JAS (Jurnal Agri Sains)

Published by Universitas Muara Bungo
Online ISSN: 2581-0227
Publications
Penelitian survey bertujuan untuk mengetahui pendapatan penjual daging ayam broiler di Pasar Sila Kabupaten Bima, dilaksanakan selama dua bulan dari bulan Agustus sampai September 2020. Responden sebanyak 10 orang penjual atau semua pedagang daging ayam broiler di Pasar Sila. Analisa data dalam penelitian ini yaitu semua data hasil penelitian dianalisa deskriptif. Variabel yang diamati meliputi variabel independen yaitu biaya tetap, biaya tidak tetap, penjualan, pendapatan dan Break Even Point/BEP dan variabel dependen yaitu usia, pendidikan, tanggungan keluarga, dan pengalaman berdagang. Hasil penelitian menunjukan bahwa pendapatan penjual daging ayam broiler sesudah pandemi di Pasar Sila Kabupaten Bima masih dalam kondisi baik, sehingga dapat dikatakan bahwa usaha penjual daging ayam broiler berada pada posisi yang menguntungkan dan tidak memberikan dampak signifikan. Pendapatan bersih daging ayam broiler sebelum pandemi yaitu sebanyak Rp.7.300.000/bulan dan pendapatan bersih usaha daging ayam broiler sesudah pandemi yaitu sebanyak Rp. 8.915.000/bulan.BEP harga daging ayam broiler sebelum pandemi yaitu sebanyak Rp. 1.076.510/hari, sedangkan BEP harga daging ayam broiler sesudah pandemi yaitu sebanyak Rp. 1.387.793/hari. Diharapkan kepada pemerintah dan dinas terkait dapat melakukan sosialisasi dan pembaharuan informasi secara rutin yang berkaitan dengan penjualan ayam broiler pada saat pandemi Covid-19 serta diharapkan kepada penjual maupun pembeli di Pasar Sila untuk selalu mematuhi penerapan prokes dalam usaha meminimalisir penularan dan terbentuknya kluster baru Covid-19.ABSTRACTThe survey research aims to determine the income of broiler chicken sellers at Sila Market, Bima Regency, carried out for two months from August to September 2020. The respondents were 10 sellers or all broiler meat traders in Sila Market. Analysis of the data in this study, namely all research data were analyzed descriptively. The observed variables include independent variables, namely fixed costs, variable costs, sales, income and Break Even Poin/BEP and the dependent variables are age, education, family dependents, and trading experience. The results showed that the income of broiler meat sellers after the pandemic at Sila Market, Bima Regency was still in good condition, so it can be said that the broiler meat seller's business was in a profitable position and did not have a significant impact. The net income of broiler chicken before the pandemic was Rp. 7,300,000/month and the net income of broiler meat business after the pandemic is Rp. 8,915,000/month. BEP the price of broiler chicken before the pandemic was Rp. 1,076,510/day, while the BEP price of broiler chicken after the pandemic is Rp. 1,387,793/day. It is hoped that the government and related agencie
 
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesehatan PT. Perkebunan Nusantara IV pada Tahun 2016 sampai 2018. Penilaian tingkat Kesehatan Perusahaan berdasarkan Keputusan Menteri BUMN Nomor: KEP-100/MBU/2002. Berdasarkan surat keputusan tersebut tingkat kesehatan dilihat dari tiga aspek, yaitu: aspek keuangan, aspek operasional dan aspek administratifMetode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif untuk mengetahui tingkat kesehatan keuangan berdasarkan 3 aspek, yaitu aspek keuangan. aspek operasional dan aspek administratif.Secara keseluruhan tingkat kesehatan PT. Perkebunan Nusantara IV berada pada predikat sehat dengan katagori “A”. Namun jika melihat ketiga aspeknya dari tahun 2016-2018, aspek keuangan dan operasional mengalami penurunan sedangakan aspek adeministratif konstan. Pada aspek keaungan Rasio Keuangan ROE, ROI, Rasio Kas dan perputaran total aset yang mengalami penurunan dari total 8 rasio keuangan yang dihitung. Aspek Operasional Tahun 2018 mengalami penuruan dari tahun 2017 ke tahun 2018. Produktivitas Hasil kebun dan Produktivitas Tenaga Kerja pada Kebun Teh mengalami penurunan. Dari nilai 80 menjadi 50 pada produktivitas hasil kebun teh (Daun Teh Basah) dan dari 100 menjadi 50 pada produktivitas tenaga kerja kebun teh (Ton/Orang).Kata Kunci: Tingkat Kesehatan. Keuangan, Operasional, Administrasi
 
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai rasio indikator tingkat ketahanan pangan di Kabupaten Merangin dan menganalisis tingkat ketahanan pangan di Kabupaten Merangin.Penelitian ini menggunakan metode survey instansional. Survey instansional berupa pengambilan data sekunder ke instansi-instansi terkait dengan data yang digunakan untuk mengetahui indeks tingkat ketahanan panganBerdasarkan perhitungan menurut (A Food Security and Vulnerability Atlas) of Indonesia, dari ke 9 Indikator yang telah diteliti terdapat 3 indikator dalam kondisi belum sesuai untuk tingkat ketahanan pangan yaitu, rasio normatif per kapita per hari (0,75) dalam kondisi surplus rendah, persentase rumah tangga dengan proporsi pengeluaran untuk pangan >65% dari total pengeluaran (18%) dalam kondisi buruk, dan juga persentase balita stunting (59%) dalam kondisi rawan. Untuk ke 6 indikator yang sudah sesuai untuk tingkat ketahanan pangan ada penduduk hidup dibawah garis kemiskinan (22,06%) dalam kondisi cukup tahan, persentase penduduk tanpa akses listrik (28%) dalam kondisi cukup tahan, rata-rata pendidikan perempuan usia >15 tahun (32%) dalam kondisi cukup tinggi, persentase rumah tangga tanpa ke air bersih (48%) dalam kondisi tahan, rasio per tenaga kesehatan terhadap kepadatan penduduk (32,6%) dalam kondisi tinggi, dan yang terakhir ada angka harapan hidup (99%) dalam kondisi sangat tinggi. Indeks tingkat ketahanan pangan Kabupeten Merangin pada Tahun 2018 ini termasuk Agak Rawan Pangan (0,52) dan berapa pada prioritas 3. Hal tersebut disebabkan oleh indikator rasio normatif per kapita per hari, indikator pengeluaran rumah tangga dan balita stunting. Jika pada setiap aspek pangan mengalami penurunan peningkatan, tentunya hal tersebut akan berpengaruh pada Indeks Tingkat ketahanan pangan di setiap tahunnya. Kata Kunci : Rasio indikator, indeks tingkat ketahanan pangan dan Kerawanan pangan
 
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kompensasi dan disiplin kerja karyawan pada PT. Perkebunan Nusantara VI Unit Usaha Rimbo Satu Kabupaten Tebo (Studi Pada Bagian Buruh Panen Afdeling III). Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kuantitaif, data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Untuk teknik penelitian, peneliti menggunakan teknik wawancara, kuesioner, dan observasi. Untuk populasi dan sampel berjumlah 49 karyawan bagian buruh panen Afdeling III. Dengan teknik penarikan sampel menggunakan metode sampling jenuh. Kemudian jumlah responden yang mengisi kuesioner sebanyak 46 responden dan 3 kuesioner tidak kembali. Sedangkan pengujian hipotesis menggunakan analisis Korelasi Pearson Product Moment. Berdasarkan hasil pengolahan data adapun hubungan antara kompensasi dan disiplin kerja karyawan adalah rendah. Ini di dapat dari hasil olah data uji analisis Korelasi Pearson Product Moment ( r ) dengan nilai sebesar 0,308 dengan tingkat probabilitas sebesar 0,000. Mengandung arti bahwa kompensasi mempunyai hubungan disiplin kerja karyawan sebesar 0,308 dan dikategorikan mempunyai hubungan yang rendah.Kata Kunci : Kompensasi dan Disiplin Kerja Karyawan ABSTRACT The purpose of this study was to determine the relationship between compensation and work discipline of employees at PT. Perkebunan Nusantara VI Rimbo Satu Business Unit, Tebo Regency (Study on the Harvest Labor Section of Afdeling III). This study uses quantitative descriptive research, the data used are primary data and secondary data. For the research technique, the researcher used interview, questionnaire, and observation techniques. For the population and sample, there are 49 employees of the Afdeling III harvest labor division. With the sampling technique using the saturated sampling method. Then the number of respondents who filled out the questionnaire as many as 46 respondents and 3 questionnaires did not return. While testing the hypothesis using the Pearson Product Moment Correlation analysis. Based on the results of data processing, the relationship between compensation and employee work discipline is low. This is obtained from the results of the analysis of the Pearson Product Moment Correlation analysis test (r) with a value of 0.308 with a probability level of 0.000. It means that compensation has a relationship with employee discipline of 0.308 and is categorized as having a low relationship.Keywords: Employee Compensation and Work Discipline
 
ABSTRAKPemanfaatan lahan usaha tani dengan sistem agroforestry memberikan manfaat secara ekonomi dan konservasi lingkungan yang baik untuk masa mendatang. Tujuan penelitian untuk mengetahui kelayakan usahatani dengan pola agroforestry. Metode pada penelitian ini menggunakan metode ekplorasi melalui observasi langsung dilapangan dengan menggunakan wawancara sebagai alat pengumpulan data. Data dan informasi dikumpulkan adalah semua biaya dan pendapatan diperlukan dalam usahatani ini sehingga dapat diketahui layak atau tidaknya usaha ini dijalankan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hasil dari analisis finansial menunjukkan Net Present Value > 0 yaitu Rp. 514.470.711 pada suku bunga 10%, Net Benefit Cos Ratio > 1 yaitu 20,37 pada suku bunga 10%, dan Internal Rate Of Return 12,91% pada tahun ke 6. Kata Kunci: Agroforestry, Manfaat ekonomi, Konservasi. ABSTRACTUtilization of agricultural land with an agroforestry system provides economic benefits and good environmental conservation for the future. The purpose of the study was to determine the feasibility of farming with an agroforestry pattern. The method in this study uses the exploration method through direct observation in the field using interviews as a data collection tool. The data and information collected are all costs and income needed in this farming so that it can be known whether this business is feasible or not. The results of this study indicate that the results of the financial analysis show the Net Present Value > 0, namely Rp. 514,470,711 at an interest rate of 10%, Net Benefit Cos Ratio > 1 which is 20.37 at an interest rate of 10%, and Internal Rate Of Return 12.91% in year 6. Keywords: Agroforestry, Economic benefits, Conservation.
 
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pola saluran pemasaran dari agroindustri keripik sagu tempe Bapak Agus Priyanto di Dusun Kuning Gading Kecamatan Pelepat Ilir Kabupaten Bungo dan untuk mengetahui efisiensi pemasaran dari agroindustri keripik sagu tempe Bapak Agus Priyanto di Dusun Kuning Gading Kecamatan Pelepat Ilir Kabupaten Bungo.Objek penelitian adalah agroindustri keripik sagu tempe Bapak Agus Priyanto di Dusun Kuning Gading Kecamatan Pelepat Ilir Kabupaten Bungo, metode penelitian yang digunakan untuk menggali data dan informasi di lapangan adalah pendekatan kuantitatif, metode penarikan sampel adalah dengan metode studi kasus (Case Study), Untuk mengetahui pola saluran pemasaran agroindustri keripik sagu tempe dilakukan dengan menelusuri pola saluran pemasaran yaitu dimulai dari produsen sampai ke konsumen akhir dan didasarkan pada alur pemasaran ditempat penelitian, efisiensi pemasaran dalam penelitian ini meliputi margin pemasaran dan farmer’s share pemasaran.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola saluran pemasaran yang terjadi pada pemasaran Usaha agroindustri keripik sagu tempe Bapak Agus Priyanto di Dusun Kuning Gading Kecamatan Pelepat Ilir Kabupaten Bungo adalah dua saluran pemasaran yaitu saluran dua tingkat : Produsen Bumdus Pengecer Konsumen dan pola saluran setingkat yaitu : Produsen Bumdus Konsumen dan efisiensi pemasaran agroindustri keripik sagu tempe Bapak Agus Priyanto di Dusun Kuning Gading Kecamatan Pelepat Ilir Kabupaten Bungo sudah efisien dengan nilai efisiensi pemasaran 83,33 %. Kata Kunci : Pemasaran, Agroindustri dan Keripik Sagu Tempe.
 
Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis Efesiensi teknis dan ekonomis agro industri kerupuk ubi kayu. Pengambilan sampel untuk pengusaha agroindustry kerupuk ubi kayau diambil secara Proposif sebanyak 30. Hasil penelitian menunjukan Berdasarkan analisis efisiensi teknis yang dilakukan, Ubi kayu yang dialokasikan oleh pengusaha kerupuk ubi kayu belum efisien, serta Garam, Minyak goreng dan Tenaga kerja yang dialokasikan oleh pengusaha kerupuk ubi kayu telah berlebih, sehingga dengan penambahan akan menyebabkan produksi menurun. Jumlah yang dialokasikan oleh pengusaha kerupuk ubi kayu sudah tidak efisien. Secara ekonomis penggunaan ubi kayu belum efisien karena nilai rasio yang diperoleh lebih besar dari satu, untuk mwncapai efisiensi ekonomis, pengusaha kerupuk ubi kayu harus menambah ubi kayu yang digunakan untuk usaha agro industry kerupuk ubi kayu, sehingga pendapatan yang maksimal akan diperoleh. Rasio untuk penggunaan garam, minyak goreng dan tenaga kerja untuk mencapai efisien maka jumlah penggunaan ini justru harus dikurangi karena setiap penambahan akan menyebabkan berkurangnya pendapatan.
 
Penelitian ini dilakukan di Desa Samber Datar Kecamatan Singingi Kabupaten Kuantan Singingi, Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya pendapatan, efesiensi usaha R/C dan untuk mengetahui BEP produksi dan BEP harga pada usaha Agroindustri Keripik Tempe Djokam di Desa Sumber Datar Kecamatan Singingi Kabupaten Kuantan Singingi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pendapatan keripik tempe djokam Rp 425.327/produksi dengan total biaya yang dikeluarkan sebesar Rp 574.673, yang terdiri dari biaya tetap dan biaya tidak tetap, nilai R/C sebesar 1,74, artinya setiap biaya yang dikeluarkan 1 rupiah maka diperoleh penerimaan sebesar 1,74 rupiah atau keuntungan sebesar 0,74 rupiah dan Break Even Poin produksi dengan total biaya sebesar Rp 574,673, maka harus memproduksi sebanyak 11,49 Kg dengan harga jualnya Rp 50.000, agar mencapai titik impas. Break Even Poin harga dengan biaya sebesar Rp 574.673 maka Agroindustri Keripik Tempe harus memproduksi sebanyak 20 Kg dengan harga jual sebesar Rp 28.733, supaya mencapai titik impasnya.Kata Kunci : Agroindustri; Keripik Tempe; Pendapatan; R/C Ratio; BEP ABSTRACTThis research was conducted in Samber Datar Village, Singingi Subdistrict, Kuantan Singingi District. This study aims to determine the amount of revenue, efficiency of the R / C business and to determine the production BEP and price BEP in the Agroindustry of Tempe Djokam chips in Sumber Datar Village, Singingi District, Kuantan Singingi District. The results of this study indicate that the income of tempe chips djokam Rp 425,327 / production with a total cost incurred in the amount of Rp 574,673, consisting of fixed costs and variable costs, R / C value of 1.74, meaning that each cost incurred 1 rupiah is obtained revenue of 1.74 rupiahs or profit of 0.74 rupiahs and Break Even Points of production with a total cost of Rp 574,673, it must produce as much as 11.49 kg with a selling price of Rp 50,000, in order to break even. Break Even Price point at a cost of Rp 574,673 then the Tempe Chips Agroindustry must produce 20 kg with a selling price of Rp 28,733, in order to break even.Keywords: Agro-industry; Tempe Chips; Revenue; R / C Ratio; BEP
 
ABSTRAKPotensi perikanan yang dimiliki Kabupaten Sumenep sangatlah besar dan menjanjikan. Hal ini kemudian di Desa Ambunten Timur Kecamatan Ambunten sebagian masyarakat memanfaatkan potensi perikanan tersebut sebagai produk, diantaranya petis, ikan asin, ikan asap dan terutama terasi. Usaha terasi yang ada di Desa Ambunten Timur belum pernah dilakukan analisis, sehingga perlu adanya penelitian ini dilakukan. Metode dalam penelitian ini menggunakan analisis kelayakan dan analisis finansial. Hasil dari penelitian ini adalah: biaya produksi sebesar (TC) Rp. 37.771.568,- pendapatan agroindustri terasi (π) sebesar Rp. 18.489.543,- dan efisiensi (R/C Ratio) agroindustri terasi sebesar Rp. 1.49,-. Dari ketiga kriteria.Kata kunci:Finansial; Efisiensi; Agroindustri; Terasi ABSTRACTThe fishery potential of Sumenep Regency is huge and promising. In this case, in Ambunten Timur Village, Ambunten Subdistrict, some people use the fishery potential as a product, including petis, salted fish, smoked fish and especially shrimp paste. The shrimp paste business in Ambunten Timur Village has never been analyzed, so this research needs to be done. The method in this study uses a feasibility analysis and financial analysis. The results of this study are: production costs of (TC) Rp. 37,771,568, - shrimp paste agro-industry income (π) of Rp. 18,489,543, - and the efficiency (R / C Ratio) of the shrimp paste agro-industry of Rp. 1.49, -. Of the three criteria.Keywords: Financial; Efficiency; Agro industry; Shrimp paste
 
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui nilai pendapatan yang diperoleh oleh pengusaha Agroindustri Aneka Keripik Putri Tunggal di Kecamatan Bangko Kabupaten Merangin dalam menjalankan usaha Agroindustrinya. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) karena usaha Agroindustri Aneka Keripik ini merupakan salah satu usaha Agroindustri di Kecamatan Bangko Kabupaten Merangin yang masih aktif berproduksi secara kontinyu dan aneka produknyamempunyai prospek yang cukup baik untuk dikembangkan kerena potensi pasar yang sangat mendukung. Dari hasil penelitian diketahui pendapatan yang diterima pengusaha Agroindustri Aneka Keripik Putri Tunggal Rp. 485.525, nilai R/C ratio 1,12 dan BEP pada saat perusahaan memproduksi 730 bungkus dengan harga jual Rp. 2.925. per satu kali proses pruksi. Masih belum optimalnya pendapatan yang diperoleh dari usaha ditempat penelitian disebabkan oleh tingginya biaya produksi dan masih rendahnya teknologi yang dipakai dalam proses prouksi dan pada waktuwaktu tertentu ketersedian bahan baku produksi seperti pisang dipasar setempat kurang mencukupi kebutuhan, sehingga harus didatangkan dari daerah luar hal ini akan menambah biaya produksiKata Kunci : Agroindustri, keripik, pendapatan
 
ABSTRAKPenelitian ini dilakukan di Desa Kuantan Sako Kecamatan Logas Tanah Darat Kabupaten Kuantan Singingi,adapuntujuan penelitian adalah untuk mengetahui pendapatan tahu mbak rubingah, untuk mengetahui tingkat efesiensi usaha nilai R/C Ratio dan untuk mengetahui Break Event Point (BEP) produksi dan break event point harga pada usaha agroindustri tahu di Desa Kuantan Sako Kecamatan Logas Tanah Darat Kabupaten Kuantan Singingi. Hasil penelitian menunjukan bahwa pendapatan usaha tahu mbak rubingah sebesar Rp 722.595,71 setiap kali proses Produksi dengan total biaya yang dikeluarkan sebesar Rp 477.404,29 yang tediri dari biaya tetap, nilaiR/C sebesar 2,51, artinya setiap biaya yang dikeluarkan 1 rupiah maka diperoleh penerimaan sebesar 2,53 rupiah atau Break Event Point dengan total biaya sebesar Rp 477.404,29 maka harus memproduksi sebanyak 67,63 Kg dengan harga jual Rp 7.058,82/Kg agar mencapai titik impas. Break Event Point jika memproduksi tahu sebanyak 170 Kg maka harga jual yang ditawarkan kepada konsumen sebesar Rp 2. 808,26/Kg. Kata Kunci : Agroindustri Tahu, Analisis Pendapatan, Kuantan Sako ABSTRACTThis research was conducted in Kuantan Sako Village, Logas District, Tanah Darat, Kuantan Singingi Regency, while the research objective was to find out the Mbak Rubah funds, to determine the efficiency level of the R / C ratio and to find Break Event Point (BEP) production and break event price point for tofu agroindustry in Kuantan Sako Village, Logas District, Tanah Darat, Kuantan Singingi Regency. The results showed that the business income of Mbak Rubing was Rp. 722,595.71 per production process with a total cost of Rp. 477,404.29 which consisted of fixed costs, an R / C value of 2.51, an average of every cost incurred 1 the rupiah then receives revenues of 2.53 rupiah or Break Event Point with a total cost of Rp. 477,404.29 so it must produce as much as 67.63 Kg with a selling price of Rp. 7,058.82 / kg to break even. Break Event Point if you produce tofu 170 Kg, the selling price offered to consumers is IDR 2,880.26 / Kg.Keywords: Revenue Analysis, Tofu Agroindustry, Kuantan Sako
 
ABSTRAKPenelitian ini dilaksanakan di Desa Kuantan Sako Kecamatan Logas Tanah Darat Kabupaten Kuantan Singingi, yang dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan April 2019. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui analisis kelayakan secara finansial (NPV, Net B/C, PR, PBP dan BEP) usaha agroindustri tahu di Desa Kuantan Sako Kecamatan Logas Tanah Darat Kabupaten Kuantan Singingi. Hasil Penelitian Analisis kelayakan Agroindustri Tahu Mbak Rubingah di Desa Kuantan Sako Kecamatan Logas Tanah Darat berdasarkan Net Present Value (NPV), Net B/C Ratio dan Profitability Ratio memiliki nilai positif dimana Agroindustri Tahu Mbak Rubingah sangat layak untuk dijalankan, hal ini dapat diihat pada nilai Net Present Value (NPV) adalah Rp 2.303.553.375.31, nilai Net B/C Ratio sebesar 1.85, nillai Profitability Ratio sebesar 28.96 yang bergerak positif. Untuk Pay Back Period (PBP) Agroindustri Tahu Mbak Rubingah pada 2 bulan 28 hari. Sedangkan Break Event Point (BEP) Agroindustri Tahu Mbak Rubingah pada 2 tahun 6 bulan.Kata Kunci : Agroindustri Tahu; Kuantan Sako; Studi Kelayakan Usaha ABSTRACTThis research was conducted in Kuantan Sako Village, Logas Tanah Darat District, Kuantan Singingi Regency, which was held from February to April 2019. The purpose of this study was to determine the financial feasibility analysis (NPV, Net B / C, PR, PBP and BEP) tofu agroindustry in Kuantan Sako Village, Logas Tanah Darat District, Kuantan Singingi Regency. The research results of the feasibility analysis of Tahu Agroindustri Mbak Rubingah in Kuantan Sako Village, Logas Tanah Darat District based on the Net Present Value (NPV), Net B / C Ratio and Profitability Ratio have positive values where Tahu Agroindustri Mbak Rubingah is very feasible to run, this can be seen in The Net Present Value (NPV) value is Rp 2.303.553.375.31, the Net B / C Ratio value is 1.85, and the Profitability Ratio is 28.96 which is positive. Tofu Agroindustry Pay Back Period (PBP) Mbak Rubingah at 2 months 28 days. While the Break Event Point (BEP) of Tofu Agroindustry Mbak Rubingah at 2 years 6 months.Keywords: Tofu Agroindustry; Kuantan Sako; Business Feasibility Study
 
eran sektor agroindustri dalam perekonomian nasional difokuskan pada nilai pengganda output, nilai tambah, tenaga kerja dan keterkaitan antar sektor serta perannya dalam meningkatkan pendapatan rumah tangga. Apabila upah tenaga kerja diasumsikan merupakan suatu konstanta yang bersifat konstan dalam satu titik waktu, maka nilai tambah tenaga kerja dapat dijadikan sebagai stimulus penyerapan tenaga kerja nasional, sementara peran sektor agroindustri dalammeningkatkan pendapatan sektor lain dapat ditingkatkan melalui pengganda keterkaitan sektor, khususnya keterkaitan ke belakang. Kegiatan pengolahan kripik pisang pada kedua perusahaan menguntungkan. Hal ini dapat diketahui dari hasil penelitian bahwa keuntungan yang diterima agroindustri kripik pisang Perusahaan Terpadu sebesar Rp 339.675 untuk satu kali proses produksidengan total biaya Rp 1.625.325 dan penerimaan sebesar Rp 1.875.000. Sedangkan untuk Perusahaan Hidayatun keuntungan yang diperoleh untuk satu kali proses produksi adalah Rp 142.389. Kegiatan usaha pengolahan kripik pisang mempunyai nilai R/C 1,15 dan nilai BEP akan tercapai jika Perusahaan Terpadu memproduksi bahan baku 50 kg dengan pendapatan sebesar atau nilai BEP (Rp) sebesar Rp 751.083. Sedangkan untuk Perusahaan Hidayatun juga memiliki nilai R/C 1,06 dan nilai BEP akan tercapai jika Perusahaan Hiayatun memproduksi bahan baku 120 Kg dengan nilai BEPergian (Rp) sebesar Rp 1.815.359. Hasil dari produksi kripik pisang yang dibuat oleh kedua perusahaan yaitu Terpadu dan Hidayatun sama-sama dipasarkan di dalam KabupatenMerangin sampai ke luar Kabupaten Merangin seperti bahkan dapat dipasarkan luar provinsi Jambi seperti Sumatera Barat.Kata Kunci : Pendapatan, Agroindustri
 
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis tingkat pendapatan usaha agroindustri tahu di Kecamatan Tongauna Kabupaten Konawe dan (2) menganalisis kelayakan usaha agroindustri tahu di Kecamatan Tongauna Kabupaten Konawe. Responden (pemilik industri tahu) yang diambil dalam penelitian ini sebanyak 4 pemilik industri tahu di Desa Sendang Mulya Sari di kecamatan Tongauna. Variabel dalam penelitian ini adalah karakteristik usaha agroindustri tahu meliputi biaya, penerimaan, pendapatan. dan kelayakan usaha. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa pendapatan rata-rata yang diperoleh oleh pengusaha tahu selama satu bulan adalah rata-rata sebesar Rp 11.186.980 dengan total biaya rata-rata yang dikeluarkan sebesar Rp 62.523.020 dan penerimaan rata-rata yang diperoleh adalah sebesar Rp 73.710.000. kelayakan usaha agroindustri tahu adalah sebesar 1,18. Hal ini menunjukkan bahwa setiap Rp.1,00 biaya yang dikeluarkan akan memberikan penerimaan sebesar Rp. 1,18. Karena RCR > 1 maka dapat ditarik kesimpulan bahwa usaha tahu ini layak untuk diteruskan sehingga banyak pengusaha tahu yang masih bertahan dan menjadikan usaha ini sebagai pekerjaan pokok dan menjadi tumpuan pendapatan. Kata kunci: Pendapatan, Kelayakan Usaha. ABSTRACT This study aims to: (1) analyze the income level of tofu agroindustry in Tongauna sub-district, Konawe district and (2 analyze the feasibility of tofu agro-industry in Tongauna sub-district, Konawe district. Respondents (owners of tofu industry) taken in this study were 4 owners of tofu industry in Sendang Mulya Sari Village in Tongauna District. The variables in this study are the characteristics of the tofu agro-industry including costs, revenues, income, and business feasibility. Rp. 11.186.980 with an average total cost of Rp. 62.523.020 and the average revenue obtained is Rp. 73.710.000. The feasibility of the tofu agro-industry is 1.18, this shows that every Rp.1.00 of the costs incurred will provide revenue of Rp. 1.18. Because RCR > 1, it can be withdrawn k conclusion that this tofu business deserves to be continued so that many tofu entrepreneurs are still surviving and making this business their main job and a source of income. Keywords: Income, Business Feasibility.
 
Penelitian ini bertujuan untuk melihat seberapa besar pendapatan yang dapat diperoleh melalui budidaya tambak bandeng di Kabupaten Konawe pada daerah sekitar aktivitas pertambangan. Kecamatan Bondoala merupakan salah satu sentra produksi bandeng terbesar dan terluas di Kabupaten Konawe. Oleh karena itu dipilih untuk penelitian. Pemilihan lokasi juga didasarkan pada kenyataan bahwa di Kecamatan Bondoala terdapat perusahaan pertambangan yang dekat dengan pemukiman masyarakat, yang akan berdampak pada kondisi tambak secara langsung maupun tidak langsung. Dalam penelitian ini digunakan 24 responden sebagai sampel. Analisis data deskriptif kuantitatif digunakan untuk menganalisis pendapatan usahatani tambak ikan bandeng. Hasil analisis menunjukkan pendapatan yang dihasilkan dalam satu musim tanam (enam bulan), budidaya tambak bandeng sebesar Rp 6.079.847.ABSTRACTThis study aims to see how much income can be obtained through milkfish pond cultivation in Konawe Regency in the area around mining activities. Bondoala District is one of the largest and most comprehensive milkfish production centers in the Konawe Regency. Therefore it was selected for research. The location selection is also based on the fact that in the Bondoala District, there are mining companies close to community settlements, which will impact the condition of the ponds directly or indirectly. In this study, 24 respondents were used as samples. Quantitative descriptive data analysis was used to analyze the income of milkfish pond farming. The analysis results show that the income generated in one growing season (six months), milkfish pond cultivation is IDR6,079,847.Keywords: Milkfish Pond; Mining Activities; Konawe Regency
 
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Cermin Alam Kecamatan VII Koto Ilir Kabupaten Tebo yangdimulai dari tanggal 15 April 2015 sampai dengan 15 Mei 2015 di Desa Cermin Alam Kecamatan VII Koto IlirKabupaten Tebo yang terdapat petani yang mengupayakan usaha tani padi jajar legowo.Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui perkembangan penerapan sistem legowo, untukmengetahui penerapan sistem jajar legowo, untuk mengetahui masalah-masalah yang dihadapi petani, upaya apasaja yang dilakukan untuk menghadapi masalah-masalah petani di Desa Cermin Alam Kecamatan VII Koto IlirKabupaten Tebo.Metode yang digunakan dalam pengambilan data adalah metode survei dengan tehnik wawancarakepada para petani berdasarkan kuisioner yang berisikan suatu rangkaian pertanyaan mengenai usahatani padidengan sistem jajar legowo di Desa Cermin Alam Kecamatan VII Koto Ilir Kabupaten Tebo dan pengambilandata dilakukan secara sensus secara acak dengan 37 petani.Penerapan sistem jajar legowo tipe cara tanam sistem jajar legowo secara umum dapat dilakukan yaitu :tipe legowo (2:1), (3:1), (4:1), (5:1). Penerapan sistem jajar legowo dinyatakan berhasil, permasalahan jajarlegowo memiliki jarak tanam dalam baris tidak sama dengan antar baris, minimnya sosialisasi petani sulit untukmendapatkan informasi jajar legowo, irigasi yang tidak memadai, biaya untuk upah tanam lebih tinggi. Upayadiciptakan tali pembantu yang telah dibuat jaraknya sesuai dengan jarak tanam, pertemuan kelompok diskusidan praktek langsung, secara gotong royong perbaikan saluran irigasi kelahan-lahan petani, menggunakantenaga kerja dalam keluarga.Kata Kunci : Monitoring, Evaluasi, dan Sistem Tanam Legowo
 
ABSTRAK Usaha kerajinan batu merupakan usaha kecil yang telah dilakukan oleh masyarakat di desa allakuang sejak dahulu dan secara turun-temurun dalam lingkungan masyarakat petani, yang mana usaha tersebut dikombinasikan dengan usahatani sawah. Keberadaan kombinasi usaha batu alam dengan usahatani sawah di Desa Allakuang disebabkan karena, petani sawah di Desa tersebut memanfaatkan sumber daya yang ada untuk membantu tambahan dana dalam pengelolaan usahatani sawahnya. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan juni sampai dengan Agustus 2016 di Kecamatan Maritengngae Kabupaten Sidenreng Rappang, dan bertujuan untuk mengetahui seberapa besar kontribusi usaha batu alam terhadap peningkatan pendapatan petani. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei pada responden pelaku usaha batu yang memiliki sawah. Sampel dipilih dengan menggunakan teknik pengambilan sampel Multistage Random Sampling. Data yang dihimpun terdiri dari data primer yang diperoleh dari hasil wawancara yang berpedoman pada kuisioner, dan data sekunder yang diperoleh dari Dinas terkait, yaitu kantor desa dan internet. Hasil analisis menunjukan bahwa pendapatan usaha kerajinan batu sebesar Rp. 96.968.000, sedangkan pendapatan usahatani sawah sebesar Rp. 14.771.282,69. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa kontribusi usaha batu alam terhadap peningkatan pendapatan petani sebesar 86,78%.Kata Kunci : Kontribusi, Usaha Batu, Usahatani ABSTRACT Stone craftbusiness is constitutes small enterprise already be done by society at the villageAllakuang since preceding and heritable ala in environmentally farmer society, which is that effort compounded by farming paddy field. In the presence effort combine petrifies nature with farming paddy field at the village Allakuang is caused because, paddy field farmer at village that utilize aught resource to help fund affix in paddyfields management. This research is executed on month of June until with August 2016 at Maritengngae district Sidenreng Rappang Regency, and aims to know how big effort contribution petrifies nature to farmer revenue enhancement. This research did by survey method on respondent effort agent petrifies that has paddy field. Sample is chosen by use of sample take tech Multistage Random Sampling. Data that compiled consisting of acquired primary data of yielding interview which gets guidance on questionnare, and acquired secondary data of on duty concerning, which is village and Internet office. That analysis shows result natures stone operating revenues as big as Rp. 96.968.000, meanwhile farming income paddy field as big as Rp. 14. 771. 282,69. Base result analysis can be concluded that effort contribution petrifies nature to farmer revenue enhancement as big as 86,78%. Key word: Contribution, Stone craft businnes, Farming.
 
Tujuan dari peneilitian ini adalah untuk menganalisis besarnya biaya dalam mengelola usaha pakan Amoniasi pada kelompok Tani Ternak (KTT) Wiresinge di desa Batu Kuta Lombok Barat, dan untuk mengetahui besarnya pendapatan serta R/C rasio dari usaha tersebut. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan teknik survey. Adapun jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 40 orang responden yang berasal dari KTT Wiresinge dan dipilih secara simple random sampling. Sedangkan pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara purposive. Besarnya biaya dalam mengelola usaha pakan Amoniasi pada KTT Wiresinge di desa Batu Kuta Lombok Barat dapat diketahui melalui analisis biaya produksi. Sedangkan untuk mengetahui besarnya pendapatan dari usaha pakan Amoniasi tersebut telah dilakukan analisis pendapatan dan analisis Return Cost Ratio (R/C Ratio) untuk mengetahui untung ruginya usaha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya yang dikeluarkan dalam mengelola usaha pakan Amoniasi pada KTT Wiresinge di desa Batu Kuta Lombok Barat sebesar Rp. 1.383.000,- per satu kali masa produksi (dua minggu). Sedangkan pendapatan dalam satu kali masa produksi (dua minggu) yang di peroleh KTT Wiresinge dari usaha pakan Amoniasi adalah rata-rata Rp. 317.000,-. Dapat disimpulkan bahwa secara ekonomis pakan Amoniasi ini menguntungkan sebagai usaha dan menguntungkan jika dikembangkan di desa Batu Kuta Lombok Barat, karna nilai R/C Ratio yang diperoleh sebesar 1.23, jika R/C > 1 artinya usaha ini menguntungkan.Kata Kunci: Analisis ekonomi, Jerami padi, Pakan Amoniasi ABSTRACT This study aims to determine the running cost of the ammoniation feed business in Wirasinge’s rancher’s group (KTT Wiresinge) at Batu Kuta Lombok Barat, and to determine the income, also R/C ratio of the business. This study used descriptive quantitative analysis method by survey technique. The total samples are forty (40) respondents were taken in simple random sampling. The selection of the research location was conducted by purposive. The running cost of the ammoniation feed business of KTT Wiresinge at Batu Kuta Lombok Barat is carried out by analysis of production costs. To find out the business income of the ammoniation feed business was analyzed using an income analysis, and to find out the gross income of the ammoniation feed business was analyzed using Return Cost Ratio (R/C Ratio)’s formula. The results showed that the running cost of the ammoniation feed business is IDR. 1.383.000,- per production time ( two weeks). While the average net income of the ammoniation feed business per production time ( two weeks) is IDR 317.000,-. It can be concluded that economically the ammoniation feed at Batu Kuta Lombok Barat is feasible to be cultivated and developed because the R/C Ratio value was obtained 1.23, if the value of R/C > 1, that is means the business is profitable.Keywords: Economic analysis, Rice straw, Ammoniation feed
 
Tulisan yang disusun dari berbagai literatur/jurnal ini bertujuan pertama, mengetahui ketersediaan pangan Suku Anak Dalam (SAD) di Propinsi Jambi. Kedua, mengetahui akses SAD dalam rangka pemenuhan pangan untuk pencapaian ketahanan pangan SAD di Propinsi Jambi. Ketiga, mengetahui kebijakan untuk meningkatkan aksessibilitas SAD terhadap pangan dalam rangka meningkatkan akses SAD terhadap pangan di Propinsi Jambi. Metode yang dilakukan pada penelitian ketahanan pangan sebelumnya adalah metode kualitatif dan kuantitatif melalui teknik wawancara pada sejumlah responden di lokasi penelitian. Berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya diketahui bahwa kondisi rawan pangan masih banyak ditemui di berbagai wilayah dan belum pernah dilakukan penelitian tentang ketersediaan pangan dan akses pangan pada Suku Anak Dalam yang ada di Propinsi Jambi. Kata Kunci : Suku Anak Dalam (SAD), Ketahanan Pangan dan Akses Pangan. FOOD SECURITY OF SUKU ANAK DALAM (SAD) IN JAMBI PROVINCE ABSTRACTWriting compiled from various literatures / journals the first aims to know the food availability of Suku Anak Dalam (SAD) in Jambi Province. Second, to know the access of SAD in order to fulfilling food for the achievement of SAD food security in Jambi Province. Third, to know the policy to increase SAD accessibility to food in order to increase SAD access to food in Jambi Province. The method used in the previous food security study was qualitative and quantitative methods through interview techniques to a number of respondents at the study site. Based on previous studies, it is known that the condition of food insecurity is still widely found in various regions and there has never been a study of food availability and food access of SAD in Jambi Province. Keywords: Suku Anak Dalam (SAD), Food Security and Food Access.
 
Secara umum penelitian ini bertujuan mendeskripsikan rantai pasok komoditas telur ayam ras petelur yang meliputi anggota, proses, produk, sumberdaya dan manajemen, serta hubungan antar atribut didalamnya yang akan dianalisis menggunakan kerangka proses Food Supply Chain Network (FSCN) yang dikaji meliputi sasaran rantai pasok, manajemen rantai pasok, struktur rantai pasok, sumber daya rantai pasok, dan proses bisnis rantai pasok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rantai pasok komoditas telur ayam ras (layer) di Kabupaten Bungo memiliki sasaran pasar yang cukup jelas, namum terdapat sasaran pengembangan yang harus dilakukan berupa penambahan jumlah kandang dan skala usaha ternak dalam meningkatkan produksi dan meningkatkan kualitas komoditas telur ayam ras (layer). Penerapan manajemen rantai pasok berjalan dengan baik. Selain itu dukungan pemerintah di Kabupaten Bungo sebelumnya hanya fokus pada sarana fisik. Struktur hubungan rantai pasok terdiri dari peternak ayam ras petelur (layer), PPP, PPB, agen/ distributor, PP, dan konsumen akhir. Sumber daya rantai pasok khususnya sumber daya fisik dan teknologi di Kabupaten Bungo masih sederhana. Proses bisnis rantai pasok berjalan dengan baik karena aliran produk, finansial, dan informasi berjalan lancar dan terintegrasi dengan baik. Kata kunci: rantai pasokan; telur; ayam ras petelur ABSTRACT In general, this study aims to describe the supply chain of egg laying hens which includes members, processes, products, resources and management, as well as the relationships between attributes that will be analyzed using the Food Supply Chain Network (FSCN) process framework that is reviewed including supply chain targets, supply chain management, supply chain structure, supply chain resources, and supply chain business processes. The results showed that the supply chain of broiler egg commodities (layer) in Bungo District had a fairly clear market target, however there was a development target that had to be done in the form of increasing the number of cages and scale of livestock business in increasing production and increasing the quality of the commodity of broiler eggs (layer). The implementation of supply chain management is going well. In addition, government support in the Bungo Regency previously only focused on physical facilities. The supply chain relationship structure consists of layer broiler breeders, PPP, PPB, agents / distributors, PP, and end consumers. Supply chain resources, especially physical and technological resources in Bungo Regency are still simple. The supply chain business process runs well because the flow of products, finances, and information runs smoothly and is well integrated. Keywords: supply chain; egg; laying hens
 
ABSTRAKPenelitian ini dilakukan untuk mengetahui besarnya produksi, biaya dan penerimaaan, kelayakan usaha (R/C) usaha benih unggul per varietas di BBI Suka Jaya Jambi. Penelitian ini dilakukan di BBI Suka Jaya Jambidari tanggal 1 Maret 2020 sampai dengan 29 April 2020. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kuantitatif dan deskriptif kualitatif yang disajikan dalam bentuk tabel. Selanjutnya untuk analisis kelayakan usaha digunakan analisis finansial meliputi: Analisis R/C ratio.Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa produksi rata-rata benih padi unggul yang dihasilkan BBI Suka Jaya Jambi adalah sebesar 1.826 Kg/MT. Total produksi benih padi unggul adalah sebesar 10.954 Kg/MT terdiri dari varietas Inpara 3 sebesar 3.180Kg/MT, Inpago 8 sebesar 330 Kg/MT, varietas PB 42 sebesar 436 Kg/MT, varietas Inpari 34 sebesar 860 Kg/MT, varietas Inpari 30 sebesar 4.328 Kg/MT, dan varietas Inpara 8 sebesar 1.820 Kg/MT.Biaya rata-rata benih padi unggul yang dikeluarkan BBI Suka Jaya Jambi adalah sebesar Rp20.808.302/Ha/MT. Total biaya produksi benih padi unggul adalah sebesar Rp124.849.812/Ha/MT terdiri dari varietas Inpara 3 sebesar Rp12.033.717/Ha/MT, Inpago 8 sebesar 15.042.146/Ha/MT, varietas PB 42 sebesar 30.084.292/Ha/MT, varietas Inpari 34 sebesar 30.084.292/Ha/MT, varietas Inpari 30 sebesar 7.521.073/Ha/MT, dan varietas Inpara 8 sebesar 30.084.292/Ha/MT. Rata-rata penerimaan usaha benih padi unggul di BBI Suka Jaya Jambi adalah sebesar Rp9.391.667/Ha/MT atau sebesar Rp3.130.556/Ha/Bln. R/C Rasio usaha benih unggul varietas Inpara 3 sebesar 1,06, Inpago 8 sebesar 0,11, varietas PB 42 sebesar 0,14, varietas Inpari 34 sebesar 0,29, varietas Inpari 30 sebesar 1,44, dan varietas Inpara 8 sebesar 0,60. Varietas Inpara 3 dan varietas Inpari 30 layak diusahakan karena nilai R/C > 1. Benih padi unggul varietas inpara 8 memiliki produksi tertinggi dibandingkan varietas lainnya. Biaya produksi tertinggi dimiliki oleh varietas PB 42, varietas Inpara 34, dan varietas Inpara 8. Penerimaan tertinggi adalah benih padi varietas inpara 8. Nilai R/C tertinggi dimiliki oleh benih padi varietas Inpari 30.Kata Kunci : Komparasi, Penerimaan, Pendapatan dan Kelayakan Usaha ABSTRACTThis research was conducted to find out the size of production, cost, and acceptance, business feasibility (R / C) superior seed business per variety in BBI Suka Jaya Jambi. This research was conducted at BBI Suka Jaya Jambi from March 1, 2020, to April 29, 2020. The analysis used in this study is the quantitative descriptive and qualitative descriptive analysis presented in tabular form. Further for business feasibility analysis used financial analysis includes: R / C ratio analysis. Based on the results of the research obtained that the average production of superior rice seeds produced by BBI Suka Jaya Jambi is 1,826 Kg / MT. The total production of superior rice seeds is 10,954 Kg / MT consisting of Inpara 3 varieties of 3,180Kg / MT, Inpago 8 of 330 Kg / MT, PB 42 varieties of 436 Kg / MT, Inpari 34 varieties of 860 Kg / MT, Inpari varieties 30 for 4,328 Kg / MT, and Inpara 8 varieties for 1,820 Kg / MT. The average cost of superior rice seeds produced by BBI Suka Jaya Jambi is Rp20,808,302 / Ha / MT. The total production cost of superior rice seeds is Rp124,849,812 / Ha / MT consisting of Inpara 3 varieties of Rp12,033,717 / Ha / MT, Inpago 8 of 15,042,146 / Ha / MT, PB 42 varieties of 30,084,292 / Ha / MT, Inpari 34 varieties at 30.084.292 / Ha / MT, Inpari 30 varieties at 7,521.073 / Ha / MT, and Inpara 8 varieties at 30.084.292 / Ha / MT. The average receipt of superior rice seed business in BBI Suka Jaya Jambi is Rp9.391.667 / Ha / MT or Rp3.130,556 / Ha / Bln. R / C Winning seed business ratio of Inpara 3 varieties of 1.06, Inpago 8 of 0.11, PB 42 varieties of 0.14, Inpari 34 varieties of 0.29, Inpari 30 varieties of 1.44, and Inpara 8 varieties of 0.60. Inpara 3 varieties and Inpari 30 varieties are worth cultivating because of the value of R / C> 1. Superior rice seeds inpara 8 varieties have the highest production compared to other varieties. The highest production costs are owned by PB 42 varieties, Inpara 34 varieties, and Inpara 8 varieties. The highest acceptance is rice seeds inpara 8 varieties. The highest R / C value is owned by Inpari 30 rice seed varieties.Keywords: comparison, receipts, revenue, and business eligibility.
 
Usaha skala mikro hendak terus didorong agar menjadi usaha besar, diperlukan model bisnis yang cocok untuk pengembangan usaha, salah satunya dengan model bisnis kanvas.Model bisnis tergambar kondisi internal dan eksternal usaha melalu tampilan Sembilan elemen bisnis.Pendekatan ini digunakan untuk pengembangan kios tanaman hias Vinang Merah Kota Jambi.Tujuan penelitian ini adalah (1) Mengidentifikasi model bisnis yang dijalankan kios tanaman hias Vinang Merah; (2) Mengidentifikasi faktor eksternal dan internal yang memengaruhi model bisnis kanvas; (3) Merancang model bisnis kanvas pengembangan bisnis di masa depan. Metode yang digunakan adalah model bisnis kanvas dan SWOT.Hasil analisis menunjukkan bahwa dibutuhkan pengembangan di semua (Sembilan)elemen model bisnis kanvas.Berfokus pada kegiatan kreatifitas penambahan koleksi tanaman hias dan pemasaran digital mulai dari menambah koleksi tanaman hias anggrek, anting putri, varian baru, vertical garden, penjualan sistem arisan, memiliki database pelanggan, bermitra dengan tim IT, membentuk tim marketing online, membuat sistem informasi penjualan berbasis digital yang akan mempengaruhi elemen elemen lainnya sehingga mampumembentuk brand bagi kios tanaman hias Vinang Merah yang pada gilirannya akan meningkatkan aliran pendapatan. Saran manajemen usaha kios tanaman hias Vinang Merah agar melakukan peningkatan pada elemen value proposition, channels, dankey partnership untuk pengembangan model bisnis yang sudah ada. Kata kunci: Tanaman hias;model bisnis kanvas;analisis swot AbstractMicro scale businesses want to continue to be encouraged to become big businesses, a suitable business model is needed for business development, one of which is the canvas business model. The business model depicts the internal and external conditions of the business through the display of nine business elements. This approach is used for the development of the Vinang Merah ornamental plant kiosk in Jambi City. The objectives of this study are (1) to identify the business model of the Vinang Merah ornamental plant kiosk; (2) Identifying external and internal factors that affect the canvas business model; (3) Designing a business model canvas for future business development. The method used is the canvas business model and SWOT. The results of the analysis show that development is needed in all nine elements of the canvas business model. focusing on creative activities for adding ornamental plant collections and digital marketing, starting from adding a collection of ornamental orchids, princess earrings, new variants, vertical gardens, selling social gathering systems, having a customer database, partnering with the IT team, forming an online marketing team, creating a sales information system. digital-based which will influence other elements so as to be able to form a brand for the Vinang Merah ornamental plant kiosk which in turn will increase the revenue stream. Suggestions for the business management of the Vinang Merah ornamental plant kiosk to make improvements to the value proposition, channels, and key partnership elements for the development of existing business models. Keywords: ornamental plants; canvas business model; SWOT analysis
 
ABSTRAKTujuan dalam penelitian ini adalah menganalisis preferensi konsumen yakni masyarakat kota Jambi terhadap kopi lokal dan menganalisis hubungan usia terhadap preferensi masyarakat kota Jambi dalam mengkonsumsi kopi lokal. Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan antara usia konsumen kopi dengan preferensi dalam mengkonsumsi kopi lokal Jambi.Penelitian ini dilakukan di Kota Jambi dengan mengumpulkan data primer dan sekunder. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai Juni 2020. Data yang digunakan adalah data cross section. Data konsumen dikumpulkan dari 3 kedai kopi yang terdapat di Kota Jambi yakni Hello Sapa, Camp Coffee, dan Kopi Juaro. Penarikan sample dilakukan dengan metode simpel random sampling. Penghitungan sampel dengan rumus Slovin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mayoritas konsumen kopi memilih kopi lokal dibandingkan kopi non lokal dan Hubungan usia konsumen dengan preferensi konsumsi kopi adalah tidak signifikan. Kata kunci: Kopi Lokal, Preferensi, usia konsumen ABSTRACTThe aim of this researchis to analyze consumer preferences of Jambi city consuming local coffee and to analyze the relationship between age and preferences of the people of Jambi city in consuming local coffee. The hypothesis in this study is that there is a relationship between the age of consumers and preferences in consuming local Jambi coffee. This research was conducted in Jambi City by collecting primary and secondary data. This research conducted from February to June 2020. The data used is cross section data. Consumer data was collected from 3 coffee shops in Jambi City, namely Hello Sapa, Camp Coffee, and Juaro Coffee. The sampling method was simple random sampling. Sample calculation using the Slovin formula. The results showed that the majority of coffee consumers prefer local coffee than non-local coffee and the relationship between consumer age and coffee consumption preference is not significant. Keywords: Local Coffee, Preference, Age of Consumer
 
Penelitian ini dilaksanakan pada usahatani buah naga Bapak Khusairi, SP diKecamatan Rimbo Tengah Kabupaten Bungo. Luas lahan usahatani buah naga BapakKhusairi, SPseluas ± 0,25 hektar dan terdiri dari ± 300 tanaman. Usahatani buah naga BapakKhusairi, SP mulai diusahakan pada tahun 2015 hingga sekarang. Adapun tujuan penelitianberdasarkan rumusan masalah dapat disimpulkan sebagai berikut : (1). untuk mengetahuibesar biaya dalam usahatani buah naga pada usahatani buah naga Bapak Khusairi, SP.(2)untuk mengetahui besar penerimaan dalam usahatani buah naga pada usahatani buah nagaBapak Khusairi, SP. (3) untuk mengetahui besar pendapatan dalam usahatani buah naga padausahatani buah naga Bapak Khusairi, SP, (4) untuk mengetahui tingkat kelayakan usahatanibuah naga pada usahatani buah naga Bapak Khusairi, SP.Adapun metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metodepenelitian deskriptif kuantitatif. Menurut Nawawi (2003) metode deskriptif yaitu metodemetode penelitian yang memusatkan perhatian pada masalah-masalah atau fenomena yangbersifat aktual pada saat penelitian dilakukan, kemudian menggambarkan fakta-fakta tentangmasalah yang diselidiki sebagaimana adanya diiringi dengan interprestasi yang rasional danakurat.Hasil penelitian menunjukkan bahwa : Besar biaya total pada usahatani buah nagaBapak Khusairi. SP yang berlokasi di Dusun Sungai Buluh Kecamatan RimboTengahKabupaten Bungoadalah sebesar Rp. 11.732.777,87. Besar jumlah penerimaan padausahatani buah naga Bapak Khusairi. SP yang berlokasi di Dusun Sungai Buluh KecamatanRimbo TengahKabupaten Bungo dalam tahun pertama panen adalah Rp. 22.500.000. Besarpendapatan tahun pertamapada usahatani buah naga Bapak Khusairi. SP yang berlokasi diDusun Sungai Buluh Kecamatan Rimbo Tengah adalah sebesar Rp. 10.767.222,13. Padausahatani buah naga Bapak Khusairi. SP yang berlokasi di Dusun Sungai Buluh KecamatanRimbo Tengah dikatakan layak dengan nilai 1,91karena R/C > 1.Kata Kunci : Analisis Usahatani, Buah Naga, Penerimaan, Pendapatan, Kelayakan.
 
Pembangunan industri kecil antara lain ditujukan untuk meningkatkan keikutsertaanmasyarakat dan kemampuan golongan ekonomi lemah, meratakan kesempatan berusaha. Usahapengembangan industri kecil merupakan pilihan potensial yang menarik dalam programpembangunan ekonomi rakyat. Data primer bersumber dari pengusaha tahu Mekar Sari dan parapedagang yang menjual tahu yang dihasilkan oleh para pengusaha. Data skunder bersumber dariDinas Koperasi Perindustrian dan Perdaganngan Kabupaten Merangin, berbagai literatur yangberhubungan dan lembaga-lembaga terkait lainnya. Data primer yang dihasilkan dianalisis secarakualitatif dan kuantitatif. Saluran pemasaran yang paling efesien bagi pengusaha tahu adalahsaluran pemasaran III (Pengusaha – Konsumen) karena memberikan margin terkecil yaitu sebesar33,19 %. Namun tidak semua pengusaha yang mengolah bahan baku lebih dari 100 Kg dapat menjual produksinya sendiri tanpa melibatkan lembaga pemasaran lainnya. Sedangkan producer's share (bagian harga yang diterima produsen) tertinggi pada pemasaran tahu mentah terdapat pada saluran pemasaran II (Pengusaha – Pedagang di pasar - Konsumen) yaitu 66,82 %.Kata Kunci : Kinerja, Saluran Pemasaran, Industri Kecil
 
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses serta tingkat efektivitas pemupukan kelapa sawit menggunakan pesawat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pemupukan kelapa sawit menggunakan pesawat di Kebun Batang Gading PT. Satya Kisma Usaha memiliki tingkat efektivitas yang tinggi dan sangat cocok digunakan untuk lahan yang arealnya berbukit dan curam serta prosedur selama pemupukan berdasarkan pedoman pemupukan yang sudah disusun sedemikian rupa mulai dari proses persiapan sampai proses pelaksanaan. Namun demikian pada proses pemupukan menggunakanpesawat tersebut tidak semua jenis pupuk yang bisa diaplikasikan karena sebelum ditaburkan semua jenis pupuk majemuk di aduk menjadi satu. jadi, perusahaan tetap melaksanakan pemupukan manual seperti pupuk Borat, hal ini dikarenakan pupuk Borat tidak bisa dicampur dengan jenis pupuk lainnya dan kadar dosis yang tersedia dalam pupuk Borat pun sangat tinggi dibandingkan pupuk lainnya. Meskipun tingkat efektivitas pemupukan menggunakan pesawat tinggi namun, selama pelaksanaan masih terdapat kekurangan seperti landasan Airstrip yang masih jalan tanah sehingga diwaktu musim hujan proses pemupukan sedikit terganggu karena landasannya licin serta stok pupuk yang ada di Bin hanya ditutupi menggunakan terpal plastik.Kata Kunci: Efektivitas, Pemupukan dan Pesawat
 
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pendapatan usaha peternakan ayam Broiler pola mandiri dan pola kemitraan di Kecamatan Kuantan Tengah. Penelitian ini dilaksanakan di desa Jake Kecamatan Kuantan Tengah pada bulan Juni sampai bulan Oktober 2018. Metode penelitian yang digunakan metode survey, pemilihan lokasi serta teknik pengambilan sampel secara purposive sampling dan data yang dikumpulkan data primer dan data sekunder. Analisis data yang digunakan adalah analisis matematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peternak dengan pola mandiri dengan skala 200 ekor dengan biaya keseluruhan atau total biaya yaitu Rp. 6.760.670/periode, dengan total penerimaan yaitu Rp. 6.896.500/periode, dengan total keuntungan yaitu Rp. 135.830/periode, dengan total efisiensi Rp. 1,02/periode artinya satu rupiah biaya yang dikeluarkan maka memperoleh penerimaan sebesar Rp. 1,02 atau keuntungan sebesar Rp. 0,02. Sedangkan peternak dengan pola kemitraan dengan perusahan dengan skala 8.000 ekor dengan biaya keseluruhan atau total biaya yaitu Rp. 214.697.395/periode, dengan total penerimaan yaitu Rp. 230.824.111/periode, dengan total keuntungan yaitu Rp. 16.126.716/periode, dengan total efisiensi Rp. 1,07/periode artinya satu rupiah biaya yang dikeluarkan maka memperoleh penerimaan sebesar Rp. 1,07 atau keuntungan sebesar Rp. 0,07.Kata Kunci : Pendapatan, Ayam Broiler, Pola Mandiri dan Pola Kemitraan
 
Pertanian perkotaan terus berkembang dalam kaitannya dengan masalah lingkungan, ekonomi, kesehatan dan sosial, termasuk di Kota Muara Bungo. Agar pemanfaatan pekarangan ini dapat berkelanjutan dan berkesinambungan, pemanfaatan pekarangan haruslah menyesuaikan motivasi masyarakat itu sendiri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat motivasi lingkungan, ekonomi, kesehatan dan sosial/kemasyarakatan dalam memanfaatkan pekarangan untuk usaha tani. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif dan teknik survei menggunakan kuesioner kepada 79 responden. Motivasi diukur menggunakan skala Likert dari item pernyataan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi masyarakat secara berurutan dari yang tinggi ke rendah yaitu motivasi kesehatan, motivasi lingkungan, dan motivasi ekonomi dan motivasi sosial/kemasyarakatan. Perencanaan dan kebijakan pertanian di perkotaan khususnya di pekarangan harus memberi perhatian khusus pada kegiatan pertanian perkotaan ini karena memberi manfaat dalam Kesehatan dan sosial berupa pemanfaatan waktu luang dan gotong-royong antar warga,dengan mengimplementasikan konsep pembangunan berkelanjutan yang disesuaikan dengan motivasi masyarakat itu sendiri.Kata kunci: Motivasi; Pekarangan; Pertanian perkotaan ABSTRACK Urban agriculture continues to develop in relation to environmental, economic, health and social issues, including in Muara Bungo City. In order for the use of this yard to be sustainable and sustainable, the use of the yard must adjust the motivation of the community itself. The purpose of this study was to determine the level of environmental, economic, health and social/community motivation in utilizing the yard for farming. This study uses descriptive research methods with a qualitative approach and survey techniques using questionnaires to 79 respondents. Motivation is measured using a Likert scale of statement items. The results showed that people's motivations sequentially from high to low were health motivation, environmental motivation, and economic motivation and social/social motivation. Agricultural planning and policies in urban areas, especially in the yard, must pay special attention to urban agricultural activities because they provide health and social benefits in the form of the use of free time and mutual cooperation between residents, by implementing the concept of sustainable development that is adapted to the motivation of the community it self. Key words : Motivation; yard; Urban farming
 
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pola/saluran pemasaran dan fungsi-fungsi pemasaran yang dilakukan tiap lembaga pemasaran susu kedelai dengan menganalisis tingkat efisiensi pemasaran yang diterima masing-masing lembaga pemasaran susu kedelai suka rasa di Desa Pauh Menang Kecamatan Pamenang Kabupaten Merangin.Dalam penelitian ini metode penentuan responden adalah dengan metode studi kasus (Case Study) dimana penelitian dipusatkan pada obyek tertentu dan kesimpulan diambil hanya berlaku terbatas pada objek yang diteliti. Yaitu industri susu kedelai suka rasa di Desa Pauh Menang Kecamatan Pamenang Kabupaten Merangin. Sedangkan untuk analisis data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi analisis pola pemasaran, fungsi-fungsi pemasaran dan efisiensi pemasaran.Hasil penelitian ini menunjukkan saluran pemasaran susu kedelai suka rasa di Desa Pauh Menang Kecamatan Pamenang Kabupaten Merangin terdiri dari 3 pola pemasaran yaitu pola I: produsen- konsumen, Pola II: produsen – pengecer – konsumen pada pola III: produsen – grosir – pengecer – konsumen. Pada fungsi pemasaran yang di lakukan lembaga pemasaran susu kedelai suka rasa meliputi fungsi pertukaran, fungsi fisik, dan fungsi fasilitas. Ketiga saluran pemasaran susu kedelai suka rasa di Desa Pauh Menang Kecamatan Pamenang Kabupaten Merangin sudah efisien karena pada saluran I bersifat efisien dengan Nilai Farmer’s share 100% saluran II bersifat efisien dengan Nilai Farmer’s share 60%, dan padasaluran III juga bersifat efisien dengan Nilai Farmer’s share 50%.Abstract The purpose of this study was to determine the marketing patterns/channels and marketing functions performed by each marketing agency for soy milk by analyzing the level of marketing efficiency received by each marketing agency for flavored soy milk in Pauh Menang Village, Pamenang District, Merangin Regency. In this research, the method of determining respondents is the case study method, where the research is focused on a particular object and conclusions are drawn only limited to the object under study. Namely, the flavored soy milk industry in Pauh Menang Village,Pamenang District, Merangin Regency. Meanwhile, the data analysis used in this research includes the analysis of marketing patterns, marketing functions and marketing efficiency. The results of this study indicate that the marketing channel of flavored soy milk in Pauh Menang Village, Pamenang District, Merangin Regency consists of 3 marketing patterns, namely pattern I: producer-consumer, Pattern II: producer - retailer - consumer in pattern III: producer - wholesaler - retailer - consumer . The marketing functions carried out by the marketing agency for flavored soy milk include exchange functions, physical functions, and facility functions. The three marketing channels for flavored soy milk in Pauh Menang Village, Pamenang District, Merangin Regency are efficient because channel I is efficient with a Farmer's share value of 100%, channel II is efficient with a Farmer's share value of 60%, and channel III is also efficient with a Farmer's share value. 50%.Keywords: Marketing Patterns and Channels, Marketing Functions, Marketing Efficiency, Soy Milk
 
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya biaya produksi, pendapatan, efisiensi dan strategi pengembangan lemak kakao di Kecamatan Payakumbuh Selatan Kota Payakumbuh. Penelitian ini telah dilaksanakan selama lima bulan mulai bulan April sampai bulan Agustus 2019. Penelitian ini dilakukan pada pelaku usaha agroindustri Lemak Kakao di Kecamatan Payakumbuh Selatan (Studi Kasus Pada Pabrik Mini Chokato). Data analisis secara matematika dengan Analisis Kualitatif. Analisis strategi pengembangan menggunakan analisis matriks EFE, matriks IFE, dan matriks SWOT. Hasil penelitian menunjukkan biaya produksi sebesar Rp.1.778.934,30 per proses produksi dengan pendapatan sebesar Rp. 3.000.000 dan efisiensi usaha 1,69. Strategi Pengembangan menunjukkan hasil pada matriks EFE dengan Total skor bobot sebesar 3,32, total skor IFE 3,08 dan matriks SWOT menunjukkan posisi strategi berada dalam kuadran I (Growth). Dari hasil analisis usaha dan strategi pengembangan agroindustri lemak kakao layak untuk dikembangkan.Kata Kunci : Biaya Produksi, Pendapatan, Efisiensi, Strategi Pengembangan.
 
Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Pelepat yang dilakukan mulai tanggal 10Maret sampai 15 April 2017. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh RendahnyaHarga Karet Terhadap status sosial ekonomi masyarakat di Kecamatan Pelepat KabupatenBungo. Untuk mengetahui faktor sosial ekonomi yang paling dominan terpengaruh akibatrendahnya harga karet di Kecamatan Pelepat Kabupaten Bungo.Sampel dalam penelitian diambil dari 2 desa yang dipilih secara sengaja yaitu DesaRantau Keloyang dan Desa Senamat dengan sampel masing-masing 33 orang dan 40 orangsehingga jumlah sampel sebanyak 73 petani sampel. Untuk menganalisis pengaruh rendahnyaharga terhadap kondisi sosial ekonomi menggunakan kuesioner dianalisis dengan deskriptifpresentatif yang dibantu dengan penskoran yang diperoleh responden dari hasil angket yangtelah diisi sedang untuk mengetahui bagaimana pengaruh kedua variabel, penelitimenggunakan teknik Analisis Regresi Linier Sederhana dan untuk mengetahui besarnyaproporsi atau presentase sosial ekonomi yang dijelaskan oleh variabel rendahnya harga karet,maka dilakukan Uji F, Uji t dan Uji Koefisien Determinasi (R2) melalui SPSS Versi 16.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pengaruh rendahnya harga karet terhadap statussosial ekonomi secara keseluruhan adalah kurang baik (persentase skor = 50,59 %). Secaraanalisis rendahnya harga karet berpengaruh terhadap faktor sosial ekonomi secarakeseluruhan (t hitung = 3,257 > t tabel = 1,993). Adapun faktor sosial ekonomi yangterpangaruh adalah pendapatan (t hitung = 2,134 > t tabel = 1,993) dan jenis pekerjaan (thitung = -2585 > t tabel = 1,993) dan Jenis pekerjaan merupakan faktor sosial ekonomi yangpaling dominan terpengaruh oleh rendahnya harga karet jika ditinjau dari nilai koefisiendeterminasi (R2) sebesar 0,086.Kata Kunci : Rendahnya Harga Karet, Faktor Sosial Ekonomi
 
Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Margo Tabir Kabupaten Merangin. Pemilihanlokasi secara sengaja dengan pertimbangan daerah Kecamatan Margo Tabir merupakan Kecamatanyang menghasilkan produksi kakao terbanyak ketiga dengan produktivitas tertinggi diantaraKecamatan lainnya yang ada di Kabupaten Merangin dengan jumlah produksi 8 ton dari luas lahan19 Ha dan produktivitas 0,42 ton/ha pada tahun 2015 serta akses transportasi seperti jalan yangmendukung mempermudah pedagang untuk melakukan pemasaran kakao di Kecamatan MargoTabir. Penelitian dilaksanakan mulai 1 Juni s/d 1 Juli 2017 dengan tujuan untuk mengetahui saluranpemasaran dan fungsi-fungsi pemasaran yang dilakukan tiap lembaga pemasaran serta tingkatefesiensi pemasaran yang diterima masing-masing lembaga pemasaran kakao di Kecamatan MargoTabir Kabupaten Merangin.Metode Penelitian yang digunakan adalah metode survei Penarikan petani sampel dilakukansecara proporsional random sampling sebesar 10 % dari 3 (tiga) desa penghasil kakao yang ada diKecamatan Margo sehingga didapat 35 petani sampel sedangkan untuk lembaga pemasaran yangterlibat pada kegiatan pemasaran diperoleh dengan snowball sampling. Analisis dalam penelitian inimeliputi analisis saluran dan fungsi-fungsi pemasaran dan efesiensi pemasaran kakao.Hasil peneltian menunjukkan bahwa Saluran pemasaran biji kakao di Kecamatan Margo TabirKabupaten Merangin terdiri dari 3 saluran dimana saluran I : petani ----> pedagang PengumpulKecamatan ----> pedagang besar, Saluran II : petani ----> pedagang pengumpul Desa ---->pedagang besar dan saluran III : petani ---> pedagang pengumpul desa ---> pedagang pengumpuldesapengumpul Kecamatan ---> pedagang besar. Fungsi pemasaran yang dilakukan olehlembaga-lembaga pemasaran biji kakao meliputi fungsi pertukaran, fungsi fisik dan fungsifasilitas. Nilai marjin, biaya dan keuntungan terbesar pada pemasaran biji kakao di KecamatanMargo Tabir terdapat pada saluran III . Berdasarkan analisis efesiensi pemasaran yang diperolehmaka ketiga saluran pemasaran di Kecamatan Tabir sudah efesien dan saluran II merupakansaluran pemasaran yang paling efesien yaitu sebesar 4,29 %Kata Kunci : Efesiensi, Pemasaran , Biji Kakao
 
Penelitian telah dilaksanakan pada tanggal 11 juni sampai 30 juli 2017 di PT. MegaSawindo Perkasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan produksi produksiTBS antara areal di aplikasikan limbah pabrik dan areal yang hanya memakai pupukanorganik, dan untuk mengetahui pengaruh pengaplikasian limbah pabrik terhadappendapatan perusahaan di PT. Mega Sawindo Perkasa Dusun Danau, Kecamatan Pelepat Ilir,Kabupaten Bungo.Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode survei.Sedangkan metode pengambilan data menggunakan studi pustaka dan studi lapangan. MetodeAnalisis yang digunakan yaitu dengan metode kuantitatif sedangkan untuk menghitungbesarnya pendapatan digunakan rumus dari suratiyah, 2006Limbah Pabrik Yang dipakai/di aplikasikan oleh perusahaan untuk menambah bahanorganik di lahan perkebunan mereka yaitu Limbah Cair (POME), Tandan Kosong dan Solid.Sampel pada penelitian ini adalah 10 ha. Adapun pengaplikasian Limbah pabrik yangdilakukan pada tahun 2016 di daerah penelitian dengan sampel 10 ha yaitu limbah cairsebanyak 171.396 m3, Tandan Kosong sebanyak 36,9 ton/ha dan Solid sebanyak 12,3 ton/ha.Dengan adanya pengaplikasian limbah pabrik ini mengahasilkan perbedaan produksi TBSpada areal yang teraplikasi dengan yang tidak teraplikasi yaitu masing masing sebesar 26,9ton/ha dan 16,3 ton/ha.Pendapatan perusahaan pada penelitian ini terdapat perbedaan pendapatan pada arealyang teraplikasi dan areal yang tidak diaplikasikan dengan masing-masing Rp. 18.979.972,-per ha dan Rp. 17.264.509,7,- per ha.Kata Kunci: Hasil TBS, Penerimaan, Pendapatan
 
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk : (1) Untuk mengetahui berapa besar pendapatan petani yang menerapkan teknologi usahatani padi sawah di Kelurahan Puusinauwi Kecamatan Wawotobi Kabupaten Konawe dan (2) Untuk menganalisis hubungan penerapan teknologi usahatani padi sawah dengan pendapatan petani di Kelurahan Puusinauwi Kecamatan Wawotobi Kabupaten Konawe. Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Puusinauwi Kecamatan Wawotobi Kabupaten Konawe. Daerah ini dipilih karena Kelurahan Puusinauwi merupakan salah satu daerah penghasil padi sawah yang ada di Kecamatan Wawotobi Kabupaten Konawe. Salah satu cara untuk menentukan besarnya sampel dalam penelitian ini tingkat presisi yang digunakan sebesar 10%, sehingga untuk menentukan sampel dalam penelitian ini menggunakan rumus slovin sehingga diperoleh 23 jumlah responden. Berdasarkan dari hasil penilitian diketahui bahwa (1) pendapatan petani responden di Kelurahan Puusinauwi masih terkategori rendah dengan pendapatan sebesar rata-rata Rp. 7.806.595/Ha. Hal ini menunjukan bahwa penerapan teknologi usahatani signifikan terhadap tingkat pendapatan petani, (2) Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat penerapan teknologi penggunaan benih bermutu dan pemupukan terhadap tingkat pendapatan petani di Kelurahan Puusinauwi Kecamatan Wawotobi Kabupaten Konawe. Sementara penerapan teknologi pengolahan tanah, sistem tanam, pengelolaan pengairan, pengendalian hama dan penyakit serta panenn tidak berhubungan signifikan dengan tingkat pendapatan petani di Kelurahan Puusinauwi Kecamatan Wawotobi Kabupaten Konawe. Kata Kunci : Usahatani, Padi Sawah, Hubungan Penerapan Teknologi ABSTRACT This study aims to: (1) To determine how much the income of farmers who apply paddy rice farming technology in Puusinauwi Village, Wawotobi District, Konawe Regency and (2) To analyze the relationship between the application of lowland rice farming technology and farmer income in Puusinauwi Village, Wawotobi District, Konawe Regency. This research was conducted in Puusinauwi Subdistrict, Wawotobi District, Konawe Regency. This area was chosen because Puusinauwi Village is one of the lowland rice producing areas in Wawotobi District, Konawe Regency. One way to determine the size of the sample in this study the level of precision used was 10%, so that to determine the sample in this study using the Slovin formula so that 23 respondents were obtained. Based on the results of the study, it is known that (1) the income of the respondent farmers in Puusinauwi Village is still in the low category with an average income of Rp. 7,806,595 / Ha. This shows that the application of farming technology is significant to the income level of farmers, (2) There is a significant relationship between the level of technology application of quality seed use and fertilization to the income level of farmers in Puusinauwi Village, Kecamatan Wawotobi Kabupaten Konawe. Meanwhile, the application of soil processing technology, planting systems, irrigation management, pest and disease control and harvesting is not significantly related to the income level of farmers in Puusinauwi Village, Kecamatan Wawotobi Kabupaten Konawe.Keywords : Farming, Rice Paddy, Relationship of Technology Application
 
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat ketimpangan pendapatan rumah tangga peternak di Kota Jambi baik peternak ayam, itik, kambing dan sapi serta untuk mengetahui perbedaan tingkat pengeluaran rumah tangga antar peternak. Penelitian ini menggunakan metode survey yang dilakukan di 6 kecamatan yaitu Telanaipura, Kota Baru, Jambi Timur, Paal Merah, Pelayangan dan Danau Teluk. Analisis data menggunakan analisis ketimpangan pendapatan (koefisien gini dan kriteria bank dunia) serta uji-t untuk analisis perbedaan tingkat pengeluaran peternak. Tingkat ketimpangan pendapatan peternak di Kota Jambi tergolong rendah berdasarkan koefisien gini (0,22) ataupun kriteria bank dunia. Nilai koefisien gini peternak ayam, itik, kambing dan sapi yaitu berturut-turut 0,26; 0,17; 0,22 dan 0,17. Hasil uji-t diketahui terdapat perbedaan tingkat pengeluaran rumah tangga peternak ayam dengan itik, peternak ayam dengan kambing, peternak ayam dengan sapi, peternak itik dengan kambing, peternak itik dengan sapi, serta tidak terdapat perbedaan antar peternakkambing dan sapi.Kesimpulannya bahwa tingkat ketimpangan pendapatan rumah tangga peternak di Kota Jambi berdasarkan koefisien gini secara umum ataupun berdasarkan komoditas tergolong rendah. Berdasarkan Kriteria Bank Dunia, ketimpangan distribusi pendapatan menunjukkan ketimpangan pendapatan rendah. Pada uji beda (uji-t),terdapat perbedaan tingkat pengeluaran rumah tangga peternak antar komoditas unggas dan komoditas unggas dengan ruminansia serta tidak ada perbedaan antar ruminansia.ABSTRACT This study aims to find out the level of income inequality of farmers' households in jambi city both chicken, duck, goat and cattle farmers and to find out the difference in household spending levels between farmers. This research uses survey method conducted in 6 sub-districts namely Telanaipura, Kota Baru, Jambi Timur, Paal Merah, Pelayangan and Teluk Lake. The data analysis uses income inequality analysis (gini coefficient and world bank criteria) as well as t-tests for analysis of differences in farmers' spending levels. The level of income inequality of farmers in jambi city is relatively low based on this coefficient (0.22) or world bank criteria. The coefficient value of chicken, duck, goat and cow farmers is 0.26; 0,17; 0.22 and 0.17. The results of t-test are known that there are differences in the level of household expenditure of chicken farmers with ducks, chicken farmers with goats, chicken farmers with cows, duck farmers with goats, duck farmers with cows, and there is no difference between goat and cattle farmers. The conclusion is that the level of income inequality of farmers' households in the city of Jambi based on this coefficient in general or based on commodities is relatively low. Based on World Bank Criteria, income distribution inequality indicates low income inequality. In the different tests (t-test), there was a difference in the level of household expenditure between poultry and poultry commodities with ruminants and there was no difference between ruminants.Keywords: income inequality, gini coefficient, farmers expenses
 
Penelitian ini untuk mengetahui Perkembangan harga tandan buah segar (TBS) Koperasi Unit Desa di Limbur Lubuk Mengkuang dan Kecamatan Bathin II PelayangKabupaten Bungo kompetitif harga tandan buah segar (TBS) Koperasi Unit Desa di dan Limbur Lubuk Mengkuang dan Kecamatan Bathin II Pelayang di Kabupaten Bungo. Penelitian ini di laksanakan dari tanggal 10Januari 2017 sampai tanggal 10 Februari 2017.Penelitian ini menggunakan data sekunder dengan rentang waktu (time series) dari Mulai 2010 sampai 2015 (dataper bulan) dan data pendukung yang dikumpulkan dari PT Jamika Raya, Koperasi Unit Desa di Bathin II Pelayang dan Koperasi Unit Desa di Kecamatan Limbur Lubuk Mengkuang, Dinas Perindustrian Dan Perdagangan Provinsi Jambi, Gapkindo,Badan Pusat Statistik Kabupaten Bungo,Badan Pusat Statistik Provinsi Jambi Dan Dinas Perkebunan Provinsi Jambi. Analisa data menggunkan Independen Sample T-Tes. Hasil penelitian menujukkan bahwa Perkembangan harga harga tandan buah segar (TBS) Koperasi Unit Desa di Limbur Lubuk Mengkuang dan Kecamatan Bathin II Pelayang Kabupaten Bungo dan tidak ada komparatif harga tandan buah segar (TBS) Koperasi Unit Desa di Limbur Lubuk Mengkuang dan Kecamatan Bathin II Pelayang Kabupaten Bungo Kata Kunci: Harga ; Komparatif
 
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat efektivitas kelompok tani, tingkat faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas kelompok tani dan untuk mengetahui hubungan antara tingkat faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas kelompok tani dengan tingkat efektivitas kelompok tani di Desa Pulau Tengah Kecamatan Jangkat Kabupaten Merangin. Metode penelitian dalam penelitian ini untuk mengetahui tingkat efektivitas kelompok tani dan tingkat faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas kelompok tani di Desa Pulau Tengah Kecamatan Jangkat Kabupaten Merangin dilakukan dengan analisis deskriptif melalui scoring dengan menggunakan Skala Likert. Sedangkan untuk mengetahui hubungan antara tingkat faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas kelompok tani dengan tingkat efektivitas kelompok tani di Desa Pulau Tengah Kecamatan Jangkat Kabupaten Merangin, dianalisis secara statistik non parametrik dengan megunakan Uji Koefisien Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat efektivitas kelompok tani di Desa Pulau Tengah Kecamatan Jangkat Kabupaten Merangin menunjukkan berada dalam kategori tinggi yaitu produktivitas kelompok, kepuasaan anggota kelompok, semangat kelompok. Dan tingkat faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas kelompok tani menunjukkan dalam kategori tinggi yaitu kepemimpinan kelompok, kehomogenan kelompok, waktu pertemuan kelompok, fungsi tugas kelompok, tingkat penguasaan materi oleh PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan). Sedangkan hubungan antara tingkat faktor-faktor yang mempengaruhi efektitas kelompok tani dengan tingkat efektivitas kelompok tani menunjukkan hubungan positif dimana ada hubungan antara tingkat faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas kelompok tani dengan tingkat efektivitas kelompok tani di Desa Pulau Tengah Kecamatan Jangkat Kabupaten Merangin.Kata Kunci : Efektivitas, Kelompok Tani. ABSTRACT This study was conducted to determine the level of effectiveness of farmer groups, the level of factors that affect the effectiveness of farmer groups and to determine the relationship between the level of factors that affect the effectiveness of farmer groups with the level of effectiveness of farmer groups in Pulau Tengah Village, Jangkat District, Merangin District. The research method in this study was to determine the level of effectiveness of farmer groups and the level of factors that influence the effectiveness of farmer groups in Pulau Tengah Village, Jangkat District, Merangin District, which was carried out by descriptive analysis through scoring using a Likert Scale. Meanwhile, to find out the relationship between the level of factors that influence the effectiveness of farmer groups and the level of effectiveness of farmer groups in Pulau Tengah Village, Jangkat District, Merangin District, statistically non-parametric analysis using Spearman Rank Coefficient Test. The results showed that the level of effectiveness of farmer groups in Pulau Tengah Village, Jangkat District, Merangin District showed that they were in the high category of group productivity, group member satisfaction, group spirit. And the level of factors that influence the effectiveness of farmer groups shows in the high category of group leadership, group homogeneity, group meeting time, group task function, level of mastery of the material by PPL (Field Agricultural Extension). While the relationship between the level of factors that affect the effectiveness of farmer groups with the level of effectiveness of farmer groups shows a positive relationship where there is a relationship between the level of factors that affect the effectiveness of farmer groups with the level of effectiveness of farmer groups in Pulau Tengah Village, Jangkat District, Merangin District.Keywords: Effectiveness, Farmer Group.
 
Penelitian ini bertujan untuk mengetahui besarnya penerimaan, pendapatan dan efisiensi petani karet Gapoktan Berkah Basamo dan Non Gapoktan di Kecamatan Gunung Toar Kabupaten Kuantan Singingi.Penentuan tempat penelitian dilakukan secara sengaja (purposive) di Kecamatan Gunung Toar Kabupaten Kuantan Singingi, karena mata pencarian masyarakat di Kecamatan Gunung Toar Pada umumnya merupakan petani karet.Secara ekonomis lokasinya berdekatan dengan tempat tinggal penulis dan sarana transportasi lancar.Metode analisis yang digunakan adalah metode wawancara, observasi dan pencatatan. Rata-rata biaya produksi pada petani karet Gapoktan Berkah Basamo di Desa Lubuk Terentang sebesar Rp.84,671,- /proses produksi dan rata-rata biaya produksi pada petani karet Non Kelompok di Desa Lubuk Terentang sebesar Rp. 84,928,- /proses produksi.. Sedangkan penerimaan pada petani karet Gapoktan Berkah Basamo sebesar Rp. 833,793,-/proses produksi dan rata-rata penerimaan pada petani karet Non KelompoksebesarRp.619,545,-/proses produksi. Sehingga didapat rata-rata pendapatan bersih pada petani karet Gapoktan Berkah Basamo sebesar Rp.749,122,-/proses produksi dan rata-rata pendapatan bersih pada petani karet Non Kelompok sebesar Rp.534,617,-/proses produksi. Petani karet di Desa Lubuk Terentang efisien karena menurut kriteria RCR >1 dengan nilai efisien pada Gapoktan Berkah Basamo adalah 9.83 dan efisiensi pada Non Kelompok adalah 7.26, dan dilakukan uji beda pada biaya produksi, pendapatan dan efisiensi secara statistic tidak berbeda nyata. Kata kunci : Pendapatan; Pemasaran Bokar; Gapoktan dan Non Gapoktan ABSTRAK This study aims to determine the amount of revenue, income and efficiency of Gapoktan Berkah Basamo and Non Gapoktan rubber farmers in Gunung Toar District, Kuantan Singingi Regency. Determination of the place of research carried out intentionally (purposive) in the District of Gunung Toar, Kuantan Singingi Regency, because the livelihoods of the people in Gunung Toar District are generally rubber farmers. Economically the location is close to the author's residence and means of transportation smoothly. The analytical method used is the method of interview, observation and recording. The average production cost for Gapoktan Berkah Basamo rubber farmers in Lubuk Terentang Village is Rp. 84,671 / production process and the average production cost for Non-group rubber farmers in Lubuk Terentang Village is Rp. 84,928.- / production process .. While the acceptance to Gapoktan Berkah Basamo rubber farmers is Rp. 833,793, - / production process and average acceptance of non-group rubber farmers as much as Rp. 619,545, - / production process. So that the average net income obtained by Gapoktan Berkah Basamo rubber farmers is Rp. 749,122 / production process and the average net income for non-group rubber farmers is Rp. 534,617, - / production process. Rubber farmers in Lubuk Terentang Village are efficient because according to RCR criteria> 1 the efficient value in the Basamo Gapoktan Berkah is 9.83 and the efficiency in Non-Groups is 7.26, and different tests on production costs, income and efficiency are not statistically significantly different. Keywords: Income; Bokar Marketing; Gapoktan and Non Gapoktan
 
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat penerapan kesejahteraan hewan berdasarkan persyaratan teknis sarana dan operasional, tingkat penerapan Good Manufacturing Practice (GMP) dan Sanitation Standard Operating Procedures (SSOP) dalam Nomor KontrolVeteriner (NKV) dan tingkat perbedaan pengetahuan antar petugas tentang kesejahteraan hewan dan NKV di Rumah Potong Hewan Kota Jambi dan Rumah Potong Hewan Swasta. Penelitian ini dilaksanakan dari tanggal 14 November sampai 20 Desember 2020. Objek yang diamati dalam penelitian ini adalah Rumah Potong Hewan (RPH) Pemerintah dan Swasta di Provinsi Jambi. Data yang diperoleh dari penelitian ini adalah data primer dan data sekunder dan dianalisis menggunakan analisis uji beda t-test. Hasil analisis menunjukkan Penerapan kesejahteraan hewan berdasarkan persyaratan teknis sarana dan operasional di Rumah Potong Hewan Pemerintah dan Swasta di Provinsi Jambi hanya berupa penyimpangan minor atau telah memenuhi persyaratan standar kesejahteraan hewan.Penerapan GMP dan SSOP dalam Nomor Kontrol Veteriner diRumah Potong Hewan Pemerintah dan Swasta di Provinsi Jambi untuk menghasilkan pangan yang ASUH berupa penyimpangan mayor atau sebagian besar telah memenuhi persyaratan standar dalam NKV dan tidak ada perbedaan tingkat pengetahuan petugas tentang Kesejahteraan Hewan dan Nomor Kontrol Veteriner pada RPH Pemerintah dengan Swasta di Provinsi Jambi. ABSTRACTThis study aims to determine the level of application of animal welfare based on technical and operational requirements, the level of application of Good Manufacturing Practice (GMP) and Sanitation Standard Operating Procedures (SSOP) in the Veterinary Control Number (NKV) and the level of differences in knowledge between officers about animal welfare and HCV. in Jambi City Slaughterhouses and Private Slaughterhouses. This research was conducted from November 14 to December 20, 2020. The object observed in this study was the Government and Private Slaughterhouses (RPH) in Jambi Province. The data obtained from this study were primary data and secondary data and were analyzed using t-test analysis. The results of the analysis show that the application of animal welfare based on technical requirements for facilities and operations at the Government and Private Slaughterhouses in Jambi Province is only in the form of minor deviations or has met the standard requirements for animal welfare. The application of GMP and SSOP in Veterinary Control Numbers in Government and Private Slaughterhouses in Jambi Province to produce food that is ASUH in the form of major deviations or most of which have met the standard requirements in the NKV and there is no difference in the level of knowledge of officers about Animal Welfare and Veterinary Control Numbers on Public and private slaughterhouses in Jambi Province.
 
ABSTRAK Tujuan dari penelitian yaitu untuk menganalisis saluran pemasaran gabah kering panen di Kelurahan Kulahi Kecamatan Wawotobi dan untuk menganalisis margin, keuntungan dan efisiensi pemasaran gabah kering panen di Kelurahan Kulahi Kecamatan Wawotobi. Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Kulahi Kecamatan Wawotobi Kabupaten Konawe. Populasi dalam penelitian ini adalah semua petani padi sawah yang berjumlah 20 orang dan pedagang yang pemasaran gabah sebanyak 4 orang, penentuan sampel petani padi sawah dilakukan secara sensus. Pemasaran gabah terdapat satu jenis saluran pemasaran yaitu Produsen (Petani Padi) ke Pedagang Pengumpul Desa ke Penggilingan Padi, memiliki biaya pemasaran sebesar Rp 120/ Kg. Keuntungan pemasaran pedagang pengumpul desa sebesar Rp 280/Kg, dan memiliki marjin pemasaran sebesar Rp 400/Kg dan keuntungan pemasaran gabah yang sudah berbentuk beras yang dilakukan oleh penggilingan padi sebesar Rp 450.000/50Kg, dan memiliki marjin pemasaran sebesar Rp 90.000/Kg. Efisiensi pemasaran gabah mencapai 89%. Artinya besarnya persentase bagian harga yang diterima petani dan rendahnya biaya pemasaran yang terjadi pada lembaga pemasaran gabah di Kelurahan Kulahi Kecamatan Wawotobi Kabupaten Konawe. Kata Kunci : Pemasaran, Padi Sawah. ABSTRACT The purpose of this research is to analyze the marketing channels of harvested dry unhulled rice in Kulahi Village, Wawotobi District and to analyze the margins, profits and marketing efficiency of harvested dry grain in Kulahi Village, Wawotobi District. The research was conducted in Kulahi Village, Wawotobi District, Konawe Regency. The population in this study were all lowland rice farmers, amounting to 20 people and traders who marketed grain as many as 4 people. The sample determination of lowland rice farmers was carried out by census. There is one type of marketing channel for unhulled rice, namely Producers (Rice Farmers) to Village Collecting Traders to Rice Mills, having a marketing cost of IDR 120 / Kg. The marketing profit of the village collector traders is Rp. 280 / Kg, and has a marketing margin of Rp. 400 / Kg and the marketing profit of unhulled rice in the form of rice carried out by the rice mill is Rp. 450,000 / 50 kg, and has a marketing margin of Rp. 90,000 / kg. Grain marketing efficiency reaches 89%. This means that the large percentage of the price received by farmers and the low marketing costs that occur in grain marketing institutions in Kulahi Village, Wawotobi District, Konawe Regency. Keywords: Marketing, Rice Paddy
 
ABSTRAK Desa Soddara Kecamatan Pasongsongan merupakan salah satu daerah sentra pengembangan ayam ras petelur. Selama ini para pengusaha tidak melakukan analisis kelayakan finansial dari usahanya sehingga belum diketahui sejauh mana tingkat kelayakan ayam ras petelur tersebut. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui kelayakan finansial (NPV, IRR, dan Net B/C) ayam ras petelur. Lokasi penelitian dilakukan secara sengaja dengan jumlah sampel sebanyak 8 pengusaha.Hasil dari penelitian ini usaha ayam ras petelur di mempunyai nilai NPV > 0 yaitu Rp. 91.555.578,74, sedangkan IRR > 16%, yaitu sebesar 40,32% serta Net B/C > 1, sebesar 3,16. Sedangkan Payback period usaha ayam ras petelur diketahui 1 tahun 11 bulan 24 hari.Kata Kunci : Kelayakan, Finansial, Ayam Ras Petelur ABSTRACT Soddara Village, Pasongsongan Subdistrict, is one of the centers for developing laying hens. So far, the entrepreneurs have not carried out an analysis of the financial feasibility of their business, so it is not known how far the level of feasibility of chicken laying hens is. The purpose of this study was to determine the financial feasibility (NPV, IRR, and Net B / C) of laying hens. The location of the study was done intentionally with a total sample of 8 entrepreneurs. The results of this study laying hens in the business have an NPV value> 0 which is Rp. 91,555,578.74, while IRR> 16%, which is equal to 40.32% and Net B / C> 1, amounting to 3.16. Whereas the layback business payback period is known to be 1 year 11 months 24 days. Key Word : Feasibility, Financial, Laying Chicken
 
Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui pendapatan, efisiensi dan nilai BEP produksi dan BEP penerimaan usaha ikan nila di Desa Beringin. Penentuan tempat penelitian dengan cara sengaja (Proposive) dengan jumlah sampel sebanyak 15 orang. Berdasarkan Penelitian di lapangan dengan jumlah bibit 8100 ekor dan produksi sebesar 1721 kg dengan harga Rp.21.800 /Kg per panen. Dengan upah tenaga kerja dalam keluarga Rp. 8.478.750 dan tenaga kerja luar keluarga sebesar Rp. 27,895.833 per panen. Pendapatan Kotor Rp.37,421.333, pendapatan bersih Rp. 11.525.333, nilai efisiensi 1.44 usaha ikan nila ini efisien atau menguntungkan. BEP produksi adalah 1.190,35dan BEP penerimaan 15,323 pada usaha ikan nila di Desa Beringin. Kata Kunci : Analisis Usaha, Efisiensi, Bep, Ikan Nila
 
Peningkatan perekonomian dapat diukur melalui kenaikan pendapatan nasional /Produk Domestik Bruto (PDRB) dalam jangka waktu panjang, kenaikan pendapatan perkapita dan terciptanya kesejahteraan ekonomi. Subsektor Pertanian dan perkebunan merupakan subsektor yang banyak memberikan kontribusi untuk pembangunan perekonomian Kabupaten Bungo . Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kontribusi perkebunan kelapa sawit terhadap pembangunan ekonomi di Kabupaten Bungo dan untuk menganalisis pengaruh luas lahan terhadap kontribusi perkebunan kelapa sawit dalam pembangunan perekonomian di Kabupaten Bungo. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Bungo dari bulan Februari sampai dengan April tahun 2018. Daerah penelitian diambil dengan pertimbangan bahwa Kabupaten Bungo memiliki komoditas kelapa sawit yang cukup lengkap (perkebunan rakyat, perkebunan milik swasta, industri pengolahan kelapa sawit dan sektor pendukung lainnya). Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Bungo dan Dinas . Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kontribusi perkebunan kelapa sawit terhadap PDRB Kabupaten Bungo cenderung meningkat dari tahun ketahun dan faktor produksi luas lahan tidak berpengaruh nyata terhadap kontribusi perkebunana kelapa sawit di Kabupaten Bungo besar pengaruh luas lahan terhadap kontribusi perkebunan kelapa sawit dalam pembangunan ekonomi yaitu 88,9% dan sisanya 11,1% disebabkan oleh pengaruh lain yang tidak diteliti. Kata Kunci : Kelapa Sawit, Kontribusi ,dan Pembangunan Perekonomian ABSTRACT Economic improvement can be measured through an increase in national income / Gross Domestic Product (GRDP) in the long run, an increase in per capita income and the creation of economic prosperity. The Agriculture and plantation subsector is a sub-sector that contributes a lot to the economic development of Bungo Regency. This study aims to analyze the contribution of oil palm plantations to economic development in Bungo District and to analyze the influence of land area on the contribution of oil palm plantations in economic development in Bungo District. This research was carried out in Bungo Regency from February to April 2018. The research area was taken with the consideration that Bungo Regency has fairly complete oil palm commodities (smallholder plantations, privately owned plantations, palm oil processing industries and other supporting sectors). The data used in this study were secondary data from the Bungo Regency Central Bureau of Statistics and the Office. The results showed that the contribution of oil palm plantations to Bungo Regency GRDP tended to increase from year to year and the area of production factors significantly affected the contribution of oil palm plantations in Bungo Regency to the influence of land area on the contribution of oil palm plantations in economic development, namely 88.9% and the remaining 11.1% is caused by other effects not examined.Keywords: Oil Palm, Contribution and Economic Development
 
Konsumsi kedelai nasional mengalami peningkatan setiap tahunnya sedangkan produksi kedelai nasional cendrung stagnan atau hanya mampu memenuhi 30 persen dari kebutuhan konsumsi kedelai nasional sehingga impor kedelai setiap tahunnya juga mengalami peningkatan.Penilitian ini bertujuan untuk melihat daya saing kedelai dan dampak kebijakan pemerintah terhadap daya saing kedelai pada lahan kering di Kabupaten Tebo.Penelitian ini menggunakan pendekatan Policy Analysis Matrix (PAM). Sumber data yang digunakan yaitu data sekunder dan data primer dengan instrument penelitian berupa kuesioner. Hasil penelitian menunjukan bahwa usaha tani kedelai pada lahan kering di Kabupaten Tebo memiliki daya saing yang terlihat dari tingkat keuntungan yang dihasilkan dan tingkat efisiensi dalam berproduksi. Namun demikian berdasarkan hasil analisis sensitivitas usaha tani kedelai pada lahan kering di Kabupaten Tebo tidak memiliki daya saing apabila hasil output dijual untuk keperluan konsumsi ke pasar, ke pabrik tahu dan tempe. Kebijakan pemerintah melalui program UPSUS PAJALE dan kebijakan subsidi pupuk mampu meningkatkan daya saing kedelai pada lahan kering di Kabupaten Tebo melalui dampaknya terhadap penerimaan dan biaya, namun Kebijakan HPP kedelai dan Kebijakan tarif impor kedelai nol persen belum dapat meningkatkan daya saing kedelai.Kata Kunci : Daya saing, Usaha tani, Kedelai, Kebijakan, Lahan Kering
 
Komoditi gambir merupakan salah satu komoditi tanaman perkebunan yang masih punya cukup peran dalam perdagangan internasional. Peningkatan produktifitas dan perdagangan luar negeri ini tidak sebanding dengan peningkatan pendapatan petani gambir. Agar produktifitas dapat ditingkatkan maka mutu olahan juga perlu di perbaiki agar tersedia pasar yang akan menampung produk gambir petani.Peningkatan pendapatan petani gambir belum sejalan dengan peningkatan produktivitas dan luas lahan, hal ini berkaitan dengan persoalan pasar yang masih mendominasi dari beberapa persoalan usahatani gambir, sehingga akan menyebabkan berkurangnya minat petani dalam melakukan usahatani gambir. Oleh sebab itu peneliti tertarik melakukan penelitian dengan fokus pada keberlanjutanusahatani gambir dalam mendukung komoditi unggulan daerah.Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Lima Puluh Kota, karena merupakan sentra komoditi gambir yang ada di Sumatera Barat dengan, menggunakan metode survey. Penelitian ini dilakukan selama 4 bulan mulai Bulan April sampai Agustus 2021. Hasil penelitian mendapatkan bahwa usahatani gambir belum mendapatkan pasar yang baik.Peran kelembagaan pemasaranbelum memberikan konstribusi dalam meningkatkan posisi tawar, petani hanya bisa menjual gambir pada tingkatan pedagang pengumpul.Pemasaran produk gambir hanya tergantung pada pedagang pengumpul (toke) sehingga petani tidak punya nilai tawar dalam menentukan harga.Analisis usahatani gambir ini tetap memberikan kriteria yang layak di lakukan dengan nilai R/C ratio 1,6.ABSTRACK Gambier commodity is one of the plantation crop commodities which still has quite a role in international trade. This increase in productivity and foreign trade is not comparable to the increase in the income of gambier farmers. In order to increase productivity, the quality of processed products also needs to be improved so that there is a market that will accommodate farmers' gambir products. The increase in the income of gambier farmers has not been in line with the increase in productivity and land area, this is related to market issues that still dominate some of the gambier farming problems, so that it will cause a decrease in farmers' interest in gambier farming. Therefore, researchers are interested in conducting research with a focus on the sustainability of gambier farming in supporting regional superior commodities. This research was conducted in Lima Puluh Kota Regency,because it is the center of gambier commodity in West Sumatera by using the survey method. This research was conducted for 4 months from April to August 2021. The results showed that gambier farming has not yet received a good market. The role of marketing institutions has not contributed to improving their bargaining position, farmers can only sell gambier at the level of collectors. Marketing of gambir products only depends on collectors (toke), so that farmers have no bargaining power in determining prices. This gambier farming analysis still provides criteria that are feasible to do with an R/C ratio value of 1.6.Keyword : Gambier, Marketing, institutional, international market, produktivity
 
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji daerah/kecamatan mana yang berpotensi kuat dalam pertumbuhannya di wilayah se Kuantan Singingi dan mengetahui potensi apa yang dimiliki oleh masing-masing daerah/kecamatan di wilayah Kuantan Singingi. Penelitian ini dilaksanakan selama 4 bulan mulai dari bulan Juni sampai September 2017. Penelitian ini dilakukan dengan metode analisis data sekunder. Data yang digunakan adalah data sekunder dengan periode pengamatan tahun 2014 - 2016. Data yang diperlukan adalah data PDRB (berdasarkan harga konstan), PDRB per kapita, jumlah penduduk, dan jarak antar wilayah. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis gravitasi dan model interaksi ruang dan analisis Location Quotient (LQ). Hasil dari analisis Klassen Typologi dengan pendekatan sektoral, menunjukkan bahwa sektor pertanian tanaman perkebunan khusunya karet dan kelapa sawit menduduki kuadran II yaitu sektor maju tapi tertekan. Selain itu, sektor ekonomi di Kabupaten Kuantan Singingi belum ada yang berada di kuadran I yaitu maju dan tumbuh cepat tapi masih banyak berada pada kuadran IV yaitu sektor yang relatif tertinggal. Hasil perhitungan nilai LQ diseluruh sektor pertanian khususnya tanaman perkebunan perekonomian yaitu tanaman karet di Kecamatan Kuantan Hilir Seberang (1,77) dan Kecamatan Gunung Toar (1,76) serta Kecamatan Singingi (1,66) serta tanaman kelapa sawit juga cukup potensial di Kabupaten Kuantan Singingi karena memiliki nilai LQ lebih dari satu (LQ > 1, khususnya di Kecamatan Kuantan Mudik, Pucuk Rantau, Singingi Hilir dan Benai. Hal ini menunjukkan bahwa sektor-sektor tersebut memiliki kontribusi yang besar dalam perekonomian dan pembangunan wilayah di Kabupaten Kuantan Singingi Key word : Potensi, pertumbuhan, pengembangan wilayah
 
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat motivasi petani padi sawah di KecamatanSumay Kabupaten Tebo, dan untuk menganalisis hubungan faktor kebutuhan fisiologis, kebutuhanrasa aman, kebutuhan sosial, kebutuhan penghargaan dan aktualisasi diri dengan motivasi petanipadi sawah di Kecamatan Sumay Kabupaten Tebo. Penelitian ini dilaksanakan Kecamatan sumayKabupaten Tebo.Metode penelitian dalam penelitian ini untuk menganalisis tingkat motivasi petani padi sawahdilakukan dengan analisis deskriptif dengan teknik skoring. Selanjutnya untuk mengetahuihubungan faktor-faktor motivasi petani padi sawah dilakukan dengan analisis Chi Square dengantabel kontingensi 2x2. Adapun hasil penelitian menunjukan bahwa: 1) Tingkat motivasi petani padisawah di Kecamatan Sumay Kabupaten Tebo dari total skor secara keseluruhan berada padakategori rendah yaitu sebesar 3542. Namun untuk tingkat masing - masing motivasi petani padisawah di Kecamatan Sumay Kabupaten Tebo faktor kebutuhan sosial dan aktualisasi diri beradapada kategori tinggi, sedangkan faktor kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman dan kebutuhanpenghargaan berada pada kategori rendah. 2) Faktor - faktor yang terdapat hubungan terhadapmotivasi petani padi sawah di Kecamatan Sumay Kabupaten Tebo adalah faktor kebutuhanfisiologis, kebutuhan rasa aman dan kebutuhan sosial. Sedangkan faktor yang tidak terdapathubungan terhadap motivasi petani padi sawah di Kecamatan Sumay Kabupaten Tebo adalah faktorkebutuhan penghargaan dan aktualisasi diri.Kata Kunci : Motivasi Petani. Usahatani padi sawah
 
Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Batang Bungo Kecamatan Pasar Muara Bungo yaitu pada usaha tempe Bapak Kasdono. Penelitian ini dilaksanakan selama 1 bulan yaitu dari tanggal l6 Maret sampai dengan tanggal 16 April 2017. Alasan pemilihan lokasi ini adalah daerah tersebut pengusaha tempe masih aktif berproduksi dan tingkat produksi yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pendapatan pengusaha tempe serta untuk mengetahui apakah usaha tempe Bapak Kasdono di Kecamatan Pasar Muara Bungo Kabupaten Bungo masih layak untuk dikembangkan.Metode Penelitian yang digunakan adalah metode penelitian survey dengan dasar penetapan wilayah secara sengaja karena di Kecamatan Pasar Muara Bungo Kabupaten Bungo terdapat kegiatan usaha tempe yang masih aktif berproduksi, dan pengambilan data dilakukan secara studi kasus. Data yang diperoleh dari dalam penelitian ini disederhanakan dengan melakukan tabulasi kemudian dianalisis secara deskriptif. Analisis yang dilakukan dalam penelitian ini adalah analisis pendapatan, NPV, IRR dan analisis Net B/C.Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan yang diperoleh dalam satu bulan proses produksi tempe di daerah penelitian adalah Rp 19.440.458/bulan. Dilihat dari nilai NPV positif Rp 1.085.826.816,8, Net B/C 3,42 dan IRR 43,2%. Dimana nilai Net B/C > 1 dan nilai IRR > suku bunga pinjaman, artinya usaha tempe Bapak Kasdono di Kecamatan Pasar Muara Bungo Kabupaten Bungo layak untuk dikembangkan secara finansial. Kata Kunci: Analisis, Kelayakan, Usaha Tempe
 
Daging ayam broiler merupakan hasil produksi dari industri ayam broiler baik yang diusahakan dengan skala kecil maupun skala besar. Industri ayam broiler mengalami pertumbuhan yang tinggi dikarenakan industri ini didukung oleh permintaan pasar yang tinggi, akses terhadap pasar yang cukup terbuka, harga produk yang jauh lebih murah dibandingkan produk ternak lainnya seperti daging sapi, kerbau, kambing dan daging ayam buras (ayam kampung). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan, penawaran dan harga ayam broiler di Sumatera Barat. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis simultan ( Two-Stage Least Square (2SLS)) dengan bantuan program Eviews 10. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dalam bentuk data deret waktu (time series) tahunan, yaitu data permintaan, penawaran, harga ayam broiler, harga barang lain, perekonomian dan kependudukan di Provinsi Sumatera Barat dari tahun 1997 hingga tahun 2020. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh signifikan terhadap permintaan daging ayam broiler di Sumatera Barat adalah, harga daging ayam broiler dan harga telur ayam ras. Dimana di Sumatera Barat daging ayam broiler merupakan komoditas dengan konsumsi tertinggi apabila dibandingkan dengan daging dan sumber protein lainnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi secara signifikan penawaran daging ayam broiler di Sumatera Barat adalah harga daging ayam broiler, dan harga daging ayam buras, serta lag penawaran daging ayam buras (jumlah penawaran daging ayam di tahun sebelumnya). Artinya semakin tinggi harga maka akan semakin banyak jumlah daging ayam broiler yang ditawarkan ke pasar. Tujuan ketiga yaitu harga ayam broiler dipengaruhi secara signifikan oleh permintaan ayam broiler dan penawaran ayam broiler. ABSTRACTBroiler chicken meat is the result of the production of the broiler industry, both on a small and large scale. The broiler industry is experiencing high growth because this industry is supported by increased market demand, access to a fairly open market, product prices that are much cheaper than other livestock products such as beef, buffalo, goat and native chicken (free-range chicken). This study analyzes the factors influencing the demand, supply, and price of broiler chickens in West Sumatra. The research method used is simultaneous analysis (Two-Stage Least Square (2SLS)) with the help of the Eviews 10 program. The type of data used in this study is secondary data in the form of annual time series data, namely data on demand, supply, broiler prices, prices of other goods, economy, and population in West Sumatra Province from 1997 to 2020. The study results concluded that the factors that had a significant effect on the demand for broiler chicken in West Sumatra were the price of broiler chicken meat and the price of broiler eggs. Where in West Sumatra, broiler chicken meat is a commodity with the highest consumption when compared to meat and other protein sources. The factors that significantly influence the supply of broiler chicken in West Sumatra are the price of broiler chicken and the price of free range chicken, and the lag in the supply of free range chicken (amount of chicken supply in the previous year). This means that the higher the price, the greater the broiler chicken offered to the market. The third objective is that the price of broiler chickens is significantly affected by the demand for broiler chickens and the supply of broiler chickens.Keywords: Broiler Chicken, Demand, Supply, Price
 
Kelapa sawit komoditi perkebunan unggulan dan utama Indonesia, sebagai penyumbang devisa terbesar dengan komoditi lainnya. Tujuan penelitian untuk mengetahui besarnya risiko produksi, risiko pendapatan dan memitigasi risiko di Kecamatan limbur Lubuk Mengkuang Kabupaten Bungo dengan menggunakan metode survei. Metode analisis data menggunakan koefisiensi variasi, dan analisis deskriptif.Hasil penelitian menunjukan bahwa risiko diperoleh dari nilai koefisien variasi (CV) sebesar 0,0024 artinya apabila CV < 0,5 maka risiko usaha tani yang dihadapi petani rendah. Risiko pendapatan diperoleh dari nilai koefisien variasi (CV) sebesar 0,00062 artinya apabila CV < 0.5 maka risiko pendapatan yang dihadapi petani Rendah. Upaya memitigasi risiko produksi dan pendapatan adalah, mempersiapkan obat obatan yang sesuai untuk mengatasi hama dan penyakit tersebut, ketua kelompok petani menyusun RDKK (recana definitive kebutuhan kelompok) dengan sesuai data petani yang ada, membuat jalan swadaya kerja sama antara kelompok tani dan pemerintah, RDKK di awasi dari proses pengajuan sampai akhir agar tidak ada pihak yang menyalah gunakan pupuk bersubsidi, Risiko pendapatan (a) bagi petani hendak nya memperhatikan sumber daya peralatan yang digunakan dalam berusahtani dengan menambah peralatan yang masih kurang sehingga mampu meningkatkan produksi dalam usaha tani kelapasawit(b)bagi petani sebaiknya memperhatikan persedian pasar untuk penjualan hasil produksi kelapa sawit TBS yaitu perusahaan yang bermitra dengan memperkuat kelembagaan petani sehingga mampu menjual hasil produksi tepat waktu. Abstract Palm oil is Indonesia's leading and main plantation commodity, as the largest foreign exchange earner with other commodities. The purpose of the study was to determine the magnitude of production risk, income risk and mitigate risk in Limbur District, Lubuk Mengkuang, Bungo Regency by using a survey method. Methods of data analysis using the coefficient of variation, and descriptive analysis. The results showed that the risk obtained from the coefficient of variation (CV) of 0.0024 means that if the CV <0.5 then the risk of farming faced by farmers is low. Income risk is obtained from the coefficient of variation (CV) of 0.00062, meaning that if CV <0.5 then the income risk faced by farmers is low. Efforts to mitigate production and income risks are, preparing appropriate medicines to overcome these pests and diseases, the head of the farmer group preparing the RDKK (definitive plan for group needs) in accordance with existing farmer data, making a self-help way of cooperation between farmer groups and the government, RDKK supervised from the submission process to the end so that no party misuses subsidized fertilizers, Income risk (a) for farmers should pay attention to the equipment resources used in farming by adding equipment that is still lacking so as to increase production in oil palm farming (b For farmers, it is better to pay attention to market supply for the sale of FFB oil palm products, namely companies that partner with farmers to strengthen institutions so that they are able to sell their products on time.Keywords: Production Risk, Income Risk, Mitigating Risk
 
Top-cited authors
Muhammad Fauzan
  • Universitas Muhammadiyah Yogyakarta