Article

Analisis Tekstual Gending Kethuk 2 Kerep Minggah 4 Laras Slendro Pathet Sanga, Bagian II

Artikel; Vol 2, No 1 (2011): Artikel Bulan Januari
Source: OAI

ABSTRACT Perangkat Gamelan Dalam menyajikan gending Gambir Sawit, menggunakan perangkat gamelan ageng. Dalam satu kesatuan perangkat gamelan ageng terdiri dari dua kelompok. Satu kelompok berlaras pelog dan satu lagi berlaras slendro. Setiap kelompok tadi dalam karawitan Jawa disebut dengan Pangkon. Jadi dalam menyajikan gending Gambir Sawit memakai gamelan ageng pangkon slendro lengkap. Adapun ricikan-nya adalah ; rebab plonthang, gender barung, gender penerus, bonang barung, bonang penerus, slenthem, demung, saron barung, saron penerus, gambang, clempung, siter, kenong, kempul, kethuk kempyang, engkuk (kemong dua pencon), sepasang kemanak, suling, gong suwukan, gong ageng, seperangkat kendang. Gending Gambir Sawit tidak hanya dimainkan dalam gemelan pangkon slendro pathet sanga, terkadang juga dimainkan dalam pangkon pelog pathet nem. Dimainkanya dalam pelog nem gending Gambir Sawit kurang memiliki gereget. Karena dalam pelog nem terkesan lebih girang dan riang. Hal ini tentu tidak sesuai dengan esensi gending yang diinginkan. Namun dalam slendro pathet sanga-lah kecocokan rasa didapat dengan nuansa hening, agung dan wingit. Bentuk dan Struktur Telah disebutkan di atas bahwa gending Gambir sawit termasuk dalam gending ageng yang dapat diidentipikasi salah satunya melalui penulisannya. Penulisan kata “gending” mempunyai pengertian sempit bahwa gending tersebut memiliki bentuk dan ukuran panjang yang ditandai dengan sabetan balungan dan ricikan struktural (kethuk kerep 2 minggah 4) seperti ricikan kethuk-kempyang, kenong, kempul dan gong, dengan struktur terdiri dari buka, merong, umpak inggah dan inggah. Masing-masing bagian tersebut memiliki pola tabuhan atau pola garap dengan memperhatikan irama yang di sajikan. Untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai bentuk dan struktur gending Gambir Sawit dapat dilihat memalui notasi melodi balungan di bawah ini. Notasi buka t . 6 1 2 . 2 . 2 . 1 2 1 3 2 1 2 . 1 6 g5 ir. Tanggung [ . e t w . 3 5 6 2 2 . . 2 3 2 n1 masuk irama dadi . . 3 2 . 1 2 6 2 2 . . 2 3 2 n1 . . 3 2 . 1 6 5 . . 5 6 1 6 5 n6. 2 . 1 . 6 . 5 . 2 . 3 . 3 . n2 ir. Dadi kendang ciblon . 3 . 5 . 2 . 1 . 2 . 1 . 6 . g5 Minggah [ . 6 . 5 . 1 . 6 . 1 . 6 . 2 . n1 . 2 . 1 . 2 . 6 . 1 . 6 . 2 . n1 irama wilet+ ir. dadi mau suwuk. . 2 . 1 . 6 . 5 . 1 . 6 . 2 . n1 . 6 . 5 . 2 . 1 . 2 . 1 . 6 . g5 ] NB. Notasi gerongan di bagian lampiran. Dengan memperhatikan notasi di atas, dapat diketahui bahwa gending Gambir Sawit memiliki buka terdiri dari lima frase, sebelum akhirnya menuju merong yang ditandai dengan jatuhnya gong. Merong-nya (kethuk 2 kerep) terdiri dari 16 sabetan atau empat frase dalam satu kenong, dan 64 sabetan atau 16 frase dalam satu gongan. Bagian ini merupakan ajang garap yang halus dan tenang. Setelah berlangsung selama satu kali putaran merong, dilanjutkan ke bagian ngelik. Ngelik merupakan bagian lagu yang tidak pokok, tetapi wajib dilalui. Artinya dalam penyajian gending, ngelik boleh ada boleh tidak dikarenakan oleh desakan waktu atau hal lain. Setelah ngelik gendhing kembali ke merong. Struktur berikutnya adalah ke bagian inggah. Pergantian merong ke inggah, dijembatani oleh umpak, yang dikomandoi oleh tabuhan kendang pada menjelang kenong ke-tiga. Model transisi atau “jembatan” ini lazim disebut dengan umpak inggah yang ditandai dengan tabuhan kendang khusus, serta mengkomandoi dengan manaikan tempo sedikit lebih cepat dari pada merong. Bagian berikutnya adalah bagian inggah. Gending Gambir Sawit memiliki inggah tersendiri, dengan kata lain inggahnya merupakan kelanjutan dari pada merong. Hanya saja sesuai dengan hukum/norma yang berlaku, balungan inggah ini memakai jenis balungan nibani. dalam inggah ini terjadi dua kali andeg yaitu perberhentian sementara menjelang kenong. Kemudian dilanjutkan oleh sinden menuju melodi berikutnya. Andeg dilakukan pada menjelang kenong pertama dan menjelang kenong ke-dua dalam irama rangkep. Selain andeg juga diwarnai dengan perubahan irama. Satu gongan pertama memakai irama wilet, masuk gongan ke-dua irama berubah menjadi irama rangkep. Irama rangkep hanya terjadi dua kali kenongan, setelah itu kembali ke irama wilet, sebelum akhirnya menuju suwuk, Pada pertengahan melodi menuju kenong ke tiga dalam gongan putaran yang ke-tiga. Dalam perbagai perubahan irama ini, kendang yang berfungsi sebagai pemurba irama, memiliki peran yang sangat penting dalam mengkoordinasikan perubahan. Sehingga terjadi kesatuan rasa yang harmonis. c) Garap Beberapa pakar karawitan Jawa menyatakan bahwa dalam penggarapan gendhing, pengrawit diberikan kebebasan untuk menterjemahkan, memberi makna, serta menafsirkan garap sesuai dengan rasa estetik musikalnya. Hal ini juga didukung oleh pernyataan Rahayu Supanggah menyatakan bahwa karawitan bersifat fleksible dan multi interpretable. Artinya para pemain ricikan terutama ricikan garap bebas menafsirkan kemungkinan-kemungkinan garap sebuah gendhing. Hal ini kemungkinan ‘salah’ atau ‘benar’ tidak terjadi. Yang terjadi hanyalah penak dan ora kepenak atau munggah dan ora munggah. Ricikan-ricikan yang melakukan interpretasi tersebut antara lain ; rebab, gender, kendang,dan bonang. Dalam gending Gambir Sawit menurut pengamatan dan rasa musikal kami, peranan rebab dan sinden sangat dominan dalam melakukan cengkokan. Dengan tuntunan rebab, pesinden mampu membuat cengkokan mengalun sangat indah. Hal ini juga didukung oleh pola tabuhan gender dengan pola tabuhannya mampu membuat cengkokan yang enak didengar. Ricikan gambang dan siter bertugas memainkan tempo dan membuat pola tabuhan mengisi ruang-ruang balungan dengan lincah dan enerjik. Tak kalah penting adalah ricikan bonang dengan teknik permainan atau pola tabuhan imbal dan sekaran memberikan warna garap sangat kaya. Kendang dalam hal ini selain sebagai pemurba irama, juga membuat variasi pukulan terutama dalam permainan kendang ciblon yang masuk menjelang inggah. Selain ricikan-ricikan tadi peranan gerong juga tak kalah pentingnya. Selain melantumkan syair-syair gerongan, juga melakukan senggaan dan keplokan untuk meramaikan dan mendukung suasana. Sistem garap inilah letak estetika, keunikan gending ini, yang didukung oleh keahlian para pemain ricikaan garap dalam menafsirkan balungan gending dengan variasi-variasi cengkokan-nya. Sehingga para penikmat hanyut dalam keasyikan menikmati cengkok dan tabuhan. Mungkin tidak hanya penikmat yang hanyut dalam menikmati gendhing, melainkan pemain juga hanyut dalam menikmati tabuhan-nya sendiri. 4. Tunjauan Sejarah dan Pengrawit. Gending gambir sawit diciptakan pada tahun 1820 pada pemerintahan Kanjeng Sesuhunan Pakubuwono Kaping V. Keraton dalam hal ini sebagai pusat kebudayaan memiliki peran yang sangat penting dalam pembinaan dan pengembangan seni khususnya seni karawitan. Seluruh ciptaan seni hanya dipersembahkan untuk raja. Walaupun gending-gending itu secara de facto di ciptakan oleh seniman yang hidup pada waktu itu, namun karena kekuasaan dan sifat feodalis keraton, secara de jure gending itu hanya boleh diakui oleh sang raja. Hal ini menjadi tidak jelas siapa orang yang sebenarna menciptakan gending ini. Apakah raja atau kah abdi dalemnya. Tapi mengingat dalil yang telah dikemukakan di atas, raja yang berkuasa lah menjadi pencipta segala seni yang muncul pada saat pemerintahannya. Selain gending Gambir Sawit pada pemerintahan P.B. V ini banyak sekali gending-gending lain yang muncul, diantaranya: Kembang Gayam, Rarawudhu, Raranangis, Randha Nunut, Montro, Lobong dan lain sebagainya. Mengenai pengrawit yang menyajikan gending Gambir Sawit ini, kami tidak mendapatkan informasi secukupnya. Karena gending ini berupa rekaman audio berupa CD yang kami ambil dari perpustakaan Jurusan Karawitan ISI Surakarta. Melihat dari lebelnya kemungkinan besar gending ini disajikan oleh pengrawit dari para dosen dan mahasiswa STSI Surakarta. Berdasarkan pengalaman musikal kami, secara audio gending ini dibawakan sangat baik; kesatuan rasa, teknik tabuhannya dan suara gamelannya. Sebagai orang yang berlatar belakang berbeda, kami belum bisa membedakan secara pasti dan detail rasa dan teknik tabuhan antara pengrawit alami dengan pengrawit yang berlatar belakang alami plus akademik. Juga dalam hal gaya personal, kelompok, maupun regional. 5. Penutup Dengan uraian yang telah dikemukakan diatas, telah memberikan gambaran yang cukup, Tentang gending gambir sawit. (Setidaknya bagi kami yang berlatar belakang yang berbeda). Walaupun hanya secuil dari pengetahuan karawitan jawa yang sangat luas. Kami yakin tulisan ini jauh dari lumayan, namun untuk memenuhi tugas analisis karya I ini, sekiranya dapat sebagai tonggak untuk mengetahui karawitan Jawa lebih jauh. DAFTAR PUSTAKA Hastanto, Sri. 2009. Konsep Pathet Dalam Karawitan Jawa. Surakarta : Program pascasarjana bekerja sama dengan ISI Press. Supanggah, Rahayu. 2009. Bhotekan Karawitan II : GARAP. Surakarta : Program Pascasarjana bekerja sama dengan ISI Press. Martopangrawit. 1968. Pengetahuan Karawitan I Wawancara I Ketut Saba Yeni Arama Saryanto Agus Prasetyo

0 Bookmarks
 · 
456 Views

Full-text (2 Sources)

View
13 Downloads
Available from