ArticlePDF Available

Kebutuhan Web Services Untuk Sinkronisasi Data Antar Sistem Informasi dalam E-Gov di Pemkab Bantul Yogyakarta

Authors:

Abstract

Pemkab Bantul yang merupakan bagian wilayah pemerintahan Propinsi DIY telah mengembangkan sebanyak 28 aplikasi sistem informasi untuk untuk mendukung kegiatan administrasi, pengolahan data internal, dan layanan informasi publik. Di samping itu, saat ini Pemkab Bantul juga sudah mengembangkan dan mengelola website http://bantulkab.go.id/, di dalamnya telah dikembangkan sebanyak 34 aplikasi yang sebagian besar dapat diakses dari portal web Pemkab, dan sebagian yang lain merupakan sub domain dalam portal web Pemkab. Berbagai upaya peningkatan pemanfaatan TIK terus dilakukan oleh Pemkab Bantul dalam rangka meningkatkan kualitas e-Gov. Dalam rangka mencapai visi bidang TIK, saat ini terdapat permasalahan penting dan perlu segera diatasi yaitu bagaimana melakukan sinkronisasi data antara aplikasi yang telah ada. Tulisan ini mengungkap kondisi sistem informasi di lingkungan Pemkab Bantul dan bagimana mengatasi permasalahan sinkronisasi data antara aplikasi sistem informasi yang telah berjalan dengan memanfaatkan model web services.
JURNAL
TEKNOLOGI
INFORMASI DAN
KOMUNIKASI
Volwne
I-Nomor
1- JuDi 2012
PenanggungJawab
Ketua STMIK Bandoog
PemimpinVmum
Direktur lnovasi Dan Kerjasama
PenyuntingAhli
Prof
Dr
Engkos Koswara
N.
(LIPI)
Prof
Dr. Bambang RiyantoTrilaksono (ITB)
Dr. Suryadi Siregar (ITB)
Dr. Suprijadi Haryono (ITE)
Dr
Kridanto Surendro (ITB)
Dr. Rila Mandala (ITB)
Dr. Rajesri Govindaraju (ITB)
Dr. Rinaldi Munir (ITB)
Dr. EkoMarpanadji (UNY)
Dr. Tjon Wan San (ITHB)
Dr
Samuel Beta(POLNES)
Dr
YB
Gunawan (POLBAN)
Dr
Mohamad Sarosa (Poltek. Malang)
.Dr. Abdurrabman (STMIK Bandoog)
KetuaPenyuntingPelaksana
Uro Abdurrohim, MT.
PenyuntingPelaksana
Jr.
Ahmad Suryan, MT
Mina IsmuRahayu, MT
RiruNurainiSukmana, MT
Jr.
Ari FajarSantoso,
M.
T
Ir
EkoDarwiyanto, MT
Ir. AgoesSupriadi, MT
AgusSupriatna, M.Si
Drs. LiliSukmana, M.M
Drs. Mulyoto Marwan
Subhan, S.Ag
Desain
Cnver
dan
Website
YusJayusman, S.Kom.
Pelaksana
Tata
Vsaha
lndra MaulanaKusuma, ST
Wahyunita Herlinda Duba, S.Kom
Zahara Ritonga, S.Kom
---_.
----------
~-
\
,er,.'cIJ~,
r
,
~.~IUK:
PE~~U::::~AN
1
",,;,··,"
,.,\Cl
~'D
,-
L
IS
I
";
'.~:':'~
.~
It'';r
~'
~
J-
iL
'<'''~i''
·1
...
_.
__
·._·
•·
alam
__
edaksi
ISSN
2087-9989
Puji
syukur kita
panjatkan
ke
hadirat
Tuhan
Yang
Maha
Esa,
karena atas
ridho-Nya
STMIK
Bandung
dapat
menerbitkan Jurnal Telmologi
Informasi
dan
Komunikasi
yang
pertama.
Kehadiran
jurnal
dilingkungan
perguruan
tinggi
merupakan
wahana
untuk
menuangkan
berbagai
gagasan
dan
pemikiran
dibidang
ilmu teknologi inforrnasi
sehingga
menjadi
salah
salu
unsur
ke dinamisan
dalam
membngun
kultur
akademik
yang kondusif.
Karya
ilmiah dalam
jumal
ini merupakan
karya
ilmiah
akademis
dan professional yang senantiasa
memiliki
komitmen
untuk
mengembangkan
teknologi informasi
dan
komunikasi
baik dalam tataran praktis
maupun
teoritis,
sehingga
telmologi informasi
sebagai
ilmu
senantiasa
dapat
dikaji
dan
dicennati
terutama
ketika
harns
diimplementasikan.
Kemapanan
sebuah
disiplin ilmu akan terwujud
manakala
ilmu
pengetahuan
tersebut
dapat
memberikan kontribusi
bagi
kehidupan
manusia
sebagai pengguna,
Peningkatan
kualitas
karya
ilmiah
dalam
jurnal
telmologi
informasi adalah
agenda
yang
fundamental,
semoga
berguna
bagi
kita
sekalian.
Salam
Redaksi
AIamat
RedaksiIPenerbit:
Sekolah
Tinggi
Manajemen
Informatika
Komputer
JI.
Phh.
Mustofa
No.
33
Dandung
Telp
I Fax (022)
7207777
\
email:
info@stmik-bandung.ac.id
website :www.stmik-bandung.ac.id
Jurnal Teknikinformasi dan Komunikasi (JIJRTIK) diterbitkan oleh Direkturinovasi dan Kejasama STMIK Bandung.
Redaksi mengundang para profesional dari dunia industri, pendidikan dan peneliti untuk menuliskan hasil karya ilmiah
dan
pengalaman praktis di Iapangan terkait implementasi informatika. Jumal Teknik Informatika diterbitkan 2 (dua )kali
dalam satu tahoo
Dada
bulan
Juni
dan Desember.
JURNAL
TEKNOLOGI
lNFORMASI
DAN
KOMUNIKASI
Volume
I-Nomor
1-
JUDi
2012
PenaogguogJawab
Ketua STMIK Bandung
PemimpioUmum
DiteIrurlnovasi Dan Kerjasama
PenyuntingAhli
Prof
Dr.
Engkos Koswara
N.
(LIPI)
Prof Dr. Barnbang RiyantoTriIaksono (ITB)
Dr. Smyadi Siregar (ITB)
Dr. Suprijadi Haryono (ITB)
Dr. Kridanto Surendro
(ITB)
Dr.
Rila Mandala (ITB)
Dr.
Rajesri Govindaraju (ITB)
Dr. Rinaldi Munir (ITB)
Dr. EkoMarpanadji (UNY)
Dr. Tjon Wan San (ITHB)
Dr.
Samuel Beta(POLNES)
Dr. YB Gunawan (POLBAN)
Dr.
Mohamad Sarosa (Poltek. Malang)
Dr.
Abdurralnnan (STMIK Bandung)
KetuaPenyuntingPelaksana
Uro
Abdurrohim, MY
PenyuntingPelaksana
lr. Ahmad Suryan,
MT
Mina IsmuRahayu,
MT
RiniNurainiSukmana,
MT
lr.
Ari
FajarSantoso,
M.
T
Ir.
EkoDarwiyanto,
MT
Ir.
AgoesSupriadi,
MT
AgusSupriatna, M.Si
Drs. LiliSukmana,
M.M
Drs. Mulyoto Marwan
Subhan, S.Ag
Desain Cover dan Website
YusJayusman, S.Kom.
Pelaksana
Tata
Usaha
Indra MaulanaKusuma, ST
Wahyunita Herlinda Duha, S.Kom
Zahara Ritonga, S.Kom
ISSN 2087-9989
Salam
Redaksi
Puji syukur kita panjatkan ke badirat Tuban
Yang
Maha
Esa, karena atas ridho-Nya STMIK Bandung dapat
menerbitkan Jurnal Teknologi Informasi dan Komunikasi
yang pertama. Kehadiran jurnal dilingkungan perguruan
tinggi merupakan wahana untuk menuangkan berbagai
gagasan dan pemikiran dibidang ilmu teknologi informasi
sehingga menjadi salah satu unsur ke dinamisan dalam
membngun kultur akademik yang kondusif.
Karya ilmiah dalam
jumal
ini merupakan karya ilmiah
akademis dan professional yang senantiasa memiliki
komitmen untuk mengembangkan teknologi informasi dan
komunikasi baik dalam tataran praktis maupun teoritis,
sehingga teknologi informasi sebagai ilmu senantiasa
dapat dikaji dan dicermati terutama ketika harns
diimplementasikan.
Kemapanan sebuah disiplin ilmu akan terwujud manakala
ilmu pengetahuan tersebut dapat memberikan kontribusi
bagi kehidupan manusia sebagai pengguna.
Peningkatan kualitas karya ilmiah dalam
jumal
teknologi
informasi adalah agenda yang fundamental, semoga
berguna bagi kita sekalian.
Salam
Redaksi
Alamat
RedaksiIPenerbit:
Sekolah
Tinggi
Manajemen
Informatika
Komputer
JL
Phh.
Mustofa
No. 33
Bandung
Telp
I
Fax
(022) 7207777 \
email:
info@stmik-bandung.ac.id
website :www.stmik-bandung.ac.id
Jwnal Teknik Infonnasi
dan
Komunikasi (JURTIK) diterbitkan oleh Direktur luovasi STMIK Bandung. Redaksi
mengundang para profesional dari dunia industri, pendidikan
dan
peneliti untuk menuliskan hasil karya ihniah
dan
pengalaman praktis di lapangan !erkait implementasi informatika. Jumal Teknik luformatika diterbitkan 2 (dua )kali
dalam satu tahun
Dada
bulan
Joni
dan Desember.
I.--
ISSN 2087-9989
DAFfARISI
1.
MPEG Musical Slide Show Application Formal
untuk
Format Penyimpanan
dan
Pengayaan Data Multimedia 1-6
Houari Sabinn, Munchurl Kim
2.
Fungsi Potensial Vektor
Pads
Perencanaan
Gerak
Mobile Robol Tunggal
Diruang Kerja Kompleks 7-13
Anugrah Kusumo Pamosoaji
3.
Web Usage Mining Untuk Business Intelligence Menggunakan
A1goritma Ant Miner 14-23
Abdurrahman
4.
Membangun
Jalur
Layanan Tambahan untuk Sistem Informasi Akademik
Menggunakan Telmologi Berbasis Internet
24
-
31
D.
Abdrohim,
Yus
Jayusman
5.
Analisa
Tata
KelolaTeknologi Informasi Menggunakan Model Weill Dan Ross 32-38
Ari Fajar Santoso, Ahmad Suryan, BudhiYulianto
6.
KebuluhanWeb ServiceUntukSinkronisasi Data
Antar
Sistem Informasi Dalam E-Gov diPemkab Bantul Yogyakarta 39-48
Edhy Sutanta, Khabib Mustofa
7.
Pemanfaatan Telmologi
Smart
Phone Sebagai media
pembelajaran (m-Learning) 49-54
Yus
Jayusman, Uro Abdrohim
L
Jurnal Teknologi Informasi dan Komunikasi Vol. 1 No.1, Juni 2012
KEBUTUHAN WEB SERVICES UNTUK SINKRONISASI DATA ANTAR
SISTEM INFORMASI DALAM E-GOV DI PEMKAB BANTUL YOGYAKARTA
Edhy Sutanta1, Khabib Mustofa2
1Mahasiswa Program S3 Ilmu Komputer, FMIPA, UGM
2Dosen Program S3 Ilmu Komputer, FMIPA, UGM
1edhy_sst@yahoo.com,2khabib@ugm.ac.id
Abstrak
Pemkab Bantul yang merupakan bagian wilayah pemerintahan Propinsi DIY telah
mengembangkan sebanyak 28 aplikasi sistem informasi untuk untuk mendukung kegiatan
administrasi, pengolahan data internal, dan layanan informasi publik. Di samping itu, saat ini
Pemkab Bantul juga sudah mengembangkan dan mengelola website http://bantulkab.go.id/, di
dalamnya telah dikembangkan sebanyak 34 aplikasi yang sebagian besar dapat diakses dari portal
web Pemkab, dan sebagian yang lain merupakan sub domain dalam portal web Pemkab. Berbagai
upaya peningkatan pemanfaatan TIK terus dilakukan oleh Pemkab Bantul dalam rangka
meningkatkan kualitas e-Gov. Dalam rangka mencapai visi bidang TIK, saat ini terdapat
permasalahan penting dan perlu segera diatasi yaitu bagaimana melakukan sinkronisasi data
antara aplikasi yang telah ada. Tulisan ini mengungkap kondisi sistem informasi di lingkungan
Pemkab Bantul dan bagimana mengatasi permasalahan sinkronisasi data antara aplikasi sistem
informasi yang telah berjalan dengan memanfaatkan model web services.
Kata kunci: e-Gov, sinkronisasi data, sistem informasi, web services.
Abstract
Bantul regency which is part of the DIY government has developed 28 applications for information
systems to support administrative activities, internal data processing, and public information services.
Bantul Regency has also been developing and managing a website in which http://bantulkab.go.id/
contains 33 applications that most applications can be accessed from the web portal regency, and some
others are sub domains in the regency web portal. Various efforts to increase the use of ICT continued
by the Bantul regency in order to improve the quality of e-Gov. In order to achieve the vision of ICT
field, there are important issues to be addressed that is how to synchronize data between existing
applications. This paper attempted reveal the condition of environment information systems in Bantul
regency and how to overcome the problem of data synchronization between the applications of
information systems that have been running with take advantage a web services.
Keywords: e-Gov, information system, synchronization of data, web services.
1. PENDAHULUAN
Pemkab Bantul yang merupakan bagian
wilayah Propinsi DIY telah mengalami banyak
perkembangan di bidang penerapan teknologi
informasi dan komunikasi (TIK). Untuk mendukung
kegiatan administrasi, pengolahan data internal, dan
layanan informasi publik telah dikembangkan sistem
aplikasi-sistem aplikasi. Sistem aplikasi yang
digunakan secara internal, dikembangkan pertama
kali tahun 2001 dengan nama SIM Pengolahan Gaji
PNS yang berfungsi untuk menangani pengolahan
data gaji PNS di lingkungan Pemkab Bantul. Dalam
perkembangannya, hingga saat ini Pemkab Bantul
telah mengembangkan 28 aplikasi sistem informasi,
3 diantaranya adalah penyempurnaan atas sistem
informasi versi lama. Untuk mendukung publikasi
informasi ke publik, Pemkab Bantul melalui Kantor
Pengolahan Data Elektronik telah mengembangkan
website http://bantulkab.go.id/ sejak tahun 2002.
Pengembangan e-Government (e-Gov) dalam bentuk
aplikasi website, saat ini setidaknya telah
dikembangkan sebanyak 34 aplikasi yang sebagian
besar dapat diakses dari portal web Pemkab, dan
sebagian yang lain merupakan sub domain dalam
portal web Pemkab. Berbagai upaya peningkatan
pemanfaatan TIK terus dilakukan oleh Pemkab
Bantul dalam rangka meningkatkan kualitas e-Gov.
Visi bidang TIK Pemkab Bantul sebagaimana
tertuang dalam Renstra 2011-2014, adalah
terwujudnya Bantul yang informatif melalui
pembangunan sistem informasi dan komunikasi
berbasis teknologi, terintegarsi, berkesinambungan
dan ramah lingkungan. Adapun misi yang diemban
adalah:1) meningkatkan pelayanan informasi data
yang berkualitas dan memadai bagi berbagai
pemangku kepentingan; 2) mewujudkan birokrasi
pemerintahan yang efektif, efisien, transparan dan
akuntabel guna meningkatkan pelayanan prima serta
mencapai good governance, dan 3) mengembangkan
sistem informasi dan komunikasi berbasis teknologi
yang ramah lingkungan dan berdaya saing.
Salah satu permasalahan penting dan perlu
segera diatasi terkait dengan pengembangan aplikasi
sistem informasi di Pemkab Bantul adalah
bagaimana melakukan sinkronisasi data antar
aplikasi, sehingga perlu adanya telaah khusus
tentang bagaimana melakukan sinkronisasi data
antar aplikasi sebagai dasar untuk menyusun
solusinya. Tulisan ini merupakan hasil telaah
konseptual tentang konsep web services dan
interoperabilitas antar sistem informasi,
menampilkan contoh implementasi web services
sebagai solusi interoperabilitas untuk memberi
gambaran real dalam dunia nyata, serta hasil analisis
tentang kebutuhan layanan web services untuk
sinkronisasi data antar sistem informasi dalam e-Gov
di lingkungan Pemkab Bantul Yogyakarta.
1.1. Konsep Web services
Web services adalah sebuah teknologi yang
dirancang untuk mendukung interoperabilitas
interaksi mesin-ke-mesin melalui sebuah jaringan
[1].Web services secara teknis memiliki mekanisme
interaksi antar sistem sebagai penunjang
interoperabilitas, baik berupa agregasi
(pengumpulan) maupun sindikasi (penyatuan). Web
services memiliki layanan terbuka untuk
kepentingan integrasi data dan kolaborasi informasi
yang bisa diakses melalui internet oleh berbagai
pihak menggunakan teknologi yang dimiliki oleh
masing-masing pengguna. Sekalipun mirip dengan
Application Programming Interface (API) berbasis
web,web services lebih unggul karena dapat
dipanggil dari jarak jauh melalui internet.
Pemanggilan web services bisa menggunakan bahasa
pemrograman apa saja dan dalam platform apa saja,
sementara API hanya bisa digunakan dalam platform
tertentu [2].Web services dapat dipahami sebagai
Remote Procedure Call (RPC) yang mampu
memproses fungsi-fungsi yang didefinisikan pada
sebuah aplikasi web dan mengekspos sebuah API
atau User Interface (UI) melalui web. Kelebihan
web services adalah: 1) lintas platform, 2) language
independent, 3) jembatan penghubung dengan
database tanpa perlu driver database dan tidak harus
mengetahui jenis DBMS, 4) mempermudah proses
pertukaran data, serta 5) penggunaan kembali
komponen aplikasi [2].
Berdasarkan konsep hubungan dan
penyampaian informasi, web services dikembangkan
melalui empat model arsitektur, masing-masing
berorientasi pada message,action,resource, dan
policy. Pengembangan model yang diturunkan
berdasarkan orientasi pada action (Service Oriented
Model/SOM)) menghasilkan Services Oriented
Architecture (SOA), yaitu model arsitektur berbasis
layanan. Sementara pengembangan model yang
diturunkan berdasarkan orientasi pada resource
(Resource Oriented Model/ROM) menghasilkan
Resource Oriented Architecture (ROA), yaitu model
arsitektur berbasis sumberdaya informasi [3].
Dalam perkembangannya, model web services
memiliki dua metode yang berorientasi pada layanan
dan sumberdaya informasi, yaitu: SOAP (Simple
Object Access Protocol) dan REST
(REpresentational State Transfer). Impementasi
model SOA telah banyak dilakukan dan
dikembangkan oleh banyak vendor (misal:
Microsoft, Sun dan IBM, melalui dukungan platform
infrastruktur .Net dan Java). Proses layanan dengan
arsitektur SOAP memiliki tiga komponen utama,
yaitu: 1) service provider, 2) service requester, dan
3) service broker, serta komponen pendukung yaitu:
1) XML, 2) SOAP-XML (terdiri atas header dan
body), 3) WSDL, serta 4) UDDI [4]. Metode REST
telah dikembangkankan oleh Fielding [5] yang
didasari oleh empat prinsip utama teknologi, yaitu:
1) Resource identifier through Uniform Resource
Identifier (URI), 2) uniform interface (sumberdaya
CRUD menggunakan operasi PUT, GET, POST, dan
DELETE), 3) self-descriptive messages (sumberdaya
tidak terikat sehingga dapat mengakses konten
HTML, XML, PDF, JPEG, plain text, meta data,
dll), serta 4) stateful interactions through hyperlinks
(bersifat stateless)[6]. Metode REST lebih
sederhana karena menggunakan format standar
(HTTP, HTML, XML, URI, MIME), namun jika
diperlukan proses pertukaran data, maka konten
berupa teks dari hasil eksekusi web services dapat
diolah dalam format teks (seperti XML atau HTML)
dengan menggunakan utilitas komunikasi data
berupa koneksi socket protokol HTTP. Utilitas ini
umumnya tersedia dalam pustaka komunikasi pada
bahasa pemrograman (seperti Java, Visual Basic,
Delphi, PHP, ASP, dan JSP) [3].
Model web services memberikan layanan untuk
proses pertukaran data antar sistem informasi yang
merupakan bentuk implementasi konsep
interoperabilitas. Model layanan web services
setidaknya melibatkan dua hal penting, yakni [7]:
1. Problem utama pada format data. Selama ini
problem ini diselesaikan menggunakan format
netral yaitu XML, yaitu sebuah format dokumen
yang mampu menjelaskan struktur dan semantik
(makna) dari data yang dikandung oleh
dokumen, lebih fokus pada substansi data,
struktur data dan semantik data yang ditransfer
tidak “hilang”, dan telah menjadi standar de-
facto pertukaran data antar sistem [8].
2. Problem pada mekanisme pertukaran data.
Solusi masalah ini dapat menggunakan Service-
Oriented Architecture (SOA), yaitu sebuah
skema yang memungkinkan komunikasi antar
sistem dilakukan secara loosely-coupled, artinya
masing-masing pihak tidak memiliki
ketergantungan yang tinggi satu sama lain.
Dalam SOA, komunikasi didasarkan pada
konsep layanan menggunakan prinsip client-
server, ada yang menyediakan layanan dan yang
lain bisa meminta layanan. Permintaan layanan
dilakukan dengan cara memanggil fungsi yang
merepresentasikan layanan tersebut. Apabila
fungsi dipanggil, maka aplikasi penyedia layanan
wajib memberikan layanannya ke aplikasi
pemanggil [9].
Keunggulan SOA adalah detil internal yang
terlibat dalam pemanggilan fungsi layanan
sepenuhnya disembunyikan. Ada interface yang
memisahkan secara tegas bagian publik (boleh
diketahui oleh aplikasi lain) dan bagian privat
(aplikasi lain tidak perlu tahu). Dengan interface
tersebut, aplikasi client tidak perlu tahu tentang detil
internal, namun cukup mengetahui sintaks fungsinya
saja. SOA bisa mengakomodasi kepentingan server
yang tidak perlu menunjukkan detil data yang
sensitif/rahasia, sementara client tetap bisa meminta
data yang diinginkannya kepada server [7].
1.2. Konsep E-Gov
Pada dasarnya, e-Gov adalah penggunaan
teknologi informasi (TI) yang dapat meningkatkan
hubungan antara pemerintah, masyarakat, dan bisnis,
di dalamnya melibatkan otomatisasi dan
komputerisasi pada prosedur paper-based yang
mendorong cara baru dalam kepemimpinan,
mendiskusikan dan menetapkan strategi, transaksi
bisnis, mendengarkan warga dan komunitas, serta
mengorganisasi dan menyampaikan informasi [10].
Luasnya peran TI dalam proses bisnis membuat
banyak instansi berlomba menerapkan TI untuk
proses terintegrasi, salah satunya adalah e-Gov.
Idealnya e-Gov diharapkan dapat meningkatkan
interaksi antara pemerintah, masyarakat, dan bisnis
sehingga mendorong perkembangan politik dan
ekonomi. Penerapan e-Gov di setiap instansi
pemerintah Indonesia mengacu pada tahapan
pengembangan e-Gov nasional sesuai dengan
kondisi setiap lembaga, yaitu [11]:
1. Persiapan: pembuatan website di setiap
lembaga; pendidikan SDM, penyediaan sarana
akses publik, sosialisasi keberadaan layanan
informasi elektronik (publik dan internal),
pengembangan e-leadership dan awareness
building, serta 6) penyiapan peraturan.
2. Pematangan: pembuatan website layanan
informasi publik interaktif dan hyperlink.
3. Pemantapan: penyediaan fitur transaksi
elektronik, dan interoperabilitas antar lembaga.
4. Pemanfaatan: pembuatan layanan G2G, G2B,
dan G2C terintegrasi, pengembangan proses
layanan e-Gov yang efektif dan efisien, dan
penyempurnaan menuju kualitas best practice.
Mengacu pada Buku Putih Kominfo, target
roadmap TIK Indonesia adalah sebagai berikut [12]:
1. Indonesia connected, pada akhir tahun 2010
seluruh desa ada akses telepon, tersusunnya
strategi TIK Nasional 2010-2014, terbentuk Tim
Koordinasi Keamanan Informasi Nasional,
tersusun master plan e-Gov, dan pada akhir
tahun 2011 seluruh kecamatan ada akses
internet, penguatan kelembagaan, komitmen
penyediaan sumber daya, dan SDM.
2. Indonesia informative, pada akhir tahun 2014
seluruh ibukota propinsi terhubung jaringan
serat optik, seluruh kabupaten/kota ada akses
broadband, dan peningkatan e-layanan,e-
health, dan e-education.
3. Indonesia broadband, pada akhir tahun 2018
terbentuk masyarakat pengetahuan, peningkatan
akses broadband >5MB, peningkatan daya
saing bangsa dan industri inovatif.
4. Indonesia digital, pada tahun 2020 terbentuk
masyarakat madani, seluruh kabupaten/kota
memiliki e-Gov, dan terbentuknya Indonesia
yang kompetitif.
Dalam rangka melaksanakan roadmap TIK,
telah ditetapkan program prioritas, diantaranya [12]:
1. Program pengembangan aplikasi informatika,
salah satunya adalah pembangunan e-Gov
terintegrasi dan memiliki interoperabilitas untuk
meningkatkan layanan publik.
2. Program pengembangan informasi dan
komunikasi publik, diantaranya penyebaran
informasi yang bermanfaat bagi pengembangan
kapabilitas masyarakat dan peningkatan
implementasi e-Gov hingga tingkat daerah.
Berdasarkan fungsinya, sistem informasi dalam
e-Gov dapat bersifat generik atau spesifik. Sistem
generik adalah aplikasi yang dibangun kurang lebih
sama untuk semua pemerintah daerah (pemda)
dengan ciri merujuk ke peraturan perundangan yang
dikeluarkan oleh pemerintah pusat, sedangkan
sistem spesifik adalah aplikasi yang dibangun tidak
sama untuk setiap pemda dengan ciri umumnya
merujuk ke pemerintah setempat, atau bahkan tidak
ada rujukan peraturan perundangannya [13].
1.3. Penelitian Terkait
Beberapa penelitian terkait dengan
implementasi model web services dalam berbagai
kasus (termasuk dalam e-Gov) sesuai dengan urutan
kronologisnya dibahas dalam uraian berikut.
Deviana [14] dalam penelitiannya menerapkan XML
web services untuk sistem distribusi barang. Web
services dirancang dengan menggunakan vendor
terbuka PHP dan toolkit pendukungnya NuSOAP.
Sistem yang dirancang mampu mengintegrasikan
dan menangani interaksi proses pertukaran data yang
disimpan dalam database di kantor pusat dan
cabang-cabang.
Wicaksono [15] mengembangkan model web
services untuk implementasi secure remote form
field fillin menggunakan dokumen Microsoft Word
sebagai “jembatanuntuk mengisikan data ke dalam
web server serta melakukan implementasi proses
fetching data menggunakan validasi dari dokumen
MS Word dengan menggunakan akses XML Web
services di dalam VBA. Eksperimen dilakukan
menggunakan SQL Server dan Visual Basic .NET
2005. Implementasi secure remote form field fillin
dikembangkan untuk memberikan solusi bagi
webmaster yang memiliki banyak formulir isian dan
membutuhkan waktu lama dalam proses
pengisiannya. Penerapan secure remote form field
fillin menjadi solusi baru integrasi aplikasi desktop
dan web melalui web services. Jika pada umumnya
solusi yang diterapkan menggunakan aplikasi
desktop (dengan pembuatan executable program),
penelitian ini memberikan solusi baru berupa
penggunaan dokumen Microsoft Word yang telah
lazim digunakan oleh para pengguna.
Penelitian Santosa [16] merancang web method
untuk sistem informasi universitas yang
diimplementasikan berbasis XML web services dan
Visual Studio. NET, server menggunakan OS MS
Windows 2003 Advanced Server,database server
menggunakan SQL Server 2000, serta bahasa
pemrograman Visual Basic.NET untuk layanan
akademik dan Visual C#.NET untuk layanan
perpustakaan. Aplikasi client dibuat dengan
ASP.NET untuk aplikasi internet, dan VB.NET
untuk aplikasi console. Sistem diuji pada sistem
intranet. Method yang dikembangkan meliputi: 1)
web method untuk penambahan, penghapusan,
pengeditan data; 2) web method untuk menampilkan
data; 3) web method untuk pengolahan data; serta 4)
web method untuk pencarian data pada dua sistem di
universitas, yaitu sistem akademik dan sistem
perpustakaan. Hasil analisa dan perancangan yang
dilakukan menunjukkan bahwa XML web services
menjadi komponen utama dalam mengembangkan
sistem informasi universitas yang memudahkan
pemrogram dalam membangun aplikasi sesuai
fungsi dan tampilan yang dibutuhkan.
Penelitian Muchlis [17] mengembangkan
mobile application untuk mengintegrasikan sistem
pada agen penerbangan dan penyewaan kereta yang
disiapkan bagi calon tamu hotel melalui agen wisata.
Aplikasi dikembangkan berbasis web untuk
memperoleh loose coupling di antara sistem yang
berinteraksi.
Prasetyo [18] mendeskripsikan arsitektur
Service Oriented Architecture (SOA) dan bagaimana
penerapan arsitektur tersebut dalam teknologi web
services. SOA merupakan konsep pembangunan
perangkat lunak yang melakukan partisi sistemnya
menjadi beberapa service yang dapat berdiri secara
independen, sedangkan web services merupakan
aplikasi web services yang berkomunikasi dengan
aplikasi web services lainnya dalam rangka
pertukaran data. Implementasi SOA tidak harus
menggunakan web services, namun menggunakan
web services merupakan hal tepat karena aplikasi
web services dapat mewakili sebuah service dalam
SOA. WSDL dapat digunakan dalam web services
agar service dapat berhubungan satu dengan yang
lainnya, dengan SOAP sebagai teknologi pengiriman
pesan antar service.
Model interoperabilitas sistem informasi
layanan publik pada aplikasi e-Gov di Indonesia
telah diteliti untuk Sistem Informasi Kependudukan
dan Perpajakan. Penelitian dilakukan untuk
mengatasi problem kurangnya perhatian instansi
pemerintah dalam berbagi akses data dan informasi,
serta belum adanya model interoperabilitas antar
sistem informasi yang secara eksplisit disebutkan
dalam Inpres no. 3 tahun 2003 tentang Kebijakan
dan Strategi Nasional Pengembangan e-Gov,
maupun blueprint e-Gov. Interoperabilitas
dikembangkan berdasarkan model web services
dengan metode REST. Kebutuhan interoperabilitas
antar sistem informasi dipetakan berdasarkan
keterkaitan antar skema database menggunakan
model web services, sehingga diperoleh model
interoperabilitas antara dua sistem. Perancangan
metode REST dilakukan menggunakan ROA yaitu
model arsitektur yang berorientasi sumber daya
informasi. Implementasi model interoperabilitas
antara dua sistem informasi dilakukan menggunakan
bahasa PHP dan database MySQL. Pengujian
dilakukan melalui pengambilan data antar kedua
sistem yang memiliki perbedaan platform database
dan terletak pada lokasi fisik yang berbeda [3].
Aminudin [19] juga mengimplementasikan web
services untuk mendukung interoperabilitas aplikasi
e-commerce yang dapat diakses melalui platform
desktop,platform web, dan platform mobile.
Septiani dan Wiryana [20] membangun node
Global Biodiversity Information Facility (GBIF)
yang diimplementasikan pada sebuah web services
yang berguna sebagai service translator untuk
pencarian data burung pada Taman Burung-TMII.
Layanan yang diberikan meliputi: allspeciesbird
(untuk memperoleh data semua jenis species
burung), getbirdschema (untuk mendapatkan schema
dari berbagai macam burung), getcollectionschema
(untuk mendapatkan schema dari koleksi burung),
getwideregion (untuk mendapatkan daerah/wilayah),
getbirdbycode (untuk mendapatkan data burung
berdasarkan kode dengan parameter dari kode
burung yang di cari, serta getbirdbyname (untuk
mendapatkan data burung berdasarkan
commonName dan scientificName yaitu dengan
memasukkan parameter berdasarkan nama yang
dicari). Web services tersebut me-request data pada
database server, kemudian service akan merespon
hasil permintaan. Web services tersebut
menggunakan metode REST yang diterapkan pada
bahasa pemrograman PHP dengan melakukan
komunikasi melalui HTTP. Metode penanganan web
services menggunakan REST menggunakan metode
GET dan pengiriman data dilakukan melalui URL.
URL tersebut kemudian di-parsing menggunakan
arsiterkur REST sehingga terciptalah alamat URL
yang universal. URL tersebut diujicobakan melalu
web browser, respon yang dihasilkan adalah data
format XML yang berasal dari database server.
Desain web services pada katalog toko buku juga
pernah dibuat oleh Saputra [21].
Penelitian lain, Mutakin [22], membangun
sebuah web services yang mampu mengirim data
kendaraan dari client (dealer) ke database server di
Samsat yang mempunyai aplikasi yang berbeda.
Penyedia layanan administrasi utama diletakkan di
Kantor Samsat dan klien para dealer cukup
menyediakan sebuah device dan sebuah aplikasi
klien yang dapat mengolah transaksi yang
dikirimkan oleh web services tersebut, sehingga
pada akhirnya dihasilkan sebuah Aplication
Programming Interface (API) dalam bentuk web
services yang menyediakan layanan untuk
mengelola data kendaraan dari dealer.Web services
tersebut dibangun dengan menggunakan .NET.
Purnamasari [23] mengembangkan web
services untuk representasi dan sinkronisasi antar
basis data relasional dengan menggunakan studi
kasus pada sistem informasi akademik di Universitas
Bina Darma Palembang. Dengan memanfaatkan
XML, maka integrasi data di lingkungan Universitas
Bina Darma yang memiliki basis data berbeda dan
tersebar dan terpisah jarak yang jauh dapat
dilakukan. Implementasi web services merupakan
alternatif solusi yang lebih baik dalam integrasi data
antar aplikasi sistem informasi di lingkungan
universitas, karena hanya melibatkan pengelola
salah satu aplikasi sistem informasi yang ada,
mengurangi resiko penambahan tanpa merancang
ulang aplikasi yang telah ada, dan data yang diolah
menjadi lebih akurat dikarenakan setiap aplikasi
sistem informasi yang ada memiliki sinkronisasi
data dengan aplikasi lainnya. Web services tersebut
dibangun dengan menggunakan .NET, OS server
mengggunakan MS Windows XP Service Pack 2,
web server Apache 2.0, serta database menggunakan
MySQL, serta bahasa pemrograman XML dan PHP.
Terkait dengan interoperabilitas antar aplikasi,
telah dikembangkan sebuah model integrasi B2B
berbasis SOA menggunakan layanan web services
dengan studi kasus pada aplikasi e-shop yang
mengintegrasikan website Amazon, eBay, Yahoo!,
dan Paypal. Model ini dikembangkan untuk
mengatasi problem ketidakselarasan antara sistem
bisnis dan sistem informasi yang berkembang
dengan kecepatan yang berbeda-beda. Model yang
dikembangkan membuka peluang untuk membawa
definisi service ke level abstraksi yang lebih tinggi,
berupa model level tinggi yang dapat
ditransformasikan ke implemntasi services yang
bebas platform. Dengan pendekatan ini dapat
dipisahkan antara platform terendah, infrastruktur,
dan implementasinya, dengan harapan mampu
meningkatkan integrasi. Penggunaan gabungan
metode ini memungkinkan penggunaan ulang dan
peningkatan integrasi pada level model yang
berbeda. Metode baru berupa metode integrasi
berbasis SOA yang dikembangkan dari metode
SOAD dan mBPDM berhasil ditemukan dan telah
diujikan untuk melakukan analisis dan perancangan
integrasi berbasis SOA, serta diimplementasikan
menjadi 16 proses bisnis, 18 web services, serta
enam aplikasi komposit [24].
Hasil kajian dan riset di atas menunjukkan
bahwa web services telah diimplementasikan secara
luas dalam beragam sistem dan menjadi alternatif
solusi integrasi dan interoperabilitas antar sistem
informasi yang heterogen.
2. PEMBAHASAN
2.1. Metodologi
Tulisan ini merupakan hasil telaah pustaka
yang meliputi telaah konseptual tentang web
services dan interoperabilitas antar sistem informasi.
Contoh-contoh implementasi web services sebagai
solusi interoperabilitas ditampilkan untuk memberi
gambaran real dalam praktek nyata. Hasil telaah
konseptual tersebut digunakan untuk melakukan
analisis dan mendeskripsikan kebutuhan layanan
web services antar sistem informasi dalam e-Gov di
Pemkab Bantul Yogyakarta.
2.2. Perkembangan e-Gov di Indonesia
Inisiatif e-Government (e-Gov) di Indonesia
telah diperkenalkan melalui Inpres no. 6 tahun 2001
yang menyatakan bahwa aparat pemerintah harus
menggunakan teknologi telematika untuk
mendukung good governance dan mempercepat
proses demokrasi. Program inisiatif e-Gov dimulai
sejak tahun 2003 seiring dengan keluarnya Inpres
no. 3 tahun 2003 [7].e-Gov wajib diperkenalkan
untuk tujuan yang berbeda di kantor-kantor
pemerintahan. Administrasi publik adalah salah satu
area di mana internet dapat digunakan untuk
menyediakan akses bagi masyarakat yang berupa
pelayanan yang mendasar dan menyederhanakan
hubungan antar masyarakat dan pemerintah.
Pelayanan e-Gov melalui internet dapat dibagi dalam
empat tingkatan yaitu penyediaan informasi,
interaksi satu arah, interaksi dua arah dan transaksi
elektronik penuh.
Kondisi e-Gov di Indonesia, pada tahun 2002
sebagian besar baru berada pada tahap penyediaan
informasi, secara kuantitas terdapat 369 kantor
pemerintah yang menyediakan website, namun 24%
dari website tersebut gagal bertahan karena alasan
anggaran, dan pada awal tahun 2003 hanya ada 85
website yang beroperasi dengan pilihan yang
lengkap [25]. Data Depkominfo pada tahun 2005
menunjukkan bahwa Indonesia memiliki 564
domain go.id, 295 website pemerintah, 226 website
mulai memberikan layanan publik melalui website,
dan 198 website pemerintah daerah yang aktif
dikelola. Kondisi e-Gov di tahun 2010 juga masih
menghadapi problem pada keberagaman aspek
kebijakan, kelembagaan, infrastruktur, aplikasi, dan
perencanaaan. Minimnya kebijakan, kelembagaan,
dan perencanaan e-Gov membuat infrastruktur yang
dibangun belum memberikan manfaat optimal
kepada publik. Kominfo sebagai leading institution
dalam penerapan e-Gov juga belum menerapkan e-
Gov secara maksimal karena institusi ini tergolong
baru dari sisi kelembagaan [12].
Kegagalan pengembangan e-Gov di Indonesia
pada dasarnya merupakan akibat dari kesalahan
pandangan atau paradigma tentang e-Gov yang tidak
sesuai dengan konsep yang benar [26]. Problem
pengembangan e-Gov di Indonesia adalah sistem
informasi dikembangkan terpisah-pisah sehingga
menghasilkan sistem yang heterogen. Heterogenitas
sistem dimaksud meliputi penggunaan: 1) sistem
operasi, 2) database server, 3) format dan struktur
database, 4) bahasa pemrograman, 5) antarmuka
(desktop based dan ada pula yang web based)[27].
Heterogenitas sistem informasi dalam e-Gov
merupakan salah satu problem utama saat
melakukan integrasi antar sistem. Problem ini dapat
diatasi menggunakan dua alternatif strategi, yaitu
menggunakan format tunggal atau interoperabilitas.
Solusi penggunaan format tunggal dilakukan dengan
cara setiap pekerjaan pengembangan di semua
instansi dilakukan menggunakan satu sistem operasi,
satu database server, satu bahasa pemrograman, dan
satu interkoneksi. Cara ini memudahkan proses
pengembangan, namun memiliki resiko
ketergantungan pada vendor tertentu, dan dari aspek
geografis dan ekonomi Indonesia, akan sulit untuk
melakukan pengembangan ke depan. Solusi
interoperabilitas merupakan alternatif yang lebih
baik karena memudahkan pengembangan dan
mampu menghilangkan faktor ketergantungan [27].
Pengembangan e-Gov oleh kantor pemerintah
(pusat dan daerah) di Indonesia umumnya
menghadapi problem karena tidak memadainya
sumberdaya informasi, sehingga diperlukan
perencanaan strategis sumberdaya informasi
(strategic planning for information resources)[13].
Faktor penghambat e-Gov adalah terkait dengan: 1)
komitmen pemerintah dalam integrasi dan
transparansi publik, 2) belum adanya budaya berbagi
informasi, 3) belum adanya budaya tertib
dokumentasi, 4) resistensi terhadap perubahan, 5)
kelangkaan SDM yang handal, 6) infrastruktur yang
mahal dan belum memadai, serta 7) keterbatasan
tempat akses [28]. Ketidakoptimalan pengembangan
e-Gov di Indonesia terjadi sebagai akibat dari: 1)
master plan tidak mempunyai kekuatan formal,
karena baru berupa kajian sehingga posisi strategis
e-Gov sulit terealisasi secara optimal dan bukan
merupakan kewajiban unit-unit, 2) organisasi
pengambil keputusan tidak cukup kuat memastikan
integrasi arsitektur, pengelolaan portofolio, dan
eksekusi proyek TIK tahunan, dan 3) lemahnya
koordinasi antar unit dalam rencana tahunan proyek
TIK [29]. Resistensi terhadap perubahan memiliki
andil besar terhadap kelambatan penerapan e-Gov
karena: 1) ego sektoral lembaga masih tinggi
sehingga menutup kemungkinan diatur atau
bekerjasama dengan lembaga lain, 2) anggapan
bahwa sistem informasi di lembaga sendiri adalah
yang terbaik, 3) konteks kepentingan yang berbeda
di setiap lembaga sehingga sulit diintegrasikan, 4)
keinginan menjadi pemimpin dalam integrasi, 5)
ketidakinginan membagi data, informasi, dan
pengetahuan karena mengurangi keunggulan
kompetitif, serta 6) ketidaktahuan dari mana harus
memulai integrasi; dan sebagainya [30].
Interoperabilitas antar sistem informasi dalam
e-Gov menjadi penting karena adanya “pulau-pulau
informasi” yang terpisah satu dengan lainnya,
database dan sistem informasi satu dengan yang
lainnya tidak dapat saling berkomunikasi, sehingga
informasi yang disajikan tidak akurat karena
masing-masing sistem memiliki versi databerbeda
[31]. Kondisi tersebut memerlukan solusi yang
memungkinkan terjadi pertukaran data dan informasi
antar sistem, dengan kriteria: 1) berarsitektur terbuka
yang memungkinkan interoperabilitas; 2)
diutamakan menggunakan OSS; 3) setiap instansi
menyediakan data yang dibutuhkan oleh instansi
lainnya; serta 4) perlu dibuat kebijakan (semacam
PERDA) agar sistem informasi yang dibangun oleh
satu institusi siap untuk berinteroperabilitas dengan
sistem informasi yang dibangun oleh institusi lain
(dengan menyediakan service). Tujuan akhirnya
adalah terbentuknya sistem informasi terintegrasi
dan dapat saling berkomunikasi [32].
2.3. Ragam Aplikasi e-Gov di Pemkab Bantul
Pemkab Bantul hingga akhir tahun 2011 telah
mengembangkan sebanyak 28 sistem informasi (3
hasil penyempurnaan) yang dimanfaatkan untuk
layanan pengolahan data internal SKPD dan Pemkab
(Tabel 1) dan 33 website untuk menampilkan
informasi ke publik (Tabel 2). Aplikasi website
seluruhnya masih berada dalam tingkatan persiapan,
karena belum menyediakan layanan interaktif,
transaksi elektronik, maupun layanan G2G, G2B,
dan G2C yang terintegrasi. Informasi yang
disediakan untuk publik dalam website diantaranya
berita, profil, tupoksi, prosedur layanan, link terkait,
serta kontak, sedangkan fitur download formulir baru
tersedia di website http://perijinan.bantulkab.go.id/
[33], dan fasilitas transaksi pendaftaran CPNS online
mulai dikembangkan oleh Badan Kepegawaian
Daerah (http://bkd.bantulkab.go.id/) [34].
Tabel 1: Ketersediaan sistem informasi di lingkungan Pemkab Bantul
No
Dibuat
No
Dibuat
Nama Aplikasi
1
2001
15
2008
SIM Keluarga Miskin
2
2002
16
2008
SIM Kesehatan Ibu Anak dan TBC
3
2003
17
2008
SIM Potensi Kecamatan
4
2003
18
2008
SIM Layanan Perpustakaan
5
2004
19
2009
SIM Keuangan Daerah
6
2005
20
2009
SIM Barang Daerah
7
2005
21
2009
SIM Investasi Daerah
8
2006
22
2009
SIM Kepegawaian
9
2007
23
2009
SIM Pengendalian Pembangunan Daerah
10
2007
24
2009
SIM Layanan Pajak Reklame
11
2007
25
2009
SIM Layanan BPHTB
12
2007
26
2010
SIM Perijinan Online
13
2007
27
2010
SIM Cetak SP2D (Surat Perintah Pencairan Dana)
14
2007
28
2011
SIM Kewilayahan
(Sumber: KPDT Kabupaten Bantul, 10-12-2011) [35].
Tabel 2: Ketersediaan website di lingkungan Pemkab Bantul
No
Instansi/Dinas/SKPD
Website/Sub Domain
No
Instansi/Dinas/SKPD
Website/Sub Domain
1
Pemkab
http://bantulkab.go.id/
18
Dinas Perijinan
http://perijinan.bantulkab.go.id/
2
Sekretariat Daerah
http://setda.bantulkab.go.id/
19
Dinas Sosial
http://sosial.bantulkab.go.id/
3
Sekretariat DPRD
http://dprd.bantulkab.go.id/
20
Dinas Nakertrans
http://disnakertrans.bantulkab.go.id/
4
Bappeda
http://bappeda.bantulkab.go.id/
21
Dinas Perindakop
http://perindagkop.bantulkab.go.id/
5
Badan Lingkungan Hidup
http://blh.bantulkab.go.id/
22
Dinas Pekerjaan Umum
http://pu.bantulkab.go.id/
6
Badan KepegawaianDaerah
http://bkd.bantulkab.go.id/
23
Dinas Perhubungan
http://dishub.bantulkab.go.id/
7
Dinas Sumber Daya Air
http://sda.bantulkab.go.id/
24
Satpol PP
http://satpolpp.bantulkab.go.id/
8
Inspektorat
http://inspektorat.bantulkab.go.id/
25
Pengolahan Data Telematika
http://kpdt.bantulkab.go.id/
9
Badan Penanggulangan
Bencana Daerah
http://bpbd.bantulkab.go.id/
26
Pemberdayaan Masy. Desa
http://pmd.bantulkab.go.id/
10
Dinas Budpar
http://disbudpar.bantulkab.go.id/
27
Pengelolaan Pasar
http://pasar.bantulkab.go.id/
11
Dinas Pendidikan Menengah
& Non Formal
http://dikmen.bantulkab.go.id/
28
Perpustakaan Umum
http://perpustakaan.bantulkab.go.id/
12
Dinas Pendidikan Dasar
http://dikdas.bantulkab.go.id/
29
Arsip Daerah
http://arsip.bantulkab.go.id/
13
Dinas Pertanian & Kehutanan
http://dipertahut.bantulkab.go.id/
30
Kesbangpolinmas
http://kesbangpolinmas.bantulkab.go.id/
14
Dinas Kelautan & Perikanan
http://dkp.bantulkab.go.id/
31
Kantor Pemuda & Olahraga
http://pora.bantulkab.go.id/
15
Dinas Dukcapil
http://disdukcapil.bantulkab.go.id/
32
Dinas Kesehatan
http://dinkes.bantulkab.go.id/
16
Badan Ketahanan Pangan
& Pelaksana Penyuluhan
http://bkppp.bantulkab.go.id/
33
Dinas Pendapatan,
Pengelolaan
Keuangan & Aset Daerah
http://dppkad.bantulkab.go.id/
17
Badan Kesejahteraan Keluarga,
Pemberdayaan Perempuan & KB
http://bkk.bantulkab.go.id/
Sumber: http://www.bantulkab.go.id/, 10-12-2011 [36].
2.4. Kebutuhan Layanan Web services dalam e-
Gov di Pemkab Bantul
Kebutuhan layanan web services dalam e-
Gov di Pemkab Bantul, salah satunya dapat
diidentifikasi berdasarkan kesamaan obyek data
(entitas) dan kedekatan hubungan antar obyek data
yang diolah dalam sistem. Kesamaan obyek data
(entitas) tersebut menunjukkan adanya kebutuhan
pertukaran data antar sistem informasi untuk
melakukan sinkronisasi data antar sistem.
Berdasarkan hasil analisis kebutuhan setiap sistem
informasi yang dimiliki oleh Pemkab Bantul (Tabel
1), dari 25 sistem yang ada terdapat 17 aplikasi yang
memerlukan layanan web services untuk sinkronisasi
data antar aplikasi. Kebutuhan utama layanan web
services adalah untuk sinkronisasi data master
penduduk sehingga proses transaksi akan mengacu
pada data master penduduk yang sama, sehingga
nilai-nilai item yang diolah menjadi konsisten di
antara sistem yang ada. Dalam layanan web services
tersebut, salah satu sistem akan berperan sebagai
requester dan sistem yang lainnya sebagai provider.
Sistem Informasi Layanan Data KPDE
membutuhkan 24 layanan web services untuk
sinkronisasi data, SIM Kependudukan membutuhkan
16 layanan, SIM Monografi Online membutuhkan
14 layanan, SIM Kewilayahan membutuhkan 13
layanan, sedangkan sistem-sistem yang lain relatif
lebih sedikit. Sistem Informasi Layanan Data KPDE
memiliki kebutuhan layanan web services terbanyak,
karena sistem ini berfungsi untuk mengelola data
pada seluruh sistem yang dikelola oleh pemkab,
sementara SIM Kependudukan menduduki peringkat
kedua terbanyak karena sistem ini mengelola data
master penduduk yang diperlukan oleh sebagian
besar sistem lain yang dikelola oleh pemkab. Untuk
aplikasi website, dari 34 website yang ada, 16
diantaranya juga memerlukan sinkronisasi dengan
sinkronisasi data master penduduk (Tabel 3).
Salah satu contoh kasus kebutuhan layanan
web services yang menunjukkan kebutuhan proses
sinkronisasi dan pertukaran data antar sistem
informasi yang dikelola oleh pemkab Bantul. SIM
Monografi Online berhubungan dengan SIM
Kependudukan. SIM Monografi Online salah
satunya berfungsi untuk menampilkan informasi
data kependudukan berdasarkan kelompok tertentu,
misal berdasarkan usia, pendidikan, agama,
pekerjaan, dan lainnya. Untuk bisa memenuhi
kebutuhan tersebut, SIM Monografi Online
memerlukan data kependudukan yang tersedia dalam
SIM Kependudukan. Untuk memperoleh rekapitulasi
data kependudukan tersebut, maka SIM Monografi
Online perlu mengakses data master penduduk
dalam SIM Kependudukan. Kebutuhan ini bisa
dipenuhi dengan cara membuat aplikasi web services
(diberi nama getMASTERsimk) dimana SIM
Monografi Online berperan sebagai klien (requester)
dan SIM Kependudukan berperan sebagai server
(provider) dan menyediakan layanan bagi SIM Monografi Online.
Tabel 3: Kebutuhan sinkronisasi data antar sistem informasi di lingkungan Pemkab Bantul
No
Nama Sistem
Nomor Urut Sistem ke-
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
1
SIM Pengolahan Gaji PNS
2
SIM Pelyn. Satu Atap
3
Sistem Inf.Manaj.Daerah
4
SIM Monografi Online
5
SIM Kependudukan
6
SIM Keuangan Daerah
7
Sistem Cetak KK dan KTP
8
Sistem Kelg. Berencana
9
Sistem Naker & Nakertrans
10
Sistem inf. Pariwisata
11
Sistem Inf. Lyn. Data KPDE
12
Sistem inf. Presensi PNS
13
SIM Keluarga Miskin
14
SIM Kes. Ibu Anak & TBC
15
SIM Potensi Kecamatan
16
SIM Pelyn. Perpustakaan
17
SIM Barang Daerah
18
SIM Investasi Daerah
19
SIM Kepegawaian
20
SIM Pengd.Pembg.Daerah
21
SIM Pelyn. Pajak Reklame
22
SIM Pelyn. BPHTB
23
SIM Perijinan Online
24
SIM Cetak SP2D
25
SIM Kewilayahan
Sumber: diolah sendiri
2.5. Rancangan LayananWeb services Antar
Aplikasi e-Gov di Pemkab Bantul
Pemetaan kebutuhan layanan web services
proses pengambilan data dari dari satu sistem ke
sistem yang lain dalam e-Gov secara umum
melibatkan 3 komponen utama, yakni agent/broker,
requester (e-Gov1), dan provider (e-Gov2) [37].
Dengan menggunakan model metode REST, proses
akses data dapat dilakukan melalui web services
pada aplikasi e-Gov1 dengan menyediakan fungsi
remote untuk mengambil satu atau sekelompok data
pada aplikasi e-Gov1.
Rancangan model umum web services antar
aplikasi e-Gov menggunakan metode REST adalah
sebagai berikut [37]:
1. Perancangan provider, meliputi:
a. Penentuan fungsi sumberdaya informasi
publik, meliputi: 1) Membuka koneksi
database, 2) Jika koneksi berhasil, lakukan
akses data sesuai kriteria dan kembalikan
nilai fungsi dalam array, dan 3) Jika koneksi
gagal, kembalikan nilai fungsi dengan nilai
false.
b. Penentuan nama sumberdaya informasi
publik pada web services, yaitu struktur
format parameter URI acuan sebagai
deskripsi web application description
language (WADL), dengan parameter:
resource, format input (XML atau TXT),
format output (XML, TXT, atau HTML), dan
data input
c. Pembuatan script program aplikasi web
services (sebagai RPC) untuk mengolah
request parameter URI (WADL) yang
dikirim oleh requester agar dapat melakukan
validasi dan memberikan hasil sesuai kriteria
yang diminta melalui pemetaan parameter
resource terhadap nama fungsi internal.
Langkahnya sebagai berikut:
1) Menentukan absolute path berkas web
services sebagai basis path
2) Menggabungkan modul fungsi yang
terkait ke dalam program
3) Pengecekan kelengkapan struktur
parameter URI
4) Jika parameter lengkap, petakan nama
reosurce ke dalam nama fungsi, konversi
format data input ke dalam variabel untuk
paramater fungsi, jika fungsi ditemukan
jalankan fungsi dengan input parameter,
kembalikan hasil fungsi ke dalam variabel
hasil, konversikan nilai variabel hasil jika
berupa format XML atau HTML
5) Jika parameter tidak lengkap, yaitu nama
resource tidak dapat dipetakan ke dalam
fungsi, fungsi tidak ditemukan, atau tidak
ada hasil proses fungsi, maka isi variabel
hasil dengan pesan kesalahan
6) Tampilkan nilai variabel hasil sebagai
script yang akan diolah oleh web server
d. Perancangan agent/broker; yaitu
menyediakan aplikasi web services untuk
proses registrasi (registry) dan penemuan
kembali (discovery) untuk memudahkan
pengelolaan dan pencarian layanan dengan
cara melalukan pencatatan dalam database,
langkahnya: a) Membuat struktur database
untuk registry/discovery layanan publik, b)
Membuat aplikasi web server untuk registrasi
provider dan service, dan c) Membuat
aplikasi web server yang bersifat publik dan
modul registrasi untuk mendapatkan kunci
akses publik bagi requester
2. Perancangan requester; dapat menggunakan
fungsi layanan setelah memperoleh perintah
URL pada browser di client. Jika hasil dari
fungsi layanan akan digunakan sebagai sumber
data hasil pengolahan, maka perintah tersebut
perlu dimasukkan ke dalam kode program
requester melalui fungsi komunikasi dalam
bahasa pemrograman (socket) atau pengolahan
file jarak jauh (PHP, ASP, JSP).
3. KESIMPULAN
Model web services merupakan bentuk
implementasi konsep interoperabilitas yang dapat
menjadi sebuah alternatif solusi untuk proses
pertukaran data antar sistem informasi sehingga
dimungkinkan untuk melakukan proses sinkronisasi
data di antara antar sistem informasi dalam e-Gov.
Hasil telaah dalam tulisan ini mengungkap dua hal
yakni, database kependudukan merupakan jenis data
yang paling banyak dibutuhkan oleh sistem-sistem
informasi yang lainnya di lingkungan Pemkab
Bantul, dan kebutuhan layanan web services untuk
ragam sistem informasi di Pemkab Bantul
Yogyakarta dapat diidentifikasi berdasarkan
kesamaan obyek data (entitas) dan kedekatan
hubungan antar obyek data yang diolah.
DAFTAR PUSTAKA
[1] WWW Consorsium, 2004, Web services
Architectures, http://www.w3.org/TR/ws-arch/
#whatis, diakses: 08-03-2012.
[2] Lucky, 2008, XML Web services: Aplikasi
Desktop, Internet & Handphone, Jasakom,
Jakarta.
[3] Sukyadi, D., 2009, Model Interoperabilitas
Sistem Informasi Layanan Publik Studi Kasus:
e-Government, Karya Akhir, Prodi Magister
Teknologi Informasi, Fasilkom, UI, Jakarta.
[4] DSIPLK (Direktorat Sistem Informasi,
Perangkat Lunak & Konten), 2008, Kerangka
Acuan & Pedoman Interoperabilitas Sistem
Informasi Instansi Pemerintahan, Depkominfo
RI, Jakarta.
[5] Fielding R.T., 2000, Architectureal Style &
Design of Network-Based Software
Architecrues, Ph.D. Thesis, Department of
Information & Computer Science, UCLA,
Irvine.
[6] Pautasso, C., 2008, REST vs SOAP Making the
Right Architectural Decision, SOA
Symposium, Amsterdam.
[7] Nugroho, L.E., 2008, Interoperabilitas Data
dalam e-Government, Makalah Seminar e-
Government, Jurusan Teknik Informatika UPN
Veteran, Yogyakarta, 24 Mei 2008.
[8] Bray, T., Paoli, J., Sperberg-McQueen, C.M.,
Maler, E., and Yergeau, F. (editor), 2006,
Extensible Markup Language 1.0, 4th edition,
http://www.w3.org/TR/2006/REC-xml-
20060816/, diakses: 26-12-2011.
[9] He, H., 2003, What is Service-Oriented
Architecture?, http://webservices.xml.com/pub
/a/ws /2003/09/30/soa.html, diakses: 05-03-
2012
[10] Pascual, P.J., e-Government, e-Asean Task
Force UNDP- APDIP, May 2003.
[11] Inpres no. 3 tahun 2003, Kebijakan & Strategi
Nasional Pengembangan E-Government,
Jakarta.
[12] Pusat Data Kementrian Komunikasi dan
Informatika, 2010, Buku Putih Komunikasi dan
Informatika Indonesia, Menkominfo RI,
Jakarta.
[13] Soendjojo, H., 2005, Sistem Informasi Daerah,
Makalah presentasi dalam Workshop
Penyusunan Cetak Biru E-Government, Warta
Ekonomi, diselenggarakan oleh Depkominfo
RI, tanggal 31 Mei 2005, Jakarta.
[14] Deviana, H., 2007, Penerapan XML Web
services unutk Sistem Distribusi Barang Studi
Kasus: PT. Apotik Plus Palembang, Tesis
Prodi Ilmu Komputer, FMIPA, UGM,
Yogyakarta.
[15] Wicaksono, S.R., 2008, Implementasi
Extensible Markup Language Web services
pada Secure Remote Form Field Fillin dalam
Dokumen Microsoft Word, Gematika Jurnal
Manajemen Informatika, volume 9, nomor 2,
edisi Juni 2008, STIKOM Surabaya, Surabaya.
[16] Santosa, B., 2008, Analisa dan Perancangan
Web services untuk Sistem Informasi
Universitas, Konferensi Nasional Sistem dan
Informatika 2008 (KNS&I08), STIKOM Bali,
15 November 2008, Denpasar.
[17] Muchlis, E.F., 2008, Tourism Web services
Using E-Business, Tesis, Master of Science
(Information Technology - Management),
Faculty of Computer Science & Information
System, UTM, Malaysia.
[18] Prasetyo, H., 2009, Implementasi Service
Oriented Architecture (SOA) Menggunakan
Teknologi Web services, Makalah Laporan
Penelitian, FMIPA, Unwidha, Klaten.
[19] Aminudin, 2009, Implementasi Web services
Untuk Mendukung Interoperabilitas Aplikasi
Ecommerce, Tugas Akhir, Jurusan Teknik
Informatika, Fakultas Teknik, Universitas
Muhammadiyah, Malang.
[20] Septiani K.W. A., Wiryana, I.M., 2010,
Strategi Pemetaan Web services untuk
Menyediakan Layanan Global Biodiversity
Information Facility (GBIF), Skripsi, Prodi
Teknologi Industri, Universitas Gunadarma,
Jakarta.
[21] Saputra, R., 2010, Desain Web services pada
Katalog Toko Buku, Prosiding Seminar
Nasional Ilmu Komputer, Undip, Semarang,
http://eprints.undip.ac.id/24584/, diakses: 05-
03-2012.
[22] Mutakin, 2011, Pemanfaatan Web services
untuk Komunikasi Antar Aplikasi yang
Berbeda Menggunakan Jaringan Internet,
Universitas Bina Darma, Palembang,
http://blog.binadarma.ac.id/mutakin/?p=120,
diakses: 05-03-2012.
[23] Purnamasari, S.D., 2011, Web services Sebagai
Solusi Integrasi Data pada Sistem Informasi
Akademik Universitas Bina Darma, Universitas
Bina Darma, Palembang, http://blog.
binadarma.ac.id/EKAPUJIAGUSTINI/?p=66,
diakses: 05-03-2012.
[24] Utomo, W.H., 2011, Integrasi B2B Berbasis
SOA Menggunakan Web services, Disertasi
Program Doktor Ilmu Komputer, UGM,
Yogyakarta.
[25] Harian Jakarta Post, Edisi 15 Januari 2003,
Jakarta.
[26] Supangkat, S.H., Framework Strategi
Implementasi E-Government, Prosiding
KNTIK untuk Indonesia, ITB, tanggal 3-4 Mei
2006, Bandung.
[27] http://kioss.com, diakses: 05-03-2012.
[28] Raharjo, B., 2001, Membangun e-Government,
ITB, Bandung.
[29] Supangkat, S.H., Sembiring, J., Rahmad, B.,
2007, IT Governance Nasional: Urgensi dan
Kerangka Konstruksi, makalah Pertemuan
Dewan TIK Nasional, tanggal 8 Januari 2007.
[30] Indrajit, R.E., 2006, Evolusi Strategi Integrasi
Sistem Informasi Ragam Institusi, Kiat
Memecahkan Permasalahan Politis dalam
Kerangka Manajemen Perubahan, Prosiding
KNTIK untuk Indonesia, ITB, 3-4 Mei 2006.
[31] Menkominfo, 2002, SISFONAS Sebagai
Tulang Punggung e-Governance, Depkominfo
RI, Jakarta.
[32] Setyantana, P., 2009, Interoperabilitas Sistem
Informasi, Makalah dipresentasikan dalam
Pelatihan oleh Direktorat Sistem Informasi
Perangkat Lunak & Konten, Dirjen Aplikasi
Telematika, Depkominfo RI, tanggal: 27/28-
05-2009, Sragen.
[33] http://perijinan.bantulkab.go.id/, diakses: 05-
03-2012.
[34] http://bkd.bantulkab.go.id/, diakses: 05-03-
2012.
[35] KPDT Kabupaten Bantul, Data Pengembangan
Sistem Informasi di Lingkungan Pemkab
Bantul, hasil survei tanggal: 10-12-2011
[36] http://www.bantulkab.go.id/, diakses: 10-12-
2011.
[37] Istiyanto, J.E., Sutanta, E., 2012, Model
Interoperabilitas Antar Aplikasi e-Government,
Jurnal Technoscientia IST AKPRIND, Volume
V, Nomor 1, Februari 2012, Yogyakarta.
Biodata Penulis
Edhy Sutanta, S.T., M.Kom., lahir di Sentolo
Kulon Progo pada 08 Maret 2972, menyelesaikan S1
prodi Manajemen Informatika & Teknik Komputer
di IST AKPRIND Yogyakarta tahun 1996, dan S-2
prodi Ilmu Komputer FMIPA UGM tahun 2006.
Saat ini tercatat sebagai mahasiswa S3 Ilmu
Komputer di FMIPA UGM Yogyakarta.
Dr. techn. Khabib Mustofa, M.Kom., lahir di
Sleman pada 22 Juli 1972, menyelesaikan S1 prodi
Ilmu Komputer di UGM, S2 prodi Ilmu Komputer di
UGM, dan S3 bidang Software Engineering and
Interactive Systems di Technische Universitatat
Wien (Vienna University of Technology), Austria.
Saat ini menjadi Dosen Program S3, Jurusan Ilmu
Komputer & Elektronika, FMIPA, UGM dengan
bidang kepakaran teknologi web (semantic web,web
services), mobile application dan manajemen
informasi.
... Sifat website merupakan elemen penting yang harus diperhatikan dalam suatu organisasi, hal ini karena website suatu institusi merupakan citra institusi di dunia maya [14]. Sampai saat ini belum banyak pondok pesantren yang melakukan pengukuran terhadap kualitas website-nya [15]. ...
Full-text available
Article
The web has turned into an inseparable part of human existence in this computerized age. With the web, all the ideal data can be obtained effectively and quickly. However, the quality of the website needs to be evaluated to improve the information provided by the website. The purpose of this study was to analyze the quality of the website of the Al-Hidayah Islamic Boarding School. Website quality analysis using the Webqual method is a measurement of website quality based on end user perceptions and Importance Performance Analysis (IPA) is a technique for identifying the quality measurement attributes of the product. Based on the results of the Webqual Index calculation on the Al-Hidayah Islamic Boarding School website, it can be seen that the service interaction dimension gets the highest index value. While the information dimension (information) gets the lowest index value. Then the Importance Performance Analysis on the website there are several attributes that are in quadrant I which are the main priority for improving the quality of the website to increase user satisfaction, the information dimension is an indicator of timely information, relevant information. In the service interaction dimension, it is a safe indicator of personal information, feature facilities can be accessed properly, thus providing easy input or suggestions for the school.
... The reason was because e-Government policies, institutions & planning are minimal, also makes the infrastructure that is built cannot provide optimal effects or benefits to the public. At that time, the Ministry of Communication and Information that could be said as the leading institution in terms of implementing e-Government also did not implement e-Government optimally because the condition of they were still new at that time [31]. E-Government Development Index (EDGI) conduct a survey in 2018 which stated that Indonesia's position was at 107th in the world. ...
Article
Relation between e-Government and social media is an inseparable relationship. The purpose of e-Government who wants to improve public services, with the help of information and communication technology. The best solution is using social media. In Indonesia, e-Government is a concept that is implemented not only by the central government, but also by regional/local governments. Right now, many local governments in Indonesia already implemented e-Government. However, not all of Indonesia local governments that implemented e-government have a social media-based e-Government application. There is a chance that a certain city/regency at Indonesia using same social media-based e-Government application. If the application is seen in terms of features, each application also has different features combination, which are the strengths and the uniqueness of each application. In this study, there are 9 applications that examined from 9 cities / regency in Indonesia. The purpose of this study is to analyse the relation between e-government and social media, in terms of using social media features and identified features that exist in each e-Government application that examined from 9 cities / regency in Indonesia with Systematic Literature Review. The feature found will be categorized with feature functionality categorization: Identity, Conversations, Sharing, Presence, Relationships, Reputation, and Groups. Each feature found can be having more than 1 feature functionality. The result of this study can be used as an indicator about features available at social media-based e-Government application and this study can be used to be a comparison or references for making another social media-based e-Government application in the future.
... Web services memiliki layanan terbuka untuk kepentingan integrasi data dan kolaborasi informasi yang bisa diakses melalui internet oleh berbagai pihak menggunakan teknologi yang dimiliki oleh masing-masing pengguna. Kelebihan web services adalah lintas platform, language independent, jembatan penghubung dengan database tanpa perlu driver database dan tidak harus mengetahui jenis DBMS, mempermudah proses pertukaran data, serta penggunaan kembali komponen aplikasi [5]. ...
Full-text available
Article
INTISARISistem informasi dibuat untuk membantu kegiatan di suatu organisasi dan pengambilan keputusan para pimpinannya. Sistem informasi sudah banyak dibuat organisasi namun data atau informasi yang dihasilkan selalu berdiri sendiri sehingga mengakibatkan kesulitan mendapatkan informasi yang terkait antar sistem informasi pada organisasi tersebut, terjadi duplikasi informasi dan menjadikan informasi tidak berupa kesatuan yang lengkap dan utuh.Web sebagai sarana penyampaian informasi yang sederhana dari satu tempat ke tempat lain melalui jaringan komputer. Web dapat dimanfaatkan pula sebagai sarana interoperabilitas dan berbagi informasi antara sistem informasi di suatu organisasi. Suatu klien sistem informasi yang berada pada jaringan komputer dapat meminta layanan data berupa web services kepada server sistem informasi yang menyediakan layanan data yang diminta dengan cara mudah.JavaScript Object Notation (JSON) merupakan seperangkat aturan untuk memformat data berbasis teks yang ringan digunakan pada pertukaran data. Layanan web (web services) pada komunikasi antar sistem informasi untuk bertukar informasi dapat menggunakan JSON agar mendapatkan kemudahan mendapatkan informasi yang dibutuhkan dan untuk mendapatkan integritas data yang dihasilkan dari berbagai sistem informasi pada organisasi tersebut.Peneliti melakukan pengembangan web services untuk berbagi data antar suatu sistem informasi yang dibutuhkan oleh sistem informasi yang lainnya dengan format menggunakan JSON. Peneliti mengharapkan adanya web services dengan format JSON yang dapat membantu sistem informasi untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan dan mendapatkan integritas data yang dihasilkan antara sistem informasi tersebut.Kata kunci— web services, JSON, interoperabilitas, sistem informasi. ABSTRACTInformation systems are made to assist activities in an organization and the decisions of its leaders. Many information systems have been created by the organization, but the data or information produced always stands alone, resulting in difficulties in getting information related to information systems in the organization, duplication of information and making the information, not in the form of a complete and intact unit.The web as a means of delivering simple information from one place to another through computer networks. The web can also be used as a means of interoperability and information sharing between information systems in an organization. An information system client located on a computer network can request data services in the form of web services to an information system server that provides requested data services in an easy way.JavaScript Object Notation (JSON) is a set of rules for formatting lightweight text-based data used in data exchange. Web services (web services) on communication between information systems to exchange information can use JSON to get the ease of getting the information needed and to obtain data integrity generated from various information systems in the organization.The researcher develops web services to share data between information systems needed by other information systems in a format using JSON. The researcher expects the existence of web services with JSON format that can help information systems to get the information needed and get the integrity of the data generated between the information systems.Kata kunci— web services, JSON, interoperability, information systems.
... Sebuah Entity Relationship Diagram (ERD) tersusun atas tiga kompenen yaitu entitas menunjukan objek-objek dasar yang terkait di dalam sistem, atribut merupakan keterangan-keterangan yang terkait pada sebuah entitas yang disimpan dalam basis data dan kerelasian antar entitas mendefinisikan hubungan antara dua buah entitas [9]. ...
Full-text available
Article
p> Information technology that is engaged in the DNA Sexing Report test business or registration of the DNA Sexing Report is a system that is still rarely used by businesses engaged in the field of DNA sexing. Awan Bird Business is a business with a registration system and the calculation is still fairly manual where the system has not been computerized. The purpose of this study is to make a design of an application for the DNA Sexing Report Registration Information System that can carry out the registration system activities and DNA test payments and report making more efficiently. The method the author uses to create a DNA Sexing Report registration information system using the programming language Java Netbeans and MySQL. The author uses Java Netbeans IDE 8.0.2 for making programs and MySQL as a database storage facility. The results of the system that was built can facilitate the admin in the process of registering DNA Sexing Report and payment of DNA Sexing Report so that it is easier to find data. </p
... Pemanggilan web service bisa menggunakan bahasa pemrograman apa saja dan dalam platform apa saja, sementara API hanya bisa digunakan dalam platform tertentu. Web service dapat dipahami sebagai Remote Procedure Call (RPC) yang mampu memproses fungsi-fungsi yang didefinisikan pada sebuah aplikasi web dan mengekspos sebuah API atau User Interface (UI) melalui web [9]. Android adalah sebuah sistem operasi untuk perangkat mobile berbasis Linux yang mencakup sistem operasi middleware dan aplikasi. ...
Full-text available
Article
Usually the process of watering and monitoring of plants in the Gita Persada Butterfly Park in Lampung Province is carried out using conventional methods, this condition create many problems. The research aims is to create a prototype of flower garden application based on Internet of Things (IoT) technology. An application that can help relieve watering activities and monitoring with automated system developed by protoyping method, that consist of; communication stage, quick plan and modelling quick design, construction of prototype, and deployment delivery and feedback. This application use microcontroller Arduino Uno as the main controller, temperature sensor, air humidity (DHT11), soil humidity, ultrasonic sensors (HC-SR04) and application on smartphones android for monitoring. Data delivery between arduino devices, smartphones and databases using website service. There is a firebase library on website Service to connect to firebase. Data transmitted by the device arduino through the protocol http with the command get, send, and push, then received by website Service and forward to be saved on firebase. Based on the data obtained at the air temperature and humidity monitoring around the smart garden for 31 days from April 8 to May 8 , the lowest air temperature is 25°C at 08.00 WIB, 26 April and the highest air temperature 30 °C at 12.00 WIB, 19 April. The average air humidity value is at 95%.
... Sistem yang dirancang menggunakan paket open source CMS (Content Managenet System) Joomla yang mampu menggali dan mengangkat potensi informasi yang dimiliki oleh Unit Pelaksana Teknisbalai Informasi Teknologi LIPI [10]. Penelitian berikutnya dilakukan oleh Sutanta, Edhy & Mustofa, Khabib (2012) meneliti terkait dengan kebutuhan web service untuk sinkronisasi data antar sistem informasi dalam e-Government di Pemkab Bantul Yogjakarata [11]. Selanjutnya penelitian dilakukan Stoica, E.A, dkk (2013) dalam penelitiannya mengusulkan sebuah model untuk E- Business dan E-Government serta prosesnya pada Sosial Media [12]. ...
Full-text available
Article
Services carried out by government institutions which are optimal, effective and in accordance with the standard is a standard part of every institution in Indonesia. To realize the optimum service requires a good system and integrated from the central to the local level. E-Government is an integrated system with the use of media in implementation of information technology. E-Government implemented in Pesurungan Lor village Tegal is currently still has limitations in the implementation of e-Government. Service Oriented Architecture (SOA) is proposed to optimize the built system so as to have the opportunity to be further developed, especially on web service model for optimizing e-government. From the results of research, it shows that the implementation e-Government in the government institution that has not provide yet more optimal improvement of services in the community, especially in the institution at the parish level.
Article
This website is used to help tourists find tourist destinations and car rentals. To create a website program using Hypertext Preprocessor (PHP). For database use PhpMyAdmin. The method used is the Unified Modeling Language (UML) method. Based on testing that has been done using BLACBOX, UAT and questionnaires. The results of this website make it easy for tourists to travel with maps that can go directly to tourist sites and make it easier for tourists to understand what facilities are in place.
Full-text available
Article
E-Government sebagai suatu mekanisme baru dalam interaksi antara pemerintah dan masyarakat, dalam pemanfaatan teknologi informasi terutama internet harus dapat memperbaiki layanan kepada masyarakat. Dengan adanya E-Goverment yang telah disediakan oleh pemerintah kulon progo melalui pelayanan berbasis online, maka dapat dianalisis bagaimana implementasi e-government dalam meningkatkan pelayanan publik di Kabupaten Kulon progo sebagaimana yang telah dikembangkan sedemikian rupa dalam upaya inovasi peningkatan pelayanan di kabupaten kulon progo yang efektif dan efisien. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Data yang digunakan dalam penelitian ini bersumber dari data sekunder, dengan Metode yang berasal dari dokumentasi yang dimana data diperoleh dari berbagai macam sumber literatur sebelumnya yaitu web resmi instansi dan jurnal-jurnal untuk keabsahan penelitian. Aplikasi e-Goverment di Kabupaten Kulon Progo bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan keterpaduan penyelenggaraan SPBE, namun perkembangan SPBE tersebut masih dalam proses pengintregasian. Implementasi e-government di kabupaten kulon progo bisa dikatakan belum efektif karena Pemkab Kulon progo kurang dalam penggunaan aplikasi dibanding pemda-pemda lain di Daerah Istimewa Yogyakarta. Namun Dengan adanya pemeriksaan kinerja pendahuluan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) diharapkan dapat meningkatkan penggunaan aplikasi sehingga pelayanannya bisa tepat dan memudahkan dalam pengelolaan keuangan, sehingga bisa tepat waktu dan akurat.
Article
Eduplex café pada awalnya didirikan sebagai sebuah perusahaan bimbingan belajar, akan tetapi saat ini Eduplex Café telah mengembangkan kosepnya tidak hanya sebagai tempat yang nyaman bagi pelajar untuk belajar melainkan juga sebagai virtual office café yang luas dan nyaman bagi pelanggan. Akan tetapi sentuhan”virtual office café” dirasa kurang diterapkan didalam café ini sendiri. Hal ini dapat terlihat dari sistem manajemen café yang ada masih diterapkan secara konvensional mulai dari pemesanan makanan, pelayanan dan pembayaran. Pelanggan harus menghampiri petugas untuk melakukan pemesanan maupun melakukan pembayaran.Aplikasi pelayanan pemesanan untuk pelanggan ini menggunakan teknologi web service sebagai penyedia layanan. Web service memungkinkan untuk aplikasi yang berbeda satu sama lain yang dapat saling bertukar informasi dengan mudah sehingga penyampaian informasi antar aplikasi pelanggan dan web petugas kasir tidak terbatas pada satu aplikasi. Pada pembangunan aplikasi ini menggunakan teknologi web service model REST untuk penyederhanaan konsep, ketahanan perubahan dan keseragaman. Dengan adanya dukungan web service pada aplikasi yang dibangun, maka aplikasi pelayanan pemesanan pada Eduplex Café ini dapat saling bertukar informasi dan terintegrasi dengan baik.Aplikasi pelayanan pemesanan untuk pelanggan berbasis mobile android pada Eduplex Café ini untuk membantu pelanggan dalam melakukan transaksi pada Eduplex Café dengan secara otomatis menggunakan aplikasi mobile khususnya pada platform android yang terintegrasi pada web service.
Full-text available
Article
Dengan berkembangnya teknologi pada saat ini, kebutuhan terhadap perangkat keras (laptop) sangat dibutuhkan. Kini hampir semua kalangan pendidikan dan pekerjaan sudah menggunakan bantuan perangkat keras terutama laptop. Tanpa adanya perangkat keras (laptop) maka pekerjaan akan menjadi sulit untuk penyelesaiannya. Dengan alasan tersebut, tidak terhindarkan lagi perangkat keras terutama berupa laptop begitu sangat dibutuhkan, hal ini akan semakin dimanfaatkan bagi para penjual demi meraih banyak keuntungan, bisa dengan cara memanfaatkan penjualan melalui internet yakni berupa website e-commerce. Dengan banyaknya website e-commerce sekarang, kita dapat dengan mudah mengakses informasi barang dari mana saja baik dari harga, spesifikasi, dan bahkan melakukan transaksi pembelian. Hal ini dapat menghemat waktu dan biaya bagi calon pembeli, karena tidak perlu datang ke toko langsung sehingga dari tempat duduk saja mereka dapat mengambil keputusan dengan mudah dan cepat karena adanya website e-commerce seiring berkembangnya teknologi serta kemudahan dalam pengkasesan internet. Akan tetapi website e-commerce sekarang telah banyak dibangun dan digunakan oleh para penjual hal tersebut terkadang membuat para pembeli sulit untuk memilih barang yang dicari dikarenakan banyaknya website e-commerce yang beredar luas di internet. Maka dari itu dibutuhkan sebuah aplikasi yang dapat memudahkan orang dalam pencarian barang terutama sebagai objek penelitian dalam studi kasus kali ini yakni perangkat keras berupa laptop sebagai barang kebutuhan penting saat ini dengan menggunakan teknologi web scraping dalam pencarian obyek laptop berbasis web, dan dengan menerapkan arsitektur Representational State Transfer (REST).
Article
An abstract is not available.
Article
Internet developments forcing e-commerce development work for the data menginteraksikan e-commerce applications that can be accessed from platforms and different devices. Web services present in the midst of the development of e-commerce to support the interoperability of e-commerce applications that can menginteraksikan and collaborate data between platforms and different devices. Web services can be called by other applications using the protocol HTTP (Hypertext Transfer Protocol), so with a web service, the application can communicate with other applications at any time, anywhere and anytime, using any platform. This service web solutions has helped companies in the field of e-commerce based website that can be accessed by a desktop-based applications and mobile devices.
Penerapan XML Web services unutk Sistem Distribusi Barang Studi Kasus: PT. Apotik Plus Palembang Tesis Implementasi Extensible Markup Language Web services pada Secure Remote Form Field Fillin dalam Dokumen Microsoft Word
  • H Deviana
  • Prodi Ilmu
  • Komputer
  • Ugm Fmipa
  • Yogyakarta Wicaksono
Deviana, H., 2007, Penerapan XML Web services unutk Sistem Distribusi Barang Studi Kasus: PT. Apotik Plus Palembang, Tesis Prodi Ilmu Komputer, FMIPA, UGM, Yogyakarta. [15] Wicaksono, S.R., 2008, Implementasi Extensible Markup Language Web services pada Secure Remote Form Field Fillin dalam Dokumen Microsoft Word, Gematika Jurnal Manajemen Informatika, volume 9, nomor 2, edisi Juni 2008, STIKOM Surabaya, Surabaya.
Analisa dan Perancangan Web services untuk Sistem Informasi Universitas
  • B Santosa
  • Bali
Santosa, B., 2008, Analisa dan Perancangan Web services untuk Sistem Informasi Universitas, Konferensi Nasional Sistem dan Informatika 2008 (KNS&I08), STIKOM Bali, 15 November 2008, Denpasar.
Web services Sebagai Solusi Integrasi Data pada Sistem Informasi Akademik Universitas Bina Darma
  • S D Purnamasari
Purnamasari, S.D., 2011, Web services Sebagai Solusi Integrasi Data pada Sistem Informasi Akademik Universitas Bina Darma, Universitas Bina Darma, Palembang, http://blog. binadarma.ac.id/EKAPUJIAGUSTINI/?p=66, diakses: 05-03-2012.
Desain Web services pada Katalog Toko Buku
  • R Saputra
Saputra, R., 2010, Desain Web services pada Katalog Toko Buku, Prosiding Seminar Nasional Ilmu Komputer, Undip, Semarang, http://eprints.undip.ac.id/24584/, diakses: 05- 03-2012.
  • Harian Jakarta
  • Post Supangkat
  • S H Framework Strategi Implementasi
Harian Jakarta Post, Edisi 15 Januari 2003, Jakarta. [26] Supangkat, S.H., Framework Strategi Implementasi E-Government, Prosiding KNTIK untuk Indonesia, ITB, tanggal 3-4 Mei 2006, Bandung. [27] http://kioss.com, diakses: 05-03-2012.
Data Pengembangan Sistem Informasi di Lingkungan Pemkab Bantul, hasil survei tanggal
  • Kpdt Kabupaten
  • Bantul
KPDT Kabupaten Bantul, Data Pengembangan Sistem Informasi di Lingkungan Pemkab Bantul, hasil survei tanggal: 10-12-2011
Tourism Web services Using E-Business, Tesis, Master of Science (Information Technology -Management
  • E F Muchlis
Muchlis, E.F., 2008, Tourism Web services Using E-Business, Tesis, Master of Science (Information Technology -Management), Faculty of Computer Science & Information System, UTM, Malaysia.