkenal.
University of Michigan, Massachusetts Institute of Technology (MIT),
University of Princeston, Harvard, Stanford, dan perguruan tinggi top
lainnya.
Terdapat beberapa situs favorit yang menawarkan MOOC, antara
lain Coursera (coursera.org) dan Udacity (udacity.com). Pada tahun 2012,
MIT dan Harvard University meluncurkan edX (edX.org).
Suatu ketika, seorang anak laki-laki berusia 15 tahun bernama
Battushig Myanganbayar, kelahiran Ulan Bator, Mongolia mengikuti kelas
Circuits and Electronics, kelas MOOC pertama yang dibuka oleh MIT. Ia
beserta 340 mahasiswa dari 150.000 mahasiswa yang mengambil mata
kuliah tersebut mendapatkan nilai sempurna (www.nytimes.com).
Bagaimana mungkin anak yang berasal dari daerah yang bisa dikatakan
tertinggal dapat memperoleh prestasi tinggi seperti itu? Ternyata, dalam
kesehariannya Battushig tidak mendengarkan musik. Battushig tidak
mengenal Harry Potter (“apa yang dapat saya pelajari darinya? ujarnya”).
Battushig menganggap belajar elektronik tidak ada batasnya, belajar
elektronik seperti bermain dengan mainan yang sangat mengasyikkan.
Kisah Battushig ini menunjukkan bahwa Pembelajaran Daring
mampu memberikan layanan pembelajaran yang menarik dan efektif. Di
samping itu, melalui Pembelajaran Daring terbuka seperti itu dapat
menjaring anak-anak muda berbakat dan jenius. Dalam kasus Battushig, ia
langsung diterima sebagai mahasiswa MIT melalui program beasiswa.
Bukan tidak mungkin kasus seperti ini terulang pada anak-anak muda di
seluruh belahan dunia, termasuk di Indonesia. Praktik seperti ini
merupakan suatu ancaman bagi suatu Negara yang mana sumber daya
Esensi Pengembangan Pembelajaran Daring
3
manusia yang potensial yang dimiliki, diambil oleh negara lain. Alangkah
baiknya apabila negara kita dapat melakukan hal yang sama sehingga
mampu menjaring bakat-bakat muda potensial untuk diasah menjadi
pemegang peran penting dalam pembangunan bangsa Indonesia.
Kita patut bersyukur dan bangga, pada tahun 2014, Direktorat
Jenderal Pendidikan Tinggi di Indonesia cepat tanggap untuk mengikuti
arus perkembangan ini dengan menjalankan program Pembelajaran
Daring Indonesia Terbuka dan Terpadu (PDITT). Pada tahap awal, PDITT
dijalankan oleh enam perguruan tinggi ternama di Indonesia dan
diharapkan dapat melibatkan partisipasi perguruan tinggi lainnya pada
tahap selanjutnya.
Buku ini memuat panduan pengembangan Pembelajaran Daring
yang berbasis standar. Panduan ini sangat berguna bagi pengembang
untuk membangun Pembelajaran Daring yang bermutu. Melalui panduan
ini dapat diharapkan semakin banyak guru, dosen, sekolah, dan
perguruan tinggi serta lembaga-lembaga workshop dan pelatihan yang
mengembangkan dan menyelenggarakan Pembelajaran Daring.
Pembelajaran Daring yang bermutu akan mudah diakses dan
disebarluaskan menjangkau audiens yang luas sehingga dapat turut
mengemban misi untuk mewujudkan visi Pendidikan Nasional dan
meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan bangsa Indonesia.
1.2. Alasan Dibutuhkannya Pembelajaran Daring
Di dalam bukunya The One World Schoolhouse”, Salman Khan
mengatakan:
“Pendidikan tidak terjadi di dalam ruang antara mulut guru dan
telinga murid. Pendidikan terjadi di ruang di dalam otak masing-masing.
Hal ini sejalan dengan teori pembelajaran konstruktivisme bahwa
ilmu pengetahuan itu dibangun oleh murid melalui proses belajar, bukan
dipindahkan dari guru ke murid. Mengingat hal tersebut tidak alasan
untuk meragukan bahkan menolak Pembelajaran Daring.
Mempertimbangkan tren yang berkembang di dunia dan kondisi
pendidikan di Indonesia dapat dirumuskan alasan dibutuhkannya
Pembelajaran Daring sebagai berikut:
Esensi Pengembangan Pembelajaran Daring
4
Kapasitas pendidikan di Indonesia, baik pendidikan dasar dan
menengah, pendidikan tinggi, maupun lembaga-lembaga
workshop & pelatihan masih sangat terbatas.
Sebaran yang kurang merata sehingga meningkatkan biaya
pendidikan/ pelatihan dan akomodasinya.
Kebanyakan satuan pendidikan belum memiliki sumber daya
pendidikan yang memadai dan berkualitas. Sekolah, perguruan
tinggi dan lembaga pelatihan yang bermutu lebih terkonsentrasi
di Pulau Jawa.
Belum dapat mewujudkan layanan pendidikan dan pelatihan yang
setara dan bermutu.
Belum dapat menjamin pemenuhan kebutuhan dan permintaan
pendidikan dan pelatihan yang bermutu. Masih banyak penduduk
usia wajib belajar belum mendapatkan haknya untuk
mendapatkan pendidikan.
1.3. Apa Manfaat Pembelajaran Daring?
1.3.1. Tujuan
Secara umum, Pembelajaran Daring bertujuan memberikan
layanan pembelajaran bermutu secara dalam jaringan (daring) yang
bersifat masif dan terbuka untuk menjangkau audiens yang lebih banyak
dan lebih luas.
1.3.2. Manfaat
o Meningkatkan mutu pendidikan dan pelatihan dengan
memanfaatkan multimedia secara efektif dalam pembelajaran.
o Meningkatkan keterjangkauan pendidikan dan pelatihan yang
bermutu melalui penyelenggaraan pembelajaran dalam jaringan.
o Menekan biaya penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan yang
bermutu melalui pemanfaatan sumber daya bersama.
1.3.3. Karakteristik
Berdasar tren yang berkembang, Pembelajaran Daring memiliki
karakteristik yang utama sebagai berikut:
Esensi Pengembangan Pembelajaran Daring
5
Daring
Pembelajaran Daring adalah pembelajaran yang diselenggarakan
melalui jejaring web. Setiap mata kuliah/pelajaran menyediakan
materi dalam bentuk rekaman video atau slideshow, dengan
tugas-tugas mingguan yang harus dikerjakan dengan batas waktu
pengerjaan yang telah ditentukan dan beragam sistem penilaian.
Masif
Pembelajaran Daring adalah pembelajaran dengan jumlah
partisipan tanpa batas yang diselenggarakan melalui jejaring web.
Kuliah perdana edX diikuti oleh 370.000 siswa. Coursera yang
diluncurkan Januari 2012, pada November 2012 sudah memiliki
murid lebih dari 1,7 jutatumbuh lebih cepat dibanding
Facebook.
Terbuka
Sistem Pembelajaran Daring bersifat terbuka dalam artian
terbuka aksesnya bagi kalangan pendidikan, kalangan industri,
kalangan usaha, dan khalayak masyarakat umum. Dengan sifat
terbuka, tidak ada syarat pendaftaran khusus bagi pesertanya.
Siapa saja, dengan latar belakang apa saja dan pada usia berapa
saja, bisa mendaftar. Hak belajar tak mengenal latar belakang dan
batas usia.
Kedua karakteristik terakhir ini sifatnya bergantung desain,
pengembang dan penyelenggara Pembelajaran Daring dapat saja
membatasi jumlah partisipannya dan memasang tarif bagi peserta kelas
pembelajarannya.
1.4. Dasar Hukum
Untuk menjamin pelaksanaan dan keberlanjutan program
pembelajaran, pendidikan dan pelatihan secara daring, pengembangan-
nya harus mempertimbangkan peraturan dan undang-undang yang
berlaku. Beberapa di antaranya yang terkait adalah sebagai berikut:
1. Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional;
2. Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang Standar
Nasional Pendidikan;
Esensi Pengembangan Pembelajaran Daring
6
3. Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen:
4. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 129a/ U/ 2004
tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Pendidikan;
5. Permendiknas Nomor 38 Tahun 2008 tentang Pengelolaan
Teknologi Informasi dan Komunikasi di Lingkungan Departemen
Pendidikan Nasional;
6. UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak atas Kekayaan Intelektual;
7. Peraturan Presiden Detiknas tentang Pemanfaatan TIK (KEPRES RI
NOMOR 20 TAHUN 2006)
8. Dokumen Rencana Strategis Direktorat Jenderal Pendidikan
Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2010-2014;
9. Renstra Strategis Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi,
Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2010-2014;
10. Permendikbud Nomor 109 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan
Pendidikan Jarak Jauh pada Pendidikan Tinggi.
11. Permendikbud Nomor 119 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan
Pendidikan Jarak Jauh pada Jenjang Pendidikan Dasar dan
Menengah.
1.5. Apa Saja yang Perlu Diperhatikan?
1.5.1. Prinsip Desain Pembelajaran Daring
Untuk menghasilkan Pembelajaran Daring yang baik dan bermutu
ada beberapa prinsip desain utama yang harus dipenuhi, yaitu:
1. Identifikasi capaian pembelajaran bagi mahasiswa atau peserta
pendidikan dan pelatihan, mencakup aspek pengetahuan,
keterampilan dan sikap.
2. Menjamin strategi asesmen selaras dengan capaian
pembelajaran.
3. Menyusun aktivitas dan tugas pembelajaran secara progresif agar
mahasiswa dapat mematok target pengetahuan, keterampilan
dan sikap yang dibangun dalam proses belajarnya.
a. menyajikan materi yang mendukung belajar aktif;
b. dalam durasi pembelajaran, pengetahuan dibangun mulai
dari yang mendasar lalu meningkat menuju keterampilan
Esensi Pengembangan Pembelajaran Daring
7
pada tingkat yang lebih tinggi seperti aplikasi, integrasi dan
analisis.
4. Menjamin keseimbangan antara kehadiran dosen memberi
materi, interaksi sosial, tantangan atau beban kognitif.
1.5.2. Pertanyaan yang Harus Dijawab bagi Pengembang
Pembelajaran Daring
Di samping itu, pengembangan Pembelajaran Daring harus dapat
pertanyaan-pertanyaan berikut ini agar dapat menghasilkan
Pembelajaran Daring yang baik dan bermutu.
1. Pembelajaran Daring sebaiknya dirancang dan diselenggarakan
oleh orang yang memiliki kepakaran dan interes pribadi pada
topik pembelajaran sehingga dapat menarik partisipan untuk
belajar dan diskusi.
Topik apa yang Anda pertimbangkan untuk Pembelajaran Daring?
Apakah Anda yakin topik tersebut cocok untuk diselenggarakan
dalam bentuk Pembelajaran Daring? Apakah ada permintaan atau
ada yang membutuhkan pembelajaran ini?
2. Pembelajaran Daring dapat saja bersifat masif. Namun
interpretasi masif ini dapat berbeda. Tidak masalah seberapa
besar partisipan pembelajaran, yang Anda butuhkan adalah topik
yang banyak diminta dan memiliki kelompok target audiens.
Apakah audiens akan cocok dengan topik yang akan Anda
sediakan melalui Pembelajaran Daring?
3. Individu yang terlibat dalam merancang Kuliah Daring seharusnya
pakar di bidangnya (pengajaran atau penelitian) dan seharusnya
'hadir' di dalam pembelajaran.
Siapa yang akan merancang dan mengajar Pembelajaran Daring?
Bagaimana jadwal untuk merancang dan menyelenggarakan
pembelajarannya? Bagaimana penyajiannya?
4. Capaian pembelajaran dari partisipan Pembelajaran Daring perlu
ditentukan agar efektivitas Pembelajaran Daring dapat dievaluasi.
Hal yang juga penting adalah performansi partisipan diukur dan
diumpanbalikkan terkait dengan kekuatan dan kelemahannya
dalam pembelajaran.
Esensi Pengembangan Pembelajaran Daring
8
Apa yang akan dipelajari partisipan atau apa hasil yang
diinginkan? Bukti apa atau dokumentasi apa yang perlu disiapkan
partisipan, bila ada, untuk menyajikan bahwa mereka telah
mencapai hasil atau yang diinginkan? Bagaimana partisipan akan
menerima umpan balik atas pembelajarannya?
5. Pembelajaran Daring hendaklah memfasilitasi pengalaman belajar
yang efektif yang membutuhkan interaktivitas, komunikasi, dan
komunitas belajar.
Apa jenis interaksi yang akan digunakan bagi partisipan
(centralized atau distributed, synchronous atau asynchronous)?
Siapa yang akan memfasilitasi interaksi tersebut?
6. Konten atau materi Pembelajaran Daring hendaknya merupakan
titik awal untuk perbincangan dalam pembelajaran, bukan hanya
agar Pembelajaran Daring terkesan eksklusif.
Materi apa yang dibutuhkan oleh partisipan untuk menyelesaikan
aktivitas belajar dan menghasilkan capaian pembelajaran?
Apakah Anda memiliki keterampilan dan perangkat lunaknya
untuk membuat materi tersebut atau di mana Anda dapat
memperoleh sumber belajar yang dibutuhkan itu?
7. Mahasiswa kadang-kadang mengalami kesulitan menyesuaikan
diri dengan teknologi pendidikan dan situs Pembelajaran Daring
yang digunakan untuk melaksanakan aktivitas daring.
Tantangan apa yang Anda antisipasi? Apa saja langkah langkah
proaktif yang Anda lakukan untuk membantu partisipan agar
familiar dengan teknologi dan sistem Pembelajaran Daring?
8. Ketika bekerja secara daring, mahasiswa sering kali bermasalah
dalam mengatur waktu dan tugas-tugasnya, sering kali mahasiswa
juga kesulitan memahami implikasi dari Pembelajaran Daring
dalam rangkaian studinya.
Apakah Anda memiliki rencana untuk membantu partisipan Anda
agar pandai-pandai mengelola waktu belajarnya dan meng-
organisasikan pengetahuan yang diperoleh dari Pembelajaran
Daring terkait studinya?
9. Tidak seperti pembelajaran tradisional yang mana pesertanya
sudah terdaftar dan harus mengambil kelas pembelajaran Anda
Esensi Pengembangan Pembelajaran Daring
9
untuk menyelesaikan program studinya, untuk Pembelajaran
Daring Anda perlu menawarkan dan mempromosikan kelas Anda.
Bagaimana Anda menawarkan/mempromosikan Pembelajaran
Daring Anda?
10. Pembelajaran seharusnya memiliki siklus evaluasi, sebelum,
selama, dan setelah pembelajaran.
Metode apa yang akan Anda gunakan untuk mengevaluasi
pembelajaran Anda sebelum dimulai? Bagaimana Anda
menangkap umpan balik mahasiswa selama dan setelah
pembelajaran?
1.6. Bagaimana Pembelajaran Daring Dikembangkan?
Pengembangan Pembelajaran Daring sebaiknya dilaksanakan
secara sistematis dan metodik sehingga memberikan manfaat
sebagaimana yang diharapkan. Berikut ini dijelaskan teknologi dan
standar yang digunakan dan bagaimana metodologi pengembangannya.
1.6.1. Teknologi dan Standar yang Digunakan
Buku ini merekomendasikan Teknologi dan Standar yang
digunakan adalah sebagai berikut:
Standar Isi dan Proses
Standar Nasional Pendidikan (Peraturan Pemerintah Nomor 19
Tahun 2005)
Metadata Materi Pembelajaran
Extensible Markup Language (XML), yaitu teknologi dan standar
untuk mendeskripsikan materi.
Standar dan Spesifikasi Materi Pembelajaran Daring
o ISO/IEC TR 29163-1:2009, tentang Overview SCORM
(Sharable Content Object Reference Model)
o ISO/IEC TR 29163-2:2009, tentang Content Aggregation
Model SCORM
o ISO/IEC TR 29163-3:2009, tentang Run-time Environment
SCORM
o ISO/IEC TR 29163-4:2009, tentang Sequence and Navigation
SCORM
Esensi Pengembangan Pembelajaran Daring
10
Standar dan Spesifikasi Proses Pembelajaran Daring
o ISO/IEC TR 19796-1:2005, tentang Learning, Education and
Training
o ISO/IEC TR 19796-3:2009, tentang Metrics dan Methods.
1.6.2. Metodologi Pengembangan
Pengejawantahan dari prinsip desain tersebut di atas serta
bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut diupayakan
melalui proses pengembangan Pembelajaran Daring yang mengacu pada
ISO 19796: Part 1 yang memuat proses pengembangan sistem learning,
education, & training. Tahapan atau langkah-langkah pengembangan
yang direkomendasikan diilustrasikan pada Gambar 1.
Esensi Pengembangan Pembelajaran Daring
11
Gambar 1 Reference Framework for Description of Quality (ISO 19796: Part 1)
Esensi Pengembangan Pembelajaran Daring
12
Esensi Pengembangan Pembelajaran Daring
13
2. Langkah-langkah Pengembangan
ada bagian ini diuraikan proses adaptasi model mutu mengacu
pada ISO 19796: Part 1 untuk digunakan sebagai model proses
pengembangan Pembelajaran Daring (ISO/IEC, 2005). Adaptasi
model proses ini mempertimbangkan program berbagi materi dan
standar nasional pendidikan di Indonesia. Berikut ini disampaikan model
proses pengembangan Pembelajaran Daring yang terdiri atas proses
utama beserta subprosesnya. Model deskriptif dari setiap proses dapat
dilihat pada Lampiran.
Selengkapnya, proses utama dalam pengembangan Pembelajaran
Daring diperlihatkan pada Gambar 2.
Gambar 2 Proses Utama Pengembangan Pembelajaran Daring
Ketujuh proses ini diuraikan pada bagian berikut.
2.1. Analisis Kebutuhan
Proses utama yang pertama adalah analisis kebutuhan, yaitu
proses identifikasi dan deskripsi kebutuhan, permintaan, dan kendala
dalam pengembangan Pembelajaran Daring. Proses ini terdiri atas empat
subproses sebagai berikut:
Inisiasi: inisiasi pengembangan Pembelajaran Daring; deskripsi
dari kebutuhan atau permintaan untuk pengembangan
Pembelajaran Daring.
Identifikasi Stakeholder: identifikasi, deskripsi dan evaluasi
pemangku kepentingan.
Definisi Sasaran: definisi dan evaluasi sasaran dari pemangku
kepentingan.
Analisis
Kebutuhan
Analisis
Rangka
Kerja
Konsepsi
/ Desain
Pengem
bangan/
Produksi
Imple-
mentasi
Proses
Pembelaj
aran
Evaluasi/
Optimasi
P
Esensi Pengembangan Pembelajaran Daring
14
Analisis Permintaan: spesifikasi, deskripsi, dan validasi
permintaan dan sasaran dalam pengembangan Pembelajaran
Daring serta deskripsi operasionalnya.
2.2. Analisis Rangka Kerja
Pada tahap kedua adalah proses analisis rangka kerja, yaitu
proses identifikasi rangka kerja dan konteks dari pengembangan
Pembelajaran Daring. Kajian terhadap proses ini menunjukkan bahwa
poin-poin yang termuat dalam model referensi sesuai dengan kebutuhan
di lingkungan pendidikan dan pelatihan, yaitu terdiri atas subproses
berikut:
Analisis Konteks Eksternal: proses identifikasi, deskripsi, dan
evaluasi framework/konteks eksternal pengembangan
Pembelajaran Daring.
Analisis Sumber Daya Staf: proses identifikasi dan deskripsi aktor,
kualifikasinya, kompentensinya, dan ketersediaannya.
Analisis Kelompok Target: proses identifikasi dan deskripsi
kelompok target dan profil peserta pendidikan atau pelatihan.
Analisis Konteks Organisasional dan Institusional: proses
identifikasi & deskripsi relevansi konteks organisasional dan
institusional untuk pengembangan Pembelajaran Daring.
Perencanaan Waktu dan Biaya: proses identifikasi dan deskripsi
batasan keuangan, kontrak, dan tempo pelaksanaan
pengembangan Pembelajaran Daring.
Analisis lingkungan: proses identifikasi dan deskripsi lingkungan
dan sumber daya fisik untuk pengembangan Pembelajaran
Daring.
2.3. Konsepsi/Desain
Pada tahap ketiga adalah proses konsepsi atau desain, yaitu
proses merencanakan dan mendesain konsep Pembelajaran Daring.
Berikut ini subproses yang dilakukan:
Kompetensi/Capaian Belajar: menyesuaikan dengan istilah dalam
standar kompetensi lulusan pendidikan atau pelatihan.
Esensi Pengembangan Pembelajaran Daring
15
Merupakan proses mendefinisikan kompetensi yang ingin dicapai
dalam suatu materi Pembelajaran Daring.
Konsep Materi: konsep dari materi pembelajaran yang
direpresentasikan berupa silabus dan rencana pembelajaran.
Konsep Agregasi: deskripsi model agregasi materi Pembelajaran
Daring yang mendukung mekanisme share dan reuse.
Konsep Sekuen dan Navigasi: deskripsi urutan penyampaian
materi dan fitur interaktif bagi pengguna.
Konsep Didaktik: konsep dari model didaktik, konsep dan prinsip
metode penyampaian materi pembelajaran.
Konsep Media: pemilihan dari penggunaan media.
Konsep Komunikasi: pemilihan dan deskripsi dari media
komunikasi yang digunakan dalam pembelajaran.
Konsep Tugas: deskripsi bentuk penugasan yang diberikan melalui
materi Pembelajaran Daring.
Konsep Evaluasi: deskripsi metode pelaksanaan evaluasi, cara
penilaian, dan penentuan kriteria kelulusan.
Konsep Metadata: definisi model metadata yang digunakan pada
materi Pembelajaran Daring.
Konsep Aktivitas: definisi model metadata aktivitas yang
digunakan pada materi Pembelajaran Daring.
Konsep Pemeliharaan: deskripsi pedoman pemeliharaan secara
rutin maupun insidentil materi Pembelajaran Daring.
2.4. Pengembangan/Produksi
Selanjutnya, pada tahap keempat adalah pengembangan/
produksi, yaitu proses merealisasikan konsep atau desain Pembelajaran
Daring.
Proses produksi terdiri atas enam subproses sebagai berikut:
Realisasi Materi: produksi atau realisasi materi Pembelajaran
Daring.
Realisasi Media: produksi atau realisasi aset-aset digital yang
membangun materi Pembelajaran Daring.
Realisasi Desain: realisasi desain tampilan, sekuen, dan navigasi
Pembelajaran Daring.
Esensi Pengembangan Pembelajaran Daring
16
Realisasi Teknis: pengemasan aset digital mengacu pada konsep
agregasi dan konsep metadata dengan mengikuti standar
internasional ISO 29163.
Pemeliharaan: pemeliharaan materi Pembelajaran Daring supaya
terjaga relevansinya dan up to date.
Pengemasan Ulang: mengemas ulang sumber belajar yang belum
memenuhi standar.
2.5. Implementasi
Pada tahap ini adalah mengimplementasikan Pembelajaran
Daring.
Proses implementasi ini memiliki lima subproses sebagai berikut:
Pengujian Sumber Belajar: pengujian dan validasi paket materi
Pembelajaran Daring.
Adaptasi Sumber Belajar: deskripsi dari manajemen konfigurasi,
adaptasi dan pengaturan paket materi Pembelajaran Daring.
Aktivasi Sumber Belajar: proses ini mendeskripsikan pementasan
dan penyebaran materi Pembelajaran Daring.
Organisasi Pengoperasian & Pendistribusian: penyediaan
kebutuhan organisasional untuk pendistribusian materi dan
pengoperasian Pembelajaran Daring.
Infrastruktur Teknis: penyediaan kebutuhan teknis untuk
pendistribusian materi dan pengoperasian Pembelajaran Daring.
2.6. Proses Pembelajaran
Pada tahap yang keenam adalah proses pengoperasian
Pembelajaran Daring yang mencakup proses administrasi dan proses
pembelajaran, mulai dari perencanaan pembelajaran, pelaksanaan
pembelajaran, penilaian hasil dan proses pembelajaran, sampai dengan
pengawasan pembelajaran.
Berikut kelima subproses dari proses pengoperasian:
Administrasi: pengoperasian Pembelajaran Daring untuk
keperluan administrasi: pendaftaran pembelajaran, pendaftaran
partisipan, penjadwalan dan administrasi lainnya.
Esensi Pengembangan Pembelajaran Daring
17
Perencanaan Pembelajaran: pengoperasian Pembelajaran Daring
untuk keperluan perencanaan pembelajaran.
Pelaksanaan Pembelajaran: pengoperasian Pembelajaran Daring
untuk keperluan pelaksanaan pembelajaran.
Penilaian Hasil dan Proses Pembelajaran: pengoperasian
Pembelajaran Daring untuk keperluan penilaian hasil dan proses
pembelajaran.
Pengawasan Proses Pembelajaran: pengoperasian Pembelajaran
Daring untuk keperluan pengawasan proses pembelajaran.
2.7. Evaluasi dan Optimasi
Pada tahap yang terakhir adalah proses evaluasi dan optimasi,
yaitu proses mendeskripsikan metode, prinsip-prinsip, dan prosedur
evaluasi dalam proses pengembangan Pembelajaran Daring serta upaya
perbaikan berdasar hasil evaluasi.
Proses ini terdiri atas empat subproses sebagai berikut:
Perencanaan: penyusunan rencana evaluasi yang mencakup
tujuan, pendekatan yang digunakan, waktu, evaluator yang
dilibatkan, parameter dan kriteria serta pemilihan metode dan
instrumen evaluasi.
Realisasi: proses realisasi dari evaluasi.
Analisis: proses analisis data hasil evaluasi untuk mendapatkan
pemahaman penggunaan metode, alat, dan sumber belajar
dengan memperhatikan biaya, hasil, dan manfaat.
Optimasi/Perbaikan: mendeskripsikan proses adaptasi dan
optimasi sistem dan materi Pembelajaran Daring untuk
meningkatkan efisiensi dan efektivitasnya..
Esensi Pengembangan Pembelajaran Daring
18
Esensi Pengembangan Pembelajaran Daring
93
DAFTAR PUSTAKA
Atwi S, M. (2005). Desain Instruksional. Jakarta: PAU-PPAI Universitas
Terbuka.
Bloom, B. S. (1956). Taxonomy of educational objectives: The classification
of educational goals (Handbook I: Cognitive domain). New York.
Cisco Systems. (2001). Model of an E-learning Solution Architecture for
the Enterprise.
Clark, R. C. (2002). Designing instruction that supports cognitive learning
processes. Journal of Athletic Training, 152-159.
David McKay Company, I. C. (2003). Reusable learning object authoring
guidelines: How to build modules, lessons, and topics.
Dick, W. L. (2005). The systematic design of instruction. Boston.
Ertmer, P., & Newby, T. (1993). Behaviorism, Cognitivism,
Constructivism: Comparing Critical Features From an Instructional
Design Perspective. Performance Improvement Quarterly, 5072.
European Training Foundation. (2009). E-learning for Teacher Training:
from Design to Implementation. Luxembourg: Official Publications
of the European.
Fattah, A. H., Saleh, M., & Davidsen, P. (n.d.). Modeling E-Material Supply
Chain.
Fee, K. (2009). Delivering E-learning: A complete strategy for design,
application and assessment. London & Philadelphia: Kogan Page
Limited.
Gutiérrez, E., Ramos, J., Romero, S., & Trenas, M. A. (2007). A Learning
Management System Designed for A Basic Laboratory Course on
Computer Architecture. IADIS International Conference E-
learning, (pp. 68-74).
ISO/IEC. (2005). ISO/IEC 19796-1:2005. Information Technology -
Learning, Education, and Training - Quality Management,
Esensi Pengembangan Pembelajaran Daring
94
Assurance, and Metrics, Part 1: General Approach. Switzerland:
ISO/ IEC.
ISO/IEC. (2009). ISO/IEC 19796-3:2009. Information Technology -
Learning, Education, and Training - Quality Management,
Assurance, and Metrics, Part 3: Reference methods and metrics.
Switzerland.
Khan, B. H. (2004). The People-Process-Product Continuum in E-learning:
The E-learning P3 Model. Educational Technology, 33-40.
Khan, S. (2012). The One World Schoolhouse. New York: Twelve, Hachette
Book Group.
Lockyer, L., Bennet, S., Agostinho, S., & Harper, B. (2009). Handbook of
Research on Learning Design and Learning Objects: Issues,
Applications, and Technologies. New York: IGI Global.
Naidu, S. (2006). E-learning: A Guidebook of Principles, Procedures and
Practices. New Delhi: Aishi Creative Workshop.
Tim Kuliah Daring ITS. (2014). Laporan Pengembangan Kuliah Daring
Terbuka ITS. Surabaya: Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
Tim PDITT Dikti. (2014). Buku Panduan Pengembangan Pembelajaran
Daring Indonesia Terbuka dan Terpadu. Jakarta: Direktorat
Jenderal Pendidikan Tinggi.
Esensi Pengembangan Pembelajaran Daring
95
LAMPIRAN
Model Deskriptif Proses Pengembangan
Model deskriptif ini menunjukkan skema klasifikasi dan
dokumentasi untuk menjalankan proses mutu dalam pengembangan
Pembelajaran Daring. Setiap proses dan sub-proses dideskripsikan dengan
skema berikut:
Tabel 1. Model Deskriptif untuk Pendekatan Mutu
Atribut
Deskripsi
Contoh
ID
Penanda yang unik
ID1234
Kategori
Proses Utama
Pengembangan Mata kuliah
Nama Proses
Nama proses
Pemilihan metode
Deskripsi
Deskripsi dari proses
Pemilihan dan evaluasi metode
dan konsep dalam proses ini
Relasi
Keterkaitan dengan proses
lain
Sebelum memilih metode
harus melakukan analisis
kelompok target; AK.3
Sub-proses/
sub-aspek
Dekomposisi atau proses
yang merupakan bagian dari
proses utama
Identifikasi metode, alternatif
metode, prioritisasi metode
Objektif
Tujuan/ sasaran dari proses
Pemilihan satu atau lebih
konsep didaktik yang sesuai
Metode
Metode yang digunakan
dalam proses ini
Pemilihan metode seharusnya
berdasar hasil analisis
kelompok target.
Metode yang dipilih berdasar
pengalaman guru/ dosen.
Hasil
Hasil yang diharapkan dari
proses ini
Spesifikasi metode
Dokumen
Aktor
Aktor yang bertanggung
jawab atau berpartisipasi
dalam proses ini
Tim Desain Didaktik
Metrik/ Kriteria
Ukuran atau kriteria untuk
evaluasi proses ini
Katalog kriteria
Standar
Standar yang digunakan
ISO 9241, IEEE 1484
Learning Object Metadata
Catatan/
Contoh
Informasi lebih lengkap,
contoh penggunaannya
-
Esensi Pengembangan Pembelajaran Daring
96
Model proses dibagi ke dalam tujuh bagian dengan penandaan/ ID
sebagai berikut:
Tabel 2. Rangka kerja Acuan untuk Deskripsi Mutu
ID
Kategori
Sub-Proses
AK
Analisis Kebutuhan
AK.1 Inisiasi
AK.2 Identifikasi Stakeholder
AK.3 Definisi Sasaran
AK.4 Analisis Permintaan
AR
Analisis Rangka Kerja
AR.1 Analisis Konteks Eksternal
AR.2 Analisis Sumber Daya Staf
AR.3 Analisis Kelompok Traget
AR.4 Analisis Konteks Organisasi & Institusi
AR.5 Analisis Perencanaan Waktu & Biaya
AR.6 Analisis Lingkungan
KD
Konsepsi/ Desain
KD.1 Kurikulum
KD.2 Metode/ Konsep Didaktik
KD.3 Proses Pembelajaran
KD.4 Peran dan Aktivitas
KD.5 Konsep Organisasional
KD.6 Fungsi Sistem
KD.7 Konsep Organisasi Materi
KD.8 Konsep Komunikasi
KD.9 Desain Antarmuka dan Interaksi
KD.10 Konsep Teknis
KD.11 Konsep Pemeliharaan
KD.12 Desain Materi Pembelajaran
PP
Pengembangan/ Produksi
PP.1 Realisasi Desain
PP.2 Realisasi Teknis
PP.3 Pemeliharaan
IM
Implementasi
IM.1 Pengujian Sistem
IM.2 Adaptasi Sistem
IM.3 Organisasi Pengoperasian
IM.4 Infrastruktur Teknis
IM.5 Bimbingan Pengoperasian
OP
Proses Pembelajaran
OP.1 Administrasi
OP.2 Perencanaan Pembelajaran
OP.3 Pelaksanaan Pembelajaran
OP.4 Penilaian Hasil dan Proses Pembelajaran
OP.5 Pengawasan Proses Pembelajaran
EO
Evaluasi dan Optimasi
EO.1 Perencanaan Evaluasi
EO.2 Realisasi Evaluasi
EO.3 Analisis
EO.4 Optimasi dan Perbaikan
Esensi Pengembangan Pembelajaran Daring
97
1 Analisis Kebutuhan
ID
Kategori
Nama Proses
Deskripsi
Relasi
AK
Analisis
Kebutuhan
Identifikasi dan deskripsi kebutuhan,
permintaan, dan kendala dari proyek
pengembangan sistem Pembelajaran
Daring
Sub-proses/
Sub-aspek
AK 1. Inisiasi
AK 2. Identifikasi stakeholder
AK 3. Definisi sasaran
AK 4. Analisis permintaan
Sasaran
Untuk mendeskripsikan kebutuhan dan permintaan dalam
proyek pengembangan Pembelajaran Daring
Metode
Quality Function Deployment
Hasil
Dokumentasi tujuan, sasaran, kebutuhan dan keperluan dari
proyek pengembangan Pembelajaran Daring
Aktor
Manajer proyek, spesialis, peserta didik, sponsor
Metrik/
Kriteria
Beberapa indikator
Standar
ISO 9000:2000
Catatan/
Contoh
1.1 Inisiasi
ID
Kategori
Nama Proses
Deskripsi
Relasi
AK.1
Analisis
Kebutuhan
Inisiasi
Inisiasi proyek pengembangan
Pembelajaran Daring; deskripsi
kebutuhan atau permintaan
untuk pembelajaran/ pelatihan
AR.4
Sub-proses/ Sub-
aspek
Identifikasi permintaan dan keperluan
Identifikasi kebutuhan
Sasaran
Deskripsi dan indikasi dari maksud dan tujuan proyek
Kebutuhan untuk pembelajaran
Kebutuhan untuk berbagi materi Pembelajaran Daring
Esensi Pengembangan Pembelajaran Daring
98
ID
Kategori
Nama Proses
Deskripsi
Relasi
Metode
Metode riset pemasaran dan analisis pasar, analisis
tren, analisis kebutuhan, analisis SWOT, wawancara,
analisis kesenjangan keterampilan (skill)
Asesmen, analisis tempat kerja, audit
Hasil
Definisi dan dokumentasi kebutuhan, keperluan, dan
permintaan (untuk pembelajaran/ pelatihan)
Aktor
Pengguna akhir (peserta didik, pengajar, kontributor
materi, tutor)
Manajer edukasi dan pelatihan
Pakar edukasi dan pelatihan
Metrik/ Kriteria
Tinjauan validitas deskripsi
Kesesuaian kebutuhan/permintaan dengan standar
pendidikan/ pelatihan
Standar
ISO 900x:2000, ANSI/ PMI 99-001-2000 5.1 Initiation
Catatan/ Contoh
1.2 Identifikasi Stakeholder
ID
Kategori
Nama Proses
Deskripsi
Relasi
AK.2
Analisis
Kebutuhan
Identifikasi
Stakeholder
Identifikasi, deskripsi, dan
evaluasi kelompok stakeholder
Sub-proses/ Sub-
aspek
Identifikasi aktor
Identifikasi pihak-pihak yang tertarik
Identifikasi pengguna
Sasaran
Untuk mendapatkan deskripsi dari semua stakeholder
yang berpotensi
Untuk mengetahui pengaruh dan kerja sama
stakeholder dalam proyek
Untuk mengetahui seberapa penting stakeholder
untuk proyek
Untuk mengetahui kepentingan stakeholder pada
proyek
Untuk mengetahui penerimaan dan daya guna produk
akhir proyek oleh pengguna
Metode
Analisis literatur, workshop
Regulasi pemeriksaan, rencana bisnis
Wawancara
Esensi Pengembangan Pembelajaran Daring
131
ID
Kategori
Nama Proses
Deskripsi
Relasi
rekomendasi, dari EO.3)
Sasaran
Meningkatkan dan mempertahankan efisiensi dan
efektifitas proses dan produk berdasarkan pengalaman
dan rekomendasi
Metode
Hasil
Dokumentasi dan justifikasi dari metrik untuk tindakan
perbaikan yang akan dijalankan, meliputi:
Pemeliharaan/ peningkatan efisiensi dan efektivitas
produk dan proses (tindakan yang rutin dilakukan,
lihat PP.3)
Adaptasi terhadap perubahan kondisi/ keadaan/
lingkungan (berdasarkan justifikasi metrik preventif)
Implementasi dari rekomendasi berdasarkan evaluasi
(berdasarkan justifikasi metrik korektif)
Aktor
Manajer Proyek
Tim evaluator
Pendidik
Desainer
Programmer
Metrik/ Kriteria
Standar
Catatan/ Contoh
Kelompok kerja mendiskusikan tentang perbedaan
dari dua proses: metrik preventif dan korektif;
keduanya akan berbeda dalam hal input dan metode
Mempertimbangkan kedaan/ lingkungan, seperti
organisasi, staf, sumber daya (teknis), dll.
Hasil dari aktivitas evaluasi berguna sebagai input
untuk perbaikan dalam perencanaan dan
implementasi pada projek selanjutnya
... The practicum process cannot run online, and (6) difficult scoring because it cannot observe students directly. Although it is said by (Bilfaqih & M.N, 2015) online learning is able to provide attractive and effective services, in its implementation it has its own challenges. Some obstacles will certainly be found in the online learning process, so that students generally have to find their own solutions to the obstacles they face. ...
Article
Full-text available
Online learning that is carried out simultaneously affects the world of education. The extrinsic and intrinsic factors of the teacher's personality become one of the problem factors in the learning process. These factors also affect the performance of teachers during the online learning process. This study aims to see the correlation between various extrinsic factors of teachers and teacher performance in online learning. This research activity was carried out from June 2020 to March 2021. The objects in this study were the teachers who teach at SMA N 1 Krueng Baroena Jaya and SMP Abulyatama. Various kinds of problems occur during the online learning process. Extrinsic factors that have a very high correlation value are found in the teacher and student categories. The correlation that shows a positive relationship to teacher problems that affect teacher performance during the online learning process is on the factors of age, income, and employment status.
... Pada tahun 2012,MIT dan Harvard University meluncurkan edX (edX.org) (Bilfaqih & Qomarudin, 2015)." Sekarang ini masyarakat dunia sedang dihebohkan dengan adanya pandemi covid-19. ...
Article
Full-text available
Penelitian ini ingin melihat bagaimana manajemen pembelajaran di masa pandemic covid 19. Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Penelitian ini dilaksanakan dalam kurun waktu tiga bulan dari bulan juli sampai September 2021. Sumber data diperoleh dari data primer yaitu kepala sekolah, guru kelas, siswa dan orang tua siswa. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian 1) Pelaksanaan manajemen pembelajaran daring sudah berjalan sesuai dengan aturan; 2) Kendala yang dihadapi dalam pembelajaran daring diantaranya jaringan internet yang tidak stabil, pembelajaran kurang interaktif, siswa merasa bosan karena tidak ada teman serta orang tua yang tidak dapat menemani selama pembelajaran; 3) Upaya untuk mengatasi kendala pembelajaran daring yakni pembelajaran daring menggunakan pendekatan asinkronus. Siswa yang terkendala sinyal dapat bertanya ataupun mengajukan pendapat kapan saja.
... Pembelajaran jarak online juga dibutuhkan handphone atau telepon genggam, komputer, laptop, atau tablet yang dapat dimanfaatkan dalam mencari informasi atau materi pelajaran (Gikas & Grant, 2013). Sehingga kemurnian pembelajaran dapat dilaksanakan meskipun dengan orang yang banyak, baik secara gratis maupun berbayar (Bilfaqih & Qomarudin, 2015) Dengan pembelajaran online, diharapkan pebelajar dapat merasa https://journal.stitaf.ac.id/index.php/ibtida puas dalam belajar karena berbagai materi yang disampaikan oleh pengajar terorganisir dengan baik dan efektif. ...
Article
This study aims to determine the differences in the learning outcomes of the application of concepts to students who learn to use online strategies with face-to-face learning strategies, as well as to test whether there is a difference in the average learning outcomes of the application of concepts to students who have different learning styles and to test whether there is an interaction between learning strategies and learning outcomes. learning styles on the learning outcomes of student concept applications. This study used a quasi-experimental research design. 2x2 factorial design The variables of this study are the independent variables are online learning strategies and face-to-face learning, the control variables are learning styles and the dependent variable is the learning outcomes of concept application. This research instrument is a question of pretest and posttest which was developed in accordance with the research objectives of the lectures listed in the RPS. The hypothesis testing of this research uses 2-way Analysis of Variance (ANOVA) to test the hypothesis, in the form of the Univariate Test of Between-Subject Effects. The results of this study indicate (1) there are significant differences, including learning outcomes of student concept applications using online learning strategies with face-to-face learning strategies. The use of online learning strategies is significantly superior to face-to-face learning strategies., (2) there is a significant difference in the acquisition of concept application learning outcomes between students who have an active learning style and a reflective learning style, significantly students who have an active learning style are more superior in learning outcomes of concept applications compared to students who have reflective learning styles. (3) there is an interaction between online learning, learning strategies and learning styles on concept application learning outcomes. the influence between the interaction, the independent variable and the moderator variable on the dependent variable, both for the learning outcomes of the application of the concept.
Article
The aim of this research was to analysis of learning English difficult on writing narrative skills using online media of SMA Negeri 4 Binjai in academic year 2021/2022 during Covid – 19 period. The sample of this research was 74 students were chosen as the sample randomly. The method of this research was qualitative research. This research used observation, interview, questionnaire and documentation as technique of collecting data. The data collected by using questionnaire from Google Form that share from WhatsApp group and interviewed 5 students with the same questions about learning English difficulty using online media and the material about writing narrative text. The analysis data of the research using percentative formulation. The result of research at SMA Negeri 4 Binjai are the importance for teacher to evaluated learning method both offline or online so the students can understand the learning material well in accordance with the expectations of each individual.
Article
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika sosial pembelajaran di Masa Pandemi SDN 248 Kampung Baru Kelurahan Bajo Kabupaten Luwu. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Penelitian ini berusaha memecahkan masalah dengan menggambarkan problematika yang terjadi. Hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa peneliti ingin memahami, mengkaji secara mendalam serta memaparkan mengenai dinamika sosial dalam pembelajaran IPS di masa pandemi peserta didik SDN 248 Kampung Baru dengan memfokuskan data dengan mengacu pada pengungkapan tentang apa yang dikatakan narasumber kemudian dikumpulkan dalam kata-kata gambaran dan bukan dalam bentuk angka. Dinamika sosial dalam pembelajaran daring peserta didik di SDN 248 Kampung Baru, fenomena-fenomena yang terjadi dalam penelitian yaitu: tidak adanya kesiapan para guru dan peserta didik dalam melaksanakan pembelajaran daring, setiap guru tetap ke sekolah melaksanakan pembelajaran daring di sekolah, proses pembelajaran di mulai pukul 08.00-12.00 dan untuk batas pengiriman tugas pukul 15.00.
Article
Full-text available
The COVID-19 pandemic has resulted in a shift in the learning system from face-to-face to online as an effort by the government to prevent the spread of COVID-19 in various regions in Indonesia. This study aims to determine student perceptions of learning media during the COVID-19 pandemic, which media is the most effective at IAIN Metro. This study uses the method of observation and distributing questionnaires online using Google Form. For data processing, quantitative descriptive analysis was carried out to strengthen the results of this study. This research was conducted on active IAIN Metro students with a sample of 125 students who carried out online learning during the pandemic. The results of the study showed that online lectures during the COVID-19 pandemic at IAIN Metro went well despite the obstacles faced by students. The use of IAIN Metro’s Learning Management System (LMS) learning media is still the most frequently used and effective compared to other media used at IAIN Metro. However, students still hope that face-to-face lectures can be carried out directly or mixed (blended learning). Keywords: student perception, COVID-19 pandemic, online learning
Article
Full-text available
Before the pandemic, teaching and learning activities were carried out offline with the guidance of teachers. However, after the Covid-19 pandemic, all teaching and learning activities and extracurricular activities were carried out online. In implementing online learning activities, Pedungan State Elementary School 11 can carry out online learning activities successfully, so it is necessary to study what factors influence the success of online teaching. This research was conducted to find out what factors influence the success of online teaching during the New Normal period at 11 Pedungan State Elementary School. This study uses a qualitative method where this study contains a description of the factors that influence the success of online teaching in the new normal period at 11 Pedungan State Elementary School. Informants in this study were principals, teachers, and parents of students using incidental techniques. The factors that influence the success of online teaching during the new normal period at the 11 Pedungan State Elementary School are as follows: (1) Teacher readiness. Teachers are very ready and have the ability to use information technology. (2) School Readiness. The school has well facilitated this online teaching and learning activity. Such as the internet, computers, laptops, cellphones, special IT rooms. (3) Student Readiness. The students have followed the online learning activities well. according to the schedule determined by the teachers. (4) Readiness of Parents of Students. Parents of students have provided guidance and supervision to their sons and daughters so that online learning can run well.
Article
Full-text available
p>Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui hubungan ketersediaan jaringan wifi terhadap efisiensi kuliah mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Gorontalo. (2) untuk mengetahui hubungan media pembelajaran online berbasis android terhadap efisiensi kuliah mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Gorontalo. (3) untuk mengetahui hubungan secara bersama-sama ketersediaan jaringan wifi dan media pembelajaran online berbasis android terhadap efisiensi kuliah mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Gorontalo. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif, dengan jumlah populasi 155 orang mahasiswa Fakultas Ekonomi angkatan 2019, dengan teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling sehingga sampel yang diambil berjumlah 38 orang mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1) ketersediaan jaringan terhadap efisiensi kuliah mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Gorontalo sebesar 0,045 atau 4,5%, sedangkan sisanya 95,5%. 2) media pembelajaran online terhadap efisiensi kuliah mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Gorontalo 0,587 atau sebesar 58,7%, sedangkan sisanya 41,3%. 3) ketersediaan jaringan dan media pembelajaran online terhadap efisiensi kuliah mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Gorontalo sebesar 0,597 atau 59,7%, sisanya 40,3%.</p
Article
Pembelajaran daring merupakan pembelajaran jarak jauh yang memanfaatkan media internet untuk berinteraksi dan berkomunikasi antara pendidik dan peserta didik atas kebijakan dari pemerintah akibat Pandemi Covid-19. Tujuan dari penyusunan artikel ini adalah untuk mengetahui seberapa efektif pembelajaran daring yang dilaksanakan yang telah menimbulkan banyak dilema dan untuk mengetahui pandangan serta persepsi dari peserta didik terkait pembelajaran daring apakah menjadi beban atau batu loncatan yang akan membawa perubahan bagi dunia pendidikan. Artikel ini menggunakan pendekatan fenomenologi dan jenis penelitian studi kasus. Pengamatan dilakukan di MA Al-Mukarrom kepada 22 responden baik laki-laki maupun perempuan dari seluruh kelas. Hasil penelitian menyatakan bahwa pembelajaran daring dirasakan masih menjadi beban peserta didik karena belum optimalnya prosedur dan proses dari alur pelaksanaan pembelajaran daring.
Article
Full-text available
Analisis kebutuhan ini bertujuan untuk mengetahui kebutuhan bahan ajar untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis peserta didik di SMA Negeri Palembang. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik Purposive Sampling yaitu pengambilan data dari ketiga SMA Negeri Palembang. Penyebaran sampel pada ketiga SMA menggunakan kelas XI IPA 1 dan XI IPA 2 SMA Negeri 4 Palembang berjumlah 68 Peserta didik, SMA Negeri 9 Palembang berjumlah 72 Peserta didik, dan SMA Negeri 19 Palembang berjumlah 80 Peserta didik. Instrument yang digunakan berupa lembar angket, observasi dan dokumentasi. Hasil analisis kebutuhan dari ketiga SMA Negeri Palembang bahwa harapan guru dan peserta didik dibuatkan bahan ajar E-Book 6%, E-Modul 24%, E-LKPd 37%, Media 3 dimensi 9%, dan Video Pembelajaran 24% sehingga yang paling tinggi harapan dibuatkan E-LKPd berbasis model pembelajaran Problem Based Learning untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis peserta didik pada materi bakteri.
Conference Paper
Full-text available
This paper looks at the issue of E-Learning provision from a supply chain perspective. It tries to apply some of the commonly used supply chain practices like Inventory Management, Cost reduction and Demand Forecasting to the content assets created by e- learning organizations. In this context the study presents a system dynamics framework to model the Information Technology Institute (ITI) e-material supply chain as a case study of digital product supply chain. This e-material supply chain serves a foundation of providing e-learning programs. The aim of this study is to understand the dynamic structure of this e-material supply chain and hence suggest and evaluate possible policies to enhance its current performance. The first section is an overview of the e-material supply chain. The second defines the problem with the ITI e-material supply chain. The third section is for literature review. The fourth describes the model and the fifth discuss the model behavior. A list of suggested policies is evaluated to increase the e-material supply chain performance and decrease the associated costs in the sixth section. In the last section we conclude.
Article
Full-text available
The way we define learning and what we believe about the way learning occurs has important implications for situations in which we want to facilitate changes in what people know and/ or do. Learning theories provide instructional designers with verified instructional strategies and techniques for facilitating learning as well as a foundation for intelligent strategy selection. Yet many designers are operating under the constraints of a limited theoretical background. This paper is an attempt to familiarize designers with three relevant positions on learning (behavioral, cognitive, and constructivist) which provide structured foundations for planning and conducting instructional design activities. Each learning perspective is discussed in terms of its specific interpretation of the learning process and the resulting implications for instructional designers and educational practitioners. The information presented here provides the reader with a comparison of these three different viewpoints and illustrates how these differences might be translated into practical applications in instructional situations.
Article
OBJECTIVE: To provide an overview of current cognitive learning processes, including a summary of research that supports the use of specific instructional methods to foster those processes. We have developed examples in athletic training education to help illustrate these methods where appropriate. DATA SOURCES: Sources used to compile this information included knowledge base and oral and didactic presentations. DATA SYNTHESIS: Research in educational psychology within the past 15 years has provided many principles for designing instruction that mediates the cognitive processes of learning. These include attention, management of cognitive load, rehearsal in working memory, and retrieval of new knowledge from long-term memory. By organizing instruction in the context of tasks performed by athletic trainers, transfer of learning and learner motivation are enhanced. CONCLUSIONS/RECOMMENDATIONS: Scientific evidence supports instructional methods that can be incorporated into lesson design and improve learning by managing cognitive load in working memory, stimulating encoding into long-term memory, and supporting transfer of learning.
Desain Instruksional
  • S Atwi
Atwi S, M. (2005). Desain Instruksional. Jakarta: PAU-PPAI Universitas Terbuka.
Model of an E-learning Solution Architecture for the Enterprise
  • Cisco Systems
Cisco Systems. (2001). Model of an E-learning Solution Architecture for the Enterprise.
Reusable learning object authoring guidelines: How to build modules, lessons, and topics
  • David Mckay Company
David McKay Company, I. C. (2003). Reusable learning object authoring guidelines: How to build modules, lessons, and topics.
The systematic design of instruction
  • W L Dick
Dick, W. L. (2005). The systematic design of instruction. Boston.