Article

TINJAUAN YURIDIS KRIMINOLOGIS EKSPLOITASI SEKS KOMERSIAL ANAK BERDASARKAN UU NO. 23 TAHUN 2002 TENTANG PERLINDUNGAN ANAK

01/2006;
Source: OAI

ABSTRACT Obyek studi dalam penelitian ini adalah mengenai eksploitasi anak untuk tujuan seks komersial, dimana anak sebagai korban baik secara langsung ataupun tidak langsung diterjunkan dalam dunia prostitusi untuk dilacurkan. Eksploitasi seks komersial anak merupakan kejahatan yang melanggar undang-undang, dimana tindakan eksploitasi seks komersial anak merupakan suatu perbuatan yang dapat merusak anak baik secara jasmaniah dan rohaniah anak. Eksploitasi seks komersial anak adalah bentuk penghisapan atau penggunaan serta pemanfaatan anak semaksimal mungkin oleh orang lain dalam bentuk kenikmatan seksual yang dapat ditukarkan dengan benda-benda, materi dan uang atau sejenisnya yang mempunyai nilai jual. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran mengenai faktorfaktor apa saja yang menyebabkan tindakan eksploitasi seks komersial anak ini terjadi dan untuk mengetahui perlindungan hukum bagi korban eksploitasi seks komersial anak yang diberikan oleh aparat penegak hukum. Metode penelitian yang digunakan adalah diskriptif kualitatif. Dengan metode pendekatan yuridis kriminologis, Sehingga data yang diperoleh adalah data yang menggambarkan secara jelas tentang kondisi dan kenyataan lapangan serta menghubungkan data-data yang diperoleh dengan teori peraturan yang ada. Sehingga kita dapat mengetahui faktor dan perlindungan hukum korban eksploitasi seks komersial anak. Melalui penelitian yang dilakukan secara mendalam maka penelitian ini mendapatkan hasil, bahwa faktor terjadinya eksploitasi seks komersial anak ada dua sebab yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal lebih didominasi oleh faktor psikologis dari anak, dimana anak merasa tidak berharga lagi dimata masyarakat sehingga karena tekanan-tekanan psikologis tersebut anak memberanikan dirinya untuk menjadi pelacur yang dijadikannya sebagai profesi dan yang kedua adalah faktor eksternal yang lebih menggambarkan pada keinginan manusia untuk memperloh prestise dan janji-janji para calo/germo yang menjanjikan kepada anak untuk memperoleh pekerjaan. Dimana anak disini lebih bersifat pasif, anak merasa terdorong oleh keinginankeinginan dari orang tua dan germo/calo, budaya, pendidikan, dan tekanan ekonomi yang secara langsung menuntut mereka untuk bisa menunjukkan kekayaannya kepada orang lain. Perlindungan hukum terhadap korban eksploitasi seks komersial anak atau anak yang dilacurkan belum bisa dikatakan sempurna. Didalam UU No.23 tahun 2002 tentang perlindungan anak secara eksplisit sudah bisa dikatakan sudah memadai tetapi pada aplikasinya UU No.23 tahun 2002 tentang perlindungan anak ini masih banyak mengalami kendala hal ini dikarenakan budaya masyarakat setempat yang menganggap bahwa eksploitasi seks komersial anak bukanlah sebuah kejahatan melainkan sebuah balas budi dari seorang anak sebagai adi bakti atau balas budi terhadap orang tua ketika mereka beranjak dewasa. Secara demikian, maka dapat disimpulkan bahwa eksploitasi seks komersial anak adalah bentuk sebuah kejahatan yang terorganisir. Maka dengan demikian seharusnya Negara lebih memperhatikan bentuk-bentuk perlindungan anak yang ideal, yang memberikan sebuah solusi dan penanganan secara khusus terhadap korban eksplolitasi seks komersial anak agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara wajar.

0 Bookmarks
 · 
461 Views