Dataset

Golput Dalam Pilkada

ABSTRACT P ILKADA ditandai dengan tingginya angka pemilih yang tidak menggunakan hak suaranya—sering disebut sebagai golput. Jika dibuat rata-rata, tingkat golput selama pelaksanaan Pilkada mencapai angka 27.9%. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan golput pada Pemilu Legislatif, Pemilu Presiden Putaran I, dan Pemilu Presiden Putaran II. Meskipun tingginya angka golput menjadi gejala umum dalam Pilkada di banyak wilayah—dan kemungkinan fenomena Golput ini juga akan menjadi gejala umum Pemilu Indonesia di masa mendatang—hingga saat ini belum ada penjelasan yang memadai apa yang menyebabkan seorang pemilih memilih golput. Lingkaran Survei Indonesia (LSI) merancang riset terhadap pemilih yang tidak ikut dalam pemilihan (golput) ini. Riset ini bukan survei pra pemilihan. Riset ini dilakukan pada saat pemilihan. Responden diambil dari pemilih yang terdaftar dalam DPT (Daftar Pemilih Tetap), tetapi tidak ikut memilih di hari pencoblosan. Riset ini menunjukkan paling tidak ada tiga alasan seseorang tidak ikut dalam pemilihan. Pertama, alasan administratif—seperti tidak mendapat surat undangan, atau belum memperoleh kartu pemilih. Kedua, alasan individual atau teknis, seperti sedang bekerja, ada keperluan pribadi di saat hari pemilihan. Ketiga, alasan politis, yakni menganggap Pilkada tidak ada gunanya dalam meningkatkan kehidupan lebih baik. Riset ini menunjukkan, alasan yang sifatnya administratif dan teknis/ individual menjadi sebab utama seseorang tidak ikut dalam pemilihan. Klaim bahwa seseorang memilih golput sebagai bentuk protes terhadap penyelenggaraan Pilkada, tidaklah sebesar yang diduga selama ini. Golput Dalam Pilkada Alasan yang sifatnya administratif dan teknis/ individual menjadi sebab utama seseorang tidak ikut dalam pemilihan. Hlm 1 Golput: Seberapa Berdampak Bagi Perolehan Suara Kandidat? Survei golput pada Pilkada DKI Jakarta, Agustus 2007 menunjukkan, mereka yang golput lebih banyak memilih pasangan Fauzi Bowo-Priyanto dibandingkan Adang Darajatun-Dani Anwar. Hlm 21 2 LINGKARAN SURVEI INDONESIA SALAH satu gejala penting dari Pilkada hingga saat ini adalah tingginya angka pemilih yang tidak ikut dalam pemilihan (golput). Di sejumlah wilayah, angka golput ini bahkan mencapai hampir separoh—seperti yang terjadi dalam Pilkada Kota Surabaya, Kota Medan, Kota Banjar-masin, Kota Jayapura, Kota Depok dan Provinsi Kepu-lauan Riau. 1 Tidak jarang, jumlah golput ini lebih tinggi dibandingkan dengan perolehan suara pemenang Pilkada. Jika dibuat rata-rata, tingkat golput selama pelaksanaan Pilkada mencapai angka 27.9%. Jika kita bandingkan dengan pelaksanaan Pemilu Legislatif dan Presiden, rata-rata golput Pilkada ini lebih besar (lihat Grafik 1). Pemilu selama Orde Baru mempunyai partisipasi pemilih rata-rata di atas 90%. Atau tingkat golput rata-rata di bawah 10%. Pemilu 1999, diikuti oleh 93.3% dari total pemilih terdaftar. Atau hanya 6.7% saja pemih yang tidak menggunakan hak pilihnya (golput). Partisipasi pemilih ini turun menjadi 84.1% pada Pemilu Legislatif 2004. Angka partisipasi pemilih ini makin turun saat Pemilu presiden, baik putaran pertama maupun kedua, dan turun lagi selama pelaksanaan Pilkada.

9 Bookmarks
 · 
1,329 Views

Dataset

Download
689 Downloads
Available from
May 15, 2014