Article

Analisis Hukum Kedudukan Agen Dalam PT. Prudential Life Assurance Pada Pemohon Pailit PT. Prudential Life Assurance

Source: OAI

ABSTRACT 06000763 Sebuah perusahan yang tidak dapat memenuhi kewajiban atau terlambat memenuhinya atau sedang memenuhinya tetapi tidak seperti yang diperjanjikan maka perusahaan itu dapat dikatakan lalai. Keadaan seperti ini mengakibatkan perusahaan tidak dapat memenuhi kewajiban yang telah dibuat atau disebut wanprestasi. Perusahaan yang tidak mampu tersebut dikatkan pailit. Kepailitan itu diatur dalam Undang-undang Kepailitan Nomor 4 Tahun 1998 yang kemudian dilakukan revisi menjadi Undang-undang Kepailitan dan PKPU Nomor 37 Tahun 2004. dalam Pasal 1 ayat 1 Undang-undang Kepailitan dan PKPU Nomor 37 Tahun 2004 sebuah perusahaan dapat dinyatakan pailit apabila mencakup 2 unsur yakni : adanya utang yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih dan adanya 2 orang kreditur ataupun lebih. Dan undang-undang belum jelas mengatur tentang pengertian utang tersebut sehingga banyak terjadi kontradiksi dan banyak penafsiran dalam menafsirkan pengertian utang tersebut Didalam kasus perusahaan asuransi jiwa PT. Prudential life Assurance tersebut banyaknya masyarakat yang kurang memahami tentang keberadaan utang yang diatur dalam Unadng-undang Kepailitan. Dengan mana diketahui bahwasannya perusahaan tersebut merupakan perusahaan asuransi yang terbesar di Inggris yang memiliki saham dan asset yag sangat besar dalam menjalankan perusahaannya. Hakim dalam memutuskan perkara tersebut berbeda-beda pendapat sehingga perkara tersebut menarik perhatian masyarakat umum dan terutama saya sebagai penulis. Permasalahan yang dibahas dalam penulisan tesis saya ini adalah Bagaimana perjanjian keagenan pada Perusahaan Asuransi PT. Prudential Life Assurance, Bagaimaua analisis kedudukan agen terhadap dijatuhnya permohonan pailit PT. Prudential Life Assurance? Berdasarkan perumusan masalah diatas, maka yang menjadi tujuan penelitian adalah Untuk mengetahui bentuk perjanjian keagenan pada PT. Prudential Life Assurance dan Untuk mengetahui kedudukan agen pada PT. Prudential Life Assurance terhadap pailitnya perusahaan tersebut, Metode pendekatan yang saya lakukan adalah metode yuridis normative yakni menelaah Undang-undang yang diterapkan putusan pengadilan, adanya bahan-bahan perpustakaan dan literature buku sebagai pedoman, Seorang agen dari suatu perusahaan asuransi yaitu seorang yang ada hubungan tetap dengan perusahaan asuransi itu dan yang mengadakan pembicaraan tentang asuransi itu sebagai kuasa dari perusahaan asuransi tersebut, Agen dalam perusahaan asuransi itu sebagai broker asuransi, Dengan mana broker asuransi bukan hanya meniadi penghubung antara tertanggung dengan perusahaan asuransi, tetapi sekaligus membei jasa konsultasi bagi calon tertanggnng. Broker asuransi inilah yang akan memilihkan perusahaan asuransi yang aman bagi tertanggnng. Bukan hanya itu saja, broker asuransi jugalah yang akan mengurusi penyelesaian anti rugi (klaim) apabila dikemudian hari terjadi klaim pembayaran ganti rugi. Jadi tertanggung tidak perlu repot mengurus sendiri dan mereka tidak akan memungnt biaya sepersenpun kepada tertanggnng. Perusahaan broker asuransi mendapatkan bayaran pendapatan broker asuransi bersala dari perusahaan asuransi yang telah dipilih tertanggnng, tentu saja atas nasihar broker. Fungsi broker asuransi tidak berbeda sebagai tenaga pemasaran bagi perusahaan asuransi, sehingga komponen biaya pemasaran, survey dan administrasi yang terdapat dalam premi menjadi bagian broker asuransi, Putusan atas perkara-perkara tersebut menunjukkan bahwa perusahaan asuransi tidak kebal pailit dan persehsihan yang terjadi antara perusahaan asuransi dan tertanggung, agen atau dengan pihak-pihak laiunya dapat diajukan ke Pengadilan Niaga. Dalam kasus Putusan No. 13/PAILIT/2004/PN..NIAGA.JKT.PST, yang mengajukan permohonan pailit ada1ah pihak yang merasa dirugikan, dalam hal ini agen asuransi. Hasil putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat yang telah mengabulkan permohonan pailit dari pihak pemohonan atau kreditur yakni pihak agen perusahaan asuransi jiwa PT. Prudential Life Assurance. Hakim Pengadilan Niaga berdasarkan pada Undang-undang kepailitan Pasal 1 ayat 1 yang menyatakan bahwa adanya utang yang telah jatuh waktu yang dapat ditagih dengan putusan pengadilan dan serta adanya dua orang atau lebih kreditur, Pihak termohon atau tergugat yakni PT. Prudential Life Assurance telah melanggar perjanjian (pioneering Agency Bonus Agreement) yang telah dibuat dan disepakati dengan pihak pemohon yakni pihak agen yaitu pihak termohon tidak membayar sejumlah nang bonus kepada pihak agen atau pemohon. Serta pembayaran bonus tesebut telah jatuh tempo dan dapat ditagih, pihak termohon telah memutnskan perjanjian tesebut secara sepihak tanpa persetujuan dari pihak pemohon atau pihak agen itu sendiri, Maka dengan dasar pertimbangan tersebut pengadilan Niaga Jakarta Pusat telah mengabulkan permohonan yang dilakukan oleh pihak kreditur untuk mempailitkan PT. Prudential Life Assurance. Bahwa keberatan-keberatan yang diajukan oleh Pemohon Kasasil Debitor dalam memori kasasinya tersebut pada pokoknya ialah: Bahwa Majelis Hakim Pengadilan Niaga salah menerapkan hukum tentang pengertian utang menurut Undang-undang Kepailitan Nomor 4 Tabon 1998: Bahwa Hakim Pengadilan Naga salah menerapkan hukum mengenai syaratsyarat sahnya suatu Perjanjian (Pasal1320 KUH-Perdata) Bahwa Undang-undang Kepailitan mensyaratkan “Dua atau lebih Kreditur” sebagai salah satu elemen penting untuk menyatakan pailit dan majelis Hakim salah menyimpulkan dan tidak menerapkan hukum secara benar Bahwa perlunya mempertimbangkan status perusahaan asuransi sebagai Lembaga Kenangan yang memobilisasi dana masyarakat dan tidak dapat dipisahkan dari kepentingan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi Indonesia Bahwa Majelis Hakim Pengadilan Niaga salah memahami Pasal 13 ayat 2 Undang-undang Kepailitan dengan mengangkat Kurator yang tidak memenuhi syarat Berdasarkan pertimbangan hukum itu, maka Mahkamah Agung Republik Indonesia berpendapat proses pembuktian perkara tidak dapat dibuktikan secara sederhana, apabila hal tadi dikaitkan dengan pendapat Termohon yang pada pokoknya berpendapat : bahwa keberatan ini dapat dibenarkan , oleh karena PengadiIan Niaga pada PengadiIan Negeri Jakarta Pusat telah salah menerapkan hukum dengan pertimbangan sebagai berikut: Bahwa menurut PasaI 6 ayat 3 undang-undang Kepalitan, permohonan pernyataan pailit haruslah dikabulkan apabila terdapat fakta atau keadaan yang terbukti secara sederhana bahwa Debitur mempunyai dua atau lebih kreditur dan tidak membayar sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih; Bahwa Pengadilan Niaga didalam putusannya mempertimbangkan bahwa utang Termohon kepada pemohon yang didasarkan pada Pioneering Agency Bonus Agreement tanggal 1 Juli 2000 telah jatuh waktu dan dapat ditagih sedangkan perjanjian itu sendiri (Pioneering Agecy Bonus Agreement) oleh Termohon telah diakhiri secara sepihak pada tanggal 20 Jannari 2004 dengan alasan Pemohon telah aktif melakukan bisnis multi level marketing (Pasal 7 Pioneering Agency Bonus Agreement). Bahwa Termohon juga menyangkal adanya utang Termohon kepada Pemohon sehingga adanya utang Termohon kepada Pemohon yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih sebagai salah satu syarat dalam PasaI I ayat I Undang-undang Kepailitan tidak dapat dibuktikan secara sederbana karena itu permohonan pailit yang diajukan oleh Pemohon harus ditolak dan sengketa antara Pemohon dengan Termohon tersebut seharusnya diajukan ke Pengadilan Negeri. Maka sesungguhnya ada relevansi yang erat antara sistem pembuktian yang dipandang tidak dapat dilakukan sederhana, dengan penarik pokok permasalahan yang dikemukakan bahwa sengketa antara pemohon dan termohon sesungguhnya suatu wanprestasi yang harus dislesaikan di pengadilan Negeri Dengan demikian atas dasar pertimbangan tersebut Mahkamah Agung mengabulkan pemohon kasasi dan membatalkan Putusan Pengadilan Niaga tersebut dan PT. Prudential Life Assurance dinyatakan tidak pailit dan dapat mengakses kembali perusahaannya. A firm that did not fulfill or delay or in fulfillment process their liabilities as mentioned in an agreement, the firm is assumed absent minded. This condition cause the firm did not fulfill its agreed liabilities or known as wanprestation. This firm known is bankrupt. The bankruptcy is regulated in bankruptcy Act No 4 of 1998 and revised by Bankruptcy Act No.37 of 2004 said that a fin will be bankrupt if fulfill 2 requirements, i.e. there is a due date debt and can be claimed and there are 2 creditors or more. And the act bas not yet regulate the meaning of the debt, so there are any contradiction and estimation on the meaning of the debt. In the case of life insurance PT. Prudential Life Assurance, most of customer did not understand about the debt mentioned in bankruptcy act. Where by it is known that the firm a big insurance fin England that own the big shares and assets in its operation. The judge in decide the case have a dissenting opinion so the case attract the attention of the public and the writer so, the problem discussed in this thesis is How the agency agreement on insurance PT. Prudential Life Assurance? How the agent position analysis on the bankruptcy application to PT. Prudential Life Assurance? Based on the problem formulation, the objective of this study is to know the agent position at PT. Prudential Lire Assurance on the bankruptcy of he firm. The approach method is normative juridical method, i.e. to review applied Acts, court decision and library resources and literature as guidance. An agent of insurance firm is anyone who has a permanent relationship to the insurance firm and has an agreement about the insurance as a representative of the fin. Agent in the insurance firm is an insurance broker. In which the insurance broker did not only as mediator between dependant and the firm but also to provide the dependant candidate a consultation service. The insurance broker will choose the safe insurance form for the dependant. In addition, the insurance broker also manages all 0 lam process if in a next day there is a claim on reimbursement. So the dependant did not must to process their insurance and they did not collect any fee from the dependant. The insurance broker firm gets payment as broker from the insurance fin chosen by dependant based on the advice of broker. The function of broker is marketing staff of the insurance firm, so the component of marketing cost, survey and administration cost in presuming to be part of broker. The decision on the cases indicated that the insurance fin did not without bankruptcy and the conflict between insurance fin and dependant, agent or another stakeholders can be issued to commerce court. In the decree No 13/PAILlTI2004/PN.Niaga.JKT.PST, the bankruptcy applicant is the people in the loss side i.e. the insurance agent. The decision of the court that permit the bankruptcy application from the applicant or creditor, i.e. the agent of life insurance fin PT. Prudential Life Assurance, the judge based on the bankruptcy Act article 1 paragraph 1 that said that the due date debt can be claimed by the court decision and there are two creditors or more. The accused i.e. PT. Prudential. Life Assurance broken down the pioneering agency bonus agreement that prepared and agreed by the applicant i.e. the agent, i.e. the accused will pay bonus to the agent or applicant. And the bonus payment has due date and can be claimed if the accused has terminate the agreement in one side without any approval from the applicant or agent. Based on the consideration, the Court grants the applicant of the creditors to apply the bankruptcy to PT. Prudential Life Assurance. Based on the claim of the appeal applicant / debitor in their cases are: The judge’s assembly in Court has taken any error in law application about the meaning of debt according to bankruptcy act No 4 of 1998. That bankruptcy avt requires “two creditors or more as one of important elements in bankruptcy and the judge assembly have take any error in make an conclusion and did not apply the law accurately. It is important to consider the status of Insurance fin as financial institutions that mobilize the society fund and can not separated from the society interest and economic growth of Indonesian. That the judges assemblies of the court have taken any error in understand the article 13 paragraph 2 of bankruptcy act by assignment of curator who did not fulfill any requirement. Based on the law consideration, the Supeme Court of Republic of Indonesian has opinion that justification process of the case can not be proved simplicity if related to the opinion of accused that this claim can be permitted because the court in Jakarta has take error in law application in the consideration as follows; That according to article 6 paragraph 3 of bankruptcy act, the bankruptcy application must be grant if there are any facts or situation proved simplicity by debitor who has two or more creditors and did not pay not less than one due date debt and can be claimed. That the commerce court in it’s decision consider that the debt 0 accused to the applicant based on pioneering agency bonus agreement on 1 July 2000 has due date and can be claimed while the agreement by the accused has terminated in one side on 20 January 2004 in the reason the applicant has active in multi level marketing (article 7 of Pioneering agency bonus agreement) That the accused neglect the debt of the accused to applicant so the debt of accused to applicant have be due date and can be claimed as one of requirement in article 1 paragraph 1 of bankruptcy act that can not be proved simplicity because the application submit by the applicant must be reject and the conflict between applicant and accused can not submit the court. In fact, there is closed revelation between provsystem in simple from hazed on the case that conflict between accused and applicant is a wanprestation that must be settled in the court. Therefore, based on the consideration, the Supreme Court grant the appeal application and cancel the decree of commerce court and PT. Prudential Life Assurance did not bankrupt and access its firm. Prof.Dr. Bismar Nasution, S.H., M.H

14 Followers
 · 
1,103 Views