Article

Pengaruh Benang Terhadap Fase Penyembuhan Luka Di Kulit Penelitian Eksperimental Animal Laboratoris

Source: OAI

ABSTRACT Penyembuhan luka adalah suatu proses upaya perbaikan jaringan. Proses penyembuhan luka dapat kita kelompokkan dalam 3 fase; fase inflamasi, fase proliferasi, dan fase remodelling. Salah satu faktor yang mempengaruhi perubahan luka adalah jenis benang yang dipakai untuk menjahit luka. Semakin lama benang diserap semakin lama proses penyembuhan luka berlangsung. Semakin lama benang diangkatpun berakibat sama, semua berujung pada penampilan akhir luka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh benang terhadap fase penyembuhan luka di kulit baik secara makroskopik maupun mikroskopik. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode eksperimental laboratorium yang dilaksanakan di Sub Departemen Bedah Plastik, Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan, dan Laboratorium Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Hewan percobaan yang digunakan adalah 30 ekor kelinci lokal ( Nesolagus netseherischlgel ) yang dibagi dalam 2 kelompok perlakuan, 15 ekor kelinci dibuat jaringan luka yang kemudian dijahit dengan benang non absorbable monofilamen dan 15 ekor kelinci lainnya dibuat jaringan luka yang kemudian dijahit dengan benang absorbable monofilamen secara simple interrupted suture. Jaringan luka dievaluasi secara makroskopik dan mikroskopik pada hari ke -5 (fase Inflamasi), hari ke -14 (fase Proliferasi), dan hari ke – 30 (fase remodelling) terhadap tanda radang (rubor/kemerahan), lebar parut, diameter vaskular (dibandingkan dengan sel darah merah), dan jumlah sel PMN (40 x lapangan pandang). Data yang terkumpul dianalisa secara statistik menggunakan T-test dan X2-test dengan SPSS 11,5 Windows, dimana hasilnya dikatakan signifikan jika p<0,05. Hasil penelitian ini menunjukan adanya perbedaan yang bermakna (p<0,05) dalam hal tanda radang, lebar parut, dan diameter vaskuler antara luka yang dijahit menggunakan benang non absorbable monofilamen dibandingkan luka yang dijahit menggunakan benang absorbable monofilamen. Tanda radang, lebar parut dan diameter vaskuler lebih kecil pada luka yang dijahit dengan benang non absorbable monofilamen. Tidak ada perbedaan bermakna (p>0,05) dalam hal jumlah sel PMN pada kedua kelompok perlakuan. Penyembuhan luka adalah suatu proses upaya perbaikan jaringan. Proses penyembuhan luka dapat kita kelompokkan dalam 3 fase; fase inflamasi, fase proliferasi, dan fase remodelling. Salah satu faktor yang mempengaruhi perubahan luka adalah jenis benang yang dipakai untuk menjahit luka. Semakin lama benang diserap semakin lama proses penyembuhan luka berlangsung. Semakin lama benang diangkatpun berakibat sama, semua berujung pada penampilan akhir luka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh benang terhadap fase penyembuhan luka di kulit baik secara makroskopik maupun mikroskopik. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode eksperimental laboratorium yang dilaksanakan di Sub Departemen Bedah Plastik, Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan, dan Laboratorium Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Hewan percobaan yang digunakan adalah 30 ekor kelinci lokal ( Nesolagus netseherischlgel ) yang dibagi dalam 2 kelompok perlakuan, 15 ekor kelinci dibuat jaringan luka yang kemudian dijahit dengan benang non absorbable monofilamen dan 15 ekor kelinci lainnya dibuat jaringan luka yang kemudian dijahit dengan benang absorbable monofilamen secara simple interrupted suture. Jaringan luka dievaluasi secara makroskopik dan mikroskopik pada hari ke -5 (fase Inflamasi), hari ke -14 (fase Proliferasi), dan hari ke – 30 (fase remodelling) terhadap tanda radang (rubor/kemerahan), lebar parut, diameter vaskular (dibandingkan dengan sel darah merah), dan jumlah sel PMN (40 x lapangan pandang). Data yang terkumpul dianalisa secara statistik menggunakan T-test dan X2-test dengan SPSS 11,5 Windows, dimana hasilnya dikatakan signifikan jika p 09E02292.p

7 Bookmarks
 · 
1,457 Views