Article

Aspek Hukum Jaminan Dalam Pemberian Kredit Perbankan Dengan Jaminan Fidusia

Source: OAI

ABSTRACT 020222164 Dalam kehidupan sehari-hari keperluan akan dana guna menggerakan perekonomian dirasakan semakin meningkat. Disatu sisi ada masyarakat yang kelebihan dana akan tetapi tidak memiliki kemampuan untuk mengusahakannya dan disisi lain ada kelompok masyarakat yang memiliki kemampuan untuk berusaha, namun terhambat dikarenakan hanya memiliki sedikit atau tidak memiliki dana sama sekali. Untuk mempertemukan keduanya diperlukan perantara (intermediary) yang akan bertindak selaku kreditur yang akan menyediakan dana bagi debitur, dari sinilah timbul perjanjian utang piutang atau pemberian kredit. Dalam memberikan kredit biasanya kreditor meminta kepada debitur untuk mengadakan perjanjian tambahan atau perjanjian jaminan guna menjamin dilunasinya kewajiban debitur pada waktu yang telah ditentukan. Metode penelitian yang dipakai dalam penulisan skripsi ini adalah penelitian kepustakaan yaitu terlebih dahulu melaksanakan penelusuran data-data objektif yang berhubungan dengan objek penelitian yang meliputi data sekunder yaitu berupa penelusuran penelahaan dan pengutipan bahan-bahan di perpustakaan yang berhubungan dengan judul untuk menjelaskan permasalahan. Penelitian lapangan, meliputi objek penelitian yang dilaksanakan di PT. Bank Mandiri Medan. Alat pengumpulan data yang dipergunakan untuk mengumpulkan data melalui studi pencatatan dokumen dan wawancara. Pengolahan dan analisa data yang dikurnpulkan dan diseleksi agar tidak terjadi kekeliruan analisa data yang diperoleh dan dihimpun secara kualitatif Hasil dari penelitian penulisan skripsi ini, Bank Mandiri dalam menyalurkan kredit terlebih dahulu melihat objek jaminannya dan melihat bentuk usaha yang dijalankan si debitur ketika akan mengajukan permohonan kredit ke Bank Mandiri. Bank Mandiri dalam menganalisa permohonan kredit menggunakan The Five C's of Credit dan di dalam Bank Mandiri juga dikenal istilah Four Eye Prisipall. Kedudukan kreditur jika debitur wanprestasi adalah sebagai penerima fidusia dan tidak memegang objek jaminan fidusia. Sedangkan debitur pada awalnya berkedudukan sebagai pemegang objek jaminan fidusia akan tetapi jika debitur lalai maka si debitur harus menyerahkan objek jaminan fidusia kepada kreditur. Upaya yang dilakukan Bank Mandiri jika debitur wanprestasi adalah menjual objek jaminan fidusia tersebut jika hasil penjualan tersebut tidak mencukupi untuk melunasi hutangnya tersebut maka si debitur tetap terikat untuk membayar lunas hutangnya. Rof. Dr. H. Tan Kamello, SH. MS.; Zulkarnain, SH. M.Hum.

6 Bookmarks
 · 
597 Views