Article

Tari Baris Katekok Jago Pengawal Arwah Ke Sorga

Artikel; Vol 2, No 3 (2011): Artikel Bulan Maret
Source: OAI

ABSTRACT Kesenian merupakan bagian tak terpisahkan dari aktivitas ritual masyarakat Hindu Bali. Dalam setiap kegiatan upacara, ada saja kesenian yang dipentaskan, terutama seni tari dan tabuh, lebih-lebih bagi mereka yang mampu secara material karena ritual masyarakat Hindu Bali tidak akan selesai tanpa ikut sertanya tari dan tabuh. Tari-tarian yang diperkirakan oleh para ahli sebagai kelompok kesenian yang paling tua, meliputi sejumlah tarian sacral, yang di Bali lazim disebut tari Wali hingga kini masih terpelihara dengan baik oleh masyarakat pendukungnya, di samping tari-tarian Bebali dan Balih-balihan. Dalam beberapa dekade belakangan ini, terdapat sejumlah kesenian Wali yang sudah punah dan ada pula yang sudah mengalami perubahan fungsi, misalnya dari sajian upacara keagamaan kini dipentaskan untuk komoditi pariwisata. Baris berbaris rupanya sudah dikenal masyarakat Bali sejak dahulu. Buktinya, ada tari Baris yang dalam pementasannya memakai cara berbaris, berderet dan berjajar. Pada dasarnya tarian ini dibagi atas dua macam. Pertama tari Baris Wali yang hanya dipentaskan dalam kaitan pelaksanaan suatu upacara Dewa Yadnya yang lazim disebut Babarisan, didukung oleh krama desa tertentu. Jenis yang kedua adalah tari Baris Balih-balihan yang berfungsi sebagai tontonan / hiburan, seperti tari Baris tunggal dan tari Baris kreasi berpasangan yakni Baris Bandana Manggala Yuda. Salah satu bentuk Baris Wali tersebut adalah Baris Katekok Jago yang akrab disebut Baris Poleng karena kostum yang dipakai dominan hitam putih dan membawa tombak yang juga dicat hitam putih. Tarian ini merupakan tari tradisional yang langka karena hanya dijumpai di desa Tegal Darmasaba (Badung) dan Tangguntiti (Kota Denpasar). Sebelumnya pernah ada di Tembau dan Begawan (Kota Denpasar). Baris Katekok Jago mempunyai fungsi ganda, selain sebagai sarana upacara Dewa Yadnya, juga sering dipentaskan untuk upacara Pitra Yadnya. Tarian tersebut bisa diupah oleh perorangan atau kelompok terutama untuk upacara yang tergolong utama, baik untuk Dewa Yadnya maupun Pitra Yadnya. Literatur tertua yang mengungkap tentang Baris adalah lontar Usana Bali yang menyatakan: setelah Mayadanawa dapat dikalahkan maka diputuskan mendirikan empat buah kahyangan di Kedisan, Tihingan, Manukraya dan Kaduhuran. Begitu kahyangan berdiri megah, upacara dan keramaianpun diadakan dimana para Widyadari menari Rejang, Widyadara menari Baris dan Gandarwa menjadi penabuh. Legenda Mayadanawa tersebut terjadi pada saat Bali diperintah raja Sri Candrabhaya Singha Warmadewa sebagai raja keempat dari dinasti Warmadewa yang memerintah dari tahun 962 hingga 975. Dengan demikian dapat disimak bahwa pada abad X sudah ada tari Baris, namun bentuknya apakah sama dengan Baris upacara yang ada sekarang, memerlukan perenungan lebih mendalam. Sumber lain yang lebih muda yakni Kidung Sunda yang ditulis tahun 1550 dapat memberikan gambaran yang lebih jelas, karena merupakan kesusastraan Majapahit yang kemudian banyak mempengaruhi kebudayaan Hindu Bali. Disebutkan, tujuh macam Babarisan yang dipentaskan raja Hayam Wuruk, sehubungan dengan upacara pemakaman raja Sunda yang tewas terbunuh dalam perang Bubat.. Salah satu Babarisan itu disebut tari Limping yang bentuknya mendekati Baris Tombak yang ada di Bali. Jenis tarian ini merupakan perwatakan yang sangat unik, menekankan keseimbangan dan kestabilan langkah-langkah pada waktu berbaris maupun saat memainkan senjatanya sehingga disebut tari kepahlawanan. Semula merupakan tarian pengawal istana untuk bersiaga melindungi kerajaan dari kekacauan dan kemudian menjadi suatu sajian suci untuk berbagai kegiatan upacara agama. Dalam penyajiannya membentuk formasi berbaris ke belakang dan ke samping yang dibawakan secara masal, sampai 40 orang penari laki-laki. Kini jenis tari Babarisan diperkirakan masih bertahan sekitar 20 macam, yang masing-masing memiliki perwatakan yang cukup unik. Demikian pula namanya sesuai dengan jenis senjata atau alat upacara yang dibawa ( Baris tombak, panah, tamiang, pendet dsb), warna pakaian (Baris kuning, poleng), penokohan (Baris Cina, Demang), serta wujud yang ditiru (Baris lutung, goak, kupu-kupu). Pada jaman kerajaan, rajalah yang memelihara dan mengayomi berbagai unsur kebudayaan tersebut. Berjenis tarian yang berfungsi sebagai persembahan, baik kepada Sanghyang Widhi Wasa maupun para Betara-betari, lambat laun bertambah fungsinya untuk arwah yang telah meninggal dunia, disandang oleh Baris Katekok Jago. Di daerah Tabanan terdapat pula tari Baris yang memiliki fungsi. yang sama, dinamakan Baris Cerekuak. Dalam upacara palebon Cokorda Istri Winten pada tanggal 2 Juli lalu yang merupakan permaisuri raja Mengwi, tari Baris Katekok Jago dari banjar Tengah desa Tegal Darmasaba amat dibutuhkan sebagai sarana upacara tersebut. Hal ini sudah merupakan tugas rutin dari desa adat Tegal untuk mementaskan tarian tersebut sehubungan upacara palebon yang tergolong utama. Bentuk pementasan Apabila tari Baris Katekok Jago dipentaskan untuk upacara Dewa Yadnya, memiliki perlambang pengawalan para Betara-betari turun ke bumi. Mereka menari pada bagian suci dari areal pura menghadap ke arah Pelinggih dengan formasi berbaris. Untuk upacara Pitra Yadnya, memiliki makna mengawal perjalanan arwah kembali ketempat asalnya (ngeruwak margi). Menurut kepercayaan, perjalanan arwah dari rumah duka menuju kuburan kerap diganggu oleh Bhutakala yang tinggal di perempatan atau pertigaan jalan. Maka untuk keselamatan perjalanan diharapkan Baris Katekok Jago bertugas sebagai pengawal. Selain itu ketika bade tiba di perempatan atau pertigaan jalan, dilakukan ngider bhuwana (perputaran) yang diikuti dengan penaburan beras kuning dan uang kepeng dengan tujuan agar perjalanan selamat sampai di kuburan. Demikianlah yang dilakukan Baris Katekok Jago desa Tegal, mereka sebanyak 20 orang berbaris mendahului prosesi iring-iringan jenazah Cokorda Istri Winten yang ditempatkan di atas bade bertingkat sembilan. Adapun perbendaharaan gerak tari Baris Katekok Jago yang menari berbaris menghadap bade sangat sederhana, namun mereka mengungkapkannya dengan penuh semangat dan rasa pengabdian yang dalam. Setiap pergantian gending mereka meneriakkan kuuuuk. Seorang penari terdepan sebagai pimpinan melakukan gerakan ngindang dengan sikap kedua tangan memegang kain rembang sebagai sayap, kemudian mendekati penari lainnya melakukan gerakan ngaras sambil jongkok. Gerakan terakhir adalah perang sesuai dengan tema cerita Rwa Bhineda adalah kejahatan melawan kebaikan yang dapat diuraikan sebagai berikut: dua ekor angsa yang sedang mengeram telor, tiba-tiba didatangi sekelompok burung gagak yang bermaksud mencuri telor angsa tersebut. Kedua angsa menghalangi niat jahat kelompok burung gagak hingga terjadilah perkelahian yang berakhir dengan kekalahan burung gagak. Setelah tarian berakhir, penari Baris berjalan ke arah bade seolah menjemput jenazah yang diturunkan. Selanjutnya tugas Baris Katekok Jago adalah mengawal jenazah menuju lembu sebagai tempat pembakaran jenazah dengan berputar tiga kali. Keberadaan Baris Katekok Jago. Keberadaan Baris Katekok Jago ini tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat pendukung dari banjar Tengah yang sudah diwarisi sejak tahun 1927. Mereka senantiasa melestarikannya turun temurun karena berfungsi sebagai sarana upacara adat dan agama. Mula pertama munculnya tarian ini karena ada upacara Pitra Yadnya di jeroan gede Tegal Darmasaba yang mementaskan Baris Katekok Jago dari Tembau, Kesiman. Kesenian tersebut ternyata mampu menarik perhatian masyarakat tani banjar Tengah Hal ini terjadi karena selain masyarakat tersebut sehari-harinya petani, juga mereka senang dengan tari dan tabuh. Maka setelah peristiwa palebon di jeroan gede itu selesai, atas prakarsa “seka majukut” masyarakat banjar Tengah sangat antusias mempelajari tarian Baris Katekok Jago dibawah pimpinan Wayan Ngilis (alm). Hal ini dilakukan dengan harapan kedepannya dapat digunakan sebagai sarana upacara Dewa Yadnya dan Pitra Yadnya, terutama untuk desa Tegal. Pementasan perdana dilakukan di halaman Pura Gegelang bertepatan dengan upacara besar “Ngenteg Linggih”. Pendukung tarian ini tidak boleh membuat alasan yang tidak masuk akal untuk tidak ikut pentas, kecuali sakit. Hal ini tetap berkelanjutan hingga kini karena kepercayaan para pendukungnya yang menganggap tarian itu suci dan magis. Dalam kaitan upacara Dewa Yadnya tingkat utama, menurut penuturan Ketut Rinus sebagai pimpinan seka Baris saat ini, pernah pentas di desa Sedang (Badung), Ketewel (Gianyar), pura Melanting (Buleleng) dan pura Pasar Agung (Karangasem). Sedangkan untuk sarana upacara palebon / Pitra Yadnya, sering tampil di Sibanggede dan Mengwi (Badung) serta Ubud (Gianyar). Di samping banjar Tengah desa Tegal yang melestarikan tarian ini, desa Darmasaba di sebelah Timurnya yang berada dalam satu lingkungan desa dinas, juga memilki Baris Katekok Jago yang didukung empat banjar yakni banjar Darmasaba, Peninjoan, Menesa dan Cabe. Sebagai tarian sakral untuk sarana upacara adat dan agama, sudah selayaknya tetap dilestarikan. Kepada instansi terkait dengan kesenian ini hendaknya senantiasa melakukan pembinaan-pembinaan dan bagi generasi penerus agar tetap mencintai warisan adi luhung ini untuk menjaga keajegan Bali yang sarat dengan budaya yang unik.

0 Bookmarks
 · 
702 Views