Article

Pengaruh Pemanasan Dan Perendaman Dua Variasi Benih Terhadap Perkecambahan Benih Dan Peryumbuhan Bibit Jati (Tectona Grandis L.F)

Source: OAI

ABSTRACT Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemanasan dan perendaman benih jati yang dikupas atau tidak dikupas lapisan mesokarpnya, terhadap perkecambahannya, untuk menentukan metoda yang tepat guna meningkatkan dan mempercepat perkecambahan benih dan pertumbuhan bibit jati. Penelitian ini dilakukan di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan, yang berlangsung selama 6 bulan, mulai bulan Januari sampai Juni 2000. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Petak-Petak Terpisah (Split-Split Plot Design), yang diulang 3 kali. Faktor pertama adalah variasi benih sebagai petak utama, yaitu B1 = benih dengan mesokarp dan B2 = benih dikupas mesokarp. Faktor kedua adalah suhu pemanasan sebagai anak petak, yaitu T0 = pemanasan dengan sinar matahari, T1 = pemanasan dengan suhu 40°C, T1 = pemanasan dengan suhu 60°C dan T3 = pemanasan dengan suhu 80°C. Faktor ketiga adalah perendaman sebagai anak-anak petak, yaitu D0 = direndam 0 hari, D1 = direndam 1 hari, D2 =direndam 2 hari, dan D3 =direndam 3 hari. Benih jati dipilih yang sehat dan berdiameter antara 12 - 18 mm, berasal dari pohon induk yang sudah berusia ± 25 tahun di daerah Secanggang, Sumatera Utara. Kemudian sebagian dibuang lapisan mesokarp, baru diperlakukan dengan suhu pemanasan dan perendaman. Setelah perlakuan selesai, dikeringanginkan sebentar, baru ditanam pada media perkecambahan yang telah dipersiapkan di rumah kaca. Seminggu setelah benih berkecambah, bibit dipindahkan ke polibag. Bibit yang berkecambah pada hari ke 21 - 40 dipindahkan ke tempat pembibitan di rumah kassa. Variasi benih mempengaruhi persentase berkecambah dan kecepatan berkecambah benih. Pengupasan mesokarp benih dapat meningkatkan persentase berkecambah dan kecepatan berkecambah benih dibandingkan dengan yang tidak dikupas. Namun cenderung menekan pertumbuhan bibit jati. Benih yang dipanaskan dengan suhu 60°C (T2) meningkatkan persentase berkecambah dan mempercepat perkecambahan benih, namun pemanasan dengan suhu 40°C (T1) cenderung lebih baik pertumbuhan bibitnya. Pemanasan dengan suhu 80°C (T3) menekan persentase berkecambah dan memperlambat perkecambahan benih dibandingkan dengan pemanasan dengan sinar matahari dan suhu 40°C (T1). Persentase berkecambah dan kecepatan berkecambah benih tidak nyata dipengaruhi oleh perendaman benih, Perendarnan yang dilakukan cenderung menekan persentase berkecambah dan memperlambat perkecambahan benih. Persentase berkecambah dan kecepatan berkecambah benih menunjukkan respon terhadap kombinasi variasi benih dengan suhu pemanasan mulai 6 mst. Benih yang dikupas mesokarpnya dan dipanaskan dengan suhu 60°C (B2T2) mempunyai persentase berkecambah dan kecepatan berkecambah tertinggi. Persentase berkecambah juga menunjukkan respon terhadap kombinasi pemanasan dan perendaman. Pada benih yang dipanaskan dengan suhu 80°C, perendaman selama 2-3 hari meningkatkan persentase berkecambah benih. Pada benih yang dipanaskan dengan 60°C, akan menurunkan persentase berkecambah bila benih direndam, Parameter pertumbuhan bibit cenderung tidak dipengaruhi oleh perlakuan pemanasan dan perendaman. Perbedaan yang terjadi lebih disebabkan karena sifat genetis dari benih yang digunakan dan pengaruh lingkungan di pembibitan. Disimpulkan bahwa perlakuan yang terbaik adalah kombinasi perlakuan benih dikupas mesokarpnya, dipanaskan dengan suhu 60°C dan tidak direndam (B2T2D0). Walaupun demikian hasil yang diperoleh tidak berbeda nyata dengan benih yang tidak dikupas, dipanaskan dengan suhu 60°C dan tidak direndam (B1T2D0). 02012720

7 Bookmarks
 · 
344 Views