Article

Pemberian Remisi (Pengurangan Hukuman)Dalam Pelaksanaan Pembinaan Narapidana (Penelitian Di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Kelas II-A Tanjung Gusta Medan)

Source: OAI

ABSTRACT 020222141 Remisi sebagai salah satu motivasi dalam melaksanakan program pembinaan bagi narapidana yang juga sekaligus merupakan hak dari narapidana. Konsepsi ini terwujud sebagai pembaharuan dari pidana penjara ke dalam system pemasyarakatan. Sistem pembinaan narapidana yang dikenal dengan nama pemasyarakatan yang mulai dikenal pada tahun 1964, mengalami perubahan dari sistem kepenjaraan berdasarkan Reglemen Penjara 1917 Nomor 708, kepada sistem pemasyarakatan dan diimplementasikan dengan keduanya Undang-undang No. 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan dan PPRI No. 31 TahWlI999 tentang Pembinaan dan Bimbingan Warga Binaan Pemasyarakatan serta PPRI No. 32 Tahun 1999 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan. Skripsi disertai penelitian ini ditujukan untuk mengetahui terlaksananya pemberian remisi sebagai motivator bagi narapidana dalam melaksanakan program pembinaan juga untuk mengetahui faktor-faktor yang mendukung dan menghambat program pembinaan yang dilaksanakan bagi narapidana khususnya di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas II-A Tanjung Gusta Medan. 01eh karena itu maka metode penelitian yang dilakukan dengan menggunakan 2 (dua) metode, yang pertama yaitu dengan metode field research (penelitian lapangan) yaitu langsung kelokasi penelitian yakni Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas II-A Tanjung Gusta Medan dengan mengadakan wawancara, menyebarkan angket dan mengambil data-data yang dibutuhkan, metode yang kedua ialah library research (penelitian kepustakaan) melalui sumber-sumber bacaan baik buku, majalah, internet juga peraturan Perlfndang-undangan, Data yang dipergunakan ialah data sekunder dan data primer dengan jumlah responden 50 orang, terdiri atas 30 orang pegawai lembaga pemasyarakatan dan20 orang narapidana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pemberian remisi dalam pembinaan narapidana di lembaga pemasyarakatan khususnya Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas II-A Taniung Gusta Medan dilaksanakan berdasarkan Keppres Nomor 174 Tahun 1999 dan program pembinaannya dilaksanakan berdasarkan Undang-undang Nomor 12 Tahun 1995 dengan mengadakan program pembinaan ketaqwaan dan keterampilan. Namun pelaksanaannya terdapat beberapa permasalahan yang merupakan suatu hal yang merugikan bagi narapidana oleh karena apa yang menjadi haknya tidak diperoleh sebagaimana mestinya. Pada umumnya lembaga pemasyarakatan yang ada di Indonesia khususnya Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas II-A Tanjung Gusta Medan mengalami over kapasitas sehingga tujuan dari pembinaan terganggu. Dalam hal ini lembaga pemasyarakatan sendiripun tidak jarang dalam melakukan pembinaan menjalin kerjasama dengan instansi pemerintah, lembaga sosial keagamaan dalam melengkapi sarana dan prasarana, juga tidak jarang menjalin hubungan baik dengan keluarga narapidana, serta berusaba untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembinaan keterampilan dan keahlian. Karena setelah bebas narapidana barus mampu beradaptasi lagi dengan masyarakat dan masyarakat hendaknya memperlakukan mantan narapidana sama seperti manusia lainnya. - Prof. Warsani, SH.; Suwarno, SH. MH.

8 Bookmarks
 · 
1,075 Views