Article

KAJIAN TERHADAP PEMBERIAN MAHAR YANG TINGGI PADA MASYARAKAT ADAT BUGIS DI KECAMATAN SEBATIK DITINJAU DARI HUKUM ISLAM (Studi Kasus Di Kecamatan Sebatik Kabupaten Nunukan Kalimantan Timur)

Source: OAI

ABSTRACT Pemberian mahar atau maskawin pada waktu pernikahan merupakan salah satu Syari’at Islam. Di dalam Islam mahar atau maskawin merupakan syarat sahnya pernikahan. Namun nash tidak menentukan jumlah mahar yang harus dibayarkan seorang suami terhadap isterinya. Sebab manusia itu berbeda­beda tingkatan kekayaan dan kemiskinannya. Akan tatapi, Ulama sepakat untuk menyatakan bahwa dianjurkan agar mahar itu disederhanakan, agar tidak mempersulit orang yang menginginkan kawin. Di dalam kesempatan ini, penulis ingin mengemukakan tentang kajian terhadap pemberian mahar yang tinggi pada masyarakat adat Bugis yang terjadi di masyarakat Kecamatan Sebatik Kabupaten Nunukan, yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Adapun permasalahan yang ingin penulis kaji secara mendalam kaitannya dengan apa dampak yang ditimbulkan terhadap praktek pemberian mahar perkawinan pada masyarakat Adat Bugis di Kecamatan Sebatik serta bagaimana pandangan Hukum Islam terhadap mahar yang tinggi pada masyarakat Adat Bugis di Kecamatan Sebatik. Dalam penelitian ini yang dijadikan subyek sasaran penelitian adalah anggota masyarakat Kecamatan Sebatik Kabupaten Nunukan yang melakukan perkawinan dengan mahar yang tinggi, sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah pasangan suami isteri di Kecamatan Sebatik sebanyak 30 orang. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Kepala KUA Kecamatan Sebatik, Tokoh Masyarakat dan Kepala Desa setempat sebagai sumber data utama dan bahan pustaka serta dokumen sebagai sumber data pelengkap. Adapun teknik pengambilan data, penulis menggunakan metode interview, yaitu wawancara langsung dengan responden, sehingga penulis dapat menyimpulkan apa yang dinyatakan oleh responden, yaitu informasi yang digunakan sebagai gambaran yang jelas, lengkap, dan sistematis mengenai fakta yang ada dilapangan. Secara umum dapat digambarkan bahwa Kecamatan Sebatik terletak di daerah perbatasan antara Negara Malaysia dan Indonesia yang mempunyai tingkat perekonomian yang relatif menengah. Dan sebagian besar masyarakatnya masih dalam taraf berpendidikan rendah serta pemahaman agama yang kurang. Hal ini yang menyebabkan masyarakat cenderung untuk mempraktekkan mahar perkawinan tinggi. Selain tingkat pemahaman terhadap agama yang kurang, faktor lain yang mendukung terjadinya praktek pemberian mahar yang cenderung tinggi adalah karena budaya mengadakan walimahan secara besar­besaran, yang cenderung menjauhi sunah Rasulullah. Dengan demikian, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian mahar yang tinggi pada masyarakat Adat Bugis menimbulkan dampak positif, karena mendorong pemuda untuk bekerja lebih giat agar dapat memberi mahar yang tinggi. Dan mempunyai dampak negatif terhadap masyarakat Adat Bugis terutama kepada para pemudanya, Karena sering perkawinan tidak jadikarena tidak ditemukan kesepakatan tentang jumlah mahar yang harus diberikan pihak calon pengantin laki­laki kepada pihak calon pengantin perempuan. Meskipun kesimpulan ini sifatnya sementara, namun penulis menganggap bahwa hal ini penting untuk diperhatikan dan akhirnya penulis menyarankan dipandang perlu bagi masyarakat khususnya bagi orang yang mau melaksanakan perkawinan untuk mempelajari lebih mendalam tentang mahar yang dicontohkan Rasulullah saw.

1 Bookmark
 · 
469 Views