Article

PENJATUHAN PIDANA MATI DAN RELEVANSINYA DENGAN TUJUAN PEMIDANAAN

01/2010;
Source: OAI

ABSTRACT Obyek penelitian dalam karya tulis ini adalah tentang bagaimana relevansi pidana mati dengan tujuan pemidanaan?. Jenis Penelitian dalam karya tulis ini adalah penelitian hukum normatif, yaitu penelitian terhadap asas-asas dan dasar falsafah (dogma dan doktrin) hukum tentang pidana mati. Pendekatan yang dipakai dalam analisis data adalah pendekatan deduktif yakni berangkat dari kerangka teori umum untuk selanjutnya dikorelasikan dengan kenyataan obyektif atau yang ada di lapangan. Adapun teknik yang digunakan dalam menggali dan mengoleksi data yang dibutuhkan, terutama sekali dilakukan melalui studi kepustakaan (Library research). Jenis data yang diperoleh, antara lain berupa : Bahan hukum primer yang meliputi peraturan perundangan yang mengatur tentang pidana mati. Bahan hukum sekunder, yaitu berupa penjelasan mengenai bahan hukum primer, misalnya hasil-hasil penelitian terdahulu, karya ilmiah, jurnal dari kalangan ahli hukum pidana, wawancara dengan nara sumber. Bahan hukum tertier atau bahan hukum penunjang, mencakup bahan-bahan yang memberi petunjuk-petunjuk atau penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder, seperti kamus, ensiklopedi, dsb; Kegiatan yang dilakukan dalam analisis data ini ialah : memilih ketentuan-ketentuan yang berisi kaidah hukum yang mengatur pidana mati, termasuk di dalamnya mengkaji tentang latar belakang dibalik lahirnya produk hukum tersebut; melakukan sistematisasi dari ketentuan-ketentuan tersebut sehingga menghasilkan potret yang utuh mengenai sumber persoalan berkenaan dengan pidana mati dan relevansinya dengan tujuan pemidanaan. Berdasarkan hasil peneilitian yang telah dilakukan, maka diperoleh hasil bahwa Menurut penulis pidana mati harus tetap dipertahankan, dengan tetap memperhatikan instrumen-instrumen internasional. Pengaruhnya adalah, cara-caranya harus lebih baik. Harus dicari cara yang lebih baik. Kemudian jenis kejahatannya harus dibatasi seminim mungkin dalam bentuk definisi dalam the most serious crime, dibatasi sedini mungkin. Dan juga dalam komisi rancangan KUHP ada komisi Islam, Kristen dan Hindu. Untuk the most serious crime diterapkan dalam hal tertentu, ada syaratnya. Kemudian diterapkan dengan conditional atau suspended capital punishment (pidana mati bersyarat). Jadi pidana mati dalam kondisi tertentu tidak akan dilaksanakan dalam tempo 6 tahun, kalau dalam 6 tahun dia menunjukkan perkembangan kepribadian yang betul-betul positif, maka dia dirubah jadi pidana seumur hidup atau pidana 20 tahun penjara. Itu yang namanya conditional capital punishment. Dengan prinsip pidana mati tetap dipertahankan dengan modifikasi, sesuai dengan gerakan HAM. Itu cara terbaik menurut analisa penulis dalam memperlakukan pidana mati di negara yang muslimnya cukup besar. Kesimpulannya adalah bahwa hukuman mati di Indonesia ini sangatlah efektif dan relevan dengan tujuan pemidanaan, mengingat dengan jumlah personil polisi yang masih terbatas, serta masih tingginya angka kriminalitas, maka pidana mati masih relevan sebagai instrumen untuk menekan angka kriminalitas.

0 Bookmarks
 · 
603 Views