Jurnal Ilmiah Kanderang Tingang

Published by Faculty of Teacher Training and Education, Universitas Palangka Raya
Online ISSN: 2087-166X
Publications
Article
Tujuan umum program bimtek penguatan ini adalah untuk memberikan Bimbingan Teknis kepada guru-guru sekolah dasar tentang pengintegrasian TIK pada pembelajaran IPA/Fisika di SMP/SMA. Tujuan khusus Program ini adalah untuk menghasilkan (1) disain pengintegrasian TIK dalam Pembelajaran IPA/Fisika, (2) paket tugas pengintegrasian TIK dalam Pembelajaran IPA/Fisika (3) pengembangan media dan bahan ajar yang berbasis pengitegrasian TIK dalam pembelajaran. Untuk mencapai tujuan khusus Program ini ditempuh beberapa tahap pengembangan mengacu pada Thiagarajan (1974), yang dikenal dengan Four-D model, yaitu (1) tahap Define meliputi analisis kurikulum IPA/Fisika, pengkajian secara teoretik materi ipa/fisika, dan perumusan IPA/Fisika dengan tugas-tugas yang bersesuaian, (2) tahap Design meliputi: penulisan tugas-tugas pengintegrasian TIK, dan perumusan petunjuk pelaksanaan tugas-tugas bagi guru dan siswa, (3) tahap develop meliputi: uji coba terbatas (dua guru mitra), analisis hasil uji coba, revisi paket hasil uji coba, dan review dan evaluasi oleh, dan (4) tahap dissiminate meliputi: perluasan uji penggunaan paket, dan pemantauan dan evaluasi penggunaan paket. Manfaat yang dapat diperoleh dari Program ini adalah: (1) paket disain pengintegrasian TIK dalam Pembelajaran IPA/Fisika dapat menjadi pegangan/contoh dalam pembelajaran. (2) penerapan paket paket disain pengintegrasian TIK dalam Pembelajaran IPA/Fisika dapat meningkatkan pemahaman guru terhadap beberapa Teknik pengintegrasian TIK dalam pembelajaran, dan (3) paket disain pengintegrasian TIK dalam Pembelajaran IPA/Fisika ini dapat direkomendasikan kepada pemerintah, khususnya.
 
Article
Negara Indonesia memiliki potensi bencana yang dapat mengganggu berbagai aspek kehidupan terutama dalam dunia pendidikan. Pada saat ini COVID-19 merupakan bencana yang sedang dihadapi mengharuskan semua komponen dalam dunia pendidikan secara cepat beradaptasi untuk melaksanakan pembelajaran. Tujuan penelitian ini adalah sebagai tinjauan umum terhadap pelaksanaan pembelajaran saat ini dimana pandemi COVID-19 tengah mewabah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode descriptive content analysis study. Metode ini dilakukan dengan menganalisis artikel dan sumber lain yang sejenis tentang media pembelajaran online pada masa pandemic COVID-19. Meskipun sekolah secara fisik ditutup untuk menghindari resiko penularan COVID-19 saat ini, untuk mengaktifkan kelas diperlukan media pembelajaran online agar pembelajaran tetap berjalan. Pembelajaran online merupakan solusi yang efektif, namun perlu dilakukan evaluasi terhadap teknik pembelajaran ini karena kemampuan untuk menyediakan fasilitas oleh pemerintah, sekolah maupun orang tua siswa sebarannya sangat berbeda di Indonesia.
 
Article
This research is motivated by the learning motivation of students of the Economic Education Study Program FKIP Palangka Raya University during the COVID-19 pandemic. In compiling lecture assignments, each student has their learning methods and techniques, especially to achieve success in learning achievement. The purpose of this study is to determine the motivation and learning achievement of students of Economics Education FKIP Palangka Raya University during the COVID-19 pandemic. This study uses a qualitative approach, with a descriptive method. The results of research conducted at the Economic Education Study Program, Faculty of Teacher Training and Education, Palangka Raya University are about the motivation and learning achievement of Economic Education students, which indicated by the results of interviews that researchers have conducted, namely with the results of the research, most of the students of the Economics Education Study Program have high intrinsic and extrinsic motivation in achieving learning achievement. So, students have a strong willingness in carrying out learning activities. This can be seen from the average Economic Education students who got high Indeks Prestasi Semester or Grade Point Average (GPA) score from last semester, wherein the even semester of 2020/2021 lectures had used the online or online method.
 
Article
Tujuan penelitian ini adalah untuk: (1) mendeskripsikan kesesuaian konsep ikatan kimia hasil analisis materi ajar Kimia SMA/MA kelas X tehadap Kurikulum 2013, (2) mendeskripsikan struktur makro wacana dalam materi ajar Kimia SMA/MA kelas X hasil analisis pada konsep ikatan kimia, dan (3) mendeskripsikan proposisi apa saja yang berpotensi menimbulkan kesalahan konsep yang terdapat dalam materi ajar kimia SMA/MA kelas X hasil analisis pada topik ikatan kimia. Buku teks yang dianalisis meliputi buku teks A dan buku teks B. Instrumen yang digunakan yaitu tabel identifikasi relevansi teks asli dengan label konsep, tabel analisis wacana proposisi mikro dan makro, model struktur makro wacana dan tabel identifikasi proposisi yang berpotensi menimbulkan kesalahan konsep. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian dan analisis data yang telah dilakukan yaitu label konsep yang terdapat pada buku teks A berjumlah 26 label konsep dan semuanya telah sesuai dengan Silabus Kurikulum 2013 dan label konsep yang terdapat pada buku teks B berjumlah 21 label konsep dari 21 label konsep ada bebarapa label konsep yang tidak memenuhi Kompetensi Dasar (KD) dan Materi Pokok (MP) pada Silabus Kurikulum 2013 yaitu Kompetensi Dasar (3.6) Menganalisis kepolaran senyawa dengan Materi Pokok ikatan kovalen polar dan nonpolar. Ikatan kimia berdasarkan struktur makro wacana pada buku teks A dan buku teks B pembahasan konsep pada dimensi elaborasi mencapai level 4 dan pada dimensi progresi terdapat 4 label konsep pada level. Proposisi yang berpotensi menimbulkan kesalahan konsep pada buku A yang dibahas yaitu konsep hukum oktet. Pada buku teks B tidak terdapat proposisi yang berpotensi menimbulkan kesalahan konsep.
 
Article
Tujuan penelitian adalah untuk: (1) Mendeskripsikan kesesuaian konsep struktur atom terhadap silabus Kurikulum 2013 edisi revisi, (2) Mendeskripsikan struktur makro wacana dalam materi ajar kimia SMA/MA kelas X hasil analisis pada konsep struktur atom, (3) Mendeskripsikan proposisi apa saja yang berpotensi kesalahan konsep yang terdapat pada narasi materi struktur atom SMA/MA kelas X SMA/MA pada buku A dan buku B. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Objek penelitian ini adalah (1) buku teks Kimia SMA/MA kelas X Penulis Unggul Sudarmo yang diterbitkan oleh Penerbir Erlangga tahun 2016 (Buku A), (2) buku teks Kimia SMA/MA kelas X Penulis A. Haris Watoni Dkk yang diterbitkan oleh Penerbit Yrama Widya tahun 2016 (Buku B). Hasil penelitian menunjukan Jumlah label konsep gabungan dari kedua buku adalah 29 label konsep. Pada buku A mempunyai 26 label konsep dan buku B mempunyai 25 label konsep yang sesuai dengan silabus Kurikulum 2013 edisi revisi. Proposisi kesalahan konsep pada buku teks A yaitu: pemahan kata dan gambar percobaan Rutherford tampa dijelaskan. Proposisi kesalahan konsep pada buku teks B yaitu kata yang sulit dipahami dan jumlah subkulit yang tidak tepat.
 
Article
The main purpose of this study was to evaluate the quality of post test utilized by LPMP Central Kalimantan Indonesia in curriculum 2013 training for X grade teachers. It uses Rasch analysis to explore the item fit, the reliability ( item and person), item difficulty, and the Wrigh map of post test. This study also applies Classical Test Teory (CTT) to determine item discrimination and distracters. Following a series of iterative Rasch analyses that adopted the “data should fit the model” approach, 30 items post test of curriculum 2013 training was analyzed using Acer Conquest 4 software, software based on Rasch measurement model. All items of post test of curriculum 2013 training are sufficient fit to the Rasch model. The difficulty levels (i.e. item measures) for the 30 items range from –1.746 logits to +1.861 logits. The item separation reliability is acceptable at 0.990 and person separation reliability is low at 0.485. The wright map indicates that the test is difficult for the teachers or the teachers have low ability in knowledge of curriculum 2013. The post test items cannot cover all the ranges of the teachers’ ability levels. Items discrimination of post test of curriculum 2013 training grouped into fair discrimination (item 2, 4, 5, 8, 11, 18) and poor discrimination (1, 3, 6, 7, 9, 10,12, 13, 14, 15, 16, 17, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30). Some distracters from item 1, 2, 6, 7, 8, 9, 11, 13, 16, 17, 18, 19, 20, 22, 24, 25, 27, 28, 29 and 30 are problematic. These distracters require further investigation or revision. Key words: Rasch analysis, training, curriculum 2013, post test
 
Article
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasikan dan menjelaskan kesulitan siswa kelas XI IPA SMA di Kabupaten Barito Utara dan Kota Palangka Raya dalam memahami konsep pereaksi pembatas, meliputi: (a) menentukan pereaksi pembatas dalam suatu pereaksi, jika gambar semua pereaksi dalam bentuk unsur dan molekul gas; (b) menentukan pereaksi pembatas dalam suatu reaksi, jika gambar semua pereaksi dalam molekul gas; (c) menentukan pereaksi pembatas dalam suatu reaksi, jika diketahui mol dari masing-masing pereaksi; (d) menentukan pereaksi dalam suatu reaksi; jika diketahui massa dari masing-masing pereaksi.Populasi penelitian adalah siswa kelas XI IPA SMA Negeri di Kabupaten Barito Utara dan Kota Palangka Raya dengan sampel penelitian sebanyak 367 siswa. Kesulitan siswa diteliti dengan menggunakan instrumen tes pemahaman konsep pereaksi pembatas (TPKPP) disertai wawancara untuk menelusuri kesulitan yang dialami siswa. Instrumem yang digunakan untuk mengukur pemahaman siswa pada level makroskopis dan level mikroskopis adalah tes tertulis dilengkapi empat pilihan jawaban dan empat pilihan alasan.Validitas isi diuji oleh empat orang ahli. Rata-rata tingkat kesukaran 0.42 dan daya beda 0,49. Reliabilitas tes dihitung dengan menggunakan Alpha Cronbach's.Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap indikator siswa mengalami kesulitan memahami konsep pereaksi pembatas ditinjau dari level makroskopis rata-rata sebesar 67,24% siswa. Ditinjau dari level mikroskopis rata-rata sebesar 49,33 % siswa. Artinya tingkat kesulitan level makroskopis lebih tinggi dari tingkat kesulitan level mikroskopis. Kesulitan pada level makroskopis yang teridentifikasi adalah siswa mengalami kesulitan dalam mengkonversikan volum, massa kedalam satuan mol. Kesulitan pada level mikroskopis yang teridentifikasi adalah siswa mengalami kesulitan dalam memahami gambaran mikroskopis sehingga dalam menyelesaikan soal siswa cenderung mililih pilihan jawaban sesuai kunci tetapi salah dalam memilih alasan.Pada penelitian ini teridentifikasi empat penyebab kesulitan siswa SMA dalam memahami konsep pereaksi pembatas yaitu siswa menganggap pereaksi pembatas adalah: (a) pereaksi yang mempunyai koefisien kecil; (b) pereaksi yang mempunyai koefisien besar; (c) pereaksi yang mempunyai mol kecil; (d) pereaksi yang mempunyai massa lebih kecil.
 
Article
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan kemampuan belajar siswa kelas XI SMA Negeri 5 Palangka Raya tahun pelajaran 2015/2016 yang meliputi kemampuan mengamati, menanya, mengumpulkan data, mengasosiasi dan mengomunikasikan dengan bantuan LKS-Induktif; (2) mendeskripsikan pemahaman konsep siswa kelas XI SMA Negeri 5 Palangka Raya tahun pelajaran 2015/2016 tentang faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi pasca pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik dengan bantuan LKS-Induktif.Penelitian ini melibatkan siswa kelas XI Peminatan MIPA SMA Negeri 5 Palangka Raya sebanyak 57 siswa. Instrumen yang digunakan adalah lembar soal pretes dan postes, LKS-Induktif dengan pendekatan saintifik, dan pedoman wawancara. Data dikumpulkan melalui tiga tahap, yaitu pretes, pelaksanaan pembelajaran dengan pendekatan saintifik berbantuan LKS-Induktif, dan postes. Setelah menganalisis pemahaman konsep siswa pada tiap indikator, maka untuk memperkuat hasil pendeskripsian pemahaman konsep dan kemampuan belajar, dilakukan wawancara terhadap beberapa perwakilan siswa.Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menggunakan LKS-Induktif, kemampuan belajar siswa dalam pembelajaran dengan pendekatan saintifik rata-rata sebesar 83,14%. Secara rinci kemampuan belajar siswa adalah sebagai berikut: (a) kemampuan mengamati sebesar 84,19%; (b) kemampuan menanya sebesar 48,17%; (c) kemampuan mengumpulkan informasi sebesar 89,39%; (d) kemampuan mengasosiasi sebesar 96,09%; dan (e) kemampuan mengomunikasikan sebesar 87,25%. Kemampuan siswa memahami konsep tentang faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi dalam pembelajaran dengan pendekatan saintifik menggunakan LKS-Induktif rata-rata sebesar 85,09% dengan kategori sangat baik. Proporsi jumlah siswa yang dapat memahami dengan benar pada setiap konsep adalah: (a) sebanyak 100% siswa dapat menjelaskan pengaruh konsentrasi dengan laju reaksi; (b) sebanyak 92,99% siswa dapat menjelaskan pengaruh konsentrasi terhadap laju reaksi berdasarkan teori tumbukan; (c) sebanyak 100% siswa dapat menjelaskan pengaruh luas permukaan terhadap laju reaksi; (d) sebanyak 57,90% siswa dapat menjelaskan pengaruh luas permukaan terhadap laju reaksi berdasarkan teori tumbukan; (e) sebanyak 100% siswa dapat menjelaskan pengaruh suhu terhadap laju reaksi; (f) sebanyak 73,68% siswa dapat menjelaskan pengaruh suhu terhadap laju reaksi berdasarkan teori tumbukan; (g) sebanyak 100% siswa dapat menjelaskan pengaruh katalis terhadap laju reaksi; dan (h) sebanyak 56,14% siswa dapat menjelaskan pengaruh katalis terhadap laju reaksi dan hubungannya dengan energi aktivasi (Ea).
 
Article
Telah dilakukan penelitian tentang penerapan model pembelajaran kooperatif tipe team games tournament (TGT) terhadap materi tata nama senyawa pada kelas XB SMK Negeri 1 Mantangai. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui peningkatan pemahaman siswa terhadap materi tata nama senyawa dan (2) mengetahui respon siswa terhadap penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT pada pembelajaran. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas dengan 2 siklus. Subjek penelitian adalah siswa kelas XB SMK Negeri 1 Mantangai dengan jumlah siswa sebanyak 25 orang. Data dikumpulkan melalui teknik tes dan angket yang selanjutnya dianalisis menggunakan teknik persentase. Penelitian ini dikatakan berhasil jika 75% dari jumlah siswa mencapai taraf penguasaan ≥75 dari materi yang diajarkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT dapat meningkatkan pemahaman siswa pada materi tata nama senyawa kimia sederhana. Terjadi peningkatan ketuntasan dari siklus I ke siklus II yakni dari 62% menjadi 86% dan rata-rata nilai siswa meningkat dari 65,8 menjadi 85,8 (2) siswa memberikan respon positif terhadap proses pembelajaran tata nama senyawa yang diajarkan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT.
 
Article
Model discovery learning merupakan kata lain pembelajaran penemuan. Sesuai dengan namanya, model ini mengarahkan mahasiswa untuk dapat menentukan sesuatu melalui proses pembelajaran. Mahasiswa diarahkan terbiasa menjadi sainstis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan Pemahaman Konsep Sistem Periodik Unsur Hasil Pembelajaran Menggunakan Model Discovery Learning pada Mahasiswa Semester IV Program Studi Pendidikan Kimia Tahun Ajaran 2016/2017. Penelitian ini melibatkan 47 mahasiswa Semester IV Program Studi Pendidikan Kimia Tahun Ajaran 2016/2017. Data hasil pemahaman konsep mahasiswa ditelusuri melalui pemberian tes tertulis terberbentuk essay terhadap mahasiswa sebelum dan sesudah menggunakan model discovery learning. Data dianalisis dengan teknik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan Pemahaman mahasiswa Semester IV Program Studi Pendidikan Kimia Tahun Ajaran 2016/2017 tentang Sistem Periodik unsur hasil pembelajaran menggunakan model discovery learning adalah (1) pemahaman konsep mahasiswa dalam menjelaskan kecendrungan jari-jari atom unsur seperiode atau segolongan dalam sistem periodik unsur sebelum pembelajaran sebanyak 51,06% mahasiswa tidak memiliki pemahaman dan setelah pembelajaran sebanyak 89,35% mahasiswa, terjadi perubahan pemahaman konsep, dan sebanyak 38,29% mahasiswa tidak mengalami perubahana pemahaman; (2) menjelaskan kecenderungan energi ionisasi suatu unsur dalam sistem periodik unsur adalah sebesar 29,79% siswa, hasil pembelajaran sebesar 63,89% mahasiswa terjadi perubahan pemahaman konsep dan 19,15% mahasiswa tidak mengalami perubahan pemahaman konsep. Terjadi perubahan pemahaman konsep sebesar 42,55% siswa; (3) menjelaskan kecenderungan afinitas elektron suatu unsur dalam sistem periodik unsur berdasarkan data hasil percobaan sebelum pembelajaran sebanyak 44,68% mahasiswa tidak dapat mengurutkan dan menjelaskan kecenderungan afinitas electron berdasarkan hasil percobaan dan setelah pembelajaran sebanyak 70,22% mahasiswa mampu membuktikan mengurutkan dan menjelaskan kecenderungan afinitas electron; dan (4) menjelaskan kecenderungan keelektronegatifan suatu unsur dalam sistem periodik unsure berdasarkan data hasil percobaan sebelum pembelajaran sebanyak 44,68% mahasiswa tidak dapat mengurutkan dan menjelaskan kecenderungan keelektronegatifan dan setelah pembelajaran sebanyak 75,86% mahasiswa mampu membuktikan mengurutkan dan menjelaskan kecenderungan keelektronegatifa. Kata Kunci : Discovery Learning, Sistem Periodik Unsur, Deskriptif
 
Article
Penggunaan berbagai pendekatan dan model dalam pembelajaran merupakan upaya guru untuk mencapai tujuan yang optimal. Salah satu upaya guru untuk meningkatkan hasil belajar siswa adalah dengan penggunaan metode praktikum berbantukan media Macromedia flash merupakan salah satu media teknologi yang dapat digunakan. Keunggulan dari macromedia flash adalah dapat membuat contoh sederhana materi pelajaran menerupai keadaan aslinya sehingga memudahkan siswa untuk memahami materi pelajaran tersebut. Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah dengan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Alat pengumpul data yang digunakan terdiri instrumen pembelajaran, evaluasi (tes dan non tes) serta instrumen observasi bagi guru dan bagi siswa. Penelitian ini dilaksanakan dengan 2 siklus pembelajaran dan setiap siklus terdiri dari 3 pertemuan. Subyek yang diteliti adalah siswa kelas X SMKN Kecil Teweh Tengah Kecamatan Teweh Tengah tahun pelajaran 2016/2017 yang terdiri dari 15 siswa laki-laki dan 11 siswa perempuan dengan jumlah 26 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum perbaikan pembelajaran siswa yang mencapai KKM ( ≥ 70 ) hanya 10 siswa dari 26 siswa (38%). Pada Perbaikan pembelajaran siklus I siswa yang mencapai KKM meningkat menjadi 18 siswa (69%). Dan pada perbaikan pembelajaran siklus II siswa yang mencapai KKM meningkat lagi menjadi 23 siswa ( 88%). Pembelajaran dengan menggunakan metode praktikum berbantukan media flash terbukti dapat meningkatkan hasil belajar kimia pada materi larutan elektrolit dan non elektrolit bagi siswa kelas X SMKN Kecil Teweh Tengah tahun pelajaran 2016/2017.
 
Article
Model discovery learning merupakan kata lain pembelajaran penemuan. Sesuai dengan namanya, model ini mengarahkan mahasiswa untuk dapat menemukan sesuatu melalui proses pembelajaran. Mahasiswa diarahkan terbiasa menjadi sainstis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan Pemahaman Konsep Sistem Periodik Unsur Hasil Pembelajaran Menggunakan Model Discovery Learning pada Mahasiswa Semester IV Program Studi Pendidikan Kimia Tahun Ajaran 2016/2017. Penelitian ini melibatkan 47 mahasiswa Semester IV Program Studi Pendidikan Kimia Tahun Ajaran 2016/2017. Data hasil pemahaman konsep mahasiswa ditelusuri melalui pemberian tes tertulis terberbentuk essay terhadap mahasiswa sebelum dan sesudah menggunakan model discovery learning. Data dianalisis dengan teknik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan Pemahaman mahasiswa Semester IV Program Studi Pendidikan Kimia Tahun Ajaran 2016/2017 tentang Sistem Periodik unsur hasil pembelajaran menggunakan model discovery learning adalah (1) pemahaman konsep mahasiswa dalam menjelaskan kecendrungan jari-jari atom unsur seperiode atau segolongan dalam sistem periodik unsur sebelum pembelajaran sebanyak 51,06% mahasiswa tidak memiliki pemahaman dan setelah pembelajaran sebanyak 89,35% mahasiswa, terjadi perubahan pemahaman konsep, dan sebanyak 38,29% mahasiswa tidak mengalami perubahana pemahaman; (2) menjelaskan kecenderungan keelektronegatifan dan setelah pembelajaran sebanyak 75,86% mahasiswa mampu membuktikan mengurutkan dan menjelaskan kecenderungan keelektronegatifan.
 
Article
Diskusi merupakan metode pembelajaran menggunakan percakapan ilmiah oleh beberapa orang yang tergabung dalam satu kelompok untuk saling bertukar pendapat tentang suatu topik masalah, atau sama-sama mencari pemacahan mendapatkan jawaban dan kebenaran suatu masalah. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan pemahaman konsep sistem koloid hasil pembelajaran menggunakan metode diskusi berbantuan LKS pada siswa kelas XI-IPA SMA Negeri 1 Manuhing Tahun Ajaran 2017/2018. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA-2 SMA Negeri 1 Manuhing yang berjumlah 30 orang siswa. Instrumen yang digunakan berupa soal tes pemahaman konsep (pretes dan postes) berbentuk essay sebanyak 3 soal, lembar keterlaksanaan pembelajaran, lembar pengamatan aktivitas siswa dan angket respon siswa. Data pemahaman konsep diperoleh dari hasil tes tertulis berupa essay yang diberikan sebelum dan sesudah pembelajaran menggunakan metode diskusi berbantuan LKS. Hasil penelitian menunjukkan pemahaman konsep siswa pada kelas XI IPA SMA Negeri 1 Manuhing tahun ajaran 2017/2018 tentang sistem koloid setelah pembelajaran menggunakan metode diskusi berbantuan LKS rata-rata sebesar 81,5. Perubahan pemahaman konsep siswa pada setiap konsep sesudah pembelajaran menggunakan metode diskusi berbantuan LKS yaitu: (1) Menjelaskan perbedaan suspensi kasar, larutan sejati dan koloid sebesar 2,96% menjadi sebesar 77,03%; (2) Menjelaskan jenis-jenis koloid berdasarkan fese terdispersi dan fase pendispersi sebesar 4,44% menjadi sebesar 69,62%; (3) Menjelaskan sifat-sifat koloid (effek tyndall, gerak brown) sebesar 25% menjadi sebesar 100%.
 
Article
Konsep ikatan kimia merupakan salah satu materi pelajaran kimia SMA kelas X. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penguasaan konsep ikatan kimia pada siswa kelas X SMA Negeri 4 Palangka Raya Tahun Ajaran 2017/2018. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Subjek penelitian ini adalah 29 siswa kelas X SMA Negeri 4 Palangka Raya Tahun Ajaran 2017/2018 yang sudah menerima pembelajaran materi ikatan kimia. Data yang digunakan pada penelitian ini berupa dokumen RPP yang didapat dari guru yang bersangkutan. Data penguasaan konsep siswa diperoleh melalui tes uraian ikatan kimia menggunakan 7 butir soal esai yang mencakup 5 indikator. Data pendukung menggunakan hasil wawancara terhadap siswa. Penguasaan konsep siswa dalam menuliskan konfigurasi elektron dan menentukan elektron valensi unsur 94% dengan kategori sangat tinggi. Penguasaan konsep menggambarkan struktur Lewis 62% kategori sedang. Penguasaan konsep menggambarkan cara suatu unsur untuk mencapai kestabilan 74 % kategori tinggi. Penguasaan konsep mengelompokan unsur gas mulia dan bukan gas 22% kategori rendah. Penguasaan konsep menjelaskan aturan duplet dan aturan oktet 20% kategori rendah. Penguasaan konsep menjelaskan proses terbentuknya ikatan ion 49% berada pada kategori sedang. Penguasaan konsep menggambarkan struktur Lewis dan menentukan rumus kimia senyawa ikatan kovalen tunggal 51% kategori sedang. Penguasaan konsep menggambarkan struktur Lewis dan menentukan rumus kimia senyawa ikatan kovalen rangkap dua 65% berada pada kategori sedang. Penguasaan konsep menggambarkan struktur Lewis dan menentukan rumus kimia senyawa ikatan kovalen rangkap tiga 40% kategori rendah. Penguasaan konsep menjelaskan proses terbentuknya ikatan kovalen koordinasi 29% kategori rendah. Penguasaan konsep menjelaskan proses pembentukan ikatan logam dan menjelaskan sifat senyawa yang berikatan logam masing-masing 31% dan 45% kategori rendah.
 
Article
Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan pemahaman siswa tentang konsep minyak bumi hasil pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe SQ3R (Survey-Question-Read-Recite-Review) di SMA Negeri 4 Palangka Raya Tahun Ajaran 2017/2018. Penelitian ini melibatkan siswa kelas XI MIA-3 SMA Negeri 4 Palangka Raya Tahun Ajaran 2017/2018 sebanyak 24 siswa. Instrumen yang digunakan adalah tes pemahaman konsep berupa essay yang Diberikan saat pretes dan postes, lember pengelolaan pembelajran dan angket respon siswa. Data pemahaman konsep siswa diperoleh dari hasil tes tertulis berupa essay yang diberikan sebelum dan sesudah pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe SQ3R. Hasil penelitian menunjukkan Rata-rata pemahaman konsep siswa kelas XI MIA-3 SMAN 4 Palangka Raya tahun ajaran 2017/2018 adalah sebesar 84,3 %.Pemahaman siswa setiap konsep adalah sebagai berikut : (i) sebagian besar siswa (84,3 %) dapat menjelaskan teori pembentukkan minyak bumi menurut teori Duplex. (ii) Sebagian besar siswa (89,1 %) dapat menjelaskan komponen-komponen utama minyak bumi. (iii) Sebagian besar siswa (78,9 %) dapat menjelaskan hasil fraksi minyak bumi yang mempunyai atom C11-C14 dan kegunaannya. (iv) Sebagian besar siswa (82,2 %) dapat menjelaskan hasil fraksi minyak bumi dengan titik didih terendah dan kegunaannya. (v) Sebagian besar siswa (88,6 %) dapat menjelaskan kualitas bensin berdasarkan bilangan oktan. Langkah-langkah model pembelajaran SQ3R yang paling berperan dalam meningkatkan pemahaman konsep siswa adalah pada kegiatan Question, Read and Recite.
 
Article
Banyak siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal perhitungan larutan penyangga. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan pengaruh pemberian tuntunan penyelesaian latihan soal dalam pembelajaran langsung terhadap pemahaman konsep perhitungan pH larutan penyangga asam pada siswa kelas XI MIPA MAN Kota Palangka Raya tahun ajaran 2018/2019. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan eksperimen pretest-posttest control group design. Sampel penelitian adalah 69 siswa kelas XI MIPA MAN Kota Palangka Raya tahun ajaran 2018/2019. Instrumen yang digunakan untuk mengukur pemahamn konsep adalah tes pemahaman konsep (tes I dan tes II) berbentuk uraian objektif berjumlah 3 soal. Hasil uji statistik menggunakan uji-t menunjukkan bahwa thitung (5,383) lebih besar dari ttabel (1,67) pada taraf signifikan 5%, artinya pemberian tuntunan penyelesaian latihan soal berpengaruh terhadap pemahaman konsep perhitungan pH larutan penyangga asam pada siswa kelas XI MIPA MAN Kota Palangka Raya tahun ajaran 2018/2019. Rata-rata nilai tes II kelas eksperimen (77,992) lebih tinggi dari kelas kontrol (60,561).
 
Article
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan Pengaruh Pemberian Latihan Soal Terstruktur Setelah Pembelajaran Langsung Terhadap Pemahaman Konsep Bilangan Kuantum Pada Siswa Kelas X MIPA SMA Negeri 1 Palangka Raya Tahun Ajaran 2018/2019. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan desain penelitian non ekuivalen, pretest-posttest control group design dan melibatkan 53 siswa dari dua kelas X MIPA SMA Negeri 1 Palangka Raya sebagai sampel yang ditentukan dengan teknik cluster random sampling, yaitu kelas X MIPA-7 (kelas eksperimen) sebanyak 28 orang siswa dan siswa kelas X MIPA-6 (kelas kontrol) sebanyak 25 orang siswa. Instrumen yang digunakan berupa soal tes pemahaman tes I dan tes II, latihan soal terstruktur, dan latihan soal. Data tes I diperoleh setelah pembelajaran langsung dan data tes II diperoleh setelah pembelajaran menggunakan latihan soal terstruktur dan latihan soal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa thitung > ttabel (3,06 > 1,675) pada taraf signifikasi (α) 5%. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian latihan soal terstruktur setelah pembelajaran langsung berpengaruh terhadap pemahaman konsep bilangan kuantum pada siswa kelas X MIPA SMAN 1 Palangka Raya tahun ajaran 2018/2019.
 
Article
Penelitian yang dilakukan oleh Eka (2018) pada siswa kelas X SMA Negeri 3 Palangkaraya tahun ajaran 2017/2018, menunjukkan bahwa sebagian besar siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal Hukum Kekekalan Massa (Lavoisier). Umumnya kesalahan ini terjadi karena masih banyak siswa yang belum memahami konsep. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan pengaruh pemberian tuntunan penyelesaian latihan soal dalam pembelajaran langsung terhadap pemahaman konsep Hukum kekekalan massa pada Siswa Kelas X MIA SMA Negeri 4 Kota Palangka Raya Tahun Ajaran 2018/2019. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Melalui penelitian ini, peneliti melakukan eksperimen dengan menentukan sampel untuk kelas kontrol dan kelas eksperimen. Subjek penelitian adalah 63 siswa kelas X MIA SMA Negeri 4 Kota Palangka Raya tahun ajaran 2018/2019. Instrumen yang digunakan berupa tes pemahaman konsep (tes I dan tes II) berupa esai berjumlah 5 soal dan latihan soal dengan tuntunan penyelesaian yang dikemas dalam bentuk lembar soal yang berisi langkah-langkah penyelesaian soal. Hasil uji statistik menggunakan uji-t menunjukkan bahwa thitung (5,44) lebih besar dari ttabel (1,67) pada taraf signifikan 5%, artinya terdapat pengaruh terhadap pemahaman konsep hukum kekekalan massa hasil pembelajaran langsung menggunakan latihan soal dengan tuntunan penyelesaian pada siswa kelas X MIA SMA Negeri 4 Kota Palangka Raya tahun ajaran 2018/2019. Rata-rata peningkatan (N-gain) pemahaman konsep siswa yang belajar menggunakan latihan soal dengan tuntunan penyelesaian pada kelas eksperimen (0,71) lebih tinggi dari siswa yang belajar menggunakan latihan soal tanpa tuntunan penyelesaian (0,49).
 
Article
Soal yang digunakan pada penilaian akhir semester (PAS) merupakan soal-soal buatan guru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan tingkat kualitas soal PAS buatan guru mata pelajaran kimia kelas X MIA SMA di Kabupaten Kotawaringin Barat pada semester ganjil tahun ajaran 2018/2019. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif. Objek dalam penelitian ini adalah soal buatan guru dan jawaban siswa hasil penilaian akhir semester mata pelajaran kimia kelas X MIA SMA pada semester ganjil tahun ajaran 2018/2019. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi. Data dalam penelitian ini adalah soal buatan guru dan lembar jawaban siswa. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis logical review dan empirical review. Kualitas soal buatan guru secara logical review maupun secara empirical review tergolong baik. Hasil penelitian menunjukkan dari analisis logical review diperoleh tingkat kesesuaian butir soal dengan kompetensi sebesar 65,78%. Kesesuaian butir soal dengan aspek materi, konstruksi dan bahasa sebesar 87%. Distribusi jenjang ranah kognitif taksonomi Bloom yang terukur pada lima set soal dari lima SMA adalah distribusi C1 sebanyak 25,00%, C2 sebanyak 37,67%, C3 sebanyak 31,83% dan C4 sebanyak 5,79%. Hasil analisis empirical review diperoleh reabilitas soal tegolong cukup baik dengan indeks 0,541, Tingkat kesukaran soal masuk kategori sedang dengan indeks tingkat kesukaran sama dengan 0,5. Daya beda soal tergolong baik dengan indeks daya beda sama dengan 0,7. Efektifitas distraktor tergolong baik berdasarkan banyaknya distraktor yang efektif yaitu 90%.
 
Article
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pengaruh penggunaan LKS berbantuan media PhET terhadap pemahaman konsep meramalkan bentuk molekul pada siswa kelas X SMA Negeri 3 Palangka Raya tahun ajaran 2018/019. Penelitian ini melibatkan 33 orang siswa kelas X MIPA 5 SMA Negeri 3 Palangka Raya Tahun Ajaran 2018/2019. Instrumen yang digunakan berupa LKS dalam bentuk uraian. Data dikumpulkan melalui 5 tahap pembelajaran dengan menggunakan LKS yakni, pra LKS, saat LKS, pasca LKS, diskusi, dan pasca diskusi. Setiap butir soal yang tersebar memiliki 5 indikator, yaitu konfigurasi elektron dan menentukan elektron valensi, menggambarkan struktur Lewis, menentukan jumlah PEI, menentukan jumlah PEB, menggambarkan bentuk molekul dan menentukan nama bentuk molekul. Kemudian hasil penelitian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran menggunakan LKS berbantuan media PhET mampu meningkatkan pemahaman konsep siswa dalam meramalkan bentuk suatu molekul. Hal tersebut terlihat dari peningkatan pada persentase jawaban benar siswa pada persentase rata-rata dalam setiap tahapan pembelajarannya. Pada saat dilakukannya tahap pra LKS, persentase jawaban benar siswa adalah sebesar 28,19%. Kemudian konsep siswa mengalami perubahan setelah siswa melalui tahap penggunaan LKS berbantuan media PhET yang mampu merubah persentase pada tahap pasca LKS menjadi 82,61%. Perubahan persentase jawaban benar pada siswa terus terjadi hingga setelah siswa melewati tahap diskusi yang menunjukkan pada tahap pasca diskusi menjadi 100% siswa yang mampu memahamai konsep yang benar.
 
Article
Konsep tatanama senyawa dan persamaan reaksi merupakan salah satu konsep kimia yang di ajarkan di SMA kelas X. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penguasaan konsep tatanama senyawa dan persamaan reaksi pada siswa kelas XI. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. subjek penelitian ini adalah 30 siswa kelas XI IPA-4 SMA Negeri 2 Sampit tahun ajaran 2018/2019 yang sudah menerima pembelajaran tatanama senyawa dan persamaan reaksi. Data yang dikumpulkan berupa dokumen RPP yang didapat dari guru kimia, data penguasaan konsep siswa yang didapat melalui tes uraian dengan jumlah soal sebanyak 14 butir dari 4 indikator dan data hasil wawancara siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penguasaan konsep siswa pada topik tatanama senyawa dan persamaan reaksi siswa yaitu sebesar 74.18% berada pada kategori tinggi. Penguasaan konsep siswa terbagi kedalam 3 (tiga) kategori yaitu sangat tinggi, tinggi, dan sedang. Siswa pada kategori sangat tinggi berjumlah 9 siswa, siswa pada kategori tinggi berjumlah 12 siswa. Siswa pada kategori sedang berjumlah 9 siswa. Siswa mampu menuliskan rumus molekul dan rumus empiris suatu senyawa sebesar 81,66% dengan kategori tinggi, siswa mampu menuliskan nama senyawa anorganik dan senyawa organik sebesar 75,18% dengan kategori tinggi, siswa mampu menuliskan rumus kimia senyawa anorganik sederhana dan senyawa organik sederhana sebesar 84,58% dengan kategori tinggi dan siswa mampu menjelaskan bagian-bagian dari suatu persamaan reaksi sebesar 47,92% dengan kategori rendah.
 
Article
Kimia memiliki beberapa jenis konsep dari segi dimensinya, salah satunya adalah keabstrakan. Sistem periodik unsur merupakan salah satu materi dalam kimia yang bersifat abstrak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penguasaan konsep siswa kelas X MIPA 7 SMA Negeri 1 Palangka Raya. Subjek penelitian ini adalah 28 siswa kelas X MIPA 7 SMA Negeri 1 Palangka Raya tahun ajaran 2018/2019 yang sudah menerima pembelajaran sistem periodik unsur. Data penelitian ini berupa dokumen RPP yang didapat dari guru yang bersangkutan, data penguasaan konsep yang didapat melalui tes uraian sistem periodik unsur berjumlah 11 butir soal dari 3 indikator dan data hasil wawancara siswa. Data-data yang diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa profil penguasaan konsep siswa pada topik sistem periodik unsur yaitu sebesar 61,7% dan berada pada kategori sedang. Penguasaan konsep siswa terbagi kedalam 2 kategori yaitu tinggi dan sedang. Sebanyak 5 siswa berada pada kategori tinggi, dan sebanyak 23 siswa berada pada kategori sedang. Siswa mampu menjelaskan perkembangan sistem periodik unsur menurut Triade Dӧbereiner, Oktaf Newlands, Mendeleev, dan Moseley dengan penguasaan konsep sebesar 37,5% dan berada pada kategori rendah. Siswa mampu menentukan letak suatu unsur di dalam tabel periodik berdasarkan konfigurasi elektron dengan penguasaan konsep sebesar 100% dan berada pada kategori tinggi. Siswa mampu menentukan sifat periodik suatu unsur berdasarkan sifat keperiodikan unsur seperiode dengan penguasaan konsep sebesar 56,8% dan berada pada kategori sedang.
 
Article
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan pengaruh pemberian tuntunan penyelesaian latihan soal dalam pembelajaran langsung terhadap pemahaman konsep perhitungan pemhaman konsep pereaksi pembatas pada siswa kelas X MIA SMA Negeri 4 Palangka Raya tahun ajaran 2018/2019. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Melalui penelitian ini, peneliti melakukan eksperimen dengan menentukan sampel untuk kelas kontrol dan kelas eksperimen, dalam penelitian ini melibatkan 65 siswa kelas X MIA SMA Negeri 4 Palangka Raya tahun ajaran 2018/2019. Instrumen yang digunakan berupa soal tes pemahaman kosep yaitu tes I dan tes II, dan latihan soal dengan tuntunan penyelesaian yang dikemas dalam bentuk lembar kerja yang berisi langkah-langkah penyelesaian soal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahawa terdapat perubahan pemahaman konsep siswa yang menerima pembelajaran menggunakan latihan soal dengan tuntunan penyelesaian. Hasil uji hipotesis thitung = 1,72 dan ttabel = 1,67 dengan db = n1 + n2 - 2 = 65 dengan taraf signifikan 5%, artinya hasil thitung > ttabel sehingga Ho ditolak dan Ha diterima, sehingga dapat ditarik kesimpulannya pemberian tuntunan penyelesaian latihan soal dalam pembelajaran langsung berpengaruh terhadap pemahaman konsep pereaksi pembatas pada siswa kelas X MIA SMA Negeri 4 Palangka Raya tahun ajaran 2018/2019.
 
Article
Ada dua strategi belajar yang dapat digunakan siswa dalam mempelajari pengetahuan yaitu menggunakan strategi berpikir deduktif maupun induktif. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan pemahaman konsep tata nama senyawa biner dan poliatomik pasca pembelajaran menggunakan LKS-deduktif dan LKS-induktif pada siswa kelas X SMA Negeri 2 Palangka Raya tahun ajaran 2018/2019. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dan melibatkan 78 siswa dari dua kelas X SMA Negeri 2 Palangka Raya, yaitu siswa kelas X IPA 3 (kelas deduktif) sebanyak 40 orang siswa dan siswa kelas X IPA 7 (kelas induktif) sebanyak 38 orang siswa. Instrumen yang digunakan berupa LKS-deduktif, LKS-induktif dan soal tes pemahaman konsep. Data tes diperoleh setelah melakukan pembelajaran menggunakan LKS-deduktif dan LKS-induktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa “pemahaman konsep tata nama senyawa biner dan poliatomik pasca pembelajaran menggunakan LKS-deduktif dan LKS-induktif pada siswa kelas X SMA Negeri 2 Palangka Raya tahun ajaran 2018/2019 tergolong baik. Rata-rata pemahaman konsep siswa yang menggunakan LKS-deduktif sedikit lebih tinggi dibandingkan siswa yang menggunakan LKS-induktif. Hasil tersebut disebabkan karena siswa terbiasa menggunakan strategi belajar deduktif.”
 
Article
Sifat koligatif larutan adalah sifat larutan yang hanya bergantung pada konsentrasi pertikel zat terlarutnya. Konsep sifat koligatif dalam silabus KTSP dan K2013 memuat urutan topik yang sama, yakni PTUL, KTDL, PTBL, dan TOL. Urutan sub topik tersebut perlu diteliti berdasarkan pemahaman siswa menggunakan metode korelasi berdasarkan nilai korelasi hasil tes kemampuan siswa kelas XII-IPA. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan korelasi urutan sub topik dalam pokok bahasan sifat koligatif larutan pada siswa berdasarkan nilai koefisien korelasi, nilai rata-rata tes (mean) hasil tes kemampuan ,dan jenis kelamin siswa pada kelas XII-IPA SMA Negeri Palangka Raya tahun ajaran 2018/2019. Data kemampuan siswa dijaring menggunakan Tes Kemampuan Sifat Koligatif Larutan (Tes KSKL). Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil Penelitian menunjukkan urutan sub topik berdasarkan nilai korelasi adalah PTBL, KTDL, TOL, dan PTUL; berdasarkan rata-rata tes (mean) adalah KTDL, PTBL, TOL, dan PTUL; dan berdasarkan jenis kelamin pada siswa laki-laki adalah KTDL, PTBL, TOL, dan PTUL serta pada siswa perempuan adalah KTDL, PTBL, PTUL, dan TOL.
 
Article
Konsep kimia unsur golongan VII A (halogen) merupakan pokok bahasan di Universitas pada mata kuliah kimia dasar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesulitan mahasiswa dalam memahami konsep kimia unsur golongan VII A (halogen) pada Mahasiswa Program Studi Pendidikan Kimia Universitas Palangka Raya tahun akademik 2018/2019. Subjek penelitian yaitu 111 mahasiswa Program Studi Pendidikan Kimia Universitas Palangka Raya. Pengambilan data dilakukan dalam satu kali pertemuan pada tiap semester yang berbeda. Data dijaring menggunakan instrumen wacana kimia unsur halogen (WKUH) dan wawancara. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep kimia unsur golongan VII A (halogen). Rerata persentase kesulitan mahasiswa dalam memahami konsep mengidentifikasi sifat kereaktifan, sifat keperiodikan, sifat kelarutan, sifat oksidator dan reduktor, sifat asam-basa, dan mendeskripsikan cara pembuatan, manfaat, dan bahaya unsur golongan VII A (halogen) sebesar 61,94%, 48,38%, 64,19%, 60%. 68,32%, 52,31%.
 
Article
Pengaruh penambahan ion senama terhadap kelarutan adalah salah satu dari pokok bahasan dalam mata pelajaran kimia kelas XI SMA dengan sub bab utama hasil kali kelarutan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesulitan siswa kelas XI IPA SMA Negeri di Kota Palangka Raya Tahun Ajaran 2018/2019 dalam memahami konsep pengaruh penambahan ion senama terhadap kelarutan. Penelitian ini termasuk dalam penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Subjek penelitian ini melibatkan 190 siswa dari tiga sekolah yang masing-masing di ambil sebanyak dua kelas. Teknik pengambilan data dilakukan dengan TPKIS menggunakan intrumen tes uraian yang terdiri dari empat butir soal dengan tiga indicator. Didukung dengan sesi wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata kesulitan yang dialami siswa kelas XI IPA SMA Negeri di Kota Palangka Raya dalam memahami konsep pengaruh penambahan ion senama terhadap kelarutan sebesar 54,78% Presentase kesulitan dalam setiap indikator meliputi; kesulitan siswa dalam pengaruh penambahan ion senama terhadap kelarutan sebesar 53,29%, kesulitan siswa dalam pengaruh penambahan ion senama terhadap kelarutan asam dengan konsentrasi yang berbeda sebesar 54,21%, dan kesulitan siswa dalam pengaruh penambahan ion senama dan air murni dalam larutan yang mudah larut sebesar 56,84%.
 
Article
Stoikiometri atau perhitungan kimia membahas beberapa konsep, salah satunya adalah pereaksi pembatas. Siswa mempelajari materi pereaksi pembatas perlu memahami dan menguasai konsep prasyarat yakni rumus kimia, persamaan kimia dan konsep mol. Akar penyebab rendahnya kemampuan penalaran konsep pereaksi pembatas dapat bersumber dari guru, siswa dan lingkungan. Berdasarkan beberapa hal itu diperlukan strategi pembelajaran yang tepat di mana guru tidak menyajikan materi yang bersifat abstrak tetapi membimbing siswa berpikir dalam melakukan penalaran untuk memperoleh pengetahuan baru. Salah satunya dengan menggunakan Lembar Kerja Siswa (LKS). Pembelajaran yang menggunakan LKS-induktif untuk dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa secara optimal dan sekaligus memotivasi siswa untuk berpikir kritis. Pembelajaran menggunakan LKS-induktif berpengaruh terhadap kemampuan siswa dalam memahami konsep pereaksi pembatas. Penelitian ini bertujuan untuk: mendeskripsikan hasil belajar berbantuan LKS-Induktif dalam pembelajaran kimia terhadap pemahaman konsep pereaksi pembatas. Penelitian ini melibatkan 68 siswa kelas X MIPA-5 dan X MIPA-7 SMA Negeri 1 Palangka Raya. Instrumen yang digunakan adalah lembar soal pretes dan postes, lembar isian jawaban latihan pada LKS-Induktif. Data dikumpulkan melalui tiga tahap yaitu pretes, pelaksanaan pembelajaran berbantuan LKS-Induktif, dan postes. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa mampu: (a) menerapkan konsep prasyarat sebesar 88%; (b) memahami definisi pereaksi pembatas sebesar 78,2%; dan (c) menentukan pereaksi pembatas yang dikonversi dari massa, volume, atau jumlah partikel zat yang diketahui sebesar 71,87%.
 
Article
Sel elektrolisis merupakan ilmu yang mempelajari proses perubahan energi listrik menjadi energi kimia. Sel elektrolisis khususnya sangat berkaitan dengan kehidupan sehari-hari sehingga menjadi salah satu hal penting dalam bidang kimia, namun konsep ini sendiri memiliki tingkat keabstrakan yang cukup tinggi. Keabstrakan ini merupakan salah satu penyebab siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep kimia. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesulitan siswa kelas XII MIA SMA Negeri di kota Palangka Raya tahun ajaran 2018/2019 dalam memahami konsep sel elektrolisis yang ditelusuri menggunakan instrumen two tier multiple choice. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XII MIA yang berjumlah 265 siswa. Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2018/2019. Data kesulitan siswa dijaring menggunakan Tes Pemahaman Konsep Sel Elektrolisis (TPKSE) dan dilakukan wawancara terhadap siswa yang mengalami kesulitan. Data yang telah diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa presentase jumlah siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami konsep elektrolisis sebesar 68,39%.
 
Article
Banyak siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep sistem koloid. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan perbedaan pemahaman konsep sistem koloid antara pembelajaran menggunakan peta konsep dengan peta pikiran pada siswa kelas XI MIPA MAN kota Palangka Raya tahun ajaran 2018/2019. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Sampel pada penelitian adalah siswa kelas XI MIPA MAN Kota Palangka Raya sebanyak 52 siswa. Instrumen yang digunakan berupa tes pemahaman konsep (pretes, postes) dan lembar kerja siswa. Hasil analisis data dengan menggunakan uji Mann Whitney menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pemahaman konsep sistem koloid antara siswa yang belajar menggunakan peta konsep dengan siswa yang belajar menggunakan peta pikiran. Rata-rata nilai postes siswa kelas peta konsep (85,40%) lebih tinggi dari pada rata-rata nilai postes kelas peta pikiran (71,53%).
 
Article
Fokus utama dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan tingkat Kualitas Soal Penilaian Akhir Semester (PAS) Buatan Guru Mata Pelajaran Kimia Kelas XI IPA SMA di Kabupaten Barito Timur pada Semester Ganjil Tahun Ajaran 2018/2019. Objek dalam penelitian ini adalah soal buatan guru berbentuk uraian dan jawaban siswa hasil Penilaian Akhir Semester (PAS) mata pelajaran Kimia kelas XI IPA SMA A, kelas XI IPA SMA B, dan Kelas XI IPA SMA C, pada semester ganjil tahun ajaran 2018/2019. Teknik pengumpulan data penelitian ini menggunakan metode dokumentasi, yang dianalisis menggunakan logical review dan empirical review. Hasil penelitian menunjukkan kualitas soal PAS buatan guru kimia ditinjau dari analisis logical review diperoleh tingkat kesesuaian soal dengan Kompetensi Dasar sebesar 68%. Aspek konstruksi soal sebesar 69,16% dengan kriteria soal tergolong sedang. Aspek materi soal sebesar 98,33% dengan kriteria sangat baik. Aspek bahasa soal sebesar 76,67% dengan kriteria cukup baik. Distribusi jenjang ranah kognitif taksonomi bloom adalah C1 sebesar 24%, C2 sebesar 60%, C3 sebesar 60%, C4 sebesar 4%. Kualitas soal PAS buatan guru kimia ditinjau dari analisis empirical review diperoleh rata-rata soal yang baik berdasarkan indeks kesukaran dan indeks daya beda sebesar 68% atau 17 soal dari 25 soal yang dianalisis memenuhi acuan kriteria empirical review. Uji reliabilitas yang diperoleh memiliki korelasi yang tinggi yaitu sebesar 0,85.
 
Article
Mengacu pada kurikulum 2013, pembelajaran menggunakan LKS adalah salah satu cara guru untuk berperan sebagai fasilitator dalam pembelajaran kimia. Larutan penyangga merupakan pengetahuan konseptual, sehingga LKS dapat dirancang dengan alur berpikir induktif dan deduktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan penguasaan siswa pada konsep kerja larutan penyangga hasil pembelajaran menggunakan LKS-induktif dan deduktif. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain ‘Pretes-Postes Control Group’. Dua kelompok kelas dipilih sebagai sampel yang diambil dengan teknik Cluster Random Sampling. Satu kelas disebut sebagai kelas induktif yaitu kelas yang diberi perlakuan belajar menggunakan LKS-induktif dan satu kelas disebut sebagai kelas deduktif yaitu kelas yang diberi perlakuan belajar menggunakan LKS-deduktif. Data penguasaan siswa dijaring menggunakan soal tes dalam bentuk soal uraian terbatas. Uji hipotesis dilakukan menggunakan uji statistik nonparametrik yaitu uji Mann Whitney U Test. Hasil uji Mann Whitney U Test pada taraf signifikasi 5% menggunakan program SPSS versi 25 adalah 0.856 (0.856 > 0.05), sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan penguasaan konsep kerja larutan penyangga hasil pembelajaran menggunakan LKS-induktif dan deduktif pada siswa kelas XI MIPA SMA Negeri 2 Palangka Raya tahun ajaran 2018/2019.
 
Article
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pengaruh pemberian LKS latihan soal terstruktur terhadap pemahaman konsep isomer senyawa hidrokarbon pada siswa kelas XI-IPA SMA Negeri 4 Palangka Raya tahun ajaran 2018/2019. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan desain penelitian Pretest Posttest Control Group Design dan melibatkan sebanyak 56 siswa dari dua kelas XI IPA SMA Negeri 4 Palangka Raya sebagai sampel yang ditentukan dengan teknik Cluster random sampling, yaitu siswa kelas XI IPA-1 (kelas eksperimen) sebanyak 29 orang siswa dan siswa kelas XI IPA-2 (kelas kontrol) sebanyak 27 orang siswa. Instrumen yang digunakan berupa soal tes pemahaman konsep C-1 yang dimuat dalam tes I, tes II, LKS latihan soal terstruktur dan LKS latihan soal. Data tes I diperoleh setelah pembelajaran langsung dan data tes II diperoleh setelah pembelajaran menggunakan LKS latihan soal terstruktur dan LKS latihan soal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian LKS latihan soal terstruktur berpengaruh terhadap pemahaman konsep isomer senyawa hidrokarbon pada siswa kelompok bawah kelas XI IPA SMA Negeri 4 Palangka Raya tahun ajaran 2018/2019. Rata-rata pemahaman konsep siswa kelas eksperimen (85,60) lebih tinggi dari kelas kontrol (59,25). LKS latihan soal terstruktur memberikan pengaruh terhadap siswa kelompok bawah dan siswa kelompok atas.
 
Article
Penelitian merupakan penelitian deskriptif, dilaksanakan di SMA Negeri 3 Palangka Raya pada 28 siswa di kelas XI MIPA 1 SMAN 3 Palangka Raya Tahun ajaran 2018/2019. Data penelitian dijaring melalui tes, yakni 5 tahapan pembelajaran, yakni pra LKS, LKS, pasca LKS, diskusi, dan pasca diskusi. Berdasarkan hasil penelitian, pengaruh penggunaan LKS terhadap pemahaman siswa dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) Indikator 1 mengidentifikasi sifat-sifat larutan penyangga skor rata-rata siswa 7,14% pada tahap pra LKS, meningkat menjadi 60,71% pada tahap pasca LKS. (2) Indikator 2 skor rata-rata siswa 42,86% pada tahap pra LKS, meningkat menjadi 86,61% pada tahap pasca LKS. (3) Indikator 3 skor rata-rata siswa 39,29% pada tahap pra LKS, meningkat menjadi 100% pada tahap pasca LKS. (5) Indikator 4 skor rata-rata siswa 26,79% pada tahap pra LKS, pada tahap pasca LKS meningkat menjadi 79,46%.
 
Article
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan korelasi antar sub pokok bahasan termokimia berdasarkan nilai koefisien korelasi dan korelasi antar sub pokok bahasan termokimia berdasarkan nilai rata-rata (mean) hasil tes. Penelitian ini merupakan penelitian deskripstif yang menggunakan pendekatan kuantitatif dan termasuk dalam jenis penelitian korelasional. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI MIPA SMA Negeri 1 Palangka Raya, SMA Negeri 2 Palangka Raya, dan SMA Negeri 4 Palangka Raya tahun ajaran 2018/2019 dengan total 514 siswa. Data yang digunakan berupa data kemampuan siswa terhadap konsep termokimia yang ditunjukkan dengan ketercapaian indikator. Data dijaring melalui tes menggunakan soal pilihan ganda (TKT) sebanyak 32 soal. Data tes kemampuan siswa berupa jawaban dianalisis menggunakan metode korelasi dan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa urutan penyajian sub pokok bahasan termokimia berdasarkan nilai koefisien korelasi, yaitu: (1) energi ikatan (ENIKA), (2) kalor dan perubahan entalpi reaksi (KPER), (3) persamaan temokimia (PETER), (4) perubahan entalpi standar untuk berbagai reaksi (PESBR), dan (5) penentuan perubahan entalpi reaksi (PENER).Urutan penyajian sub pokok bahasan berdasarkan nilai rata-rata (mean) hasi tes siswa, yaitu: (1) kalor dan perubahan entalpi reaksi (KPER), (2) persamaan termokimia (PETER), (3) penentuan perubahan entalpi reaksi (PENER), (4) perubahan entalpi standar untuk berbagai reaksi (PESBR), dan (5) energi ikatan (ENIKA). Urutan penyajian di atas berbeda dengan urutan berdasarkan silabus.
 
Article
Siswa mengalami kesulitan dalam memahami hukum-hukum gas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kesulitan siswa memahami hukum-hukum gas pada kelas XI IPA SMA Negeri Kota Palangka Raya tahun ajaran 2018/2019. Penelitian ini merupakan penelitian deskripstif. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI MIPA SMA Negeri 1, 2, dan 3 Palangka Raya dengan total 173 siswa. Data dijaring menggunakan tes tertulis dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam memahami hukum-hukum gas yang meliputi konsep: (1) penentuan volume gas hasil reaksi gas dengan perbandingan koefisien pereaksi gas yang sama tetapi perbandingan volume gas pereaksi berbeda mencapai 68,20%; (2) penentuan volume gas hasil reaksi dengan perbandingan koefisien dan volume gas pereaksi yang sama mencapai 65,89%; (3) penentuan jumlah molekul, tekanan awal, tekanan akhir, volume awal dan volume akhir suatu gas dari dua keadaan berbeda menggunakan persamaan gas ideal masing-masing mencapai 32,94%; 21,38%; 53,17%; 15,60%; dan 74,56%.
 
Article
Soal yang digunakan pada Penilaian Akhir Semester (PAS) merupakan soal-soal buatan guru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan tingkat Kualitas Soal Penilaian Akhir Semester (PAS) Buatan Guru Mata Pelajaran Kimia Kelas XI MIA SMA di Kabupaten Kotawaringin Barat Pada Semester Ganjil Tahun Ajaran 2018/2019. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif. Objek dalam penelitian ini adalah soal buatan guru dan jawaban siswa hasil Penilaian Akhir Semester (PAS) mata pelajaran Kimia kelas XI MIA SMA A, kelas XI MIA SMA B, kelas XI MIA SMA C, dan Kelas XI MIA SMA D, pada semester ganjil tahun ajaran 2018/2019. Teknik pengumpulan data penelitian ini adalah metode dokumentasi. Analisis data dilakukan secara logical review dan empirical review. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil analisis logical review diperoleh tingkat kesesuaian soal dengan kompetensi dasar tergolong baik dengan persentase sebesar 86,67%. Ditinjau dari aspek materi, konstruksi, dan bahasa tingkat kesesuaian soal baik dengan persentase sebesar 85,63%. Distribusi jenjang ranah kognitif taksonomi Bloom adalah C1 sebesar 22,67%, C2 sebesar 43,33%, C3 sebesar 34%, C4 sebesar 0%, C5 sebesar 0%, dan C6 sebesar 0%. Kualitas soal PAS kimia kelas XI MIA buatan guru ditinjau dari empirical review diperoleh berdasarkan indeks daya beda, indeks kesukaran dan efektivitas distraktor. Secara empirical review, jumlah soal dengan kualitas sangat baik terdapat 35 (23,33%) soal, soal dengan kualitas baik terdapat 55 (36,67%) soal, soal dengan kualitas tidak baik terdapat 57 (38%) soal, dan soal dengan kualitas sangat tidak baik terdapat 3 (2%) soal.
 
Article
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pengaruh pemberian latihan soal terstruktur setelah pembelajaran langsung terhadap pemahaman konsep Ikatan kovalen pada Siswa Kelas X IPA SMA Negeri 4 Palangka Raya Tahun Ajaran 2018/2019. Penelitian ini melibatkan sebanyak 70 orang siswa kelas X IPA SMA Negeri 4 Palangka Raya Tahun Ajaran 2018/2019. Instrumen yang digunakan berupa soal tes I, soal tes II, latihan soal terstruktur dan latihan soal tak terstruktur. Data tes I diperoleh setelah pembelajaran langsung dan data tes II diperoleh setelah pembelajaran menggunakan latihan soal terstruktur pada kelas eksperimen dan latihan soal tak terstruktur pada kelas control. Hasil uji statistik menggunakan uji-t pada taraf signifikan 5%, menunjukkan bahwa latihan soal terstruktur berpengaruh terhadap pemahaman siswa kelas X IPA SMA Negeri 4 Palangka Raya tentang konsep ikatan kovalen lebih baik dari siswa yang menggunakan latihan soal tak terstruktur.
 
Article
Struktur Lewis adalah sub materi yang ada pada materi ikatan kimia yang kurang dikuasai siswa, sehingga diperlukan adanya tes diagnostik untuk mengungkap kesulitan yang dialami siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesulitan siswa kelas X MIA SMA Negeri di Kota Palangka Raya tahun ajaran 2018/2019 dalam memahami konsep struktur Lewis yang ditelusuri menggunakan instrumen two tier multiple choice. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X MIA dari SMA Negeri 1 Palangka Raya, SMA Negeri 3 Palangka Raya dan SMA Negeri 4 Palangka Raya dengan jumlah total subjek penelitian adalah 346 siswa. Penelitian ini dilaksanakan pada tahun ajaran 2018/2019. Kesulitan siswa dijaring menggunakan Tes Pemahaman Konsep Struktur Lewis (TPKSL) dalam bentuk soal pilihan ganda beralasan (Two Tier Multiple Choice) dan wawancara untuk mengonfirmasi kesulitan yang dialami oleh siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesulitan siswa pada SMA Negeri di Kota Palangka Raya dalam memahami konsep struktur Lewis dengan persentase kesulitan terkecil hingga terbesar adalah menentukan konfigurasi elektron sebesar 65,59%, menentukan elektron valensi sebesar 67,33%, menentukan lambang Lewis sebesar 67,33%, dan menentukan struktur Lewis 69,37%.
 
Article
Soal yang digunakan pada Penilaian Akhir Semester (PAS) merupakan soal-soal buatan guru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan tingkat kualitas soal Penilaian Akhir Semester (PAS) buatan guru Mata Pelajaran Kimia Kelas X IPA SMA di Kabupaten Seruyan pada Semester Ganjil Tahun Ajaran 2018/2019. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Objek dalam penelitian ini adalah soal buatan guru dan jawaban siswa hasil Penilaian Akhir Semester (PAS) mata pelajaran Kimia kelas X IPA SMA A, kelas X IPA SMA B, dan kelas X IPA SMA C pada semester ganjil tahun ajaran 2018/2019. Teknik pengumpulan data penelitian ini adalah metode dokumentasi. Analisis data dilakukan secara deskriptif berupa logical review dan empirical review. Hasil penelitian menunjukkan bahwa logical review diperoleh tingkat kesesuaian soal dengan kompetensi dasar sebesar 93,3%. Kesesuaian soal dengan aspek materi, konstruksi, dan bahasa pada X IPA rata-rata sebesar 93,29%. Distribusi jenjang ranah kognitif taksonomi Bloom yang terukur pada tiga set soal dari tiga SMA yang berada di Kabupaten Seruyan adalah C1 sebanyak 59 (67%) soal, C2 sebanyak 33 (29,5%) soal, C3 sebanyak 13 (35,5%) soal, C4 sebanyak 0%, C5 sebanyak 0%, dan C6 sebanyak 0%. Analisis secara empirical review menghasilkan data reliabilitas, indeks daya beda, indeks tingkat kesukaran, dan efektifitas distraktor. Berdasarkan aspek-aspek tersebut kualitas soal PAS berdasarkan indeks daya beda, indek tingkat kesukaran dan distraktor diperoleh 79 (60,6%) soal berkualitas baik dan 36 (38,8%) soal berkualitas sangat tidak baik.
 
Article
Struktur atom merupakan salah satu materi pelajaran kimia yang diajarkan di SMA/MA. Materi ini dipelajari dikelas X SMA tentang perkembangan teori atom, partikel dasar penyusun atom, konfigurasi elektron, serta bilangan kuantum. Konsep ini merupakan konsep dasar ilmu kimia untuk memahami ikatan kimia. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan profil penguasaan konsep Struktur Atom pada siswa kelas X SMA. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif yang dilaksanakan di SMA Negeri 4 Palangka Raya dengan subjek penelitian adalah 30 siswa kelas X MIPA-1. Data yang digunakan pada penelitian ini berupa dokumen RPP guru kimia yang bersangkutan, data penguasaan konsep siswa yang didapat melalui tes uraian, dan data hasil wawancara siswa. Hasil penelitian menunjukkan 1) rata-rata sebesar 62,16% berada pada kategori sedang. 2) Siswa dapat menjelaskan perkembangan teori atom untuk menunjukkan kelebihan dan kekurangan masing-masing teori atom dengan rata-rata penguasaan konsep sebesar 68,75% dengan kategori sedang. 3) Siswa dapat menentukan partikel dasar (proton, elektron, dan neutron) suatu atom berdasarkan nomor atom dan nomor massa dengan rata-rata penguasaan konsep sebesar 61,47% dengan kategori sedang. 4) Siswa dapat mengklasifikasi unsur ke dalam isotop, isobar, dan isoton dengan rata-rata penguasaan konsep sebesar 88,88% dengan kategori tinggi. 5) Siswa dapat menentukan bilangan kuantum pada elektron terluar dari suatu unsur atau ion dengan rata-rata penguasaan konsep sebesar 21,04% dengan kategori rendah.
 
Article
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengaruh pemberian latihan soal terstruktur setelah pembelajaran langsung terhadap pemahaman konsep Ikatan ion pada siswa kelas X IPA SMA Negeri 4 Palangka Raya tahun ajaran 2018/2019. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan desain penelitian non ekuivalen pretest-posttest control group design dan melibatkan sebanyak 72 siswa dari dua kelas X IPA SMA Negeri 4 Palangka Raya sebagai sampel yang ditentukan dengan teknik cluster random sampling, yaitu siswa kelas X IPA-2 (kelas eksperimen) sebanyak 36 orang siswa dan siswa kelas X IPA-4 (kelas kontrol) sebanyak 36 orang siswa. Instrumen yang digunakan berupa soal tes pemahaman konsep (tes I dan tes II), latihan soal terstruktur, dan latihan soal tak terstruktur. Data tes I diperoleh setelah pembelajaran langsung dan data tes II diperoleh setelah pembelajaran menggunakan latihan soal terstruktur dan latihan soal tak terstruktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa “pemberian latihan soal terstruktur berpengaruh terhadap pemahaman konsep siswa tentang ikatan ion setelah pembelajaran langsung pada siswa kelas X IPA SMA Negeri 4 Palangka Raya Tahun Ajaran 2018/2019”.
 
Article
Banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami konsep mol. Berdasarkan hal tersebut, tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pengaruh pemberian tuntunan penyelesaian latihan soal dalam pembelajaran langsung terhadap pemahaman konsep mol pada siswa kelas X MIPA MAN Kota Palangka Raya tahun ajaran 2018/2019. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, pada penelitian melibatkan siswa kelas X MIPA MAN Kota Palangka Raya sebanyak 62 siswa. Instrumen yang digunakan berupa tes I, tes II, dan latihan soal dengan tuntunan penyelesaian. Hasil uji statistik menggunakan uji-t menunjukkan bahwa thitung (1,72) lebih besar dari ttabel (1,67) pada taraf signifikan 5%, artinya terdapat pengaruh terhadap pemahaman konsep mol hasil pembelajaran langsung menggunakan latihan soal dengan tuntunan penyelesaian pada siswa kelas X MIPA MAN Kota Palangka Raya Tahun Ajaran 2018/2019. Rata-rata nilai tes II kelas eksperimen (82,67) lebih tinggi dari kelas kontrol (77,50).
 
Article
Penelitian merupakan penelitian deskriptif, dilaksanakan di SMA Negeri 5 Palangka Raya pada 80 siswa di kelas XI IPA-1 SMA Negeri 5 Palangka Raya Tahun ajaran 2018/2019. Data penelitian didapat melalui tes uraian siswa dan wawancara siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kosepsi siswa tertinggi terletak pada konsepsi siswa tantang pengertian senyawa hidrokarbon yaitu sebesar 63,75% dan berada pada kategori tuntas. Konsepsi siswa tentang memberikan nama senyawa hidrokarbon alkana, alkena dan alkuna ialah 34,6% siswa masuk kategori tidak mengerti. Konsepsi siswa tentang membedakan atom C primer, sekunder, tersier dan kuartener ialah 33,125% masuk kategori tuntas dan konsepsi siswa terendah tentang mengelompokan senyawa hidrokarbon berdasarkan kejenuhan ikatan ialah 30% siswa masuk kategori tuntas. Penguasaan konsepsi siswa terbagi kedalam (empat) kategori yaitu tidak mengerti, tuntas sebagian, mendekati tuntas dan tuntas. Banyak siswa menjawab dengan benar pengertian senyawa hidrokarbon dan menjawab dengan benar perbedaan atom C primer, sekunder, tersier dan kuartener. Banyak siswa tidak mampu menjawab dengan benar mengelompokan senyawa hidrokarbon berdasarkan kejenuhan ikatan dan memberikan nama pada senyawa hidrokarbon.
 
Article
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan tingkat kualitas soal PAS buatan guru mata pelajaran kimia kelas X SMK Jurusan Teknologi dan Rekayasa di Kabupaten Kotawaringin Timur pada semester ganjil tahun ajaran 2018/2019. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif. Subjek penelitian adalah soal buatan guru dan jawaban siswa hasil ulangan akhir semester. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis logical review dan empirical review. Hasil penelitian analisis logical review tingkat kesesuaian butir soal dengan indikator dalam silabus K13 sebesar 97,48%, dengan aspek materi, konstruksi dan bahasa sebesar 98,72%. Distribusi tingkat kognitif taksonomi bloom 52 (55%) soal kognitif C1, 23 (24%) soal kognitif C2, 17 (18%) soal kognitif C3, 3 (3%) soal tingkat C4, kesesuaian dengan kompetensi dasar sebesar 69,5%. Analisis secara empirical review reliabilitas 0,570 (cukup), daya beda 75,7% soal baik, tingkat kesukaran butir soal 43,3% kategori sedang dan efektifitas distraktor 76,42% efektif.
 
Article
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan pengaruh pemberian tuntunan penyelesaian latihan soal dalam pembelajaran langsung terhadap pemahaman konsep hukum perbandingan tetap (Hukum Proust) pada Siswa Kelas X SMA Negeri 4 Kota Palangka Raya tahun ajaran 2018/2019. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Peneliti melakukan eksperimen dengan menentukan sampel untuk kelas kontrol dan kelas eksperimen. Subjek penelitian adalah 71 siswa kelas X SMA Negeri 4 Kota Palangka Raya tahun ajaran 2018/2019. Instrumen yang digunakan berupa tes pemahaman konsep (tes I dan tes II) berbentuk esai berjumlah 4 soal dan latihan soal dengan tuntunan penyelesaian yang dikemas dalam bentuk lembar soal yang berisi langkah-langkah penyelesaian soal. Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan uji-t menunjukkan bahwa terdapat perbedaan peningkatan pemahaman konsep hukum perbandingan tetap hasil pembelajaran menggunakan latihan soal dengan tuntunan penyelesaian dengan menggunakan latihan soal tanpa tuntunan penyelesaian pada siswa kelas X SMA Negeri 4 Palangka Raya. Rata-rata peningkatan pemahaman konsep pada n-gain kelas eksperimen (73,48%) lebih tinggi dari kelas kontrol (54,57%).
 
Article
Materi larutan merupakan materi yang sulit bagi kebanyakan siswa, salah satunya materi hidrolisis garam. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan siswa memperoleh dan memahami konsep hidrolisis garam dari asam kuat dan basa lemah dalam pembelajaran menggunakan LKS berbasis belajar penemuan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Subyek penelitian adalah siswa kelas XI MIPA SMA Negeri 2 Palangka Raya tahun ajaran 2018/2019 yang berjumlah 36 siswa. Instrumen yang digunakan berupa soal tes pemahaman konsep (pretes dan postes) dan LKS berbasis belajar penemuan. Data dikumpulkan melalui tiga tahap, yakni pretes, pelaksanaan pembelajaran, dan postes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam memperoleh konsep hidrolisis garam dari asam kuat dan basa lemah dalam pembelajaran menggunakan LKS berbasis belajar penemuan tercermin dari jumlah siswa yang memperoleh konsep, yaitu rata-rata sebesar 82,64%. Pemahaman konsep siswa tentang hidrolisis garam dari asam kuat dan basa lemah dalam pembelajaran menggunakan LKS berbasis belajar penemuan rata-rata sebesar 89,81%.
 
Article
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan pemecahan masalah matematika turunan dan integral mahasiswa pendidikan teknik bangunan. Masalah yang sering didapatkan pada pengajar adalah masih menggunakan metode konvensional sehingga mahasiswa merasa bosan dan tidak bergairah untuk belajar. Penggunaan model yang dapat membuat mahasiswa lebih tertarik memerhatikan pembelajaran dan meningkatkan kemampuan pemecahan masalah. salah satunya adalah Guided Discovery Learning yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan model Guided Discovery Learning pada mahasiswa pendidikan teknik bangunan, mengetahui gambaran kemampuan pemecahan masalah matematika turunan dan integral, dan mengetahui pengaruh penerapan model Guided Discovery Learning terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika turunan dan integral mahasiswa pendidikan teknik bangunan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian Quasi Expermental Design. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah Guided Discovery Learning sedangkan variabel terikatnya adalah kemampuan pemecahan masalah. Jumlah populasi yaitu 20 mahasiswa pendidikan teknik bangunan tahun 2020/2021. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, tes, dan dokumentasi. Data dikumpulkan dengan pemberian pretest, treatment, dan posttest. Teknik analisis data menggunakan uji prasyarat analisis, meliputi uji normalitas, uji homogenitas, dan uji hipotesis dengan analisis akhir menggunakan uji independent sample t test dengan sistem SPSS. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Guided Discovery Learning dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika turunan dan integral pada mahaisiwa pendidikan teknik bangunan.
 
Article
Kesetimbangan Kimia adalah salah satu materi pokok bahasan dalam mata pelajaran kimia kelas XI MIPA pada semester ganjil. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesulitan siswa kelas XI MIPA SMA Negeri Provinsi Kalimantan Tengah tahun ajaran 2020/2021 dalam memahami konsep kesetimbangan kimia. Penelitian ini termasuk dalam penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Subjek penelitian ini melibatkan 128 siswa dari empat sekolah, yang masing-masing berasal XI MIPA SMAN 1 Pandih Batu Kabupaten Pulang Pisau, XI MIPA SMAN 1 Mentaya Hilir Utara Kabupaten Kotawaringin Timur, XI MIPA SMAN 1 Katingan Tengah Kabupaten Katingan, dan XI MIPA SMAN 1 Sepang Kabupaten Gunung Mas. Teknik pengambilan data dilakukan dengan tes pemahaman konsep Kesetimbangan Kimia menggunakan instrumen tes uraian 5 butir soal dengan empat konsep yaitu harga Kp berdasarkan harga Kc dan Suhu (oC), derajat disosiasi, harga Kc, dan harga Kp. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata kesulitan yang dialami siswa kelas XI MIPA SMAN di Provinsi Kalimantan Tengah dalam memahami konsep kesetimbangan kimia sebesar 42,18%. Dengan pola-pola jawaban: suhu yang diketahui tidak diubah/dikonversi ke dalam (K); harga Kp berdasarkan Kc produk dibagi dengan pereaksi; menentukan derajat disosiasi mengubah 40% menjadi pecahan adalah 4 dibagi 10 didapatkan hasil 0,5; derajat disosiasi yang diketahui tetap 40% seperti yang diketahui di dalam soal; rumus menentukan derajat disosiasi dengan menambahkan mol-mol zat yang diketahui; mol setimbang sama halnya dengan nilai konsentrasi tiap senyawa dimana mol mula-mula dikurang mol terurai; volume yang diketahui di kali dengan mol mula-mula lalu dibagi dengan mol setimbang yang diketahui pada soal; menghitung mol setimbang reaktan dengan menambah mol mula-mula dan mol terurai; menghitung ntotal = Ptotal + banyaknya senyawa, harga Kp ditentukan dari mol zat yang diketahui pada reaktan di kali volume dibagi α. Kata kunci: Kesulitan; Kesetimbangan Kimia; Kc; Kp; Derajat Disosiasi
 
Article
Menyusun RPP mengacu pada karakteristik peserta didik belum sesuai dengan tuntutan pembelajaran abad 21. Jalan pintas yang dilakukan adalah menggunakan RPP sekolah lain. Akibatnya indikator pencapaian kompetensi (IPK), model pembelajaran, dan penilaian tidak sesuai KD. Penelitian ini bertujuan mengembangkan instrumen telaah RPP dan supervisi pembelajaran berbasis keterampilan abad 21 menggunakan research and development (R & D). Desain model pengembangan instrumen ada tiga, yaitu: 1) studi pendahuluan melalui review instrumen telaah RPP dan supervisi pembelajaran, 2) tahap pengembangan yaitu telaah kesesuaian instrumen, validasi telaah instrumen menurut ahli, menyusun instrumen berdasarkan hasil validasi, dan 3) tahap evaluasi uji kepraktisan instrumen telaah RPP dan supervisi pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) model faktual instrumen telaah RPP dan supervisi pembelajaran di Provinsi Kalimantan Tengah belum memenuhi kesesuaian kegiatan pendahuluan, inti, dan penutup maupun deskripsi dalam RPP, sehingga belum digunakan sebagai acuan guru dalam menyempurnakan RPP; (2) pengembangan instrumen diawali dengan, (a) melakukan kajian literatur sehingga diperoleh 5 (lima) komponen RPP dan tiga tahapan pelaksanaan supervisi, (b) melakukan validasi instrumen menurut ahli meliputi sahih (akurasi), tingkat kepentingan, dan kebermanfaatan dengan rata-rata prosentase mencapai 92,19. Tahap evaluasi yaitu melakukan uji coba kepraktisan instrumen menunjukkan (a) observer menjadi mudah melakukan telaah RPP dan supervisi pembelajaran, (b) membantu guru dalam menyempurnakan RPP sesuai dengan substansi minimal dalam RPP, (c) sekolah memiliki alat ukur telaah RPP dan supervisi pembelajaran, dan (d) Instrumen berbasis excel yang berhasil dikembangkan mengacu keterampilan guru abad 21 dan revolusi industri 4.0.
 
Top-cited authors
Suandi Sidauruk
  • Universitas Palangka Raya
Yossita Wisman
  • Universitas Palangka Raya
Syarpin Syarpin
  • Universitas Palangka Raya