INSAN Jurnal Psikologi dan Kesehatan Mental

Print ISSN: 2528-0104
Publications
This report aimed to provide an overview of the Ruang Reflection Online (RRO) outcomes, a peer assistance program organized by Halo Jiwa Indonesia targeting teenagers and young adults, especially during the COVID-19 Pandemic Period. Through this program, the principles of online peer counselling and Psychological First Aid (PFA) are sought to be combined. The result analysis indicated that most of the problems experienced by the participants were classified as personal problems, especially self-management and anxiety. Regarding the effect, participants reported positive feelings, such as relief and feelings of pleasure. The majority of participants also gave a satisfactory evaluation of RRO, in which the services were appraised to help reduce the perceived stress. This report also presented several strengths, weaknesses, opportunities, and threats from the RRO program that can be considered for the development of a similar program applying the principles of peer counselling, psychological first aid, and online psychological services which have the potential in the future, along with the development of information and communication technology.
 
Pertimbangan rasional perlu dimiliki oleh account officer ketika mereka memutuskan untuk menyetujui atau menolak proposal kredit pelanggan. Sebagai bagian dari profesi marketing, seorang account officer harus melayani pelanggan dengan baik yang diwujudkan dengan mengucurkan kredit kepada customer. Berdasarkan itu, menarik untuk melihat bagaimana account officer menggunakan gaya pengambilan keputusan tertentu berdasarkan pada sikap risiko dan orientasi terhadap pelanggan. Tiga skala yang terdiri dari dua sub-skala orientasi risiko, skala orientasi pelanggan penjual, dan lima sub-skala gaya pengambilan keputusan diberikan kepada 138 pekerja berprofesi account officer dari perbankan swasta. Analisis data menggunakan teknik korelasi kanonik menunjukkan bukti bahwa ada korelasi yang signifikan antara sikap terhadap risiko dan orientasi pelanggan dengan gaya pengambilan keputusan. Sikap menghindari risiko dan orientasi pelanggan berkorelasi positif dengan pengambilan keputusan yang rasional. Sikap kecenderungan mengambil risiko berkorelasi positif dengan pengambilan keputusan intuitif. Penghindaran risiko dan kecenderungan mengambil risiko berkorelasi positif dengan tipe pengambilan keputusan dependant. Penghindaran risiko berkorelasi positif dengan pengambilan keputusan tipe avoidant. Kecenderungan mengambil risiko berkorelasi positif, dimana orientasi pelanggan berkorelasi negatif, dengan pengambilan keputusan spontan. Hasil dari penelitian ini memiliki beberapa implikasi praktis, seperti dapat digunakan pertimbangan kriteria pemilihan account officer, atau meningkatkan program pelatihan untuk petugas akun untuk meningkatkan penggunaan analisis rasional.
 
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh psikoedukasi terhadap kemampuan guru dalam melakukan deteksi dini masalah ADHD pada siswa dan keterampilan intervensi kelas. Desain penelitian ini adalah eksperimen kuasi dengan dua kelompok partisipan, kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan Evaluasi Kemampuan Deteksi Dini ADHD dan Evaluasi Keterampilan Intervensi Kelas. Teknik analisis data menggunakan independent sample t-test. Hasil penelitian ini adalah psikoedukasi tentang pengetahuan ADHD berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan guru melakukan deteksi dini masalah ADHD pada siswa (p<0.05). Penelitian ini juga membuktikan bahwa psikoedukasi tentang pengetahuan ADHD berpengaruh secara signifikan terhadap ketrampilan guru melakukan intervensi kelas (p<0.05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah psikoedukasi mengenai ADHD terbukti berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan guru melakukan deteksi dini masalah ADHD pada siswa dan keterampilan intervensi kelas.
 
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas behavioral parent training untuk menurunkan stres pengasuhan pada ibu yang memiliki anak dengan ADHD. Desain penelitian ini adalah eksperimen kuasi dengan dua kelompok, kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Partisipan penelitian ini adalah 9 orang ibu yang memiliki anak dengan ADHD. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan Parenting Stress Index-Short Form (PSI-SF), modul Behavioral Parent Training, observasi dan wawancara. Analisis data menggunakan independent sample t-test. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa behavioral parent training efektif untuk menurunkan stres pengasuhan pada ibu yang memiliki anak dengan ADHD. Stres pengasuhan ibu menurun secara signifikan setelah mengikuti behavioral parent training. Hal ini berarti bahwa konten pelatihan behavioral parent training yang menitikberatkan pada peningkatan kemampuan ibu dalam mengelola stres dan peningkatan sumber daya, kompetensi ibu dalam menghadapi anak dan peningkatan persepsi ibu terhadap kemampuannya terbukti efektif.
 
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara persepsi keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan kesiapan menikah emerging adult perempuan di Surabaya. Penelitian dilakukan secara online pada 128 responden perempuan dengan rentang usia 18-25 tahun. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner persepsi keterlibatan ayah dalam pengasuhan yang disusun berdasarkan teori Pleck (2010) dan kuEsioner kesiapan menikah yang berdasarkan teori Blood (1978), beserta satu aitem pendukung penelitian dengan total keseluruhan 88 aitem. Kedua alat ukur tersebut disusun secara mandiri melalui uji coba terpakai. Reliabilitas kesiapan menikah menunjukkan nilai 0,776 dan persepsi keterlibatan ayah dalam pengasuhan menunjukkan nilai 0,995, artinya, kedua alat ukur yang digunakan memiliki reliabilitas yang tinggi. Analisis data dilakukan dengan Pearson Product Moment Correlation, dengan menggunakan IBM SPSS Statistic 22. Hasil penelitian yang sudah dilakukan menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara persepsi keterlibatan ayah dalam pengasuhan dengan kesiapan menikah yang signifikan pada emerging adult perempuan di Surabaya. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi untuk dunia psikologi pendidikan dan perkembangan terkait dengan topik kesiapan menikah. This study aimed to determine the relationship between Perceived Father Involvement and Readiness for Marriage in Emerging Adult Female in Surabaya. There were 128 female respondents between 18-25 years old, and the data were collected online. The instruments used were Perceived Father Involvement Questionnaire based on Pleck’s theory (2010), Readiness for Marriage based on Blood’s theory (1978), and one supporting item totaling 88 items. The measuring instruments were arranged independently through a preliminary study. The Readiness of Marriage’s reliability value was 0.0776, and the Perceived Father Involvement value was 0.995, confirming that the two measuring instruments have high reliability. The data were analyzed using Pearson Product Moment Correlation on IBM Statistics 22. The significant value was 0.007. Thus, there was a significant correlation between readiness for marriage and perceived father involvement in emerging adult females in Surabaya. The research result can be used as a reference for educational and developmental psychology, particularly related to readiness for marriage.
 
Penelitian ini berfokus pada temuan pelanggaran kebebasan beragama/berkeyakinan (KBB) di lingkungan perguruan tinggi negeri (PTN), antara lain sumpah atas tegaknya khilafah, persetujuan terhadap syariah sebagai pedoman bernegara, serta lingkungan kampus yang cenderung dikuasai kelompok fundamentalis karena mahasiswa memiliki paham keagamaan yang kaku dan kerap salah paham. Langkah kebijakan institusi pendidikan terkait temuan tersebut hanya bersifat klarifikasi dan belum mencakup penelusuran terhadap akar permasalahan pelanggaran KBB. Hipotesis penelitian adalah fundamentalisme agama merupakan faktor yang berpengaruh terhadap kecenderungan bias (narsisme kolektif dan out-group derogation) pada aktivis mahasiswa PTN. Metode penelitian berupa eksperimen dengan pemberian priming yang pada penelitian sebelumnya terbukti meningkatkan kecenderungan bias. Subjek penelitian adalah 203 (N=203) mahasiswa PTN yang tergabung dalam organisasi mahasiswa ekstra kampus berbasis Islam. Hasil penelitian menunjukkan fundamentalisme agama tidak berpengaruh signifikan terhadap narsisme kolektif dan out-group derogation. Pemberian priming tidak terbukti meningkatkan kecenderungan bias (narsisme kolektif dan out-group derogation) pada aktivis mahasiswa PTN.
 
Remaja yang tumbuh dengan kondisi kemiskinan seringkali dikaitkan dengan perkembangan yang maladaptif. Mahasiswa Bidikmisi sebagai remaja dari keluarga miskin yang mampu bangkit dan memiliki prestasi di bidang akademik adalah sebuah kasus yang menarik untuk dipelajari. Penelitian-penelitian sebelumnya mengenai prestasi akademik yang dimiliki mahasiswa Bidikmisi banyak dikaitkan dengan motivasi berprestasi. Usaha pencapaian prestasi tak luput dari kemampuan individu dalam meregulasi dirinya demi mencapai tujuan yang diinginkan. Penelitian ini memiliki fokus untuk mencari tahu pengaruh dari tingkat regulasi diri yang dimiliki mahasiswa Bidikmisi terhadap motivasi berprestasi. Data didapatkan dengan metode survei menggunakan kuesioner berisi skala Regulasi Diri dan skala Motivasi Berprestasi yang disusun sendiri oleh peneliti dengan sampel sebanyak 294 mahasiswa Bidikmisi angkatan 2018 di Universitas Airlangga. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat regulasi diri memiliki pengaruh secara positif terhadap motivasi berprestasi yang dimiliki mahasiswa Bidikmisi di Universitas Airlangga.
 
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh orientasi tujuan dan persepsi siswa pada kompetensi guru terhadap prokrastinasi akademik. Metode yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan subjek 132 siswa SMA Kristen Cita Hati Surabaya yang dipilih melalui teknik proportionate stratified random sampling. Alat pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner skala orientasi tujuan, persepsi siswa pada kompetensi pedagogik guru, dan prokrastinasi akademik siswa Analisis data yang digunakan adalah analisis regresi berganda. Hasil analisis regresi ganda melalui program IBM SPSS 23 menunjukkan Fhitung sebesar 1.492 dan p=.299 (p>.05) yang menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara orientasi tujuan dan persepsi siswa pada kompetensi guru terhadap prokrastinasi akademik siswa.
 
Perceraian akan berdampak pada bagaimana seorang anak akan membangun harga diri. Pasca perceraian, pola hubungan antara orang tua dengan anak juga akan cenderung terganggu dan tidak konsisten. Berkaitan dengan tugas perkembangan dewasa awal untuk membangun intimasi dengan orang lain, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara harga diri dan persepsi pola asuh dengan ketakutan akan intimasi. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif melalui survei. Dari hasil analisis ditemukan bahwa terdapat hubungan antara harga diri dan persepsi pola asuh demokratis dengan ketakutan akan intimasi pada dewasa awal yang memiliki orang tua bercerai. Akan tetapi, hubungan ini hanya rendah hingga sedang sehingga penelitian lebih lanjut terkait ketakutan akan intimasi perlu mempertimbangkan faktor-faktor lain.
 
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji hubungan antara faktor yang menyebabkan trauma masa lalu dengan status mental beresiko gangguan psikosis pada remaja. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif eksplanatori dengan analisis uji korelasi Spearman’s rho dengan 183 subjek, terdiri dari 91 laki-laki dan 92 perempuan dengan kriteria remaja akhir berusia 17-24 tahun yang berdomisili di Jakarta. Penelitian ini menggunakan metode survey menggunakan kuisioner. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur faktor trauma pada masa lalu adalah kuisioner faktor trauma pada masa lalu, sedangka alat ukur yang mengukur status mental beresiko gangguan psikosis adalah skala identifikasi status mental beresiko gangguan psikosis. Kedua alat ukur dikembangkan oleh Ambarini (2019). Penelitian ini menghasilkan terdapat hubungan signifikan antara faktor trauma masa lalu dengan status mental beresiko gangguan psikosis. Hubungan ini memiliki kekuatan arah positif, artinya apabila seseorang memiliki nilai faktor trauma pada masa lalu yang tinggi maka resiko memiliki status mental beresiko juga akan tinggi.
 
Kecenderungan remaja perempuan melakukan ruminasi kognitif meningkat pada masa pandemi COVID-19, yang pada akhirnya dapat memunculkan gangguan kecemasan dan depresi. Intervensi Analisis Lirik dalam kelompok untuk mengarahkan pemikiran dan memperkenalkan mekanisme koping yang lebih efektif dapat menjadi salah satu metode Terapi Kognitif Perilaku dalam mengatasi ruminasi kognitif. Dalam laporan ini, karakteristik anggota kelompok intervensi sebagai penggemar musisi Korea Selatan BTS (Bangtansonyeondan) melandasi pemilihan lagu. Mendiskusikan lagu “Permission to Dance” dengan lirik yang optimis memberikan tilikan (insight) mengenai strategi koping positif dan efektif yang dapat dilakukan alih-alih melakukan ruminasi kognitif. Hasil penelitian ini menyarankan bahwa kombinasi Intervensi Analisis Lirik dengan psikoedukasi dan penugasan pengamatan diri secara mandiri dapat menurunkan gejala depresi, kecemasan, dan stres partisipan.
 
Cedera pada atlet seringkali terjadi dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda. Demikian pula rasa sakit yang ditimbulkan. Selain mengalami nyeri dan pengobatan medis, aspek psikologis juga secara khas terlihat seperti munculnya rasa cemas, takut, nyeri yang tidak bisa dijelaskan munculnya, hingga hilangnya rasa percaya diri atlet itu sendiri. Performa mereka akan terganggu, bahkan dalam beberapa kondisi karir mereka bisa saja terhenti. Praktisi kesehatan mengungkapkan bahwa rasa sakit tidak hanya dapat dikendalikan dengan metode biochemical atau obat-obatan (drugs), melainkan dengan memodifikasi aspek motivasi dan proses kognisi (Sarafino, 2008). Ini merupakan cara pandang yang sedikit berbeda dan kompleks dimana para psikolog akan terlibat untuk melakukan teknik yang dilakukan untuk membantu klien mampu mengatasi rasa sakit dan rasa tidak nyaman terhadap stressor dengan lebih efektif. Di sisi lain, diharapkan penggunaan metode ini mampu mengurangi penggunaan obat atau zat kimia lain oleh subjek untuk mengatasi rasa sakit. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kesiapan dan kesigapan atlet dalam mengatasi rasa sakit dan stress yang muncul selama bermain basket dan khususnya saat cidera perlu kiranya mengetahui bagaimana penggunaan metode behavioral dan kognitif ini dan pengaruhnya terhadap mereka. Penelitian ini bermaksud mengeksplorasi penggunaan metode behavioral dan kognitif untuk mengendalikan rasa sakit dan stress pada atlet bola basket pro.
 
Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan deteksi dini permasalahan anak jalanan yang berada di rumah singgah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Partisipan adalah lima pengasuh dari tiga rumah singgah anak jalanan di Surabaya. Metode pengambilan data adalah Focus Group Discussion (FGD). Hasil penelitian menunjukkan; (1) perilaku spesifik anak: mengganggu teman, malas, banyak bermain, memegang alat vital temannya, berkata kotor, motivasi belajar rendah, membangkang, memukul teman, keras kepala, kesulitan belajar; (2) perilaku bermasalah: anak yang mengancam bunuh diri; (3) interaksi anak dengan orangtua asuh: baik, intens, pengasuh terlibat membantu mengatasi masalah anak; (4) permasalahan emosional anak: mudah marah, tersinggung, kurang terbuka, membentak teman dan pendamping, memukul teman, emosional saat bicara, cemas, marah, perasaan bersalah dan sedih; (5) faktor penyebab anak asuh bermasalah: pergaulan, lingkungan sekolah, kurangnya afeksi orangtua, kurangnya minat belajar, perilaku kekerasan yang diterima anak dari orangtua kandung, kemiskinan dan keluarga tidak harmonis.
 
Artikel ini disusun dengan harapan semakin banyaknya alternatif tes kesiapan masuk sekolah dasar yang dapat dilakukan oleh praktisi psikologi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji vailidtas tes Bender-Gestalt (BG) dengan menggunakan Nijmeegse Schoolbekwaamheids Test (NST) sebagai kriteria. Fokus dalam kajian ini adalah satu variabel, yaitu; kesiapan sekolah dasar. Penelitian bersifat kuantitatif deskriptif dan korelasional, dengan partisipan dalam kajian ini terdiri 397 anak dari tiga sekolah yang tersebar di Sidoarjo, Bangkalan dan Probolinggo. Hasil skor tes BG dengan skor NST (sebagai kriteria) menunjukkan adanya korelasi positif (r=.337, nilai p<0.01). Hal ini menunjukkan bahwa tes BG memiliki validitas konkuren yang baik ketika dibandingkan dengan alat yang menjadi kriterianya yaitu Nijmeegse Schoolbekwaamheids Test (NST).
 
Kasus penderaan pada anak semakin marak terjadi, bahkan pelaku penderaan pada anak seringkali merupakan orang terdekat dengan anak. Salah satu strategi yang dapat digunakan untuk mengurangi penderaan pada anak yang dilakukan oleh orangtua adalah dengan memberikan pelatihan pengasuhan pada orangtua. Penelitian ini bertujuan untuk melihat efektivitas pelatihan pengasuhan among untuk mengurangi kecenderungan orangtua melakukan penderaan pada anak. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode quasi experimental yang dilakukan pada 11 orangtua di Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Surabaya. Teknik analisis data yang digunakan adalah paired t-test, dimana peneliti terlebih dahulu memberikan pretest yang mengukur perilaku penderaan orang tua dan pengasuhan among kemudian alat ukur yang sama diujikan kembali setelah pelatihan selesai. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelatihan pengasuhan among efektif digunakan untuk menurunkan kecenderungan orangtua melakukan penderaan jika ditinjau dari aspek sikap dan perilaku orangtua. Sedangkan jika ditinjau dari aspek pengetahuan, maka pelatihan pengasuhan among tidak efektif digunakan.
 
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) hubungan antara persepsi dukungan organisasi dan dukungan sosial keluarga dengan etos kerja, 2) hubungan persepsi dukungan organisasi dengan etos kerja, 3) hubungan dukungan sosial keluarga dengan etos kerja. Sampel penelitian ini berjumlah 61 orang anggota kepolisian. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan cluster random sampling. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Analisis data penelitian dilakukan menggunakan analisis regresi ganda. Hasil penelitian ini menunjukkan nilai F(61)=27.420, df=2, nilai p=.000, R=.697, yang berarti terdapat hubungan positif yang signifikan antara persepsi dukungan organisasi dan dukungan sosial keluarga dengan etos kerja. Secara parsial, terdapat hubungan positif yang signifikan antara persepsi dukungan organisasi dengan etos kerja (rx|y= 0,410; p=0,001) dan terdapat hubungan positif yang signifikan antara dukungan sosial keluarga dengan etos kerja (rx|y= 0,334; p=0,009). Nilai R2 dalam penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi dukungan organisasi dan dukungan sosial keluarga secara bersama-sama memberikan sumbangan efektif sebesar 48,6% terhadap etos kerja. Kata kunci: dukungan sosial keluarga, etos kerja, persepsi dukungan organisasi ABSTRACT This study aims to identify: 1) relation between perceived organizational support and family social support with work ethos, 2) relation between perceived organizational support with work ethos 3) relation between family social support with work ethos. This study was conducted on 61 active police department officers, selected by using cluster random sampling method. This study was using quantitative approach. Data analysis used multiple regression analysis technique. Result shows the score of F(61)=27.420, df=2, p=.000, R=.697, which means that there is a significant, positive correlation between perceived organizational support and family social support with work ethos. Partially, there is a significant, positive correlation between perceived organizational support with work ethos (rx|y= 0,410; p=0,001 < 0,05) and also between family social support with work ethos (rx|y= 0,334; p=0,009 < 0,05). R2 score shows that both perceived organizational support and family social support give effective contribution until 48,6% to work ethos. Keywords: family social support, perceived organizational support, work ethos
 
Atlet Taekwondo sering mengalami kecemasan sebelum bertanding yang dapat mempengaruhi performanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat korelasi antara religiusitas dengan kecemasan bertanding atlet Taekwondo. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan 176 partisipan atlet Taekwondo di Jawa Timur. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala religiusitas dan skala kecemasan bertanding. Hasil uji hipotesis menunjukkan terdapat hubungan antara religiusitas dengan kecemasan bertanding pada atlet Taekwondo dengan koefisien korelasi yang sedang dan negatif.
 
Penelitian ini bertujuan untuk melihat ada atau tidaknya hubungan antara harapan (hope) dengan resiliensi pada istri yang mengalami involuntary childless. Penelitian ini ditujukan untuk istri involuntary childless yang memiliki usia pernikahan 5 tahun atau lebih. Jumlah subjek dalam penelitian adalah 66 orang. Alat ukur yang digunakan pada penelitian ini adalah skala harapan State Hope Scale (SHS) (Snyder e. a., 1996) berjumlah 6 aitem (α= 760), skala resiliensi Resilient Quotient (RQ) (Reivich & Shatte, 2002) yang telah ditranslasi oleh Mardiani (2012) berjumlah 32 aitem (α=0,789). Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, diperoleh hubungan yang positif (R=0,280, p<0,05) antara harapan (hope) dengan resiliensi pada istri yang mengalami involuntary childless. Hal tersebut dapat diartikan bahwa semakin tinggi tingkat harapan yang dimiliki, maka semakin tinggi pula resiliensi yang dimilikinya, begitupula sebaliknya. This study aimed to study should there be any relationship between hope and resilience on involuntary childless wife. The participants of the study were involuntary childless wives whose marriage age was 5 years or more. There were 66 participants. The measuring instrument of hope was Snyder’s State Hope Scale (1996) with 6 items (α= 760). The measuring instrument of resilience was Reivich & Shatte’s Resilient Quotient (2002) containing 32 translated items (α=0.789). The data analysis result confirmed that there was a positive correlation (R=0.280, p<0.05) between hope and resilience on involuntary childless wives. The results showed that higher level of hope signifies a higher level of resilience and vice versa.
 
Gangguan mental berkontribusi pada peningkatan beban sakit dunia, resiko yang besar salah satunya dimiliki oleh usia dewasa awal. Akibat adanya faktor hambatan, seseorang memilih untuk tidak mencari bantuan pada profesional. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara literasi kesehatan mental dan stigma diri terhadap intensi mencari bantuan pada dewasa awal. Penelitian ini menggunakan metode survei dan purposive sampling. Melibatkan 571 responden dewasa awal (berusia 18-29 tahun),asesmen dilakukan menggunakan skala intensi mencari bantuan (MHSIS), skala literasi kesehatan mental (MAKS) dan skala stigma diri terkait pencarian bantuan (SSOSH). Hasil menunjukkan bahwa literasi kesehatan mental berkorelasi positif dengan intensi mencari bantuan R=0,190 (p=0,000), stigma diri berkorelasi negatif dengan intensi mencari bantuan R=-0,399 (p=0,000), stigma diri berkorelasi negatif dengan literasi kesehatan mental R=-0,188 (p=0,000). Penelitian ini menyimpulkan bahwa seorang dewasa awal yang memiliki literasi kesehatan mental yang baik memiliki kecenderungan stigma diri yang rendah dan tingkat intensi mencari bantuan yang tinggi
 
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peranan prokrastinasi dengan kesejahteraan psikologi pada dosen di Universitas X Malang. Responden yang digunakan berjumlah 84 Dosen dengan mengggunakan teknik convenience sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Uni Procrastination Scale dan Skala Kesejahteraan Psikologis. Hasil analisis data dengan menggunakan regresi liner sederhana, mendukung hipotesis penelitian, yaitu terdapat korelasi antara prokrastinasi dengan kesejahteraan psikologis dengan koefisien korelasi .561 (p<.05) dan memiliki sumbangan relatif sebesar 31.5%. Penelitian selanjutnya dapat diarahkan untuk menekankan tentang perbedaan individual maupun kelompok dalam kaitannya dengan prokrastinasi dan kesejahteraan psikologis.
 
Merupakan sebuah keniscayaan apabila setiap organisasi, termasuk organisasi pendidikan mencanangkan dan mengalami perubahan. Visi yang dimiliki oleh suatu organisasi adalah acuan arah dari perubahan yang diinginkan. Setiap bagian di dalam organisasi seharusnya bergerak ke arah visi dari organisasi tersebut. Penelitian ini diadakan di Departemen Matakuliah Umum (DMU) Universitas XYZ. Penelitian ini berfokus untuk melakukan perubahan untuk meningkatan kualitas belajar mengajar, secara khusus menyusun standar materi kuliah DMU di Universitas XYZ. Penelitian ini akan difokuskan untuk memberikan peningkatan kapasitas DMU untuk melakukan perubahan dengan menemukan inti perubahan menggunakan metode Appreciative Inquiry (AI) dan melakukan perubahan dengan menggunakan dasar beberapa langkah perubahan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Visi perubahan dalam penelitian ini diterjemahkan dalam suatu rencana kerja jangka panjang. Rencana kerja yang diambil setelah menjalani semua proses penelitian ini adalah: materi perkuliahan, perilaku dosen, dan manajemen DMU.
 
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika pengambilan keputusan wanita beretnis Arab yang menjalin hubungan romantis dengan pria beretnis non-Arab. Tradisi dalam Etnis Arab adalah pernikahan sesama etnis, sehingga wanita beretnis Arab diwajibkan untuk menikah dengan pria beretnsi Arab. Pengambilan keputusan merupakan pemilihan alternatif perilaku dari dua alternatif atau lebih. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Responden dalam penelitian ini merupakan wanita beretnis Arab berusia 22 tahun yang sedang menjalin hubungan romantis dengan pria beretnis non-Arab. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dinamika partisipan dalam mengambil keputusan perihal hubungan romantisnya dengan pria beretnis non-Arab terjadi akibat adanya perbedaan prinsip partisipan dengan nilai yang dianut dalam keluarga sebagai keturunan dari etnis Arab. Faktor yang mempengaruhi terjadinya dinamika tersebut bersumber dari faktor internal, yang terdiri dari persepsi dan prinsip, serta faktor eksternal yang terdiri dari kebudayaan Arab, hubungan dengan kekasih, pengalaman, dan nilai yang dianut keluarga.
 
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran proses kematangan emosi individu dewasa awal yang dibesarkan dengan pola asuh orang tua permisif dilihat dari manifestasi kematangan emosi dan faktor-faktor yang mempengaruhi proses kematangan emosi individu. Kematangan emosi termanifestasi melalui tiga dimensi yaitu kontrol emosi, pemahaman diri, dan fungsi kritis mental serta dipengaruhi faktor individu, lingkungan dan pengalaman dalam proses pencapaiannya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik studi kasus intrinsik yang melibatkan empat individu dewasa awal. Teknik penggalian data menggunakan wawancara kualitatif dengan pedoman umum. Teknik analisis data menggunakan metode analisis tematik theory driven. Pemantapan kredibilitas penelitian dilakukan dengan membercheck. Hasil penelitian menunjukkan pola asuh orang tua permisif berdampak pada proses kematangan emosi individu dewasa awal baik secara positif maupun negatif, ditandai dengan keadaan serta pengelolaan emosi yang terganggu, proses pencapaian pemahaman diri yang terbangun dari faktor di luar keluarga, dan fungsi kritis mental yang berkembang.
 
Tujuan dari intervensi ini adalah untuk menguji efektivitas terapi mindfulness-based body scan untuk mengurangi stres pada atlet bola basket wanita profesional. Intervensi ini menggunakan desain single subject design. Setiap partisipan intervensi berlatih 5 menit mindfulness breathing, 15 menit body scan, dan STOP sebagai teknik untuk menghadapi situasi stres. Pada setiap sesi terapi, partisipan akan diberikan skala perceived stress (PSS-10) untuk mengukur perubahan tingkat stres pada setiap sesinya. Hasil dari analisis visual dalam intervensi ini menunjukkan bahwa terdapat penurunan stres pada partisipan setelah terapi mindfulness-based body scan. Penulis menganalisis data dengan teknik percentage of non-overlapping data (PND) untuk mengukur effect size dan hasil analisis menunjukkan efek terapi yang relatif besar untuk menurunkan stres partisipan.
 
Kehadiran remaja autisme dapat mempengaruhi rutinitas dan pola hubungan keluarga. Individu membutuhkan kemampuan resiliensi agar dapat bangkit dan bertahan. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan proses resiliensi ayah tunggal yang memiliki remaja autisme. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Kedua partisipan merupakan ayah tunggal, karena istri meninggal lebih dari dua tahun sebelumnya dan memiliki remaja dengan gangguan autisme. Hasil penelitian menunjukkan kedua partisipan memiliki proses resiliensi yang berbeda, dilihat dari peningkatan pada pemahaman personal, lingkungan yang mendukung, dan kemampuan mengatasi masalah. Perbedaan yang dimaksud adalah kehadiran caregiver yang dimiliki sehingga partisipan kedua membutuhkan usaha yang lebih besar dalam menjalani proses resiliensi. Kesimpulan penelitian ini adalah kedua partisipan sudah mengalami antisipasi grief ketika istri sakit dan terdapat pengalaman mengasuh remaja autisme sehingga dapat membantu proses resiliensi ayah tunggal. Harmonisasi hubungan suami istri sangat diperlukan sedini mungkin sebagai persiapan jika salah satu pasangan meninggal dunia, serta keluarga dan teman diharapkan tetap memberikan dukungan.
 
Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara persepsi dampak work fatigue dengan persepsi kualitas pelayanan internal awak kabin maskapai berbiaya rendah di Indonesia. Sebanyak 40 orang awak kabin maskapai berbiaya rendah di Indonesia mejadi subjek dalam penelitian ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan tipe penelitian survey. Data diperoleh dengan menggunakan alat ukur Fatigue Impact Scale (FIS) yang terdiri dari 40 item dan alat ukur Pelayanan Penerbangan yang terdiri dari item awal berjumlah 19 item yang kemudian dikurangi menjadi 17 item saja dikarekanakan tidak relevan dengan penelitian ini. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi dampak work fatigue tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan persepsi kualitas pelayanan internal awak kabin maskapai berbiaya rendah di Indonesia, dikarenakan nilai signifikansi yang didapatkan sebesar 0,295. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara persepsi dampak work fatigue dengan persepsi kualitas pelayanan internal pada awak kabin maskapai berbiaya rendah di Indonesia.
 
Tujuan penelitin ini untuk mengetahui learned helplessness pada wanita dewasa awal korban kekerasan dalam pacaran yang masih bertahan. Learned helplessness adalah kondisi yang muncul karena ketidakmampuan individu mengatasi atau menghentikan peristiwa negatif yang terjadi terus menerus sehingga menyebabkan penurunan respon. Learned helplessness dibagi menjadi tiga dimensi yaitu penurunan motivasi, penurunan kognitif dan penurunan emosi. Penelitian ini mneggunakan teori learned helplessness milik Seligman (1975). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus instrumental, menggunakan analisis tematik theory-driven. Partisipan berjumlah 3 wanita dewasa awal berusia 22-23 tahun yang mengalami kekerasan dalam pacaran dan masih bertahan dengan pasangannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga subjek mengalami kondisi learned helplessness. Faktor yang memengaruhi munculnya learned helplessness pada ketiga subjek adalah fase kekerasan, kekerasan psikologis dan faktor power dan kontrol yang dimiliki pelaku. Ketiga subjek mengalami penurunan motivasi, penurunan kognitif dan penurunan emosi. This research aimed to explain learned helplessness in early adult women who were victims of dating violence, yet they still maintain the relationship. Learned helplessness is a condition where individuals are no longer able to cope or stop negative events that occur continuously, promoting response deficit. There are three learned helplessness dimensions: motivational deficit, cognitive deficit, and emotional deficit. This study used Seligman's (1975) learned helplessness theory. This was a qualitative study with an instrumental case study approach. The framework used was thematic analysis using the theory-driven approach. This study involved 3 early adult women aged 22-23 years old who experienced dating violence yet still maintain the relationship. The results showed that all participants experienced learned helplessness. There were three factors that influenced the learned helplessness; there was a cycle of violence, psychological violence, and power and control factor by the perpetrators. All participants demonstrated motivational deficit, cognitive deficit, and emotional deficit.
 
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengalaman mempertahankan komitmen berpasangan pada perempuan dewasa awal yang menjalani hubungan dengan laki-laki yang memiliki penyakit kronis. Komitmen merupakan segala kekuatan baik positif maupun negatif yang berfungsi untuk mempertahankan individu dalam suatu hubungan. Orang yang merasa terikat pada suatu hubungan dengan orang lain akan senantiasa berada bersama-sama dengan orang itu dalam suka maupun duka (Taylor, Peplau, & Sears, 2009). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe penelitian fenomenologi. Penelitian ini melibatkan satu orang subjek perempuan dewasa awal berusia 31 tahun yang menjalani hubungan berpasangan selama 13 tahun dengan laki-laki yang memiliki penyakit kronis. Teknik penggalian data pada penelitian ini menggunakan wawancara dengan pertemuan sebanyak dua kali dengan partisipan. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis interpretative phenomenological analysis (IPA). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa partisipan memiliki pandangan yang berbeda mengenai komitmen berpasangan. Selama menjalani hubugan berpasangan, partisipan juga menghadapi beragam tantangan yang memengaruhi komitmennya. Faktor-faktor yang memperkuat komitmen berpasangan yang didapatkan melalui penelitian ini juga bervariasiPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengalaman mempertahankan komitmen berpasangan pada perempuan dewasa awal yang menjalani hubungan dengan laki-laki yang memiliki penyakit kronis. Komitmen merupakan segala kekuatan baik positif maupun negatif yang berfungsi untuk mempertahankan individu dalam suatu hubungan. Orang yang merasa terikat pada suatu hubungan dengan orang lain akan senantiasa berada bersama-sama dengan orang itu dalam suka maupun duka (Taylor, Peplau, & Sears, 2009). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe penelitian fenomenologi. Penelitian ini melibatkan satu orang subjek perempuan dewasa awal berusia 31 tahun yang menjalani hubungan berpasangan selama 13 tahun dengan laki-laki yang memiliki penyakit kronis. Teknik penggalian data pada penelitian ini menggunakan wawancara dengan pertemuan sebanyak dua kali dengan partisipan. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis interpretative phenomenological analysis(IPA). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa partisipan memiliki pandangan yang berbeda mengenai komitmen berpasangan. Selama menjalani hubugan berpasangan, partisipan juga menghadapi beragam tantangan yang memengaruhi komitmennya. Faktor-faktor yang memperkuat komitmen berpasangan yang didapatkan melalui penelitian ini juga bervariasi
 
Sekolah adalah tempat dimana remaja dapat belajar dan mengembangkan kapasitas positif diri. Sekolah menjadi saluran sosialisasi hidup yang penting bagi remaja karena remaja menghabiskan rata-rata waktu delapan jam di sekolah. Dalam konteks tersebut maka guru berperan penting menjadi orang yang dapat menjadi sumber pengetahuan dan pendamping ketika remaja mengembangkan kapasitas positif dirinya. Tujuan dari pelatihan ini adalah untuk meningkatan pengetahuan dan keterampilan guru Sekolah Menengah Atas (SMA) dalam mendampingi remaja mengembangkan diri secara positif. Metode yang digunakan pada kegiatan ini meliputi pendidikan, pelatihan, dan penugasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menunjukkan bahwa sebanyak 88 persen peserta mampu mendesain kegiatan Positive Youth Development untuk diterapkan disekolahnya.
 
Penelitian ini bertujuan untuk meneliti apakah ada pengaruh penerapan positive behavior support terhadap pengembangan budaya inklusi Surabaya. Budaya inklusi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sekumpulan nilai dan perilaku yang mencerminkan usaha untuk mewujudkan tujuan sekolah inklusi, yaitu memberikan hak yang sama bagi seluruh anak untuk mendapatkan layanan pendidikan agar mereka bisa mengembangkan kemampuannya secara maksimal. Penelitian ini dilakukan pada 243 siswa. Teknik sampling yang digunakan adalah cluster random sampling. Alat pengumpulan data berupa skala psikologis, yaitu skala budaya inklusi yang disusun oleh peneliti mengacu pada index for inclusion dari Booth dan Ainscow (2002). Analisis data dilakukan dengan teknik statistik Wilcoxon signed ranks test dengan bantuan program SPSS 16.0 for windows. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Positive behavior support memiliki pengaruh yang cukup signifikan untuk meningkatkan budaya inklusi (r=0.38, p<0.05).
 
Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengalaman dan makna pencapaian prestasi belajar pada mahasiswa Program Pascasarjana dengan peran ganda. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Penelitian ini melibatkan tiga orang mahasiswa perempuan pada Program Pascasarjana yang berstatus menikah dan bekerja dengan indeks prestasi kumulatif diatas 3.50 sebagai kriteria partisipan. Teknik penggalian data dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam. Teknik pemantapan kredibilitas yang digunakan adalah member check. Analisis data penelitian menggunakan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Temuan pengalaman dalam mencapai prestasi belajar pada mahasiswa dengan peran ganda meliputi tertib presensi perkuliahan, mengerjakan tugas tepat waktu, mempersiapkan diri mengikuti ujian, dan melengkapi literatur yang mendukung pembelajaran. Temuan makna dalam mencapai prestasi belajar meliputi meningkatkan harga diri, membuat bangga keluarga, dan mencapai jenjang karir. Berdasarkan hasil temuan dalam penelitian, dapat disimpulkan bahwa pengalaman mahasiswa dengan peran ganda berbeda-beda dalam mencapai prestasi belajar, sehingga pengalaman tersebut juga dimaknai berbeda menurut persepsi masing-masing individu.
 
Intervensi ini menggunakan terapi seni dan suportif untuk menurunkan gejala depresi pada perempuan korban kekerasan seksual. Terapi seni memanfaatkan proses kreatif untuk membantu partisipan mengeksplorasi diri melalui menggambar sebagai media yang menekankan kebebasan dalam berkomunikasi, sehingga nantinya dapat membantu partisipan dalam menghadapi permasalahan. Terapi suportif bertujuan untuk memberikan dorongan dan keyakinan pada diri partisipan sehingga memunculkan tilikan (insight). Partisipan dalam laporan kasus ini berjumlah satu orang perempuan korban kekerasan seksual yang memiliki gejala depresi. Alat ukur yang digunakan untuk mengetahui tingkat depresi partisipan adalah Beck Depression Inventory-II (BDI-II). Kemudian, analisis efektivitas dari intervensi dilakukan dengan menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif guna mengetahui perubahan sebelum dan sesudah diberikan intervensi. Hasil menunjukkan bahwa depresi yang dialami partisipan mengalami penurunan dibandingkan sebelum menjalani intervensi.
 
World Federation of Mental Health (WFMH) sebagai bagian dari World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa masalah kesehatan mental tidak lagi dilihat secara individual, namun harus diintervensi dalam skala makro/sistem. Oleh karena itu, pengetahuan praktis mengenai kesehatan mental selayaknya juga dipahami oleh masyarakat. Partisipan dalam penelitian aksi ini adalah masyarakat Pedukuhan X di Kecamatan Moyudan, Sleman, D.I. Yogyakarta. Tujuan penelitian aksi ini adalah membentuk komunitas masyarakat sehat jiwa dan hati (SEHATI) yang bisa mendeteksi gejala awal masalah kejiwaan dan dapat segera melaporkannya kepada profesional kesehatan mental di Puskesmas. Metode penelitian yang dilakukan adalah penelitian tindakan dengan melibatkan keluarga pasien dan perangkat pedukuhan (tokoh masyarakat dan pengelola pendidikan). Intervensi dilakukan dengan teknik psikoedukasi yang dibagi dalam tiga materi untuk tiga kelompok berbeda. Hasil utama Penelitian aksi ini adalah pembentukan kader kesehatan mental yang bertugas membantu profesional kesehatan mental di Puskesmas. Oleh karena itu, perlu diadakan pelatihan rutin untuk meningkatkan kemampuan kader kesehatan mental.
 
Gangguan mental emosional (GME) dapat berdampak pada kondisi kesehatan remaja secara menyeluruh. Salah satu GME yang rentan terjadi pada remaja adalah gangguan cemas. Banyaknya faktor risiko yang memengaruhi munculnya kondisi gangguan cemas pada remaja membuat kajian mengenai faktor-faktor tersebut pada remaja umur 14–17 tahun di Kota Denpasar menjadi penting. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan potong lintang dan metode survei analitik. Hasil menunjukkan bahwa dari 370 remaja, terdapat 133 remaja (35,9%) yang mengalami cemas berat hingga sangat berat dan 125 remaja (33,8%) lainnya mengalami cemas ringan hingga sedang.Riwayat penyakit kronis, kualitas tidur, pola asuh otoriter, pola asuh permisif, dan keharmonisan keluarga ditemukan terkait dengan kecemasan. Di antara faktor-faktor tersebut, kualitas tidur menjadi yang paling prediktif. Oleh karena itu, diperlukan sinergisitas Dinas Kesehatan Kota Denpasar, sekolah, dan orang tua dalam mengampanyekan pentingnya kualitas tidur bagi remaja.
 
Safety performance merupakan perilaku kerja yang terkait dengan keselamatan pekerja dalam melakukan pekerjaannya. Banyaknya kasus kecelakaan kerja yang terjadi di Indonesia menguatkan urgensi dilakukannya penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi safety performance seseorang dalam bekerja. Skala untuk mengukur kepribadian, pengetahuan dan motivasi seseorang tentang keselamatan kerja, serta safety performance diberikan kepada 142 pekerja dengan risiko tinggi. Analisis regresi menunjukkan bahwa ada korelasi negatif yang signifikan dari tipe kepribadian neuroticism (B=-0.067, SE=0.031, nilai p=.03), dan korelasi positif dari safety knowledge (B=0.387, SE=0.06, nilai p<.001) dan safety motivation (B=0.317, SE=0.064, nilai p<.001) terhadap aspek compliance pada safety performance. Lebih lanjut, ada korelasi negatif yang signifikan dari pendidikan (B=-0.406, SE=0.160, nilai p=.012), serta korelasi positif dari aspek kepribadian openness to experience (B=0.082, SE=0.03, nilai p=.008), safety knowledge (B=0.355, SE=0.068, nilai p<.001) dan safety motivation (B=0.454, SE=0.073, nilai p<.001) terhadap aspek partisipasi. Hasil penelitian ini dapat dijadikan dasar seleksi maupun pengembangan karyawan, khususnya untuk mereka yang bekerja pada lingkungan dengan resiko tinggi.
 
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan religiusitas terhadap intensi membeli kosmetik berlabel halal. Religiusitas adalah tingkat konsepsi dan komitmen seseorang terhadap agamanya. Sedangkan, intensi membeli adalah indikasi seberapa kuat keyakinan seseorang untuk mencoba suatu perilaku dan mengupayakan perilaku tersebut. Penelitian ini dilakukan pada 183 wanita Muslim di Surabaya. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah adaptasi skala religiusitas berjumlah 19 aitem sedangkan intensitas membeli menggunakan skala yang berjumlah 8 aitem. Hasil uji korelasi menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara religiusitas dengan intensi membeli kosmetik berlabel halal.
 
Penelitian ini bertujuan untuk menguji besarnya kontribusi pemaafan dan syukur terhadap kesehatan mental di tempat kerja. Partisipan penelitian diambil dari karyawan dan dosen Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang sebanyak 167 orang melalui teknik pengambilan sampel proposional. Instrumen yang digunakan yaitu Skala pemaafan, skala syukur, dan Inventori Kesehatan Mental (MHI) (α=.888) yang telah dimodifikasi oleh penulis.Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai R=.462 p<.05 dengan koefisien determinan sebesar .213. Hal ini berarti pemaafan dan syukur mampu menjadi prediktor bagi tinggi rendahnya kesehatan mental sebesar 21.3 persen.
 
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran resiliensi yang ditinjau dari teori Grotberg. Sumber resiliensi, sebagaimana dinyatakan oleh Grotberg, dibagi menjadi 3 dimana terdapat sumber I am, I have, dan I can. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe penelitian studi kasus intrinsik. Pemilihan partisipan menggunakan purposive sampling dengan metode screening resilience. Partisipan berjumlah 3 remaja perempuan yang terdiri dari seorang remaja berusia 14 tahun dan 2 remaja berusia 15 tahun. Proses pengambilan data menggunakan wawancara dan dianalisis menggunakan analisis tematik theory-driven. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ketiga partisipan memiliki bentuk coping stress yang berbeda untuk menuju resiliensi. Partisipan 3 memiliki resiliensi paling menonjol di antara partisipan lain, dan meskipun terdapat banyak adversity yang dialami, partisipan 3 menunjukkan resiliensi yang tinggi melalui indikator I am. This study aimed to overview the Grotberg's resilience theory. The source of resilience, as stated by Grotberg, is divided into 3 which include "I am", "I have", and "I can". This was qualitative intrinsic case study. The participants were chosen by purposive sampling with resilience screening methods. There were 3 female adolescent participants; one aged 14 years old and the other two aged 15 years old. The data were collected using interviews and analyzed using theory-driven thematic analysis. The result of this study indicated that the participants had different forms of coping stress towards resilience. Participant 3 was the most prominent among other participants, and although participant 3 experienced adversity, the participant demonstrated a high resilience as evidenced through the "I am" indicator.
 
Table 1 . Theory scheme based on CHC (Three Stratum Theory) 
Second Trial Fluid Intelligence Statistics Summary (N=242, 64 items) 
Third Trial Fluid Intelligence Statistics Summary (N=699, 52 items) 
This study aimed to examine the validity of the Fluid Intelligence Test, constructed based on the Cattel-Horn-Carroll theory. There were two sources of validity used in this study, which were evidence based on the internal structure and evidence based on relation with other variables. Sixty-four items have been composed and tested to 242 people. The data was analyzed using confirmatory factor analysis technique and correlations technique to examine test validity. The result of this study showed that the prepared model worked quite well in describing the narrow abilities of fluid intelligence, as showed by the receipt of fit indexes accuracy of the model, such as Chi-Square value .42 (p = .518), Goodness Fit Index (GFI) = 1, and Rooted Mean Square Error (RMSEA) = .00. Similar result was also showed by its correlation with other variables, which are .717 (TIKI) and .606 (CFIT). This suggested that Fluid Intelligence Test has good validity.
 
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh organizational constraints dan kepribadian terhadap work engagement pada relawan. Penelitian mengenai work engagement pada konteks pekerjaan tidak dibayar seperti relawan masih terbatas (Vecina, Chacon, Sueiro, & Barron, 2012). Adanya turnover yang terjadi pada relawan di organisasi non-profit mengindikasikan rendahnya work engagement pada relawan (Scherer, Allen, & Harp, 2015). Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kuantitatif dengan jumlah subjek 141 relawan. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Organizational Constraints Scale (OCS) (Liu, Nauta, Li, & Fan, 2010), Big Five Inventory (BFI) versi Indonesia (Ramdhani, 2012), dan Utrecth Work Engagement Scale (UWES) versi relawan (Vecina, Chacon, Sueiro, & Barron, 2012). Analisa data dilakukan dengan menggunakan uji regresi berganda dalam IBM SPSS 22 for Windows. Hasil penelitian ini menunjukkan organizational constraints dan kepribadian berpengaruh terhadap work engagement relawan. Sementara dimensi yang berpengaruh terhadap work engagement relawan yaitu dimensi interpersonal constraints dan agreeableness.
 
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika stress pasca perceraian dan strategi coping yang digunakan ibu tunggal yang bekerja. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode studi kasus. Partisipan dalam penelitian ini adalah tiga orang. Ketiga partisipan menjadi ibu tunggal akibat bercerai dengan suami dan memiliki hak asuh penuh atas anak mereka. Teknik pengambilan data dalam penelitian ini adalah wawancara dan pemberian kuesioner gejala stress.Hasil penelitian menunjukan dinamika stress pada ibu tunggal melibatkan gejala stress, sumber stress, dan respon terhadap stress. Pasca bercerai dengan suami ibu tunggal menunjukan gejala stress berupa meningkatnya tekanan darah, mudah marah, sering menunda pekerjaan, perubahan pola makan, peningkatan pola konsumsi rokok, dan gangguan tidur. Sumber stress pada ketiga partisipan adalah hadirnya ‘orang ketiga’ dalam rumah tangga mereka. Respon terhadap stress yang ditunjukan ketiga partisipan adalah anxiety, anger and aggression, dan cognitive impairment. Pada penelitian ini juga ditemukan perbedaan penghayatan emosi terhadap stressor perceraian antar ibu tunggal. Partisipan 1 dan 3 memiliki penghayatan emosi yang cenderung negatif terhadap perceraiannya dan menganggap stressor tersebut sebagai traumatic event. Sedangkan partisipan 2 memiliki penghayatan emosi yang positif terhadap perceraiannya dan hanya menganggap stressor minor sehingga bisa cepat bangkit dari keterpurukan. Coping stress pasca perceraian yang dilakukan ibu tunggal yang bekerja meliputi planfull problem solving, confrontative, seeking for social support, distance, escape/avoidance, positive reappraisal, self-control, dan acceptance responsibility. Dari hasil penelitian ini ditemukan pula kompleksitas stressor pada partisipan yang menyebabkan multiple stress. Temuan ini berbanding lurus dengan penelitian Chinaveh (2013) dimana individu yang gagal mengatasi tekanan-tekanan akan mengalami kelelahan mental dan fisik atau terserang penyakit.
 
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara cyberbullying victimization dengan kesehatan mental pada remaja. Sampel penelitian sebanyak 209 partisipan (102 laki-laki dan 107 perempuan) dengan rentang usia 16-18 tahun yang dipilih menggunakan purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan negatif yang signifikan antara cyberbullying victimization dan kesehatan mental pada remaja. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa remaja yang memiliki pengalaman lebih rendah sebagai korban cyberbullying memiliki kesehatan mental yang positif. Sebaliknya, remaja yang memiliki pengalaman lebih tinggi sebagai korban cyberbullying memiliki kesehatan mental yang negatif. Kesimpulannya, hasil menunjukkan bahwa korban cyberbullying di media sosial dikaitkan dengan kesehatan mental pada remaja, baik berdampak positif maupun negatif. The aim of the study was to determine the relationship between cyberbullying victimization and mental health in adolescents. A total of 209 adolescents, consisting of 102 males and 107 females, with age ranges 16-18 years, were selected using purposive sampling technique as research participants. The result has shown that there was a negative significant correlation between cyberbullying victimization and mental health in adolescents. The result also showed that adolescent with less experience as cyberbullying victim would have positive mental health while adolescent with more experience as cyberbullying victim have negative mental health. In conclusion, this result showed that a cyber-victim on social media was associated with mental health, whether it's a positive effect or negative affect.
 
Sejauh mana perusahaan dapat berinovasi ditentukan oleh perilaku kerja inovatif dari masing-masing pekerja, terutama pekerja generasi milenial yang mendominasi di era digital sekarang, yang mana mengaburkan batasan kerja dengan kehidupan pribadi. Hal ini memunculkan fenomena cyberloafing. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik survei secara online. Teknik sampling yang digunakan adalah non-probability sampling bertipe purposive sampling. Jumlah subjek penelitian sebanyak 103 responden yang tersebar di berbagai industri kreatif digital di Indonesia. Alat pengumpulan data berupa kuesioner cyberloafing dan kuesioner Innovative Work Behaviour. Analisis data dilakukan dengan teknik statistik korelasi Bivariate Pearson dengan bantuan program IBM SPSS Statistic 25 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat dengan arah hubungan positif (r(103)=0,518, p<0,05) antara cyberloafing dengan innovative work behaviour generasi milenial yang bekerja di industri kreatif digital.
 
Top-cited authors
Suryanto Suryanto
  • Airlangga University
Hamidah Hamidah
  • Airlangga University
Ilham Akhsanu Ridlo
  • Airlangga University
Primatia Yogi Wulandari
  • Airlangga University
Indahria Sulistyarini
  • Universitas Islam Indonesia