Article

Wedhus Gembel Halahala Mandaragiri Bagian

Artikel; Vol 2, No 1 (2011): Artikel Bulan Januari 01/2011;
Source: OAI

ABSTRACT Bukan hanya gunung Merapi, Bromo, dan Anak Krakatau saja yang belakangan meletus. Sabtu (27/11) malam lalu, gunung Mandara juga meletus dahsyat. Yang mengerikan, wedhus gembel yang dimuntahkan gunung Mandara mengandung halahala yaitu racun yang mematikan. Racun yang dimuntahkan dari puncak gunung itu mengancam segala mahluk hidup. Tetapi masyarakat Jawa Tengah yang menyaksikan letusan gunung Mandara itu tampak tenang-tenang saja bahkan menikmatinya dengan rona suka cita. Meletusnya Mandaragiri itu adalah sebuah pementasan sendratari yang digelar di Pendhapa Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Jawa Tengah. Sendratari berjudul “Siwa Wisaya“ itu merupakan persembahan para mahasiswa ISI Denpasar yang disuguhkan sebagai penampilan pamungkas dalam pentas Mebarung Gong Kebyar Se-Jawa dan Bali yang diselenggarakan oleh ISI Surakarta. Duel Gong Kebyar yang berlangsung dua malam, 26-27 Nopember lalu itu, menghadirkan empat grup Gong Kebyar yakni ISI Surakarta, ISI Yogyakarta, Puspa Giri Semarang, dan ISI Denpasar. Kisah gunung Mandara yang disuguhkan oleh 60 orang mahasiswa ISI Denpasar itu terasa kontekstual dengan bencana alam letusan gunung yang kini sedang merisaukan masyarakat Indonesia. Cerita tentang Mandaragiri sangat akrab pada masyarakat Jawa pencinta wayang kulit. Karena itu, Pemutaran Mandaragiri yang merupakan bagian awal dari epos Mahabharata yang digarap dalam sendratari berdurasi 25 menit, menjadi komunikatif. Penonton yang memenuhi Pendhapa menyimak dengan antusias dan tekun tampilan artistik dan lontaran pesan yang digarisbawahi secara verbal oleh dalang atau narator dalam bahasa Jawa Kuno dan Indonesia. Alkisah pada zaman satyayuga, para dewa dan raksasa bersepakat bekerja sama mencari tirta amerta atau air kehidupan abadi. Untuk mendapatkan air suci itu adalah dengan cara mengaduk lautan susu, ksiarnawa, dengan sebuah gunung. Pada hari yang telah ditentukan, gunung Mandara di Pulau Sangka digotong oleh Hyang Antaboga dan diceburkan ke tengah samudra. Agar gunung mengapung, kura-kura Kurma menyangga di dasar laut dan dewa Indra menduduki puncak gunung. Naga Basuki yang membelit gunung, kepalanya dipegang para raksasa dan ekornya ditarik oleh para dewa. Mandaragiri diputar. Samudra mendidih dan topan menyamuk. Para penghuni gunung terpelanting binasa dan habitat lautan bergelimpangan. Dari puncak gunung mandara menyembur gumpalan hitam pekat. Para dewa dan para raksasa bersorak girang, berebut hendak mereguk gumpalan yang mencair itu. Dewa Siwa yang mengawasi sepak terjang para dewa dan raksasa itu dengan sigap merebutnya dan dengan seketika meminumnya. Leher Dewa Siwa menjadi biru legam terbakar karena yang diminum oleh Dewa Siwa adalah halahala alias racun pembunuh. Para dewa dan raksasa penasaran dan kembali memutar gunung Mandara yang kemudian mengeluarkan cairan bening wangi, tirta amerta. Para raksasa dengan garang menguasai dan melarikan. Beruntung Dewa Wisnu dapat merebut dengan tipu rayu menjadi bidadari. Tirta amerta itu kemudian ditebar Dewa Wisnu untuk kebahagian segenap manusia dan kedamaian jagat. Tata penggarapan sendratari “Siwa Wisaya“ ISI Denpasar itu cukup apik. I Wayan Sutirtha, S.Sn, M.Sn, salah satu penata karya seni ini mengatakan cukup puas dengan penampilan dan gereget para penari sesuai dengan konsep artistik dan bangun estetik yang telah direncanakan. Demikian pula kesan komposer Ida Bagus Nyoman Mas, SSKar, sangat salut dengan rasa percaya diri tim penabuh yang bermain dan tampil rapi penuh konsentrasi. Pembina pedalangan, I Ketut Kodi, SSP, M.Si dan I Nyoman Sukerta, S.Sn, M.Si, juga mengungkapkan rasa suka citanya terhadap penampilan dalang atau narator mahasiswa pedalangan ISI Denpasar, Bagus Bharatanatya. Selain lewat jalinan komunikasi visual estetika tari dan audio musikal tata karawitan, sendratari gaya Bali yang disuguhkan di hadapan masyarakat Jawa Tengah ini merajut komunikasi verbal dengan bahasa nasional Indonesia. Narasi dalam bahasa Indonesia terasa amat menyentuh ketika ungkapan-ungkapan moral dilontarkan. Adegan Dewa Siwa minum racun gunung Mandara yang mengakibatkan lehernya terbakar, diberi narasi sabda Dewa Siwa: “Hai para dewa dan para asura, cairan yang kalian perebutkan itu adalah halahala, racun. Aku tak ingin kalian mati binasa karena minum racun gunung itu. Sebagai penguasa semesta, aku rela mengorbankan diriku. Sebagai pemimpin, aku rela jadi tumbal kehidupan demi keselamatan hidup dan keberlangsungan kehidupan“. Penonton terpana. Seni memang media komunikasi yang fleksibel dan ampuh. Ketika bencana alam secara beruntun mendera bangsa ini, seni tampil ke depan memberi hiburan, renungan, dan wahana untuk introspeksi diri. Simaklah bagian terakhir dari sendratari “Siwa Wisaya“ ISI Denpasar tersebut. Sembari memercikkan tirta amerta Dewa Wisnu berujar: “Wahai para dewa, para raksasa, dan segenap umat manusia. Lahir, hidup, dan mati adalah takdir. Sangkan paraning dumadi adalah kuasa Hyang Widhi. Berbaktilah kepadaNya. Jagalah kerukunan bersama. Dan......, rawatlah harmoni bumi dengan penuh kasih.

0 Bookmarks
 · 
79 Views