Article

PENANGANAN KONFLIK ANTAR MASYARAKAT OLEH PEMERINTAH KOTA MADIUN (Studi di Perguruan Persaudaraan Setia Hati Madiun)

01/2006;
Source: OAI

ABSTRACT Salah satu sebab terjadinya konflik adalah alasan idiologis yang mungkin mencoba menghadapi masalah itu secara radikal dengan saling menghancurkan satu sama lain atau menggunakan kekerasan fisik untuk mengubah harapan dan tingkah laku masing-masing, tetapi sebelum keadaan ini tercapai, mungkin ditemukan saluran alternatif untuk memotifisir situasi ini. Konflik muncul karena kesalahpahaman antara anggota perguruan yang dapat mengakibatkan konflik berkepanjangan secara regenerasi. Konflik terjadi biasanya pada hari-hari besar yang melibatkan kedua perguruan tersebut misalkan 17 Agustus malam 1 asyuro. Pada tanggal 1 Maret 2005 kejadian konflik masal, kejadian tersebut permasalahannya klasik terjadi pada 1 asyuro setelah perguruan PSH Winongo mengadakan acara tahunan yaitu sungkeman kepada guru besar silaturahim dapat dibayangkan masa dari berbagai penjuru daerah kota Madiun berkumpul mengadakan sungkeman konflik terjadi setelah masa dari Winongo pulang, hal ini memancing reaksi masa yang kebetulan basis dari PSH terate secara spontan masa PSH terate menunggu dan melempari masa PSH Winongo yang berada dalam truk, secara otomatis tawuran pun terjadi, dan berlangsung secara besar. Penyelesaian konflik sudah dilakukan oleh pihak perguruan (ketua) dan juga oleh pihak pemerintah beserta kepolisian, tapi masih banyak juga kejadian-kejadian yang luput dari pengawasan pemerintah dan kepolisian. Kasus perkelahian antar perguruan silat yang dimotori oleh Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) dan Setia Hati Winongo atau disebut STK (Sedulur Tunggal Kecer) di Madiun ini berpangkal dari perbedaan penafsiran dan klaim kebenaran tentang ideoligi ke-SH-an merambat hampir seluruh karesidenan Madiun. Rumusan masalahnya adalah: (1) Apa yang melatar belakangi konflik antara Perguruan Setia Hati Terate Dan Setia Hati Winongo di kota Madiun? (2) Bagaimana penanganan konflik yang dilakukan pemerintah Kota Madiun dalam penyelesaian konflik antara Perguruan Setia Hati Terate Dan Setia Hati Winongo di kota Madiun. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah (1) Untuk mendiskripsikan latar belakang sampai terjadi konflik antara Perguruan Setia Hati Terate Dan Setia Hati Winongo di Kota Madiun (2) Untuk mengetahui penanganan konflik oleh pemerintah Kota Madiun dalam usaha menyelesaikan konflik antara Perguruan Setia Hati Terate Dan Setia Hati Winongo di Kota Madiun Dalam penulisan ini, penulis menggunakan penelitian deskriptif yang dimaksudkan untuk eksplorasi dan klasifikasi mengenai suatu fenomena atau kenyataan sosial, dengan jalan mendeskripsikan sejumlah variabel yang berkenaan dengan maalah dan unit yang diteliti. Sumber data yang digunakan adalah (a) data primer (2) data sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah (a) observasi (b) wawancara dan (c) dokumentasi. Analisis data yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah adalah deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkanan sebagai berikut: (1) Faktor yang melatar belakangi konflik antara Perguruan Setia Hati Terate Dan Setia Hati Winongo adalah perbedaan pandangan terhadap prinsip yang diawali ketidaksetujuan Ki Hardjo Oetomo terhadap gurunya Ki Ngabehi Soerodiwirjo yang membolehkan warga negara Belanda masuk sebagai anggota SH yang saat itu dianggap pejajah. (2) Upaya yang dilakukan Pemerintah untuk melakukan antisipasi agar tidak sampai terjadi konflik, tertuang dalam program yang dikenal dengan nama upaya antisipasi cegah image yang melibatkan kepolisian, pemerintah sendiri dan juga kedua perguruan silat. Saran-saran yang diajukan adalah sebagai berikut: (1) Untuk mendiskripsikan latar belakang sampai terjadi konflik antara Perguruan Setia Hati Terate Dan Setia Hati Winongo di Kota Madiun, hendaknya penanggulangan terpadu yang dilakukan oleh aparat pemerintah harus didukung oleh para pihak (organisasi pencak silat) yang terlibat dalam masalah, juga oleh masyarakat. (2) Untuk mengetahui penanganan konflik pemerintah Kota Madiun, hendaknya dilakukan dengan tindakan penanggulangan dengan usaha di bidang pendidikan dan kesejahteraan masyarakat, serta diadakan peningkatan pembinaan dan pengawasan, secara terus menerus oleh para pihak (organisasi pencak silat) oleh aparat pemerintah maupun oleh masyarakat. (3) bagi pihak penelitin selanjutnya yang sekiranya meneliti masalah yang serupa hendaknya lebih memperluas permasalahan yang akan dibahas.

2 Bookmarks
 · 
589 Views