Are you Surya Peradantha Ida Bagus Gede?

Claim your profile

Publications (2)0 Total impact

  • Source
    Surya Peradantha Ida Bagus Gede
    [Show abstract] [Hide abstract]
    ABSTRACT: Pentas Tari Joged Bumbung Lansia (orang yang telah lanjut usia) ini merupakan sebuah kegiatan yang dirancang dan diselenggarakan oleh Pemerintah Desa Kesiman Petilan serta ditunjang oleh adanya perhatian Pemerintah Kota Denpasar dalam bentuk bantuan dana yang disebut Alokasi Dana Desa (ADD). Kucuran bantuan dana inilah yang dimanfaatkan oleh Kepala Desa Kesiman Petilan, I Wayan Gede Darma Putra, S.T., untuk membuat sebuah pementasan tersebut di atas dalam format parade yang baru tahun ini dilaksanakan. Diselenggarakannya pentas tari ini dilatari oleh perhatian yang begitu besar terhadap kesehatan para lansia yang terdiri dari dua aspek yaitu fisik dan non-fisik. Secara fisik, para lansia telah dibekali dengan latihan olah raga senam yang bertempat di Balai Banjar masing-masing. Sedangkan secara non-fisik, diadakanlah pementasan Tari Joged Bumbung. Sebuah lontaran yang unik sekaligus mengundang rasa “geli” dari penonton maupun dari penarinya sendiri, mengingat biasanya Tari Joged biasanya dibawakan oleh para gadis belia nan cantik. Tentunya dengan gerakan-gerakan tari yang jauh lebih luwes, menarik dan tentu saja cantik. Terlepas dari itu semua, dipilihnya jenis tarian ini dikarenakan Tari Joged Bumbung adalah seni tari pergaulan, sehingga diharapkan bisa memupuk rasa keakraban antar perserta maupun antara peserta dengan penonton.
    01/2011;
  • Surya Peradantha Ida Bagus Gede
    [Show abstract] [Hide abstract]
    ABSTRACT: A. Sejarah berdirinya sanggar Kedekatan seorang dalang I Wayan Nardayana dengan dunia seni, khususnya pewayangan sesungguhnya telah dimulai ketika ia masih duduk di kelas 5 SD. Dahulu, di desanya yaitu Desa Belayu, pernah ada 3 grup kesenian wayang yang beranggotakan setidaknya 6-9 orang pemain anak-anak. Salah satunya adalah grup wayang yang ia dirikan bersama teman-teman sebayanya yang bergelut di dunia wayang kulit. Grup ini didirikan berkat kesamaan hobi, kecintaan pada dunia kesenian dan karena memang di daerah setempat hanya ada kesenian wayang yang cukup digemari kala itu. Grup Nardayana ini sering melakukan pentas keliling yang diundang oleh orang yang punya hajatan, misalnya acara pernikahan. Upah yang diberikan waktu itu sebesar 100 rupiah. Dari 3 grup yang ada saat itu, 2 di antaranya bubar dan hanya grup Nardayana yang berhasil bertahan. Sayangnya, menanjak ke kelas 6 SD, wayang-wayang dari karton yang ia buat bersama teman-temannya dibakar oleh orang tua Nardayana. Hal ini dikarenakan nilai rapor sekolahnya yang selalu merah karena tak pernah belajar. Namun demikian, ia bertekad suatu saat kelak, ia ingin kembali membuat grup kesenian yang bergelut di dunia pewayangan. Inilah cikal bakal ia mendirikan Sanggar Seni Cenk Blonk Belayu yang ada sekarang.