Article

POLA PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI MADRASAH IBTIDAIYAH MA’ARIF PENANGGUNGAN KEC. KLOJEN KOTA MALANG

Source: OAI

ABSTRACT Pendidikan Agama Islam pada dasarnya adalah bertujuan untuk membekali anak didik agar mampu dan terampil mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan sehari­ hari. Dalam pendidikan agama islam tidak hanya sekedar menstransfer sejumlah pengetahuan agama yang bersifat kognitif semata­mata. Tetapi didalamnya ada unsurunsur afektif dan psikomotor yang harus mendapatkan porsi yang seimbang. Maka memberikan keterampilan menjalankan agama dan menanamkan keyakinan beragama mutlak diperlukan. Madrasah merupakan lembaga pendidikan formal yang membantu keluarga/ masyarakat dalam menanamkan nilai­nilai ajaran agama islam agar anak didik semakin luas pengetahuan agamanya, kuat keyakinan agamanya dan terampil dalam mengamalkan ajaran agamanya dalam kehidupan sehari­hari. Untuk itu penulis mencoba membahas Pola Pengembangan Pendidikan Agama Islam di M.I. Ma’arif Penanggungan Kecamatan Klojen Malang, untuk mengetahui pola apa yang digunakan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan factor­faktor apa saja yang mendukung dan yang menghambat dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Madrasah tersebut. Untuk mengkaji masalah ini penulis menggunakan kajian teoritis, yaitu dengan menggunakan sumber­sumber kepustakaan dan menggunakan kajian empiris dengan menggunakan strategi penelitian terhadap responden dengan metode pengumpulan data melalui obervasi, interview, angket, dan dokumentasi. Kemudian untuk menganalisis data yang telah terkumpul, digunakan analisis diskriptif kuantitatif dalam bentuk prosentase dengan rumus : F =P x 100 N Keterangan : F : Frekuensi yang sedang diteliti. P: Angka prosentase dicari prosentasenya. N : Jumlah responden. Dari hasil analisis diperoleh kesimpulan bahwa Pola Pengembangan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di M.I. Ma’arif Penanggungan berjalan dengan cukup baik, yaitu dengan menambah jam pelajaran, melaksanakan kegiatan ekstra kurikuler dan praktek langsung kegiatan keagamaan (tartil Al­Qur’an dan praktek sholat). Dengan demikian, maka faktor penghambat (kurangnya waktu / jam pelajaran) bisa teratasi dengan baik.

0 Bookmarks
 · 
772 Views