Archived project

Indonesia: Researching & conserving critically endangered Sumatran tigers in Rimbang Baling Wildlife Reserve, Sumatra, through citizen science

Goal: Researching & conserving critically endangered Sumatran tigers in Rimbang Baling Wildlife Reserve, Sumatra, through citizen science. OUTCOME: This three-year project (2015-2017) in collaboration with WWF Indonesia studied tigers, their prey and human-wildlife conflict in Rimbang Baling Wildlife Reserve and made recommendations for better tiger protection and integrating local people into tiger conservation.

Date: 3 May 2015 - 1 October 2017

Updates
0 new
0
Recommendations
0 new
0
Followers
0 new
0
Reads
0 new
122

Project log

Matthias Hammer
added a research item
Abstract Biosphere Expeditions and WWF Indonesia ran their third joint expedition with citizen scientists in and around Bukit Rimbang Bukit Baling Wildlife Reserve (BRBBWR), Riau Province, Sumatra, Indonesia, from 30 July to 1 September 2017. The expedition study was a follow-up of the two previous studies in 2015 and 2016, with the tiger and its habitat as the focal point, including prey species and species that contribute to information on tiger habitat quality, or human disturbance of these. In an effort to support tiger conservation in BRBBWR, the objectives of this activity continued to be (1) to conduct long-term tiger and habitat monitoring in locations of high human disturbance along the Subayang river and (2) to involve and engage with local communities in order to raise their awareness of and support for tiger and habitat conservation. Detection-nondetection surveys for tigers and prey species were conducted on foot or by boat, covering BRBBWR along the Subayang river, which served as a convenient travel route and access point for survey teams. The methods employed to record species (mammals and large birds) involved recording species presence-absence and frequency of individuals in a grid of 2x2 km cells by means such as signs, sightings and calls. Seventeen camera traps were also employed to record species presence. The study was designed to compare the presence of species in cells with and without households (herein coded as village and non-village cells) in order to investigate whether proximity to villages had any influence on species distribution in the forest. To this end, the team surveyed target cells using a standardised datasheet for camera trapping and sign detection. In addition, we also interviewed villagers about tiger and other key wildlife species presence and interaction. We surveyed fourteen cells (three village and eleven non-village), recording fourteen wildlife species (including water buffalo Bubalus bubalis) in four mammal genera, plus two large bird species. Except for the wild boar Sus scrofa, the sun bear Helarctos malayanus and the water buffalo, all species occurred rarely (≤ 5 of presence in cells), hampering any further analysis. The water buffalo and wild boar were found to be evenly distributed in village and non-village cells. No tiger signs were recorded. We recorded three main tiger prey species: barking deer Muntiacus muntjak, pig-tailed macaque Macaca nemestrina and wild boar. The highest number of camera trap RAI (relative abundance index) of species was wild boar (15.70) followed by pig-tailed macaque (8.26) and long-tailed macaque Macaca fascicularis (3.31), which is not considered a tiger prey species. RAI for barking deer, a large tiger prey species, was 1.65.The Endangered (EN) gibbon Hylobates agilis and the siamang Symphalangus syndactylus were present in four and eight cells respectively, but we did not capture either species in camera traps as they are arboreal. We also recorded secondary prey species such as the common porcupine Hystrix brachyura, the great argus pheasant Argusianus argus, both at low rates (RAI 0 and 2.48 respectively). The presence of all these species is typical of good tiger habitat, although no tiger signs were recorded. We interviewed 14 villagers, 8 of whom reported having seen tigers and tiger tracks. Most villagers (n=12, 86%) said they were scared of tigers, nine of whom felt the presence of tigers had a detrimental effect on the area. However, all but one interviewee understood that tigers were protected in Indonesia and eleven interviewees (79%) agreed that this should be so. We found 25 incidences of tiger threat, including two prey species snares in two cells. Illegal logging was very common (10 cells, 71%) and we also encountered people with firearms. The majority of threats occurred in the buffer zone of the reserve. Finally, we visited four elementary schools in three villages, involving 68 pupils in presentations as well as talks about tiger and general conservation. Abstrak Biosphere Expeditions dan WWF Indonesia atas izin BBKSDA Riau kembali melakukan ekspedisi gabungan untuk ketiga kalinya bersama dengan sukarelawan global di Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling (SMBRBB) dan sekitarnya, Provinsi Riau, Sumatera, Indonesia, dari 30 Juli hingga 1 September 2017. Studi ekspedisi ini merupakan tindak lanjut dari dua studi sebelumnya pada tahun 2015 dan 2016, dengan harimau dan habitatnya sebagai focal point, termasuk satwa mangsa dan spesies lain yang berkontribusi pada informasi kualitas habitat harimau, atau gangguan manusia terhadap hal tersebut. Kegiatan ini dilakukan dalam upaya mendukung pelestarian harimau di SMBRBB dengan melanjutkan tujuan kegiatan sebelumnya yaitu (1) melakukan pemantauan harimau dan habitat jangka panjang di lokasi-lokasi yang memiliki tingkat gangguan manusia tinggi di sepanjang sungai Subayang dan (2) melibatkan dan melibatkan masyarakat lokal dalam rangka untuk meningkatkan kesadaran dan dukungan mereka terhadap konservasi harimau dan habitatnya. Survei deteksi-non-deteksi untuk harimau dan spesies mangsa dilakukan dengan berjalan kaki atau dengan perahu, meliputi kawasan SMBRBB utamanya di sepanjang sungai Subayang, yang berfungsi sebagai jalur perjalanan dan titik akses yang nyaman bagi tim survei. Metode yang digunakan untuk mencatat spesies (mamalia dan burung besar) melalui pencatatan keberadaan-ketiadaan spesies dan frekuensi individu dalam sel pengamatan berukuran 2x2 km dengan mencatat temuan seperti tanda, penampakan dan suara satwa. Tujuh belas kamera penjebak juga digunakan untuk merekam keberadaan spesies. Penelitian ini dirancang untuk membandingkan keberadaan spesies dalam sel dengan dan tanpa keberadaan desa (selanjutnya dikodekan sebagai sel desa dan non desa) untuk mengetahui apakah kedekatan dengan desa berpengaruh terhadap distribusi spesies di hutan. Untuk tujuan ini, tim tersebut mensurvei sel target menggunakan lembar data standar untuk survei kamera penjebak dan deteksi tanda. Selain itu, kami juga mewawancarai penduduk desa tentang keberadaan dan interaksi harimau dan spesies satwa liar utama lainnya. Kami mensurvei empat belas sel (tiga desa dan sebelas non-desa), mencatat empat belas spesies mamalia yang berbeda (termasuk kerbau Bubalus bubalis) dalam empat genera mamalia, ditambah dua spesies burung besar. Kecuali babi hutan Sus scrofa, beruang madu Helarctos malayanus dan kerbau, semua spesies jarang ditemukan (≤ 5 keberadaan dalam sel), sehingga menghambat analisis lebih lanjut. Kerbau dan babi hutan ditemukan tersebar merata di sel desa dan non desa. Tidak ada tanda-tanda harimau yang dijumpai. Kami mencatat tiga spesies utama mangsa harimau: kijang Muntiacus muntjak, kera ekor babi Macaca nemestrina dan babi hutan. Jumlah RAI (indeks kelimpahan relatif) kamera penjebak tertinggi adalah babi hutan (15,70) diikuti oleh monyet ekor babi (8,26) dan kera ekor panjang Macaca fascicularis (3,31), yang tidak termasuk jenis mangsa harimau. Kijang sebagai spesies mangsa harimau besar memiliki RAI adalah 1,65. Jenis owa yang terancam punah (EN) Hylobates agilis dan siamang Symphalangus syndactylus dijumpai di masing-masing empat dan delapan sel, tetapi kami tidak merekam salah satu spesies tersebut di kamera penjebak karena mereka adalah satwa arboreal. Kami juga mencatat spesies mangsa sekunder seperti landak umum Hystrix brachyura, burung kuau raja Argusianus argus, keduanya memiliki kelimpahan rendah (RAI 0 dan 2,48 masing-masing). Keberadaan semua spesies tersebut menjadi ciri khas bahwa habitat harimau masih baik, meskipun tidak ada tanda-tanda harimau yang tercatat. Kami mewawancarai 14 penduduk desa, 8 di antaranya melaporkan pernah melihat harimau dan jejak harimau. Sebagian besar penduduk desa (n = 12, 86%) mengatakan bahwa mereka takut pada harimau, sembilan di antaranya merasa keberadaan harimau berdampak buruk bagi kawasan tersebut. Namun, semua kecuali satu orang yang diwawancarai memahami bahwa harimau dilindungi di Indonesia dan sebelas orang yang diwawancarai (79%) setuju bahwa seharusnya demikian. Kami menemukan 25 keberadaan ancaman harimau, termasuk dua jerat mangsa harimau dalam dua sel berbeda. Penebangan liar sangat umum (10 sel, 71%). Mayoritas ancaman terjadi di zona penyangga suaka margasatwa tersebut. Terakhir, kami mengunjungi empat sekolah dasar di tiga desa, melibatkan 68 siswa dalam presentasi serta berdiskusi tentang harimau dan konservasi secara umum.
Matthias Hammer
added 2 research items
Abstract Biosphere Expeditions and WWF Indonesia ran their second joint expedition with volunteers in and around Bukit Rimbang Bukit Baling Wildlife Reserve (BRBBWR), Riau Province, Sumatra, Indonesia, from 17 July to 12 August 2016. The expedition study was a follow-up of the previous study in 2015, with the tiger and its habitat as the focal point, including prey species and species that contribute to information on tiger habitat quality, or human disturbance of these. In an effort to support tiger conservation in BRBBWR, the objectives of this activity were (1) to conduct long-term tiger and habitat monitoring in locations of high human disturbance along the Subayang river and (2) to involve and engage with local communities in order to raise their awareness of and support for tiger and habitat conservation. Surveys were conducted on foot or by boat, covering BRBBWR along the Subayang river, which served as a convenient travel route and access point for survey teams. The methods employed to record species (mammals and large birds) involved recording species presence-absence and frequency of individuals in a grid of 2x2 km cells by means such as signs, sightings and calls. Camera traps were also employed to record species presence. The study was designed to compare the presence of species in cells with and without villages in order to investigate whether village presence had any influence on species distribution in the forest. Sixteen cells were surveyed, seven were non-village cells and nine were village cells. In total, thirteen wildlife species (including water buffalo) in four mammal genera were recorded, plus two large bird species. Except for the wild boar Sus scrofa, the sun bear Helarctos malayanus and the water buffalo, all species had very low scores (≤ 5 of presence in cells). This hampered any further analysis. The water buffalo and wild boar were found to be evenly distributed in village and non-village cells. The sun bear, considered Vulnerable (VU) by the IUCN (International Union for the Conservation of Nature), was the only species that displayed a noticeably higher presence value in non-village cells, suggesting a certain degree of avoidance of human presence. The number of independent pictures recorded by camera traps was ≥ 5 for humans (n=23), mouse deer Tragulus sp. (n=7), wild boars (n=6), pig-tailed macaque Macaca nemestrina (n=11) and common porcupine Hystrix brachyura (n=9). The pig-tailed macaque, listed as Vulnerable (VU) by the IUCN, was camera-trapped more often in village cells (n=8), than in non-village cells (n=3). The Endangered (EN) gibbon Hylobates agilis and the siamang Symphalangus syndactylus were present, but infrequently recorded. The presence of these species suggests that villagers have a relatively high tolerance towards them and also towards other species such as the crop-rading wild boars and sun bears. Four recognised mammalian prey species for tiger were recorded during the expedition, namely the barking deer Muntiacus muntjak, the sambar deer Rusa unicolor, pig-tailed macaque and wild boar. The common porcupine and two birds, the crested partridge Rollulus rouloul and the great argus pheasant Argusianus argus, may occasionally be taken by tigers, and all of them were recorded at low rates. The presence of all these species, including known tiger prey, is thought to be beneficial to tiger presence, although none were recorded by the expedition. However, a large proportion of villagers interviewed (n=16) have reportedly seen tigers (25%) and tiger tracks (38%) during their lifetimes. Most villagers were scared (72%) or slightly scared (14%) of tigers and as a result a majority (69%) had a negative opinion of tiger presence. However, most interviewees recognised the importance of tigers for the country (61%) and for tourism (81%), and understood that they should be protected (>80%). During the survey, snares installed for tiger prey were found in 14% of 16 grid cells sampled and shotguns were heard. Four schools (three elementary schools and one junior high school) were visited, involving 158 pupils in presentations as well as talks about tiger and general conservation. Abstrak Biosphere Expeditions dan WWF Indonesia menyelenggarakan ekspedisi kedua mereka bersama para sukarelawan di Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling (SMBRBB), Provinsi Riau, Sumatra, Indonesia, dari tanggal 17 Juli hingga 12 Agustus 2016. Studi ekspedisi ini adalah sebagai sebuah tindak lanjut dari studi sebelumnya di tahun 2015 dengan harimau dan habitatnya sebagai poin utama termasuk satwa mangsa dan satwa lain yang berkontribusi pada kualitas habitat harimau atau gangguan manusia. Dalam sebuah usaha untuk mendukung upaya konservasi harimau di SMBRBB, tujuan dari studi ini adalah (1) melakukan pemantauan jangka panjang untuk harimau dan habitatnya di lokasi – lokasi dengan gangguan manusia tinggi sepanjang sungai Subayang dan (2) melibatkan masyarakat lokal untuk meningkatkan kesadartahuan mereka dan mendukung untuk upaya konservasi harimau dan habitatnya. Beberapa survai dilakukan dengan berjalan kaki atau berperahu, mencakup sepanjang sungai Subayang yang dapat diakses secara mudah oleh tim – tim survai. Metode ini digunakan untuk merekam spesies (mamalia dan burung – burung besar) termasuk merekam kehadiran-ketidakhadiran (presence-absence) spesies dan frekuensi individu – individu spesies dalam grid sel pemantauan 2x2 km melalui perjumpaan langsung maupun tanda keberadaan seperti jejak, suara, dsb. Kamera penjebak juga digunakan untuk merekam keberadaan satwaliar. Studi ini didesain untuk membandingkan keberadaan spesies di grid – grid dengan dan tanpa keberadaan desa untuk mengetahui apakah keberadaan desa memiliki pengaruh terhadap persebaran satwaliar. Enam belas grid sel tersurvai, tujuh dimana tanpa desa dan sembilan berdesa. Keseluruhan, tiga belas spesies satwaliar (termasuk kerbau) dalam empat genus mamalia dan aves terekam, ditambah dua spesies burung besar. Kecuali babi hutan Sus scrofa, beruang madu Helarctos malayanus dan kerbau, seluruh spesies memiliki skor kehadiran rendah (≤ 5 grid sel) pada grid sel tersurvei. Dengan data yang minim, menghambat analisis data. Kerbau dan babi hutan terekam pada seluruh sel baik berdesa maupun tanpa desa. Beruang madu dengan status Vulnerable (VU) berdasarkan IUCN, adalah spesies yang dapat terlihat jelas kehadirannya lebih tinggi di grid sel tanpa desa, kemungkinan menghindari keberadaan manusia. Jumlah dari gambar independen terekam kamera penjebak dengan jumlah ≥ 5 gambar independen untuk manusia (n=23), kancil Trangulus sp. (n=7), babi hutan (n=6), monyet beruk Macaca nemestrina (n=11) dan landak Hystrix brachyura (n=9). Monyet beruk, terdaftar sebagai Vurnerable (VU) di IUCN terekam kamera penjebak lebih sering di grid sel berdesa (n=8) daripada tanpa desa (n=3). Owa ungko Hylobates agilis terdaftar Endangered (EN) atau terancam oleh IUCN dan siamang Symphalangus syndactylus juga hadir selama survai, namun sangat jarang terekam. Kehadiran dari spesies – spesies memberikan kesan bahwa keberadaan desa – desa secara relatif bertoleransi tinggi terhadap mereka dan juga terhadap spesies lain seperti babi hutan dan beruang madu. Empat satwa dikenal sebagai mangsa harimau terekam selama ekspedisi ini yaitu kijang Muntiacus muntjak, rusa sambar Rusa unicolor, monyet beruk, dan babi hutan. Landak dan dua spesies burung besar, burungpuyuh sengayan Rollulus rouloul dan burung kuau Argusianus argus mungking secara terkadang termangsa oleh harimau dan semua spesies yang terekam dengan nilai rendah. Kehadiran dari spesies – spesies tersebut, termasuk satwa mangsa harimau, diperkirakan memberikan dampak baik pada kehadiran harimau meskipun beberapa diantara mereka tidak terekam selama ekspedisi ini. Selain itu, dari jumlah masyarakat lolal terwawancara (n=16) memiliki laporan pernah melihat harimau (25%) dan jejak harimau (38%) seumur hidup mereka. Umumnya masyarakat mengalami ketakutan (72%) or sedikit takut (14%) dan sebagai hasil, mayoritas (69%) memiliki pendapat negatif terhadap keberadaan harimau. Akantetapi, umumnya, masyarakat lokal terwawancara mengetahui pentingnya keberadaan harimau untuk negara (61%) dan untuk kunjungan wisata (81%), dan seharusnya harimau dilindungi (>80%). Selama survai, jerat mangsa harimau ditemukan di 14% dari 16 grid tersurvei dan suara tembakan kemungkinan perburuan didengar. Empat sekolah (tiga sekolah tingkat dasar dan satu sekolah tingkat menengah pertama) dikunjungi dengan melibatkan 158 murid keseluruhan dalam presentasi – presentasi dan pengajaran tentang harimau dan konservasi secara umum.
Abstract For 78 days, from May to September 2015, Biosphere Expeditions and WWF Indonesia ran an inaugural expedition with volunteers in Rimbang Baling Wildlife Reserve (RB), Riau Province, Sumatra, Indonesia. The aim of the expedition was to (1) make an assessment of the status of the Sumatran tiger (Panthera tigris sumatrae), its prey and of other threatened mammal species, (2) engage and educate the local community through interviews and school visits and (3) train members of Batu Dinding Community Group (BDCG) in ecotourism service provision, with the expedition serving as a showcase on how ecotourism can provide alternative incomes based on intact nature and tiger presence. Target species were recorded by camera traps, sightings, calls and signs in the north-eastern and lowland section of RB, with interviews conducted at villages throughout. Data output consisted of recording rates (frequency) and distribution of target species in a grid of 2 x 2 km cells. Thirty-four cells and 15 villages were surveyed on foot or by boat; five cells were sampled with 13 camera trap stations equipped with double cameras (26 cameras in total), resulting in a total of 256 trap nights. Nineteen mammal species of interest were recorded, including six artiodactyl tiger prey species, Sunda pangolin Manis javanica, Malayan tapir Tapirus indicus, as well as clouded leopard Neofelis diardi, leopard cat Prionailurus bengalensis, agile gibbon Hylobates agilis and the siamang Symphalangus syndactylus. Fifty-one bird species were recorded opportunistically. The tiger was mentioned during interviews, but not sampled in the field. However, the presence of threatened and vulnerable species as found by the expedition points towards good tiger habitat quality. Despite not recording tiger in the lowland habitats and therefore close to human habitation, the authors agree with, and the data presented here corroborate, Sunarto et al. (2012), and we believe that RB is an important habitat for tigers because of its steep, rugged and forest-covered topography that inhibits human occupation away from the major rivers, where there are human settlements, disturbance and conversion of forest to either rubber tree plantations on the slopes and/or oil palm plantations on the few flat areas that fringe the larger rivers in RB. Future expeditions should seek to confirm this hypothesis of tiger presence deeper in the reserve by increasing sampling effort away from the high human impact lowland areas. Threats to continued tiger presence in RB include an increasing human population with developing infrastructure, concomitant with further forest encroachment and conversion, logging and other illegal activities such as poaching, which were all documented by the expedition, but are barely studied and quantified, let alone contained by the authorities tasked with nature protection due to a severe shortage in resources. Hunting pressure on the tiger and its prey was found to be relatively low, but there was worrying evidence of the use of snares, which indicates selective tiger poaching. This should be investigated further. The expedition engaged and interviewed local people in 15 villages, 260 pupils in five local schools and two local placements on the expedition. Eleven members of BDCG were employed and trained in ecotourism provision activities. These capacity-building activities should be extended during future expeditions, with Biosphere Expeditions serving as a showcase example on how ecotourism based on intact nature can support livelihoods, and WWF seeking to capitalise on the experiences gained. In particular, the local community should be trained and involved in camera trapping and other tiger research activities during and outside the expedition dates, thereby providing more alternative income and greatly increasing sampling effort. While Biosphere Expeditions and its activities combining wildlife conservation and ecotourism activities can only be a small part of this process, for one because expeditions happen only for part of the year, it can nevertheless be an important showcase and driver for successful community-based conservation in RB. WWF’s continued involvement, as the local, on-the-ground NGO present year-round, is crucial in all this, as is its work with the authorities to keep RB on the agenda in what today is the very beleaguered world of nature conservation in general, and of the tiger in particular, on the island of Sumatra. Abstrak Untuk 78 hari, dari Mei hingga September 2015 Biosphere Expeditions dan WWF Indonesia menyelenggarakan sebuah ekspedisi bersama dan dibantu oleh para sukarelawan di Suaka Margasatwa Rimbang Baling (RB), Propinsi Riau, Pulau Sumatera, Indonesia. Adapun tujuan dari ekspedisi ini adalah untuk (1) membuat sebuah penilaian dari status harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), satwa mangsanya, dan spesies mamalia terancam lainnya, (2) mengikutsertakan dan mengedukasi masyarakat lokal melalui wawancara dan kunjungan – kunjungan sekolah, dan (3) melatih anggota dari Komunitas Batudinding dalam pelayanan ekowisata dengan memberikan bantuan jasa kepada kegiatan ekspedisi sebagai tempat dimana praktek penyelenggaraan ekowisata berdasarkan pada alam yang utuh dan keberadaan harimau dapat memberikan alternatif pendapatan bagi mereka. Spesies target berhasil tercatat dari pemasangan kamera jebak (camera trap), meupun terlihat langsung, perjumpaan suara, dan tanda keberadaan lainnya di bagian utara – timur dan sisi dataran rendah RB, selain itu juga dengan wawancara pada beberapa desa. Luaran data terdiri dari tingkat pencatatan (frekuensi) dan distribusi dari spesies target dalam grid sel 2 x 2 km. Tigapuluh empat grid sel dan lima belas desa telah tersurvai dengan berjalan kaki atau berperahu, lima grid sel telah tersample dengan tiga belas stasiun kamera jebak yang dilengkapi dengan kamera berpasangan (jumlah keseluruhan adalah 26 kamera), menghasilkan 256 hari kamera aktif secara keseluruhan. Sembilan belas spesies mamalia tertangkap, termasuk enam Artiodactyla mangsa harimau, trenggiling Manis javanica, tapir Tapirus indicus, maupun macan dahan Neofelis diardi, kucing hutan Prionailurus bengalensis, ungko Hylobates agilis, dan siamang Symphalangus syndactylus. Lima puluh dua spesies burung tertangkap secara oportunis. Harimau selalu diinformasikan selama wawancara, tetapi tidak tersampel di lapangan. Namun, kehadiran dari spesies terancam dan rentan yang dijumpai pada titik – titik pengamatan yang berkorelasi terhadap baiknya kualitas habitat harimau. Meskipun tidak merekam harimau di habitat – habitat dataran rendah dan yang berdekatan dengan kawasan manusia, para penulis setuju, dan data yang ditunjukkan disini cukup menguatkan, Sunarto et al. (2012) dan dipercayai bahwa RB adalah sebuah habitat penting untuk harimau karena tingkat kecuraman, tidak ratanya medan, dan topografi yang didominasi tutupan hutan yang mempersulit okupansi oleh manusia yang jauh dari jalur sungai utama, dimana disana banyak pemukiman manusia, gangguan, dan konversi hutan untuk perkebunan karet pada kawasan curam dan/atau perkebunan kelapa sawit pada beberapa kawasan yang lebih landai pada tepi sungai besar di RB. Ekspedisi – ekspedisi kedepan harus mengkonfirmasi ini dengan hipotesa bahwa harimau hadir pada kawasan suaka margasatwa yang lebih dalam dan jauh dari padatnya aktifitas manusia, dan dapat dicapai dengan meningkatkan usaha sampling pada kawasan yang lebih dalam tersebut. Ancaman – ancaman terhadap keberadaan harimau in RB termasuk peningkatan populasi manusia dengan pengembangan infrastruktur, hal – hal yang terkait dengan perambahan dan konversi hutan, pembalakan, dan aktifitas – aktifitas ilegal lainnya seperti perburuan, yang telah didokumentasikan oleh ekspedisi ini, tetapi jarang dipelajari dan dikuantifikasikan, dibiarkan begitu saja oleh pihak otoritas dengan tugas perlindungan alam karena keterbatasan sumberdaya yang tersedia. Tekanan perburuan pada harimau dan satwa mangsanya yang ditemukan umumnya relatif rendah, tetapi terdapat perburuan dengan menggunakan jerat yang diindikasikan sebagai perburuan selektif untuk harimau. Perlu melakukan kegiatan investigasi lebih lanjut terkait perburuan harimau tersebut. Ekspedisi ini mengikutsertakan dan mewawancarai masyarakat lokal di 15 desa, 260 siswa sekolah di lima sekolah lokal, dan dua orang lokal yang ditempatkan untuk membantu ekspedisi ini. Sebelas anggota dari Komunitas Batudinding dilibatkan dan dilatih dalam aktifitas – aktifitas kaitannya dengan ekowisata. Aktifitas – aktifitas peningkatan kapasitas ini harus ditambahkan pada ekspedisi – ekspedisi kedepannya dengan Biosphere Expedtions, untuk peningkatan pengalaman mereka. Utamanya, masyarakat lokal juga harus diajarkan dan dilibatkan dalam pemasangan kamera jebak dan aktifitas – aktifitas penelitian harimau lainnya selama dan diluar waktu ekspedisi, dengan demikian dapat memberikan pendapatan alternatif yang lebih mengkombinasikan aspek konservasi satwaliar dan aktifitas – aktifitas ekowisata, kegiatan ekspedisi ini hanya bagian kecil sekali setahun, dengan demikian dapat mendorong kesuksesan konservasi berdasarkan komunitas di RB. WWF juga akan berperan dalam pelibatan sebagai NGO tempatan, sehingga sangat penting untuk ini, bekerja dengan otoritas – otoritas lokal untuk menjaga RB untuk upaya konservasi alam umumnya, dan utamanya untuk konservasi harimau di Pulau Sumatera.
Matthias Hammer
added a project goal
Researching & conserving critically endangered Sumatran tigers in Rimbang Baling Wildlife Reserve, Sumatra, through citizen science. OUTCOME: This three-year project (2015-2017) in collaboration with WWF Indonesia studied tigers, their prey and human-wildlife conflict in Rimbang Baling Wildlife Reserve and made recommendations for better tiger protection and integrating local people into tiger conservation.