Conference PaperPDF Available

Mengembangkan Wawasan Lingkungan dengan Menggunakan Paradigma Ekologis Baru Sebagai Upaya Mengurangi Pencemaran Lingkungan

Authors:
  • Universitas Negeri Malang (State University of Malang)

Abstract

Masalah lingkungan telah menjadi perhatian ilmuwan semenjak beberapa puluh tahun terakhir. Akan tetapi sesungguhnya masalah itu muncul semenjak manusia menghuni muka bumi ini. Tujuan tulisan ini untuk mengetahui penyebab pencemaran lingkungan, dan mengembangkan paradigma ekologis baru sebagai upaya mengukur wawasan lingkungan di Indonesia. Pencemaran lingkungan dimulai sejak manusia mengenal api dan berbagai peralatan teknologi lainnya. Api digunakan untuk memasak makanan. Alat teknologi digunakan untuk memenuhi segala kebutuhannya. Sampai pada suatu saat manusia mengenal berbagai teknologi untuk mengeksploitasi dan mengeksplorasi berbagai sumber daya alam. Pengenalan berbagai teknologi ini sebagai penyebab terjadinya pencemaran lingkungan. Untuk mengurangi terjadinya pencemaran diperlukan orientasi baru wawasan lingkungan yaitu dengan menerapkan paradigma ekologis baru. Simpulannya bahwa manusia merupakan penyebab utama terjadinya pencemaran lingkungan karena wawasan lingkungan yang keliru. Oleh karenanya diperlukan wawasan lingkungan yang mengarah pada paradigma ekologis baru. Kata kunci: wawasan lingkungan, pencemaran lingkungan, paradigma ekologis baru (PEB)
Prosiding Seminar Nasional Biologi / IPA dan Pembelajarannya
926 | Jurusan Biologi Universitas Negeri Malang
Mengembangkan Wawasan Lingkungan dengan Menggunakan Paradigma
Ekologis Baru Sebagai Upaya Mengurangi Pencemaran Lingkungan
Sueb
Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Negeri Malang
e-mail: msueb_2000@yahoo.com
Abstrak
Masalah lingkungan telah menjadi perhatian ilmuwan semenjak beberapa puluh tahun
terakhir. Akan tetapi sesungguhnya masalah itu muncul semenjak manusia menghuni muka
bumi ini. Tujuan tulisan ini untuk mengetahui penyebab pencemaran lingkungan, dan
mengembangkan paradigma ekologis baru sebagai upaya mengukur wawasan lingkungan di
Indonesia. Pencemaran lingkungan dimulai sejak manusia mengenal api dan berbagai peralatan
teknologi lainnya. Api digunakan untuk memasak makanan. Alat teknologi digunakan untuk
memenuhi segala kebutuhannya. Sampai pada suatu saat manusia mengenal berbagai teknologi
untuk mengeksploitasi dan mengeksplorasi berbagai sumber daya alam. Pengenalan berbagai
teknologi ini sebagai penyebab terjadinya pencemaran lingkungan. Untuk mengurangi
terjadinya pencemaran diperlukan orientasi baru wawasan lingkungan yaitu dengan menerapkan
paradigma ekologis baru. Simpulannya bahwa manusia merupakan penyebab utama terjadinya
pencemaran lingkungan karena wawasan lingkungan yang keliru. Oleh karenanya diperlukan
wawasan lingkungan yang mengarah pada paradigma ekologis baru.
Kata kunci: wawasan lingkungan, pencemaran lingkungan, paradigma ekologis baru (PEB)
Pendahuluan
Berbagai pencemaran lingkungan telah
terjadi dan akan senantiasa terjadi di bumi ini.
Salah satu penyebab tersebut diakibatkan oleh
cara pandang dan cara meninjau dan cara
menggunakan segala potensi sumber daya
alam yang ada di muka bumi. Cara pandang
manusia terhadap lingkungannya dinamakan
sebagai wawasan lingkungan yang di negeri
barat disebut sebagai environmental
worldview. Miller dan Spoolman (2010:18)
mendefinisikan environmental worldview
sebagai seperangkat asumsi dan kepercayaan
tentang bagaimana orang berfikir cara kerja
dunia, apa yang seharusnya mereka pikirkan
tentang peranannya di dunia, dan apa yang
mereka percaya merupakan perilaku
lingkungan yang baik dan salah (etika
lingkungan). Wawasan lingkungan yang
digunakan manusia berabad lalu sampai
sekarang cenderung menggunakan
antroposentrisme.
Antroposentrisme memandang bahwa
segala sesuatu di muka bumi meliputi segala
sumber daya alam yang terbentang luas di
segala sudut digunakan sepenuhnya untuk
kepentingan manusia. Organisme lain kurang
diperhitungkan manusia untuk memanfaatkan
sumber daya alam yang ada di muka bumi.
Organisme lain tersebut termasuk di dalamnya
tumbuhan, hewan, berbagai protista, jamur,
eubakteri dan arkeabakteri seolah tidak punya
hak yang sama dengan manusia. Padahal
organisme lain ini berhak hidup dan
melangsun gkan kehidupannya. Memang
organisme lain ada yang sangat mengganggu
dan menyebabkan penyakit pada manusia.
Manusia berupaya terus membasmi berbagai
organisme pengganggu ini. Sementara
terdapat berbagai makroorganisme yang
Prosiding Seminar Nasional Biologi / IPA dan Pembelajarannya
Jurusan Biologi Universitas Negeri Malang | 927
terpaksa mengalah dan terdesak oleh berbagai
kepentingan manusia akhirnya mati dan
musnah. Makroorganisme ini sekarang ini
hanya tersisa beberapa spesies dan bahkan
populasinya hanya dalam jumlah sedikit dan
dalam kondisi terancam. Akibanya manusia
menjadi terlalu dominan di alam bumi ini.
Dominansi manusia terhadap bumi telah
menjadi semakin tak terkalahkan oleh
makhluk berukuran besar apapun di muka
bumi. Pada saat ini terdapat lebih dari 7
milyar manusia yang menghuni bumi. Bumi
yang hanya satu biji ini telah menjadi tempat
manusia beranak pinak yang sepertinya tak
terbatas lagi berapa jumlah yang akan mampu
didukung. Padahal bumi memiliki daya
dukung (carrying capacity) yang terbatas.
Akankah bumi terus dihuni oleh manusia
sampai 10 milyar? Atau mungkin 25 milyar?
Apakah mungkin bumi mampu menampung
50 milyar atau bahkan 100 milyar yang
merupakan angka 13 kali lipat dari jumlah
manusia yang sekarang ada yang ada di
dalamnya?
Tentu bumi ini tidak akan sanggup
menopang manusia sebanyak 100 milyar yang
akan dicapai selama beberapa puluh atau
beberapa ratus tahun lagi. Pertambahan
populasi manusia yang semakin meningkat
disertai dengan meningkatnya penggunaan
ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni
(IPTEKS) yang juga semakin meningkat akan
menyebabkan peningkatan berbagai
kerusakan dan pencemaran. Untuk itu perlu
dicari wawasan lingkungan yang cenderung
dapat menyelamatkan kehidupan. Sebab,
selama ratusan tahun bahkan sampai saat ini
manusia terlalu mementingkan dirinya sendiri.
Manusia terlalu mengacu pada dirinya sendiri.
Wawasan lingkungan ini perlu menggunakan
instrumen untuk meningkatkan kesadaran
manusia sebagai anggota ekosistem atau
biosfer. Selama lebih dari 30 tahun skala
paradigma ekologis baru (New Ecological
Paradigm) telah berhasil digunakan untuk
menyelidiki wawasan ekologis kaum dewasa
(Dunlap & Van Liere, 1978; Dunlap et al.,
2000 dalam Van Petegen dan Blick, 2006).
Untuk itu perlu dicari upaya untuk
menggunakan skala tersebut di Indonesia.
Untuk itulah dalam makalah ini akan
dibahas dengan beberapa tujuan. Tujuan
tersebut antara lain: mengetahui penyebab
pencemaran lingkungan, dan mengembangkan
paradigma ekologis baru sebagai upaya
mengukur wawasan lingkungan di Indonesia.
Memahami Pencemaran Lingkungan
Undang-Undang No.32 (2009) tentang
perlindungan dan pengelolaan lingkungan
menyatakan bahwa pencemaran lingkungan
adalah masuk atau dimasukkannya makhluk
hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke
dalam lingkungan hidup oleh kegiatan
manusia sehingga melampaui baku mutu
lingkungan hidup yang telah ditetapkan.
Sementara itu, pencemaran lingkungan
bermakna pencemaran lingkungan karena
lepasnya substansi dari proses apapun yang
dapat menyebabkan bahaya pada manusia dan
organisme hidup yang ditopang oleh
lingkungan (Hussain, 1998 dalam Roman,
2013) dan pencemaran lingkungan adalah
kontaminasi komponen fisik dan biologis
bumi/sistem atmosfer pada jumlah yang
sedemikian rupa sehingga proses lingkungan
lingkungan terpengaruh berat (Kemp, 1998
dalam Roman, 2013).
Pencemaran lingkungan telah terjadi di
seluruh dunia. Pencemaran lingkungan telah
menjadi masalah dunia dan berpotensi besar
memengaruhi kesehatan populasi manusia
(Fereidoun et al., 2007; Progressive
Insurance, 2005 dalam Khan dan Ghouri,
2011). Selanjutnya Khan dan Ghouri (2011)
menyatakan bahwa beraneka jenis
pencemaran lingkungan (pencemaran udara,
tanah, air) tidak hanya berpengaruh pada
manusia dengan penyakit dan masalah juga
pada hewan dan tumbuhan. Akan tetapi
mereka berdua menyatakan bahwa masih ada
waktu tersisa melalui tangan lembaga global,
Prosiding Seminar Nasional Biologi / IPA dan Pembelajarannya
928 | Jurusan Biologi Universitas Negeri Malang
badan pemerintah dan lokal untuk
menggunakan sumber daya maju dan untuk
menyeimbangkan lingkungan bagi kehidupan
dan memulai hidup ramah dengan lingkungan.
Bhattacharjee (2010) menyatakan
pencemaran lingkungan di alam sangat tinggi
terjadi di sekitar daerah industri seperti
pemurnian minyak, petrokimia, industri kimia
dan industri berat dan lainnya. Sepanjang
waktu residu industri tersebut umumnya
tersusun atas beraneka materi beracun dalam
bentuk gas, dibuang atau dibakar di udara
terbuka setelah dibakar melalui lubang
cerobong yang dipasang tinggi. Materi
beracun inilah yang menyebabkan berbagai
ketimpangan dan pencemaran.
Penyebab Pencemaran Lingkungan
Penyebab nyata pencemaran lingkungan
disebabkan banyak hal. Beberapa di antaranya
berubahnya perilaku manusia terhadap
lingkungan, dan berubahnya wawasan
lingkungan manusia terhadap alam di
sekitarnya. Hayati dan Sayadi (2012)
menyatakan bahwa bangunan tinggi
menyebabkan peningkatan pencemaran udara
di daerah kota besar karena perubahan arah
angin dan juga kemacetan (congestion)
bangunan tinggi sebagai sumber pencemar.
Oleh karena itu, mereka berdua berpendapat
bahwa diperlukan teknik tertentu untuk
merancang bangunan tinggi untuk mengurangi
dampak negatif bangunan tinggi terhadap
pencemaran lingkungan.
Zucchetti (2005) melalui penelitian
asesmen statistik untuk menguji jika “Quirra
syndrome” ada, simulasi dengan dispersi
atmosfer dan kode dosis (HOTSPOT) untuk
mengevaluasi dampak kesehatan dispersi
udara Depleted Uranium. Dari penelitian ini
disimpulkan bahwa the “Quirra Syndrome”
ada, tetapi kemungkinan ini tidak seluruhnya
disebabkan oleh Depleted Uranium (DU).
Penyebab lainnya kemungkinan yang
menyebabkan pencemaran udara.
Sementara itu, Kimani (tanpa tahun) di
Kenya pencemaran lingkungan berkaitan
dengan kesehatan masyarakat. Sampel tanah
yang diambil dari lokasi dan dekat
pembuangan sampah (dumpsite) menunjukkan
kadar logam berat yang tinggi terutama
merkuri, kadmium, tembaga dan krom. Pada
saat yang sama, evaluasi medis pada anak dan
remaja yang tinggal dan bersekolah sekitar
dumpsite menunjukan insidensi penyakit yang
tinggi yang berkaitan dengan pajanan tinggi
pencemar logam tersebut.
Sementara itu, Savei (2012)
menyimpulkan peningkatan konsumsi pupuk
di seluruh dunia menyebabkan masalah yang
serius pada lingkungan. Pupuk dapat
memengaruhi akumulasi logam berat pada
tanah dan sistem tumbuhan. Tumbuhan
menyerap pupuk melalui tanah, dan kemudian
memasuki rantai makanan. Dia menambahkan
jika pupuk ini digunakan tidak tepat dan
terlalu banyak akan menyebabkan
pencemaran udara oleh emisi nitrogen oksida
(NO, N2O dan NO
2
). Ndwiga et al., (2014)
menyimpulkan memasak dengan bahan bakar
biomassa memajan wanita pada efek
kesehatan pencemaran udara indoor yang
berbahaya. Dampak kesehatan lainnya yang
dialami selama tahapan rantai bahan bakar
biomassa meliputi pengumpulan (gathering),
pemrosesan, trasnportasi dan memasak.
Paradigma Ekologis Baru Sebagai Upaya
Mengurangi Pencemaran Lingkungan di
Indonesia
Telah banyak upaya ilmuwan untuk
menanggulangi dan mencegah semakin
meningkatnya pencemaran lingkungan. Ada
yang menggunakan berbagai peralatan
teknologi , penerapan berbagai undang-
undang dan penerapan pendidikan berbasis
lingkungan. Upaya yang digalakkan melalui
pendidikan lingkungan bertujuan agar tercipta
generasi yang memiliki wawasan lingkungan
yang lebih baik daripada generasi
sebelumnya.
Prosiding Seminar Nasional Biologi / IPA dan Pembelajarannya
Jurusan Biologi Universitas Negeri Malang | 929
Generasi kita pada saat ini lebih banyak
menggunakan wawasan lingkungan yang
cenderung mementingkan dirinya sendiri.
Dalam arti lingkungan tampaknya hanya
diperuntukkan bagi manusia. Paham yang
demikian dikenal sebagai antroposentrisme
(antropos=manusia, sentris=pusat). Paham
inilah yang semenjak revolusi industri masih
banyak digunakan oleh manusia modern.
Paham antroposentrisme atau dikenal
wawasan antroposentris yang pada mulanya
mewakili budaya masyarakat barat yang
kemudian disebarkan ke bagian lain dunia ini.
Wawasan antroposentris (Sokram, 2013) ini
memiliki perpektif: (1) manusia itu superior
dan di atas alam, (2) sumber daya alam
terdapat berlimpah sehingga tak perlu
konservasi, (3) manusia, karena memiliki
budaya dan teknologi, dapat beradaptasi pada
alam sampai akhir manusia daripada
beradaptasi pada lingkungan alam, dan (4)
ilmu sosial menganggap manusia sebagai
terbebas dari hambatan ekologis. Karena
wawasan antroposentris inilah berbagai
sumber daya alam dieksploitasi dan
dieksplorasi demi kepuasan dan kebutuhan
manusia. Akibatnya jelas semakin lama
semakin banyak kerusakan lingkungan dan
pencemaran lingkungan.
Oleh karena itu, perlu dicari wawasan
lingkungan baru yang lebih cenderung tidak
terlalu mementingkan manusia. Sebab,
ternyata sumber daya alam ini terbatas dan
pada suatu saat akan habis. Wawasan
lingkungan yang lebih memberdayakan
lingkungan dan lebih menjaga keberlanjutan
hidup itulah yang perlu diwujudkan dan
diejawantahkan dalam kehidupan seseharian
kita. Wawasan lingkungan yang dimaksud
berupa biosentrisme. Biosentrisme
memandang bahwa segala kehidupan ini
penting bukan hanya bagi keberlanjutan hidup
manusia tetapi juga keberlanjutan segala
komponen yang ada di lingkungan. Sebab,
manusia telah menyadari saat ini bahwa
terjadinya banyak kerusakan dan pencemaran
di muka bumi ini diakibatkan salah satunya
oleh wawasan lingkungan antroposentris yang
telah digunakan berabad dan ditiru oleh
bangsa lain yang kurang maju.
Penelitian Henning et al., (tanpa tahun)
tentang wawasan lingkungan atau wawasan
ekologis menyajikan hasil skala Paradigma
Ekologis Baru (The New Ecological
Paradigm/NEP) merupakan pendekatan yang
diterima untuk mengukur perilaku ke arah
lingkungan. Produser tebu yang merespons
penelitian tersebut memiliki kepercayaan kuat
bahwa manusia memiliki kemampuan untuk
mengatasi alam melalui intelektual dan talenta
lainnya. Henning et al., (tanpa tahun)
menambahkan bahwa produser percaya bahwa
dia dapat meningkatkan produktivitas sumber
daya alam tanpa membahayakan
keseimbangan alam.
Rider (2005) menyimpulkan tesisnya
antara lain profesional perancang gedung
hijau menerima skor tinggi pada skala
paradigma ekologis baru (PEB). Ini mengarah
pada simpulan bahwa perancang memiliki
kemampuan untuk memedulikan lingkungan
yang berkaitan dengan profesinya; ini
mengislustrasikan bahwa rancangan dan
lingkungan tidak perlu ekslusif bila berkaitan
dengan praktisi.
De Pauw, J.B. dan Van Petegem (2012)
menyimpulkan bahwa paradigma ekologis
baru (PEB) selain populer untuk mengukur
kepedulian dan orientasi prolingkungan orang
dewasa yang dengan modifikasi dapat
digunakan pada anak. Hasil penelitian mereka
menunjukkan bahwa ada pengaruh budaya
yang sangat signifikan dan jelas pada
wawasan lingkungan anak, bila negara
berkembang dan negara maju dibandingkan.
Untuk itu perlu dikenal lebih jauh apa
sebenarnya skala paradigma ekologis baru
(PEB) yang akan dapat digunakan untuk
mengukur apakah manusia tersebut
berwawasan lingkungan apa tidak. Skala
paradigma ekologis baru terdiri atas 15
Prosiding Seminar Nasional Biologi / IPA dan Pembelajarannya
930 | Jurusan Biologi Universitas Negeri Malang
pernyataan. Kelima belas pernyataan dijawab
dengan pilihan jawaban sangat setuju, setuju,
netral, tidak setuju, dan sangat tidak setuju.
Kelimabelas pernyataan tersebut (Rider, 2005
dan Sokram, 2013) sebagai berikut. (1).
Manusia mendekati batas jumlah yang dapat
disokong bumi. (2). Manusia memiliki hak
mengubah lingkungan alam untuk
menyesesuaikan dengan kebutuhannya.(3).
Ketika manusia berinteraski dengan alam
sering menghasilkan akibat yang
membayakan.(4). Kecerdikan manusia akan
terasuransikan jika kita tidak membuat bumi
tak dapat ditinggali.(5). Manusia
menyalahgunakan lingkungan.(6). Bumi
memiliki sumber daya alam berlimpah
sehingga kita belajar untuk
mengembangkannya.(7). Tumbuhan dan
hewan memiliki hak yang sama dengan
manusia.(8). Keseimbangan alam cukup kuat
untuk menangani dampak industri modern.
(9). Meskipun memiliki kemampuan yang
istimewa manusia masih tunduk pada hukum
alam.(10). Krisis ekologis terkenal yang
menghadang manusia telah terlalu
dibesarkan.(11). Bumi seperti kapal ruang
angkasa dengan kamar dan sumber daya yang
terbatas. (12). Manusia merupakan pengatur
alam. (13). Keseimbangan alam sangat lembut
dan mudah terganggu. (14). Manusia akhirnya
akan belajar cukup tentang bagaimana alam
bekerja untuk dapat mengendalikannya. (15).
Jika segala sesuatu berlanjut pada perjalanan
sekarang, kita akan segera mengalami
bencana ekologis yang besar.
Kelimabelas indikator paradigma
ekologis baru inilah yang dapat digunakan
untuk mendeteksi apakah seseorang
berwawasan ekologis atau berwawasan
lingkungan. Diharapkan dengan skor yang
tinggi wawasan ekologis seseorang akan dapat
meningkatkan kepeduliannya pada lingkungan
dan pada gilirannya akan dapat mengurangi
berbagai kerusakan serta yang paling utama
berkurangnya pencemaran lingkungan.
Memang hal tersebut tidak seperti membalik
tangan. Tetapi pada masanya kita harus
optimis bahwa manusia yang memiliki skor
paradigma ekologis baru tinggi akan dapat
minimal mengurangi pencemaran lingkungan.
Simpulan
Dapat disimpulkan bahwa penyebab
terjadinya pencemaran lingkungan antara lain
terjadinya perubahan perilaku dan wawasan
lingkungan manusia terhadap alam.
Perubahan tersebut ditengarai dengan adanya
bangunan tinggi menyebabkan peningkatan
pencemaran udara di kota. Selain itu,
penyebab pencemaran lingkungan juga
disebabkan oleh penggunaan pupuk yang
tidak sesuai dengan peruntukannya. Pupuk
akhirnya mengalir ke perairan dan
menimbulkan masalah di air. Paradigma
ekologis baru dapat digunakan untuk
mengukur wawasan lingkungan. Paradigma
ekologis baru terbentuk dari 15 pernyataan.
Daftar Rujukan
Bhattacharjee, P.K. 2010. Environmental
Pollution Free System in All Over The
World. International Journal of
Environmental Science and Development,
Vol. 1, No. 1, April. ISSN:2010-0264.
De Pauw, J.B. dan Van Petegem, P. 2012.
Cultural Differences In The Environmental
Worldview Of Children. International
Electronic Journal Of Environmental
Education Vol.2, Issue 1, ISSN: 2146-
0329. © International Electronic Journal
Of Environmental Education,
2012.www.Iejeegreen.Com.
Hayati, H. dan Sayadi, M.H.2012. Impact of
tall buildings in environmental pollution.
Environmental Skeptics and Critics,
1(1):8-11.
Henning, S.A, Zhong,Y. dan Cardona, H.
Tanpa tahun. Ecological Attitudes of
Farmers and Adoption of Best
Management Practices. Southwestern
Economic Proceedings.
Khan, M.A. dan Ghouri, A.M. 2011.
Environmental Pollution: Its Effects On
Prosiding Seminar Nasional Biologi / IPA dan Pembelajarannya
Jurusan Biologi Universitas Negeri Malang | 931
Life And Its Remedies. International
Refereed Research Journal .Vol.– II, Issue
–2,April, www..researchersworlld..com.
Kimani, N.G..Tanpa tahun. Environmental
Pollution and Impacts on Public Health:
Implications of Dandora Municipal
Dumping Site in Nairobi, Kenya. Summary
Report. Urban Environment Unit, United
Nations Environment Programme, Nairobi
Kenya.o
Miller, G. T. Jr. dan Spoolman, S.E. 2010.
Environmental Science. Thirteenth Edition.
Australia: Brooks/Cole Cengage Learning.
Ndwiga, T, Kei,R.T., Jepngetich,H. dan
Korrir, K. 2014. Assessment of Health
Effects Related to the Use of Biomass Fuel
and Indoor Air Pollution in Kapkokwon
Sub-Location, Bomet Country,Kenya.
Open Journal of Air Pollution, 3, 61-69.
http://dx.doi.org/10.4236/ojap.2014.33007.
Rider, T.R.2005. Education, Environmental
Attitudes And The Design Professions: A
Masters Thesis. A Thesis. Presented to the
Faculty of the Graduate School of Cornell
University In Partial Fulfillment of the
Requirements for the Degree of Master of
Science.
Roman, M., Idrees, M., dan Ullah,S. 2013. A
Sociological Study of Environmental
Pollution and Its Effects on the Public
Health Faisalabad City. International
Journal of Education and Research¸Vol. 1
No. 6 June.
Savei, S. 2012. An Agricultural Pollutant:
Chemical Fertilizer. International Journal
of Environmental Science and
Development, Vol. 3, No. 1, February.
Sookram, R. 2013. Environmental Attitudes
and Environmental Stewardship:
Implications for Sustainability. The
Journal of Values-Based
Leadership.Volume 6, Issue 2
Summer/Fall 2013 Article 5.
Undang-Undang No.32. 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup.
Van Petegem, P. dan Blieck, A. 2006. The
environmental worldview of children: a
cross-cultural perspective. Environmental
Education Research, Vol. 12, No. 5,
November pp. 625–635, ISSN 1350-4622
(print)/ISSN 1469-5871
(online)/06/050625–11.
Zucchetti, M. 2005. Environmental Pollution
And Health Effects In The Quirra Area,
Sardinia Island (Italy) And The Depleted
Uranium Case. Journal of Environmental
Protection and Ecology.
... Educational institutions can play a role in facilitating students in studying environmental change and how to deal with environmental pollution (13). Philosophically, it can be said that the cause of environmental pollution is because environmental knowledge is still wrong, so it is necessary to provide correct information about the environment and how to protect it (14). A study shows that providing information through the environmental pollution module can better affect students' views of the environment (15). ...
Article
Full-text available
Empowering skills students to help prepare themselves for the defiance 21st century. One of the skills needed is critical thinking. The ability to think critically can be honed by applying waste environmental learning tools. This study aims to determine the effectiveness of the waste environment learning tools on students’ critical thinking skills. The study used a semi-experimental study with a pretest-posttest nonrandomized control group design. Data collection occurs before and after online learning activities using questions and rubrics. The research subjects were two tenth classes of Biology. Data analysis used Ancova showed that α <(α = 0.05). Based on data analysis, there are differences in students’ critical thinking skills with learning to use and not to use waste environment learning tools.
Conference Paper
Full-text available
This development research aims to create an Intelligent Tutoring System (ITS) application to identify the level of understanding of the law nun sukun or tanwin for Madin Al-Fadholi students who are valid, practical, and effective using Adobe Flash CS6 application with ActionScript 3.0 programming language. This development used Waterfall model which includes 5 stages: (1) requirements, (2) design, (3) implementation, (4) verification, (5) maintenance. Based on the results of product validity testing by media experts and material experts, the results obtained are 4.80 and 4.60, respectively, which are very valid. The results of user evaluations from 3 teachers are 4.63 and 16 users (santri) are 4.33 with a very valid level. The results of the evaluation of all validators are 4.59 out of the maximum value of 5, so a very valid level is obtained for this ITS product. Then it is known that the application of the Intelligent Tutoring System to identify the level of understanding of the law nun sukun or tanwin declared very valid, effective, and feasible to use.
Article
Full-text available
Consumer society, in order to meet the growing need for food, agricultural land per unit area required to achieve maximum efficiency and highest quality product. It is known that the nutrition of the plant is the one of the most important factors to control agricultural productivity and quality. Rates of nutrients in the soil affects the quality of yield. In the permanent agricultural land, the soil will be very poor in nutrients, as a result, inefficient. Therefore, producers, fertilize the soil, combat pests, irrigation and process of agricultural activities to make more efficient to soil. Fertilization among these activities remains a priority at all times. Recent studies, however, excessive use of fertilizers is the need for additional land outside the public and environmental health of the reported adverse affects. Excessive fertilization and mindless, but there were soil salinity, heavy metal accumulation, water eutrophication and accumulation of nitrate, to consider in terms of air pollution in the air of gases containing nitrogen and sulfur, giving and can lead to problems such as the greenhouse effect. In this review, aims to reveal environmental and health problems caused by improper fertilization provides recommendation toward solving these problems.
Article
Full-text available
Biomass Fuel (BMF) refers to burned plant or animal material; wood, charcoal, dung and crop residues which account for more than half of domestic energy in most developing countries and for as much as 95% in low income countries. It is estimated that about 3 billion people in the world rely on biomass fuel for cooking, heating and lighting. The biomass fuel chain includes gathering, transportation, processing and combustion. These processes are predominantly managed by women where they work as gatherers, processors, carriers or transporters and also as end-users or cooks. Thus, they suffer health hazards at all stages of the biomass fuel chain. The main objective was to assess health effects related to the use of Biomass fuel and indoor air pollution in Kapkokwon Sub-location, Kericho County, Kenya from March to May, 2013. The study area was Kapkokwon sublocation, Bomet County, Kenya. The study population was 202 households. Primary females of the household were the target group as they managed the biomass chain. A quantitative descriptive cross-sectional study design was adopted to assess the health effects associated to the use of biomass fuel and indoor air pollution. The research revealed that women suffer different type of physical ailments due to the biomass fuel chain. Physical exhaustion (86%), neck aches (78%), headaches (34%), knee aches (30%) and back aches (16%) were reported as the principal health effects associated with the third stage of the biomass fuel chain. Irritation of the mucus membrane of the eyes, nose and throat (100%), coughing (100%), burns (42%), shortness of breath (38%) and exacerbation of asthma (2%) were identified as principal health effects associated with the fourth stage of the biomass fuel chain (cooking). As a result of the detrimental impact of indoor air pollution (IAP) on health and mortality, many governments, non-governmental organization and international organizations should develop strategies aimed at reducing indoor air pollution. The strategies to include subsidization of cleaner fuel technologies, development, promotion and subsidization of improved cooking stoves, use of solar thermal cookers and solar hot water heaters, processing biomass fuel to make them cleaner, modifying user behavior and improved household design.
Article
Full-text available
The authors' research investigated young people's environmental worldviews using the revised 'New Ecological Paradigm' scale for children. The scale is a widely used measure of people's shifting worldviews from a human dominant view to an ecological one, with humans as part of nature. However, the scale has not been used with children. By administering the scale to children aged 13– 15 in Belgium and Zimbabwe, the authors found statistical differences between the two subgroups in their perspectives on human–environment interactions. Children in Zimbabwe and Belgium display ecological worldviews but differences occur at the human dominance dimension. Respon-dents in Belgium believe in human–nature equality, whereas Zimbabwean youngsters feel more dominant over nature and emphasize a utilitarian view of the environment.
Article
Quirra is a village located in the Italian Sardinia Island, close to a big military polygon where ballistic missiles and weapons are tested. Recently, the zone has been driven to the attention of the media due to the so-called “Quirra syndrome”, an apparently off-normal incidence of illnesses in that zone. The media indicated in the military use of Depleted Uranium a possible cause of the above situation. The paper carries out the following: a statistical assessment, to verify if the “Quirra syndrome” exists, simulations with an atmospheric dispersion and dose code (HOTSPOT) in order to evaluate health effects of the supposed Depleted Uranium airborne dispersion. The conclusion is that the “Quirra Syndrome” exists, however it is probably not entirely due to Depleted Uranium. Other possible causes are briefly accounted for.
A Sociological Study of Environmental Pollution and Its Effects on the Public Health Faisalabad City
  • M Roman
  • M Idrees
  • S Dan Ullah
Roman, M., Idrees, M., dan Ullah,S. 2013. A Sociological Study of Environmental Pollution and Its Effects on the Public Health Faisalabad City. International Journal of Education and Research¸Vol. 1 No. 6 June.
Tanpa tahun. Environmental Pollution and Impacts on Public Health: Implications of Dandora Municipal Dumping Site in Nairobi, Kenya. Summary Report
  • N G Kimani
Kimani, N.G..Tanpa tahun. Environmental Pollution and Impacts on Public Health: Implications of Dandora Municipal Dumping Site in Nairobi, Kenya. Summary Report. Urban Environment Unit, United Nations Environment Programme, Nairobi Kenya.o
Environmental Science. Thirteenth Edition Australia: Brooks/Cole Cengage Learning Assessment of Health Effects Related to the Use of Biomass Fuel and Indoor Air Pollution in Kapkokwon Sub-Location
  • G T Miller
  • Jr
  • S E Dan Spoolman
  • T Ndwiga
  • R T Kei
  • H Jepngetich
  • K Dan Korrir
Miller, G. T. Jr. dan Spoolman, S.E. 2010. Environmental Science. Thirteenth Edition. Australia: Brooks/Cole Cengage Learning. Ndwiga, T, Kei,R.T., Jepngetich,H. dan Korrir, K. 2014. Assessment of Health Effects Related to the Use of Biomass Fuel and Indoor Air Pollution in Kapkokwon Sub-Location, Bomet Country,Kenya. Open Journal of Air Pollution, 3, 61-69. http://dx.doi.org/10.4236/ojap.2014.33007.
Environmental Attitudes and Environmental Stewardship: Implications for Sustainability. The Journal of Values-Based Leadership
  • R Sookram
Sookram, R. 2013. Environmental Attitudes and Environmental Stewardship: Implications for Sustainability. The Journal of Values-Based Leadership.Volume 6, Issue 2
An Agricultural Pollutant: Chemical Fertilizer
  • S Savei
Savei, S. 2012. An Agricultural Pollutant: Chemical Fertilizer. International Journal of Environmental Science and Development, Vol. 3, No. 1, February.