ArticlePDF Available

Abstract

The awareness of God departed from religion which becomes introverted understanding in one’s experience. Appreciation of God should not be limited to the value of formalities by simply doing spirituality teaching, but also the embodiment of spiritual experience of God. The constellation of religious values is not just about understanding and appreciation but also achieve esoteric experience, so as to reveal its meaning for deeper appreciation, recognition and encounter with Him. Esoteric aspect of religion has become an important goal in the appreciation of spiritual experience ascent and acquisition with cleaning bonds which related to plurality and turned it from horizontal dimension senses to the vertical dimension of the universe to reach the consciousness of mortality. If God wills, there will be an incline in spiritual sensing sharpness until one can see, watch, or feel the real evidence from God about the things that are obviously high, so that the faith based on mukâshafah, ma‘rifah, and mushâhadah namely faith through spiritual vision to arrive at the essence.
Teosofi: Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam
Volume 5, Nomor 1, Juni 2015; ISSN 2088-7957; 26-49
Abdul Kadir
Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, Indonesia
E-mail: kadirqi@yahoo.co.id
Abstract: The awareness of God departed from religion
which becomes introverted understanding in one’s experience.
Appreciation of God should not be limited to the value of
formalities by simply doing spirituality teaching, but also the
embodiment of spiritual experience of God. The constellation
of religious values is not just about understanding and
appreciation but also achieve esoteric experience, so as to
reveal its meaning for deeper appreciation, recognition and
encounter with Him. Esoteric aspect of religion has become
an important goal in the appreciation of spiritual experience
ascent and acquisition with cleaning bonds which related to
plurality and turned it from horizontal dimension senses to
the vertical dimension of the universe to reach the
consciousness of mortality. If God wills, there will be an
incline in spiritual sensing sharpness until one can see, watch,
or feel the real evidence from God about the things that are
obviously high, so that the faith based on mukâshafah, ma‘rifah,
and mushâhadah namely faith through spiritual vision to arrive
at the essence.
Keywords: Appreciation; faith; values of divinity.
Pendahuluan
Menghidupkan dimensi spiritual (ruhani) dan keilahian
merupakan suatu keniscayaan agar kemampuan pandangan dan
penglihatan seseorang terhadap segala sesuatu melalui esensinya terus
meningkat, sehingga ia bisa berada pada tataran yang dapat mengerti
hakikat dirinya dan sesuatu yang berhubungan dengan dirinya. Ada
kewajiban moral bagi setiap orang untuk mengembangkan diri sendiri
dengan penuh keterbukaan terhadap semua pengetahuan dan
pengalaman demi tumbuhnya sikap, pemahaman, dan perilakunya
TeosofiVolume 5, Nomor 1, Juni 2015
3
27
dalam menentukan semua kondisi yang berhubungan dengan Tuhan,
ketuhanan, manusia, kemanusiaan, dan kemasyarakatan.
Harus disadari pula bahwa kehidupan, kebudayaan, dan
peradaban manusia sebagian besar merupakan dunia yang terstruktur
dan tersegmentasi dalam suatu jaringan kehidupan yang setiap orang
hanya berada pada suatu sektor yang terbatas kemungkinan geraknya,
tetapi hal itu penuh makna apabila dihayati secara mendalam dan
dihubungkan dengan Tuhan, sehingga membawa akibat meningkatkan
moralitas, pengetahuan, dan pengalaman hidup yang esensial. Setiap
orang perlu mendalami penghayatan terhadap Tuhan melalui
pengalaman spiritualnya sebagai sesuatu hasil kerja dari berbagai
kemampuan aspek fisik, psikis, dan spiritualnya. Oleh karena itu, ia
akan terhindar dari sistem yang menyebabkan ia kurang memahami
fungsi dan peranannya dalam suatu totalitas kehidupan. Aspek-aspek
fisik, psikis, dan spiritual itu merupakan bagian dari struktur
kepribadian yang dapat digunakan oleh manusia dalam mengapresiasi
Tuhan dan nilai-nilai ketuhanan supaya ia dapat memperoleh
pengetahuan dan pengalaman dari dalam dan luar dirinya.
Seyogyanya setiap orang dapat mengakses semua pandangan
yang berhubungan dengan aspek-aspek kepribadiannya tersebut, sesuai
dengan kapasitasnya masing-masing, dengan berusaha mengoptimalkan
semua potensi yang terkandung dalam dirinya; serta membuka diri
terhadap alam infrahuman dan suprahuman karena ia adalah ukuran dari
segala-galanya (mikrokosmos) dan sebagai titik pangkal, pusat pemikiran,
dan pewahyuan.
Apresiasi manusia terhadap Tuhan dan nilai ketuhanan merujuk
pada pengenalan pada-Nya supaya sikap, pengetahuan, dan
perbuatannya dituntun oleh-Nya. Untuk itu seseorang seharusnya
mencari akses menuju Tuhannya agar dapat menunjukkan citra dirinya
sebagai manusia hamba Tuhan yang baik. Ketika dimensi spiritual dan
apresiasi terhadap Tuhan tidak mendapatkan tempat dalam
kehidupannya maka prilaku dan sikapnya terpinggirkan dari nilai-nilai
esensial. Bila hal demikian berkelanjutan maka keterikatan, ketertarikan,
dan apresiasi terhadap Tuhan tergeser bahkan menghilang; akibatnya
krisis manusia dan kemanusiaan akan terjadi.
Kekeringan kesadaran dan pengalaman spiritual akan terjadi
karena seseorang terlalu formalis-rasionalis. Ketiadaan pengembangan
Abdul KadirApresiasi Keimanan
28
kemampuan spiritual akan berakibat pada kejatuhan moralitas yang
tidak bisa dibina dengan formalitas dan rasionalitas semata. Hal ini
dapat direduksi dengan pengalaman spiritual yang mempunyai
dukungan positif terhadap mendalamnya keimanan, moralitas,
kesanggupan untuk menghidupkan rasa keagamaan, mendorong
ketekunan beribadah, mempertinggi kesadaran dan pengalaman agama.
Hal itu karena semua sikap dan tindakan seseorang diorientasikan
hanya kepada Tuhan dengan melakukan sejenis olah dan latihan batin
serta praktik asketik untuk selalu ingat dan dekat dengan-Nya.
Agama dan nilai-nilai ketuhanan adalah kehidupan yang dihayati
dan cara hidup yang bermakna; dan ritualitas agama sebagai sarana
berkomunikasi dengan-Nya. Dengan penghayatan yang intensif
terhadap Tuhan dan nilai ketuhanan akan diperoleh pengalaman
spiritual yang memuat nilai tertinggi keberagamaan. Tanpa nilai
ketuhanan maka agama terjerumus ke dalam ritualitas yang layu serta
tumbuh dalam moralitas yang kering. Dari hal semacam ini keimanan
tidak dapat diharapkan bermanfaat bagi kehidupan material maupun
spiritual.
Tuhan dalam Keimanan
Gagasan tentang Tuhan telah menimbulkan spekulasi filosofis
dalam rentang waktu yang panjang; sepanjang sejarah pemikiran
manusia itu sendiri. Di satu pihak orang beranggapan bahwa wujud
Tuhan dalam kemutlakannya tidak bisa dikenali oleh siapapun, tidak
bisa dipikirkan oleh nalar, tidak bisa dibayangkan oleh khayal, tidak bisa
ditangkap oleh indra, dan tidak dapat dianalogikan dengan siapapun
dan apapun karena yang selain-Nya berbeda dengan-Nya, sehingga
tidak ada yang mengenal Tuhan kecuali diri-Nya sendiri. Tuhan berada
di atas jangkauan pengertian, pengetahuan, dan intuisi seseorang.
Ketinggian, kemutlakan, dan keesaan-Nya bukan sekadar sebuah
definisi numerik, melainkan mengandung makna bahwa wujud tunggal-
Nya yang mandiri hanya disaksikan oleh diri-Nya sendiri. Pengetahuan
dan pengenalan terhadap Tuhan hanya melalui identitas diri-Nya yang
tidak bisa dikenal. Pengetahuan-Nya tentang diri-Nya, sebagai sebab
pengetahuan-Nya tentang alam semesta, adalah mutlak, satu, dan sama.
Pihak lain beranggapan bahwa Tuhan dapat dikenal melalui
atribut-atribut yang disandang-Nya. Walaupun wujud mutlak itu dalam
TeosofiVolume 5, Nomor 1, Juni 2015
3
29
keabadiannya tetap berbeda, tetapi Dia mengungkap dan
memanifestasikan diri-Nya sendiri. Pengetahuan tentang diri-Nya oleh
diri-Nya memanifestasikan wujud yang diciptakan, sehingga pada
dasarnya semua wujud berasal dari-Nya. Wujud yang lain bersumber
pada Yang Esa yang hanya dapat dilihat dari kesatuannya dan bukan
dari keragamannya dan oleh karenanya eksistensi alam semesta adalah
efek pengetahuan-Nya.
Tuhan sebagai realitas sederhana dikenal melalui kebesaran-Nya
yang memanifestasikan diri sebagai sumber wujud. Manifestasi diri-Nya
pada wujud yang lain memungkinkannya bisa dibayangkan oleh akal
pikiran. Sifat dan dzat-Nya sesuai dengan kekekalan-Nya tanpa
memerlukan individualitas-Nya mewujudkan diri-Nya melalui cahaya-
Nya dalam bentuk objek fenomena. Hal ini merupakan entitas
cerminan pengungkapan pengetahuan-Nya yang dikaitkan dengan
fenomena penciptaan.
Pada dasarnya pengenalan kepada Tuhan sama sekali melampaui
kemampuan kognitif manusia dan manusia hanya mampu membentuk
gagasan-gagasan yang amat kabur dan tidak sempurna. Gagasan-
gagasan itu pula yang ditampilkan sebagai konsep bahwa Tuhan itu
adalah Wâjib al-Wujûd (wajib ada), yaitu keberadaan-Nya menjadi
keharusan dan ketiadaan-Nya menimbulkan kemustahilan dalam
pkikiran. Hanya pada Wâjib al-Wujûd esensi dan eksistensi satu,
sedangkan pada yang lain kesatuan esensi dan eksistensi adalah aksiden
yang ditambahkan pada esensi. Kesatuan esensi dan eksistensi ini
sebagai sumber dan asal segala wujud. Hanya pikiran yang bisa
membedakan antara esensi dan eksistensi dan dalam realitasnya adalah
satu dan sama.
Tuhan tidak memerlukan identitas dan realitas yang
bisa didefinisikan. Kepastian ada-Nya disebabkan oleh Dzat-Nya
sendiri; yang pasti ada oleh dzat-Nya sendiri jika dipikirkan akan
terkena hukum kemustahilan atau yang pasti ada karena dzat-Nya
sendiri mustahil tidak ada.
Rasionalisasi sebagaimana tersebut di atas justeru ingin
mendekatkan dan memastikan bahwa Tuhan sebagai asal dan sumber
Mir Valiudin, Tasawuf dalam Qur ân, terj. Pustaka Firdaus (Jakarta: Pustaka Firdaus,
1993), 58.
Abdul KadirApresiasi Keimanan
30
segala sesuatu yang lain-Nya,
dan secara bersamaan menandakan
ketidakpastian proses penciptaan yang lain-Nya bukan sebagai
manifestasi dari-Nya. Suatu konsep ketuhanan yang dielaborasi dari
sebuah pengertian dan pemahaman rasional menjadi dasar keimanan
seseorang sebelum ia menemukan dasar keimanan yang lebih valid.
Keimanan dan kepercayaan kepada Tuhan menjadi objek kepedulian
dari orang yang mempercayai dan mengimani-Nya. Analisis singkat
terhadap keimanan dapat dimulai dari keberagamaan seseorang.
Asumsi dasar dari semua aktivitas dan sikap yang lahir dari seseorang
dapat disebut sebagai perilaku dan sikap keberagamaan bilamana
didasarkan pada keimanan. Hal ini dikarenakan keimanan menjadi
indikator penting bagi keberagamaan seseorang.
Keimanan sering disebut dengan pengakuan atau al-iqrâr bi al-lisân
(pengakuan secara lisan), disertai tas
}
dîq bi al-qalb (pembenaran dalam
hati) tentang adanya Allah, sehingga mendatangkan keyakinan yang
diimplementasikan dalam bentuk af‘âl bi al-arkân (dilakukan melalui
perbuatan). Oleh karena itu, iman bukan hanya pengetahuan dan sikap,
tetapi terdapat unsur kehendak untuk mengamalkan dan melaksanakan
suatu tindakan dalam perilaku sehari-hari yang berhubungan dengan
objek keimanan itu.
Keimanan pada tingkat ikrar mengantarkan seseorang pada
pengakuan berdasarkan bukti-bukti empirik maupun rasional.
Ketidakstabilan dan ketidakabadian wujud alam semesta dapat
menyadarkan seseorang bahwa alam ini, berikut manifestasinya, adalah
cermin yang merefleksikan adanya suatu “Kebenaran Abadi”.
Pengakuan keimanan karena bukti-bukti seperti ini merupakan
indikator bagi wujud-Nya. Hal semacam ini mengantarkan seseorang
kepada pengetahuan kognitif dan penghayatan afektif terhadap sesuatu
yang dideskripsikan atau didefinisikan. Bukti empiris yang diamati oleh
pengindraan maupun dipersepsi oleh penalaran logis adalah alas
penopang bagi bangunan argumentasi rasional bahwa ada sesuatu yang
perlu dan harus diketahui menurut bukti awal yang menunjukkannya.
Seyyed Hossein Nasr, An Introduction to Islamic Ontological Doctrines (New York: State
University, 1993), 18.
Murtad}â Mut}ahharî dan SMH al-T}abât}aba’î, Menapak Jalan Spiritual, terj. Nasrullah
(Bandung: Hidayat, 1995), 15; bandingkan Muhammad Ghallab, Inilah Hakikat Islam,
terj. B. Hamdani (Jakarta: Bulan Bintang, 1963), 7.
TeosofiVolume 5, Nomor 1, Juni 2015
3
31
Dalam konteks ini, seseorang mengetahui dan mengerti bahwa
menurut keniscayaan logis seharusnya ada sesuatu yang diimani.
Keimanan yang didasarkan pada bukti empirik maupun rasional
dipranggapkan bahwa bukti itu sebagai tanda adanya sesuatu, sehingga
tidak bisa dipungkiri oleh pengamatan indra manapun maupun persepsi
penalaran siapapun. Walaupun tanda itu dapat memberikan bukti awal,
namun perhatian seseorang seharusnya tidak tertuju pada tanda atau
buktinya, tetapi pada sesuatu yang ada di balik bukti atau tanda itu
karena bukti atau tanda yang didapat bukanlah substansi yang harus
dipercayai atau diimani. Orang yang terpukau melihat tanda atau bukti
kebakaran tentunya tidak harus terbakar, atau orang yang melihat
lampu merah sebagai tanda bahaya bukan berarti lampu itu berbahaya.
Tetapi bukti atau tanda yang berkorespondensi dengan pengalaman
empirik dan pengetahuan rasional berfungsi sebagai petunjuk awal
tentang adanya Tuhan. Keyakinan akan kebenaran pengalaman dan
pengetahuan melalui bukti empirik dan rasional termasuk penting
walaupun tidak substansial karena hal itu dapat mengantarkan
seseorang kepada pemahaman; dan pemahaman mengantarkan kepada
pembentukan konsep; dan konsep dapat menjadi arah semua kegiatan
pencarian tentang Tuhan.
Orang yang melihat alam sebagai tanda eksistensi Tuhan belum
berarti ia telah mengenal-Nya. Walaupun alam ini adalah manifestasi
diri Tuhan dan sebagai tanda eksistensi-Nya, tetapi alam itu bukanlah
diri-Nya; dan yang harus menjadi perhatian adalah yang ada di balik
tanda itu. Bukti empirik, argumen rasional, maupun berita yang benar
adalah wacana untuk memperbincangkan tentang suatu kepercayaan
atau keimanan. Seseorang tidak harus berhenti terhadap kepercayaan
yang dibangun dalam wacana yang valid karena orang yang
menyampaikannya dapat dipercaya. Wacana yang benar itu pun tidak
sama dengan subtansinya ataupun objek yang diwacanakan.
Orang yang mendengar sebuah wacana tidak berarti ia telah
mengenal dan menyaksikan objeknya secara subtantif. Akan tetapi,
sebagian orang merasa cukup jika keimanannya sesuai dengan wacana
atau berita yang diterima karena ia beranggapaan bahwa sesuatu yang
diimani sama pentingnya dengan wacana atau berita keimanan itu
sendiri. Kebenaran suatu wacana atau berita dianggapnya sama baiknya
dan sama kuatnya dengan realitas yang diwacanakan atau diberitakan,
Abdul KadirApresiasi Keimanan
32
dan tidak sampainya wacana atau berita tentang keimanan kepadanya
dianggap tidak sampainya keimanan itu kepada realitas yang diimani.
Keimanan tidak dapat dikatakan sebagai pengetahuan semata,
hanya menjadi penjelas teoretik, sekadar wacana pendeskripsian, dan
atau pendefinisian sesuatu yang diimani dengan berbagai demonstrasi
dan argumentasi supaya menjadi logis. Akan tetapi, keimanan
mempunyai dasar yang lebih dalam untuk mengungkap pengalaman
yang lebih hakiki tentang Realitas Tunggal. Pemahaman, kesadaran, dan
penghayatan terhadap ajaran agama secara formal semata tidak akan
banyak membuahkan hasil yang bisa mengantarkan seseorang pada
keimanan yang hakiki. Namun, hal tersebut memerlukan penghayatan
yang lebih dalam dengan menyaksikan objek yang diimani. Bukan
sekadar kewajaran jika seseorang harus menghayati atau mengalami
sendiri pesan perskriptif ayat-ayat suci al-Qurân yang berbicara tentang
keimanan, tetapi sudah menjadi keharusan baginya untuk menangkap
dan mengungkap pesan itu lebih mendalam sesuai dengan makna
hakikinya.
Walaupun seseorang telah mendapatkan penjelasan yang
utuh dan komprehensif tentang agama dan Tuhan, tidak seharusnya ia
berhenti pada suatu terminal keimanan sebelum ia mencapai
pengenalan dan penyaksian terhadap yang diimaninya. Ia harus tetap
mengelaborasi penglihatan fisik dan penalaran rasionalnya sebagai
pijakan untuk pengenalan terhadap yang menciptakannya. Maka
menjadi hal logis apabila sebagian orang, terutama mereka yang
mempunyai cita rasa keagamaan yang lebih dalam, kurang dapat
menikmati keimanan yang hanya bersifat deskriptif dan argumentatif,
melainkan harus berdasarkan pengalaman yang ditunjukkan oleh Dzat
Dalam beberapa wacana, keimanan seseorang dapat diidentifikasikan ke dalam 1).
Iman yang disampaikan secara lisan dan berupa ucapan tanpa diikuti dengan
keyakinan adalah imannya orang munafik, yaitu suatu keimanan yang tidak
mempunyai konsistensi antara apa yang diucapkan dengan apa yang dirasakan
(diyakini); 2). Imannya orang awam, yaitu dengan taqlîd (mengikuti dengan tanpa
dasar yang kuat), seperti kepercayaan adanya seseorang di dalam rumah tanpa harus
melihatnya; 3). Imannya mutakallimûn, yaitu yang ditampilkan dengan kekuatan
argumentatif; 4). Imannya orang mukmin awam, yaitu iman yang tergambar dalam
ucapan dan keyakinan dan keduanya merupakan suatu konsistensi yang ajeg antara
luar dan dalam; dan 5). Imannya orang yang didasarkan pada pengalaman mushâhadah,
yaitu menyaksikan dengan cahaya keyakinan. Lihat Abû H}amîd Muh}ammad b.
Muh}ammad al-Ghazâlî, Ih
}
yâ’ Ulûm al-Dîn, Vol. 3 (Beirut: Dâr al-Fikr, 1980), 34.
TeosofiVolume 5, Nomor 1, Juni 2015
3
33
yang diimani dalam kesadaran pengalaman batin. Pencarian serta
pembuktian secara spiritual tersebut dapat memperkuat wacana dan
berita-berita yang pernah diterimanya apabila ia memang dapat
menemukan pengalaman yang bersifat spiritual.
Agar pengenalan sampai pada esensinya maka diperlukan usaha
membangun hubungan yang intim dan penuh privasi dengan Tuhan
dalam keheningan dan kekhusyuan. Pengenalan itulah yang
menyebabkan seorang terdorong untuk semakin dekat dengan-Nya
untuk meningkatkan keimanannya. Hal ini dikarenakan sisi batiniah
ajaran agama adalah jalan untuk menuju kepada-Nya. Usaha
pengenalan terhadap Tuhan, bilamana bersamaan dengan kehendak-
Nya, akan menyebabkan terjadinya ketajaman ruhani sehingga
seseorang dapat menyaksikan sesuatu yang berada di atas kemampuan
indra dan nalarnya.
Keimanan secara umum adalah seperti kepercayaan atau
keyakinan adanya seseorang di dalam rumah tanpa harus melihat sosok
fisik orangnya. Oleh karenanya, yakin semata tidak cukup karena ia
tidak membawa penyaksian, kecuali seseorang telah menyaksikan
sesuatu yang diyakininya. Hal itu hanya terjadi jika dinding yang
membentengi antara dirinya dengan sesuatu yang diyakini telah
terbuka. Apabila penyaksian itu didasarkan pada objek-objek keimanan
maka penyaksian itu lebih valid dari sekadar berita atau argumen yang
tak terbantahkan, karena penyaksian itu bersifat badîhî (benar dengan
sendirinya).
Seseorang yang menyaksikan sendiri pengalamannya adalah
orang yang informasinya sulit untuk dikategorikan sebagai suatu
kebohongan. Penyaksian adalah sesuatu yang lebih jelas dari sekadar
berita dan pembenaran aqlîyah. Kejelasannya sangat tergantung pada
kondisi sarana atau alat yang dipergunakan untuk menyaksikan, situasi,
dan tempat ia berada ketika penyaksian itu terjadi. Penyaksian tidak
berhubungan dengan afirmasi (penegasan) dan konfirmasi (pengesahan)
tentang suatu keadaan yang biasanya menyandang kesalahan atau
kebenaran.
Iman yang lebih hakiki seperti orang masuk ke rumah dan
menemui orangnya dan menyaksikandari sudut manapun dalam
rumah itudengan penyaksian yang yakin tentang penghuni rumah itu.
Pada tingkat semacam ini keimanan tidak semata berupa pengetahuan
Abdul KadirApresiasi Keimanan
34
deskriptif, definitif, dan informatif, melainkan telah sampai pada
pengenalan dan penyaksian langsung atau mushâhadah (penyaksian) dan
ma‘rifah (pengenalan kepada Tuhan). Keimanan yang didasarkan pada
cerita tentang mushâhadah dan ma‘rifah berbeda dari keimanan yang
didasarkan kepada subtansi mushâhadah dan ma‘rifah.
Atas dasar asumsi seperti itu maka keimanan harus dibangun
dengan partisipasi di alam transendental yang besaran dan
kedalamannya tergantung pada pandangan atau batas kemampuannya
untuk mengetahui, menghayati, mengimani, mengenal, dan
menyaksikan. Ketika terjadi mukâshafah (tersingkapnya tabir) yang
menyebabkan seseorang dapat menyaksikan keindahan mushâhadah
(penyaksian) atau mengenal-Nya dari dekat/ma‘rifah (pengenalan) maka
terbangun tahapan baru dalam diri seseorang bahwa peneguhan
terhadap iman oleh hati bertambah mantap karena mendapatkan
sinaran dari pengalaman spiritualnya. Ketika cahaya hati semakin
cemerlang maka nalar dan indra menjadi bersinar setelah mendapat
pantulan dari cahaya hati. Walaupun demikian, keimanan yang
bersandar pada penalaran tidak perlu dipandang naif, karena iman
berangkat dari tahapan aqlîyah murni, kemudian diteguhkan atau
disangkal oleh pengalaman spiritual ketika mencapai ma‘rifah dan
mushâhadah.
Dengan demikian iman dengan jalan ma‘rifah dan mushâhadah
mempunyai posisi lebih tinggi dan lebih unggul dari pada yang lainnya.
Iman seperti itu sebagaimana imannya orang yang dekat dengan Tuhan,
yaitu iman yang diterima melalui penglihatan batin, sehingga ia dapat
melihat sesuatu sampai hakikatnya, seperti imannya para nabi dan
awliyâ’ (para wali). Dengan jalan mukâshafah berarti ia mengenal sesutu
melalui hakikatnya.
Keimanan dengan jalan ini merupakan pengalaman
keagamaan yang terdalam, yaitu pengalaman kehadiran Tuhan pada diri
seseorang yang kemudian terwadahi dalam bahasa mistik yang memuat
berbagai informasi penuh misteri dan penuh metafor.
Dengan demikian dasar epistemik keimanan dapat disandarkan
kepada:
1. Keimanan yang dibangun atas berita yang benar karena yang
menyampaikannya orang yang dapat dipercaya.
Ibid., 10.
TeosofiVolume 5, Nomor 1, Juni 2015
3
35
2. Keimanan yang disertai bukti-bukti karena bukti itu sebagai tanda
adanya sesuatu sehinga tidak bisa dipungkiri oleh indra dan
penalaran manapun.
3. Keimanan karena dapat menyaksikan sendiri secara langsung
sesuatu yang diimani, sehingga yang disaksikan tidak meragukan
sedikitpun.
Kemampuan Indrawi dan Nalar
Sebagian orang mengenal Tuhan dengan cara mengamati ayat-
ayat kawnîyah (tanda kebesaran Tuhan di alam) sebagai indikator wujud-
Nya. Sebagai akibat pemikiran bahwa indikator itu bukanlah wujud
sesuatu maka di pihak lain berkembang pemikiran bahwa konsep dan
deskripsi tentang Tuhan dan ketuhanan dapat dikenal melalui bukti-
bukti rasional ketika nalar mencermati objek tertentu secara logis.
Hasilnya adalah pengetahuan tas
}
awwur (konsepsional) yang diperoleh
melalui definisi.
Ketika definisi terpahami dan mudah dimengerti maka
sesuatu menjadi jelas bagi penalaran. Pengetahuan nalar lainnya bersifat
tas
}
dîq (konfirmasi) yang diperoleh dengan inferensi yang biasanya
ditarik berdasarkan premis-premis sebagaimana terdapat dalam
silogisme. Sebagai contoh, apabila Tuhan sebagai pencipta maka Dia
berbeda dengan ciptaan-Nya.
Penggunaan kekuatan indra maupun nalar dalam
mengonseptualisasi, mempersepsi, maupun mendeskripsikan tentang
Tuhan dan segala sifat-sifat kemutlakan-Nya sama halnya dengan
mereduksi kemutlakan itu pada batas kenisbian sebatas kemampuan
indra maupun nalar. Sesuatu yang mutlak jika digambarkan dengan
sesuatu yang tidak mutlak akan mereduksi kemutlakannya menjadi
ketidakmutlakan karena konsepsi, persepsi, dan deskripsi tentang
sesuatu merupakan sesuatu yang disimbolkan dalam bahasa tertentu.
Suatu simbol berarti mewakili suatu yang tidak hadir. Oleh karenanya,
representasi pengetahuan dan pengalaman melalui bahasa tidak mampu
menggambarkan kehadiran Tuhan dalam diri seseorang.
Pada dasarnya Tuhan tidak dapat dipresentasikan dan
direpresentasikan dalam bentuk bukti, deskripsi, konsep, simbol, dan
bahasa apapun karena keadaannya berbeda dari apa yang bisa dipahami
Mehdi Ha’iri Yazdi, Ilmu Huduri, terj. Ahsin Muhammad (Bandung: Mizan, 1994),
80.
Abdul KadirApresiasi Keimanan
36
oleh manusia melalui pengindraan dan penalarannya. Pengamatan
indrawi dan persepsi penalaran sebagai dasar bangunan bagi ilmu
empirik maupun rasional hanyalah suatu pengalaman dan pemahaman
tentang sesuatu dan bukanlah suatu entitas dari pengalaman keimanan.
Pengalaman empirik dan pengetahuan kognitif bukanlah instrumen
langsung pengenalan terhadap objek keimanan kepada Tuhan. Hasil
paling jauh yang bisa dicapai dari pencarian dan akses ketuhanan yang
diperankan oleh aspek fisik dan psikis, termasuk pemikiran rasional,
adalah bukan wujud Tuhan. Hal ini karena pengindraan mengelaborasi
objeknya menjadi pengalaman empirik, penalaran mengelaborasi
objeknya menjadi pengetahuan rasional, dan pengalaman spiritual
berpartisipasi dalam kejadian itu sendiri, sehingga ia bisa merasakan
pengalaman itu sebagai suatu kenyataan.
Secara epistemologis, di dalam pengalaman manusia terdapat
sumber informasi yang memungkinkan untuk dinyatakan sebagai
transfenomenal. Pengalamannya merupakan suatu kenyataan, tetapi
juga merupakan pernyataan yang transenden yang kepadanya eksistensi
manusia terbuka.
Oleh karena itu, perlu penelusuran dan mencari
akses ketuhanan melalui aspek spiritual untuk melengkapi secara
komprehensif pengetahuan dan pengalaman manusia tentang Tuhan
supaya tidak terjadi verbalisme yang mengakibatkan seseorang hanya
mampu menyebut-Nya tanpa harus mengenal-Nya sendiri.
Pengalaman spiritual merupakan pengalaman esoterik (batin)
yang hadir dalam kesadaran spiritual, yaitu kesadaran yang berbeda dari
kesadaran keseharian (kesadaran yang ada dalam kehidupan sehari-hari)
atau kesadaran biasa. Kesadaran spiritual adalah aktivitas ruhani tanpa
peran pengindraan dan penalaran karena aspek spiritual dapat eksis
tanpa pengaruh persepsi indrawi dan penalaran. Basis epistemiknya
adalah bahwa pengalaman spiritual bukan hasil pengindraan empirik
atau refleksi nalar.
Seseorang yang ingin membangun aspek
spiritualnya harus melakukan transformasi kesadaran biasa sampai
mencapai kesadaran spiritual. Lepasnya hubungan dengan objek
fenomenal mengakibatkan timbulnya kesadaran lain, yaitu kesadaran
untuk menyadari yang tak terbatas. Dalam kesadarannya terbangun
Tenneth T. Ghallagher, Epistemologi, terj. P. Hardono Hadi (Yogyakarta: Kanisius,
1995), 156.
Herman Landolt, “Pengalaman Mistik”, Ulumul Qur’an, No. 3 (1986), 60.
TeosofiVolume 5, Nomor 1, Juni 2015
3
37
kesadaran baru yang dimulai dengan kesadaran subjektif sampai
hilangnya kesadaran itu sendiri. Maka diperlukan peniadaan wujud
dalam pikiran dan perasaannya selain Tuhan. Ketika ia lepas dari
kesadaran biasa, berarti ia lepas pula dari niat dan kemauan. Sesuatu
yang ia lakukan tidak lagi didasarkan atas kehendaknya dan tidak pula ia
mengerti apakah perbuatan itu atas kehendak pihak lain. Penyucian
batin seperti ini sebagai alat untuk memperoleh pengalaman spiritual.
Sekali aspek spritual dibebaskan dari kesadaran fenomenal, ia dapat
memahami yang riil dan berkomunikiasi dengan Tuhan. Semakin tinggi
kebebasannya, semakin jelas pengenalannya terhadap yang riil.
Dalam transformasi kesadaran ini seseorang akan menjumpai
wujud yang sebelumnya tidak tampak menjadi tampak dalam tingkat
tertentu;
sehingga ia dapat menemukan wujud yang tak pernah diindra,
dipersepsi oleh nalar, karena berada dalam lintasan cahaya Ilahi. Ia
dapat mengadakan komunikasi dan berdialog langsung dengan-Nya,
karena terjadinya kesatuan eksistensial antara subjek, objek, sehingga
mendatangkan pengalaman dan pengetahuan presentasional, yaitu
pengetahuan yang tidak memerlukan konspesi dan konfirmasi.
Peristiwa ini dapat diidentifikasi sebagai langkah awal perjalanan
spiritual seseorang dalam memperoleh pengalaman untuk meneguhkan
keimanannya.
Akses menuju Ketuhanan
Apresiasi seseorang terhadap alam, manusia, dan kemanusiaan
tidak dapat dipisahkan dengan apresiasinya kepada Tuhan dan
keimanan kepada-Nya. Dalam karir kehidupannya manusia selalu
bersinggungan dengan lingkungannya tanpa harus memutus hubungan
dengan Tuhannya sebagai asal-usul segalanya dan tempat kembalinya
supaya ia dapat mengembangkan penguasaan dunia pada suatu sisi dan
mentransendensikannya pada sisi yang lain, sehingga ia dapat
memperoleh pengetahuan dan pengalaman subjektif dari pengalaman
spiritualnya, dan pengalaman objektif dan logis dari pengalaman
‘Umar Khayyam melukiskan pendakian itu dengan kata-kata: “Sungguh
mengherankan, ruh yang mampu mengeringkan jubah yang terbuat dari lumpur tebal
mampu mencapai ketinggian bintang-bintang yang tertinggi”. Lihat ‘Aisyah
Abdurahman, Manusia Sensivitas Hermeneutika al-Quran, terj. Adib al-Arief
(Yogyakarta: LKPSM, 1997), 17.
Abdul KadirApresiasi Keimanan
38
empirik dan pengetahuan rasionalnya. Upaya seperti ini untuk
meningkatkan citra dan martabat manusia ke level yang lebih tinggi.
Masalah apresiasi ketuhanan dan akses menuju kepada-Nya erat
kaitannya dengan nilai-nilai yang bersifat empirik, rasional, dan
spiritual. Maka menjadi tuntutan bagi setiap orang untuk mengapresiasi
semua pengetahuan dan pengalaman itu sesuai dengan kemampuan
individualnya supaya ia dapat menyelamatkan dirinya dari berbagai
kekuatan yang menimbulkan dehumanisasi dengan menuntunnya ke
arah pertumbuhan dan perkembangan kepribadian terpadu,
komprehensif, dan seimbang. Menuju citra manusia demikian
memerlukan upaya yang sungguh-sungguh dengan memberikan
kebebasan kepadanya untuk mengimplementasikan kemampuannya
memahami dirinya sendiri, lingkungan, serta Tuhannya melalui aspek-
aspek fisik, nalar, dan spiritualnnya. Usaha yang biasa dilakukan orang
ialah dengan mengembangkan, membimbing, mengarahkan, dan
menggerakkan dirinya agar selalu berada dalam segala situasi yang baik
dan kondusif dalam mencapai tujuan hidupnya menuju Tuhan.
Seseorang dapat mengggunakan pengetahuan dan pengalaman fisik dan
psikisnyaseperti nalar, perasaan, dan sebagainyademi kemajuan
aspek spiritualnya karena di satu pihak ia adalah makhluk yang
bercorak duniawi di samping bercorak samawi.
Apresiasi ketuhanan dan akses menuju kepada-Nya pada
mulanya dapat dikembangkan melalui, dan bertumpu pada, aspek fisik
dan psikis dengan belajar dan berlatih serta tetap berusaha
mempertajam pengetahuan dan pengalaman spiritual dengan
memahami kondisi di dalam dan di luar dirinya, pentingnya kondisi itu
bagi dirinya, sehingga ia sanggup mempengaruhi akibat yang sesuai
dengan tujuan hidupnya. Pada awal perjalanannya, sebagai persiapan
menerima pengalaman spiritual, seseorang harus mencari jalan yang
memungkinkan tercapainya pengalaman itu dengan berfikir secara
kontemplatif.
Kegiatan berpikir dapat diarahkan pada objek eksternal yang
bersifat fisik melalui pengamatan, sehingga menghasilkan pengetahuan
empirik dan atau rasional; dan berpikir terhadap objek internal ialah
Dalam terminologi sufistik dikenal istilah unsur ketuhanan (lâhût) dan unsur
kemanusiaan (nâsût). Lihat Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme dalam Islam (Jakarta:
Bulan Bintang, 1991), 93.
TeosofiVolume 5, Nomor 1, Juni 2015
3
39
berpikir tentang dirinya sendiri untuk membangun hubungan dengan
berbagai situasi dan kondisi tentang dirinya. Berpikir ke dalam (objek
internal) akan menghasilkan pengetahuan yang berhubungan dengan
fakta-fakta intuitif, bahkan menghasilkan pengalaman esoterik.
Berfikir secara kontemplatif pada dasarnya adalah kegiatan
berpikir dengan pengamatan ke dalam secara jernih dengan
mengadakan introgasi dan investigasi terhadap dirinya sendiri, oleh
dirinya, dan dalam dirinya. Berpikir tentang yang ekternal dan internal
sama pentingnya terhadap perkembangan pikiran, namun hasil
pemikirannya memberikan implikasi yang berbeda. Banyak orang yang
berpikir secara kontemplatif dan meditasi, sebelum ia memperoleh
imajinasi besar, yang kemudian membuat sejarah. Bahkan perintah
untuk kontemplasi dan meditasi diperintah oleh Tuhan yang tersirat
dalam wahyu-Nya dalam bentuk berdiam diri tafakur, shalat malam dan
sebagainya.
Berpikir sebagai kegiatan mental perlu dilatih supaya dapat
dipergunakan untuk kepentingan perjalanan spiritual ketika seseorang
mengarahkan langkahnya ke arah sana dengan memilah dan mimilih
objek-objek tertentu yang akan dipikirkan bahkan sampai melangkah
melampaui gagasan apapun. Hasilnya dapat dipergunakan untuk
mencari jalan yang akan dilalui atau apa yang harus ia kerjakan, karena
kekuatan dan kemampuannya dapat mempertimbangkan sesuatu yang
tidak dapat diindra, bahkan untuk mempertimbangkan sesuatu yang
tidak masuk dalam arena pengindraan.
Berpikir secara kontemplatif merupakan bentuk kegiatan mental
tertinggi untuk menangkap berbagai kebenaran secara intuitif;
menemukan realitas apabila seseorang secara mendasar menata dirinya,
dan menjalani penyuciannya. Bila ia mempersempit sudut pandangnya
hanya tertuju pada Tuhan semata, maka berpikir menjadi sarana untuk
mendatangkan bukti spiritual tentang keimanaannya. Secara
implementatif, yaitu berpikir dan merenungkan wujud tanpa
memperhatikan keadaan segala makhluk ciptaan-Nya, kemudian
dilanjutkan dalam bentuk-bentuk kegiatan yang menciptakan citra
tentang Tuhan di dalam dirinya dan tidak membiarkan pikiran dan
renungan dibentuk oleh apapun. Dengan berpikir dan konsentrasi
penuh kepada-Nya sebagai upaya pembebasan pikiran dan perasaan
Komarudin Hidayat, Memahami Bahasa Agama (Jakarta: Paramadina, 1996), 17.
Abdul KadirApresiasi Keimanan
40
dari sesuatu selain-Nya, sehingga hatinya menjadi suci dari aspek
fenomenal. Dengan demikian, tidak ada lagi sesuatu dalam pikiran,
imajinasi atau dirinya selain Tuhan.
Kehadiran bayangan imajinatif dalam pendekatan terhadap
keimanan bersifat abstrak tanpa mempergunakan empiri, tidak sebagai
representasi analogi terhadap objek fisik, dan terbebas dari tangkapan
material pengamatan indrawi, sehingga materi bayangan imajinatif itu
tidak berwujud dalam bentuk realitas fisiknya. Bayangan imajinatif yang
mengikat seseorang pada alam duniawi ini ditenangkan melalui teknik-
teknik berpikir sampai mencapai keheningan dalam penantian.
Adalah menjadi suatu kewajaran bila sebagian orang dapat
mengkhayalkan semua yang mawjud ini dalam dirinya, walaupun ia
tidak bisa melihatnya dengan pandangan indranya. Wujud yang tidak
pernah dipikirkan dan tidak pernah terlintas dalam hati gambarannya
harus datang dalam pandangannya, kecuali ia menciptakan bayangan
dalam dirinya sebelum ia mendapatkan daya yang luar biasa sebagai
karunia Tuhan kepadanya. Hal ini berarti bahwa ia membawa ke tengah
alam dunia ini sebuah bayangan realitas yang eksistensinya lebih
sempurna di dalam semua pola dasarnya. Ketika ia menemukan yang
supranatural dan suprarasional yang bersifat ilahi dalam dirinya, ia telah
menyibak realitas sejati; sesuatu yang tidak bisa dipersepsikan dan
dikonsepsikan oleh daya indrawi serta penalaran logis sebagai objek
gagasan yang seolah-olah bisa ditangkap oleh indra atau dipersepsi oleh
nalar. Hal ini ditengarai sebagai kekuatan yang memungkinkan
seseorang menghadirkan pengalaman spiritual melalui bentuk imajiner
murâqabah (pengawasan) dan muqârabah (perasaan dekat).
Pengejewantahan pengawasan dan kedekatannya dengan Tuhan adalah
bahwa seolah-olah ia menyapa-Nya dan berdialog dengan-Nya.
Walaupun demikian, bentuk imajiner terhadap alam ghaib harus
diartikan dan diresapi sesuai dengan konsep keabstrakkannya.
Pengendalian diri menjadi hal penting dalam pendakian spiritual.
Pengendalian diri akan menghilangkan sikap egoisme, takabur, dan
sombong. Hal ini adalah sebagai upaya penjernihan hati seseorang
untuk mendapatkan bimbingan cahaya bagi penerangan jalan
kehidupannya dalam menuju keimanan kepada Tuhan. Dalam posisi
seperti ini seorang hamba tidak memikirkan apa yang harus diperbuat,
namun ia sampai pada suatu kondisi bahwa ia siap menerima kondisi
TeosofiVolume 5, Nomor 1, Juni 2015
3
41
yang akan ditetapkan oleh Tuhan. Maka menjadi sesuatu yang wajar
apabila seringkali wirid-wirid yang dilakukannya secara lisan terhenti
sama sekali tanpa suara karena ia tidak mampu lagi melukiskan
kemahabesaran dan kemahakuasaan-Nya dalam huruf dan lafal,
walaupun hanya dalam hati. Akhirnya, setiap orang tertunduk diam
dalam keheningan sereta kebisuan tanpa sepatah katapun terucap
sebagai ekspresi ketidakmampuannya mengatakan sesuatu perasaan dan
pikiran sesuai dengan bahasa manusia yang ia kuasai. Diam merupakan
ekspresi dan eksternalisasi pikiran di samping ia sebagai alat mereduksi
kegiatan, pengetahuan, dan pengalaman menjadi wujud tunggal. Bahasa
diam adalah simbol hampanya sesuatu yang perlu dieksternalisasikan.
Ketidakmampuan seorang hamba kadang-kadang direfleksikan dengan
berdiam diri sebagai komunikasi non verbal bahwa ia ingin disapa.
Diam dianggap sebagai komunikasi yang lembut (silent
communication) dengan pihak yang dituju dalam suasana yang hening.
Komunikasi di sini tidak harus diartikan dengan menyatakan ungkapan-
ungkapan melalui bahasa yang familiar, tetapi lebih ditekankan pada
usaha seseorang memutus hubungan dengan dunia luar dan masuk ke
dalam dirinya sendiri tanpa melalui perangkat dan alat apapun. Dalam
keadaan diam seseorang aktif menyiapkan diri untuk menerima dan
menyerap pancaran cahaya Tuhan sebagai bentuk komunikasi yang lain
dengan-Nya. Dengan cara ini ia mengakhiri semua tindakan dan
hubungan yang berhubungan dengan lingkungan fisik dan atau
diorientasikan pada dirinya secara fisik dan psikis untuk kemudian
berserah sepenuhnya kepada Tuhan setelah semua daya upaya dan
usaha dilakukan. Ia memasuki lorong untuk berada dalam
ketidakmampuan dirinya dan tenggelam dalam kehendak Tuhan.
Dalam kepasrahan seperti ini daya kreativitas seorang hamba
menjadi tumpul, daya kritisnya menjadi mati, dan daya inisiasinya
terhenti karena apapun yang ia lakukan pada akhirnya berhadapan
dengan kemutlakan kekuasan Tuhan yang tidak dapat dipengaruhi oleh
siapapun. Penyerahan secara total mengandung makna sebagai
penegasian wujud selain-Nya untuk tidak menyerikatkan apapun
dengan-Nya, dan yang ada hanyalah wujud tunggal. Kondisi seperti ini
yang menyebabkan seseorang merasakan dirinya tidak mempunyai
sesuatu apapun dan harus ikut dalam putaran kehendak-Nya, karena ia
melepaskan diri dari dominasi pikiran dan perasaan terhadap yang
Abdul KadirApresiasi Keimanan
42
objek empirik dan partikularistik; dan hanyalah Tuhan yang Tunggal
semata yang mawjûd. Pada titik puncak perjalanannya, seorang hamba
harus bersikap menyerah total pada kehendak Tuhan.
Ketunggalan wujud ini mengatasi semua wujûd al-mumkin (wujud
kontingen) yang mempunyai ketergantungan mutlak terhadap Wajîb al-
Wujûd. Wujûd al-mumkin menjadi hilang dalam kesadarannya, karena
pada hakikatnya yang ada hanya Wajîb al-Wujûd, sehingga tidak satupun
bersama-Nya. Dalam keadaan demikian hanya ada satu pengalaman,
yaitu pengalaman yang diperoleh dari Wajîb al-Wujûd satu-satunya,
karena tidak ada yang bisa diperserikatkan dengan-Nya.
Tugas dan ikhtiyar seorang hamba hanyalah mempersiapkan diri
dengan penyucian hati semata, menghadapkan wajah sepenuhnya
dengan penuh kerinduan dan kesabaran menanti rahmat yang akan
dibukakan oleh Allah, sehingga pada akhirnya mencapai penyucian hati,
konsentrasi dalam zikir.
Walaupun langkah-langkah itu bukanlah
sebagai sebab akibat dari pengalaman spiritual, tetapi ketika hati
seseorang jernih maka h
}
ijâb (tirai) pemisah antara dirinya dengan alam
ketuhanan terbuka lebar dan akan tampak alam spiritual. Ia akan
menjadi cermin yang jernih dan tembus pandang, yaitu cermin yang
tidak menghalangi cahaya yang akan menerpanya; bahkan ia berfungsi
sebagai cahaya pula.
Keberhasilan memperoleh pengalaman spiritual sebagai bukti
keimanan lainnya tidak ditentukan oleh proses ikhtiyariyah manusia
semata, tetapi lebih merupakan perolehan karunia dari Tuhan.
Keimanan hakiki dalam tataran spiritualnya, secara sederhana, dapat
dikatakan sebagai hidayah-Nya. Hidayah ini menjadi sumber segala
pengetahuan dan pengalaman yang bersifat fisik, nalar, sampai spiritual
yang benar.
Dalam teologi Ash‘arîyah kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan tidak dapat
dipengaruhi oleh siapapun dan oleh apapun karena Tuhan mutlak menentukan
segalanya. Sesuatu yang dicapai seseorang melalui usahanya adalah sekadar karunia-
Nya. Lihat Harun Nasution, Teologi Islam (Jakarta: UI Press, 1989), 28. Dalam
pendakian spiritual, kesadaran tentang usaha harus ditinggalkan, lenyap, dan
menyerah pada kehendak-Nya. Dengan demikian yang ada hanya Tuhan dan
seseorang sekadar menanti karunia-Nya. Seseorang harus mengikuti keinginan dan
iradah Tuhan. Lihat Simuh, “Islam dan Masyarakat Modern”, dalam H. M. Amin
Syukur (ed), Tasawuf dan Krisis (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), 12.
Simuh, “Islam dan Masyarakat Modern”, 173.
TeosofiVolume 5, Nomor 1, Juni 2015
3
43
Validitas Keimanan
Pada dasarnya Tuhan tidak dikenal dengan sebutan dan nama
semata. Dia Maha Sempurna dan Ada sejak semula. Dia tidak tercakup,
tidak terlihat, abadi, tidak dilahirkan, benar-benar sendiri selama masa
yang tak terhingga.
Dia tidak memerlukan identitas dan realitas yang
bisa didefinisikan. Kepastian ada-Nya disebabkan oleh Dzat-Nya
sendiri dan tidak oleh yang lain. Yang pasti ada oleh Dzat-Nya sendiri
jika dipikirkan akan terkena hukum wajib bahwa keberadaan Tuhan
sebagai keharusan logis (Wâjib al-Wujûd) atau yang pasti ada karena
Dzat-Nya sendiri mustahil tidak ada. Pada Wâjib al-Wujûd yang esensi
dan eksistensinya satu dan sama adalah kebenaran murni, ketuhanan
murni, dan asal segala wujud.
Hanya pemunculan dan manifestasi diri-
Nya pada wujud yang lain memungkinkan kebenaran-Nya bisa
dibayangkan oleh nalar dan dicarikan bukti secara empirik.
Atas dasar kemampuan nalar menyuguhkan kebenaran rasional
dan kemampuan indrawi menampilkan bukti-bukti yang sahih maka
epistemologi teologis dapat dibangun. Pengalaman empirik dan
pengetahuan rasional itu bersifat burhânî (demonstratif) dan bayânî
(argumentatif) dan dapat dikomunikasikan secara verbal; sedangkan
pengalaman yang dicapai oleh aspek spiritual bersifat irfânî/gnosis
(pengenalan kepada Tuhan). Tetapi pengetahuan rasional dan
pengalaman empirik itu secara fungsional dapat membangun ilmu
pengetahuan yang menjadi instrumen bagi pendakian aspek spiritual
dalam bangunan epistemologi irfânî.
Sebelum aspek spiritual mencapai kesempurnaan, menjadi kuat,
dan mantap dalam menapaki pendakiannya, maka tataran konsep ilmu
irfânî mungkin bisa ditransfer dan ditransformasikan melalui aspek fisik
dan psikis, sebatas bagian-bagian yang dapat diwacanakan, dari seorang
kepada orang lain. Wacana yang ditransfer maupun ditransformasikan
hanya mengantarkan seseorang pada pengetahuan demonstratif dan
atau argumentatif dan belum sampai menyentuh pengalaman irfânî.
Karen Armstrong, Sejarah Tuhan, terj. Zainul Am (Bandung: Mizan, 2002), 140.
Nasr, An Introduction, 18.
Muh}ammad ‘Âbid al-Jâbirî, Bunyat al-‘Aql al- ‘Arabî (Beirut: al-Markaz al-Thaqâfah
al-‘Arabî), 193.
Yazdi, Ilmu, 254-255.
Abdul KadirApresiasi Keimanan
44
Pada dasarnya, semua pengetahuan dan pengalaman diperoleh
oleh subjek yang mampu membangun hubungan dengan objek.
Terdapat distingsi antara subjek yang mengetahui dan objek yang
diketahui. Objek itu adalah wujud eskternal yang berperan sebagai
objek transitif. Objek itu yang menjadi kepedulian dan perhatian
subjek yang mengetahui atau mengalami. Tetapi pengalaman spiritual
dicapai melalui pengenalan diri dengan menjadikan dirinya sendiri
sebagai subjek maupun objek atau objek itu adalah dirinya sendiri. Ia
adalah objek internal dan sebagai objek imanen dalam dirinya sendiri
maka antara subjek dan objek adalah identik. Untuk mencapai
perolehan pengalaman spiritual seseorang harus menyelami dirinya
sendiri agar ia tahu tentang dirinya yang hakiki. Diri semacam inilah
yang mampu membangun hubungan dengan alam spiritual yang tidak
berdimensi.
Pengalaman spiritual secara epistemik dibangun di luar
pengetahuan dan pengalaman indrawi dan nalar bahkan terjadi secara
swaobjektivitas yang tidak memisahkan antara subjek dengan objek
yang mengetahui dan mengalami. Hasilnya adalah pengetahuan dan
pengalaman yang introvert dan sulit dikomunikasikan secara verbal
karena ketiadaan bahasa yang dapat mempresentasikan dan
merepresentasikan pengetahuan dan pengalaman itu dengan bahasa
yang dibangun atas ketaatan gramatik maupun semantiknya semata.
Bahasa yang biasa dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari tidak
mampu mengejewantahkan pengalaman seperti itu. Ketika pengalaman
itu dicoba untuk dipresentasikan dalam bahasa sehari-hari maka terjadi
reduksi makna yang tidak bisa dihindari.
Kegiatan seseorang menuju pengalaman spiritual dilakukan
sendiri-sendiri dan mandiri dalam keheningan tanpa apapun dan
siapapun. Perolehan pengalaman spiritual oleh seseorang biasanya
dilakukan dengan cara melatih jiwanya secara keras dan disucikan dari
nafsu jahatnya kemudian ia berserah diri kepada Tuhan. Hal semacam
ini dilakukan agar ia mengalami transformasi kesadaran dari kesadaran
biasa yang bersifat material dan rasional kepada kesadaran lain yang
bersifat spiritual; walaupun dengan cara itu tidak seorang pun dapat
menjamin bahwa ia akan sampai tujuan akhirnya. Keberhasilan manusia
memperoleh pengalaman spiritual adakalanya didapatkan tahap demi
tahap dari tangga paling bawah dalam jarak dan tempo yang sangat
TeosofiVolume 5, Nomor 1, Juni 2015
3
45
lama. Akan tetapi, adakalanya di antara mereka mendapatkannya
dengan cara yang cepat tanpa banyak memerlukan usaha atas dasar
karunia Tuhan semata.
Pengalaman spiritual adalah pengetahuan yang berupa
pengenalan terhadap realitas murni (sering disebut dengan al-‘ilm al-
yaqîn atau al-‘ilm al-‘irfânî) melalui cita rasa hati.
Cita rasa hati adalah
potensi batin yang terpendam dan hanya datang bagi orang yang
mempunyai akses ke alam spiritual. Cita rasa hati itu sama dengan daya
tangkap yang sekaligus merasakan tangkapannya.
Dalam tataran spiritual, seseorang seharusnya mengaktualkan
potensi ini sebagai daya untuk mencerap pengalaman langsung secara
performatif tanpa perantaraan representasi mental atau simbolisme
kebahasaan apapun. Apabila hati telah aktual maka seseorang semakin
mendekati kesempurnaan. Orang yang mempunyai cita rasa hati dan
mampu mengembangkannya adalah orang yang mungkin untuk
mendapatkan pengalaman spiritual dan mencapai nilai-nilai ketuhanan
yang esensial. Cita rasa hati itu hanya aktual dan terjadi ketika
kesadaran biasa hilang.
Cita rasa hati sebagai potensi ruhani merupakan bagian
kepribadian seseorang yang perlu dilatih sedemikian rupa agar dapat
dimanfaatkan secara maksimal dan optimal bagi keseluruhan hidup
dan kehidupannya. Sebagaimana dipahami oleh banyak orang bahwa
orang biasa hanya bisa menerima ilham melalui masing-masing cita
rasa hatinya.
Cita rasa hati itu lebih fungsional dalam memperoleh
pengalamannya yang berupa ilham setelah terjadi mukâshafah karena ia
lepas dari campur tangan citra mental dan pengamatan empirik.
Hasilnya adalah pengalaman dalam level yang paling tinggi dan hanya
bisa dicapai oleh seseorang dalam derajat tertentu. Validitasnya
melebihi validitas persepsi yang dibangun melalui fakta empirik dan
rasional. Oleh karena itu, orang yang memiliki cita rasa hati disebut
memiliki kesetaraan instrumen sebagaimana yang dipergunakan para
Terdapat unsur dhawq (cita rasa hati) yang disebut dengan wijdân, yaitu sarana untuk
memperoleh pengetahuan hakikat secara langsung atau pengetahuan yang diperoleh
melalui indra batin. Lihat ‘Alî b. Muh}ammad al-Sayyid al-Sharîf al-Jurjânî, al-Ta‘rîfât
(Beirut: Dâr al-Kutub, t.th.), 245.
Wahyu adalah firman Tuhan kepada nabi dan ilham adalah firman Tuhan kepada
orang biasa atau wali-Nya.
Abdul KadirApresiasi Keimanan
46
awliyâ’. Dengan cita rasa hati itu pula hakikat sesuatu dimengerti,
dihayati, dan dirasakan keberadaannya, sehingga pengalaman spiritual
dapat diresapi.
Dengan demikian pengalaman spiritual itu integral
pada diri seseorang dan sesuatu yang dicapainya mendatangkan
kepastian.
Dengan tidak melibatkan diri dalam kontroversi antara
pemisahan dan penyatuan seseorang dengan Tuhan, namun yang pasti
bahwa mungkin terjadi komunikasi dan interaksi antara keduanya
secara intens dalam bentuk tertentu; dan hal itu merupakan
pengetahuan dan pengalaman yang mungkin bisa dicapai. Ketika
seseorang sudah tidak merasakan ada yang mawjûd melainkan Allah
karena Tuhan berada di luar pengindraan dan penalarannya; dan setelah
mencapai pendakian sempurnamaka dengan karunia Tuhan yang
akan dilimpahkan kepadanya ia akan mencapai penyaksian atau
mushâhadah. Dengan mushâhadah seseorang dapat menyaksikan sesuatu
sesuai dengan keadaannya, sehingga pengetahuannya dan
pengalamannya lebih valid dibandingkan dengan hanya mengenal atau
mengetahui sesuatu melalui indikator-indikatornya dan konsep-
konsepnya. Ia hadir dalam suatu situasi dan kondisi yang membentuk
dan turut membangun pengetahuan dan pengalaman itu.
Bila pengalaman itu dianggap sebagai pemberian Tuhan berarti
hamba tersebut mendapatkan hidayah dan tuntunan langsung dari-Nya.
Karunia hidayah semacam itu sangat berguna dalam membangun
keimanan yang monoteistik dan menjadi alas penopang dalam
menjalani kehidupannya di dunia dan akhirat, material, dan spiritual.
Implikasi Pengalaman Spritual terhadap Keimanan
Pengetahuan dan pengalaman seseorang selalu memberikan
makna baginya walaupun tidak terjadi pada aspek fisik dan psikisnya.
Pengalaman spiritual sangat bermakna dan memberikan kontribusi
terhadap wawasan dan keimanannya. Bagi seseorang yang telah sampai
pada tingkat tertinggi dari pengalaman itu ia bisa mengetahui sesuatu
yang bersifat empirik dan nalar berkat cahaya keilahian yang
dilimpahkan kepadanya melalui cita rasa hatinya. Cahaya itu
memberikan pencerahan terhadap aspek keperibadiannya secara
Reynold A. Nicholson, Mistik dalam Islam, terj. Tim Penerjemah Bumi Aksara
(Jakarta: Bumi Aksara, 1998), 156.
TeosofiVolume 5, Nomor 1, Juni 2015
3
47
menyeluruh, sehingga ia dapat merasakan keterpaduan pengalaman
antara berbagai aspeknya. Bahkan pencerahan itu menyebabkan ia tahu
pula tentang derajat dan kedudukan cahaya itu.
Ketika seseorang mengalami al-kashf (keterbukaan)sebagai
karunia Tuhan kepadanyamaka semuanya menjadi tampak. Hal ini
menggambarkan terjadinya hubungan seseorang dengan alam
ketuhanan yang menjadi sumber pengetahuan dan pengalaman.
Dengan demikian, secara kumulatif pegetahuan dan pengalamannya
untuk membangun keimanan semakin komprehensif karena datang dan
berasal dari berbagai domain kepribadiannya.
Pengetahuan dan pengalaman yang didapatkan oleh seseorang
dengan jalan belajar, baik fisik dan psikis, mendapatkan validitasnya
dari pencerahan cita rasa hatinya ketika ia memperoleh pengalaman
dengan jalan ilham dan mukâshafah. Karena sebab pengalaman
spiritualnya itu seseorang akan memanifestasikan sikap dan perbuatan
yang mencerminkan sifat-sifat ketuhanan, sehingga ia dapat
meningkatkan keimanan yang datangnya tidak dapat dikalkulasi secara
indrawi dan nalar.
Apresiasi terhadap nilai ketuhanan dan keimanan tidak harus
didekati dari sisi empirik dan rasional semata, tetapi pendekatan dari
sisi spiritual tetap diperlukan. Sebab itu seseorang tidak saja dituntut
untuk memperhatikan perkembangan aspek jasmani, tetapi juga
perkembangan aspek rohani sesuai dengan nilai-nilai yang dianutnya.
Di samping itu, usaha mencapai pengalaman spiritual itu membawa
pengaruh bagi perkembangan potensi cita rasa hatinya baik karena
latihan yang datang dari luar ketika seseorang berusaha untuk
mendapatkan pengalaman itu atau karena pengaruh pengalaman yang
diberikan langsung oleh Tuhan kepadanya. Pengalaman spiritual yang
dicapai melalui fungsi cita rasa hati itu menyebabkan jiwa seseorang
menjadi tenang, dapat menguraikan dan menganalisa banyak persoalan
yang problematik tanpa banyak bertumpu pada pengamatan dan
penalaran.
Dengan cita rasa hati itu pula seseorang dapat menikmati
sesuatu yang tidak dapat dinikmati oleh kesadaran dan perasaan biasa.
Abû H}amîd Muh}ammad b. Muh}ammad al-Ghazâlî, Mishkât al-Anwâr (Kairo: r
al-Fahm, 1964), 60.
Ibrahîm Hilâl, al-Tas
}
awwuf al-Islâmî bayn al-Dîn wa al-Falsafah (Kairo: Dâr al-Nahd}ah
al-‘Ara, 1969), 84, dan Simuh, “Islam dan Masyarakat Modern”, 12.
Abdul KadirApresiasi Keimanan
48
Dalam posisi seperti ini seseorang menemukan ekstasesuatu
kenikmatan yang luar biasa dan tiada taranyadisertai dengan
perolehan pengetahuan dan pengalaman yang luar biasa pula. Ia bisa
mengenal dan mengetahui rahasia Tuhan sebagai akibat kedekatannya
dengan-Nya. Orang yang tidak dianugerahi pengetahuan, pengalaman,
dan penghayatan melalui cita rasa hatinya maka ia tidak akan mengerti
hakikat sesuatu kecuali sebatas sebutannya saja.
Dengan pengalaman spiritual yang mungkin diperolehnya maka
keimanan seseorang didasarkan pada pengenalan terhadap objek yang
diimani dan bukan atas berita yang benar atau orang yang membawa
berita itu dapat dipercaya. Keimanan seperti ini lebih valid
dibandingkan dengan keimanan yang didasarkan pada kemampuan
dalam menunjukkan bukti empirik maupun argumentasi dan penalaran
logis semata.
Catatan Akhir
Proses perkembangan kesempurnaan seseorang untuk
mengapresiasi Tuhan dan keimanan kepada-Nya tidak semata
diperankan oleh aspek fisik dan psikisnya tetapi juga oleh faktor non-
fisik yang bersifat spiritual, sehingga perkembangan apresiasi terhadap
Tuhan dan nilai ketuhanaan itu menyangkut seluruh pengalaman
hidup. Oleh karena itu, perubahan dan perkembangan sikap manusia
dalam mengapresiasi Tuhan dan nilai ketuhanan sangat dipengaruhi
oleh informasi dan pengaruh yang diterimanya dari dunia material
maupun spiritual.
Keimanan sebagai salah satu wujud pembenaran dalam hati
bukan hanya dituntun oleh bukti empiris maupun rasional, tetapi juga
melalui mushâhadah. Semakin tinggi tingkat keimanan seseorang karena
sebab mushâhadah, semakin dekat ia dengan Tuhan dan semakin banyak
pula pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya. Selanjutnya,
sesuatu yang dicapai dari pengalaman spiritual memberikan kontribusi
dan pencerahan terhadap aspek keperibadiannya secara menyeluruh,
sehingga ia dapat merasakan keterpaduan pengetahuan dan
pengalaman dalam berbagai aspeknya.
TeosofiVolume 5, Nomor 1, Juni 2015
3
49
Daftar Rujukan
Abdurahman, ‘Aisyah. Manusia Sensivitas Hermeneutika al-Quran, terj.
Adib al-Arief. Yogyakarta: LKPSM, 1997.
Armstrong, Karen. Sejarah Tuhan, terj. Zainul Am. Bandung: Mizan,
2002.
Ghallab, Muh}ammad. Inilah Hakikat Islam, terj. B. Hamdani. Jakarta:
Bulan Bintang, 1963.
Ghallagher, Tenneth T. Epistemologi, terj. P. Hardono Hadi.
Yogyakarta: Kanisius, 1995.
Ghazâlî (al), Abû H}amîd Muh}ammad b. Muh}ammad. Ih
}
yâ’ Ulûm al-Dîn,
Vol. 3. Beirut: Dâr al-Fikr, 1980.
-----. Mishkât al-Anwâr. Kairo: Dâr al-Fahm, 1964.
Hidayat, Komarudin. Memahami Bahasa Agama. Jakarta: Paramadina,
1996.
Hilâl, Ibrahîm. al-Tas
}
awwuf al-Islâmî bayn al-Dîn wa al-Falsafah. Kairo:
Dâr al-Nahd}ah al-‘Arabî, 1969.
Jâbirî (al), Muh}ammad ‘Âbid. Bunyat al-‘Aql al- ‘Arabî. Beirut: al-Markaz
al-Thaqâfah al-‘Arabî.
Jurjânî (al), ‘Alî b. Muh}ammad al-Sayyid al-Sharîf. al-Ta‘rîfât. Beirut:
Dâr al-Kutub, t.th.
Landolt, Herman. “Pengalaman Mistik”, Ulumul Qur’an, No. 3, 1986.
Murtad}â Mut}ahharî dan SMH al-T}abât}aba’î, Menapak Jalan Spiritual,
terj. Nasrullah. Bandung: Hidayat, 1995.
Nasr, Seyyed Hossein. An Introduction to Islamic Ontological Doctrines. New
York: State University, 1993.
Nasution, Harun. Filsafat dan Mistisisme dalam Islam. Jakarta: Bulan
Bintang, 1991.
-----. Teologi Islam. Jakarta: UI Press, 1989.
Nicholson, Reynold A. Mistik dalam Islam, terj. Tim Penerjemah Bumi
Aksara. Jakarta: Bumi Aksara, 1998.
Simuh. “Islam dan Masyarakat Modern”, dalam H. M. Amin Syukur
(ed), Tasawuf dan Krisis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003.
Valiudin, Mir. Tasawuf dalam Qur ân, terj. Pustaka Firdaus. Jakarta:
Pustaka Firdaus, 1993.
Yazdi, Mehdi Ha’iri. Ilmu Huduri, terj. Ahsin Muhammad. Bandung:
Mizan, 1994.
ResearchGate has not been able to resolve any citations for this publication.
Aisyah. Manusia Sensivitas Hermeneutika al-Quran, terj. Adib al-Arief
  • Daftar Rujukan Abdurahman
Daftar Rujukan Abdurahman, 'Aisyah. Manusia Sensivitas Hermeneutika al-Quran, terj. Adib al-Arief. Yogyakarta: LKPSM, 1997.
Sejarah Tuhan, terj. Zainul Am
  • Karen Armstrong
Armstrong, Karen. Sejarah Tuhan, terj. Zainul Am. Bandung: Mizan, 2002.
  • Tenneth T Ghallagher
  • Terj P Epistemologi
  • Hadi
Ghallagher, Tenneth T. Epistemologi, terj. P. Hardono Hadi. Yogyakarta: Kanisius, 1995.
Abû H} amîd Muh} ammad b. Muh} ammad. Ih} yâ' Ulûm al-Dîn Beirut: Dâr al-Fikr
  • Ghazâlî
Ghazâlî (al), Abû H} amîd Muh} ammad b. Muh} ammad. Ih} yâ' Ulûm al-Dîn, Vol. 3. Beirut: Dâr al-Fikr, 1980. -----. Mishkât al-Anwâr. Kairo: Dâr al-Fahm, 1964.
  • Komarudin Hidayat
  • Memahami Bahasa Agama
Hidayat, Komarudin. Memahami Bahasa Agama. Jakarta: Paramadina, 1996.
al-Tas} awwuf al-Islâmî bayn al-Dîn wa al-Falsafah. Kairo: Dâr al-Nahd} ah al
  • Ibrahîm Hilâl
Hilâl, Ibrahîm. al-Tas} awwuf al-Islâmî bayn al-Dîn wa al-Falsafah. Kairo: Dâr al-Nahd} ah al-'Arabî, 1969.
Filsafat dan Mistisisme dalam Islam
  • Harun Nasution
Nasution, Harun. Filsafat dan Mistisisme dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1991.
Mistik dalam Islam, terj. Tim Penerjemah Bumi Aksara
  • Reynold A Nicholson
Nicholson, Reynold A. Mistik dalam Islam, terj. Tim Penerjemah Bumi Aksara. Jakarta: Bumi Aksara, 1998.
Islam dan Masyarakat Modern
  • Simuh
Simuh. " Islam dan Masyarakat Modern ", dalam H. M. Amin Syukur (ed), Tasawuf dan Krisis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003.