Evangelikal Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat

Published by Sekolah Tinggi Teologi Simpson
Print ISSN: 2548-7868
Publications
This study aims to determine how much influence the understanding of following Jesus according to the Gospel of Matthew 16:24 on the motivation for the call to be the Servant of God among students of STT Nusantara Salatiga. This research uses descriptive quantitative method. The results showed that there was a low influence between the understanding of following Jesus according to the Gospel of Matthew 16:24 on the motivation for the call to become servants of God in students of STT Nusantara Salatiga in 2018. This is indicated by the level of correlation which is only 0.222. The results of the regression analysis showed that the coefficient of determination was 22.2%, meaning that the motivation for the call to become God's servant for STT Nusantara Salatiga students in 2018 was influenced by 22.2% by the understanding of following Jesus according to the Gospel of Matthew 16: 24, the rest 77.8% was influenced by other factors. which the authors did not research. The existence of a gap between understanding and motivation is due to other factors that may also significantly influence motivation. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh pemahaman mengikut Yesus menurut Injil Matius 16:24 terhadap motivasi panggilan menjadi Hamba Tuhan pada mahasiswa STT Nusantara Salatiga. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya pengaruh yang rendah antara pemahaman mengikut Yesus menurut Injil Matius 16:24 terhadap motivasi panggilan nmenjadi hamba Tuhan pada mahasiswa STT Nusantara Salatiga tahun 2018. Hal ini ditunjukkan dengan tingkat korelasi yang hanya sebesar 0,222. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa koofisien determinasi sebesar 22,2%, artinya motivasi panggilan menjadi hamba Tuhan mahasiswa STT Nusantara Salatiga tahun 2018 dipengaruhi 22,2% oleh pemahaman mengikut Yesus menurut Injil Matius 16: 24, selebihnya 77,8% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti oleh penulis. Adanya kesenjangan antara pemahaman dengan motivasi disebabkan adanya factor-faktor lain yang mungkin secara signifikan juga mempengaruhi motivasi.
 
Make Disciples: The Duty of Church Discipleship According to Matthew 28: 18-20. This article discusses the task of church discipleship according to Matthew 28: 18-20. The author conducted a literature study to understand the intent of Matthew 28: 18-20 and to carry out the construction of the task of discipleship in the church. The task of discipleship, Jesus addressed his disciples, then proceeded to their successors who lived in a community of faith to carry out the task of discipleship. In the task of discipleship, the community of faith in a church as an institution takes action to proclaim the good news so that every nation can be part of a community of faith in Jesus Christ. In discipleship, everyone who enters the community of faith in Christ is accepted without distinction, because this task is a multicultural task. Teaching is an important part of the discipleship task. Teaching is done in order to strengthen new believers or new students enter the community of faith in Jesus, then they become disciples of the Lord Jesus who can be sent to disciple others. Jadikanlah Murid: Tugas Pemuridan Gereja Menurut Matius 28:18-20. Artikel ini membahas tentang tugas pemuridan gereja menurut Matius 28:18-20. Penulis melakukan studi pustaka untuk memahami maksud Matius 28:18-20 dan melakukan konstruksi tugas pemuridan gereja. Tugas pemuridan, Yesus tujukan kepada para murid-murid-Nya, kemudian dilanjutkan oleh pada penerus mereka yang hidup dalam sebuah komunitas iman untuk menjalankan tugas pemuridan tersebut. Dalam tugas pemuridan, komunitas iman dalam sebuah gereja sebagai suatu institusi melakukan tindakan pergi untuk mewartakan kabar baik sehingga setiap bangsa dapat menjadi bagian dari komunitas iman pada Yesus Kristus. Dalam pemuridan, setiap orang yang masuk dalam komunitas iman pada Kristus, diterima dengan tanpa membedakan mereka, sebab tugas ini adalah tugas yang multikultural. Pengajaran merupakan bagian penting dalam tugas pemuridan. Pengajaran dilakukan agar dapat memantapkan orang-orang yang baru percaya atau murid-murid baru masuk ke dalam komunitas iman pada Yesus, kemudian mereka menjadi murid Tuhan Yesus yang dapat diutus untuk memuridkan orang lain.
 
The Bible records differences in the formula of baptism. As Jesus taught in Matthew 28:19, those who believe should be baptized in the name of the Father, the Son, and the Holy Spirit. Meanwhile, in some parts of the Bible, the disciples command every believer to be baptized in the name of Jesus Christ. This study tries to describe the formula of baptism taught by Jesus. It is a descriptive research and used the Bible, books, and journals as the main sources. It is concluded that the formula of baptism in the name of Jesus does not contradict His teachings. However, because Jesus Himself taught that baptism must be in the name of the Father, the Son and the Holy Spirit, in practice, it is better to use the formula He had taught.
 
Participation of Religious Leaders in Helping the Success of the Government's COVID-19 Vaccination Program. The basic idea of this paper departs from observations in the virtual and real world, where certain people or groups are found who disagree with the need to be vaccinated. If the country's people reject the mandatory mass vaccination, which the government is discussing, it will take a long time to restore normal activities. This paper uses a descriptive qualitative method with a literature study approach. The description in this paper found some people's rejection of vaccines because their views or perceptions about COVID-19 influenced it. The government's hope to immediately carry out mass vaccinations for all Indonesian people must be balanced with maximum efforts to make it happen. This substantial effort can be made by providing massive education in the media, conducting public campaigns, and providing guarantees to vaccine recipients. On the other hand, the success of this vaccination program does not only depend on the government; all elements of society are expected to contribute in this regard, especially religious leaders. The manifestation of the involvement of religious leaders is by educating the congregation through the pulpit about vaccines. In addition, religious leaders must also set an example by participating in vaccinations and actively countering hoax news. The dominance of factual information about vaccines dominates mass lines on social media. ABSTRAKKeikutsertaan Pemuka Agama Dalam Membantu Mensukseskan Program Vaksinasi COVID-19 Pemerintah. Ide dasar tulisan ini berangkat dari pengamatan di dunia maya dan nyata, yang mana ditemukan orang-orang atau kelompok tertentu yang tidak menyetujui keharusan untuk divaksin. Apabila masyarakat tanah air kecenderungan menolak wajib vaksinasi masal yang diwacanakan oleh pemerintah, tentu akan lama memulihkan aktivitas normal kembali. Tulisan ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur. Uraian pada tulisan ini ditemukan, penolakan sebagian orang terhadap vaksin karena dipengaruhi oleh pandangan atau persepsi mereka mengenai COVID-19. Harapan pemerintah untuk segera melakukan vaksinasi masal ke seluruh masyarakat tanah air, harus diimbangi upaya yang maksimal dalam mewujudkannya. Upaya konkret itu dapat dilakukan dengan pemberian edukasi secara masif di media, melakukan kampanye publik dan adanya jaminan kepada penerima vaksin. Disisi lain suksesnya program vaksinasi ini tidak hanya bergantung kepada pemerintah, semua elemen masyarakat diharapkan kontribusinya dalam hal ini terutama para pemuka agama. Wujud dari keterlibatan pemuka agama adalah dengan mengedukasi jemaat melalui mimbar tentang vaksin. Selain itu, pemuka agama juga harus memberi contoh dengan ikut divaksin, serta aktif mengcounter berita hoax agar dominasi berita faktual tentang vaksin menguasai lini massa di media sosial.
 
The issue of Christianity and the local culture has been a discussion that continues to flourish. The issue of the challenge of preaching the Gospel, which was considered incompatible with the spirituality of the local community, has been contested since the first century. Paul, as an apostle, faced the challenge of preaching the gospel because of the exclusivity of early Christianity. This article is aimed at explaining Paul's teachings in 1 Corinthians 9:1-23 from a missiological point of view. This article is aimed at describing how Paul carried out his missionary work in a society of diverse cultures and spiritualities. The author intends to explain it through an exegesis that emphasizes the passage's historical, grammatical, and contextual aspects. Missionary work is a noble task from God. Cultural diversity requires missionaries to be flexible with cultural conditions without compromising the values of biblical theology. The mission does not have to uproot a person from his or her culture but can provide a new interpretation of that culture according to Christian truth. While giving new meaning to culture, the material of the mission must be Christocentric. Flexibility to local culture can reduce the level of resistance from local communities.
 
There is an understanding that women and their bodies are the source of sin that must be shunned in our society. It is also evident in Christianity, where themes about women's bodies and their sexuality are also often associated with sin, transgression and punishment. This understanding is rooted in the story of Eve eating fruit in the Garden of Eden (Gen. 3:1-24) which is seen as a story of the "fall" of humans because of women's sin. In other words, women are seen as the cause of humans falling into sin. Of course, this understanding has a negative impact on women dignity. Women then experience discrimination almost in all fields. Their body and sexuality are also controlled by men. In this regard, a re-reading of the text of Genesis 3:1-24 is needed to free women from such kind of understanding. The author interprets the text of Genesis 3:1-24 from a feminist perspective using literature research methods. The result of this interpretation is that women are not the source of sin but rather the source of wisdom. Through the results of this interpretation is expected to change the way of thinking of society to respect women and their bodies better. Dalam kehidupan masyarakat terdapat pemahaman bahwa perempuan dan tubuhnya adalah sumber dosa yang harus dijauhi. Hal ini tampak dalam kekristenan di mana tema tentang tubuh perempuan dan seksualitasnya juga sering dihubungkan dengan dosa, pelanggaran dan hukuman. Pemahaman ini berakar dari kisah Hawa makan buah di taman Eden (Kej. 3:1-24) yang dipandang sebagai cerita “kejatuhan” manusia karena dosa perempuan. Dengan kata lain, perempuan dipandang sebagai penyebab manusia jatuh ke dalam dosa. Pemahaman ini menimbulkan dampak negatif terhadap perempuan secara keseluruhan. Perempuan mengalami diskriminasi hampir dalam segala bidang. Tubuh dan seksualitas mereka juga dikontrol oleh laki-laki. Sehubungan dengan hal itu, perlu dilakukan pembacaan ulang terhadap Kejadian 3:1-24 untuk membebaskan kaum perempuan. Penulis menafsirkan Kejadian 3:1-24 dari perspektif feminis dengan menggunakan metode penelitian literatur. Hasil dari penafsiran ini adalah bahwa perempuan bukan sumber dosa melainkan adalah sumber hikmat. Melalui hasil tafsiran ini diharapkan dapat mengubah cara berpikir masyarakat untuk lebih menghargai perempuan dan tubuhnya.
 
Murni Hermawaty Sitanggang & Juantini, Self-Image According to Genesis 1:26-27, The Application for Youth Stewards The Indonesian Pentecostal Church Hebron-Malang. The right understanding about self-image as written in Genesis 1:26-27 will affect someone’s way of life. This research tries to prove that with focused on to the Youth Stewards at The Indonesian Pentecostal Church Hebron-Malang. The research used a qualitative method with a descriptive and exegetical approach. The result is most of the ministers do not have the right self-image as Genesis 1:26-27 said yet. From the religious side, their self-image is low with 36,5% score, and from the psychological side they score 45,9% and then from the social side the result is 55,5%. Murni Hermawaty Sitanggang & Juantini, Citra Diri Menurut Kejadian 1:26-27, dan Aplikasinya bagi Pengurus Pemuda Remaja GPdI Hebron-Malang. Pengertian yang benar tentang citra diri manusia sebagaimana tertulis dalam Kejadian 1:26-27 akan mempengaruhi cara hidup seseorang. Penelitian ini berusaha membuktikan hal tersebut dengan memfokuskan sasaran penelitian kepada pengurus pemuda remaja GPdI Hebron-Malang.Penelitian yang dilakukan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif dan eksegesis. Dari hasil penelitian kemudian didapat bahwa sebagian pengurus belum sepenuhnya memiliki citra diri yang dimaksudkan dalam Kejadian 1:26-27. Dari segi rohani, citra diri mereka rendah dengan persentase 36,5%, kemudian dari segi psikologi persentase yang didapatadalah 45,9% dan dari segi sosial hasilnya adalah 55,5%.
 
The leadership of God's servant raises a polemic because there are still those who think about God's servant being only servant and not being leader, however, in that opinion it is true. The researcher found a superior idea from Matthew 20:25-28 that placed God's servant not only as servant but also as leader. The method used in this research is the research developed by Walter C. Kaiser, Jr. in the book Towards Exegetical Theology: Biblical Exegesis for Teaching and Teaching, which addresses: contextual analysis, syntactic analysis, verbal analysis, theological analysis and homiletical analysis. The researchers, after observing the principle of exegesis presented by Kaiser, Jr., found that the text of Matthew 20: 25-28 could be discussed the themes of the leadership of God's servant who studied contextual and syntactical analysis providing support for the theme. Researchers also pay attention to verbal analysis, theological analysis and homiletical analysis, the results of which support the characteristics of God's servant leadership in Matthew 20:25-28, namely: communicative, assertive, gentle, humble, serving, willing to sacrifice.
 
The Kingdom of God is the main teaching Jesus teached trough the Sermon on the mountain. Jesus’ sermon on the mountain may called a basic teaching of Jesus. All teachings, advices and answers from someone or people group afterward consist to His teachings in the sermon on the mountain. The Christians are well known to the text of the sermon on the muntain but did not hold the teaching as a foundation in thinking dan deeds in daily life. Jesus’ main teaching is transformation. The listener in the ancient time or the reader today, who confess as a citizen of the Kingdom of God couraged ti live not only obey the law literally, but must have deepest acknowledgment about the law and live according to the new deepest sight about the law. The transformation that become Jesus’ most important teaching are about transformation in personal life, social life, personal spirituality life and communal spirituality life. Kerajaan Allah adalah inti dari khotbah Tuhan Yesus yang disampaikan di atas bukit, atau yang lebih dikenal dengan Khotbah di Bukit. Khotbah di Bukit dapat juga disebut sebagai inti atau dasar pengajaran Tuhan Yesus. Semua pengajaran, nasihat dan jawaban yang diberikan atas pertanyaan orang-orang secara pribadi maupun kelompok orang, bersesuaian dengan pengajaran-Nya melalui Khotbah di Bukit. Orang Kristen tidak asing dengan pengajaran dalam Khotbah di Bukit, tetapi belum semua orang Kristen menjadikan ajaran dalam Khotbah di Bukit sebagai dasar pijakan dalam hidup dan tindakan sehari-hari. Inti dari jaran Tuhan Yesus dalam Khotbah di Bukit adalah pembaruan. Para pendengar dan pembaca masa kini, yang mengaku sebagai “warga Kerajaan Allah” didorong untuk hidup bukan saja berpatokan pada hukum yang tertulis; dalam hal ini Hukum Taurat, tetapi pada pemahaman yang lebih dalam dan mendasar atau hakiki dari hukum Tuhan tersebut. Pembaruan yang menjadi tekanan Tuhan Yesus meliputi kehidupan pribadi, dalam kehidupan bersosial, kerohanian pribadi dan kerohanian komunal atau hidup keagamaan.
 
Harming & Katarina, Cross-cultural Service Strategy based on Mark 4: 1-34. The author conducted a study of the text of Mark 4: 1-34 using qualitative research literature study using the biblical hermeneutic principle. Based on the analysis of the text of Mark 4: 1-34 the authors find there are four cross-cultural service strategies namely by understanding local culture, using media. Harming & Katarina, Strategi Pelayanan Lintas budaya Berdasarkan Markus 4:1-34. Penulis melakukan penelitian terhadap teks Markus 4:1-34 dengan menggunakan penelitian kualitatif studi pustaka dengan menggunakan prinsip hermeneutik Alkitab. Berdasarkan analisis terhadap teks Markus 4:1-34 penulis menemukan ada empat strategi pelayanan lintas budaya yaitu dengan memahami budaya lokal, menggunakan media yang ada dalam budaya, memberdayakan potensi yang ada, dan menciptakan terobosan.
 
Arif Wicaksono, When God Is "Silent": Analysis of Rhetoric Job 39: 4-15. While referring to the contemplation of life's struggles, the book of Job is often one of the best stories in strengthening the faith of the congregation. Unfortunately, some approaches to the strengthening of faith in the book of Job take only in the first and second chapters, then immediately look at the last chapter of this book. It is rare to find the discussions touching the dialogs contained in the middle of this book. But if we want to look closely, the dialogues between Job and his friends, Job with God and God's answer to Job give a lot of life values about how believers should behave in temptation. This paper has a purpose to present one the topic of contemplation drawn from the dialogue between God and Job when God posed rhetorical questions to Job. The approach used in studying texts is a literal context approach with the aim of exploring the meaning of every word in Hebrew and the context that influences the text. What is to be expected in this discussion is that the reader can understand God's providence for the temptations his people experience in the rhetorical question raised to Job. Arif Wicaksono, Ketika Allah "Diam": Analisis Retorika Ayub 39:4-15. Saat memberikan rujukan perenungan terhadap pergumulan hidup, sering kali kitab Ayub dijadikan salah satu kisah terbaik dalam menguatkan iman jemaat. Sayangnya beberapa pendekatan terhadap penguatan iman dari kitab Ayub hanya mengambil dalam pasal pertama dan kedua kemudian meloncat pada pasal terakhir dari kitab ini. Jarang sekali pembahasan-pembahasan menyentuh dialog-dialog yang terdapat dalam bagian tengah dari kitab Ayub.Padahal jika mau melihat dengan baik dialog-dialog antara Ayub dan teman-temanya, Ayub dengan Tuhan dan jawaban Tuhan kepada Ayub memberikan banyak sekali nilai-nilai kehidupan tentang bagaimana seyogyanya orang percaya bersikap dalam pencobaan.Tulisan ini memiliki tujuan untuk megetengahkan salah satu topic perenungan yang terambil dari dialog antara Allah dengan Ayub saat Allah mengajukan pertanyaan-pertanyaan retorik kepada Ayub. Pendekatan yang dipakai dalam menelaah teks menggunakan pendekatan literal konteks, dengan tujuan menggali makna dari setiap kata dalam bahasa Ibrani dan konteks yang mempengaruhi teks.Diharapkan dalam pembahasan ini pembaca dapat memahami pemeliharaan Allah atas pencobaan yang dialami umat-Nya dalam pertanyaan retorik yang disampaikan kepada Ayub.
 
Harming, Methods of Evangelism Jesus In John 4:1-42. This type of research in this study is a qualitative research. The object of this study is the Gospel of John 4: 1-42. In writing this paper, the author will explain Evangelism approach used by Jesus Christ in the midst of people who have complex problems in the areas of social or cultural as faced by the Samaritan woman in the text of the Gospel of John 4: 1-42. Jesus broke through that gap by providing a new understanding to them that the most important thing is to hear the gospel of salvation. This approach is still relevant for believers who have the burden of evangelism. Harming, Metode Penginjilan Yesus Dalam Injil Yohanes 4:1-42. Jenis penelitian dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Objek penelitian ini adalah Injil Yohanes 4:1-42. Dalam penulisan makalah ini, penulis akan memaparkan pendekatan Penginjilan yang dipakai oleh Yesus Kristus di tengah-tengah masyarakat yang memiliki permasalahan yang kompleks di bidang sosial, maupun budaya seperti yang dihadapi oleh perempuan Samaria dalam teks Injil Yohanes 4:1-42. Yesus menerobos kesenjangan itu dengan memberikan pemahaman baru bagi mereka bahwa hal yang terpenting ialah mendengar tentang Injil keselamatan.Pendekatan ini juga masih relevan bagi orang-orang percaya yang memiliki beban terhadap penginjilan.
 
This historiographical article aims to describe Coolen as a pioneer of the indigenous church among the abangans in Ngoro, East Java in the 19th century, where he pioneered the ministry of indigenizing the gospel as an exciting new breakthrough. The discussion was conducted in stages of collecting historical data about Coolen, evaluating the obtained data, interpreting relevant data, and presenting the findings. The results show that Coolen was the initiator of the establishment of the ‘ngelmu’ Christian congregation among the abangans in Ngoro Village in the interior of East Java. He explained the secrets of ngelmu Kristen (lit., learning the Christianity) and appreciated Javanese culture as a new breakthrough in the ministry of preaching the gospel, compared to the Indische Kerk missionaries. However, some of his followers were more interested in joining Emde’s ministry pattern, so the outputs of his ministry were finally adopted into the Indische Kerk churches. Since then, the harvest of the abangans had stopped.
 
This study aimed to test and prove through data collection that the formation of the character of Christ in adolescents is influenced by the implementation of Christian religious education in the family and parenting patterns. The research method used in this research was the survey method - correlational. Based on the data analysis, the results showed that: 1) Christian religious education in the family had a significant effect on the formation of the character of Christ in adolescents; 2) Parenting patterns have a significant effect on the formation of Christ's character in adolescents; 3) Christian religious education in the family and parenting patterns together have a significant effect on the formation of the character of Christ. Thus, efforts to form the character of Christ in adolescents can be done by increasing the intensity of the implementation of Christian religious education in the family and increasing the right parenting pattern.
 
It is really love as strong as death? Exegesis Song of Songs 8:6-7and its relevance. Start from the phenomenon of wealth strength that is able to ' buy love ', the author questioned the truth of the statement 'for love is strong as death' in the book of Song of Songs 8:6-7 which is then analyzed by focusing on the lexicon, context, and syntax of grammar The Hebrew language and compare it to the existing interpretation. The results of the analysis show that Love is something universal included in its erotics love. The nature of Love is described as an extreme force that pushes a person in a positive direction but also negative. Love can build but also tear down. The power of love is confronted with the power of nature and treasures as a challenge as well as proving the power of love. Love with its paradoxical force of extremes can be overcome by the ratification of relationships. The text of the Song of Songs 8:6-7 raises the extreme power of strong love like death, but most of the interpretations are then supported by mystical and materialistic powers to make love ' not ' strong like death ABSTRAKBenarkah Cinta Kuat seperti Maut? Eksegesis Kidung Agung 8:6-7 dan Relevansinya. Berangkat dari fenomena kekuatan harta yang mampu ‘membeli cinta’, penulis mempertanyakan kebenaran pernyataan ‘karena cinta kuat seperti maut’ dalam kitab Kidung Agung 8:6-7 yang kemudian dianalisis dengan berfokus pada leksikon, konteks, dan sintaks tata bahasa Ibrani serta membandingkannya dengan penafsiran yang telah ada. Hasil analisis menunjukkan bahwa cinta adalah sesuatu yang universal termasuk di dalamnya cinta erotis. Sifat cinta digambarkan sebagai suatu kekuatan ekstrim yang mendorong seseorang ke arah yang positif tetapi juga negatif. Cinta dapat membangun tetapi juga meruntuhkan. Kekuatan cinta diperhadapkan dengan kekuatan alam dan harta sebagai tantangan sekaligus sebagai pembuktian kekuatan cinta. Cinta dengan kekuatan ekstrimnya yang paradoks dapat diatasi dengan pengesahan hubungan. Teks KA 8:6-7 mengemukakan kekuatan ekstrim cinta yang kuat seperti maut, namun sebagian besar penafsiran yang kemudian didukung oleh kekuatan mistis dan materialistik menjadikan cinta ‘tidak’ kuat seperti maut.
 
This article aims to determine the contribution of the play method in improving learning activities and learning outcomes for Sunday School children at the Indria level. Based on the results of field observations, it is known that the activities and learning outcomes of children are not considered good criteria. This is because during the learning process at Sunday Schools, especially at the Indria Level, Sunday School Teachers still apply conventional teaching methods, so that children become bored and pay less attention to what is being taught. This study used a classroom action research method involving 20 children as the research sample. There are two cycles used with four stages starting from planning the action, implementing the action, observing the action and reflecting. The results showed that by applying the play method, children's learning activities increased and children's learning outcomes were also good. ABSTRAKArtikel ini bertujuan untuk mengetahui adanya kontribusi dari metode bermain dalam meningkatkan aktivitas belajar dan hasil belajar anak Sekolah Minggu jenjang Indria. Berdasarkan hasil observasi di lapangan, diketahui bahwa aktivitas dan hasil belajar anak belum termasuk kriteria yang baik. Hal ini disebabkan pada saat proses pembelajaran di Sekolah Minggu khususnya di Jenjang Indria, Guru Sekolah Minggu masih menerapkan cara mengajar yang konvensional, sehingga anak menjadi bosan dan kurang memperhatikan apa yang diajarkan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian Tindakan kelas yang melibatkan 20 anak sebagai sampel penelitian. Ada dua siklus yang digunakan dengan empat tahapan yang dimulai dari perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi tindakan dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menerapkan metode bermain, aktivitas belajar anak meningkat dan juga hasil belajar anak menjadi baik.
 
Maria Lidya Wenas & I Putu Ayub Darmawan, Significance Children Education in Biblical Perspective. Education of children is important in human life. Formulation of the problem in this research is how the Bible perpsektif about children's education? The purpose of this study is to outline perpsektif Bible about children's education. Types of research in this paper is the qualitative research literature. The object of this study is a biblical perspective on the education of children. In this study, researchers conducted a literature study to be able to explore and understand the biblical view of children's education. In this study, the authors sought feedback from a grasp of Hebrew and Greek. This is to avoid the use of verses in Hebrew and Greek avoid deviations. From this study showed that (1) Education of children as the planting of faith; (2) Education of children as a process of knowledge transfer; (3) the child's education as a process of value investment. Maria Lidya Wenas &I Putu Ayub Darmawan, Signifikansi Pendidikan Anak Dalam Perspektif Alkitab. Pendidikan anak merupakan hal yang penting dalam kehidupan manusia. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana perpsektif Alkitab tentang pendidikan anak? Tujuan dari penelitian ini adalah memaparkan perpsektif Alkitab tentang pendidikan anak. Jenis penelitan dalam karya tulis ini adalah penelitian kualitatif studi pustaka. Objek penelitian ini adalah perspektif Alkitab tentang pendidikan anak. Dalam penelitian ini, peneliti melakukan studi literatur untuk dapat menggali dan memahami pandangan Alkitab tentang pendidikan anak. Dalam penelitian ini penulis meminta masukan dari seorang yang memahami tentang Bahasa Ibrani dan Bahasa Yunani. Hal tersebut dilakukan agar penggunaan ayat-ayat dalam Bahasa Ibrani dan Bahasa Yunani tidak terjadi penyimpangan. Dari penelitian ini diperoleh hasil yaitu (1) Pendidikan anak sebagai proses penanaman iman; (2) Pendidikan anak sebagai proses transfer pengetahuan; (3) pendidikan anak sebagai proses penanaman nilai.
 
Bambang Wiku Hermanto, A study and description of Theologic Apologetic to the phrase God Repent in the bible. The phrase "God repent" in the Bible Old Testament for some or perhaps most people, hard to understand. To gain a sense of that phrase, the writer conducted the research, there is: Biblika research: to dig understanding the phrase "God repent" by investigation meaning of words or phrases of Hebrew, after getting the data, conducted a study; whether there is deviation understanding of people believe in the phrase "God repent that and conducted the eforts correction to rectifying the mistake. Based on the research of a Hebrew word meaning, the word ~x;n" (nawkham) translated repent, not only has a single meaning: 1) God grieving, sad or concerned with the human condition that have done evil, Revolting and against the God will; 2) god be merciful to his son; 3) god loves his son are aware of his sin and repent; 4) The word "sorry" that means indeed repent as people who repent, in the sense of repent by God expected His people or human thought that God would repent; 5) The word "sorry" that means indeed repent as people who repent, God does not and will never repent. Bambang Wiku Hermanto, Kajian dan Uraian Apologetis Teologis Terhadap Ungkapan "Allah Menyesal" Dalam Alkitab. Ungkapan "Allah menyesal" di dalam Alkitab Perjanjian Lama untuk sebagian atau mungkin sebagian besar orang, sulit dipahami. Untuk memperoleh pengertian makna ungkapan tersebut, penulis melakukan penelitian, yakni: Penelitian Biblika, untuk menggali pengertian ung-kapan "Allah menyesal" berdasarkan penulusuran makna kata atau frasa dari Bahasa Ibrani, setelah mendapatkan data tersebut, dilakukan suatu kajian; apakah terjadi penyimpangan pengertian orang percaya terhadap ungkapan "Allah menyesal" tersebut dan dilakukan upaya koreksi untuk meluruskan kekeliruan tersebut. Berdasarkan penelusuran makna kata dari Bahasa Ibrani, kata ~x;n" (nawkham) yang diterjemah-kan menyesal, bukan hanya memiliki makna tunggal: 1) Allah berduka, bersedih atau prihatin dengan keadaan manusia yang telah berbuat jahat, memberontak dan melawan kehendak Allah; 2) Allah menaruh belaskasihan terhadap umat-Nya; 3) Allah mengasihani umat-Nya yang menyadari dosanya dan bertobat; 4) Kata "menyesal" yang artinya memang menyesal sebagaimana manusia yang menyesal, dalam pengertian Allah diharapkan menyesal oleh umat-Nya atau manusia berpikir bahwa Allah akan menyesal; 5) Kata "menyesal" yang artinya memang menyesal sebagaimana manusia yang menyesal. Allah memang ti-dak akan dan tidak pernah menyesal.
 
Provisions and implementation of the death penalty, is a serious and very severe law for perpetrators who are considered to have committed serious and serious violations before the law. The Indonesian state still holds and carries out such a death sentence, as regulated in the Criminal Code. There are three stages in the Bible regarding the provisions and execution of the death penalty: (1) The death penalty applies to people who sin directly to God, such as worshiping idols, turning to the spirits of the dead, chanting the name of God carelessly and not keeping the Sabbath day holy, (2 ) The death penalty applies to people who commit sins against others such as killing and all the acts of adultery, and (3) The provisions and execution of the death penalty are null and void for anyone who is in faith and obedience to Christ. The task as a Christian and church law enforcer is to bring sinners to believe and be in fellowship with Christ. For "criminals" who deserve to be sentenced to death, according to the Criminal Code, it is recommended that they be sentenced to life in retribution for violations. In this way, "criminals" are given the opportunity to be rehabilitated and reconstructed by Christ and His church, through Faith in Christ and His atonement work. So the point is that, the provisions and implementation of the death penalty must be canceled and replaced with life sentences. In such a sentence, "prisoners" only need to trust and obey Christ for the rest of their lives. This is called the Law of God's Grace. Ketentuan dan pelaksanaan hukuman mati, merupakan hukum yang serius dan sangat berat bagi para pelaku yang dianggap melakukan pelanggaran-pelanggaran serius dan berat di mata hukum. Negara Indonesia masih memegang dan melaksanakan hukuman mati seperti itu, sebagaimana diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Di dalam Alkitab terdapat tiga tahapan tentang ketentuan dan pelaksanaan hukuman mati: (1) Hukuman mati diberlakukan kepada orang yang berdosa langsung kepada Allah, seperti menyembah berhala, berpaling kepada arwah orang mati, menyebut nama Tuhan dengan sembarangan dan tidak menguduskan hari sabat, (2) Hukuman mati diberlakukan bagi orang yang melakukan dosa terhadap sesama seperti membunuh dan semua perbuatan zinah, dan (3) Ketentuan dan pelaksanaan hukuman mati batal dan tidak berlaku lagi bagi siapapun yang berada di dalam iman dan ketaatan kepada Kristus. Tugas sebagai penegak hukum Kristen dan gereja adalah membawa orang-orang berdosa supaya percaya dan berada di dalam persekutuan dengan Kristus. Bagi “para penjahat” yang patut dihukum mati, sesuai dengan KUHP, disarankan supaya dihukum seumur hidup saja sebagai retribusi atas pelanggaran yang dilakukan. Dengan cara demikian, “para pelaku kriminal” diberi kesempatan untuk direhabilitasi dan direkonstruksi oleh Kristus dan gereja-Nya, melalui Iman kepada Kristus dan karya pendamaian-Nya. Jadi intinya adalah bahwa, ketentuan dan pelaksanaan hukuman mati harus batal dan diganti dengan hukuman seumur hidup. Dalam status hukuman seperti itu, “para narapidana” hanya perlu percaya dan taat kepada Kristus selama sisa hidup yang masih ada. Inilah namanya Hukum Kasih Karunia Allah.
 
Honoring parents is a commandment from God that all mankind must carry out. This study aims to determine the true meaning of honouring parents and what practical action looks like. To answer the formulation of this problem, the researchers used a research method with a qualitative approach, namely, a method that looks for a deep meaning about the text, and extracts from several books or journals related to the problem. From the results of the discussion, honour for parents is an attitude that must be carried out throughout life through obedience, not insulting or criticizing and don't say harshly, as well as an attitude that nurtures, cares for and meets their needs. And God's promise for those who keep this law is a long life, happiness and a good condition, namely prosperity physically and spiritually. ABSTRAKMenghormati orang tua adalah perintah Tuhan yang harus dilaksanakan oleh semua umat manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui arti yang sebenarnya secara biblika dari menghormati orang tua dan seperti apa tindakan praktisnya. Untuk menjawab rumusan masalah ini, maka peneliti melakukan penelitian dengan pendekatan kualitatif yaitu, metode yang mencari arti yang mendalam tentang teks, dan menggali dari beberapa buku atau jurnal yang berkaitan dengan masalah tersebut. Dari hasil pembahasan maka menghormati orang tua merupakan sikap yang harus dilakukan sepanjang umur hidup melalui sikap taat, tidak menghina atau mencela dan tidak berkata kasar, juga sikap yang memelihara, merawat dan mencukupi kebutuhan mereka. Dan janji Tuhan bagi orang yang melaksanakan hukum ini adalah panjang umur, kebahagiaan dan memiliki keadaan baik yakni kemakmuran secara jasmani dan rohani.
 
The purpose of this paper is to analyze a culture of Betangkant Children of the Keninjal Dayak tribe as an effort to contextualize the good news. The study of the meaning and cultural aspects of raising children in an effort to apply the gospel or good news in the context of the life of the Dayak Keninjal community. Through the culture of Betangkant Children in the Keninjal tribe, Madyaraya Village gives meaning and an entrance to evangelism for Dayak Keninjal to accept Jesus Christ as Savior in his life and figure of a Father who loves His Son. God created humans with creativity to be cultured, and with the framework of human culture looking at God and accepting God's self-revelation through filters and a framework that was intact in culture. Sustainability of God's covenant relationship with His people in all times and in all contexts. The culmination of this agreement is the Lord Jesus, who brought a new covenant to His people. Tujuan penulisan ini adalah untuk menganalisis sebuah budaya Betangkant Anak Dayak Keninjal sebagai upaya kontekstualisasi kabar baik. Pengkajian aspek arti dan nilai budaya mengangkat anak dalam upaya penerapan Injil atau kabar baik dalam kontek kehidupan masyarakat Dayak Keninjal. Melalui budaya Betangkant Anak di suku Keninjal, desa Madyaraya memberikan makna dan pintu masuk penginjilan bagi suka Dayak Keninjal untuk menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat dalam kehidupanya dan figure seorang Bapa yang mengasihi Anak-Nya. Allah menciptakan manusia dengan kreatifitas untuk berbudaya, dan dengan kerangka budaya manusia memandang Allah dan menerima penyataan diri Allah melalui filter dan kerangka yang utuh budaya. Keberlangsungan hubungan perjanjian Allah dengan umat-Nya di segala waktu dan segala konteks. Puncak dari perjanjian ini adalah Tuhan Yesus, yang membawa perjanjian baru bagi umat-Nya.
 
Agus Marulitua Marpaung,Theological Viewabout The Mystery of God according to Ephesians 3:1-6. The Mystery of God is something that is very important to be understood.Because instead of it is needed to be revealed but it’s a spiritual thing which has the godly truth.Therefore fall to interpret it will follow to fall in understanding and practicing.Apostle Paul was entrusted a mystery ofGodwhich never been relevealed in precious generation.Through Qualitatif method of Researchwith Library research approach. This research will describethe mysteryof God that was revealed through Apostle Paul and it becomes the truth that is followed by the church nowday. Agus Marulitua Marpaung, Kajian Teologis Tentang Rahasia Allah berdasarkan Efesus 3:1-6. Rahasia Allah merupakan suatu hal yang sangat penting untuk dipahami. Karena selain mengandung hal yang belum terungkap tetapi juga memiliki unsur ilahi yang di dalamnya mengandung kebenaran ilahi, jadi kesalahan memahami rahasia Allah maka akan menyebabkan kekeliruan dalam pengajaran dan penerapan. Rasul Paulus dipercayakan suatu rahasia yang belum pernah dinyatakan pada angkatan sebelumnya, Maka melalui metode penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kepustakaan karya tulis ini memberikan penjelasan tentang rahasia yang diungkapkan oleh Allah melalui Rasul Paulus dan itulahyang menjadi dasar pengajaran dan pelayanan Rasul Paulus yang merupakan program Allah bagi gereja masa kini.
 
Julian Frank Rouw, Conceptual Review of God's Elections in Rome 9. Rejection of Israel as God's chosen nation, and justification of the Gentiles by faith is in the sovereignty of God. Paul explains God's act toward His chosen people in the past, in which Israel is distancing itself from God's mercy and neglecting its opportunity. In the present, Israel as a nation rejects the Messiah. In the future, Israel as a nation, will receive the Messiah and enjoy the promised blessings with the oath promise in the Old Testament. The key pressure of this context is that God's sovereignty is expressed in a vacuum, not a mere power. The choice of God's sovereignty is not based on an early knowledge of the choices and actions that humans will take in the future. However, God chooses to bless the unworthy through his faith (not on the basis of his achievement). God knows everything but He chooses to limit His choice in mercy and in promise. The human response must exist, but it follows and ultimately affirms the life-changing choice of God. On the sovereignty of God who has chosen who is chosen it can force us to draw the conclusion that God is 'unfair'. Paul has said that God's election is not bound to a lineage, that God is free to choose some of Abraham's offspring and reject some of the others. Julian Frank Rouw, Kajian Konseptual Tentang Pemilihan Allah Dalam Roma 9. Penolakan Israel sebagai bangsa Pilihan Allah, dan pembenaran orang-orang bukan Yahudi karena iman ada dalam kedaulatan Allah. Paulus menjelaskan tindakan Allah terhadap umat pilihan-Nya di masa lalu, dimana Israel sebagai menjauhkan diri dari kemurahan Allah dan mengabaikan kesempatannya. Di masa sekarang, Israel sebagai suatu bangsa menolak Mesias. Pada masa yang akan datang, Israel sebagai suatu bangsa, akan menerima Mesias dan menikmati berkat-berkat yang telah dijanjikan dengan janji sumpah di Perjanjian Lama. Tekanan kunci dari konteks ini adalah bahwa kedaulatan Allah dinyatakan dalam kemurahan, bukan kekuasaan semata-mata. Pilihan kedaulatan Allah tidak didasarkan atas pengetahuan dini akan pilihan-pilihan dan tindakan yang akan diambil oleh manusia di masa yang akan datang. Namun, Allah memilih untuk memberkati orang yang tidak layak melalui imannya (bukan atas dasar prestasinya). Allah mengetahui segala perkara namun Ia memilih untuk membatasi pilihan-Nya dalam kemurahan dan dalam janji. Tanggapan manusia harus ada, namun ini mengikuti dan akhirnya meneguhkan pilihan Allah yang mengubahkan kehidupan. Atas kedaulatan Allah yang telah memilih siapa yang dipilih hal itu dapat memaksa kita menarik kesimpulan bahwa Allah 'tidak adil'. Paulus telah mengatakan bahwa pemilihan Allah tidak terikat pada suatu garis keturunan, bahwa Allah bebas memilih sebagian keturunan Abraham dan menolak sebagiannya yang lain
 
From the word submitted by the prophet Malachi (432 BC) to the angel of God speaking to the priest Zechariah, his father John the Baptist, is estimated to be about 400 years. And over that long period of time, what really happened? Is God indeed dwelling? Or is God preparing for the coming of the Messiah? Or God is angry with His people, who continue to sin? These questions are certainly the mainstays of the theologians to do research. The author tries to collect data from previous studies of historical events, archeological results, and Biblical text. Thus it can be deduced a conclusion, what is actually happening in the grace period of 400 years. Research begins from the years before, during the intertestament and thereafter. The most likely to be studied is the history of Persian media, Greek (Hellenistic), Jews regain Jerusalem (Maccabees struggle) and the formation of the Roman empire. After doing research it turns out in history and events it is found that God plays an active role. The fulfillment of Daniel, Hosea and Malachi's prophecies occurred during the intertestament. Even supernatural things, which would not have been possible if God had not intervened, had occurred. This research will certainly convince all readers, that God is still working and in control in every age. Dari perkataan nubuat nabi Maleakhi (432 SM) hingga malaikat Tuhan berbicara kepada Imam Zakaria, bapaknya Yohanes pembaptis diperkirakan 400 tahun.Dan sepanjang periode waktu yang panjang tersebut, apakah yang terjadi?Apakah Allah berdiam diri? Atau apakah Ia sedang mempersiapkan kedatangan Mesias? Atau Allah marah terhadap umat-Nya yang terus hidup dalam dosa?Pertanyaan-pertanyaan ini yang seringkali menjadi perdebatan para teolog.Penulis mencoba mengumpulkan dari peristiwa-peristiwa sejarah yang telah diteliti sebelumnya, hasil-hasil arkelogi, dan teks Alkitab yang berkaitan. Kemudian dapat diambil suatu kesimpulan, apa yang sebenarnya trjadi dalam periode 400 tahun tersebut. Penelitian dimulai dari tahun-tahun sebelum, selama dan setelah masa intertesmen.Hal-hal yang dipelajari meliputi sejarah Media Persia, Yunani (Helenisasi), kembalinya orang Yahudi ke Yerusalem (pemberontakan Makabe) dan terbentuknya kerajaan Romawi.Setelah melakukan penelitian, maka diperoleh realitas bahwa Allah berperan secara aktif dalam masa tersebut.Penggenapan Nubuat dalam Daniel, Hosea dan Maleaki terjadi pada masa intertestemen.Bahkan hal-hal yang supranatural, yang tidak mungkin terjadi, jika bukan Allah yang mengintervensi hal-hal yang terjadi tersebut.Hasil penelitianini tentu menyakinkan para pembaca bahwa Allah masih dan sedang bekerja dan mengontrol dalam segala zaman.
 
This article discusses the formation of Sunday school teachers to teach children safety. The author uses a qualitative approach to analyze teacher needs, then the authors construct a pattern of coaching Sunday school teachers by elaborating sources of literature in accordance with the needs of teachers obtained from the needs analysis. The results of the needs analysis show there are three main needs needed by the teacher, namely aspects of knowledge about sin and salvation, aspects of personality where there are teachers who are still unsure of safety, and aspects of skills related to the ability to teach safety. The proposed pattern of coaching is to provide teaching about sin and salvation, the use of media for evangelism, mentoring or teacher supervision and evaluation.Artikel ini membahas tentang pembinaan guru sekolah minggu untuk mengajarkan keselamatan pada anak. Penulis menggunakan pendekatan kualitatif untuk menganalisis kebutuhan guru, kemudian penulis melakukan konstruksi pola pembinaan guru sekolah minggu dengan melakukan elaborasi sumber literatur sesuai dengan kebutuhan guru yang diperoleh dari hasil analisis kebutuhan. Hasil analisis kebutuhan menunjukkan ada tiga kebutuhan utama yang diperlukan guru yaitu aspek pengetahuan tentang dosa dan keselamatan, aspek kepribadian di mana ada guru yang masih ragu dengan keselamatan, dan aspek keterampilan berkaitan dengan kemampuan mengajarkan keselamatan. Pola pembinaan yang diusulkan adalah dengan memberikan pengajaran tentang dosa dan keselamatan, pemanfaatan media penginjilan, pendampingan atau supervisi guru dan evaluasi.
 
Ayang Emiyati, Disciplining Children According to Christian Principles. This article describes the treatment of disciplining children in Christian principles. To explain about disciplining children in the Christian principle, the author do literature review which then arranged systematically according to the construction of the concept of the author builds. Discipline is essentially necessary in the education of the child, only disciplinary action requires a wisdom and a love. Violent treatments are not the only way of discipline and discipline is not violence. Some things to consider in implementing discipline are to give priority to love in discipline, to use advises as a way of educating children, praying to surrender children to God, and make a beating as the last way in disciplining children. Ayang Emiyati, Mendisiplin Anak Menurut Prinsip Kristen. Artikel ini memaparkan tentang tindakan mendisiplin anak dalam prinsip Kristen. Untuk memaparkan tentang mendisiplin anak dalam prinsip Kristen, penulis melakukan kajian literatur yang kemudian disusun secara sistematis sesuai konstruksi konsep yang penulis bangun. Disiplin pada intinya diperlukan dalam pendidikan anak, hanya tindakan mendisiplin memerlukan suatu hikmat dan adanya kasih. Tindakan kekerasan bukanlah jalan satu-satunya dalam mendisiplin dan disiplin bukanlah suatu kekerasan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan disiplin adalah mengutamakan kasih dalam mendisiplin, memakai nasihat sebagai jalan yang dalam mendisiplin anak, doakan dan serahkan anak tersebut pada Tuhan, dan jadikan pukulan sebagai jalan terakhir dalam mendisiplin.
 
This article is an overview of the theology of Friedrich Schleiermacher, known as the Father of Modern Theology. By using qualitative research methods on various available literature that review the life and theological thinking of Schleiermacher, the author tries to reveal that the unique thinking of FriedrichSchleiermacher's theology is strongly influenced by his spiritual background, parental influence, church origin and tradition, educational patterns and the thought of his theological education and zeit geist (the spirit of the times) who were carrying the current of modern thought when Schleiermacher lived. On the one hand, Schleiermacher's theology is often considered to be liberal in the theological paradigm of reform and evangelicalism because it departs from feeling, not from the spirit of Sola Scriptura. But on the other hand, Schleiermacher's theology makes a positive contribution because it gives a place to the experience of faith (Sola Experientia) with a living God who can not only be reached with philosophia or wisdom. Artikel ini merupakan Tinjauan terhadap Teologi dari Friedrich Schleiermacher, yang dikenal sebagai Bapak Teologi Moderen.Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif terhadap berbagai literatur yang telah tersedia yang mengulas mengenai kehidupan dan pemikiran teologi dari Schleiermacher, maka penulis mencoba untuk mengungkapkan bahwa keunikan pemikiran Teologi FriedrichSchleiermacher sangat dipengaruhi oleh latar belakang kehidupan rohaninya, pengaruh orangtua, asal dan tradisi gereja, pola pendidikan dan pemikiran pendidikan teologinya serta zeit geist (semangat zaman) yang sedang membawa arus pemikiran moderen pada waktu Schleiermacher hidup. Pada satu sisi, Teologi Schleiermacher kerap dianggap liberal dalam paradigma teologi reformasi dan evangelical karena ia berangkat darifeeling, bukan dari semangat Sola Scriptura. Namun pada sisi lain, Teologi Schleiermacher memberikan kontribusi positif sebab memberikan tempat kepada pengalaman iman (Sola Experientia) dengan Allah yang hidup yang tidak hanya dapat dijangkau dengan philosophia atau wisdom.
 
Of all categorical ministry, men’s ministry are not as actively involved in the church ministry as others do. This article discusses the ways to strengthen men’s ministry role in the Batak Protestant Christian Church (HKBP) in present day through cultural approach. The research used cultural analogy approach. Data were collected by using observation and interviews. In analyzing the data, the researcher employed relevant literature sources such as books and journal articles. The research shows that the elements of Batak principles of Dalihan Na Tolu upholding a Batak person and his/her families of Hula-hula, Dongan Tubu, and Boru were found to be still relevant. The principle’s framework could be used as an approach to strengthen role of male church parishioners in the church by associating it with another three elements: the Church, Bibel (the Bible), and the family. Thus, Dalihan Na Tolu as a cultural principle is applicable to church ministry setting by association of: (1) the organized Church to Hula-hula, (2) the family to Boru, and (3) Bibel as Dongan Tubu
 
Marde Christian Stenly Mawikere, Salvation theological comparison between Catholic and protestant before and after reform. This article is an overview of comparative theology Safety bet-ween Catholics and Protestants Before and After Reform based review of the literature has been provided. Departing from the historical context of the socio-religious Europe since the 5th century to 1517 which shows the blend between philosophy and theology of the church led to deviate from the teachings of the Bible. The situation Christianity and medieval zeitgeist called dark ages of the church which fueled the Protestant reform movement. The Protestant reform movement seemed to be a renaissance of the church to return to the Bible, especially the problem of salvation (soteriology), emphasizing the supremacy of God's grace and Christ's Atonement.Marde Christian Stenly Mawikere, Perbandingan Teologi Keselamatan Antara Katolik Dan Protestan Sebelum Dan Sesudah Gerakan Reformasi. Artikel ini merupakan tinjauan perbandingan Teologi Keselamatan Antara Katolik dan Protestan Sebelum dan Sesudah Reformasi berdasarkan ulasan literatur yang telah tersedia. Berangkat dari konteks historis socio religious di Eropa sejak abad 5 sampai 1517 yang menunjukkan paduan antara filsafat dengan teologi menyebabkan gereja menyimpang dari ajaran Alkitab. Situasi kekristenan dan zeit geist abad pertengahan yang disebut abad kegelapan gereja memicu lahirnya gerakan reformasi protestan. Gerakan reformasi protestan seakan menjadi renaissance gereja untuk kembali kepada pemahaman Alkitab, terutama masalah keselamatan (soteriologi) yang menekankan supremasi anugerah Allah dan Penebusan Kristus.
 
The pros and cons of philosophy and theology have a reputation in the history of Chris-tianity. The importance of understanding philosophy and its importance can be explained correctly. Re-flections on the relationship between philosophy and theology will help Christians sharpen and develop their theology, especially evangelical theology. Therefore, philosophy and theology need to be har-moniously correlated in knowing God through His truth, by always thinking of God and advancing God's word through the perspective of evangelical theology. Philosophy and theology are mutually reinforcing and sharpening. Meanwhile, the relationships offered are mutually constructive in their task as a means of knowing God and also to build insight into the evangelical Christian world. Relasi pro dan kontra mengenai filsafat dan teologi telah tergores di dalam sejarah ke-kristenan. Pentingnya memahami filsafat dan teologi sangatlah penting, sehingga dapat merelasikan ke-duanya secara tepat. Refleksi terhadap relasi antara filsafat dan teologi akan membantu orang Kristen untuk menajamkan dan mengembangkan teologinya, khusus teologi injili. Oleh sebab itu, filsafat dan teologi perlu direlasikan secara harmonis di dalam mengenal Allah melalui kebenaran-Nya, dengan senantiasa bersikap takut akan Allah dan menghargai firman Allah melalui perspektif teologi injili. Keilmuan filsafat dan teologi saling menguatkan dan menajamkan. Adapun relasi yang dimaksud ialah keduanya digunakan saling membangun dalam tugasnya sebagai sarana pengenalan akan Allah serta sebagai kerangka untuk membangun wawasan dunia Kristen yang injili.
 
Christian Worldview is an approach that sees Christianity as a whole and interrelated one another. Worldview which how a person looks at the world where it to be a center of human worldview affects all human culture, behavior, and belief. Worldview is fundamentals but is not easy to understand. This research describes a relationship that has implications for the way the church takes mission. The changing world of modernity caused the Christian worldview becomes an anti-thesis of the secular worldview and other religions. This problem becomes a conflict of various ideas and believes that influences and conquers one another. One side of the church is between influences, on the other hand the church is called to reveal His truth. These problematics has arisen been since the Middle Ages when the philosopher who pioneered the teachings of humanism, reinaisance and enlightenment. The objective of this research is to introduce Christian philosophical concepts as a way how the church sees the various views of life of others. So that the church can distinguish wisely and know the values that influence other worldviews. Through this research will stimulate the church to realizes his calling as a church more effectively. By utilizing a philosophical-systematic approach, it produces answers to the questions of this study. A Christian worldview approach encourages the church to state the truth in every aspect of life and provides an important perspective for the church in the modern age to become an instrument of God's mission. ABSTRAKWawasan Dunia Kristen merupakan sebuah pendekatan yang melihat kekristenan sebagai suatu kesatuan utuh yang saling terkait. Wawasan dunia merupakan cara pandangan seseorang melihat dunia dimana pusat dari wawasan dunia itulah yang mempengaruhi seluruh budaya manusia. Hal fundamental ini tidak mudah dipahami namun ia mengendalikan cara hidup manusia. Penelitian ini menjelaskan relasi yang memiliki implikasi kepada cara gereja bermisi. Di tengah dunia modern yang semakin berubah membuktikan bagaimana wawasan dunia Kristen menjadi anti tesis dari wawasan dunia sekular dan agama lain. Masalah ini menjadi sebuah konflik dari berbagai ide dan kepercayaan yang saling mempengaruhi. Satu sisi gereja berada di antara pengaruh-pengaruh, di sisi lain gereja terpanggil untuk menyatakan kebenaran-Nya. Masalah besar ini muncul sejak abad pertengahan dimana para filusuf yang mempelopori ajaran-ajaran humanism, reinaisance dan pencerahan. Tujuan dari penelitian ini adalah memperkenalkan konsep filosofis Kristen sebagai cara pandangan gereja menilai berbagai pandangan hidup orang lain. Sehingga gereja dapat membedakan dan mengetahui nilai-nilai yang mempengaruhi wawasan dunia lain. Dengan cara memanfaatkan pendekatan filosof-sistematis maka menghasilkan jawaban dari pertanyaan dari penelitian ini. Pendekatan dengan Wawasan Dunia Kristen mendorong gereja untuk menyatakan kebenaran di setiap aspek kehidupan dan memberikan perspektif yang penting bagi gereja di abad modern sekarang untuk menjadi alat misi Tuhan.
 
Aya Susanti,Relevance finality of Christ in the Middle Flow Plurality And Pluralism Indonesia Society. From age to age the human perspective of the person and role of Jesus Christ is changing. The shift from an absolute way of thinking about Christianity also occur in the Western world and even in Indonesia. Contemporary skepticism about the possibility of knowing the truth is growing. In response to the phenomenon of multiple perspectives and beliefs and teachings that exist in Indonesian society locus of the finality of Jesus Christ it is necessary to present a written explanation for the answer. By studying several aspects of relevance, both with regard to timing issues, teaching the meaning and context it is expected that there are embodiments value finality fitting that in a pluralistic society in Indonesia. Aya Susanti, Relevansi Finalitas Kristus Di Tengah-Tengah Arus Pluralisme Dan Pluralitas Masyarakat Indonesia. Dari zaman ke zaman perspektif manusia terhadap pribadi dan peran Yesus Kristus berubah-ubah. Pergeseran dari cara pemikiran yang absolut tentang kekristenan juga terjadi di dunia Barat dan bahkan di Indonesia. Masa kini skeptisme mengenai kemungkinan untuk mengetahui kebenaran semakin berkembang. Menyikapi berbagai perspektif dan fenomena keyakinan serta ajaran yang ada di lokus masyarakat Indonesia mengenai finalitas Yesus Kristus ini maka dipandang perlu untuk menghadirkan sebuah pemaparan tertulis untuk menjawabnya. Dengan mempelajari beberapa aspek relevansi, baik berkaitan dengan masalah waktu, makna pengajaran dan konteks maka diharapkan ada pengejawantahan nilai finalitas yang pas yang di dalam masyarakat pluralis Indonesia.
 
This article discusses the implications of fostering church youth on the factors that cause cases of pregnancy out of wedlock. The author uses qualitative methods with data collection techniques of observation, and interviews, then in compiling the implications of the author using relevant library sources. The results showed that the factors causing cases of pregnancy out of wedlock are the lack of attention and supervision of parents, then the free association of youth, lack of self-fortification, lack of sexual knowledge, and technological developments that facilitate access to negative sexual information. The implication for church youth coaching is that holistic coaching is needed for both youth and parents. Coaching can be done by organizing groups to grow together, Christian faith seminars, personal care and making catechism curriculum on sexuality. Artikel ini membahas tentang implikasi pembinaan pemuda gereja atas faktor-faktor penyebab kasus hamil di luar nikah. Penulis menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data observasi, dan wawancara, kemudian dalam menyusun implikasi penulis menggunakan sumber-sumber pustaka relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor penyebab terjadinya kasus hamil di luar nikah adalah kurangnya perhatian dan pengawasan orang tua, kemudian pergaulan bebas pemuda, kurangnya pembentengan diri, minimnya pengetahuan seksual, dan perkembangan teknologi yang memudahkan akses informasi negatif seksual. Implikasi bagi pembinaan pemuda gereja adalah perlu dilaksanakan pembinaan yang holistik baik pada pemuda maupun orangtua. Pembinaan dapat dilaksanakan dengan menyelenggarakan kelompok tumbuh bersama, seminar iman Kristen, personal care dan pembuatan kurikulum katekisasi tentang seksualitas.
 
David Eko Setiawan, Superior character education is a conscious and planned effort that aims to internalize moral values, character which materialized in the implementation of good attitudes and behavior. To achieve these goals, it is necessary to think of an important event that must occur in human life. The event is called new birth. New birth is a spiritual event that can only be done by God through the Holy Spirit to people who believe in the preaching of the gospel. When the event occurs, God will give him a new life. At that time the old nature will be replaced with a new nature so that believers could be able to express a new life. The correlation of the new birth with superior character education is through new birth individuals experience very significant changes. These changes touch aspects such as mind, feeling and will so that one can have superior qualities in him. This is the key to radical change in a person so that eventually he can have a superior characterDavid Eko Setiawan, Pendidikan karakter unggul adalah usaha sadar dan terencana yang bertujuan untuk menginternalisasikan nilai-nilai moral, akhlak sehingga terwujud dalam implementasi sikap dan perilaku yang baik. Untuk mencapai tujuan tersebut maka perlu dipikirkan sebuah peristiwa terpenting yang harus terjadi dalam kehidupan manusia. Peristiwa itu disebut kelahiran baru. Kelahiran baru merupakan peristiwa spiritual yang hanya dapat dikerjakan oleh Allah melalui Roh Kudus kepada manusia yang percaya kepada pemberitaan Injil. Ketika peristiwa tersebut terjadi, maka Allah akan memberikan kehidupan baru kepadanya. Saat itu juga kodrat lama digantikan dengan kodrat yang baru sehingga orang percaya dapat dapat mengungkapkan hidup yang baru. Korelasi kelahiran baru dengan pendidikan karakter unggul adalah melalui kelahiran baru individu mengalami perubahan yang sangat signifikan. Perubahan tersebut menyentuh aspek pikiran, perasaan dan kehendak sehingga seseorang dapat memiliki sifat-sifat unggul pada dirinya. Ini menjadi kunci perubahan yang radikal di dalam diri seseorang sehingga akhirnya dia dapat memiliki karakter unggul.
 
Katarina & Krido Siswanto, Exemplary Leadership of Jesus and Its Implications for Church Leadership In Today. This paper is an analysis of the exemplary leadership of Jesus and its implications in the present. The author conducts literature research by looking at the principles of Jesus' leadership in the four Gospels, then finding the implications. From the results of the study, the Bible shows that Jesus is a figure who can be an example to his community and the example of his leadership is still relevant to Christian leadership today. The Bible shows that there are at least four areas of exemplary leadership of Jesus: the character of Jesus in leading, the spirituality of Jesus in leading, the management of Jesus in leading, and the ministry of Jesus in leading. Katarina & Krido Siswanto, Keteladanan Kepemimpinan Yesus dan Implikasinya Bagi Kepemimpinan Gereja Pada Masa Kini. Tulisan ini merupakan analisis tentang keteladanan kepemimpinan Yesus dan implikasinya pada masa kini. Penulis melakukan penelitian literatur dengan mencermati prinsip kepemimpinan Yesus dalam keempat Injil, kemudian menemukan implikasinya. Dari hasil penelitian, Alkitab menunjukkan bahwa Yesus adalah sosok yang dapat menjadi teladan bagi komunitas-Nya dan keteladanan kepemimpinan-Nya masih relevan dengan kepemimpinan Kristen pada masa kini. Alkitab menunjukkan paling tidak ada empat bidang keteladanan kepemimpinan Yesus, yaitu: karakter Yesus dalam memimpin, kerohanian Yesus dalam memimpin, manajemen Yesus dalam memimpin, dan pelayanan Yesus dalam memimpin.
 
This study reveals the Baliem ethnic concept of "eternal life" and how it relates to contextual gospel preaching (both potential and crisis). The study was conducted using a qualitative approach with a participant observer method supported by a study of a variety of relevant literature with a discussion of the concept of eternal life of Baliem people in Papua. As for the Baliem Society, Papua with a background of traditional societies with a worldview of animism has an eternal view of life which is lived out as an "ideal situation and condition" in the Nabelan-Kabelan myth and "an ideal person or figure" in the Naurekul myth. Through this view of eternal life, there is a "meeting point" and "difference" with the gospel message and Bible values. Because it is possible to be able to advocate and implement a contextual evangelistic approach for the Baliem people in Papua by touching and empowering their cultural values, Thus the Gospel and Christianity are not just a history or monument but are still present and change society while still paying attention to the integrity of the socio-cultural context, especially the people of Baliem, Papua. ABSTRAKStudi ini mengungkapkan konsep etnis Baliem mengenai “hidup kekal” dan bagaimana kaitannya dengan pemberitaan Injil yang kontekstual (baik potensi maupun krisis). Penelitian dilaksanakan dengan pendekatan kualitatif melalui metode pengamatan partisipan yang didukung dengan kajian kepada beragam literatur yang relevan dengan pembahasan mengenai konsep hidup kekal orang Baliem di Tanah Papua. Masyarakat Baliem, Papua dengan latar belakang masyarakat tradisional dengan pandangan dunia animisme memiliki pandangan hidup kekal yang dihayati sebagai “situasi dan kondisi yang ideal” pada mitos atau legenda Nabelan-Kabelan dan “pribadi atau sosok yang ideal” dalam legenda Naurekul. Melalui pandangan mengenai hidup kekal seperti ini, maka terdapat “titik temu” maupun “perbedaan” dengan berita Injil dan nilai-nilai Alkitab. Karena itu memungkinkan untuk dapat menganjurkan dan melaksanakan pendekatan kontekstualisasi Injil bagi etnis Baliem di Papua dengan menyentuh, memanfaatkan dan memberdayakan nilai budaya etnis Baliem, Dengan demikian Injil maupun kekristenan bukan hanya akan menjadi sejarah atau monumen namun akan tetap hadir dan mengubahkan masyarakat dengan tetap memperhatikan keutuhan konteks sosial budaya, khususnya etnis Baliem, Papua.
 
Y variable descriptive statistic test
The spirituality of today's young generation is very prone to be bad. The church needs to serve the younger generation in a way acceptable to them. This study aims to see the correlation between church digital ministry and the spirituality of Baptist youths throughout the city of Semarang. This research used quantitative approach with survey research methods. It shows that the Baptist churches’ digital ministries were in the medium category and the Baptist youth’s spirituality was in the moderate category, while digital ministry of the churches correlated strongly and positively to their youth’s spirituality.
 
Yohanes Enci Patandean, Preaching the Lord Jesus to be blessed in Matthew 5: 3-12. This article discusses the preaching of the Lord Jesus concerning of blessing in Matthew 5: 3-12 and analyzed there are three points to be analyzed, that is the understanding of blessing, blessing objects/goals and the reasons why should be blessed. The method that used is descriptive with a qualitative approach to the biblical text, and word analysis methods. In the text of Matthew 5: 3-12, Jesus teaches about blessed which includes the standard of living of the blessed people and the reasons why believers should be blessed. Jesus gives the preaching of blessing which includes the standard of living of a happy person is poor before God; mourning; gentle; hunger and thirst for righteousness; generous; sacred heart; bring peace; persecuted by righteousness; blemished and persecuted for Christ; and slandered all evil. Yohanes Enci Patandean, Pengajaran Yesus Mengenai Berbahagia Dalam Matius 5:3-12. Artikel ini membahas tentang pengajaran Tuhan Yesus mengenai berbahagia dalam Matius 5:3-12 dan dianalisis ada tiga hal pokok yang menjadi analisis yaitu pengertian berbahagia, sasaran/objek berbahagia serta alasan-alasan mengapa harus berbahagia. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif pada teks Alkitab, dan metode analisis kata. Dalam teks Matius 5:3-12, Yesus memberikan pengajaran mengenai berbahagia yang mencakup standar hidup orang-orang yang berbahagia serta alasan-alasan mengapa orang-orang percaya harus berbahagia.Yesus memberikan pengajaran mengenai berbahagia yang mencakup standar hidup orang-orang yang berbahagia dan standar hidup orang yang berbahagia ialah miskin di hadapan Allah; berdukacita; lemah lembut; lapar dan haus akan kebenaran; murah hatinya; suci hatinya; membawa damai; dianiaya oleh sebab kebenaran; dicela dan dianiaya karena Kristus; difitnahkan segala yang jahat.
 
Top-cited authors
Sonny Zaluchu
  • Sekolah Tinggi Teologi Baptis Indonesia Semarang
I Putu Ayub Darmawan
  • Sekolah Tinggi Teologi Simpson Ungaran
Enggar Objantoro
  • STT Simpson Ungaran
Fibry Jati Nugroho
  • Sangkakala theological seminary, Indonesia
Maria Lidya Wenas
  • Sekolah Tinggi Teologi Simpson Ungaran