Kreano Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif

Published by Universitas Negeri Semarang
Print ISSN: 2086-2334
Publications
p align="justify">Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa dalam pendekatan realistik dengan pendekatan ekspositori pada mata pelajaran matematika kelas IV SDN 101880 Tanjung Morawa T.A. 2012/2013. Penelitian ini menggunakan metode kuasi eksperimen. Sampel yang diteliti sebanyak 60 siswa yang terdiri dari 25 siswa kelas eksperimen dan 35 siswa kelas kontrol. Instrumen yang di gunakan adalah tes hasil belajar bentuk isian sebanyak 10 soal. Berdasarkan analisis data pada kelas eksperimen diperoleh rata-rata nilai pre test 9,2 dan standar deviasi 12,88, untuk data post test diperoleh rata-rata 52 dan standar deviasi 31,36. Untuk kelas kontrol diperoleh rata-rata nilai pre test 15,14 dan standar deviasi 14,82, untuk data post test diperoleh rata-rata 44,57 dan standar deviasi 25,36. Pengujian hipotesis menggunakan uji-t, didapat t<sub>hitung</sub> = 5,38 > t<sub>tabel </sub>= 1,671, dengan taraf signifikansi α = 0,05. Maka H<sub>0</sub> ditolak sehingga dapat disimpulkan bahwa Terdapat pebedaan hasil belajar matematika siswa pada materi penjumlahan pecahan yang diajarkan dengan pendekatan matematika realistik dan pendekatan ekspositori di kelas IV SD Negeri 101880 Tanjung Morawa tahun ajaran 2012/2013. This study aims to determine differences in student learning outcomes in a realistic approach to the expository approach in mathematics class IV SDN Tanjung Morawa 101 880 TA 2012/2013. This study used a quasi-experimental methods. The samples studied were 60 students consisting of 25 students and 35 students experimental class control class. The instrument used is the achievement test stuffing form of 10 questions. Based on the analysis of data on the experimental class gained an average pre-test score of 9.2 and a standard deviation of 12.88, post test data gained an average of 52 and a standard deviation of 31.36. To control class gained an average pre-test score standard deviation of 15.14 and 14.82, for a post test the data gained an average of 44.57 and a standard deviation of 25.36. Hypothesis testing using t-test, obtained t = 5.38> table = 1,671, with a significance level α = 0.05. Then H0 is rejected so that it can be concluded that the learning outcomes are pebedaan mathematics student at the sum of material fractions being taught with realistic mathematics approach and expository approach in the fourth grade elementary school Tanjung Morawa 101 880 2012/2013 academic year. </p
 
This study aims to find out the difference of spatial ability and self confidence students improvement who were taught through inquiry learning model with GeoGebra (ILMG) and inquiry learning model without GeoGebra (ILMWG). The population of the study was the students at SMAN 19 Medan. The sample was the tenth grade students who randomly selected. Experimental 1 class were taught by ILMG and experimental 2 class were taught by ILMWG. The instruments of this study were spatial ability test and self confidence scale. The data were analyzed with the analysis of variance and Mann-Whitney analysis. In general, The results of the study shows that the improvement of students spatial ability and self confidence who were taught through ILMG higher than ILMWG.Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan peningkatan kemampuan keruangan dan percaya diri siswa yang diajar dengan model pembelajaran inkuiri berbantuan GeoGebra (MPIG) dan model pembelajaran inkuiri tanpa berbantuan GeoGebra (MPITG). Populasi dari penelitian ini adalah siswa-siswi SMA Negeri 19 Medan. Sampelnya adalah siswa kelas X yang dipilih secara acak. Kelas eksperimen 1 diajar dengan menggunakan MPIG dan kelas eksperimen 2 diajar dengan menggunakan MPITG. Instrumen penelitian ini adalah tes kemampuan keruangan dan skala percaya diri. Data dianalisis dengan menggunakan analisis kovarian dan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian secara umum menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan keruangan dan percaya diri siswa yang diajar melalui MPIG lebih tinggi daripada melalui MPITG.
 
This study aims to determine (1) how the learning motivation, self-regulated learning and verbal mathematical communication skills of students; and (2) how are students' learning motivation, self-regulated learning and mathematical communication skills in writing mathematics learning during the covid-19 pandemic. The research used is a mixed method type Sequential Exploratory Design. The population is students of class XI IPA SMA Negeri 1 Pringsewu. Data was collected using questionnaires, observations, documentation and written mathematical communication skills tests. The results of the study show that learning mathematics during the Covid-19 pandemic where learning motivation and self-regulated learning directly affect students' written mathematical communication skills, but verbal mathematical communication skills really need to be considered because they are still in the low category.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) bagaimana kemampuan komunikasi matematis secara lisan peserta didik; dan (2) bagaimana motivasi belajar, kemandirian belajar dan kemampuan komunikasi matematis secara tulis peserta didik dalam pembelajaran matematika pada masa pandemi covid-19. Penelitian yang digunakan adalah mixed methods tipe Sequential Exploratory Design. Populasi dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas XI IPA SMA N 1 Pringsewu. Pengumpulan data menggunakan kuesioner, observasi, dokumentsi dan tes kemampuan komunikasi matematis tulis. Hasil penelitian menunjukkan pembelajaran matematika selama pandemi Covid-19 dimana motivasi belajar dan kemandirian belajar mempengaruhi secara langsung kemampuan komunikasi matematis secara tulisan peserta didik, tetapi kemampuan komunikasi matematis secara lisan sangat perlu di perhatikan karena masig tergolong dalam kategori rendah.
 
Siswa kelas X SMA 1 Kudus dalam pembelajaran matematika mempunyai aktivitas dan hasil belajar yang masih rendah pada materi trigonometri. Rendahnya aktivitas dan nilai tersebut disebabkan materi trigonometri merupakan salah satu materi yang sangat sulit karena sifatnya yang abstrak. Untuk memecahkan masalah tersebut maka melalui peneliti menerapkan model pembelajaran kooperatif tutor sebaya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa materi trigonometri melalui pembelajaran matematika dengan metode Tutor Sebaya pada siswa kelas X IPA 7 SMA 1 Kudus tahun pelajaran 2012/2013. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilakukan dalam 2 siklus yang masing-masing terdiri 4 tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Hasil pengamatan untuk keaktifan siswa ada peningkatan sebesar 15,14 %. Hasil belajar matematika dari kondisi awal ke siklus I meningkat sebesar 14,42%, sedangkan dari siklus I ke siklus II ada peningkatan sebesar 7,69%, sehingga secara keseluruhan dari kondisi awal ke siklus II ada peningkatan sebesar 23,22%. Jadi dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan metode tutor sebaya dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas X IPA 7 SMA 1 Kudus tahun pelajaran 2012/2013 pada materi trigonometri.
 
p align="Justify">Buku teks pelajaran berperan penting dan strategis dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan dasar dan menengah. Buku teks dilengkapi dengan soal-soal latihan yang belum terklasifikasi tingkat kognitifnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kognitif soal uji kompetensi beserta persentase masing-masing tingkat kognitif soal uji kompetensi pada BSE Matematika SMP Kelas VII kurikulum 2013 semester 1 maupun semester 2. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa soal uji kompetensi BSE Matematika semester 1 mencakup 9 variasi soal dari 24 variasi soal menurut tingkat kognitif Revisi Taksonomi Bloom. Dari 166 pertanyaan, terdapat 6.6% tingkat C2-faktual; 17% tingkat C2-konseptual; 22% tingkat C2-prosedural; 3% tingkat C3-faktual; 6.6% tingkat C3-konseptual; 28% tingkat C3-prosedural; 1.8% tingkat C4-konseptual; 14% tingkat C4-prosedural; 0.6% tingkat C6-konseptual; dan 0% pertanyaan tingkat yang lainnya. Sedangkan pada BSE Matematika semester 2 mencakup 11 variasi soal. Dari 170 pertanyaan terdapat 0.6% tingkat C1-faktual; 0.6% tingkat C1-konseptual; 2.9% tingkat C2-faktual; 15% tingkat C2-konseptual; 15% tingkat C2-prosedural; 8.2% tingkat C3-konseptual; 30% tingkat C3-prosedural; 4.7% tingkat C4-konseptual; 5.3% tingkat C4-prosedural; 14% tingkat C5-konseptual; 4.1% tingkat C6 konseptual; dan 0% tingkat yang lain. Textbooks have an important and strategic role in improving the quality of primary and secondary education. Textbook comes with practice questions are not yet classified the cognitive level. The aims of this study are determining the level of cognitive matter competency test along with the percentage of each level of cognitive matter competency test on BSE Class VII SMP Math curriculum 2013 1st half and 2nd semester. Type of research is descriptive research with a qualitative approach. It can be concluded that about half of the competency test BSE Mathematics 1 includes 9 variations of about 24 variations of matter according to the degree of cognitive Revised Bloom's Taxonomy. Of the 166 questions, there is a 6.6% rate of C2-factual; 17% C2-conceptual level; 22% C2-procedural level; 3% level C3-factual; 6.6% C3-conceptual level; 28% level of C3-procedural; 1.8% C4-conceptual level; 14% of C4-procedural level; 0.6% C6-conceptual level; and 0% of the questions that other level. While in the second half of BSE Mathematics includes 11 variations matter. Of the 170 questions contained 0.6% level of C1-factual; 0.6% C1-conceptual level; 2.9% rate of C2-factual; 15% C2-conceptual level; 15% C2-procedural level; 8.2% C3-conceptual level; 30% level of C3-procedural; 4.7% C4-conceptual level; 5.3% rate of C4-procedural; 14% of the C5-conceptual level; 4.1% C6 conceptual level; and the 0% level to another.</p
 
p>Tujuan penelitian ini untuk mengetahui: (1) apakah penggunaan interactive multimedia pada pembelajaran matematika berbasis kurikulum 2013 menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada pembelajaran konvensional? (2) manakah yang memberikan prestasi belajar matematika yang lebih baik, antara siswa-siswa yang mempunyai kecerdasan intrapersonal tinggi, sedang, dan rendah? (3) apakah terdapat interaksi antara pembelajaran matematika dan kecerdasan intrapersonal siswa terhadap prestasi belajar matematika? Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SD Negeri kecamatan Kota Kabupaten Kudus tahun pelajaran 2014/2015. Pemilihan sampel dengan cara cluster random sampling , diperoleh siswa kelas V SD 1 Muhammadiyah sebagai kelas eksperimen dan siswa kelas V SD 1 Gondangmanis sebagai kelas kontrol. Kelas eksperimen diajar menggunakan interactive multimedia berbasis kurikulum 2013, sedangkan kelas kontrol diajar dengan pembelajaran konvensional. Data diperoleh dengan metode angket untuk mengamati kecerdasan intrapersonal siswa dan metode tes untuk menentukan prestasi belajar matematika siswa yang kemudian dianalisis dengan analisis variansi dua jalan 2 x 3. Hasil penelitian adalah (1) Pembelajaran matematika menggunakan interactive multimedia berbasis kurikulum 2013 menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada dengan pembelajaran konvensional, (2) Kecerdasan intrapersonal yang lebih tinggi menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada kecerdasan intrapersonal yang lebih rendah, dan (3) Perbedaan prestasi dari masing-masing pembelajaran matematika konsisten pada masing-masing tingkat kecerdasan intrapersonal dan perbedaan prestasi belajar dari masing-masing tingkat kecerdasan intrapersonal konsisten pada masing-masing pembelajaran matematika. The purpose of this research was to determine: (1) whether the use of interactive multimedia based curriculum in 2013 mathematics learning resulted mathematics achievement in a better than conventional learning? (2) Which gives mathematics learning achievement better, between students who have intrapersonal intelligence high, medium, and low? (3) whether there is an interaction between mathematics and intrapersonal students' mathematics achievement? The population in this research were students of class V Elementary School Kudus City District school year 2014/2015. Selection of sample by random cluster sampling, obtained by fifth grade students of SD 1 Muhammadiyah as an experimental class and fifth grade students of SD 1 Gondangmanis as the control class. Experimental class taught using interactive multimedia-based curriculum in 2013, while the control class was taught by conventional learning. Data obtained by the questionnaire method to observe the students' intrapersonal intelligence and the test method to determine the learning achievement of the students then analyzed with two-way analysis of variance 2 x 3. The results of the study are (1) Learning math using interactive multimedia-based curriculum in 2013 resulted in the achievement of learning mathematics better than with conventional learning, (2) Intelligence intrapersonal higher yield learning achievement better than intrapersonal intelligence are lower, and (3) The difference in the achievement of each learning of mathematics is consistent at each level of intrapersonal intelligence and differences in learning achievement of each level of intrapersonal intelligence consistently on each of the learning of mathematics.</em
 
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui deskripsi kemampuan pemecahan masalah geometri, karakter disiplin, dan karakter toleransi pada siswa SMP kelas 8. Pengambilan sampel dalam peneltian ini menggunakan teknik purposive sampling. Dari hasil kemampuan awal yaitu hasil tes materi lingkaran kemudian diranking dan dibagi atas 3 kelompok kelas yaitu siswa berprestasi tinggi, sedang dan rendah. Seting pembelajaran dalam penelitian ini menggunakan Model 4K. Model 4K adalah model pembelajaran yang bercirikan karakter, kinerja, kreatif, dan konservatif. Hasil penelitian menyebutkan bahwa kemampuan memahami permasalahan subjek penelitian pada pembelajaran Model 4K tinggi. Kemampuan merencanakan penyelesaian dari keenam subjek penelitian memperlihatkan sebuah tingkatan yang menyatakan bahwa siswa yang prestasinya lebih tinggi dalam hal membuat perencanaan lebih baik daripada siswa yang prestasinya lebih rendah. Hasil penelitian pada karakter menyebutkan bahwa strategi pembelajaran keteladanan, habituasi dan penguatan, serta berpikir reflektif dapat memberikan karakter disiplin dan toleransi yang tinggi pada subjek penelitian.The purpose of this study was to determine the description of the geometry problem solving skills, disciplined character, and the character of tolerance in junior high school students’ grade 8. The samples in this research using purposive sampling technique. From the results of the initial capabilities are the result of the test material circle then be ranked and divided into three groups, namely the class of outstanding students of high, medium and low. Setting learning in this study using the model 4K. Model 4K is a learning model that is characterized by character, performance, creative and conservative. The study says that the ability to understand the problems the subject of research on learning Model 4K high. The ability to plan the completion of the six subjects showed a level which states that higher student achievement in terms of making the planning better than lower student achievement. Results of research on the character states that exemplary learning strategies, habituation and reinforcement, as well as reflective thinking can provide character discipline and a high tolerance on the subject of research.
 
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan komunikasi matematis melalui pembelajaran model 4K berdasarkan tipe kepribadian Guardian, Artisan, Rational, dan Idealist. Subjek penelitian dalam penelitian ini terdiri dari 4 peserta didik kelas VII G SMP Negeri 2 Semarang. Teknik pengumpulan data penelitian ini adalah tes komunikasi matematis dan wawancara. Hasil tes dan wawancara dianalisis mengacu pada kriteria kemampuan komunikasi matematis yakni kemampuan: (1) menuliskan apa yang diketahui dan ditanyakan sesuai permasalahan (KKM 1); (2) menuliskan jawaban sesuai dengan maksud soal (KKM 2); (3) menuliskan alasan-alasan dalam menjawab soal (KKM 3); (4) membuat gambar yang relevan dengan soal (KKM 4); (5) menuliskan istilah-istilah dan simbol-simbol matematika (KKM 5); dan (6) membuat simpulan secara tertulis menggunakan bahasa sendiri. (KKM 6) Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Guardian menguasai KKM 1, 2, 3, 4, dan 5, namun kurang menguasai KKM 6; (2) Artisan menguasai KKM 1, 2, 3, dan 4, namun kurang menguasai KKM 5 dan 6; (3) Rational menguasai keenam KKM; (4) Idealist menguasai KKM 1, 2, dan 4, namun kurang menguasai KKM 3, 5, dan 6.The purpose of this research is obtain a description of mathematical communication through 4K learning model based on personality types Guardian, Artisan, Rational, and Idealist. The subjects of this research consist of 4 students 7th grade in state junior high school 2 Semarang. The techniques to collect data of this research are mathematical communication test and interviews. Test result and interviews are analyzed based on the mathematical communication ability criteria, they are the ability of: (1) writing what are known and what are asked (MCA1); (2) writing an answer appropriate with the problem intention (MCA 2); (3) writing the reason in problem solving (MCA 3); (4) making a sketch related to problem (MCA 4); (5) writing the technical terms and mathematics symbols (MCA 5); and (6) writing a conclusion with own words (MCA 6). The result of this research showed that: (1) Guardian is capable to do MCA1, 2, 3, 4, and 5, but not capable to do MCA 6 enough; (2) Artisan is capable to do MCA 1, 2, 3, and 4, but not capable to do MCA 5 and 6 enough; (3) Rational is capable to do all MCA; (4) Idealist is capable to do MCA 1, 2, and 4, but not capable to do MCA 3, 5, and 6.
 
p>membandingkan keefektifan model pembelajaran kooperatif tipe LC-5E ( Learning Cycle 5E ) dan tipe CIRC( Cooperative Integrated Reading and Compos i tion ) terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika peserta didik. Populasi penelitian adalah peserta didik kelas X SMA Negeri 2 Ungaran. Sampel diambil secara cluster random sampling . Data akhir mengenai kemampuan pemecahan masalah diambil menggunakan metode tes . Teknik analisis data menggunakan uji proporsi, uji Anava dan uji lanjut LSD. Hasil penelitian menunjukkan kelas yang dikenai perlakuan pembelajaran LC-5Edan CIRCmencapai ketuntasan belajar. Dari uji Anava diketahui bahwa ada perbedaan rata-rata yang signifikan. Selanjutnya dilakukan uji lanjut LSDmenunjukkan Kelompok Eksperimen 1 paling baik. Simpulan dari penelitian ini adalah model pembelajaran LC-5Elebih efektif dibandingkan tipe CIRC terhadap kemampuan pemecahan masalah peserta didik. Saran yang dapat direkomendasikan adalah pembelajaran LC-5E dapat digunakan sebagai alternatif dalam mengembangkan kemampuan pemecahan masalah peserta didik. The purpose of this research was to comparethe effectiveness of cooperative learning models type LC-5E (Learning Cycle 5E) and type CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition) toward students’ mathematic problem solving ability. The population of this research was students grade X of SMA Negeri 2 Ungaran.The samples were taken by cluster random sampling. The final data about students’ problem solving ability were taken used test method. Data were analysed used propotion test, ANOVA test, and LSD test. The result shown that classes that given LC-5E and CIRC learning models achieved mastery learning. From ANOVA test known that the averages are different significantly.From LSD test is known that the experiment group was the best. The conclusions from this research are LC-5E is more effective than CIRC learning model toward students’ problem solving ability. The suggestion is LC-5E model can be used as an alternative to develope stundents’ problem solving ability. </p
 
Angle is one of the important materials to be studied because it is basic in learning geometry and many applications in life. However, students still have difficulty in learning angles. Therefore, it is necessary to design learning with the right context and approach to overcome the difficulties. This study aims to produce a learning trajectory that will help students for understanding angles. The activities were designed based on IRME with Joglo Traditional house context as the starting point. A design research method is used has three stages: preparing for the experiment, design experiment, and retrospective analysis. This study’s subjects were 6 students from SMP Negeri 1 Juwana with different abilities: high, medium, and low abilities. The result of this study was Learning Trajectory which consists of learning processes in four activities: observing the video of the joglo traditional house for understanding the concept of angles, drawing and measuring the angles; categorizing the angles types; solve contextual problems related to angles. In this study, the design experiment stage was limited to the pilot experiment stage. This study shows that learning design using the context of a traditional house can help students to understand the angle and can be an inspiration to explore local wisdom to introduce mathematics topics.Sudut merupakan salah satu materi yang penting dipelajari karena merupakan dasar dalam pembelajaran geometri dan juga banyak aplikasinya dalam kehidupan. Namun, siswa masih mengalami kesulitan dalam mempelajari sudut. Oleh karena itu, perlu dirancang pembelajaran sudut dengan konteks dan pendekatan yang tepat untuk mengatasi kesulitan tersebut. Penelitian ini bertujuan menghasilkan lintasan belajar yang membantu siswa dalam memahami sudut. Semua kegiatan didesain berbasis PMRI dengan konteks rumah adat joglo sebagai starting point. Metode design research digunakan terdiri dari tiga tahapan yaitu preparing for the experiment, design experiment, dan retrospective analysis. Subjek dari penelitian ini adalah 6 siswa dari SMP Negeri 1 Juwana dengan kemampuan yang berbeda yaitu kemampuan tinggi, sedang, dan rendah. Hasil dari penelitian adalah lintasan belajar yang terdiri dari serangkaian proses pembelajaran dalam empat aktivitas yaitu mengamati video rumah adat joglo untuk memahami konsep sudut, menggambar dan mengukur besar sudut; mengkategorikan jenis-jenis sudut; dan menyelesaikan masalah kontekstual yang berkaitan dengan sudut. Pada penelitian ini, tahapan design experiment hanya terbatas tahap ujicoba pilot. Penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran dengan konteks rumah adat membantu siswa untuk memahami sudut dan dapat menjadi inspirasi untuk menggali kearifan lokal untuk memperkenalkan topik matematika.
 
p>Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah menggunakan strategi abduktif-deduktif. Penelitian yang dilakukan merupakan eksperimental dengan desain pretes-postes dan kelompok kontrol tidak acak pada siswa kelas XI di salah satu SMA di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Analisis data penelitian dilakukan secara kuantitatif-kualitatif berdasarkan kategori kemampuan awal matematis (KAM) maupun keseluruhan. Selain peningkatan kemampuannya, dianalisis pula interaksi antara pembelajaran dan KAM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan strategi abduktif-deduktif lebih baik daripada siswa yang mendapat pembelajaran ekspositori. Secara lebih rinci dari kategori KAM, hanya pada kategori tengah yang menunjukkan peningkatan yang lebih baik. Sedangkan pada kategori KAM atas dan bawah memiliki peningkatan kemampuan pemecahan masalah yang sama. Interaksi antara pembelajaran dan KAM dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Th is research purpose is to improv e the problem solving ability using abductive-deductive strategy. This study is experimental research using a pretest-posttest design with nonrandomized control group in XI class student at one senior high school in Pati, Central Java , Indonesia . Data analysis was performed by quantitative-qualitative analysis based o n categories of early mathematical ability and overall. In addition, it also analyzed the interaction between learning and early mathematical ability. The results showed that the improvement of mathematical problem solving abilities in students with abductive-deductive strategy better than those who received the expository learning. More detail s based on early mathematical ability categories, only the middle category which showed better improvement. While the upper and the under categories ha ve equal improvement. The i nteraction between learning and early mathematical ability showed no significant relationship to improve problem solving ability. </p
 
p dir="ltr">Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana proses pembelajaran matematika pada anak berkebutuhan khusus (ABK) slow learner di kelas inklusif SMP Negeri 7 Salatiga dalam mencapai keberhasilan belajar. Data penelitian ini adalah mengenai proses pembelajaran matemetika pada anak berkebutuhan khusus slow learner di kelas inklusif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Teknik analisis data meliputi pengumpulan data,reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan verifikasi. Berdasarkan hasil analisis diperoleh hasil : (1) Guru mata pelajaran matematika sudah memahami karakterstik siswa slow learner secara umum. Tidak Terdapat perbedaan dalam Rencana Pelaksanan Pembelajaran (RPP) namun perencanaan tetap memperhatikan karakteristik siswa slow learner.(2) Dalam pelaksanaan pembelajaran guru melakukan pengkondisian dengan mempersiapkan siswa secara fisik dan psikis. Penggunaan model, metode, media pembelajaran disamakan antara siswa reguler dan slow learner. Dalam pelaksanaan ada metode yang sudah dapat mengakomodir siswa reguler dan siswa slow learner, namun masih ada metode yang membuat siswa slow learner semakin mengalami kesulitan dalam belajar.(3) Kegiatan evaluasi dilakukan ketika satu materi bahasan selesai dan dilakukan denga tes tertulis maupun tes lisan. Hasil evaluasi digunakan sebagai acuan kegiatan tidak lanjut yang dilaksanakan di bimbingan khusus oleh Guru Pendamping Khusus (GPK). This study intends to unveil how mathematics-learning process in disabilities of slow learners in inclusive class of SMP Negeri 7 Salatiga achieves the learning goals. The data of this study is related to mathematics-learning process in disabilities of slow learners in inclusive class. This study employs qualitative method. The techniques of collecting the data are observation, interview, and documentation. The techniques of analysis vary on collecting the data, reducing the data, presenting the data, drawing conclusions and verification. According to the results of the analysis, it can be concluded that: (1) Mathematics teachers have known about the characteristics of slow-learners in general. There are no differences in the lesson plan (RPP), but the planning still considers the characteristics of slow learners in general. (2) During the learning process, teacher arranges the students by preparing them physically and mentally. The use of model, method, and learning media of regular students is equaled to the slow learners’. In the learning process, there are methods accommodating both regular students and the slow learners. However, there are some methods causing learning problems on slow learners. (3) The evaluation is carried out when a material has already finished, and it is done in written and spoken form. The evaluation results are then used as a reference of follow-up activities conducted with a particular help from guidance-specialized teacher (GPK)</p
 
Gambar 1. Beruang Madu Sumber: http://gembiralokazoo.com/collection/ beruang-madu.html
Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan media pembelajaran Puzzle Angka dan Corong Angka (PANCORAN) yang layak digunakan dalam materi Bilangan untuk siswa kelas 5 Tunagrahita di Sekolah Luar Biasa (SLB) Tunas Bangsa Balikpapan. Penelitian ini merupakan kategori penelitian dan pengembangan (R&D), dengan metode pengembangan model Borg & Gall yang dimodifikasi dengan tahapan yang dilakukan sebagai berikut: (1) penelitian dan pengumpulan informasi awal, (2) perencanaan, (3) pengembangan format produk awal, (4) uji coba awal, (5) revisi produk, (6) uji coba lapangan, (7) revisi produk. Hasil validasi menunjukkan bahwa media pembelajaran Puzzle Angka dan Corong Angka (PANCORAN) yang dikembangkan termasuk kategori Sangat Valid (rata-rata skor 4,75), Sangat Praktis (skor 4,7), dan Efektif (ketuntasan belajar siswa mencapai 80%). This study aims to produce learning media for Number Puzzle and Number Funnel (PANCORAN) that are suitable for use in Numbers material for Grade 5 Tunagrahita students at Tunas Bangsa Special Schools (SLB) Balikpapan. This research is a research and development (R&D) category, with the method of developing the modified Borg & Gall model with the following stages: (1) initial research and preliminary data collection, (2) planning, (3) developing the initial product format, ( 4) initial trials, (5) product revisions, (6) field trials, (7) product revisions. The results of the validation show that the learning media for Number Puzzle and Number Funnel (PANCORAN) developed is in the category of Very Valid (average score 4,75), Very Practical (score 4,7), and Effective (the percentage of completeness of student learning outcomes reaches 80%)
 
Tujuan Penelitian ini adalah mengetahui capaian pemahaman konsep calon guru matematika yang menggunakan pembelajaran Concrete Representational Abstract (CRA). Penelitian ini merupakan studi kuasi-eksperimen dengan desain kelompok kontrol non ekivalen. Sampel penelitian adalah calon guru matematika di Jurusan Pendidikan Matematika, dengan sampel penelitian sebanyak dua kelompok yaitu semester I.B sebagai kelompok eksperimen sebanyak 37 mahasiswa dan semester I.C sebagai kelompok kontrol sebanyak 40 mahasiswa. Instrumen penelitian yang digunakan berupa tes uraian kemampuan pemahaman konsep matematis, dan lembar observasi. Dengan menggunakan uji perbedaan dua rerata diperoleh hasil bahwa pencapaian pemahaman konsep calon guru matematika yang memperoleh pembelajaran Concrete Representation Abstract (CRA) lebih baik daripada calon guru matematika yang memperoleh pembelajaran biasa.The purpose of this study was to determine the achievement of conceptual understanding of prospective mathematics teachers using Concrete Representational Abstract (CRA) learning. This research is a quasi-experimental with a non-equivalent control group design. The subject of the study consists of 77 pre-service teachers in the Department of Mathematics Education. The students were divided into two classrooms, experimental (37) and control (40). The research instrument used in the form of a test description of the ability to understand mathematical concepts, and observation sheets. The results show that the achievement of the conceptual understanding of pre-service mathematics teachers who get Concrete Representation Abstract (CRA) learning model is better than pre-service mathematics teachers who get instruction without CRA model.
 
p>Tujuan penelitian ini untuk mengetahui keefektivan pembelajaran Team Accelerated Instruction terhadap kemampuan pemecahan dan prestasi belajar matematika siswa. Jenis Penelitian ini adalah eksperimen semu. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMP kelas VIII se-kota Jogjakarta dengan ukuran sampel 369 siswa yang diambil dengan menggunakan teknik cluster random sampling . Variabel penelitian adalah kemampuan memecahkan masalah, prestasi belajar matematika dan model pembelajaran. Data diperoleh dengan tes untuk menentukan kemampuan awal siswa, kemampuan memecahkan masalah dan prestasi belajar yang kemudian diuji dengan analisis variansi multivariat (MANOVA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran Team Accelerated Instruction lebih efektif digunakan jika dibandingkan dengan model pembelajaran langsung. The purpose of this research was to determine the effectiveness of teams Accelerated Instruction to the problem solving and mathematics achievement. This research kind was the quasi experiment. The population in this research was all the VIII class student of more than Jogjakarta with the sample totally 369 students was taken with cluster random sampling. Variably the research was the problem solving, mathematics achievement and learning models. Data obtained by test methods for the stage of student, problem solving, and achievement are then analyzed to the multivariate analisis of variance ( MANOVA). The results of this research are team accelerated instruction more effectiveness with direct instruction </p
 
Masalah yang melatarbelakangi penelitian ini adalah masih kurang maksimalnya kemampuan representasi matematis siswa sehingga diperlukan alternatif pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan representasi matematis tersebut, salah satunya adalah menggunakan pembelajaran model eliciting activities (MEA) dengan pendekatan saintifik. Adapun tujuan penelitian ini adalah menelaah pencapaian dan peningkatan kemampuan representasi matematis siswa yang memperoleh pembelajaran MEA dengan pendekatan saintifik lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan saintifik; dan mengkaji perbedaan peningkatan kemampuan representasi matematis siswa yang memperoleh pembelajaran MEA dengan pendekatan saintifik dengan siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan saintifik ditinjau dari kemampuan awal matematis (tinggi, sedang, rendah). Penelitan ini merupakan penelitian eksperimen dengan desain nonequivalent pre-test and post-test control group-design dengan populasi seluruh siswa kelas VII salah satu SMP Negeri di Kabupaten Karawang tahun ajaran 2014/2015. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling, dengan menggambil dua kelas dari populasi. Kelas eksperimen adalah kelas yang memperoleh pembelajaran MEA dengan pendekatan saintifik, dan kelas kontrol adalah kelas yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan saintifik. Untuk menjawab tujuan penelitian ini digunakan data yang diperoleh dengan menggunakan instrument penelitian berupa tes kemampuan representasi. Berdasarkan pengolahan data diperoleh kesimpulan bahwa pencapaian dan peningkatan kemampuan representasi matematis siswa yang memperoleh pembelajaran MEA dengan pendekatan saintifik lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan saintifik; dan terdapat perbedaan peningkatan kemampuan representasi matematis siswa yang memperoleh pembelajaran MEA dengan pendekatan saintifik dengan siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan saintifik ditinjau dari kemampuan awal matematis (tinggi, sedang, rendah).The purposes of this experiment are to beat out (analyze) the student’s achievment and increasen on mathematical representation ability the student who gotten the learning using MEA with saintific approach is better than student who gotten the learning with saintific approach only; and to investigate the student’s differences on mathematical representation ability the student who gotten the learning using MEA with saintific approach is better than student who gotten the learning with saintific approach only based on the innitial mathematical ability (high, medium, and low). Based on the average of post test score of mathematical representation ability on the experimental class was 8,44, while the control class score was 7,24. Then, the average of N-Gain score of mathematical representation ability on the experimental class was 0,66 while the control class score was 0,51. To get the answers of this experiment, the source data is taken out from the research instrument such us representation ability test. Based on the stratified data, there are conlussions the student’s achievment and increasen on mathematical representation ability the student who gotten the learning using MEA with saintific approach is better than student who gotten the learning with saintific approach only; and there is a differencess on mathematical representation ability the student who gotten the learning using MEA with saintific approach is better than student who gotten the learning with saintific approach only based on the initial mathematics capability (high, medium, and low).
 
p align="justify">Penelitian ini dilatar belakangi aktivitas siswa yang rendah dan hasil belajar siswa yang belum mencapai kriteria ketuntasan minimal yang telah ditetapkan. Di samping itu, model pembelajaran yang diterapkan guru monoton. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas dan hasil belajar siswa pada materi turunan fungsi akibat pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran Jigsaw berbantuan Student Activitie’s Hand Out . Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan tiga siklus. Subyek penelitian ini siswa kelas XI IPA-2 SMA Negeri 1 Dempet Demak semester genap tahun pelajaran 2013/2014. Pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi dan angket yang selanjutnya dianalisis sebagai data kualitatif, serta penilaian hasil ulangan blok dianalisis sebagai data kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran Jigsaw berbantuan student Activitie’s Hand Out dapat meningkatkan hasil belajar siswa dengan rata – rata mencapai 7,45 dengan jumlah siswa yang tuntas mencapai 86,67%, meningkatkan aktivitas siswa sebesar 91,67% dengan tingkat kerja sama 3,75 (baik sekali) dan antusiasme 4,00 (baik sekali), dan respon siswa terhadap model pembelajaran yang telah diterapkan adalah sangat positif (79,17%). Oleh karena itu, model pembelajaran Jigsaw berbantuan student Activitie’s Hand Out dapat diterapkan pada pembelajaran matematika, khsususnya turunan fungsi. </p
 
Tujuan penelitian ini yaitu; (1) mendeskripsikan literasi matematis siswa SMP kategori climber dalam menyelesaikan masalah kontekstual, (2) mendeskripsikan literasi matematis siswa SMP kategori camper dalam menyelesaikan masalah kontekstual, dan (3) mendeskripsikan literasi matematis siswa SMP kategori quitter dalam menyelesaikan masalah kontekstual. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif dengan subjek penelitian tiga orang siswa kelas IX SMP GKST Ensa. Penentuan calon subjek dilakukan dengan memperhatikan rata-rata nilai tugas dan nilai ulangan harian dan jenis kelamin. Selanjutnya calon subjek diberi ARP (Adversity Response Profile) untuk menentukan subjek penelitian dengan kategori climber, camper, dan quitter. Penelitian ini menggunakan instrumen Angket ARP dan Tugas Pemecahan Masalah (TPM). Literasi matematis subjek penelitian diidentifikasi dengan indikator pada 3 (tiga) proses matematika yaitu formulate (merumuskan), employ (menerapkan) dan interpret. Data hasil penelitian akan mendeskripsikan 3 subjek, yaitu subjek climber, subjek camber, dan subjek quitter. Ketiga subjek akan dideskripsikan dalam kegiatan merumuskan (to formulate), menerapkan situasi (to employ), dan menafsirkan (to interpret).Purpose of this research; (1) describe the mathematical literacy school students climber category in solving contextual problems, (2) describe the mathematical literacy school students category camper in solving contextual problems, and (3) describe the mathematical literacy school students category quitter in solving contextual problems. This research is descriptive qualitative approach to the subject of research of three students of class IX SMP GKST Ensa. The selection of candidates subject conducted with respect to the average value of daily tasks and test scores and gender. Further prospective subjects were given ARP (Adversity Response Profile) to determine the subject of research by category climber, camper, and a quitter. This study uses ARP Questionnaire instruments and Troubleshooting Tasks (TPM). Mathematical literacy research subjects identified with the indicator at 3 (three) that formulate mathematical process (formulate), employ (applying) and interpret. Research data will describe three subjects, namely the subject climber, camber subject, and the subject quitter. All three subjects will be described in formulating activities (to formulate), impose a state (to employ), and interpret (to interpret).
 
Performa mahasiswa memiliki peran penting dalam menghasilkan lulusan yang berkualitas. Kurang optimalnya performa mahasiswa terlihat dari hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah Persamaan Diferensial rata-rata sekitar 70 dan masih ada yang mendapatkan nilai kurang dari 70 sekitar 38%, serta kurangnya kemandirian belajar mahasiswa. Oleh karenanya optimalisasi performa mahasiswa perlu dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan optimalisasi performa mahasiswa melalui penggunaan bahan ajar komputasi matematika berbantuan software Mathematica. Kemandirian belajar dan hasil belajar mahasiswa dijadikan sebagai sasaran performa mahasiswa yang akan dioptimalkan. Penelitian ini dilaksanakan di Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Muhammadiyah Tangerang yang berjumlah 24 mahasiswa pada mata kuliah Persamaan Diferensial menggunakan bahan ajar Komputasi Matematika Berbantuan Software Mathematica. Penelitian ini merupakan penelitian kuasi eksperimen dengan desain eksperimen yang digunakan adalah one-group pretest-posttest design. Hasil yang didapat dari penelitian ini adalah terdapat perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah penggunaan bahan ajar untuk kemandirian belajar dan hasil belajar mahasiswa melalui uji t. Rata-rata peningkatan persentase kemandirian belajar dan hasil belajar mahasiswa secara berturut-turut sebesar 7% dan 24%. Students’ performance has an important role in producing quality graduates. Less optimal students’ performance can be seen from student learning outcomes in Differential Equation courses an average of around 70 and there are still those who score less than 70 about 38%, and lack of students’ self regulated learning. Therefore, optimizing students’ performance needs to be done. The purpose of this study is to obtain the optimization of students’ performance using computational mathematics teaching materials assisted by Mathematica software. Self regulated learning and student learning outcomes are targeted as students’ performance to be optimized. This research was conducted in the Mathematics Education Study Program FKIP Muhammadiyah University of Tangerang, totaling 24 students in the Differential Equation course using Mathematica Software Computational Mathematics teaching material. This research is a quasi-experimental research with the experimental design used is a one-group pretest-posttest design. The results obtained from this study are that there are significant differences between before and after the use of teaching materials for self-regulated learning and student learning outcomes through t-test. The average increase in the percentage of self-regulated learning and student learning outcomes are 7% and 24%, respectively.
 
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pengembangan media dan bahan ajar interaktif “Scan It” berbasis Geogebra. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan. Model pengembangan yang digunakan adalah model pengembangan ADDIE. Subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas XI SMK. Penelitian ini menggunakan tiga kelas  yaitu untuk uji coba, eksperimen, dan kontrol. Desain penelitian ini adalah Desain penelitian Nonrandomized Control Group, Pretest-Postest Desain. Hasil dari penelitian ini adalah media dan bahan ajar interaktif “Scan It” berbasis geogebra valid, praktis, dan efektif. Peserta didik yang menunjukkan respon positif adalah sebanyak 96%. Sebanyak 58,3% peserta didik mengalami peningkatan kemampuan keruangan sedang dan 33,3% peserta didik mengalami peningkatan kemampuan keruangan tinggi.The research aims was to describe the process of developing media and interactive teaching materials "Scan It" based on Geogebra. This research was a development research. The development model used is the ADDIE development model. The subjects of this study were students of class XI SMK. This study used three classes, namely for trials, experiments, and controls. The research design was a nonrandomized control group research design, pretest-posttest design. The results of this research were media and interactive teaching materials "Scan It" based on geogebra, which were valid, practical, and effective. Students who showed a positive response were 96%. As many as 58.3% of students experienced an increase in moderate spatial abilities and 33.3% of students experienced an increase in high spatial abilities.
 
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan hubungan antara konsep diri dengan prestasi akademik mahasiswa pada mata kuliah teori grup. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode deskriptif. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa semester IV kelas E Program Studi pendidikan Matematika FKIP UNSIKA. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa angket konsep diri dan hasil akademik mahasiswa. Dari hasil analisis korelasi sederhana, diperoleh nilai koefisien korelasi antara konsep diri dengan prestasi akademik mahasiswa sebesar 0,41. Berdasarkan perolahan data diperoleh kesimpulan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara konsep diri dengan prestasi akademik mahasiswa pada mata kuliah teori grup. The purpose of this research is to describe the corelation betwen self-concept with academic achievement college student in teori grup courses.This research is quantitative experiment with descriptive methode. The subject of this research is college student of Fourth Semester on E Class in Educational Faculty of Singaperbangsa University. The instrument of research is some self-concept questionnaire and academic achievement college student score. The result of simple corelation analysis is 0,41. Based on the data, it concluses that there is positive and significant corelation between self-concept and academic achievement college student in teori grup courses.
 
Motivasi merupakan aspek kunci pada pencapaian prestasi, belajar akan lebih ulet, mempelajari dan menguasai materi demi tujuan yang ingin dicapai. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan Board Game Zathura Mathematics pada materi berpangkan dan bentuk akar. Penelitian ini termasuk dalam pengembangan atau Research and Development (R&D) melalui 5 tahapan : Analysis (menganalisis), Design (mendesain), Development (mengembangkan), Implementation (melaksanakan), dan Evaluation (mengevaluasi). Media valid dari segi materi dan media pembelajaran dengan persentase 88% dan 87% dari kedua kategori tersebut masuk dalam kategori sangat baik untuk materi maupun media pembelajaran. Nilai praktis pada media ini sebesar 100% termasuk dalam kategori sangat baik. Board Game Zathura Mathematics valid dan praktis sebagai media pembelajaran materi Bilangan Berpangkat dan Bentuk Akar pada peserta didik kelas IX. Motivation is a key aspect of achievement, learning will be more tenacious, learn and master the material for the objectives to be achieved. This study aims to develop the Zathura Mathematics Board Game on trunk material and root shapes. This research is included in the development or Research and Development (R&D) through 5 stages: Analysis (analyzing), Design (designing), Development (developing), Implementation (implementing), and Evaluation (evaluating). Media is valid in terms of material and learning media with a percentage of 88% and 87% of the two categories included in the excellent category for the material and learning media. The practical value of this media is 100% included in the excellent category. Zathura Mathematics Board Game is valid and practical as learning media for Rank Numbers and Root Shapes in grade IX students.
 
Aktivitas metakognitif adalah berkaitan dengan kesadaran dan pengaturan terhadap pengetahuan tentang proses dan hasil pikir dalam kegiatan merencanakan (planning) proses berpikir, memantau (monitoring) proses berpikir, dan mengevaluasi (evaluation) proses dan hasil berpikir. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan aktivitas metakognitif siswa SMP berdasarkan kemampuan matematika tinggi, sedang, dan rendah. Analisis data dilakukan dalam penelitian ini meliputi; reduksi, pemaparan, dan menarik kesimpulan aktivitas metakognitif subjek dalam pemecahan masalah matematika. Berdasarkan analisis data, subjek berkemampuan matematika tinggi dan sedang dalam pemecahan masalah, melakukan kegiatan perencanaan proses berpikirnya, memantau proses berpikirnya, dan mengevaluasi proses dan hasil berpikirnya dalam setiap tahap pemecahan masalah (memahami masalah, menyusun rencana penyelesaian, melaksanakan rencana penyelesaian, dan memeriksa kembali). Sedangkan subjek berkemampuan matematika rendah dalam pemecahan masalah, melakukan kegiatan perencanaan proses berpikirnya, memantau proses berpikirnya, dan mengevaluasi proses dan hasil berpikirnya dalam tahap memahami masalah, dan tahap melaksanakan rencana penyelesaian. Sedangkan pada tahap menyusun rencana penyelesaian subjek berkemampuan matematika rendah melakukan kegiatan perencanaan proses berpikirnya, dan memantau proses berpikirnya. Dan dalam tahap memeriksa kembali subjek berkemampuan matematika rendah hanya melakukan kegiatan mengevaluasi.Activity of metacognitive has relation with awareness and control on knowledge about process and result of thinking in activity of planning thinking process, monitoring process of thinking, and evaluating process and result of thinking. This research aims to describe metacognitive activity of the junior high school students based on high, medium, and low mathematics skills. Data analysis used in this research consists of reduction, discussion, and conclusion in term of metacognitive activities of the subject in mathematics problem solving. Based on data analysis, subject with high and medium mathematics skills in problem solving, conduct activity of thinking process planning, monitoring thinking process, and evaluating process and result of thinking in each problem solving stages (comprehending the problem, structuring problem solving plan, conducting problem solving plan, and rechecking). Subject with low mathematics skills in problem solving, conducting activity of thinking process plan, monitoring thinking process, and evaluating process and result of thinking in each problem solving stages, and stage of conducting problem solving plan. On stage of structuring problem solving plan subject with low mathematics skills conducts activity of thinking process plan, and monitors thinking process. On stage of rechecking subject with low mathematics skills only conducts activity of evaluation.
 
Berpikir kreatif merupakan salah satu aspek penting dalam matematika. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tahapan proses berpikir kreatif siswa SMP dalam aktivitas pengajuan masalah matematika. Tahapan tersebut didasarkan pada hasil Tugas Pengajuan Masalah Matematika (TPMM) dan wawancara. Penelitian ini dilakukan di salah satu SMP Negeri di Kota Jambi. Subjek penelitian ini adalah 2 siswa SMP Kelas IX dengan kriteria kreatif, dengan alat pengumpul data berupa TPMM dan pedoman wawancara. Analisis data TPMM dilakukan dengan menganalisis soal yang dapat diselesaikan, kemudian dilihat berdasarkan indikator berpikir kreatif yaitu kelancaran (fluency), keluwesan (flexibility) dan kebaruan (novelty). Wawancara dilakukan berdasarkan 4 tahap proses berpikir kreatif yaitu persiapan, inkubasi, iluminasi, dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa kreatif melewati empat tahap proses berpikir kreatif, yaitu persiapan, inkubasi, iluminasi, dan verifikasi. Pada tahap persiapan siswa berusaha mendapatkan wawasan dalam menghadapi masalah yang diberikan; tahap inkubasi siswa mencari ide; tahap iluminasi siswa memunculkan ide; dan tahap verifikasi siswa menguji ide yang dihasilkan. Creative thinking is one of the important aspects in mathematics. This study aims to identify the stages of the creative thinking process of junior high school students in the activity of submitting mathematical problems. These stages are based on the results of the Task for Submission of Mathematical Problems (TPMM) and interviews. This research was conducted at one of the Public Middle Schools in Jambi City. The subject of this study were 2 junior high school students of Class IX with creative criteria, with data collection tools in the form of TPMM and interview guidelines. TPMM data analysis is done by analyzing the questions that can be solved, then seen based on creative thinking indicators, namely fluency, flexibility and novelty. Interviews were conducted based on 4 stages of the creative thinking process, namely preparation, incubation, illumination, and verification. The results showed that creative students passed the four stages of the creative thinking process, namely preparation, incubation, illumination, and verification. In the preparation stage students try to gain insight in dealing with problems given; incubation stage students look for ideas; the student's illumination stage raises ideas; and the verification stage students test the idea produced.
 
Penelitian ini dilatar belakangi hasil belajar siswa yang belum mencapai kriteria ketuntasan minimal yang telah ditetapkan. Di samping itu, model pembelajaran yang diterapkan monoton, sehingga aktivitas siswa rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas dan hasil belajar siswa pada materi dimensi tiga akibat pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran PBL berbantuan alat peraga sederhana berbahan limbah sedotan. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan tiga siklus. Subyek penelitian ini siswa kelas XII IPA-1 SMA Negeri 1 Dempet Demak semester gasal tahun pelajaran 2017/2018. Pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi dan angket yang selanjutnya dianalisis sebagai data kualitatif, serta penilaian hasil ulangan blok dianalisis sebagai data kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran PBL berbantuan alat peraga sederhana berbahan limbah sedotan dapat meningkatkan hasil belajar siswa dengan rata – rata mencapai 75,44 dengan jumlah siswa yang tuntas mencapai 86,84%, dapat meningkatkan aktivitas siswa menjadi 3,68 (sangat aktif). Respon siswa terhadap model pembelajaran yang telah diterapkan adalah sangat positif (80,99%). Oleh karena itu, model pembelajaran PBL berbantuan alat peraga sederhana berbahan limbah sedotan dapat diterapkan pada pembelajaran matematika, khususnya dimensi tiga . This research is based on the learning result of students who have not met the minimum completeness criteria that have been determined, besides that, learning model that is applied monotonically so that student activity is low. This study aims to determine the activity of student learning result in the three dimensional material due to PBL learning models assisted with simple teaching aids made from straws. This research is a classroom action research with three cycles. The subject of this research is XII IPA-1 of SMAN 1 Dempet of the odd semester in 2017/2018. Taking data in this research used observation and questionnare techniques which are then analyzed as qualitative data and the result of block test are analyzed as quantitative data the result of the study showed that the PBL learning models assisted with sample teaching aids made from straws can improve student learning results by an average of 75,44 with the number of students who completed 86,84% can improve student activity to 3,68 (very active). Student response to the learning model that has been applied is very positive (80,99%). Therefore, PBL learning models assisted with simple teaching aids made from straws can be applied to mathematic learning, especially the three dimensions.
 
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah penggunaan alat peraga dapat meningkatkan hasil belajar dan keaktifan siswa mata diklat matematika kompetensi menerapkan konsep teori peluang di kelas X AP B Semester 2 SMK Negeri 1 Bawen. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas. Subjek penelitian adalah siswa kelas X AP B SMK Negeri 1 Bawen sebanyak 35 siswa. Prosedur penelitian dimulai dengan penetapan fokus masalah, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan dan pengamatan, serta analisis dan refleksi. Teknik pngambilan data melalui teknik tes, observasi dan angket. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu penggunaan alat peraga dapat meningkatkan hasil belajar matematika dan keaktifan siswa dalam menerapkan konsep teori peluang siswa kelas X AP B SMK N 1 Bawen semester 2 tahun pelajaran 2014/2015. Keadaan tersebut dibuktikan oleh hasil analisis data bahwa terjadi peningkatan nilai rata-rata dari 60,6 menjadi 85,4 dan peningkatan prosentase siswa yang tunta belajar, yaitu dari 57,15% menjadi 94,29%. Dari hasil tersebut disarankan sebaiknya guru mengembangkan pembelajaran dengan menggunakan alat peraga pada materi pelajaran yang lain dan guru cepat menganalisis setiap permasalahan yang ada dalam pembelajaran
 
The development of online learning is increasingly rapid, especially during the Covid-19 pandemic which demands an innovation in the education system. However, this development is not accompanied by the availability of innovative learning media. Therefore, this study aims to develop an elementary linear algebra learning video media in Islamic context. This research type is research and development using a 4D development model consisting of 4 stages, namely define, design, develop, and disseminate. The subjects of this research trial were students of the Department of Mathematics Education, class of 2020 B, Faculty of Tarbiyah and Teacher Training at UIN Alauddin Makassar. The research data were obtained using questionnaires, observations, and learning outcomes tests. The data is processed through the analysis of validity, practicality, and effectiveness. The results showed that the video media that had been developed had met the criteria of being valid, practical, and effective. Thus, this learning video media can be a solution to better support the implementation of online learning.Perkembangan pembelajaran daring semakin pesat khususnya di masa Pandemi Covid-19 yang menuntut adanya inovasi sistem pendidikan. Namun, perkembangan ini tidak diiringi dengan ketersediaan media pembelajaran yang inovatif. Karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media video pembelajaran aljabar linear elementer dalam konteks Islam. Jenis penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan (research and development) dengan menggunakan model pengembangan 4D yang terdiri dari 4 tahapan yaitu define, design, develop, dan disseminate. Subjek uji coba penelitian ini adalah mahasiswa Jurusan Pendidikan Matematika, angkatan 2020 kelas B, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar. Data penelitian diperoleh dengan menggunakan angket, observasi, dan tes hasil belajar. Data diolah melalui analisis kevalidan, kepraktsian, dan keefektifan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media video pembelajaran aljabar linear elementer dalam konteks Islam yang dikembangkan telah memenuhi kriteria valid, praktis, dan efektif. Dengan demikian, media video pembelajaran ini dapat menjadi solusi untuk mendukung terlaksananya pembelajaran daring dengan lebih baik.
 
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran berbasis lesson study dengan menggunakan model kooperatif Tipe Think Pair Share(TPS) pada matakuliah pengantar aljabar. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa Pendidikan Matematika kelas C-2019 Universitas Negeri Malang yang berjumlah 34 mahasiswa. Analisis penelitian difokuskan pada kegiatan perencanaan (plan), pelaksanaan (do), dan refleksi (see). Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan proses pembelajaran matematika berbasis lesson study dengan model kooperatif tipe TPS dapat diikuti oleh mahasiswa secara efektif. Sebagian besar mahasiswa berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Hasil tes individu sebagai uji pemahaman konsep aljabar mengalami peningkatan dengan perolehan nilai rata-rata kelas sebesar 80,00 pada periode I dan perolehan nilai rata-rata kelas sebesar 88,50 pada periode II. Sementara, hasil respon mahasiswa terhadap proses pembelajaran diperoleh skor rata-rata sebesar 3,26 yang berarti respon mahasiswa sangat positif. This study aims to describe the implementation of lesson study-based learning, using cooperative learning models Think Pair Share (TPS) type to improve understanding of algebraic concepts. This type of research is qualitative research. The subjects in this study were students of Mathematics Education class C-2019 State University of Malang, amounting to 34 students. Research analysis focused on planning (plan), implementation (do), and reflection (see) activities. The results showed that the whole process of learning mathematics based on lesson study with a cooperative model of Think Pair Share (TPS) type could be effectively followed by students. Most students actively participate in the learning process. Individual test results as a test of understanding the concept of algebra have increased with the acquisition of an average grade of 80.00 in period I and the average grade of 88.50 in period II. Meanwhile, the results of student responses to the learning process obtained an average score of 3.26, which means that the response of students was very positive.
 
This study aims to develop a learning media product that contains the local wisdom of the Baduy tribe. The method used in this research is an ethnographic study to collect data about the Baduy tribe buildings that contain geometric elements. After the data was collected, the researcher used the instructional design research method in the form of the ADDIE model with the aim of making learning media by integrating the local wisdom of the Baduy Tribe in learning geometry based on previous ethnographic studies. The subjects in this study were the Baduy people, teachers, and grade 4 students of one of the elementary schools in Serang City. The results of this study indicate that learning geometry by integrating the local wisdom of the Baduy tribe is very effective in the learning process, so that the learning media product in the form of geomatics cards that are made is ready to be used and implemented in the concept of the plane figure in elementary schools. This research is expected to contribute to education, especially in creating effective learning by integrating culture in mathematics learning in elementary schools.Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sebuah produk media pembelajaran yang memuat kearifan lokal suku Baduy. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi etnografi untuk mengumpulkan data-data tentang bangunan suku Baduy yang memuat unsur geometri. Setelah data terkumpul, peneliti menggunakan metode instructional design research berupa model ADDIE dengan tujuan untuk membuat media pembelajaran dengan mengintegrasikan kearifan local Suku Baduy pada pembelajaran geometri berdasarkan kajian etnografi sebelumnya. Subjek dalam penelitian ini adalah masyarakat Suku Baduy, guru dan siswa kelas 4 salah satu sekolah dasar di Kota Serang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran geometri dengan mengintegrasikan kearifan local Suku Baduy sangat efektif diterapkan dalam proses pembelajaran, sehingga produk media pembelajaran berupa kartu geomatika yang dibuat telah siap digunakan dan diimplementasikan pada konsep bangun datar di sekolah dasar. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam dunia pendidikan khususnya dalam menciptakan pembelajaran yang efektif dengan mengintegrasikan budaya pada pembelajaran matematika di sekolah dasar.
 
Estimasi Matematika merupakan salah satu kompetensi dalam matematika yang berkaitan dengan kemampuan menaksir. Salah satu cara untuk melatih kemampuan estimasi dapat melalui strategi permainan tradisional Mpa’a Amba. Namun sebelum itu, dilakukan uji validitas dan reabel oleh dua ahli terhadap perangkat pembelajaran yang dikembangkan yaitu RPP, LKS, BAS, dan Instrument kemampuan estimasi matematika. Setelah dilakukan penilaian, diperoleh bahwa perangkat pembelajaran yang dikembangkan sangat valid dan sangat reabel. Menggunakan Instrument tersebut, maka diperoleh pengajaran menggunakan strategi Mpa’a Amba khusus materi Aritmetika Sosial untuk meningkatkan kemampuan estimasi matematika pada siswa kelas VII sangat efektif karena diperoleh nilai ketika di ukur menggunakan rumus N-Gain termasuk kategori tinggi. Hal itu dilihat dari perbandingan nilai pre test dan post test. Bahwa peningkatan nilai pre test ke post test antara 66,67 hingga 233,33%. Mathematical Estimation is one of the competencies in mathematics related to the ability to estimate. One way to practice estimation skills can be through the traditional Mpa’a Amba game strategy. But before that, validity and reliability tests were carried out by two experts on the learning tools developed, namely RPP, LKS, BAS, and Instrument of mathematical estimation ability. After the assessment, it was found that the learning tools developed were very valid and very reliable. Using these instruments, the teaching obtained using Mpa'a Amba's strategy specifically Social Arithmetic material to improve the ability of estimation in student’s the VII class is very effective because the value obtained when measured using the N-Gain formula is high. It was seen from the comparison of the pre-test and post-test scores. That the increase in the value of pre-test to post-test between 66.67 to 233.33%.
 
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kemampuan memecahkan masalah siswa dalam mengerjakan soal tipe Higher Order Thinkimg Skills (HOTS). Kemampuan memecahkan masalah merupakan salah satu kemampuan yang penting untuk dikembangkan dan harus dimiliki oleh siswa. Dengan mengerjakan soal-soal Higher Order Thinking Skills, maka siswa akan mencapai level-level pada kemampuan matematika dari level yang terendah sampai level tertinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan pemecahan masalah siswa kelas XII IPA dalam menyelesaikan soal tipe Higher Order Thinking Skills berdasarkan langkah-langkah Polya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Pada penelitian ini peneliti juga menggunakan beberapa metode untuk mengumpulkan data antara lain: tes, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini diperoleh kesimpulan bahwa siswa dalam memecahkan masalah menggunakan langkah Polya, dapat menuhi indikator menganalisis, menciptakan, dan mengevaluasi. The purpose of this study to determine the ability to solve student problems in working on the problem type Higher Order Thinkimg Skills (HOTS). Ability to solve problems is one of the important skills to be developed and must be owned by students. By working on the Higher Order Thinking Skills questions, students will reach the levels of mathematical ability from the lowest level to the highest level. The purpose of this research is to describe the problem solving of students of class XII IPA in solving the problem of Higher Order Thinking Skills type based on Polya steps. This research uses qualitative approach with descriptive research type. In this study the researchers also used several methods to collect data, among others: tests, interviews and documentation. The results of this study obtained the conclusion that students in solving problems using Polya step, can meet the indicators analyze, create, and evaluate.
 
p>Salah satu indikator keberhasilan Sekolah Matematika belajar adalah realisasi maksimal matematika kompetensi melakukan melibatkan pemecahan masalah, penalaran, komunikasi, koneksi, representasi, dan pemahaman konseptual, diwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan melakukan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan survei dimaksudkan untuk mengetahui pengaruh Sekolah Matematika digest belajar untuk melakukan matematika kompetensi siswa, dan perbaikannya. Para siswa yang dipilih sebagai subjek penelitian adalah mereka yang mengambil Sekolah Matematika Digest 1 saja, di semester genap dari 2013-2014. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sekolah Matematika Digest 1 tentu saja memiliki pengaruh yang kuat pada peningkatan kompetensi melakukan matematika siswa, baik komponen dengan komponen dan sepenuhnya, yaitu, kompetensi penalaran, komunikasi, koneksi, representasi, pemahaman konseptual, dan membuktikan. Selain itu, ditemukan bahwa 86% siswa dari matematika pemecahan masalah kompetensi yang sangat baik, sisanya 14% berada pada tingkat cukup. Sementara itu, kualitas peningkatan kompetensi melakukan matematika siswa, baik komponen dengan komponen dan sepenuhnya, jatuh ke dalam kategori yang adil. One of the indicators of the success of School Mathematics learning is the maximal realization of the doing mathematics competences involving problem solving, reasoning, communication, connection, representation, and conceptual comprehension, realized in the habits of thinking and doing. The research was a descriptive research by a survey approach intended to determine the influence of School Mathematics digest learning on students’ doing mathematics competence, and its improvement. The students selected as the subjects of research were those who took School Mathematics Digest 1 course, in the even semester of 2013-2014. The research findings showed that School Mathematics Digest 1 course has a strong influence on the improvement of the students’ doing mathematics competence, both component by component and wholly, i.e., reasoning competence, communication, connection, representation, conceptual comprehension, and proving. In addition, it was found that 86% students were of very good mathematic problem solving competence, the remaining 14% being at an insufficient level. Meanwhile, the quality of the improvement of students’ doing mathematics competence, both component by component and wholly, fell into a category of fair.</p
 
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan penalaran matematika siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) dalam matematika. Siswa mengalami kesulitan dalam pembelajaran materi geometri ruang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kemampuan penalaran matematika siswa SMA pada materi geometri ruang. Metode penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan menganalisis kemampuan penalaran siswa dari instrumen yang diberikan. Instrumen dalam penelitian ini berbentuk tes tertulis yang berjumlah 5 soal. Berdasarkan hasil penelitian penelitian di SMA YPI Tunas Bangsa Palembang diperoleh nilai rata-rata kemampuan penalaran matematika siswa sebesar 66,11 yang tergolong cukup. Secara keseluruhan, indikator kemampuan penalaran matematika yang banyak dikuasai siswa adalah menyajikan pernyataan matematika dengan gambar dan tulisan, sedangkan indikator kemampuan penalaran matematika yang kurang dikuasai siswa adalah menarik kesimpulan dari suatu pernyataan. This research is motivated by the low mathematical reasoning abilities of high school students in mathematics. Students experience difficulties in learning space geometry material. This study aims to describe the mathematical reasoning abilities of high school students in space geometry. The method of this research is descriptive qualitative by analyzing the students' reasoning abilities of the given instrument. The instruments in this study were in the form of written tests totaling 5 questions. Based on the results of research at Tunas Bangsa Palembang YPI High School, the average mathematical reasoning ability of students of 66.11 was obtained as an average. Overall, the indicator of mathematical reasoning abilities that are controlled by many students is presenting mathematical statements with images and writing, while indicators of mathematical reasoning abilities that are less mastered by students are drawing conclusions from a statement.
 
Geometri adalah cabang matematika yang diajarkan dengan tujuan agar siswa dapat memahami sifat-sifat dan hubungan antar unsur geometri serta dapat mendorong siswa untuk dapat berpikir secara kritis dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesulitan siswa kelas 4 SD Negeri Asmi 033 Kota Bandung dalam menjawab soal geometri. Penelitian ini menggunakan studi eksploratif dalam bentuk tes uraian tertulis pada materi geometri yang diberikan kepada 26 siswa SD Negeri Asmi 033 Kota Bandung. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat kesulitan yang dihadapi siswa dalam menjawab soal geometri, kesulitan tersebut diantaranya adalah (1) siswa kesulitan dalam penggunaan konsep, (2) siswa kesulitan dalam penggunaan prinsip, dan (3) siswa kesulitan dalam menyelesaikan masalah-masalah verbal. Hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan pengembangan permasalahan geometri, khususnya pada materi keliling dan luas bangun datar di masa yang akan datang. Geometry is a branch of mathematics taught with the aim that students can understand the properties and relationships between elements of geometry and can encourage students to be able to think critically and solve problems in everyday life. This study aims to analyze the difficulties of fourth grade students of SD Negeri Asmi 033 Bandung City in answering geometry question. This study used an exploratory study in the form of a written description test on the geometry material given to 26 students of SD Negeri Asmi 033 Bandung City. The results of the analysis show that there were difficulties faced by students in answering geometry questions, such difficulties were (1) students difficulty in using concepts, (2) students difficulty in using principles, and (3) students difficuly in solving verbal problems. The result of this study can be used as material for the development of geometry problems, especially in the material of circumference and area of plane (geometry) in the future.
 
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kendala penerapan pendekatan saintifik dalam pembelajaran barisan dan deret geometri. Sumber data terdiri dari data primer yaitu siswa yang diambil dengan teknik snowball dan data sekunder yaitu guru. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Teknik pemeriksaan keabsahan data menggunakan triangulasi teknik. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa kendala penerapan pendekatan saintifik dalam pembelajaran barisan dan deret geometri berupa: (1) kendala dalam menanya yaitu merumuskan pertanyaan terkait banyaknya suku, jumlah suku pertama, serta rasio; (2) kendala dalam mengumpulkan informasi yaitu kurang optimalnya penggunaan buku teks dan internet; (3) kendala dalam mengasosiasi yaitu menentukan banyaknya suku dan menentukan rumus barisan dan deret; (4) kendala dalam mengkomunikasikan yaitu membaca kalimat matematika perkalian dan akar. This study aims to analyze the constraints of implementation scientific approach in the learning of geometric sequences and series. Data sources consist of primary data is students uses snowball techniques and secondary data is teachers. Data collection techniques using observation, interview, and documentation. Data analysis techniques used data reduction, data display, and conclusion drawing. The data validity inspection technique used triangulate technique. Based on the results of the study concluded that constraints of implementation scientific approach in the learning of geometric sequences and series is: (1) constraints in questioning is to formulate questions related to the number of tribes, the number of first tribes, and ratio; (2) constraints in collecting information is less optimal use of textbook and internet; (3) constraints in associating is determining the number of tribes and determining the sequences and series formula; (4) constraints in communicating is read math sentences of multiplication and root.
 
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan literasi matematika yang ditinjau dari gaya kognitif siswa. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subyek penelitian ini terdiri dari 4 siswa kelas X IPA 4 MAN 2 Kota Serang semester genap tahun ajaran 2019/2020. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah tes kemampuan literasi matematika, tes Group Embedded Figure Test (GEFT) untuk mengetahui jenis gaya kognituif siswa, dan pedoman wawancara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Siswa dengan gaya kognitif field independent dan field dependent secara bersamaan mampu menjawab dengan tepat dan memenuhi pencapaian indikator soal dengan baik pada level 1, 2, dan 5. Siswa field independent yang telah mampu menggunakan aspek penalaran spasial dan menggunakan representasinya dengan baik. Siswa field dependent belum mampu menggunakan aspek penalaran spasial dan belum dapat menggunakan representasinya dengan baik. Siswa field independent dan siswa field dependent belum mampu menggunakan konsep generalisasi.This study aims to describe the ability of mathematical literacy in terms of students' cognitive styles. This research is a type of descriptive research with a qualitative approach. The subjects of this study consisted of 4 students of Class X IPA 4 MAN 2 Serang City in the even semester of the 2019/2020 school year. The instrument used in this study was a test of mathematical literacy ability, a Group Embedded Figure Test (GEFT) test to find out the types of students' cognitive style, and interview guidelines. The results of this study indicate that students with field independent and field dependent cognitive styles simultaneously are able to answer appropriately and meet the achievement of problem indicators well at levels 1, 2, and 5. Field independent students who have been able to use aspects of spatial reasoning and use their representations with well. Field dependent students have not been able to use aspects of spatial reasoning and have not been able to use their representations properly. Field independent students and field dependent students have not been able to use the concept of generalization.Â
 
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui grafik time-line dalam diskusi untuk pemecahan masalah opened-ended dalam pembelajaran kooperatif resiprokal, mendeskripsikan langkah-langkah kegiatan pemecahan masalah open-ended dalam diskusi kelompok pada pembelajaran kooperatif resiprokal, dan mendeskripsikan karakteristik berpikir kritis siswa dalam menyelesaikan masalah open-ended. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Kegiatan pada penelitian ini adalah pembelajaran resiprokal 2 kali untuk mendapatkan data time-line tahap berpikir kritis dan time-line aktivitas pemecahan masalah matematika, tes berpikir kritis 2 kali, analisis karakteristik berpikir kritis berdasarkan tes 1 dan 2. Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII di SMP Negeri 1 Ngadirejo Temanggung. Hasil penelitian ini adalah 4 kelompok diskusi melakukan tahap strategi pada berpikir kritis lebih lama dibandingkan tahap berpikir kritis lainnya (klarifikasi, simpulan, dan strategi. Untuk memecahkan masalah matematika, pada langkah pertama yaitu memahami masalah. Pada langkah ini siswa dominan melakukan aktivitas bertanya dan memprediksi. Pada langkah kedua yaitu merencanakan penyelesaian, siswa dominan melakukan kegiatan bertanya dan menjelaskan. Pada langkah ketiga yaitu melaksanakan penyelesaian, siswa dominan melakukan kegiatan menjelaskan dan bertanya. Sedangkan pada langkah keempat yaitu mengecek kembali, siswa dominan melakukan kegiatan menjelaskan.The purpose of this research is to know the time-line graph in the discussion for the solving of opened-ended problem in cooperative reciprocal learning, to describe the steps of open-ended problem solving activity in group discussion on reciprocal cooperative learning, and to describe the critical thinking characteristics of students in solving the open problem -ended. This research is a qualitative research. Activity in this research is reciprocal learning 2 times to get time-line data of critical thinking stage and time-line activity of problem solving of mathematics, critical thinking test 2 times, analysis of critical thinking characteristic based on test 1 and 2. Source of data in this research is student Class VIII in SMP Negeri 1 Ngadirejo Temanggung. The result of this research is 4 group discussion to do strategy phase on critical thinking longer than other critical thinking stage (clarification, conclusion, and strategy To solve mathematical problem, in step one that is understanding problem In this step student dominant doing activity of ask and predict In the second step is to plan the settlement, the dominant students do the activities of asking and explaining.In the third step is to carry out the settlement, the dominant students do activities explain and ask.While in the fourth step is to check again, the dominant students do explaining activities.
 
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan komunikasi matematis siswa ditinjau dari self-concept. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Subjek pada penelitian ini berjumlah 9 peserta didik kelas VIII MTs Al Ulya Al Mubarok. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes kemampuan komunikasi matemtis dan angket self-concept serta wawancara. Hasill penelitian diperoleh siswa yang memimiliki self-concept tinggi mendapatkan hasil tes kemampuan komunikasi matematisnya kategori baik dengan persentase nilai 75% sebanyak 3 orang. Siswa yang memiliki self-concept sedang yaitu mendapatkan hasil tes kemampuan komunikasi matematis yang cukup yaitu dengan rentang persentase nilai 41%-60% sebanyak 4 orang, dan siswa yang memimiliki self-concept rendah hasil tes kemampuan komunikasi matematisnya kurang yaitu persentase nilainya 40% sebanyak 2 orang. Kemampuan komunikasi matematis siswa sejalan dengan self-concept nya. Semakin tinggi self-concept siswa semakin baik pula kemampuan komunikasi matematisnya. This study was designed to describe students' mathematical communication skills in terms of self-concept. This research is a type of descriptive quantitative research. The subjects in this study tested 9 students of class VIII MTs Al Ulya Al Mubarok. The instruments used in this study were tests of mathematical communication skills and self-concept questionnaires and interviews. The results of the study obtained that students who have high self-concept get mathematical communication skills test results in both categories with a percentage of 75% as many as 3 peoples. Students who have self-concept are getting sufficient mathematical communication test results with a range of 41% -60% assessment value as many as 3 peoples, and students who have low self-concept of mathematical communication skills test results are less that is beneficial value of 40% by 3 peoples. Students' mathematical communication skills are in line with their self-concept. The higher the student's self-concept the better his mathematical communication skills.
 
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan calon guru matematika dalam pengajuan masalah ditinjau dari gaya kognitif field independent (FI) dan field dependent (FD). Terdapat dua subjek dalam penelitian ini, yaitu mahasiswa calon guru Pendidikan Matematika semester VI, IKIP Mataram. Gaya kognitif subjek ditentukan berdasarkan skor pemberian instrument GEFT dan kemampuan pengajuan masalah diperoleh melalui TPM dan wawancara. SFI dan SFD masing-masing mengajukan 10 masalah dari informasi berbentuk grafik dan kalimat verbal. Secara umum, kemampuan SFI lebih bagus dibandingkan SFD yaitu: (1) SFI mengajukan 7 masalah sementara SFD hanya mengajukan 5 masalah yang berkaitan dengan aritmetika sosial, (2) SFI mampu mengajukan masalah yang memenuhi semua unsur sintaksis dan semantik, sementara masalah yang diajukan SFD dari informasi grafik hanya memuat 2 unsur sintaksis dan 2 unsur semantik dan dan masalah yang diajukan dari informasi kalimat verbal masing-masing memuat 2 unsur sintaksis dan 3 unsur semantik, (3) SFI mengajukan 5 masalah, sementara SFD hanya mengajukan 1 masalah yang memuat data baru, (4) SFI mengajukan 2 masalah yang tidak bisa diselesaikan karena rasa penasaran, sementara SFD mengajukan 5 masalah yang tidak dapat diselesaikan karena kesalahan pemilihan kata, dan (5) SFI mengajukan masalah yang termasuk kategori mudah, sedang, dan sulit, sementara masalah yang diajukan SFD hanya masuk kategori masalah mudah.This is descriptive research with qualitative approach which has purpose to describe the skill of preserve teacher in problem posing observed from cognitive style of field independent (FI) and field dependent (FD). The subjects are two the mathematic students in the sixth semester, IKIP Mataram. Cognitive style of each subject was determined by giving GEFT instrument and to know the skill of preserve mathematics teacher in posing problem was obtained through TPM and interview. SFI and SFD each posed ten problems from graph information and verbal sentence. SFI has better skill in problem posing than SFD: (1) SFI posed seven problems, while SFD only posed five problems related to arithmetic, (2) on SFI, all problems which were posed fulfilled all syntaxes and semantic elements which had been decided. While, the graph information of SFD could only posed the information which showed two syntaxes elements and two semantic elements, and each posed problems of verbal sentence information has two syntaxes elements and three semantic elements, (3) SFI pose five new data, while SFD could only show one problem which contained new data, (4) SFI posed two unsolved problems because of wondering, while SFD posed five unsolved problems because of choosing words error, and (5) SFI posed problems were included in each easy, middle and difficult category, while SFD only posed problem in easy category.
 
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa ditinjau dari gender. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Pokok bahasan pada penelitian ini yaitu turunan fungsi trigonometri. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XII SMA Negeri 1 Wanasalam tahun ajaran 2019/2020 yang berjumlah 20 siswa. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah metode tes. Teknik analisis data dalam penelitian ini dengan melihat nilai tes kemampuan pemecahan masalah matematika dilihat dari kategori tinggi, sedang dan rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata siswa perempuan 80,12 dan nilai rata siswa laki-laki 74,57. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematika siswa perempuan lebih baik daripada siswa laki-laki. This study aims to describe students’ mathematical problem solving abilities in terms of gender. This research is a quantitative descriptive study using the results of the final test scores as a reference to see students’ mathematical problem solving abilities. The subject of this research is the trigonometric function derivative. Subjects in this study were students of class XII of SMA Negeri 1 Wanasalam in the 2019/2020 school year, is 20 students. Data analysis techniques in this study by looking at the test scores of mathematical problem solving skills seen from the high, medium and low categories. The results showed that the average value of female students was 80.12 and the average value of male students was 74.57. Based on the results of this study it can be concluded that the mathematical problem solving ability of female students is better than male students.
 
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran animasi PowToon pada mata pelajaran matematika di kelas IV, khususnya materi keliling dan luas bangun datar. Penelitian ini merupakan jenis penelitian dan pengembangan atau Research and Development (R&D) dengan menggunakan model 4-D (define, design, development, and disseminate). Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Karangtumaritis yang berjumlah 22 siswa. Data dikumpulkan dengan tes, observasi, angket, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan analisis deskriptif. Hasil penelitian didapatkan, 1) skor rata-rata dari validasi ahli dengan persentase sebesar 88% yang termasuk dalam kategori “sangat layak”; 2) skor rata-rata kepraktisan dengan persentase sebesar 93,33% yang termasuk dalam kategori “sangat praktis”; 3) skor rata-rata dari respon siswa dengan persentase sebesar 94,73% yang termasuk dalam kategori “sangat baik”; 4) skor rata-rata dari post test sebesar 76,14 yang termasuk dalam kategori baik sehingga dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran animasi PowToon dapat memberikan pemahaman kepada siswa kelas IV mengenai mata pelajaran matematika pada materi keliling dan luas bangun datar.This research aims to develop PowToon animation learning media on mathematical subjects in grade IV, especially on the material circumference and area of plane. This research was the kind of Research and Development (R&D) using the 4-D model (define, design, development, and disseminate). The subject of this research was the grade IV SDN Karangtumaritis with totalling 22 students. Data collected with the tests, observation, question form, and documentation. Data analysis was done with a descriptive analysis. The research results obtained, 1) the average score of validation experts with percentage of 88% that are included in the category of "highly feasible"; 2) the average score of practicality with a percentage of 93,33% is included in the category of "very practical"; 3) score the average of the percentage of students with response 94,73% are included in the categories "excellent"; 4) the average score of the post test of 76,14 are included in the categories “good” so it can be concluded that the PowToon animation learning media can give insight to grade IV on subjects of mathematics on the material circumference and area of plane.
 
The mathematical communication of junior high school students is contained in written answers to mathematics, especially in finding patterns of problem-solving, presentation, and rewriting using the language, which is the purpose of this research. Expressing a mathematical situation into a mathematical model in writing can be done by reading and understanding the problem repeatedly, making connections between mathematical concepts and relevant images, making observations on the pictures given, then sorting the numbers based on the views, providing a complete explanation. Then ask students to illustrate the correct and correct answers in their language. The need to pay attention and maximize the time for students to communicate their findings. Creating a learning atmosphere that supports mathematical communication by getting students to dare to express opinions or ideas related to lessons and enrich themselves by seeking information from various sources.Komunikasi matematis siswa SMP yang terkandung dalam jawaban tertulis matematika, terutama dalam menemukan pola pemecahan masalah, penyajian, dan penulisan ulang menggunakan bahasanya. Menyatakan situasi matematika ke dalam model matematika secara tertulis, dapat dilakukan dengan cara membaca dan memahami masalah secara berulang-ulang, membuat hubungan antara konsep matematika dan gambar yang relevan, melakukan pengamatan pada gambar yang diberikan, kemudian mengurutkan angka berdasarkan gambar, memberikan penjelasan yang lengkap, kemudian meminta siswa untuk mengilustrasikan jawaban dalam bahasa mereka sendiri yang benar dan benar. Perlunya memperhatikan dan memaksimalkan waktu bagi siswa untuk mengomunikasikan temuannya. Menciptakan suasana belajar yang mendukung komunikasi matematis dengan cara membiasakan siswa memberanikan diri mengemukakan pendapat atau gagasan terkait pelajaran, dan memperkaya diri dengan mencari informasi dari berbagai sumber.
 
Top-cited authors
E Elvis Napitupulu
  • State University of Medan
Abd. Qohar
  • State University of Malang
Trian Pamungkas Alamsyah
Danang Setyadi
  • Universitas Kristen Satya Wacana
Ardhi Prabowo
  • Universitas Negeri Semarang