ArticlePDF Available

Perbandingan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2008, Standard BANPT dan Total Quality Management di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Authors:

Abstract

Implementation of ISO Quality Management System (QMS) at UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang shows the spirit of the modernization of the campus management system. Application of ISO QMS is intended to facilitate the leaders of the campus to meetStandard of BAN-PT while building TQM. This research is focused on the comparative analysis of the implementation of ISO QMS, the role of Standard of BANPT and application of TQM in UIN Maliki Malang. The approach used is qualitative research, with data collection techniques such as interviews, observation and document study. This research finds that, among others, UIN’s leaders and internal stakeholders have sought to implement the clauses of ISO QMS correctly and consistently; and increase theinvolvement of academicians in sustainable campus quality improvement efforts. Implementation of QMS ISO becomesa medium to fulfill the Standard of BANPT as well as the foundation for the implementation of TQM.
141
Hasyim Asy’ari
Perbandingan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2008, Standard BAN-PT
dan Total Quality Management di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Jurnal Pendidikan Islam :: Volume IV, Nomor 1, Juni 2015/1436
Abstract
Implementation of ISO Quality Management System (QMS) at UIN Maulana
Malik Ibrahim (Maliki) Malang shows the spirit of the modernization of the campus
management system. Application of ISO QMS is intended to facilitate the leaders of the
campus to meetStandard of BAN-PT while building TQM. This research is focused on the
comparative analysis of the implementation of ISO QMS, the role of Standard of BAN-
PT and application of TQM in UIN Maliki Malang. The approach used is qualitative
research, with data collection techniques such as interviews, observation and document
study. This research finds that, among others, UIN’s leaders and internal stakeholders
have sought to implement the clauses of ISO QMS correctly and consistently; and and
increase theinvolvement of academicians in sustainable campus quality improvement
efforts. Implementation of QMS ISO becomesa medium to fulfill the Standard of BAN-
PT as well as the foundation for the implementation of TQM.
Keywords: Higher Education Quality, ISO QMS, TQM
Abstrak
Penerapan Sistem Manajemen Mutu (SMM) ISO di UIN Maulana Malik Ibrahim
(Maliki) Malang menunjukkan semangat modernisasi sistem managemen kampus.
Penerapan SMM ISO tersebut dimaksudkan untuk memudahkan pimpinan
kampus dalam memenuhi Standard BAN-PT sekaligus membangun TQM. Riset
ini difokuskan pada analisis komparasi penerapan SMM ISO, peran Standard
BAN-PT dan penerapan TQM diUIN Maliki Malang.Pendekatan penelitian
Perbandingan Sistem Manajemen
Mutu ISO 9001:2008, Standard BAN-
PT dan Total Quality Management di
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
141
Jurnal Pendidikan Islam :: Volume IV, Nomor 1, Juni 2015/1436
Hasyim Asy’ari
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
e-mail:hasyim.asyari@uinjkt.ac.id
DOI : 10.14421/jpi.2015.41.141-157
Diterima: 5 Januari 2015 Direvisi: 18 Maret 2015 Disetujui:7 Mei 2015
142
Hasyim Asy’ari
Perbandingan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2008, Standard BAN-PT
dan Total Quality Management di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Jurnal Pendidikan Islam :: Volume IV, Nomor 1, Juni 2015/1436
yang digunakan adalah kualitatif, dengan teknik pengumpulan data berupa
wawancara, studi dokumen dan observasi.Hasil penelitian antara lain pimpinan
dan stakeholder internal UIN telah berupaya menerapkan klausul-klausul SMM
ISO secara benar dan konsisten, dan meningkatkan keterlibatan sivitas akademika
dalam upaya pembenahan mutu kampus secara berkelanjutan. Penerapan SMM
ISO menjadi media dalam upaya pemenuhan Standar BANT-PT sekaligus fondasi
dalam penerapan TQM.
Kata Kunci :Mutu Perguruan Tinggi,SMM ISO, TQM.
Pendahuluan
Arus globalisasi yang telah bergulir di semua sektor kehidupan selama ini
telah banyak mengubah paradigma berpikir masyarakat. Hal ini tentunya akan
membawa peningkatan harapan dan kebutuhan di semua sektor kehidupan. Salah
satu yang diinginkan oleh masyarakat adalah produk dan layanan yang berkualitas,
tidak terkecuali pendidikan tinggi. Bagi pimpinan Perguruan Tinggi pengaruh
globalisasi merupakan tantangan sekaligus peluang untuk membenahi institusi
serta menunjukkan kapasitasnya untuk mampu menjawab kebutuhan masyarakat
tersebut.
Pada kenyataannya pemerintah dan Perguruan Tinggi diperhadapkan
pada sejumlah permasalahan yang sangat kompleks yang sampai saat ini belum
bisa diselesaikan secara tuntas. Permasalahan dimaksud dan terus menjadi agenda
utama kebijakan pendidikan tinggi adalah mutu Perguruan Tinggi (PT), relevansi,
daya saing dan jumlah sarjana yang menganggur sebagai ekses negatif sistem
PT. Akibat dari kompleksitas permasalahan tersebut PT dinilai belum mampu
menghasilkan output sesuai tuntutan customer, dan belum mampu memberikan
kontribusi maksimal dalam pembangunan bangsa dalam berbagai bidang, termasuk
menghadapi kompetisi global.
1
Hal senada juga dinyatakan oleh Dirjen Pendidikan Islam Kemenag bahwa
permasalahan mendasar yang dihadapi antara lain adalah belum adanya master plan
(HELTS PTI), kualitas SDM, mutu kurikulum, kuantitas dan kualitas penelitian.
Terdapat 3 Agenda penting yang menjadi fokus kebijakan Ditjen Pendidikan
Islam yaitu peningkatan dan pemerataan akses pendidikan; peningkatan mutu,
relevansi dan daya saing; dan peningkatan tata kelola pemerintahan (governance),
akuntabilitas dan pencitraan; termasuk dalam hal ini target 13 PTAIN pada tahun
2014 sudah memenuhi standar ISO 9001.
2
Dalam Renstra Depdiknas 2010-
1
Strategi Jangka Panjang Pendidikan Tinggi (HELTS) 2003 – 2010, Jakarta: Depdiknas.
2
Perencanaan Pembangunan Pendidikan Islam, Ditjen Pendidikan Islam Kemenag, 2010, h.16-20.
143
Hasyim Asy’ari
Perbandingan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2008, Standard BAN-PT
dan Total Quality Management di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Jurnal Pendidikan Islam :: Volume IV, Nomor 1, Juni 2015/1436
2014 (2009:86) juga dinyatakan secara tegas terkait pentingnya penerapan SMM
ISO di lingkungan PT dengan menyebutkan target 300 PTN dan 200 PTS pada
tahun 2012.
3
Permasalahan mendasar sebagaimana fokus kebijakan tersebut sudah
seharusnya menjadi pusat perhatian bersama antara pemerintah, masyarakat dan
dunia usaha, sehingga PT bisa menjadi lebih mudah dalam mengatasi masalah
internal yang krusial sekaligus mampu mengembangkan potensi yang dimiliki
sesuai tuntutan yang berkembang di masyarakat.
Indikator lain terkait mutu PT khususnya PTAI bisa dilihat dari hasil
akreditasi BAN PT terhadap prodi-prodi PTAI sebagaimana data berikut:
Tabel 1 Prosentase Akreditasi Prodi PTAIN
(Data Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Tahun 2014)
Lembaga
PTAIN
Jumlah
Prodi
Terakreditasi
Belum
Terakreditasi
Belum
terakreditasi +
Kedaluarsa
Berlaku Kedaluwarsa
A B C Total % Total % Total % total %
UIN 367 66 133 71 270 73.57 35 9.54 62 16.89 97 26.43
IAIN 361 10 181 83 274 75.9 36 9.97 52 14.4 88 24.38
STAIN 244 4 93 66 163 66.8 15 6.15 67 27.46 82 33.61
Total 972 80 407 220 707 72.74 86 8.85 181 18.62 267 27.47
Dari data di atas dapat diketahui jumlah prodi PTAIN yang sudah diakreditasi
707 dari 972 atau sekitar 72.74%, kedaluarsa 267 prodi (27.47%) dan belum
terakreditasi 181 prodi (18.62%). Jumlah prodi yang mendapat akreditasi A hanya
81 prodi (atau berkisar 8.33%), mendapat nilai B sebanyak 407 prodi (43.07%)
dan nilai C 221 prodi (23.73%). Penyebaran nilai akreditasi tersebut menunjukkan
perlunya pemerintah dalam hal ini Direktorat Pendidikan Tinggi Islamdan
pimpinan kampus untuk terus mengupayakan pembenahan mutu institusi secara
konsisten, sehingga pencapaian nilai akreditasi maksimal bisa diraih. Perhatian
serupa juga harus diberikan untuk pembenahan mutu kampus PTAIS yang tersebar
di seluruh wilayah dengan kompleksitas problem yang mereka hadapi, sehingga
tidak terjadi diskriminasi sebagai target kebijakan. Peran pemerintah masih sangat
dibutuhkan untuk mendorong dan menggerakkan perubahan PTAIS. Penyebaran
hasil akreditasi PTAIS dapat dilihat dalam tabel berikut:
3
Renstra Depdiknas 2010-2014, 2009, h. 86.
144
Hasyim Asy’ari
Perbandingan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2008, Standard BAN-PT
dan Total Quality Management di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Jurnal Pendidikan Islam :: Volume IV, Nomor 1, Juni 2015/1436
Tabel 2 Prosentase Akreditasi PRODI PTAIS
(Data Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Tahun 2014)
Lembaga
PTAIS
Jumlah
Prodi
Terakreditasi
Belum
Terakreditasi
Belum
terakreditasi +
Kedaluarsa
Berlaku Kedaluwarsa
A B C Total % Total % Total % Total %
INSTITUT 153 3 50 47 101 66.01 20 13.07 32 20.92 52 33.99
STAIS 964 0 138 417 554 57.47 70 7.26 339 35.17 409 42.43
FAI
310 14
99 77
190
61.29 53
17.1
67 21.61
120 38.71
Total 1430 17 287 541 845 59.09 143 10 441 30.84 584 40.84
Data di atas menunjukkan problem mutu PTAIS yang sangat mendasar.
Jumlah prodi PTAIS yang sudah diakreditasi sebanyak 845 dari 1430 atau
hanya 59.09%, kedaluarsa 584 prodi (40,84%) dan belum terakreditasi 441
prodi (30.84%). Jumlah prodi yang mendapat akreditasi A hanya 17 prodi (atau
hanya 1.18%), mendapat nilai B sebanyak 287 prodi (20.06%) dan nilai C 541
prodi (37.83%). Penyebaran prosentase akreditasi PTAIS tersebut lebih rendah
dibanding angka yang diperoleh PTAIN. Data tersebut bisa menjadi pintu masuk
bagi Direktorat Pendidikan Tinggi Islam dan pimpinan PTAIS untuk melakukan
pembenahan lebih serius dengan kebijakan-kebijakan yang dapat mendorong
semangat perubahan di dalam PTAIS. Minimal dalam hal ini pemerintah
memperhatikan aspek SDM dan fasilitas yang dibutuhkan PTAIS, jangan sampai
mutu PTAIS tertinggal jauh dibanding PTAIN apalagi dibanding PTN.
Terkait uraian di atas, pimpinan UIN Maliki Malang telah berusaha secara
maksimal untuk meningkatkan mutu institusi dengan cara menerapkan SMM
ISO, yang persiapannya sudah dilakukan sejak April tahun 2008. Implementasi
SMM ISO merupakan kebijakan pimpinan UIN untuk mewujudkan visi yang
sudah dicanangkan. Penerapan SMM ISO sekaligus menjadi sistem penjaminan
mutu institusi sebagaimana tertuang dalam Surat Keputusan (SK) Rektor UIN
Maliki Malang Nomor: UN.3/PP.00.11/017/2008 dan dalam pelaksanaannya
dikelola oleh unit Kantor Jaminan Mutu (KJM) Universitas dan Komite
Jaminan Mutu (KJM) Fakultas. Penerapan SMM ISO di UIN Maliki Malang
merupakan satu-satunya model manajemen mutu yang diberlakukan di institusi
tersebut, dengan harapan mampu memberikan layanan dan produk PT yang
terbaik.
145
Hasyim Asy’ari
Perbandingan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2008, Standard BAN-PT
dan Total Quality Management di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Jurnal Pendidikan Islam :: Volume IV, Nomor 1, Juni 2015/1436
Permasalahan mendasar PT sebagaimana diuraikan di atas yakni mutu,
relevansi dan daya saing yang rendah yang berimbas pada banyaknya jumlah
pengangguran sarjana mendorong perlunya pemerintah dan para pimpinan PT
untuk serius menangani problem tersebut. Dalam hal ini pimpinan UIN Maliki
Malang telah mengambil kebijakan penting yakni menerapkan SMM ISOsebagai
sistem penjaminan mutu institusi untuk meningkatkan mutu layanan dan mutu
institusi sekaligus untuk menjamin kepuasan customer. Penelitian ini difokuskan
pada implementasi SMM ISO, peran Standard BAN-PT dan penerapan TQMdi
UIN Maliki Malang.
Masalah utama yang menjadi fokus dalam penelitian adalah ”bagaimana
implementasi Sistem Penjaminan Mutu (SPM-PT) di UIN Maliki Malang.Adapun
pertanyaan penelitian yang telah dirumuskan adalah:Bagaimana implementasi
SMM ISO di UIN Maliki Malang? Bagaimana peran Standard BAN-PT dalam
Sistem Penjaminan Mutu di UIN Maliki Malang? Bagaimana pencapaian TQM di
UIN Maliki Malang?
Sistem Penjaminan Mutu
Mutu Pendidikan Tinggi (PT)menjadi sangat penting bagi sivitas
akademika dan stakeholder PT. Untuk memperoleh label institusi yang bermutu
bahkan membanggakan diperlukan Sistem Penjaminan Mutu yang benar-benar
applicable disamping dukungan biaya dan sumberdaya yang tidak sedikit. Sistem
Penjaminan mutu yang ideal harus difokuskan pada tridharma PT, sistem internal
dan pemenuhan sistem nasional seperti akreditasi BAN-PT. Metodologi yang bisa
digunakan menurut Billing antara lain evaluasi diri, peer-review, eksternal peer-review,
indikator kinerja, dan survey.
4
Al Bandary (2005:181) dalam hal ini menyebutkan
metode penjaminan mutu di Oman sebagai sebuah siklus yang mencakup evaluasi
diri, review eksternal, feedback, dan monitoring perubahan/perkembangan.
5
Penjaminan mutu melalui SMM ISO telah berkembang pesat dan menyentuh
pada hampir semua jenis aktivitas produksi dan jasa termasuk institusi pendidikan.
Fokus perhatian SMM ISO berkaitan dengan seluruh aspek dan kegiatan institusi
pendidikan baik bidang pengajaran, riset, pengabdian masyarakatmaupun layanan
lain, seperti perpustakaan dan pusat-pusat studi. Penerapan SMM ISO dalam
institusi pendidikan sudah menjadi kebijakan baik di lingkungan Kepementerian
Pendidikan Nasional maupun Kementerian Agama sebagaimana tertuang
4
David Billing, International Comparations and Trend in External Quality Assurance of Higher
Education. Springer (Online), Vol. 47, 26 halaman. 2004, Tersedia: http://www.jstor.
org/4151559.
5
Mohammed Sulaiman Al Bandary, Meeting the challenges: The development of quality assurance in
Omans Colleges of Education.Springer, 2005, h. 181. Tersedia: .
146
Hasyim Asy’ari
Perbandingan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2008, Standard BAN-PT
dan Total Quality Management di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Jurnal Pendidikan Islam :: Volume IV, Nomor 1, Juni 2015/1436
dalam RENSTRA Kemendiknas dan Kementerian Agama. Penerapan SMM
ISO dimaksudkan untuk memperbaiki mutu layanan institusi pendidikan yang
mengedepankan tata kelola yang baik,dan akuntabilitas yang tinggi.
Mutu Pendidikan Tinggi
Dalam satu dekade terakhir mutu pendidikan tinggi menjadi wacana publik
dan menjadi konsern pemerintah. Sebagaimana dinyatakan dalam dokumen
RENSTRA tahun 2009-2014 kebijakanKementerian Agama bidang pendidikan
diarahkan pada pembenahan mutu secara menyeluruh. Mutu menjadi agenda
penting dalam upaya memperbaiki kondisi institusi pendidikan yang ada saat
ini. Mutu PT berkaitan erat dengan kemampuan institusi untuk menghadapi
tantangan nasional dan global, termasuk membantu masyarakat dalam menangani
problem kehidupan mereka. Mutu PT juga yang menunjukkan dan menentukan
kemampuan kompetisi antar institusi pendidikan baik pada tingkat lokal, nasional
maupun internasional. Mutu PT merupakan kemampuan menghasilkan layanan
dan produk institusi dalam batas maksimal. Penyelenggaraan pendidikan tinggi
yang bermutu dicirikan dengan antara lain kemampuannya dalam menghasilkan
lulusan yang memiliki karakter dan jati diri yang berintegritas tinggi; menghasilkan
lulusan yang bermutu tinggi; meningkatkan kemampuan penelitian; menghasilkan
lulusan dan insan peneliti yang secara berkelanjutan berhasil meningkatkan
kesehatan masyarakat, kemakmuran,keamanan, dan kesejahteraan umum.
6
Sisi
penting lain adalah terkait apa yang diminta stakeholder, terutama mahasiswa
umumnya berharap output pendidikan yang benar-benar mengacu pada standar
yang dipandang ideal. Salah satu tantangan pendidikan tinggi adalah kompetisi yang
berkembang di antara universitas.
7
Saat ini kompetisi universitas bukan lagi pada
level lokal dan nasional akan tetapi sudah menjangkau dimensi global. Kompetisi
pada semua level tersebut dapat memacu usaha-usaha perbaikan mutupendidikan
tinggi. Oleh karena itu yang perlu diperhatikan adalah bagaimana pimpinan
dan sivitas akademika kampus mampu menyediakan program dan layanan yang
bermutu sehingga mendorong pada peningkatan pemanfaatan output PT.Faktor
kunci untuk dapat memenangkan kompetisi dimaksud adalah keseriusan pimpinan
dan stakeholder terkait untuk membenahi problematika institusional dan personal
kampus dalam kerangka mendorong terwujudnya layanan yang bermutu.
Pandangan tentang mutu sangat bervariasi dan pada prinsipnya mengacu
pada karakteritik produk dan layanan yang memiliki keunggulan tertentu.
Mutu berkaitan erat dengan keunggulan produk dan layanan yang dirasakan
6
Strategi Jangka Panjang Pendidikan Tinggi (HELTS) 20032010, (Jakarta: Depdiknas, 2004), h. 49.
7
Jerold W. Apps,.Higher Education in a learning society,(London: Jossey-Bass, 1988), h. 35.
147
Hasyim Asy’ari
Perbandingan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2008, Standard BAN-PT
dan Total Quality Management di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Jurnal Pendidikan Islam :: Volume IV, Nomor 1, Juni 2015/1436
memuaskan customer. Juran mendefinisikan mutu sebagai fitnes for uses. Kano
mendefinisikan mutu terkait produk atau layanan yang dapat memenuhi harapan
customer.
8
Harvey dan Green memaknai mutu sebagai hasil yang sempurna, kinerja
luar biasa, kemampuan merubah pengetahuan dan pengembangan kepribadian
mahasiswa, kemampuan untuk memberi nilai efisiensi dan efektivitas dan dapat
dipertangungjawabkan, kesesuaian produk dan layanan dengan tujuan.
9
Mutu PT juga harus dilihat dari dimensi internasional seperti proyek-proyek
kerjasama antar Negara antara lain pertukaran pengetahuan, jaringan interaktif,
mobilitas dosen dan mahasiswa dan proyek-proyek penelitian internasional,
termasuk publikasi hasil riset dengan tetap mempertimbangkan nilai-nilai budaya
nasional dan lingkungan. Dimensi internasional menjadi salah satu ukuran penting
jika institusi PT ingin berkiprah di tingkat global. PT seperti ini tidak lagi unggul
di dalam negeri akan tetapi unggul dan akan menjadi referensi pengembangan
keilmuan serta aspek-aspek terkait dalam perspektif dunia.
10
Wacher menyebut
dimensi internasional PT sebagai proses integrasi sistematis dimensi-dimensi
internasional ke dalam bentuk pengajaran, riset, dan layanan publik PT.
11
Jika
konsep ini diterapkan maka akan lahir PT yang berkelas global dengan aktivitas
akademik, fungsi-fungsi lain yang ideal serta segudang prestasi sesuai perkembangan
dan tuntutan masyarakat global. Sebagai contoh integrasi kurikulum nasional dan
kurikulum global, teknik pengajaran, sumber daya dan IT yang berkelas dunia. Jika
ini menjadi acuan, maka tidak ada lagi PT yang minus fasilitas, minus kreativitas
dan minus prestasi serta minus penyerapan lapangan kerja bagi alumninya.
Pandangan-pandangan terkait filosofi mutu PT di atas memberikan
gambaran bahwa mutu PT merupakan kemampuan institusi untuk memberikan
layanan dan output terbaik yang dapat menjamin kepuasan seluruh customer dan
stakeholder institusi. Filosofi mutu berkembang mengikuti pemikiran dan harapan
ideal masyarakat serta dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan mereka. Untuk
mencapai idealisme tersebut maka dibutuhkan manajemen yang benar dalam arti
efisien dan efektif, juga dibutuhkan tipe kepemimpinan yang visioner. Di sinilah
letak pentingnya penerapan SMM ISO dalam membantu pengelolaan mutu
institusi yang ideal.
8
Majid Konting, et al.,Quality Assurance in Higher Education Institution: Exist Survey among
University Putra Malaysia Graduating Student, (International Educational Studies (online), 2009),
Vol.2. Tersedia: http://www.cosenet.org/journal/htm/, h. 25.
9
David Lim, Quality Assurance in Higher Education, (Sydney, Ashgate, 2001), h. 4.
10
Digumarti Bhaskara Rao, Higher Education in The 21
st
Century (Vision and Action),(New Delhi:
Discovery Publisihing House, 2003), h.25.
11
Dirk Van Damme, Quality Issues in the Internationalisation of Higher Education, (Springer
(Online), Vol. 41, 28 halaman. Tersedia: http://www.jstor.org/stable/3448132, 2001, h. 417.
148
Hasyim Asy’ari
Perbandingan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2008, Standard BAN-PT
dan Total Quality Management di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Jurnal Pendidikan Islam :: Volume IV, Nomor 1, Juni 2015/1436
Sistem Manajemen Mutu (SMM) ISO
Penerapan SMM ISO merupakan trend yang berkembang dalam dunia
industri dan sudah merambah ke dunia pendidikan. Banyaknya lembaga pendidikan
yang berusaha untuk mendapatkan sertifikasi ISO tidak terlepas dari adanya
keinginan untuk berkiprah di kancah nasional bahkan internasional. Menang
dalam kompetisi dan memiliki reputasi yang membanggakan merupakan bagian
penting untuk mempertahankan eksistensi institusi. Pemikiran seperti ini tidak
salah mengingat tantangan global perlu diantisipasi secara cepat dan tepat. SMM
ISO bisa menjadi salah satu pilihan untuk membangun institusi pendidikan yang
kuat dan adaptif terhadap perubahan. Meskipun demikian memperoleh sertifikat
ISO bukanlah langkah akhir dan tidak secara otomatis institusi menjadi bermutu.
Penerpan SMM ISO merupakan pintu masuk untuk penerapan manajemen mutu
terpadu (TQM) yang tujuan akhirnya adalah untuk memberikan kepuasan terhadap
customer, dengan cara melakukan perbaikan mutu berkelanjutan pada semua aspek
dan semua aktivitas institusi.
ISO (International Organization for Standardization)
didirikan di Geneva
Switzerland pada tahun 1946. Istilah ISO berasal dari bahasa Mesir yakni isos
yang berarti Oneness,merupakan standar penjaminan mutu dan manajemen
mutu internasional. SMM ISO sudah digunakan oleh beberapa negara dan sudah
menjadi persyaratan untuk industri dan sebagian institusi nonprofit. Istilah
SMM ISO 9000 di Amerika disebut dengan seri Q90 ANSI (American Nation
Standards Institute) /ASQC (American Society for Quality Control), di Inggris disebut
BS 5750. SMM ISO merupakan standar internasional terkini bagi manajemen
mutu untuk sertifikasi sistem mutu.
12
ISO 9001 menyiapkan kerangka kerja untuk
membangun praktek yang konsisten, berisi standar yang mengkafer desain produk,
pengembangan, produksi, instalasi, dan servis. ISO 9000 menggabungkan siklus
perbaikan berkelanjutan sebagaimana dapat dilihat dari klausul-klausul review
manajemen, internal audit dan tindakan korektif.
13
SMM ISO menurut Kadir
membantu institusi dalam membuat perencanaan, managemen, produksi dan
pengembangan sumber daya manusia untuk menyediakan layanan dan produk
sesuai pemintaan customer.
14
12
James G. Peterson, ISO 9000: Standar Kualitas Seluruh Dunia. Jakarta: Indeks, penerj. Marianto
Samosir, 2010), h. 3.
13
Yasemin Aksoy & Peter Schadel, ETC Measures the Impact of ISO 9002 on CorporateQuality.
Inform (online), 10 halaman. Tersedia: http://www.jstor.org/stable/25062299 (06/09/2011),
1997, h. 85.
14
Sity Daud,et al., A Perception on The Effectiveness of Undergraduate and graduate Programmes
Management through an ISO Certication Scope Merger. Elsevier(Online), Tersedia: www.ScienDirect.
com., 2010, h. 552.
149
Hasyim Asy’ari
Perbandingan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2008, Standard BAN-PT
dan Total Quality Management di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Jurnal Pendidikan Islam :: Volume IV, Nomor 1, Juni 2015/1436
Standard BAN-PT
BAN-PT merupakan lembaga yang memiliki kewenangan untuk
mengevaluasi dan menilai, serta menetapkan status dan peringkat mutu program
studi berdasarkan standar mutu yang telah ditetapkan, dengan tujuan dan manfaat:
1. Memberikan jaminan bahwa program studi yang terakreditasi telah memenuhi
standar mutu yang ditetapkan oleh BAN-PT dengan merujuk pada standar nasional
pendidikan yang termaktub dalam Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005
tentang Standar Nasional Pendidikan; 2. Mendorong program studi untuk terus
menerus melakukan perbaikan dan mempertahankan mutu yang tinggi; 3. Hasil
akreditasi dapat dimanfaatkan sebagai dasar pertimbangan dalam transfer kredit
perguruan tinggi, pemberian bantuan dan alokasi dana, serta pengakuan dari badan
atau instansi yang lain.
15
Penjaminan mutu pendidikan tinggi dijalankan melalui tahap-tahap
yang dirangkai dalam suatu proses yaitu menetapkan visi dan misi;program
studimenetapkan visi dan misi programstudinya; penjabaran ke dalam standar
mutu;Standar mutu dirumuskan dan ditetapkandengan meramu visi PT; PT
menetapkan organisasidan mekanisme kerja penjaminan mutu; Perguruan
tinggi melaksanakanpenjaminan mutu dengan menerapkan manajemen
kendali mutu;Perguruan tinggi mengevaluasi danmerevisi standar mutu secara
berkelanjutan.
SMM ISO memfasilitasi pelaksanaan SPM-PT sebagaimana dinyatakan
dalam laporan evaluasi implementasi SPMI-PT tahun 2008. Hal penting yang
perlu diketahui adalah kerangka pikir, tujuan, dan kriteria dalam SPM-PT berbeda
dengan SMM ISO, terutama fakta bahwa: 1. SPM-PT merancang dan menetapkan
standar perguruan tinggi berdasarkan visi PT, sedangkan ISO merupakan sarana
untuk melaksanakan standar yang telah ada di perguruan tinggi; 2. ISO tidak
bertujuan meningkatkan standar yang justru merupakan tujuan utama SPM-PT;
3. ISO dapat digunakan sebagai salah satu alat kendali implementasi SPM-PT,
namun tidak berarti bahwa ISO mampu menggantikan SPM-PT.
16
Kaitan SMM ISO dengan TQM
Penerapan SMM ISO dalam suatu institusi tidak berarti identik dengan
penerapan TQM. TQM merupakan filosofi manajemen mutu yang menekankan
pemberdayaan seluruh stakeholder untuk bersama-sama membangun dan
mengembangkan mutu institusi. Penerapan SMM ISO dimaksudkan untuk
15
Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi, (Buku I Naskah Akademik Akreditasi Program
Sarjana, Jakarta, 2008), h.5.
16
SPM-PT, Depdiknas, 2008, h.16.
150
Hasyim Asy’ari
Perbandingan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2008, Standard BAN-PT
dan Total Quality Management di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Jurnal Pendidikan Islam :: Volume IV, Nomor 1, Juni 2015/1436
membenahi mutu layanan dan mutu institusi sekaligus akan menjadi fondasi yang
kokoh untuk penerapan TQM. Penerapan TQM tidak membutuhkan aplikasi
standar eksternal.
17
Hal senada disampaikan oleh Abramavicius penerapan SMM
ISO dilakukan sebelum penerapan TQM, pada tataran empirik SMM ISO bisa
menjadi penghalang penerapan TQM.
18
Penerapan SMM yang kaku akan mempengaruhi moral dan kreativitas
staf terutama akademisi jika itu institusi pendidikan. Karyawan yang memiliki
pendidikan memadai dan bekerja dalam lingkungan akademik membutuhkan
fleksibilitas, independensi dan iklim yang mendukung. Ketatnya prosedur
hanya akan merusak etos, loyalitas dan dedikasi para staf. Sallis menggaris
bawahi hal ini dengan pernyataannya ISO 9000 yang diaplikasikan secara kaku
akan menjadi sebuah hal yang kontra produktif bagi tenaga kerja terdidik dan
profesional, seperti mengajar. Perhatian yang berlebihan dan keharusan kerja
terlalu keras dan kaku terhadap sistem dan prosedur dapat merusak moral dan
kreativitas staf.
19
Pandangan Sallis terkait posisi SMM ISO 9000 secara lengkap adalah:
1. melihat BS5750 dan ISO9000sebagai langkah awal TQM; menangani
infrastruktur prosedural yang mengawali terjadinya perubahan kultur dan
perilaku; memberikan kepercayaaan diri untuk melangkah ke depan untuk
menangani isu-isu besar yang dihubungkan dengan TQM;2. menempatkan
BS5750 dan ISO9000 sebagai bagian inti dalam mutu terpadu; dalam model
ini BS5750 dan ISO9000 menyelenggarakan TQM dan memberikan pondasi
yang solid untuk kemajuan selanjutnya; 3. BS5750 dan ISO9000 memiliki peran
minor dalam perusahaan yang menjalankan TQM, hanya sebatas menjamin
konsistensi operasional prosedur institusi (partisipasi aktif seluruh pekerja); 4.
BS5750 dan ISO9000 dipandang sebagai hal yang tidak relevan dengan atau
antitetik terhadap mutu; dipandang sebagai pengacau birokratis dalam dunia
pendidikan; menimbulkan sebuah kekuatan dan perasaan bermusuhan.
20
Pemilihan sebuah sistem mutu bukan sekedar untuk mencari citra baik atau
keren-kerenan. Memperkenalkan BS5750 dan ISO9000 merupakan sebuah langkah
yang mahal dan memakan waktu dan bahkan mungkin sulit untuk dilakukan,
khususnya di sekolah. Standar mutu dapat memiliki peranan dalam TQM sebagai
pesan aktual dan potensial kepada pelanggan bahwa institusi menggunakan mutu
secara serius dan bahwa kebijakan-kebijakan dan praktek-prakteknya sesuai dengan
17
EdwardSallis.Total Quality Management in Education,(Jogjakarta: Ircisod, 2010, h.131).
18
Povilas Vanagas, Developmental of Total Quality Management in Kaunas University of Technology.
2008, h. 69. Tersedia: http://www.jstor.org.
19
Op.cit, Sallis, h. 133.
20
Op.cit, h.131-133.
151
Hasyim Asy’ari
Perbandingan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2008, Standard BAN-PT
dan Total Quality Management di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Jurnal Pendidikan Islam :: Volume IV, Nomor 1, Juni 2015/1436
standar mutu nasional dan internasional. Ini dapat memberikan kepercayaan
eksternal di samping membangun kebanggaan internal.
21
Rizvi menilai SMM ISO 9000 merupakan fondasi untuk program mututotal.
SMM ISO 9000 menekankan pada proses dan dokumentasi sehingga informasi
yang ada di dalamnya dapat dijadikan acuan dalam melakukan perbaikan mutu
institusi.
ISO 9000 memberimu dasar program mutu total. Mengikuti sertifikasi ISO
9000 benar-benar memberimu pendekatan yang rapi bagi proses-proses yang
akan kamu lakukan. Kamu memiliki proses dan prosedur yang khusus, dan
keduanya harus tertulis. Dari sana, kamu dapat meningkatkan segalanya
karena kamu melihatnya, karena ia tertulis. Kamu dapat bertanya pada dirimu
sendiri. Apa yang dapat saya lakukan dengan lebih baik? Ini adalah unsur kunci
TQM.
22
Penerapan SMM ISO belum berarti menjamin mutu institusi, ISO hanya
sekedar proses untuk memperbaiki dan menampilkan institusi mengikuti standar
tertentu. Penerapan SMM ISO 9000 tidaklah dimaksudkan untuk menjamin mutu
total produk dan layanan, akan tetapi SMM ISO 9000 menjadi pintu masuk untuk
penerapan TQM. SMM ISO menekankan institusi menyusun sistem mutu dan
menjalankan proses institusi sesuai standar dan prosedur yang telah dibuat, sistem
dokumentasi kegiatan yang ketat, serta pentingnya peningkatan yang kontinyu.
Konsistensi inilah yang penting dalam ISO. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh
Katz:
Sertifikasi ISO 9000 sendiri tidak menjamin Mutu Total; untuk mencapai
Mutu Total, peningkatan terus menerus melampaui persyaratan minimum ISO
9000 seringkali diperlukan. Oleh karena itu, sertifikasi ISO 9000 sering kali
merupakan pintu masuk/pendahuluan atau penghubung kepada TQM.
23
Uraian tentang posisi SMM ISO 9000 dan kaitannya dengan TQM di atas
menunjukkan adanya variasi pandangan yang kesemuanya mengakui bahwa SMM
ISO 9000 merupakan fondasi yang kuat untuk menerapkan TQM dan upaya
pemenuhan standar BAN-PT. SMM ISO memuat klausul-klausul sistem mutu
yang dapat membantu operasi dan kinerja institusi lebih efisien dan efektif. Hal
yang lebih penting diperhatikan adalah upaya-upaya untuk memperbaiki berbagai
aspek terkait dengan SMM tersebut dalam kerangka memberikan jaminan produk
21
Ibid, h.134-135.
22
ISO 9000: Handbook of Quality Standards and Compliance, (New Jersey: Prentice-Hall,1992),
h.114.
23
Ibid, h.111.
152
Hasyim Asy’ari
Perbandingan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2008, Standard BAN-PT
dan Total Quality Management di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Jurnal Pendidikan Islam :: Volume IV, Nomor 1, Juni 2015/1436
dan layanan yang bermutusekaligus memastikan terpenuhinya kebutuhan dan
kepuasan customer.
Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif yang
diartikan sebagai prosedur penelitian untuk menghasilkan data deskriptif berupa
pernyataan lisan, tulisan, pandangan serta perilaku nara sumber.
24
Hal yang sama
juga dinyatakan oleh Miles dan Huberman bahwa data penelitian kualitatif adalah
kata-kata dan bukan rangkaian angka.
25
Esensi pandangan di atas adalah bahwa
penelitian kualitatif menghasilkan data dan informasi berupa pernyataan kalimat
sesuai realitas yang terjadi. Hal penting dalam penelitian kualitatif adalah usaha-
usaha peneliti untuk mendapatkan gambaran riil tentang keterkaitan pandangan,
sikap, perilaku, dan aktivitas subjek penelitian terkait implementasi kebijakan
SMM ISO di lingkungan UIN Maliki Malang.
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dokumentasi,
observasi, dan wawancara. Miles dan Huberman menyebutkan teknik pengumpulan
data penelitian kualitiatif dapat dilakukan melalui observasi, wawancara, intisari
dokumen, pita rekaman yang diproses melalui pencatatan, pengetikan, dan
penyuntingan.
26
Penggunaan teknik studi dokumen dalam penelitian inimerupakan
langkah awal untuk melihat dan mengkaji dokumen terkait implementasi SMM ISO
antara lain manual mutu, SOP, laporan realisasi sasaran mutu (sarmut) atau Standar
Pelayanan Minimal (SPM). Dokumen-dokumen tersebut dapat memberikan
gambaran terkait kesiapan, ketercapaian penerapan SMM dan peningkatankinerja
institusi UIN Maliki Malang. Peneliti dalam hal ini mempelajari dokumen-
dokumen penting terkait implementasi SMM ISO dan melakukan kajian serta
membandingkan perkembangan atau peningkatan realisasi pencapaian sasaran
mutu yang terdapat dalam SMM ISO UIN Maliki Malang.
Penerapan SMM ISO
Pertimbangan Filosofis Implementasi SMM ISO
Penerapan SMM ISO dilandasi oleh beberapa alasan, yaitu
pertama,Penerapan
SMM ISO membantu banyak hal terutama pembenahan manajerial UIN.
Kedua,tuntutan dan harapan masyarakat yang tinggi terhadap mutu lulusan; dan
tantangan dunia pendidikan tinggi apalagi yang berlabel agama memang sangat
24
Robert C. Bogdan dan Steven J. Taylor, Introduction toQualitative-Research methods, (New York:
John Wiley & Sons, 1975), h.4.
25
Mattew B. Miles & Huberman, Analisis Data Kualitatif, (Jakarta: UI-Press., 1992), h.15.
26
Ibid
153
Hasyim Asy’ari
Perbandingan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2008, Standard BAN-PT
dan Total Quality Management di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Jurnal Pendidikan Islam :: Volume IV, Nomor 1, Juni 2015/1436
berat. Ide untuk menghasilkan output yang bermutupatutlah mendapat dukungan
semua pihak. Penerapan SMM ISO mendorong pimpinan untuk konsisten dengan
klausul dan mekanisme PDCA sehingga institusi memahami apa yang seharusnya
dilakukan. Ketiga,untuk meningkatkan kinerja UIN Maliki Malang.
Penerapan Klausul SMM ISO
Secara garis besar klausul SMM ISO yang diterapkan oleh UIN Malang
mencakup persyaratan umum dan dokumen; management responsibility, resource
management, product realization (good, service), dan measurement, analysis and
improvement. Penerapan klausul-klausul tersebutmerupakan fakta empirik dan
menjadi satu mata rantai sekaligus menjadi satu kesatuan untuk upaya-upaya
peningkatan mutu institusi sebagaimana pendapat Gaspersz dan Peterson yang telah
diuraikan sebelumnya. Salah satu klausul yang sudah diterapkan dengan baik adalah
klausul 5.2:Fokus pada Pelanggan. Inti dari klausul ini adalah adanya perhatian
yang serius terkait pemenuhan kepuasan pelanggan. Para pimpinan, dosen dan staf
UIN Maliki Malang dalam hal ini selalu berusaha memberikan layanan terbaik
untuk customer dengan menyediakan seluruh fasilitas yang dibutuhkan dalam
proses pembelajaran seperti LCD, hotspot/internet, layanan online, ruang kerja
untuk Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), pendidikan model ma’had, pembenahan
struktur serta penyediaan SDM yang memadai. Hal ini penting dilakukan
dalam kerangka membangun motivasi belajar, motivasi berprestasi dan kinerja
civitas akademika baik akademik maupun non akademik. Fokus pada pelanggan
merupakan kunci dalam membangun loyalitas mahasiswa dan masyarakat serta
stakeholder lain. Fokus pada pelanggan juga berdampak pada terbentuknya citra
kampus yang positif sekaligus untuk membangun dukungan untuk menuju
World Class University. Salah satu hal yang menarik di UIN Maliki Malang adalah
tradisi pemanfaatan taman sebagai tempat belajar yang mungkin bagi kampus lain
merupakan hal aneh. Tradisi ini bermakna positif untuk menghilangkan kejenuhan
mahasiswa dalam proses pembelajaran, sekaligus efisiensi tempat. Yang terpenting
adalah tradisi ini tidak mengurangi makna belajar bagi mahasiswa.
Realisasi Standar Pelayanan Minimal (SPM)
Penerapan SMM ISO mampu merubah dan mendorong kinerja institusi
UIN Maliki Malang. Sebagai contoh dalam hal ini adalah rata-rata kehadiran
dosen untuk semua fakultas menunjukkan angka yang tinggi yakni 90,39%.
Salah satu aspek penting penerapan SMM ISO adalah mendorong institusi untuk
memberikan layanan pendidikan terbaik. Dari diagram berikut minimal dapat
diketahui 5 hal penting. Pertama, semua fakultas mampu mencapai sasaran mutu
SPM setiap tahunnya dengan indeks rata 3,48 untuk fakultas psikologi; 3,76 untuk
154
Hasyim Asy’ari
Perbandingan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2008, Standard BAN-PT
dan Total Quality Management di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Jurnal Pendidikan Islam :: Volume IV, Nomor 1, Juni 2015/1436
fakultas ekonomi; 3,58 untuk fakultas saintek, dan 3,44 untuk fakultas humbud.
Sedangkan fakultas tarbiyah mencapai rata-rata 3,33 kurang 0,67 dari SPM
3,6 untuk tahun 2010. Kedua, pencapaian tertinggi sasaran mutu SPM tingkat
kepuasan mahasiswa fakultas adalah fakultas ekonomi dengan indeks 3,76.
Posisi Standard BAN-PT
UIN Maliki Malang memiliki tekad yang kuat untuk mengintegrasikan
SMM ISO dengan Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi (SPMPT).
Penerapan SMM ISO mendorong para pimpinan dan sivitas akademikauntuk
memberikan layanan pendidikan yang bermutu. Salah satu bukti manfaat SMM
ISO adalah nilai akreditasi prodi sebagian besar A. Hal ini sebagai akibat SMM ISO
memberikan kesempatan belajar lebih leluasa secara mandiri untuk memperbaiki
kelemahan internal institusi. Penerapan SMM ISO mampu mendorong kemandirian
institusi dalam hal menyusun, melaksanakan dan mengevaluasi program sehingga
memberikan ruang untuk memahami dan memperbaiki kekurangan yang
dimiliki institusi. Penggunaan pendekatan Standar Pelayanan Minimal (SPM)
dalam menjabarkan SMM ISO memudahkan pencapaian akreditasi BAN-PT
dan mutu institusi. Peran Standard BAN-PT dalam hal ini menjadi acuan kerja
sivitas akademika dalam memberikan layanan bagi mahasiswa dan stakeholder
kampus. Unsur standard BAN-PT menjadi pertimbangan penting pimpinan
dalam menyusun program baik bidang pendidikan, penelitian maupun pengabdian
masyarakat.
Penerapan TQM
Realisasi Standard Pelayanan Minimal (SPM) UIN Maliki malang yang
relatif tingggi menunjukkan keberhasilan manajemen kampus. Hal ini juga
menggambarkan komitmen yang kuat dan keterlibatan stakeholder kampus yang
inten dalam setiap aktifitas institusi. ImplementasiSMM ISO telah membawa
banyak manfaat bagi insitusi dan meningkatkan kesadaran serta tanggung jawab
sivitas akademika UIN Maliki Malang khususnya terkait pentingnya peningkatan
efisiensi, efektivitas dan kinerja. Bentuk nyata manfaat dimaksud adalah aktivitas
pekerjaan menjadi lebih mudah, lebih teratur, lebih terukur dan lebih tertata;
institusi memiliki prosedur yang sistematis; sistem dokumentasi kegiatan (data dan
informasi) lebih baik; memudahkan proses pemantauan, evaluasi dan perbaikan;
memudahkan proses akreditasi; mendorong para dosen lebih disiplin dan
bertanggung jawab dalam mengajar; menumbuhkan kesadaran terhadap aspek-
aspek lain seperti penataan ruang, kebersihan dan keindahan; mendorong kesadaran
perlunya peningkatan berkelanjutan; memudahkan pencapaian tujuan institusi
155
Hasyim Asy’ari
Perbandingan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2008, Standard BAN-PT
dan Total Quality Management di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Jurnal Pendidikan Islam :: Volume IV, Nomor 1, Juni 2015/1436
baik jangka pendek maupun jangka panjang. Sedangkan dampak implementasi
SMM ISO adalah meningkatnya kinerja individu dan institusi; meningkatnya rasa
percaya diri sivitas akademika; meningkatnya kepuasan mahasiswa, membaiknya
budaya belajar, budaya kerja dosen dan staf; meningkatnya inovasi dan kreativitas
institusi; serta meningkatnya citra dan daya saing institusi. Aspek-aspek tersebut
merupakan fondasi yang baik untuk menerapkan TQM.
Simpulan
Implementasi sistem penjaminan mutu di UIN Maliki Malang secara
umum berjalan efektif. Hal ini bisa dilihat dari berbagai aspek terkait dasar
pemikiran, penerapan klausul, realisasi Standar Pelayanan Minimal (SPM), dan
dampak kebijakan yang positif bagi seluruh sivitas akademika serta insitusi UIN
Maliki Malang. Komitmen dan konsistensi pimpinan dan sivitas akademika yang
kuat terhadap implementasi SMM menjadi kunci penting efektivitas kebijakan
dimaksud.
Implementasi sistem penjaminan mutu di UIN menjadi media pencapaian
Standard BAN-PT dan menjadi fondasi yang kuat untuk penerapan TQM.
Perubahan-perubahan yang telah terjadi sebagai akibat implementasi sistem
penjaminan mutu ISO sudah dirasakan oleh sivitas akademika UIN untuk
mengantarkan institusi menjadi “Center Of Excellence dan Center Of Islamic
Civilization”. Sivitas akademikaUIN Maliki Malang telah mampu menampilkan
diri dengan praktek nilai-nilai positif yakni sikap dan perilaku yang berorientasi “best
practice, customer satisfaction, excellence services, dan continual quality improvement”.
Nilai-nilai positif tersebut diarahkan untuk mewujudkan 4 kekuatan sivitas
akademika yakni memiliki kedalaman spiritual, keluhuran akhlak, keluasan ilmu,
dan kematangan profesional serta menjadikan keempat nilai tersebut sebagai budaya
kampus yang kuat. Kesemua nilai-nilai inilah yang menjadi kunci perubahan, dan
kunci penting keberhasilan institusi UIN dalam menata dan mengembangkan
mutu institusi sesuai tuntutan customer.Pencapaian kinerja UIN Maliki Malang
baik individual maupun institusional merupakan cermin keberhasilan penerapan
sistem penjaminan mutu.
156
Hasyim Asy’ari
Perbandingan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2008, Standard BAN-PT
dan Total Quality Management di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Jurnal Pendidikan Islam :: Volume IV, Nomor 1, Juni 2015/1436
Rujukan
Aksoy, Yasemin & Peter Schadel, ETC Measures the Impact of ISO 9002 on
CorporateQuality. Inform (online), 10 halaman. Tersedia: http://www.jstor.
org/stable/25062299 (06/09/2011), 1997.
Al Bandary, Mohammed Sulaiman (2005). Meeting the challenges: e development of
quality assurance in Oman’s Colleges of Education.Springer (online). Tersedia:
http://www.jstor.org /25068095.
Anderson, James E., Public Policy-Making, New York: CBS College Publishing,
1984
Apps,Jerold W..Higher Education in a learning society,London: Jossey-Bass, 1988
Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi, (Buku I Naskah Akademik Akreditasi
Program Sarjana, Jakarta, 2008..
Billing, David (2004). International Comparations and Trend in External Quality
Assurance of Higher Education. Springer (Online), Vol. 47, 26 halaman.
Tersedia: http://www.jstor.org/4151559 (05/09/2011).
Bogdan, Robert C. & Steven J. Taylor,Introduction toQualitative-Research Methods.
New York: John Wiley & Sons, 1975.
Damme, Dirk Van, Quality issues in the internationalisation of higher education,
(Springer (Online), Vol 41, 28 halaman. Tersedia: http://www.jstor.org/
stable/3448132(05/09/2011), 2001).
Daud, Sity et al., A Perception on e Effectiveness of Undergraduate and graduate
Programmes Management through an ISO Certication Scope Merger.
Elsevier(Online), Tersedia: www.ScienDirect.com., 2010.
Departemen Pendidikan Nasional (2009). Rencana Strategis Departemen Pendidikan
Nasional Tahun 2010-2014. Jakarta: Depdiknas.
Hoy, Charles et al.,Improving Quality in Education,London: Falmer Press, 2005
ISO 9000: Handbook of Quality Standards and Compliance. New Jersey: Prentice-
Hall, 1992.
Kevin, Quality Assurance for Higher Education in Asia and e Pacific, 1999.
Khodayari,Servis Quality in Higher Education, (Interdisiplinary Journal of Research
in Business (Online), Vol. 1, 9 halaman.Tersedia: http://www.jstor.
org/(05/09/2011), 2011.
157
Hasyim Asy’ari
Perbandingan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2008, Standard BAN-PT
dan Total Quality Management di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Jurnal Pendidikan Islam :: Volume IV, Nomor 1, Juni 2015/1436
Lim, David, Quality Assurance in Higher Education, Sydney, Ashgate, 2001
Majid Konting, et al.,Quality Assurance in Higher Education Institution: Exist
Survey among University Putra Malaysia Graduating Student, (International
Educational Studies (online), 2009), Vol.2. Tersedia: http://www.cosenet.
org/journal/htm/(05/09/2011).
Miles, Mattew B. dan Huberman, Analisis Data Kualitatif, Jakarta: UI-Press,
1992
Pedoman Sistem Penjaminan Mutu (SPM-PT), Depdiknas, 2008.
Pedoman Sistem Penjaminan Mutu (SPM-PT), Depdiknas, 2008.
Perencanaan Pembangunan Pendidikan Islam, Ditjen Pendidikan Islam Kemenag,
2010.
Peterson,James G. ISO 9000: Standar Kualitas Seluruh Dunia. Jakarta: Indeks,
penerj. Marianto Samosir, 2010
Randall S. Schuller, dan Drew L. Harris,Managing Quality, New York: Addison-
Wesley Publishing Company, 1992
Rao, Digumarti Bhaskara,Higher Education in e 21
st
Century (Vision and Action),
New Delhi: Discovery Publisihing House, 2003
Renstra Ditjen Pendidikan Islam 2004-2009; Departemen Agama, 2007.
Robert K. Yin, Studi Kasus,Jakarta: Raja Grafindo Persada, Penerjemah M. Djauzi
Mudzakir, 2003
Sallis, Edward,Total Quality Management in Education,(Jogjakarta: Ircisod, 2010.
Strategi Jangka Panjang Pendidikan Tinggi (HELTS) 2003 - 2010. Jakarta:
Depdiknas, 2004.
Vanagas, Povilas,(2008). Developmental of Total Quality Management in Kaunas
University of Technology. Tersedia: http://www.jstor.org(05/09/2011).
Vincent Gaspersz,Total Quality Management, Jakarta: Gramedia, 2005
William G. Nikels, et al., Understanding Business, New York: Irwin, 2010
... So far, university performances have been assessed under the control of the Board of National Accreditation for Higher Education (BAN-PT) using nine criteria, i.e. (1) Vision, Mission, Goals, and Strategies; (2) Governance and Cooperation; (3) Students; (4) Human Resources; (5) Finance, Facilities and Infrastructure; (6) Education; (7) Research; (8) Community Service; and (9) Tridharma Outcomes (Asy'ari, 2015). Through its nine criteria, BAN-PT tries to assess and ensure that universities have conducted their operational based on standard. ...
... The results of previous studies (Cahya et al., 2019;Suhardiyah & Nurdina, 2019;Harjanto, 2019;Mustika & Sahudra, 2018;Asy'ari, 2015;Wijaya & Krismiyati, 2016;Rumambi & Lintong, 2017;Symaco & Tee, 2019;Atiqah, 2019) regarding to the importance of social and environmental aspects for higher education was agreed by the answers of all the respondents in this study. They all consider that social and environmental aspects are crucial for higher education to pay attention to and measure its performance. ...
Article
Full-text available
Since research on the use of sustainability balanced scorecard to assess university social and environmental performances still remains unexplored, this study aims to fill the gap by examining the acceptance of the idea of the State Islamic Religious Colleges (PTKIN) performances in terms of responsibility for social and environmental aspects based on the sustainability balanced scorecard model. Drawing on a qualitative research, eight respondents from the Board of National Accreditation for Higher Education (BAN-PT) and PTKIN policymakers were interviewed. The results indicated that PTKIN must pay more attention to social and environmental perspectives. It was further revealed that although BAN-PT regulation has explicitly included these two perspectives, there were several indicators that still need to be added according to the sustainability balanced scorecard model. Moreover, the results depicted several challenges such as budgeting, regulations, and paradigms that required some adjustment from the policymakers. These results contribute as fruitful insights for university policymakers in developing strategies to enhance university performances, particularly in social and environmental aspects.
... ISO (International Organization for Standarization) merupakan standar internasional di bidang sistem manajemen mutu. Suatu lembaga yang mendapatkan akreditasi ISO, dapat dikatakan telah memenuhi persyaratan internasional dalam hal manajemen penjaminan mutu (Asy'ari, 2015). ...
Article
Full-text available
This research is to analyze the process of development of quality management by using the cycled approach of PDCA (Plan-Do-Check-Act) based on KPI (Key Performance Indicators). This research was conducted at SMP-SMA Integral Ar-Rohmah "Boarding School" Dau Malang by using descriptive qualitative methods. The object of this research is around 449 students at SMP-SMA Integral Ar-Rohmah Dau Malang. The research period is the even semester of the 2018/2019 school year. The results of this study can be concluded that; Planning (Plan), produces three KPI formulation products, namely; a) KPI monitoring; b) KPI filling formula; and c) KPI report card. Implementation (Do), by requiring all students to participate in filling the KPI monitoring form and activeness of the musyrif room in assisting the filling of KPI. Evaluation (Check) that has been carried out is by means of a random check (random) conducted by the room meeting from the results of filling KPI monitoring. The follow up (Act) is to publish KPI report cards.
... The studies revealed only the evaluation of Quality Assurance System in Indonesia many conducted by researchers. Study on improving the quality of universities through ISO 9001 (Soerjaningsih, 2004), Influence of ISO 9001: 2000 achievement toward improving the quality of distance learning service (Chandrawati & Puspitasari, 2009), and research related to a comparative analysis of ISO 9001, Total Quality Management and Accreditation Standard (Asy'ari, 2015). In this research, we intend to develop it from previous research (Yoo et al., 2006;Legowo, 2012), but specifically for an integrated model of quality assurance system based on Accreditation Standard and ISO 9001: 2008. ...
Article
Full-text available
The purpose of this research is to develop a unified model of quality assurance system for ISO-certified higher education institutions, by integrating Accreditation of The BAN-PT and ISO 9001:2008. BAN-PT is National Accreditation Board of Higher Education in Indonesia has a standard for quality academic process improvement for higher education institutions. ISO 9001 is a standard for quality management systems. There are two issues need to be resolved when an ISO-certified higher education institutions implement Accreditation of BAN-PT. First, it is not easy to identify reusable ISO clauses and requirements when applying for BAN-PT accreditation. Second, it is difficult for ISO-certified higher education institutions to implement BAN-PT Accreditation directly, due to the differences in language, structure, and detail of these two sets of documents. The results of this study, we present a unified model that solves these two problems and can support to implement the BAN-PT Accreditation.
... These requirement are listed in Accreditation 2 standard. There is some research discussing about implementation of BAN PT Accreditation; Comparing management system of BAN PT and ISO 9001 [2] [3] , Document Management System based on BAN PT [4], Information system design based on BAN PT [5] [6], Performance management system based on BAN PT [7] [8]. System management are part of strategic management in organization. ...
Article
Full-text available
Higher education organizations need to implement a management system. However, there has not been a study that designed the management system based on the latest BAN PT Accreditation Criteria, specifically criterion number 2. The design uses the Model Based System Engineering approach with SysML Language. Translation of accreditation standard sentences is done using the Semantic approach. Trough this research, obtained a design that can be applied at the University in order to maintain the quality of education.
... Dalam penelitian-penelitian terdahulu ini terkait bagaimana melakukan integrasi model CMMI yang merupakan standar mutu pengembangan perangkat lunak dengan ISO 9001:2008 untuk standar mutu manajemen digunakan beberapa integrasi tersebut, diantaranya adalah metode komparasi [5], metode Process Mapping [6], serta metode Harmonisasi Model [7] Penelitian terkait Sistem Penjaminan Mutu telah banyak dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya. Penelitian dengan membandingkan SMM ISO 9001:2008, Standard BAN- PT dan Total Quality Management di UIN Malang [8]. Studi lain tentang peningkatan mutu proses perguruan tinggi melalui sistem ISO 9001 [9], serta studi terkait pengaruh pencapaian ISO 9001:2000 terhadap pembelajaran jarak jauh [10]. ...
Article
Sistem Penjaminan Mutu untuk Perguruan Tinggi mutlak diperlukan untuk menjamin kualitas pendidikan, khususnya program studi. ISO 9001: 2008 adalah standar untuk sistem manajemen mutu dan Akreditasi BAN-PT merupakan standar untuk peningkatan proses akademik yang berkualitas untuk perguruan tinggi. Permasalahan akan timbul bila kedua set dokumen tersebut akan diintegrasikan ke dalam suatu model sistem penjaminan mutu. Hal ini disebabkan adanya perbedaan bahasa, struktur, dan rincian kedua set dokumen tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan model sistem penjaminan mutu dengan melakukan integrasi akreditasi BAN-PT dan ISO 9001: 2008. Metode Yang digunakan dalam mengintegrasikan dua dokumen dalam penelitian ini adalah metode komparatif, metode pemetaan dan model harmonisasi. Hasil yang diharapkan dari penelitian ini menunjukkan efisiensi penggunaan kembali klausul dan persyaratan ISO dalam penerapan akreditasi BAN-PT dan efektifitas suatu penerapan akreditasi BAN-PT dalam proses adopsi ISO. Model ini akan menjadi alat yang sangat berguna untuk perguruan tinggi bersertifikat ISO yang berencana menerapkan Akreditasi BAN-PT.
Article
Full-text available
Upaya dari PTKIN dalam menciptakan insan berakhlakul karimah dan berintelektual tersebut tidak serta merta lahir dari sebuah proses dan sistem yang instan. Kesemuanya harus didukung oleh ketersediaan instrumen dan budaya mutu dari seluruh elemen penyelenggara yang ada di IAIN Metro. Konsistensi dan komitmen manajemen budaya mutu menjadi kata kunci bagi IAIN Metro dalam mencapai kualitas output yang dihasilkan. Artikel ini bertujuan untuk menggali informasi dan fakta melalui data-data yang ada di IAIN Metro dalam menjamin komitmen terselenggaranya budaya mutu melalui penerapan ISO 21001:2018. Metode yang digunakan dalam menggali berbagai informasi dan fakta tentang penerapan ISO 21001:2018 dalam kerangka penguatan manajemen mutu pada IAIN Metro dilakukan melalui pendekatan kualitatif. Informan dalam penelitian ini terdiri dari pimpinan IAIN Metro, Ketua-Ketua lembaga, dan pimpinan fakultas. Untuk mendapatkan data dan informasi yang valid dan akurat, maka pengumpulan data dilakukan melalui interview, observasi dan dokumentasi, Teknik analisis data yang digunakan adalah display, data reduction, dan drawing conclussions. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan ISO 21001:2018 dalam memperkuat manajemen budaya mutu di IAIN Metro dilakukan melalui Sistem Manajemen Organisasi Pendidikan (SMOP) dengan menerapkan model tata kelola organisasi yang berkualitas melalui sinergisitas seluruh komponen dan elemen yang ada dengan merujuk pada klausul yang diatur dalam ISO 21001:2018. Memang dalam penguatan manajemen budaya mutu pada IAIN Metro ISO 21001:2018 bukanlah satu-satunya instrumen, tapi kehadiran instrumen tersebut dirasakan mampu menjadi instrumen yang mendukung eksistensi proses, sistem, komitmen dan kebijakan yang diterapkan berdasarkan klausul yang ada pada ISO 21001:2018 tersebut.
Article
The issue of quality is a critical issue for Polytechnics in Indonesia because of the increasing demands of society on institutional performance, therefore Universities need quality assurance as a measure to assess their success or failure. In this context, the role of leadership in every organization is very dominant in developing and increasing the competitiveness of the organization. This study aims to examine the implementation of the system and formulate a management synchronization strategy between ISO 9001:2015 and SPMI to support SPME BAN-PT. This research uses the desk research method. This research method consists of three main stages, namely the standard interpretation stage, the analysis stage and the standard integration stage. The results of this study indicate that in compiling the synchronization of the ISO 9001:2015 and SPMI systems. From the conformity table of the Integration Structure of QMS ISO 9001:2015 and SPMI, it can be seen that the requirements of the ISO 9001:2015 Quality Management System and SPMI complement each other, following the requirements of the Higher Education accreditation criteria set by BAN-PT. With an integrated quality management system and consistently applied by Polman Bandung management, as a leader in this organization will increase the effectiveness in achieving institutional excellence, increase competitiveness and ensure sustainability in facing challenges and increasingly fierce competition in the world of education, both nationally and internationally.
Article
Full-text available
The present study aims to support the hypotheses proposed in the research model to prove the fact that the suggested variables can contribute to performance improvement. The study offers a novel variable namely ergo-iconic service value. The object of this study includes 118 three-star hotels located in the business districts of the SpecialCapital Region of Jakarta and West Java. The study used questionnaires that were distributed to hotel managers to acquire research data. The ergo-iconic service value as a mediating variable is proven to improve the marketing performance of the hotels. Other variables, namely, the ability to implement management system certification and the ability to adapt to technology also increase the mediating role of ergo-iconic service value. The hypotheses are empirically proven as all three variables successfully improved the hotels' marketing performance. The current research also shows that the role of humans is still significant, and human presence is required to improve performance even though we are currently in the Industry 4.0 era; in this case, not all activities should be taken over by robots.
Article
Full-text available
The quality and standard of higher education was always seen as a hot topic of discussions in many deliberations and seminars. It was always been a concern for academicians, educationists, managements and students for decades. Quality practice and quality thinking have become essential for all and is debated in various academic campuses and Diasporas across the country. Although many ways and methods for quality improvement in higher education has yielded from these forums only few saw the limelight. Many rules, regulations and policies have been proposed and renovated to accommodate quality concepts in higher education year after year by the state and central governments. Lots of plans and techniques are either proposed or in are practice to support the inflow and outflow of knowledge dissemination. Still the plan outlay of higher education has always got a low beating retreat. Neither a plan nor a policy has designed so far to cater the needs of faculties and students to meet their overall development. What we need at present is an educational revolution which can help to tap the potential of our human brains. In this scientifically recharged environment where do we stand as far as our credentials of higher education are concerned? The objective of preparing this article is to suggest some methods to recharge the quality in higher education.
Article
Full-text available
In-line with the requirements of the International Organisation for Standardisation (ISO) that mandated the shift to ISO 9001:2008, a merger of the ISO QMS for undergraduate and graduate programmes was implemented at the Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) in 2009. The merger is expected to benefit UKM as it will optimise utilisation of resources. A year later, a study was conducted to assess staffs’ awareness and acceptance of the QMS and to assess the effectiveness of the merger. The study was carried out using questionnaires with a Likert scale rating. The questionnaires were distributed to all faculties and four categories of staffs were identified as respondents namely academicians with administrative posts, academicians without administrative posts, administrative staffs and support staffs. Results of this preliminary study indicated that all categories of staffs particularly the support staffs concurred that the merger provides positive implications to time management and documentation. Besides, commands and procedures on ISO have become more effective. Results from this study will be used as inputs for further improvement to UKM's quality management system.
Article
Full-text available
This paper presents the exit survey of graduating students at Universiti Putra Malaysia (UPM). The results gathered from 1,823 final year students of the 2006/07 session indicate that overall, the students’ satisfaction level is moderately high (3.55 ± 0.79). The students’ perception on the attributes of graduates resulting from learning outcomes is also moderately high (3.65 ± 0.66). Although there are no differences in students’ satisfaction level according to gender (t = .582, p > 0.05) and students’ residence (t = .121, p > 0.05), however, it differs according to students’ study programs (F = 35.44, p Through this exit survey, together with many other assessment initiatives, the university aspires to provide the highest possible quality in terms of teaching, research and professional services.
Chapter
This book is concerned with the activities of policy making and planning as carried out by governments and associated agencies in the field of leisure, sport and tourism. It consists of 18 chapters organized in five parts with the following headings: (i) society, politics, policy and planning; (ii) planning frameworks; (iii) planning tools; (iv) evaluation; and (v) sectors, groups and issues. As well as updating reference sources, data and political events, this 4th edition has included discussions on topics such as libertarianism, theocracy, and the concept of generations. A new chapter presents discussions of a number of 'issues and challenges' facing the leisure, sport and tourism sector.
Article
The paper explores international comparisons ofthe extent of commonality or diversity in themain national external quality assuranceframeworks for higher education. It has beensuggested, from an European survey, that thereare common features in national qualityassurance frameworks (van Vught andWesterheijden (Quality Management and QualityAssurance in European Higher Education: Methodsand Mechanisms) 1993; Luxembourg, Commission ofthe European Communities, Education TrainingYouth). The paper extends the survey, tappingother comparative reports. These comparisons show that a `general model'of external quality assurance does notuniversally apply, but that most elements of itdo apply in most countries. We conclude thatthe `general model' provides a starting pointfrom which to map deviations. In each country,there may be specific additions of elements oromissions from the model, but more usuallythere are modifications or extensions ofelements. These variations are determined bypracticalities, the size of the highereducation sector, the rigidity/flexibility ofthe legal expression of quality assurance (orthe absence of enshrinement in law), and thestage of development from state control of thesector. Some additions to the `general model'are suggested. The paper also considers efforts to produce aninternational scheme for external qualityassurance of higher education, and theapplicability of the `general model' to thetransfer of quality assurance frameworks fromcountry to country.
Article
Incl. abstract, tables, bibl. The educational history of the Sultanate of Oman has undergone rapid development. In 1970, there were three primary schools. Today, there is universal education, with modern public and private institutions. In 1985, the first teacher education institutions offered a diploma programme. In 1994, six Colleges of Education, offering a degree, were established. Recently, the Directorate General-Colleges of Education, Ministry of Higher Education, introduced a quality assurance process in these colleges based on self-assessment, external review, feedback, and monitored change. This paper outlines how the process was established, the challenges it presented, and the solutions that have been developed.
Article
Incl. bibl. and abstract Although the quality issue has become a central preoccupation in other domains of higher education, current internationalisation policies and practices in higher education have developed without much concern for quality assurance. The central thesis of this paper is that we have come to a point in the development of higher education where internationalisation policies and practices face the limits of their development unless the quality challenge is addressed in all its consequences. The paper first provides an overview of contemporary forms of and recent developments in internationalisation in higher education. From more or less 'traditional' forms such as student and teaching staff mobility, internationalisation policies and practices nowadays move into activities such as exporting higher education via branch campuses and institutional co-operation, developing transnational university networks and virtual delivery of higher education, and the harmonisation of higher education systems. In these recent developments several issues and challenges arise, which in one kind or another have direct links to the quality challenge. The quality of internationalisation policies and practices itself is an important problem, but of more importance are the issues of the recognition of foreign diplomas and degrees and the recognition of credits and credit-transfer. This paper takes a critical stance towards for example the ECTS, which tries to solve these issues without much concern for quality. The way out lies in an integration of internationalisation policies and general quality assurance practices at institutional and policy levels.