Article

Analisis Keberadaan Ruang Terbuka Hijau (Green Open Space) Dalam Upaya Mendukung Kota Medan Sebagai Kota Metropolitan

Source: OAI

ABSTRACT D0101040 Permasalahan yang menjadi bahasan dalam penelitian ini adalah tentang keberadaan RTH di Kota Medan, nilai ekonomis komponen penyusun RTH di Kota Medan dan faktor yang mempengaruhi ketersediaan RTH di masing-masing kawasan. Hipotesis penelitian ini adalah : (a) Luas dan distribusi RTH di Kota Medan belum sesuai dengan Standar Besaran RTH, (b) Hasil tanaman penyusun Ruang Terbuka Hijau dari aspek ekonomi tidak menguntungkan dan (c) Faktor yang berpengaruh terhadap ketersediaan RTH di masing-masing kawasan adalah ketersediaan lahan, nilai lahan, pelaksana program RTH dan keuangan. Data dari sumber-surnber yang berkaitan dengan penelitian ini dikompilasi, dan dianalisis sesuai hipotesis ; hipotesis (a) dengan analisis deskriptif, hipotesis (b) dengan analisis ekonomi tingkat pengembalian modal dan hipotesis (c) dengan menggunakan analisis regresi berganda. Dari hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa jumlah ketersediaan RTH di Kota Medan tahun 2000 berdasarkan standar RUTRWK Kota Medan 2000-2005 (jumlah RTH sebesar 10 % dari total wilayah) ada1ah : (a) Ketersediaan RTH publik di Kota Medan 0,86 % dari total wilayah Kota Medan ; belum memenuhi standar, (b) Ketersediaan RTH privat sebesar 21,97 % dari total wilayah Kota Medan ; sudah memenuhi standar dan (c) Ketersediaan seluruh RTH (publik dan privat) sebesar 22,83 % dari total luas wilayah Kota Medan sudah memenuhi standar. Jumlah ketersediaan RTH di Kota Medan tahun 2000 berdasarkan standar SNI 03-1733-1989 (RTH tersedia 15 m2/penduduk) menunjukkan bahwa : (a) Ketersediaan RTH publik sebesar 1,08 m2/penduduk ; be1um memenuhi standar (b) Ketersediaan RTH privat sebesar 27,63 m2/penduduk ; sudah memenuhi standar dan 3) Ketersediaan seluruh RTH (publik dan privat) sebesar 28,71 m2/penduduk ; sudah memenuhi standar. Distribusi RTH (publik dan privat) di Kota Medan tidak merata, pada Kecamatan dengan kepadatan penduduk tinggi tidak didukung oleh ketersediaan RTH dan sebaliknya. Dengan menggunakan analisis Benefit Cost Ratio (B/C) tampak bahwa penanaman tanaman mahoni (Swietenia mahogani) tidak memberikan keuntungan secara ekonomis, namun dari aspek fisik dan sosial memberikan manfaat yang sangat berarti bagi masyarakat pengguna ruang di sekitar tanaman pelindung. Faktor yang berpengaruh terhadap ketersediaan RTH di masing-masing kawasan di Kota Medan adalah pelaksana program dan keuangan, sedangkan faktor ketersediaan lahan dan nilai lahan menunjukkan pengaruh yang negatif. Saran yang dapat disumbangkan dari hasil penelitian ini adalah, (a) Bagi Pemerintah Kota Medan : (1) agar dapat mempertahankan RTH yang telah tersedia dan mengkaji ulang kesesuaian jenis vegetasi khususnya pada taman-taman baru, serta memprogramkan penambahan RTH Publik, (2) memberikan penghargaan bagi masyarakat/lembaga/Instansi yang memiliki kawasan RTH yang memenuhi standar dan (3) Pemerintah Kota Medan segera mempersiapkan Rencana Umum Tata Ruang Terbuka Hijau sesuai dengan Inmendagri No 14 tahun 1988, (4) menertibkan jalur hijau sungai dan rel kereta api dari bangunan-bangunan liar dan menanam pohon-pohon dengan vegetasi yang sesuai dengan lahan tersebut, (b) Kepada masyarakat agar memanfaatkan areal yang tersedia dengan menanam 1 pohon pelindung dalam setiap rumah tangga, sesuai dengan Perda No 6 tahun 1986 tentang Pelestarian Bangunan dan Lingkungan yang Bernilai Sejarah Arsitektur Kepurbakalaan serta Penghijauan Dalam Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Medan, (c) Kepada peneliti lain agar mengkaji manfaat ekologis dari RTH misalnya : (1) RTH sebagai penetral pencemaran udara dan peredam kebisingan, (2) Manfaat RTH perkotaan dalam mempertahankan keberadaan air bawah tanah, dan (3) Studi-studi tentang manfaat ekonomis RTH. Dr. Ir. A. Rahim Matondang

38 Bookmarks
 · 
2,614 Views