Article

Studi Deskriptif Dan Peran Biduan Dalam Pertunjukan Keyboard Erotis Di Kecamatan Bandar Pasir Mandoge Kabupaten Asahan. Studi Kasus Grup Riny Jaya Keyboard

Source: OAI

ABSTRACT Pada bab ini penulis akan membuat ringkasan dan uraian-uraian yang termuat dalam tulisan ini. Dalam pertunjukan musikal pada saat ini memang sudah beragam pertunjukan yang disajikan dalam setiap acara yang dibuat masyarakat di Kecamatan BP Mandoge. Hal itu tergantung kebutuhan dan keinginan dari si pembuat hajatan. Sebelum masuknya pertunjukan musik modern di Kecamatan BP Mandoge, kebanyakan masyarakat di sini lebih cenderung membuat acara hajatan tanpa dibuatnya hiburan yang berupa pertunjukan. Namun dari kebanyakan keluarga yang ekonominya tergolong mampu, setiap hajatan yang dibuat akan selalu diusahakan ada pertunjukan yang akan menghibur dalam acara hajatan yang dibuatnya. Kalaupun ada, hiburan yang disajikan itu adalah Gondang Batak, Ludruk, Jaran kepang dan lain sebaginya. Seiring dengan perkembangan jaman, dan bertumbuhnya perekonomian dalam masyarakat setempat, yang dipengaruhi dengan dibukanya perkebunan-perkebunan kelapa sawit dan karet oleh pihak pemerintah maupun swasta, maka lambat laun juga sangat mempengaruhi perkembangan budaya musikal masyarakat setempat. Hal ini juga sangat dipengaruhi oleh pertambahan penduduk dan juga banyak terjadi perkawinan antar suku hingga menyebabkan percampuran budaya. Pertunjukan keyboard awalnya dikenal dan masuk ke Kecamatan BP Mandoge sekitar tahun 1995-an. Pertunjukan keyboard ini banyak muncul dalam setiap acara-acara hajatan yang dibuat oleh masyarakat BP Mandoge dengan latarbelakang suku yang berbeda-beda. Pertunjukan keyboard bisa diterima oleh semua kalangan masyarakat di sini. Akibat banyaknya kegiatan hajatan yang dilakukan oleh masyarakat di Kabupaten Asahan umumnya, maka semakin banyak grup-grup keyboard yang muncul. Maka timbul persaingan untuk mendapatkan job tampil yang lebih banyak. Berbagai cara dilakukan oleh pengusaha grup keyboard untuk menarik simpati masyarakat. Akibat dari persaingan yang ketat tersebut, salah satu akibatnya adalah munculnya grup keyboard erotis. Grup keyboard erotis ini sangat digemari oleh masyarakat umumnya kaum laki-laki. Lagipula grup keyboard erotis yang dianggap kontroversial ini begitu cepat menjamur dalam dunia pertunjukan keyboard di Sumatera Utara Kabupaten Asahan khususnya. Dari berbagi informasi grup keyboard erotis mulai muncul di Kabupaten Asahan sekitar tahun 2000-an, hal ini dipengaruhi oleh grup-grup keyboard yang terlebih dahulu muncul yang berasal dari sekitar Perbaungan dan Sei Rampah. Dalam pertunjukan keyboard erotis, para biduan dan pemain keyboard akan mendapatkan bayaran yang lebih daripada yang didapatkan oleh grup-grup keyboard lain yang tampil biasa saja. Dalam pertunjukan keyboard erotis, para biduan sangat mengendalikan pertunjukan dan juga penonton yang hadir. Biduan mengendalikan pertunjukan dengan cara mempermainkan emosi para penonton dengan gerakan-gerakan yang dibuatnya, kalimat-kalimat menggoda yang diucapkannya dan semua tingkah lainnya yang dianggap mempengaruhi penonton dan suasana pertunjukan. Biduan dapat saja beraksi dengan goyangan-goyangan yang sangat erotis yang dikenal dengan goyangan panas, membuka sedikit-sedikit baju dan celana untuk menunjukkan bagian tubuh sensitifnya kepada penonton. Tujuan dari semua ini dilakukan oleh biduan hanya untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya dari penonton yang menikmatinya, dengan mengesampingkan estetika dari lagu, dan juga popularitas dikalangan dunia pertunjukan keyboard. Sedangkan kaum laki-laki begitu menggemarinya karena memanfaatkan keadaan ini sebagai ajang pamer harta, prestise dan kekuasaan. Banyak masyarakat yang tidak menyukai pertunjukan ini, terutama dari kaum perempuan. Kaum perempuan menganggap pertunjukan keyboard erotis ini adalah ajang pelecehan terhadap kaum perempuan. Dimana pada saat pertunjukan, laki-laki dapat dengan leluasa memegang-megang hampir semua bagian-bagian tubuh dari biduan, asalkan dia membayar. Masyarakat juga tidak menyukai pertunjukan ini karena dianggap sangat menggagu waktu istirahat masyarakat, karena tidak jarang pertunjukan ini berlangsung hingga subuh. Banyak alasan alasan lain yang dianggap pertunjukan ini memang tidak layak untuk dilakukan lagi di dalam masyarakat. Namun beberapa tahun belakangan ini, pertunjukan ini mulai jarang dilakukan karena sudah banyak yang menentangnya. Hal ini antara lain disebabkan dengan program-program baru dari KAPOLRI Jendral Pol. Sutanto yang ingin memberantas berbagai penyakit masyarakat di antaranya judi, porstitusi, pelecehan seksual dan lain sebagainya. Dampak dari pergantian KAPOLRI di antaranya dilarangnya menampilkan pertunjukan-pertunjukan yang berbau porno. Namun dengan dipengaruhi oleh berbagai keadaan pertunjukan ini masih ada saja, namun pertunjukannya tidak terduga dan dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Sebagai contohnya pertunjukan keyboarde erotis hanya bisa digelar di daerah-daerah terpencil yang sudah tidak terjangkau oleh aparat kepolisian, ataupun tempat-tempat yang relatif “aman”. 020707023

0 Bookmarks
 · 
106 Views