Article

DAMPAK KENAIKAN BAHAN BAKAR MINYAK TERHADAP PENDAPATAN SOPIR ANGKUTAN KOTA MALANG

Source: OAI

ABSTRACT Angkutan kota merupakan salah satu sarana yang dapat mempercepat kelancaran hubungan manusia termasuk komunikasi langsung., untuk mempercepat transportasi ketempat tujuan selalu membutuhkan kendaraan sebagai sarana transportasi. Seiring dengan perkembangan kota Malang maka kebutuhan perjalanan (transportasi) akan meningkat. Apalagi salah satu ciri kehidupan manusia adalah kecenderungan untuk bergerak. Untuk memenuhi hal itu dibutuhkan sarana penumpang, salah satunya yang penting adalah bidang transportasi atau perhubungan. Alat angkutan kota seyogyanya menjanjikan kesejahteraan hidup para sopir angkutan kota dan lapangan kerja bagi juru penumpang. Disadari atau tidak untuk tahun-tahun terakhir ini disetiap jalan di perkotaan khususnya pasti terdapat transportasi yang lalu lalang untuk mencari penumpang. Hal ini dilakukan untuk memenuhi target pendapatan perekonomian sehari-hari. Disisi lain para sopir angkutan kota juga memikul tanggung jawab terhadap kebutuhan hidup keluarganya. Dengan adanya subsidi BBM oleh pemerintah menyebabkan harga BBM naik, hal ini tentunya dapat menambah penderitaan masyarakat kecil khususnya bagi kalangan sopir angkutan yang masih saja menderita akibat krisis ekonomi dalam beberapa tahun terakhir ini. Kebijakan kenaikan BBM akan mengakibatkan kenaikan harga-harga kebutuhan pokok lainnya. Seharusnya pemerintah dapat menggunakan alternatif lain dengan mengurangi subsidi Bank rekap yang besarnya 41 triliun dan meningkatkan efisiensi pertamina. Alasan pemerintah yang tidak cukup cerdas dengan mengurangi BBM karena subsidi hanya dimanfaatkan oleh orang- orang kaya bukan alasan sebenarnya. Karena publik sudah tahu kenaikan BBM dilakukan untuk menutupi defisit APBN karena membengkaknya pembayaran angsuran pokok dan bunga hutang. Adapun yang menjadi tujuan penulis dalam penelitian ini adalah Ingin mengetahui bagaimana dampak kenaikan Bahan Bakar Minyak Premium pada pendapatan sopir angkutan kota Malang tertanggal 01 Maret 2005. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh jumlah angkutan kota yang ada di kota Malang sebanyak 28 jalur angkutan kota dengan sampel 11 jalur yang sering dipadati penumpang dan bertujuan pada tiga terminal utama di kota Malang yaitu terminal Landungsari, Arjosari dan Gadang diantaranya jalur AG, ADL, LG, AL, GL, GA, LDG, AMG, AJG, ABG, GML. Dalam penelitian ini digunakan metode kuantitatif menggunakan tabulasi silang (cross table) dan metode diskriptif untuk menyelesaikan pengaruh terhadap prosentase untuk mengetahui: tingkat pendapatan, kemampuan menabung, kemampuan mensekolahkan anak, kemampuan kesehatan, biaya juru penumpang, penggunaan bahan bakar, biaya pengeluaran perbulan. Dari analisis tersebut dapat diketahui bahwa ada perbedaan pendapatan sopir angkutan sebelum dan sesudah kenaikan BBM, sopir angkot yang memiliki pendapatan bersih lebih kecil Rp.14.000 sebanyak 25 orang sebelum kenaikan BBM tetapi setelah kenaikan BBM menjadi lebih banyak yaitu sebesar 40 orang atau 27, 2 %. Dan dapat diketahui pula bahwa dengan kenaikan BBM pendapatan sopir angkot yang mencapai Rp.25.000-Rp.50.000 hanya mencapai 7,5 %. Hal ini dikarenakan semakin banyak kebutuhan untuk perawatan angkot ikut meningkat, sehingga pengeluaran untuk biaya perbaikan angkot juga meningkat.dimana penghasilan itu tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Dari hasil penelitian ini diharapkan kepada berbagai pihak yang terkait dapat menjadikan sebagai masukan dan sumber informasi dalam upaya meningkatkan pendapatan sopir angkutan khususnya di kota Malang. Dengan melihat kondisi penghasilan sopir angkutan kota sangat rendah yang dihubungkan dengan jumlah kebutuhan minimal yang dibutuhkan oleh keluarga sopir tersebut maka pemerintah perlu meninjau kembali mengenai kebijaksanaan tarif angkutan kota yang diberlakukan saat ini.

2 Bookmarks
 · 
571 Views