Article

Kelompok lukisan yang mengalami pembaharuan pada tema, sinar bayangan, dan pewarnaan dalam Seni Lukis Pitamaha.

Artikel; Vol 10 (2010): Artikel Bulan Oktober
Source: OAI

ABSTRACT a. Judul karya : Rajapala. Bahan : kanvas dan tempra. Tahun pembuatan : 1972. Seniman : Ida Bagus Made Nadera. Ringkasan ceritera. Rajapala sedang mencuri kain salah satu dari tujuh bidadari yang sedang mandi. Bidadari tersebut yang kemudian menjadi isterinya Rajapala. Obyek lukisan. Lukisan yang berjudul Rajapala mengambarkan bidadari dari kahyangan sedang mensucikan diri (mandi) di sebuah taman. Ketujuh bidadari, semuanya tanpa busana (telanjang), sambil membawa sekuntum bunga untuk menghias diri, berkumpul di sebuah kolam pertamanan. Sementara dari sela pohon kayu Rajapala sedang mengkait selembar kain bidadari yang kemudian akan menjadi isterinya. Bidadari yang tanpa busana dalam berbagai gerakan menunjukkan adanya napas erotik yang merupakan ciri khas dari karya lukisan Ida Bagus Made Nadera. Di sekitar permandian berbagai jenis tumbuhan dan bunga-bungaan, menambah keheningan dan keindahan suasana taman. Pewarnaan alam cerah didominasi oleh warna biru kelam. Bidadari berwana oker kecoklatan, disertai kontras warna warna antara gelap dan terang sangat tegas dan tajam. Kesatuan (unity) atau keutuhan Dalam lukisan yang berjudul Rajapala, tersusun dari unsur-unsur rupa yang dapat menunjang kekompakan, mencapai suatu kesatuan yang utuh. Unsur rupa tujuh bidadari tersusun dalam ikatan gerakan tubuh yang satu berkaitan dengan yang lainnya. Ada gerakan bidadari yang sedang berdiri, dengan yang sedang duduk, saling berhubungan pandangan, mengesankan seolah-olah ada komunikasi diantaranya, merupakan kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Kelompok tujuh bidadari, ditunjang oleh elemen pertamanan seperti bunga-bungaan, tumbuh-tumbuhan, kolam dan batu-batuan. Rajapala yang sedang mencuri kain bidadari, adalah figur utama yang sangat erat kaitannya dengan judul ceritera, menyatu dengan elemen lainnya. Garis kontour yang ritmis, sebagai pembatas bentuk sangat besar peranannya dalam mengikat elemen atau unsur rupa lainnya. Garis tersebut pada pemandangan alam sebagai pembatas kontras warna antara gelap dan terang. Yang memisahkan obyek yang jauh dengan obyek yang dekat letaknya, adalah merupakan ciri khas dari karya Ida Bagus Made Nadera. Garis kontour pada figur bidadari dan bentuk lainnya, ketebalannya mengikuti arah penyinaran dapat mempersatukan bentuk bidadari dan lainnya. Bentuk bidadari didistorsi untuk penekanan dalam pencapaian karakter, yaitu dengan cara menyangatkan atau memperpanjang proporsi kaki dan tangan nya. Kesatuan dalam pewarnaan, didominasi, oleh warna biru kelam untuk warna pemandangan alam dan oker mengarah kecoklat mendominasi warna bidadari. Dan sedikit warna merah dan kuning untuk hal-hal tertentu, seperti bunga, sulur dan kain busana pada Rajapala. Warna yang mendominasi lukisan sudah dalam kondisi bersatu, ditambah lagi dipertegas dengan penyinaran dengan menggunakan campuran warna putih dan kuning sebagi pengikat warna, kesatuan menjadi lebih utuh. Penonjolan atau penekanan Penonjolan atau penekanan mempunyai maksud mengarahkan perhatian orang kepada suatu hal tertentu yang dipandang lebih penting dari hal yang lainnya. Dalam lukisan ini dipandang lebih penting adalah kelompok tujuh bidadari yang sedang di taman dan figur Rajapala yang berada di atas pohon kayu. Dari obyek yang menonjol itu, yang lebih kuat menarik perhatian adalah figur bidadari dalam kelompok yang mengarahkan pandangan ke tengah bidang gambar sebagai pusat perhatian (center point). Perhatian juga diarahkan pada Rajapala yang berada jauh menyendiri dari unsur rupa lainnya, adalah cara penyusunan yang mengarahkan kepada penonjolan hal-hal tertentu. Nuansa erotik yang ditonjolkan dalam lukisan itu adalah pada bagian tubuh figur bidadari, dengan distorsi bentuk susu, dibentuk melingkar bulat, pinggang yang ramping, diimbangi pinggul yang dibesarkan dengan tujuan pencapain karakter. Keseimbanan atau balance. Pada lukisan yang berjudul Rajapala, susunan unsur-unsur rupa, yang beragam, sebagai pendukung keseimbangan. Unsur pendukung seperti figur bidadari, berbagai tumbuhan, batu-batuan, aliran air dan pemadangan alam lainnya. Susunan atau komposisi tujuh bidadari yang berada ditengah, merupakan poros keseimbangan antara bidang kanan dan bidang kiri, keseimbangan bidang atas dan bidang bawah. Beberapa jenis pepohonan dan batu-batuan yang berada di sebelah kanan dengan warna biru kelam, lebih pekat berkesan seimbang dengan pepohonan di sebelah kiri dengan intensitas warna lebih ringan. Penekanan kontras warna pada pemandangan alam diperkuat dengan warna putih pada latar belakang, menimbulkan perpaduan warna harmonis dan seimbang dengan latar muka dengan warna yang lebih kelam dan kesannya lebih kuat. Ditinjau dari motivasi kehidupan jasmani dan rohani manusia, lukisan Rajapala ini, dapat digolongkan tema yang menyenangkan dan menyedihkan. Menyenangkan karena menggambarkan keindahan alam dan kebesaran hati bidadari yang mensucikan diri. di taman. Menyedihkan karena salah satu bidadari yang kehilangan busana karena dicuri oleh Rajapala. b. Judul karya: : Pertemuan Durma dengan seorang Bidadari. Bahan : kanvas dengan tempra. Tahun pembuatan : 1955 Seniman : I Wayan Karya. Ringkasan ceritera. Rajapala merupakan ceritera rakyat Bali, mengisahkan tentang Durma yang pergi ke hutan untuk mencari ayahnya yang sedang bertapa. Sampai di hutan dia bertemu dengan seorang bidadari yang ternyata adalah ibunya. Obyek lukisan. Digambarkan dalam sebuah hutan, tempat pertapaan Rajapala ayah dari Durma, kelihatan berbagai jenis tumbuhan yang hidup subur, bersama binatang hutan seperti: harimau, kera, menjangan, babi dan tikus serta burung-burng. Dua mahluk berupa raksasa, masing-m asing membawa hasil buruan, berada di latar depan menghadap keluar bidang kanvas. Seekor harimau sedang berjalan menjauhi tempat persembahyangan berbentuk dugul beratap ijuk yang berada di tengah-tengah bidang gambar. Sementara kera-kera bergantungan diranting pohon kayu yang rindang. Dan beberapa tikus merayap di tanah di sela-sela batang pohon. Komponen-komponen seni rupa tersusun berdasarkan komposisi hierarchi (tersusun ke atas). Dari tempat kejauhan berdiri Durma sambil berpegangan tangan dengan seorang bidadari yang ternyata adalah ibunya. Disamping Durma, seekor anjing yang selalu taat mengikuti perjalanan Durma kehutan. Pewarnaan didominasi warna hijau dan biru terutama pada alam tumbuh-tumbuhan. Warna coklat tua untuk warna tanah, sedangkan manusia warna oker, dengan penyinaran warna putih dicampur kuning, dengan tajam, secara mendetil sampai yang sekecil-kecilnya. Kesatuan (unity) atau keutuhan Dalam karya ini, keutuhan dapat dilihat dari kelengkapan unsur-unsur rupa, untuk menggambarkan keberadaan sebuah hutan, seperti mahluk raksasa, berbagai jenis binatang hutan, dan berbagai tumbuhan, menunjukkan keanekaragaman unsur rupa, sebagai salah satu syarat keindahan. Serta figur manusia yaitu Durma dan bidadari sebagai unsur utama dalam mencapai kesatuan dalam tujuan dari keutuhan ceritera, merupakn satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan karena yang satu mempunyai kaitan dengan yang lainnya, dan kaitan yang satu dengan keseluruhan. Tiga obyek figur yang menentukan komposisi dalam karya ini, adalah kelompok figur mahluk raksasa, figur harimau dan figur Durma dengan bidadari. Ketiga figur itu walaupun berjauhan letaknya, tetapi karena ditunjang oleh figur kera-kera yang menghadap ketengah dan tumbuhan di samping kiri bidang gambar, menimbulkan asosiasi kesatuan yang utuh dari ketiga figur di atas. Unsur pemersatu secara keseluruhan dapat dilihat dari pewarnaan yang mengandung persamaan yaitu campuran warna putih dan kuning dalam penerapan teknik pencahayaan. Penonjolan atau penekanan. Lukisan Wayan Karya yang berjudul Pertemuan Durma dengan seorang Bidadari, lebih menonjolkan figur manusia dan binatang, dan alam sebagai penunjang untuk mencapai tujuan dalam suasana hutan. Penonjolan terjadi karena perbedaan bentuk dan warna dari figur yang menjadi obyek utama dengan lingkungan alam sebagai pelengkap. Dan juga penonjolan terjadi karena susunan unsur-unsur rupa (figur) secara menyebar dengan komposisi asimetris, seolah -olah menuntun pandangan dari bawah bidang gambar, kemudian ketengah dan keatas secara menyeluruh. Figur mahluk raksasa yang membawa binatang buruannya, bentuknya sangat lucu dan menarik, menunjukkan rasa gembira, adalah merupakan cara penonjolan dalam karya lukisan tersebut. Penonjolan figur Durma dan Bidadari yang berada diatas bidang gambar, penekanan yang lebih dari yang lainnya, karena adanya perbedaan warna terang yang terdapat pada latar belakang dengan warna gelap pada obyek yang berada didepannya. Keseimbangan atau balance. Keseimbangan dalam karya ini dapat dilihat dari susunan (komposisi) unsur rupa, seperti mahluk raksasa yang berada berjajar disudut kiri, kanan latar depan, binatang singa di tengah dan Durma dengan bidadari di atas, diselingi tumbuh-tumbuhan mengisi kekosongan, tersusun secara hierarchi, mengesankan rasa keseimbangan antara bidang kanan dan kiri, serta bidang atas dan bawah. Bentuk yang lebih besar dengan warna yang lebih tua, lebih kuat daya tariknya, seperti pada figur raksasa dan batu-batuan, berada di bawah, menimbulkan kesan keseimbangan dengan binatang harimau dan Durma dengan bidadari, yang bentuknya lebih kecil dan warna lebih muda dan terang. Karena mengasosiasikan dengan hukum keseimbangan bahwa benda yang lebih besar dan lebih kuat daya tariknya, berada di bawah benda yang lebih kecil dan lebih ringan. Lukisan dengan judul Pertemuan Durma dengan seorang Bidadari, dilihat dari tema, yang didasarkan atas motivasi dan pengalaman kejiwaan manusia bagi kehidupan jasmani dan rohani, termasuk tema menyenangkan. Karena mengungkapkan obyek yang indah, menyenangkan, mengungkapkan keriangan dan bercita luhur. Dalam karya lukisan tersebut, terdapat perubahan dalam penggambaran bentuk untuk tujuan pencapaian karakter, yang disebut transpormasi, yaitu dengan cara pemindahan (tran = pindah) wujud atau figur dari obyek lain ke obyek yang digambar. Seperti pada gambar mahluk raksasa, berbadan manusia berkepala raksasa. Kedua karya lukisan, Rajapala dan Durma bersama Bidadari memberi pesan spirituil berupa tuntunan bahwa dalam setiap usaha didasari niat yang baik dan kemauwan yang teguh agar bisa berhasil.

0 Followers
 · 
584 Views