ArticlePDF Available

Abstract

Perbedaan pandangan tentang tafsiran seribu tahun, pengangkatan dan masa kesengsaraan tidak harus menjadi dasar terpisahnya persekutuan. Namun, satu yang pasti bahwa Yesus Kristus pasti datang kembali yang kedua kali, dimana kedatanganNya akan membawa penghakiman bagi orang yang tidak percaya dan mahkota bagi yang percaya dan orang percaya akan hidup dengan Kristus dalam Langit dan Bumi baru selama-lamanya. Pesan Rasul Paulus dalam 1Tesalonika 4:13-18, ia menunjukkan bahwa kedatangan Tuhan merupakan dasar pengharapan bagi orang-orang percaya dan bahwa kita harus saling menghibur dengan pengharapan ini. Persiapan yang terbaik untuk menyongsong kedatangan Yesus yang kedua kalinya adalah dengan cara hidup dalam ketaatan terhadap Firman Tuhan, memiliki persekutuan yang erat dengan Tuhan serta terlibat dalam pelayanan penginjilan sebagai Amanat Agung dan pelayanan sosial-diakonia. (bdg. Matius 28:18-20; Matius 24:14;2Tesalonika 3:6-13).
BAB I
JENIS-JENIS PANDANGAN ESKATOLOGI
A. Pandangan Millenialisme
Ada empat pandangan tentang kerajaan seribu tahun (Milenium) dalam hubungannya
dengan kedatangan Yesus yang kedua kalinya yaitu pandangan Amillenialisme,
Postmillenialisme, Premillenialisme Historis dan Premillenialisme-Dispensasional.
1
1. Amillenialisme
Awalan ‘A’ berarti ‘tidak’ / ‘no’. Jadi kata Amillennialisme berarti pandangan
yang mengatakan bahwa tidak akan ada Kerajaan Allah yang bersifat politikal, atau
Kerajaan seribu tahun secara literal dibumi karena diartikan simbolis. Walaupun
mereka percaya tentang kedatangan Kristus yang kedua kali, namun mereka menolak
pandangan pemerintahan Kristus di bumi selama 1000 tahun secara literal.
2
Tokoh-
tokoh yang mempertahankan pandangan ini diantaranya ialah: Louis Berkhof,
Anthony A. Hoekema, William
Hendrickson, James A. Hughes, dan B. B. Warfield.
2. Postmillenialisme
Awalan ‘post’ berarti setelah’/ ‘after’. Jadi Postmillennialisme adalah pandangan
yang percaya bahwa Kristus akan datang setelah Kerajaan seribu tahun. Mereka
percaya ada Kerajaan seribu tahun di bumi, namun bukan Kerajaan yang di bawah
pemerintahan Kristus, karena Kristus baru akan datang setelah akhir dari masa
Kerajaan ini. Mereka percaya bahwa dunia akan memasuki masa damai, aman,
sejahtera dan semua keadaan ini gerejalah yang harus menciptakannya.
3
Pandangan ini
berdasarkan keyakinan bahwa pekabaran Injil akan begitu berhasil sehingga seluruh
1
Robert G. Clouse ed., The Meaning the Millennium:Four Views (Illinois:InterVarsity Press, 1977)
2
Eddy Peter Purwanto, Teologi Perjanjian Versus Dispensasionalisme (Tangerang: STTI
PHILADELPHIA, 2004), 64 diakses tanggal 12 Maret 2011; tersedia di
www.philadelphiainternational.com/modul%20dispensasionalisme.pdf
3
Eddy Peter Purwanto, Teologi Perjanjian Versus Dispensasionalisme, 65.
bumi akan bertobat. Lalu, pada saat pemberitaan Injil mencapai puncak
keberhasilannya Kristus akan datang kembali. Mereka percaya bahwa dunia akan
dikristenkan sebelum kedatangan Tuhan Yesus.
4
3. Premillenialisme Historis dan Premillennialisme Dispensasional
Awalan pre’ berarti ‘sebelum’/’before’. Jadi Premillennialisme adalah pandangan
yang mengatakan bahwa Kristus akan datang dan mendirikan Kerajaan yang penuh
damai dan kebenaran di bumi selama seribu tahun secara literal (Why. 20:1-7).
5
Premillennial Dispensasional bahwa kedatangan Kristus kedua kalinya terdiri atas
dua peristiwa yang terpisah selama kurang lebih tujuh tahun. Peristiwa pertama
adalah parousia, yaitu ketika Kristus datang di awan-awan untuk menjemput orang
kudus-Nya (Mat. 24:30-31). Bersama-sama dengan mereka akan diangkat (rapture) di
udara, merayakan perkawinan anak Domba dan selama-lamanya akan bersama dengan
Tuhan. Pada akhir masa tujuh tahun ini, pewahyuan akan segera mengikutinya, yaitu
kedatangan Tuhan ke bumi memerintah selama seribu tahun.
6
Premillenialisme historis adalah doktrin yang menyatakan Kedatangan Kritus
Kedua kalinya, Yesus akan memerintah selama seribu tahun di bumi sebelum
penyempurnaan tujuan penebusan Allah dalam langit baru dan bumi baru di zaman
yang akan datang.
7
Pandangan ini percaya kepada pengharapan kita yang penuh
bahagia” (Titus 2:13), yaitu kedatangan Tuhan Yesus Kristus Juruselamat kita yang
terjadi sebelum kerajaan seribu tahun dan Ia sendiri yang akan datang. Hal itu akan
terjadi pada saat kapan saja, dalam waktu yang tidak lama lagi.
8
Pandangan ini
menekankan adanya dua kali kebangkitan orang mati, yaitu pada awal dan akhir
4
Millard J. Erickson, Teologi Kristen Volume Tiga (Malang: Gandum Mas, 2004), 538.
5
Millard J. Erickson, Pandangan Kontemporer Dalam Eskatologi,114.
6
Louis Berkhof, Teologi Sistematika Volume 6: Doktrin Akhir Jaman (Jakarta: Lembaga Reformed Injili
Indonesia,1997), 98-99.
7
George Eldon Ladd, “Premillenialisme Historis” dalam The Meaning the Millennium:Four Views, 17.
8
J. Wesley Brill, Dasar Yang Teguh (Bandung: Kalam Hidup, 1980), 321; dikutip dari V. Raymond
Edman, The Perspectives of Premillennialism.
kerajaan seribu tahun (Millenium). Dasar pandangan ini adalah Wahyu 20 tentang
seribu tahun yang ditafsirkan secara harafiah. Ketika Kerajaan seribu tahun dimulai,
orang Kristen yang bersaksi dan menjadi ‘martir’, adalah pertama-tama dibangkitkan,
setelah seribu tahun ini berakhir, terjadi kebangkitan yang kedua, orang yang fasik
yang tidak beriman akan menerima penghukuman (Wahyu 20:5, 11-15).
9
BAB II
PEMILIHAN PANDANGAN PREMILLENIALISME HISTORIS
A. Kerajaan Seribu Tahun
Ciri pertama yang penting dari premillenialisme adalah pemerintahan Kristus di bumi
yang terbentuk oleh kedatangan-Nya yang kedua. Premillenialisme menyatakan bahwa
akan ada satu periode waktu diman kehendak Allah dilakukan di bumi, periode di mana
pemerintahan Kristus menjadi kenyataan di antara manusia. Pemerintahan ini berarti
bahwa akan terjadi perdamaian, kebenaran dan keadilan sepenuhnya di antara manusia.
Beberapa penganut ini menyatakan periode ini secara harfiah tepat seribu tahun
panjangnya.
10
Pandangan ini didasarkan pada penafsiran Wahyu 20:1-6, tentang adanya
pemerintahan Kristus selama seribu tahun. Lain halnya pandangan postmillenialisme
adalah pandangan yang percaya bahwa Kristus akan datang setelah Kerajaan seribu tahun.
Mereka percaya ada Kerajaan seribu tahun di bumi, namun bukan Kerajaan yang di bawah
pemerintahan Kristus, karena Kristus baru akan datang setelah akhir dari masa Kerajaan
ini. Mereka percaya bahwa dunia akan memasuki masa damai, aman, sejahtera dan semua
keadaan ini gerejalah yang harus menciptakannya.
11
Pandangan ini berdasarkan keyakinan
9
Peter Wongso, Hermeneutika Eskatologi (Metode penafsiran Ajaran Akhir Jaman), 161.
10
11
bahwa pekabaran Injil akan begitu berhasil sehingga seluruh bumi akan bertobat. Lalu,
pada saat pemberitaan Injil mencapai puncak keberhasilannya Kristus akan datang
kembali. Mereka percaya bahwa dunia akan dikristenkan sebelum kedatangan Tuhan
Yesus.
12
Lain pula dengan pandangan Amillennialisme dengan tegas mengatakan bahwa
tidak akan ada Kerajaan Allah yang bersifat politikal, atau Kerajaan seribu tahun secara
literal dibumi karena diartikan simbolis. Walaupun mereka percaya tentang kedatangan
Kristus yang kedua kali, namun mereka menolak pandangan pemerintahan Kristus di
bumi selama seribu tahun secara literal.
13
Millard J. Erickson, Pandangan Kontemporer Dalam Eskatologi, 112-113.
11
Eddy Peter Purwanto, Teologi Perjanjian Versus Dispensasionalisme, 64.
12
Ibid. hal. 65
13
Erickson, Millard J., Teologi Kristen Volume Tiga. Malang: Gandum Mas, 2004, hal. 538.
Pandangan saya untuk memilih pandangan premillenialisme ini karena menurut
pandangan postmillenialisme yang terlalu optimisme terhadap keadaan dunia yang akan
semakin membaik namun kenyataan yang kita hadapi dunia semakin hari semakin rusak.
Millenium ini tidak akan diwujudkan melalui teknik-teknik manusia atau perkembangan
sosial, misalnya dengan Injil sosial seperti pandangan postmilleanisme. Dalam kenyataan
hal ini akan didahului oleh kemerosotan rohani dan sosial (bdg. Mat. 24:12).
14
Setelah
kedatangan Yesus kedua kali maka pemerintahan Kristus ini akan mencakup dimensi
politik, perdamaian yang menyeluruh di dunia. Dalam bahsa nubuat, padang akan ditempa
menjadi mata bajak dan tombak-tombak menjadi pisau pemangkas, dan bangsa tidak akan
lagi mengangkat pedang terhadap bangsa (Yes. 2:4;Mikha 4:3). Hal ini merupakan
keharmonisan yang sesungguhnya. Selain itu juga akan ada keharmonisan antara makhluk
ciptaan pada masa millennium (Yes. 11:8-9;65: 25). Gambaran mengenai Yesus yang
membuat danau menjadi teduh dengan cara menghardik angin (Mat. 8: 26) merupakan
pengharapan tentang apa yang akan terjadi pada masa millennium.
15
12
13
Pendapat saya berbeda dalam hal masa periode yang diartikan secara harfiah, yaitu
seribu tahun. Berdasarkan kata seribu tahun (chilioi:bahasa Yunani
)
16
dalam kitab Wahyu
20:1-6 tidak dapat diartikan secara literal seperti juga halnya kitab nubuatan Daniel.
Wahyu 20:4,6 mengatakan bahwa orang Kristen akan bersama Kristus menjadi raja
selama seribu tahun. Ini tidak berarti Kristus baru mulai menjadi Raja ketika itu. Makna
sebenarnya, Kristus sudah menjadi Raja secara rohani dalam hati kita dimulai saat ini,
tidak saja pada saat Ia mendirikan Kerajaan seribu tahun.
17
Saya sangat setuju bahwa
setelah kedatangan Yesus yang kedua kali (parousias)
ada pemerintahan bersama Kristus,
tetapi waktunya tidak secara literal. “Akan tetapi, saudara-saudaraku yang kekasih, yang
satu ini tidak boleh kamu lupakan, yaitu, bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti
seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari.”
18
14
Ibid, hal. 113.
15
Ibid, hal. 126-127.
16
Strong, James,.Dictionaries of Hebrew and Greek Words diambil Strong's Exhaustive Concordance,
1890. s.v. chilioi. Penggunaan kata ini terdapat juga dalam Why. 11:3;12:6;14:20; 20: 2-7; dan 2Pet. 3:8.
17
Wongso, Peter. Hermeneutika Eskatologi (Metode penafsiran Ajaran Akhir Jaman). hal.154
18
Alkitab. Alkitab Terjemahan Bahasa Indonesia. 2Petrus 3:8.
Lembaga Alkitab Indonesia, 2004.
B. Dua Kebangkitan
Pandangan Premillenialisme berpendapat bahwa kebangkitan yang disebutkan dalam
Wahyu 20:4-6 kedua-duanya pada hakikatnya bersifat jasmani.
19
Kedua kebangkitan
dalam Wahyu 20:4-6 dapat dibedakan atas dasar orang-orang yang terlibat di dalamnya
dan bukan atas dasar hakikat mereka seperti pandangan amillenialisme dan
postmillenialisme.
20
Pandangan amillenialisme mengatakan bahwa Kebangkitan yang
pertama bersifat rohani, sedangkan kebangkitan kedua mungkin bersifat jasmani atau
rohani.
21
James A.Hughes yang berpandangan sama mengemukakan kedua kebangkitan
itu pada hakikatnya sama. Kebangkitan yang pertama bersifat rohani, kenaikan jiwa ke
surga. Kebangkitan kedua juga bersifat rohani, tetapi hal ini bersifat hipotesis.
22
Lain
halnya lagi dengan pandangan postmillenialisme tentang penjelasan Wahyu 20:1-6
tentang kebangkitan yang pertama merupakan masalah dilahirkan kembali dan
kebangkitan bersama Kristus (Efesus2:1-6;Roma 6:4-6). Ketika mereka bersaksi bagi
Kristus di dunia ini, mereka telah bersama Kristus menikmati kemenangan rajawi (Mat.
28:18-20; Luk. 24:49;Kis.1:8). Kebangkitan yang kedua menunjukkan kebangkitan
jasmaniah. Ini bersifat universal, yakni semua orang mati akan dibangkitkan. Orang benar
dibangkitkan untuk beroleh pahala, namun orang fasik dibangkitkan untuk dihakimi.
23
Pandangan saya pribadi setuju dengan penafsiran pandangan premillenialisme secara
harfiah, yaitu kebangkitan jasmani. Kata
ézēsan
24
dalam Wahyu 20:4,5 menunjukkan arti
kata yang sama. Pada ayat 4 ditujukan untuk orang yang mati untuk Kristus, mereka
hidup (bangkit) dan ayat 5 menunjukkan pada orang-orang mati yang lain yaitu di luar
Kristus tidak hidup sampai akhir seribu tahun. Maksud Wahyu 20:4,5 dengan kata
ézēsan
harus diberikan penafsiran berdasarkan arti bahwa orang-orang Kristen yang mati demi
Kristus dibangkitkan bersama Kristus dan mereka akan memerintah sebagai raja bersama
Kristus.
25
19
Erickson, Millard J., Pandangan Kontemporer Dalam Eskatologi. 2000, hal. 121.
20
Ibid, hal. 114.
21
Ibid, hal. 93.
22
Ibid, hal. 102
23
Wongso, Peter. 1992, hal. 188
24
Zodhiates, Spiros, The Complete Word Study Dictionary. AMG International, Inc.,1992 .s.v.
ezesan
25
Wongso, Peter. hal.155. Lihat penjelasan dalam ayat Yoh. 5:24-29;6:55-58;Filipi 3:10-11; 2Tim. 2:11-13.
C. Tribulasional
Dari semua pandangan yang ada saya memilih pandangan premillenialisme historis
dan bukan pandangan dispensasional. Pandangan premillenialisme historis menolak
adanya pengangkatan gereja. Ada persamaan dengan postmillenialisme yang mana
pandangan ini mengharapkan bahwa millenium itu dinyatakan dalam sebuah pengaruh
Roh Kudus yang supranatural,
26
namun perbedaannya terletak pada masanya. Jika
premillenialisme setelah kedatangan Yesus yang kedua, maka postmillenialisme sebelum
kedatangan Yesus yang kedua kalinya. Saya tidak memilih pandangan premillenialisme
dispensasional karena adanya perbedaan antara gereja dan Israel. Saya setuju bahwa
semua nubuatan yang berhubungan dengan Israel diinterpretasikan secara rohani
berhubungan dengan gereja. Gereja adalah Israel rohani artinya bahwa walaupun bangsa
Israel menolak Yesus, namun pada masa yang akan datang Israel akan berpaling kepada
Kristus dan diselamatkan (Roma 11:15-16).
27
Dalam hal ini tentunya pandangan
Premillennial Dispensasional berbeda dengan premillenilisme historis bahwa kedatangan
Kristus kedua kalinya terdiri atas dua peristiwa yang terpisah selama kurang lebih tujuh
tahun. Peristiwa pertama adalah parousia, yaitu ketika Kristus datang di awan-awan untuk
menjemput orang kudus-Nya (Mat. 24:30-31). Bersama-sama dengan mereka akan
diangkat (rapture) di udara, merayakan perkawinan anak Domba dan selama-lamanya
akan bersama dengan Tuhan. Pada akhir masa tujuh tahun ini, pewahyuan akan segera
mengikutinya, yaitu kedatangan Tuhan ke bumi memerintah selama seribu tahun.
28
Pandangan dispensasional berkata bahwa Kristus akan datang kembali sebelum masa
tujuh tahun kesusahan besar untuk mengangkat jemaat-Nya dan akhir kesusahan besar
untuk mendirikan Kerajaan Surga di bumi selama periode waktu seribu tahun secara
literal. Penafsiran didasarkan pada nubuatan Daniel 9: 27; Markus 13:14;Lukas 21: 20.
29
26
Berkhof, Louis, Teologi Sistematika Volume 6: Doktrin Akhir Jaman. Jakarta: Lembaga
Reformed Injili Indonesia,1997,
hal. 107-108.
27
Erickson, Millard J., Pandangan Kontemporer Dalam Eskatologi. hal. 128-129.
28
Ibid. hal. 161
29
Purwanto,Eddy Peter,. hal.65. Penafsiran didasarkan nubuatan pada Daniel 9: 27; Markus 13:14;Lukas
21: 20.
Berdasarkan Matius 24:21, “Sebab pada masa itu akan terjadi siksaan yang dahsyat
seperti yang belum pernah terjadi sejak awal dunia sampai sekarang dan yang tidak akan
terjadi lagi.” Saya berpendapat bahwa kesengsaraan besar akan terjadi dan lebih dahsyat
daripada yang terjadi di masa Yesus dan murid-murid Yesus seperti Petrus dan Paulus.
Penderitaan yang dialami Yesus di dunia ini boleh dikatakan sebagai penderitaan yang
paling besar. Tetapi Alkitab memberitakan kepada kita: “Ia yang dengan mengabaikan
kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia” (Ibr. 12:2). Rasul
Paulus juga adalah orang Kristen yang mengalami berbagai penderitaan, tetapi ia beroleh
penghiburan dalam Kristus, bahkan ia menganggap biasa segala penderitaan yang
dialaminya. Hal inilah yang menjadi kesulitan untuk menerima pandangan dispensasional.
30
Pendapat saya didukung dengan eksegesis kata Penyiksaan atau kesengsaraan
(thlipsin: kesukaran, kesengsaraan, siksaan dan kesusahan) berdasarkan Matius 24:9.
Dalam bahasa Yunani memiliki pengertian diperas atau ditekan bersama-sama.
31
Kata ini
untuk melukiskan suatu malapetaka besar yang akan terjadi. Hanya dalam Mat. 24:21,29;
Mar.13:19,24; Why. 7:14 dipakai 5 kali istilah ini. Dalam bahasa Inggris disamakan
dengan kata tribulation diambil dari bahasa Latin tribulum. Kata ini digunakan dalam
pandangan eskatologi yang menyatakan adanya kesangsaraan besar sebelum Kedatangan
Yesus kedua kali.
32
Menurut saya sebagai orang percaya masa kesusahan besar itu harus
dialami orang percaya (Mat. 24:9-12;Why.12:2;Rm. 8:17) tetapi waktunya singkat
mengingat orang-orang pilihan
33
dan Tuhan akan memberikan kekuatan untuk bertahan
supaya selamat.
34
Ciri khas akhir zaman adalah bertambahnya kedurhakaan seperti
kemesuman, pemberontakan kepada Allah dan perbuatan amoral, perzinahan, pornografi,
penggunaan obat-obat terlarang, sex bebas, hiburan yang memuaskan nafsu yang
merajalela. Yesus mengatakan bahwa ketika itu terjadi maka kasih akan sangat berkurang,
dan
menjadi dingin. Segala kedurhakaan ini makin hebat menjelang akhir zaman.
35
30
Wongso, Peter .1992, hal. 304.
31
Wongso, Peter 1992, hal. 313, s.v. thlipsis. Penggunaan kata ini digunakan dalam Mat.
24:21,29; Mar.13:19,24; Why. 7:14; Kata ini juga terdapat dalam surat-surat Rasul Paulus yaitu :
2Kor. 1:3-11;4;7-18;6:3-10;11:16-33.
32
Wongso, Peter 1992, hal. 304.
33
Alkitab. Matius 24:22.
34
Alkitab. Matius 24:13; 1Tes. 4:13-18.
35
Stamps, Donald .C. , Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan Jakarta: Gandum Mas dan
LAI , 1992,hal. 1610.
Selanjutnya saya jelaskan frase maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.
Kalimat pada ayat 12 adalah sebab akibat .Kata psúchō yang berarti menjadi dingin dalam
bahasa Inggris adalah wax cold atau grow cold. Artinya nafas spiritual yang ada dalam
kasih Kristus lambat laun menjadi dingin (tidak berapi-api lagi).
36
Matius 24:10-12, adalah
ayat-ayat khas Matius dan mendaftarkan kebanyakan dari bencana rohani yang dapat
menimpa jemaat Kristen yakni murtad, pengkhianatan, saling membenci, ajaran sesat dan
ketiadaan kasih yang akan terjadi sangat hebat menjelang kedatangan Yesus kedua kali.
37
Kasih yang menjadi dingin (24: 12b) menunjukkan terjadinya kemurtadan di dalam
hati orang. Kemurtadan di hati adalah bentuk kedurhakaan yang terjadi dimulai dari hati
manusia dan meluap melalui perbuatan. Kemurtadan di hati itu adalah seorang Kristen
yang meninggalkan kasihnya yang mula-mula dan mencari kesenangan duniawi dan suatu
formalitas penampilan luar dalam praktek-praktek agamawi. Yesus mengajarkan bahwa
kita dapat pulih dan mendapatkan kasih kita yang semula dengan cara bertobat dan
melakukan lagi apa yang semula telah dilakukan dalam pengabdian dengan Tuhan (Why.
2:5).
38
Pandangan dispensasional bahwa Yesus akan datang untuk gereja-Nya sebelum masa
kesengsaraan yang besar untuk “mengangkatnya” keluar dari dunia ini. Kata rapture
(mengangkat) ini berasal dari kata rapere yaitu terjemahan dalam bahasa Latin dari
“diangkat” dalam 1Tesalonika 4:17. Kedatangan Kristus untuk gereja akan mencakup
orang-orang percaya yang diangkat dari bumi dan bertemu dengan Kristus di angkasa.
Kristus tidak akan turun ke bumi, seperti yang akan dilakukannya pada kedatangan yang
kedua (yaitu kedatangan bersama gereja) ketika Ia turun ke Bukit Zaitun.
39
Edward Irving
menerima ajaran ini dan juga seorang tokoh Plymouth Brethren John Darby, C.H.
Machintosh dan C.I. Scoofield yang memiliki catatan Alkitab sehingga menjadikan
pandangan ini terkenal.
40
36
Spiros Zodhiates, 1992. s.v. psúchō. Bandingkan kata ini dengan konteks Why. 3:15-16
memiliki tujuan yang sama.
37
Donald Guthrie, Alec Motyer, Alan M. Stibbs dan Donald J. Wiseman. Tafsiran Alkitab
Masa Kini 3: Matius-Wahyu. Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1976. Tafsiran Mat. 24:10-12 oleh R.E.
Nixon.
38
Sharon Daugherty. Mewaspadai Tipu Daya Setan. Surabaya: Metanoia, 2004, hal. 166-167.
Dikutip dari khotbah Charles G. Finney dari Kebangunan Rohani tahun 1868.
39
Erickson, Millard J., Pandangan Kontemporer Dalam Eskatologi. hal. 184-185
40
Rawan, Obadja A. Khotbah Tuhan Yesus Tentang Akhir Zaman. Bandung: Cipta Olah Pustaka,1999,
hal.128.
Pandangan saya adalah meragukan pandangan dispensasional yang memiliki
keterbatasan dalam menjelaskan penggunaan kata rapture. Oleh karena itu, menurut
pandangan premillenialisme historis menganut paham posttribulasional mengatakan gereja
tidak akan diangkat dari dunia sebelum masa kesengsaraan, tetapi akan mengalaminya
dan dapat bertahan oleh kasih karunia dan kekuatan Allah. Para penganut
posttribulasionalisme tidak percaya bahwa pengangkatan (rapture) itu akan terjadi selama
masa kesengsaraan, karena mereka tidak menggunakan istilah pengangkatan dan peralihan
(yang tidak satu pun diantaranya merupakan istilah Alkitab) dan mereka tidak
mendapatkan bukti-bukti dalam Alkitab mengenai pembebasan semacam ini dari
penderitaan besar yang akan datang.
41
Para penganut pandangan ini memiliki sebuah
pengharapan, namun bukan pengharapan untuk pembebasan dari masa kesengsaraan yang
akan datang.
42
Untuk lebih tepat lagi saya mencoba melihat asal kata rapture itu. Kata
rapture adalah bahasa Inggris yang dimaknai dari 1Tesalonika 4:17 dalam bahasa Yunani
digunakan kata dasar
harpázō.
43
Berdasarkan penggunaan kata ini dalam Alkitab
diterjemahkan “tiba-tiba diangkat” dan akan diangkat dalam bahasa Inggris “caught
up”. Apabila kita menyelidiki Alkitab waktu Yesus terangkat ke Surga, kata yang
digunakan adalah
analambanō
44
yang berarti dalam bahasa Inggris take up”, yang
artinya terangkat.
Untuk menafsirkan Surat Paulus1Tesalonika 4:17 maka kita perlu memerhatikan
keseluruhan perikop itu. Seringkali ayat diatas diartikan sebagai gereja yang diangkat di
awan-awan permai dalam menghindari anti-Kristus, sehingga mereka tidak bertemu
dengan anti-Kristus. Paulus tidak pernah mengajarkan melalui surat-suratnya tentang
pengangkatan, malahan isi suratnya berisi tentang bagaimana Paulus banyak menanggung
penderitaan (2Kor. 11: 23-29). Pengajaran ini muncul dimulai dari sebuah wahyu
penglihatan tentang pengangkatan orang-orang kudus sebelum aniaya besar yang
diperoleh oleh Margareth MacDonald (1830). Dari sini timbul doktrin-doktrin modern
yang tidak berasal dari Alkitab.
45
41
Erickson, Millard J., Pandangan Kontemporer Dalam Eskatologi. hal. 161
42
Ibid. hal. 187
43
Spiros Zodhiates (Editor), The Complete Word Study Dictionary.AMG International, Inc. U.S.A., 1992). s.v.
harpazo. Penggunaan kata ini juga digunakan dalam Kis. 8:
39; 2Kor. 12: 2; 12:4; 1Tes. 4:17; Wahyu 12:5.
44
Ibid.1992, s.v. analambanō. Penggunaan kata ini dipakai untuk arti terangkat ke surga. Bandingkan dengan
kata paralambanō. yang tidak memiliki arti terangkat (Mat. 24:40-41) namun arti dibawa artinya diterima oleh
Tuhan.
45
Rawan, Obadja A. Khotbah Tuhan Yesus Tentang Akhir Zaman. Bandung: Cipta Olah Pustaka,1999, hal.
127-128.
Pengajaran utama yang lain dari pandangan rapture adalah perbedaan masa
kesengsaraan dan kemurkaan. Gereja ada selama masa kesengsaraan, tetapi diangkat sebelum
dinyatakan murka Allah. Pandangan ini percaya bahwa waktunya akan dipersingkat karena
orang-orang pilihan (Matius 24:21-22;bdg. Markus 13:19-20).
46
Pandangan inipun saya tidak
setuju, justru kita harus mengalami penderitaan sebagaimana Tuhan Yesus sudah menderita
untuk keselamatan kita maka kita wajib menderita bagi Dia dan sesama kita (1Yoh. 3:16).
Pendukung utama dari Posttribulasionalisme yang segera terjadi, J. Barton Payne,
berargumentasi bahwa munculnya Kristus itu sudah dekat, tetapi peristiwa ini akan mengikuti
dan bukan mendahului masa kesengsaraan yang besar. Dalam pembahasan Payne, hal yang
paling mudah untuk memulai adalah kesegeraan.
47
Hanya ada satu kedatangan kedua yang
“utuh” sesudah masa kesengsaraan. Kedatangan Kristus juga sudah dekat.
48
Kata kesegeraan bisa jadi memiliki rentang waktu yang sangat lama atau sebaliknya.
Pandangan ini akan memberikan dampak negatif, sebaiknya kesegeraan itu diartikan sebagai
suatu sikap berjaga-jaga dengan sikap kita untuk menantikan kedatangan Yesus kedua
kalinya, walaupun masa kesengsaraan tiba ada harapan yang baik bahwa Injil Kerajaan itu
akan diberitakan ke seluruh dunia dan inilah tanggung jawab kita untuk Amanat Agung-Nya
(Mat. 28:19-20). Jadi, saya tetap mempertahankan postribulasionalisme dari pandangan
premillenialisme historis yang dianut oleh George Eldon Ladd.
46
Erickson, Millard J., Pandangan Kontemporer Dalam Eskatologi. hal. 211.
47
Ibid. hal. 223.
48
Ibid. hal. 232.
BAB III
KESIMPULAN
Perbedaan pandangan tentang tafsiran Kerajaan seribu tahun, pengangkatan dan masa
kesengsaraan tidak harus menjadi dasar terpisahnya persekutuan. Namun, satu yang pasti
bahwa Yesus Kristus pasti datang kembali yang kedua kali, dimana kedatanganNya akan
membawa penghakiman bagi orang yang tidak percaya dan mahkota bagi yang percaya dan
orang percaya akan hidup dengan Kristus dalam Langit dan Bumi baru selama-lamanya.
Pesan Rasul Paulus dalam 1Tesalonika 4:13-18, ia menunjukkan bahwa kedatangan
Tuhan merupakan dasar pengharapan bagi orang-orang percaya dan bahwa kita harus saling
menghibur dengan pengharapan ini. Persiapan yang terbaik untuk menyongsong kedatangan
Yesus yang kedua kalinya adalah dengan cara hidup dalam ketaatan terhadap Firman Tuhan,
memiliki persekutuan yang erat dengan Tuhan serta terlibat dalam pelayanan penginjilan
sebagai Amanat Agung dan pelayanan sosial-diakonia. (bdg. Matius 28:18-20; Matius
24:14;2Tesalonika 3:6-13).
Perbuatan kita sebagai orang yang percaya kepada Yesus Kristus harus menjalin
hubungan yang harmonis dengan Tuhan (Mat. 22:37), kembali kepada kasih yang semula
yaitu dengan bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan (Wahyu 2:5)
dan berjaga-jagalah menghadapi penganiayaan dan tetap teguh (Mat. 24:42,44; Wahyu 3:3);
sikap bersabar dan meneguhkan hati untuk menantikan kedatangan Yesus Kristus (1Petrus
5:7-9) dan pengharapan akan kedatangan-Nya (Wahyu 22:7, 20).
KEPUSTAKAAN
Alkitab. Alkitab Terjemahan Bahasa Indonesia. Jakarta:
Lembaga Alkitab Indonesia,2004.
Berkhof, Louis, Teologi Sistematika Volume 6: Doktrin Akhir Jaman. Jakarta: Lembaga
Reformed Injili Indonesia,1997.
Brill, J.Wesley, Dasar Yang Teguh. Bandung: Kalam Hidup, 1980.
Clouse, Robert G., ed., The Meaning the Millennium:Four Views. Illinois:InterVarsity Press,
1977.
Erickson, Millard J., Teologi Kristen Volume Tiga. Malang: Gandum Mas, 2004.
Erickson, Millard J., Pandangan Kontemporer Dalam Eskatologi. Malang:SAAT, 2009.
Purwanto,Eddy Peter, Teologi Perjanjian Versus Dispensasionalisme. Tangerang: STTI
PHILADELPHIA, 2004 dalam website
www.philadelphiainternational.com/modul%20dispensasionalisme.pdf
Rawan, Obadja A. Khotbah Tuhan Yesus Tentang Akhir Zaman. Bandung: Cipta Olah
Pustaka,1999,
Strong, James,.Dictionaries of Hebrew and Greek Words. Strong's Exhaustive Concordance,
1890
Wongso, Peter. Hermeneutika Eskatologi (Metode penafsiran Ajaran Akhir Jaman).
Malang:SAAT, 1992.
Zodhiates, Spiros, The Complete Word Study Dictionary. AMG International, Inc.,1992
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ................................................................................................................. i
PANDANGAN-PANDANGAN ESKATOLOGI ....................................................... 1
A. Pandangan Millenialisme ....................................................................................... 1
1. Amillenialisme ..................................................................................................... 1
2. Postmillenialisme ................................................................................................. 2
3. Premilleniaisme Historis dan Premillenialisme Dispensasional ...................... 3
B. Pandangan tentang Millennium dalam Sejarah Gereja ..................................... 5
1. Pandangan Millennial Para Pemimpin Gereja Mula-Mula .......................... 5
2. Dari Amillennium ke Postmillennium ............................................................. 7
3. Pembaharuan Premillennialisme ..................................................................... 8
C. Tribulasional ........................................................................................................... 8
1. Pretribulasional-Premillennial ........................................................................ 8
2. Posttribulasional-Premillennial ....................................................................... 9
3. Midtribulasional-Premillennial (Posisi Tengah) ........................................... 10
4. Pandangan Pengangkatan Sebagian ............................................................... 10
5. Posttribulasionalisme yang segera terjadi ...................................................... 10
D. Pembahasan tentang Pandangan-Pandangan Eskatologi .................................. 11
E. Kesimpulan .............................................................................................................. 12
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................... 13
ResearchGate has not been able to resolve any citations for this publication.
Alkitab Terjemahan Bahasa Indonesia
Alkitab. Alkitab Terjemahan Bahasa Indonesia. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia,2004.
  • Louis Berkhof
  • Teologi Sistematika
Berkhof, Louis, Teologi Sistematika Volume 6: Doktrin Akhir Jaman. Jakarta: Lembaga Reformed Injili Indonesia,1997.
The Meaning the Millennium:Four Views
  • Robert G Clouse
Clouse, Robert G., ed., The Meaning the Millennium:Four Views. Illinois:InterVarsity Press, 1977.
Teologi Perjanjian Versus Dispensasionalisme. Tangerang: STTI PHILADELPHIA
  • Eddy Purwanto
  • Peter
Purwanto,Eddy Peter, Teologi Perjanjian Versus Dispensasionalisme. Tangerang: STTI PHILADELPHIA, 2004 dalam website www.philadelphiainternational.com/modul%20dispensasionalisme.pdf
Khotbah Tuhan Yesus Tentang Akhir Zaman
  • Obadja A Rawan
Rawan, Obadja A. Khotbah Tuhan Yesus Tentang Akhir Zaman. Bandung: Cipta Olah Pustaka,1999,
Dictionaries of Hebrew and Greek Words. Strong's Exhaustive Concordance
  • James Strong
Strong, James,.Dictionaries of Hebrew and Greek Words. Strong's Exhaustive Concordance, 1890
The Complete Word Study Dictionary
  • Spiros Zodhiates
Zodhiates, Spiros, The Complete Word Study Dictionary. AMG International, Inc.,1992